Posts

banner

Konser Bon Jovi di Jakarta yang Kurang “Greget”

Sebenarnya saya tidak terlalu bersemangat nonton konser Bon Jovi Di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta tanggal 11 September 2015. Selain karena gak ada Richie Sambora sang Gitaris, juga karena saya baru masuk kerja di tempat baru, sehingga saya sepertinya masih sibuk. Tapi entah mengapa tanggal 24 Agustus 2015 saya seperti “kesambet” jadi kepikiran mau nonton konser Bon Jovi. Sejak pagi hari udah browsing seputar tiket konser Bon Jovi di internet. Saya jadi tertarik untuk cari tau tentang konser Bon Jovi. Saya mulai googling tempat yang jual tiket daring (online), dan ketemu ada yang jual di www.BonJovi.com sebagai situs resmi penjualan tiket konser Bon Jovi.

Pagi itu saya konsultasi dengan adik saya via Whatsapp tentang konser Bon Jovi ini, dan saya tanyakan plus-minusnya konser ini. Adik saya sih memprediksi konser ini agak “kurang” greget karena memang Richie Sambora tidak ada dan Jon Bon Jovi sendiri sudah tua kemakan umur. Tapi adik saya juga katakan ga ada salahnya nonton juga karena selain ingin lihat penampilan dari penyanyi internasional sekelas Bon Jovi, sekaligus juga mengobati nostalgia akan musik rock era 90-an. Sehingga kemudian saya putuskan untuk membeli 3 tiket konser Bon Jovi di GBK tanggal 11 September 2015. Rencananya saya akan pergi dengan adik saya (Dany) dan istrinya (Cici).

Saya membeli tiket di www.BonJovi.com dimana situs itu dikelola langsung oleh Live Nation sebagai penyelenggara konser Bon Jovi di Jakarta. Setelah saya buka situs tersebut tenyata banyak tiket yang sudah habis, dan hanya menyisakan dibeberapa bagian saja, terutama di kelas yang paling murah alias di Tribun atas. Saya memang ingat sebelumnya tiket konser pernah dijual jauh-jauh hari sebelum konser dan sudah ludes terjual. Sehingga saya beruntung masih bisa dapat tiket walaupun yang paling murah, yaitu seharga Rp. 500.000,00 belum pajak.

Denah dan Price List Tiket

Denah dan Price List Tiket

Adik saya juga wanti-wanti tidak perlu beli tiket yang mahal di VVIP atau beli yang kelas Festival. Berdasarkan pengalaman nonton konser Metallica di GBK kita ternyata capek juga kalo nonton di Festival karena ga bisa duduk. Jadi beruntunglah kami masih dapat tiket di Tribun atas, walaupun jauh dari panggung tapi bisa duduk jadi nontonnya santai. Saya bayar pake kartu kredit total untuk 3 tiket sebesar Rp. 1.831.702 jadi per tiket harganya sekitar Rp. 610.567. Semua transaksi online melalui web www.BonJovi.com tersebut. Tiket pun diterbitkan via web secara online dan dikirim juga melalui email, yang kemudian kita print sehingga kita tidak perlu melakukan penukaran tiket sebelum hari H seperti halnya konser Metallica.

Saya baru tau setelah konser tanggal 11 September bahwa ternyata masalah tiket ini sempat menjadi ramai, karena terjadi pemalsuan tiket. Sehingga ada beberapa orang yang sudah membeli tiket ternyata tertipu oleh pihak yang tidak bertanggungjawab dengan membuat website atau situs penjualan palsu. Untungnya saya beli di situsnya Live Nation langsung.

Tiket Konser Bon Jovi yang Dipesan Daring

Tiket Konser Bon Jovi yang Dipesan Daring

 

Hari H

Hari H tanggal 11 September, Jakarta sudah macet di sore hari terutama di seputar Senayan. Saya bisa liat dari jendela kantor saya (saya ngantor di daerah Semanggi). Adik saya dan istrinya dari sore sudah menuju GBK. Mereka berdua sudah saya pesankan untuk masuk duluan saja. Sementara saya juga masih ada urusan di kantor untuk ikut pembahasan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Untungnya teman saya (Ayu) baik hati, dia tau saya mau nonton Bon Jovi dan dia bilang sudah silahkan aja nonton Bon Jovi sementara dia yang gantikan untuk ikuti rapat RKAP. Kebetulan memang sudah mau selesai sih.

Berita tentang konser Bon Jovi ini sudah ramai dari hari sebelumnya. Konser Bon Jovi ini diduga akan sangat megah dan spektakuler. Apalagi penggemar Bon Jovi cukup banyak di Indonesia. Semua fans Bon Jovi tentu sudah menantikan dengan antusias. Bahkan berita macetnya Jakarta sudah terdengar sejak siang hari.

Pukul 17.30 WIB Saya pun meluncur ke Kosan untuk ganti baju. Dari Kosan saya pesan Go-jek, lumayan lama juga untuk dapet ojek, sementara saya khawatir konser sudah akan mulai, walaupun saya tau konser akan dimulai pukul 20.00 WIB. akhirnya Ojek saya datang dan saya pun langsung meluncur ke GBK. Waduh ampunn seperti yang sudah diduga sekitar Senayan itu macet parah.

Macet disekitar kawasan Senayan

Macet disekitar kawasan Senayan

Kesalahan dari penyelenggara Konser ini adalah SALAH MEMILIH HARI DAN TANGGAL KONSER. Sebab konser diadakan di Hari Jumat, semua yang tinggal di Jakarta tau dong gimana lalu lintas di hari Jumat sore, tanpa konser pun sudah pasti macet apalagi ditambah dengan adanya konser. Beda dengan konser Metallica dimana konser diadakan di hari Minggu, sehingga tidak terlalu macet.

Saya turun dari Ojek di sisi Pintu masuk GBK di samping FX sekitar pukul 18.30 WIB, dari situ massa sudah berbondong-bondong menuju akses gerbang masuk yang hanya ada satu di sisi Timur GBK dan terdiri dari beberapa lajur. Lagi-lagi di sini panitia gak canggih dalam mengatur flow masuk penonton. Beda dengan sistem masuk konser Metallica yang lebih rapih. Konser Bon Jovi ini sistem masuknya bikin antrian lama karena di sisi Timur hanya buka satu akses saja, dan proses nya lama karena tiket di pindai (scan) dengan alat pembaca (scanner) barcode. Sebelum masuk ke antrian ini pemeriksaan sebelumnya hanya untuk mensortir minuman saja karena minuman tidak boleh masuk, sehingga antrian untuk scan tiket jadi panjang menumpuk.

Sewaktu konser Metallica proses masuknya sudah dibuat berlapis, diawal sudah diperiksa kelengkapan tiketnya, masuk antrian berikutnya untuk periksa atau scan tiket tidak berdesakan karena sudah disaring dan barisan antrian pun dibuat banyak.

Sementara konser Bon Jovi ini antriannya saya lihat jalurnya hanya sedikit, sehingga saat periksa tiket dengan scanner ini menimbulkan bottle neck. Rasanya tidak nyaman dan berdesakan. Belum lagi di barisan antrian itu sampah botol minum berserakan. Panitia melarang penonton membawa minuman dari luar, tapi sayangnya tidak menyiapkan kantung sampah untuk membuang botol-botol minuman tersebut. Sehingga hanya dibiarkan berserakan begitu saja.

Lama sekali rasanya proses antrian untuk masuk ke dalam arena konser. Adik saya sudah di dalam dan menelpon saya memberitahu bahwa Grup Band pembuka sudah tampil. Walaahh….
Akhirnya saya masuk juga ke arena konser di GBK, Saya sudah tidak bisa menemukan adik saya, walaupun saya tau dan sudah janjian dengan adik saya di area tempat duduk yang sama. Tapi karena saking luasnya saya sulit menemukan adik saya dan istrinya, apalagi tribun atas sudah mulai penuh.

Saya akhirnya putuskan untuk duduk sendirian di bagian paling atas tribun, disitu saya duduk sendirian. Sambil tetep tengak tengok siapa tau bisa liat Dany adik saya dan istrinya (Cici).

di Tribun paling atas, menggunakan masker :)

di Tribun paling atas, menggunakan masker :)

Tapi kondisi sudah sulit untuk mencari orang. Sambil duduk santai menunggu konser dibuka saya beli hotdog yang dijajakan di tribun oleh penjaja yang lewat. Sayangnya hotdog itu sudah tidak hangat dan harganya Rp 50 ribu, hehehehe ya sudahlah daripada saya lapar.

Jika diperhatikan ternyata panggung konser Bon Jovi ini tidak semegah panggung konser Metallica. Tata Cahaya cenderung seadanya dan temaram. Saya pikir mungkin karena belum mulai kali ya. Saya perhatikan penonton juga mulai berdatangan memenuhi arena pertunjukan. Artinya konser sudah akan dimulai.

Suasana Menjelang Konser

Suasana Menjelang Konser

Nyatanya Konser lama sekali tidak dimulai-mulai. Band pembuka sudah menyelesaikan pertunjukannya sejak tadi. Tapi belum ada tanda-tanda Bon Jovi naik keatas panggung. Jujur saja saya mulai bosan juga menunggunya. Akhirnya sekitar pukul 20.30 WIB konser baru dimulai.

Suasana ketika Konser Dimulai

Suasana ketika Konser Dimulai

 

Konser Dimulai….

Konser dimulai oleh Bon Jovi dengan lagu yang tidak familiar di kuping saya :) Lagunya berjudul That’s What The Water Made Me yang disambung dengan lagu Who Says You Can’t Go Home dan lagu Lost Highway. Baru di lagu keempat saya agak familiar yaitu lagu Raise Your Hands itupun saya hanya familiar di pas Reff nya saya ikut teriak Raise Your Hands…, Raise Your Hands…, tapi selebihnya sih ga tau itu lagu yang mana dari album apa… pokoknya seru-seruan aja lah :)

Saya ga habis pikir kenapa Bon Jovi tidak membuka konsernya dengan lagu dia yang cukup terkenal atau familiar disini?Apa dia ga tau kalo lagu-lagunya yang terbaru sudah tidak terlalu diterima disini? Ya sudah lah nikmati saja konser ini…

Baru di lagu kelima dia nyanyikan lagu You Give Love a Bad Name yang tentu disambut dengan antusias oleh penonton di GBK. Penonton ikut bernyanyi terus sepanjang lagu. Kemudian dilanjutkan dengan lagu Born To Be My Baby dan We Don’t Run. Di lagu kedelapan penonton kembali meledak karena Bon Jovi menyanyikan lagu hits mereka It’s My Life, lagu ini tentu bisa mengajak penonton ikut bernyanyi karen lagu ini cukup populer.  Lagu berikutnya adalah Because We Can.

Lagu ke sembilan ini adalah lagu favorit saya, yaitu I’ll Be Saturday Night tentunya sepanjang lagu ini saya ikut bernyanyi dengan Bon Jovi. Dilanjutkan kemudian dengan lagu What About Now dan We  Got it Goin’ On. Baru kembali di lagu ketigabelas suasana kembali meledak ketika Bon Jovi menyanyikan lagu favorit saya juga yang berjudul In These Arms dari album Keep The Faith. Kemudian disambung dengan lagu-lagu hits mereka seperti Wanted Dead or Alive I’ll Sleep When I’am Dead, Keep The Faith, Bad Medicine.

Kemudian mereka sempat hilang dibalik panggung untuk kemudian muncul kembali menyanyikan lagu andalan mereka seperti Runaway dan  Have A Nice Day. Pertunjukan di tutup dengan lagu terakhir Livin on a Prayer. Konser berakhir sekitar pukul 22.30 WIB

Jujur aja saya kurang puas dengan konser ini, karena beberapa lagu Bon Jovi yang cukup terkenal disini seperti Bed of Roses, Always dan Never Say Goodbye tidak dinyanyikan mereka. Selain itu tata suara dalam konser Bon Jovi ini mernurut saya kalah dengan tata suara konser Metallica. Jangan tanya untuk tata cahaya dan tata panggungnya, konser Metallica sih belum ada lawannya. Saya terus terang puas banget kalo konser Metallica.

Selesai konser saya mencari adik saya, dan saya berhasil menemukan adik saya dan istrinya. Kemudian kami foto-foto sebentar sebelum pulang.

Secara keseluruhan saya kasih nilai 7 untuk konser Bon Jovi ini.

 

 

 

 

 

Logo IBS

Kuliah Pasca Sarjana MM di STIE IBS

Sudah sejak lama saya ingin kuliah pasca sarjana terutama mengambil jurusan manajemen atau hukum. Tapi waktu dan biaya belum memungkinkan. Sehingga keinginan saya itu saya tunda lama sekali. Saya lulus S-1 tahun 2000 dan sampai tahun 2013 saya belum pernah kuliah lagi. Artinya 13 tahun saya sudah meninggalkan kampus. Walaupun demikian selama 13 tahun tersebut banyak training atau pelatihan yang saya ikuti dan manfaat nya saya pikir tidak kalah dengan bangku kuliah.

Sejak saya bekerja di Badan Regulator PAM DKI Jakarta di tahun 2012 saya bertekad untuk kuliah lagi. Saya pikir waktunya sudah tepat dan tabungan saya juga sudah mencukupi untuk membayar biaya kuliah. Namun saya mesti pelajari dulu suasana bekerja dan loading pekerjaan di BRPAM ini, sehingga baru pada tahun 2013 saya memutuskan untuk mendaftar kuliah.

Saat itu saya terpikir untuk langsung mengambil kuliah Magister Hukum, akan tetapi kampus pilihan saya adalah Universitas Indonesia di Salemba dan Universitas Gajah Mada cabang Jakarta, yang semuanya berlokasi jauh dari kantor dan tempat tinggal saya. Sehingga saya memutuskan untuk mengambil kuliah lain yaitu Magister Manajemen dengan pertimbangan berikut:
1. Lokasi perkuliahan tidak jauh dari kantor dan rumah tinggal
2. Biaya Kuliah terjangkau
3. Status kampus berkualitas
4. Jurusan yang ditawarkan sesuai dengan minat
5. Waktu kuliah tidak mengganggu kerja

Berdasarkan pertimbangan tersebut maka saya melakukan browsing via internet dan media lainnya seperti koran dan majalah. Hasilnya saya menemukan website kampus IBS di http://www.ibs.ac.id. Kampus ini menurut saya sangat pas dengan kriteria pilihan saya, karena:

 

Lokasi Kampus
Lokasi kampus berada di Jalan Kemang Raya, artinya jika saya pulang dari kantor di Pejompongan (saat itu saya belum kost) ke Depok, maka jalan menuju ke Kampus itu searah dengan jalan saya menuju pulang ke rumah di Depok. Saya tadinya ingin kuliah di Universitas Indonesia, tapi kelas Pasca Sarjana mereka di Salemba. Arah ke Salemba itu macet sekali di sore hari, dan tidak searah ke Depok. Pilihan lain kuliah di Perbanas di Kuningan, wah ini lagi! Kuliah di Kuningan sore hari sih bisa stress duluan kena macetnya. Saya terbayang bisa terlambat kuliah. Pilihan lain adalah Kuliah di Atmajaya Semanggi, kampus ini deket banget ama kantor saya, tapi jika selesai kuliah jam 21.00 WIB, maka saya masih jauh lagi harus pulang ke rumah di Depok. Kasian ama pak Pardi supir saya. Memang akhirnya pilihan jatuh ke Kampus IBS di Kemang Raya ini. Jika saya kuliah sore, maka saya masih bisa kejar dari Pejompongan, walaupun macet di Perempatan Kemang (McDonald Kemang) tapi masih bisa terkejar lah, dan terbukti selama kuliah disana saya tidak pernah terlambat. Pulangnya jam 21.00 WIB jarak ke Depok sudah tidak terlalu jauh lagi, sudah tinggal separuh jalan saja.

 

Biaya Kuliah
Biaya Kuliah Pasca Sarjana Magister Manajemen di STIE IBS ini setelah saya bandingkan termasuk murah dan pembayarannya lumayan fleksibel. Jika dibandingkan dengan kampus lain yang menyelenggarakan program MM seperti:
- Universitas Indonesia yg bisa sampai 100 jutaan
- Prasetya Mulya sekitar Rp. 116.500.000 (http://pmbs.ac.id/admissions/Tuition_Fee)
- Atma Jaya Jakarta sekitar Rp. 39.900.000 (http://atmajaya.ac.id)
- Perbanas sekitar Rp. 21.000.000 sd 40.000.000 (http://sps-perbanas.ac.id/index.php?pilih=hal&id=34)
Biaya Kuliah di STIE IBS hanya Rp. 35.000.000 selama 4 Semester dan dapat diangsur 4 kali @Rp 8.750.000 per semester. Jika dibayar lunas sekaligus maka akan mendapatkan potongan sebesar Rp. 2.500.000 atau bisa dibayarkan perbulan menjadi Rp. 1.500.000 / Bulan (4 Semester). Silahkan cek di link ini http://www.ibs.ac.id/index.php?content=info-daftars2

 

Status Kampus
Status Kampus adalah faktor yang tidak kalah penting. Untuk pasca Sarjana jurusan Manajemen rata-rata setiap kampus ter-akreditasi “B” sepertinya. Saya lupa detail dari status setiap universitas atau kampus lainnya. Kampus STIE IBS ini setelah saya cek saat saya mendaftar masih belum terakreditasi, tapi dalam proses pengurusan. Hanya saja saya tau bahwa STIE IBS tahun 2010 berdasarkan Surat keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor: 98/D/O/2010 diberi ijin menyelenggarakan program studi S2 Magister Manajemen. Saya agak nekat juga untuk memilih kampus ini karena belum terakreditasi. Tapi untuk program S-1 nya terakreditasi “B”. Tapi saya tidak salah juga karena pada tahun 2013 prodi MM, mendapatkan akreditasi B dari BAN-PT dan sedang ditingkatkan menjadi A (informasi: http://www.ibs.ac.id/sejarah.php).

Akreditasi BAN PT

Akreditasi BAN PT. MM STIE IBS Terakreditasi “B”

 

Jurusan yang ditawarkan
Jurusan yang ditawarkan saat saya mendaftar saat itu di STIE IBS adalah Magister Manajemen dengan 4 Konsentrasi yaitu:

  • Manajemen Keuangan Perbankan
  • Manajemen Risiko
  • Manajemen Pemasaran
  • Manajemen SDM

Namun saat artikel ini saya buat di STIE IBS konsentrasi nya terbagi menjadi:

  • Manajemen Perbankan (Konvensional)
  • Manajemen Perbankan (Syariah)
  • Manajemen Marketing
  • Manajemen Risiko

Lihat : http://www.ibs.ac.id/mm_over.php

 

Waktu Perkuliahan
Waktu kuliah ini juga sangat penting. Enaknya waktu saya mendaftar dulu perkuliahan di STIE IBS itu Jumat Sore dan Sabtu pagi sampai sore. Namun dari brosur yang saya terima di tahun 2015 waktu perkuliahannya lebih menarik lagi, yaitu:
- Kamis/Jumat jam 18.00 – 21.00 WIB di Gedung YPPI Pancoran
- Jum’at jam 18.00 – 21.00 WIB di Kampus Kemang
- Sabtu jam 08.00 – 16.00 WIB di Kampus Kemang

 

Sejarah IBS
STIE IBS berdiri tahun 2004 sebagai pengembangan dari Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) sebuah lembaga yang banyak memberikan pelatihan di bidang perbankan. LPPI sendiri sudah ada sejak tahun 1950-an. Nama LPPI sempat mengalami beberapa perubahan, dimulai dari Akademi Bank, Pendidikan Tinggi Ilmu Keuangan khususnya perbankan (PTIKP), Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) dan Institut Bankir Indonesia (IBI). Namun sejak tahun 2004 lembaga ini kembali melakukan kegiatannya dengan nama LPPI.

 

Persyaratan Masuk
- Nilai TOEFL minimal 500 (Diserahkan sebelum ujian Thesis)
- Memiliki ijazah S1 dari semua jurusan dengan IPK minimal 2.75 *)
- Lulus tes Wawancara
*) Bagi calon mahasiswa yang memiliki IPK < 2.75 disyaratkan memiliki pengalaman kerja 2 tahun.
dan bagi calon mahasiswa yang tidak memiliki latarbelakang pendidikan Ekonomi diwajibkan mengikuti matrikulasi.

 

Prosedur Pendaftaran
Mengisi formulir secara online atau menyerahkan formulir pendaftaran dengan biaya sebesar Rp.300.000,- beserta kelengkapannya:
- Fotocopy Ijazah Strata 1 (S-1) dan Transkrip yang dilegalisir (cap basah) masing-masing sebanyak 2 (dua) lembar.
- Pas photo berwarna ukuran 4×6 dan 3×4, masing-masing sebanyak 2 (dua) lembar.

 

Biaya Pendidikan
- Total biaya pendidikan sebesar Rp. 35.000.000,- selama 4 (empat) semester, dapat diangsur 4X @ Rp.8.750.000,– per semester.
- Untuk pembayaran lunas sekaligus mendapat potongan sebesar Rp.2.500.000,–
- dapat dibayarkan perbulan menjadi Rp. 1.500.000 / Bulan (4 Semester)
Paket biaya pendidikan di atas sudah termasuk :
- Biaya total perkuliahan 42 SKS
- Bimbingan penulisan dan sidang Tesis
- Peminjaman buku wajib dari perpustakaan
- Jaket Almamater
- Coffee Break, snack, makan malam (jumat) dan makan siang (sabtu)

 

MENDAFTAR KULIAH
Saya mendaftar akhir Maret 2013. Saat itu Sekretaris Program MM masih ibu Dr. Paulina Harun dan Ketua Program MM adalah ibu Dr. Suhartati. Perkuliahan di mulai pada Bulan April 2013. Untuk saya yang sudah tidak pernah merasakan “bangku” perkuliahan sejak tahun 2000, maka rasanya sangat antusias dan bersemangat sekali. Angkatan saya terdiri dari 12 orang dalam 1 kelas. Semua mahasiswa usianya jauh lebih muda dari saya. Saya adalah siswa yang paling “tua” di kelas. Rata-rata mereka baru lulus S-1 dan langsung mengambil S-2. Sebelum dilakukan perkuliahan terdapat kelas matrikulasi yang harus diikuti oleh seluruh Mahasiswa (terutama saya yang bukan berlatar belakang dari ekonomi manajemen).

 

KURIKULUM PERKULIAHAN
Perkuliahan Magister Manajemen di STIE IBS ini terdiri dari 42 SKS yang terbagi atas:

Semester I:

  • Business Law and Business Ethic
  • Strategic Management
  • Operational Management
  • Business Research Methods

Karena saya masuk kuliah di Bulan April maka materi Semester I ini adalah materi yang sebenarnya adalah materi Semester II. Kami ikut Kuliah dengan teman-teman yang  kuliah dan masuk di bulan Oktober

Semester II:

  • Organizational Behavior & Leadership
  • Corporate Financial Management
  • Marketing Strategic
  • Global Human Resource Management

Materi ini adalah materi kuliah Semester I dan kami digabungkan dengan Mahasiswa angkatan berikutnya yang masuk kuliah di bulan Oktober.

Semester III:

  • Assets and Liability Management
  • Management of Bank Operational
  • Bank Risk Management
  • Banking Finance Research & Seminar

Materi perkuliahan di Semester ini adalah materi Kuliah yang sudah penjurusan sesuai Konsentrasi yang diambil. Karena saya mengambil konsentrasi Manajemen Keuangan Perbankan maka saya mendapat 4 Mata kuliah tersebut.

Semester IV: Thesis

Thesis ini adalah 6 SKS. Saya mulai mengerjakan Thesis di bulan Oktober dan selesai di bulan Maret. Alhamdullilah selesai sesuai jadwal.

 

Saya senang bisa kuliah di STIE IBS, selain sesuai dengan kriteria pilihan sebagaimana disebutkan diatas, saya suka IBS karena :
- Kampusnya asri dan hijau walau berada di pusat kota Jakarta yang panas dan sudah penuh dengan gedung beton.
- Lokasinya berada di daerah elite dan banyak hiburan. Jadi kalo hari Sabtu pulang kampus bisa langsung pergi ke restoran dan mall di sekitar kampus. Atau kalo hari Jumat malam pulang kuliah bisa dugem dulu (Walaupun hampir ga pernah bisa karena sudah sibuk kuliah).
- Gedungnya bagus dan masih baru, jadi walaupun biaya nya murah tapi kampusnya tidak murahan.
- Jaman saya kuliah dulu, uang kuliah sudah termasuk mendapat buku pegangan kuliah yang resmi berbahasa Inggris. Angkatan berikutnya sudah tidak ada lagi sepertinya (karena angkatan saya sepertinya angkatan promo). Selain itu juga mendapat makan malam (Kuliah Jumat Malam) dan makan siang (kuliah Sabtu Siang).

 

Senang bisa berkuliah di STIE Indonesia Banking School (IBS) dan lebih senang lagi karena saya bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu.

 

 

 

Kamar dan Tempat Tidur

Kost di Griya Salam – Pejompongan

Sejak awal 2014 saya rasakan jalanan menuju dan dari arah Jakarta di pagi dan sore hari kok rasanya makin macet. Terutama sejak MRT mulai dibangun di Jakarta. Saya tinggal di kawasan Depok sementara kantor saya di daerah Pejompongan. Jam masuk kantor saya jam 07.30 WIB, jadi saya pergi dari rumah sekitar jam 05.30 WIB. Biasanya jam 07.00 atau 07.15 saya sudah sampai di Pejompongan, tapi sejak kemacetan yang semakin parah maka saya sampai Pejompongan pernah jam 09.00 WIB. Walaupun saya ga nyupir tapi kasian aja ama pak supir nya berjam-jam, saya nya juga kadang ga betah di tengah kemacetan apalagi kalo kebelet pipis ;)

Saya kemudian terpikir untuk nge-kost saja di sekitar kantor saya. Apalagi disekitar kantor saya banyak kost-kostan dan dikenal sebagai surganya kuliner di Jakarta. Daerah Pejompongan dan Benhil ini saingan ama daerah Tebet untuk urusan lokasi kost dan kuliner. Sebelumnya saya pernah Kost di sekitar Tebet, tapi kostnya dirumahan lho ya, bukan kost yg model bisa check-in hehehehe :)  Saya Kost di Tebet Barat sekitar tahun 2010-an. Pernah juga sebelumnya kost di cikoko – pengadegan – pancoran dan sekitarnya, dekat ama kantor saya yang lama di MT Haryono Pancoran. Tahun 2002 saya pernah kost di Cikini deket RS PGI ketika saya pendidikan ODP di UI Salemba. Saya juga pernah kost di Bandung tahun 2011, yaitu Kost di Jalan Buah Batu, deket Kantor Pusat Bank Saudara di Buah Batu dulu (sebelum pindah ke Jl. Diponegoro Bandung). Pengalaman Kost saya justru setelah saya selesai kuliah dan saat bekerja, karena saya kuliah justru deket ama rumah :D

Akhirnya saya bulatkan tekad untuk kost saja karena macetnya makin hari makin parah. Saya cari kostan prioritas yang ga jauh dari kantor, karena saya ga pengen keluar budget ekstra untuk ongkos jalan. Kalo sudah kost masa keluar anggaran lagi buat transpor pikir saya. Untungnya deket kantor saya banyak kostan. Salah satunya adalah Hotel & suites Le-Green cuma kosan ini termasuk kelas wahid harganya. Saya selain ga sanggup budgetnya, ternyata tidak ada room yang available juga dalam waktu dekat.

 

Kostan Griya Salam – Jl. Salam Pejompongan Benhil

Kebetulan staf di kantor ada yang pernah browsing atau survei langsung kostan disekitar kantor, jadi saya gunakan saja database yang ia miliki. Ternyata persis di depan kantor saya ada gang, namanya Jl. Salam. Di situ katanya ada kostan. Saya pun meluncur ke TKP. Yang jaga saat itu ada mas Kiki namanya ama istrinya saya lupa. Saya langsung tertarik dengan Kostan ini yang ternyata namanya Kostan Griya Salam. Kostan ini memiliki 17 kamar. Saya tidak mengecek sebelumnya dari website atau mungkin saya mengecek di website tapi saya lupa. Seinget saya hanya mengandalkan catatan dari teman saya. Ternyata ketika saya menulis artikel ini kostan Griya Salam ini ada di link ini http://www.kostjakarta.com/tag/pejompongan/

Saat itu karena saya belum browse di internet saya mendapat penjelasan sebagai berikut, yang kurang lebihnya sama dengan di link http://www.kostjakarta.com/tag/pejompongan/

  • Harga Sewa kostan saat itu per bulan mulai: Rp 2.200.000, Rp 2.700.000, Rp 2.900.000 dan Rp 3.200.000 (harga ini perlu dicek lagi updatenya)
  • Deposit uang Rp. 1.000.000,00 (akan dikembalikan jika kita selesai kost dan meninggalkan kostan)
  • Penghuni Kost Untuk: Pria dan Wanita
  • Ukuran Kamar: Mulai 12 m2, 16 m2, 17,5 m2 dan 19,5 m2
  • Sekamar Boleh Berdua: Ya (tergantung ukuran kamar)
  • Biaya Tambahan Sekamar Berdua: Rp 400.000 per bulan (harga ini perlu dicek lagi updatenya)
  • Fasilitas: Tempat Tidur Springbed, TV LED 23’, AC, Kamar Mandi Dalam (Shower Air Panas/Dingin, Kloset Duduk, Washtafel), Lemari Pakaian, Rak Dinding, Meja Belajar dan Kursi, Tempat Sampah Kamar dan Kamar Mandi.
  • TV bisa dengan TV Cable tapi hanya di kamar tertentu dan ada biaya tambahan (saat saya kost sekitar Rp. 100 ribu per bulan saat terakhir saya kunjungi bulan Juli 2015 sudah menjadi Rp. 150.000,-).
  • Fasilitas Umum: Pantry bersih, Kulkas, Dispenser, Meja Makan, Mesin Cuci, Setrika, Area Jemur Baju, Ruang Tamu, Area Santai penghuni, Free WiFi Connection (saat saya kost menggunakan First Media sama dengan TV Cable).
  • Parkir Mobil: terbatas seingat saya hanya bisa nampung 4 (empat) mobil dan dikenakan biaya tambahan per bulan yang saya lupa besarnya karena saya tidak bawa mobil.
  • Parkir Motor: Ada. Tidak dikenakan biaya tambahan untuk penghuni kost.
  • Untuk jasa Cuci & setrika per bulan Rp. 250.000 (tidak dibatasi jumlah pakaiannya)
  • E-mail: griya.salam@yahoo.co.id
  • Telp: 021-5731934

 

Saya langsung kepincut (jatuh hati) ama Kostan Griya Salam ini. Cuma sayangnya waktu itu kamar yang tersisa dan paling murah adalah kamar A7 dengan harga saat itu Rp. 2.200.000,00 sementara kamar lain ada di sebelahnya tapi harganya Rp. 3.200.000,00 karena besar dan ada kulkas di dalamnya. Selain itu ada kamar kosong lainnya diatas, saya males kalo mesti naik-naik lagi keatas (walaupun pada akhirnya saya sempat pindah juga ke kamar di lantai atas).

 

Ini adalah penampakan kostan Griya Salam tersebut, foto dibawah ini diambil dari dari website http://www.kostjakarta.com/tag/pejompongan/

 

Sedangkan foto-foto ini saya ambil dengan smartphone android saya:

Ruang Tengah

Ruang Tengah

Dapur Bersama

Dapur Bersama

Selain melakukan pembayaran sewa kost, penyewa kamar kost juga harus mematuhi tata tertib dan mengisi form surat perjanjian yang telah ditetapkan oleh pemilik kost. Jadi di Griya Salam ini lumayan lengkap aturannya. Selain itu kita juga harus menyerahkan foto copy KTP kepada pemilik kost.

 

Kamar A7 (Kamar yang tidak ada sirkulasi udara & deket dapur)

Saya putuskan untuk mengambil kamar A7. Kamar ini adanya di pojok, ada jendelanya tapi langsung ke dapur (Foto Dapur Bersama adalah foto diatas). Sehingga saya pastikan tidak akan pernah saya buka jendela ini. Saya sebenarnya kurang suka kamar ini karena tidak ada cahaya matahari yang masuk, dimana buat saya cahaya matahari adalah sangat penting (buat berfotosintesa hehehehe). Kamar itu kalo ga ada cahaya matahari masuk akan lembab rasanya. Apalagi kalo pake AC.

Tapi saya pikir ya sudahlah, untuk sementara gapapa. Nanti jika kamar yang ada sinar matahari nya ada yang pindah penghuninya maka saya akan tukar kesana. Akhirnya saya putuskan kasih DP untuk kamar ini, karena kabarnya sudah ada yang mau atau naksir juga ama kamar ini.

Kamar A7 Kamar pertama saya

Kamar A7 Kamar pertama saya

Pulang dari liat kostan Griya Salam dan bayarin DP saya masih sempatkan diri ke Jl. Pejompongan Baru yaitu satu gang disebelahnya. Saya liat-liat lokasi kostan di Jalan ini, tapi sayangnya Kostan yang ada terlalu kostan banget bentuknya. Artinya Kamar kamar saling berhadapan kayak di asrama. Beda dengan di Griya Salam tadi yang kostannya berbentuk rumah dimana ada ruang tamu, ruang makan, ada dapur dan lain-lain, serta bangunannya yang masih baru. Sedangkan di kostan ini penghuni kos dikasih akses jalan sendiri berupa tangga, semua kamar di lantai 2. Ada kamar yang kosong sih, tapi ya itu tadi saya ga mood liat pengaturan kamarnya. Di Kamar disediakan tempat tidur, lemari dan meja. Kostan ini bangunan lama dan perabotannya juga lama. Ya sudah saya sekedar liat aja kostan ini, saya sudah fixed di kostan Griya Salam.

Peta Lokasi Kostan Griya Salam di Pejompongan Bendungan Hilir

Peta Lokasi Kostan Griya Salam di Pejompongan Bendungan Hilir

 

Saya masuk kamar Kostan ini resmi tanggal 2 Mei 2014. Saya langsung betah juga dikosan ini, karena fasilitasnya nyaman dan penghuninya juga enak. Tidak berisik seperti kostan di Grogol (dulu saya pernah ngerasain beberapa hari, karena kostan nya mahasiswa maka berisik banget kalo malam, mereka setel musik dan ngobrol). Saya langsung akrab dengan mas yg jaga Mas Kiki dan istrinya, mereka berdua baik dan sangat akrab.

Seperti yang saya sudah sampaikan, karena kamar saya deket dapur alias memang didepannya dapur maka kondisinya sedikit berisik. Terutama jika ada yang masak. Selain itu Galon air minum ada di depan kamar saya. Jadi siapa saja yang ambil air minum dan lalu lalang di dapur saya jadi mendengar. Saya sih tidak terlalu terganggu sekali ama hal ini, sebab saya kalo sudah tidur juga kebluk banget. Yang paling mengganggu buat saya adalah lembabnya kamar ini. Saya coba buka jendela kalo saya tinggal ngantor, tapi kan si mbak dan penghuni lain suka masak pas saya ga ada, kamar saya jadi bau masakan (bisa-bisa pas pulang kantor kamar saya bau ikan asin atau apalah).

Awalnya saya tidak langganan TV Cable, saya pake antena TV yang biasa dan sudah tersedia di dinding, tapi ternyata gambarnya jelek sekali. Terutama saat itu saya butuh Metro TV untuk nonton berita dan Trans7 untuk nonton OVJ :) Wah ga beres nih kalo gini, akhirnya saya ngobrol ama mas Kiki, katanya ada 1 dekoder yang masih available dan dia mau cek apakah ke kamar saya kabel TV nya udah siap dan tinggal colok dengan saluran pembagi di atas. Ternyata beberapa hari kemudian kata mas Kiki semuanya beres, okay. Jadi saya bisa pake TV Cable. Berguna juga sih TV cablenya, sebab saya ga bete kalo pulang kantor ga ada yang dikerjain. Terutama untuk tau berita perkembangan terkini di Metro TV.

Saya jalani Bulan Mei, Juni dan Juli  (pertengahan akhir) di kamar A7 ini. Oh ya satu yang enak dari kamar ini adalah ketika bulan Juni/Juli adalah bulan Ramadhan :) Karena saya di depan Dapur maka saya tidak pernah kesiangan untuk Sahur :) Sahur jadi bangun dan gampang siapinnya karena dapur pasti ada aja yang berisik nyiapin sahur. Kemudian pas menjelang Lebaran mas Kiki dan Istrinya pulang ke kampung dan tidak kembali lagi. Mereka digantikan oleh Mbak Jum dan Mas Bambang sebagai penjaga yang baru.

Biaya per bulan selama saya di kamar A7 ini adalah:
- Sewa Kamar Rp. 2.200.000,00
- Cuci dan Setrika Rp. 250.000,00
- TV cable Rp. 100.000,00
Total biaya per bulan adalah Rp. 2.550.000,00

Saya makin lama tapi makin tidak betah dengan kamar ini karena terasa semakin lembab dan berjamur. Saya merasa tidak ada sirkulasi udara yang sehat di kamar ini. Serba salah, dibuka udara yang masuk udara dapur, ditutup jadi pengap. Saya jadi teringat dengan kamar kostan saya di Tebet dulu yang tidak ada jendelanya, sehingga kamar saya pengap sekali hanya mengandalkan AC saja. Anehnya setelah saya pergi ada penghuni baru seorang wanita mahasiswi yang betah sekali menghuni kamar ini :) Saya sih nggak kuat deh …

 

Kamar B2 (Kamar yang salah desain, Kamar mandi terlalu besar)

Pertengahan Juli menjelang Lebaran saya dapat kabar kalo kamar di lantai 2 yaitu kamar B2 kosong. Si penghuni sebelumnya sudah pindah. Saya buru-buru liat kamar ini seperti apa. Wah saya senang sekali dengan posisi kamar ini karena posisinya di depan, jadi jendelanya langsung ke arah jalan Salam, matahari pagi juga bisa masuk ke dalam. Aduhh senangnya saya dengan kamar yang ada sinar matahari seperti ini :) Sebelum pindah ke kamar B2 ini Mas Kiki periksa dulu apakah jaringan TV Cable bisa dipindah dari kamar A7 ke B3 ini. Ternyata bisa, sehingga saya bisa pindah ke kamar ini.

Saya akhirnya ambil kamar B2 ini dan siap-siap pindah di akhir Juli. Harga kamar ini per bulannya memang lebih mahal yaitu Rp. 2.700.000,00 kamarnya pun lebih sempit. Hal ini disebabkan penataan dan lay-out desain kamarnya yang menurut saya salah. Salahnya adalah kamar mandinya terlalu besar sehingga banyak mengambil ruangan dan lemari pakaian menempel pada dinding sisi kamar mandi bukan ke dinding tembok yang membatasi dengan kamar sebelah. Sehingga kamar ini terasa lebih sempit. Dibanding kamar saya di A7 kamar di B2 ini jauh terasa lebih sempit.

Tapi lagi-lagi saya suka dengan sirkulasi udaranya. Jika pagi hari matahari menembus tirai jendela dan saya pasti akan bangun. Kemudian suara pedagang yang lewat di jalanan juga pasti akan terdengar, saya bisa memanggil mereka dengan mudah, tinggal turun aja untuk selesaikan transaksi :) Jika saya pergi ke kantor jendela sedikit saya buka, tirai juga saya buka dan aman karena ada teralisnya. Kamar saya juga sirkulasi udaranya jadi enak, kasur dan bantal kena matahari pagi. Inilah kelebihan kamar saya yang baru ini :)

Memang kamar B2 ini lebih mahal dari kamar A7 dan sedikit sempit tapi saya lebih senang dan betah di kamar ini. Gapapa lah lebih mahal yang penting sirkulasi udaranya sehat. Udaranya selalu berganti setiap hari. Saya tinggal di kamar ini sejak akhir Juli, sampai bulan Februari (sekitar 7 bulan). Di kamar inilah saya menyelesaikan Tesis saya untuk S2 MM saya di IBS. Saya sayang sekali dengan kamar ini, jika saja dulu desainnya tidak salah dan ukurannya sedikit lebih besar maka ini akan jadi kamar paling sempurna di kostan Griya Salam.

Biaya per bulan selama saya di kamar B2 ini adalah:
- Sewa Kamar Rp. 2.700.000,00
- Cuci dan Setrika Rp. 250.000,00
- TV cable Rp. 100.000,00
Total biaya per bulan adalah Rp. 3.050.000,00

 

Kamar A3 (Kamar paling top & saya paling suka)

Februari 2015 saya denger berita kamar A3 di lantai bawah kosong, penghuni sebelumnya adalah 2 orang pramugari yang berbagi kamar dengan menyewa kamar tersebut. Keduanya pindah barengan sehingga kamar A3 ini langsung kosong. Saya langsung melihat kamar ini untuk observasi. Kamar A3 ini terletak di lantai bawah sisi depan. Kamar ini memiliki jendela yang langsung ke parkiran mobil di depan rumah. Juga langsung bisa melihat ke jalan Salam. Sehingga sinar matahari juga masuk ke kamar ini.

Saya langsung jatuh hati ama kamar A3, inilah kamar yang cocok sekali dengan keinginan saya. Saya pun langsung menghubungi ibu pemilik kos (Ibu Evelyn) untuk kabarkan saya pindah kamar (lagi). Kamar ini memiliki kelebihan dibanding kamar B7 dalam hal tata lay-out desainnya, dimana kamar A3 ini terkesan jauh lebih luas. Tidak seperti kamar B2 yang lebih sempit. Seperti sebelumnya maka saya pindahan lagi ke kamar bawah :) Di kamar ini saya betah banget, karena sama seperti kamar B7 sinar matahari pagi masuk ke kamar dan bisa buka jendela untuk sirkulasi udara. Namun walaupun ada teralis besi, saya tidak menempatkan barang berharga dekat jendela karena ngeri takut hilang jika dikait melalui jendela oleh orang yang lewat depan kostan yang tidak berpagar.

Sewaktu pindah ke kamar A3 maka jaringan TV Cable saya juga pindah lagi dari kamar B2 ke kamar A3 ini. Karena sudah tidak ada Mas Kiki maka kali ini Bu Evelyn pemilik kost panggil teknisi dari First Media. Tapi ga ada masalah yang berarti, semuanya lancar-lancar saja. Akhirnya saya kembali pindah ke kamar baru saya.

Oh ya kamar A3 ini tidak berbeda harganya dengan kamar B2. Saya bayar per bulan Rp. 2.700.000,00 secara umum saya puas dengan kamar ini. Hanya sedikit kekurangannya adalah:

  1. Di tembok pojok kamar sisi depan terdapat rembesan bocoran yang sedikit mengganggu saya. Kemudian di kamar mandi terdapat tetesan bocoran dari saluran air kamar diatas kamar saya. Sudah beberapa kali ditambal namun hasilnya kurang maksimal.
  2. Pintu kamar saya memiliki rangka (frame) yang berdempetan dengan pintu kamar sebelah (Kamar A2). Sementara penghuni kamar sebelah saya jika menutup pintu kamarnya itu cenderung dilepas / slamming, akibatnya semua terasa bergetar. Saya sebel banget kalo penghuni sebelah kamar saya pulang kantor atau ada di kosan, pasti tembok saya bergetar semua. Suaranya itu keras dan mengganggu saya.

Biaya per bulan selama saya di kamar A3 ini adalah:
– Sewa Kamar Rp. 2.700.000,00
– Cuci dan Setrika Rp. 250.000,00
– TV cable Rp. 100.000,00
Total biaya per bulan adalah Rp. 3.050.000,00

Sayangnya saya tidak lama di kamar ini, saya masuk Maret 2015 dan saya selesai kerja di kantor saya bulan Juni 2015. Sehingga tanggal 11 Juni 2015 saya sudah meninggalkan kostan Griya Salam. Sedih juga rasanya tinggalkan kostan ini, banyak kenangan dan hal menarik selama saya kost di Griya Salam ini. Beberapa hal menarik dari kost saya kali ni adalah:

  1. Ini adalah kost saya untuk yang ke 7 (tujuh) kalinya dalam hidup saya, dimana kost saya pertama kali di Cikini tahun 2002.
  2. Kost saya kali ini adalah rekor yang paling lama durasinya yaitu sejak Mei 2014 hingga Juni 2015 (sekitar 1 tahun), yang paling lama sebelumnya di Tebet yaitu pada November 2009 s/d Juni 2010 dan di Bandung sejak Maret s/d Agustus 2011.
  3. Kost saya di Griya Salam ini juga tercatat sebagai kost saya yang paling banyak pindah kamar, saya pindah kamar sebanyak 3 (kali), sebelumnya di Bandung dan di Cikoko Jakarta saya pindah kamar 2 (dua) kali saja.
  4. Kost saya di Griya Salam adalah kostan saya yang paling mahal dibanding kostan saya sebelumnya. Sebelumnya kostan saya standar saja fasilitasnya, ada AC tapi tidak sampai semahal ini. Kost di kawasan Benhil memang cukup mahal.

Saya akhirnya pergi meninggalkan Kostan Griya Salam ini dengan begitu banyak kenangan.

 

Oh ya selama saya Kost di Griya Salam bukan berarti saya tidak mencari kostan yang lain atau tidak membandingkan lagi. Justru beberapa kali saya ingin pindah ke kostan yang ada disekitar situ juga, namun setelah dipertimbangkan saya urungkan niat untuk pindah kost.


Kosan Lux Limboto

Saya tertarik dengan kosan di Jl. Limboto persis depan SMKN 19 Jakarta sudah sejak lama. Kostannya mewah dan dari luar terlihat ekslusif seperti rumah mewah. Kostan ini memiliki basement untuk parkir mobil. Sewaktu saya berkunjung saya semakin sadari bahwa kostan ini memang mewah beneran. Ada lift untuk naik kesetiap lantai.

Saya pernah survei ke lokasi kostan ini, di kostan ini dijaga oleh beberapa pembantunya. Saat itu ada dua kamar yang kosong, biasanya kostan ini selalu penuh. Fasilitas di kostan ini tidak terlalu berbeda dengan di Kostan Griya Salam. Hanya saja satu yang paling berbeda adalah “Listrik bayar sendiri“. Jadi disetiap kamar ada meteran yang terdapat token pulsa untuk PLN. Selain itu cuci dan setrika juga bayar lagi, tapi ini dibatasi per stel pakaian per hari. Beda dengan di Griya Salam yang bebas cuci berapa stel tidak dihitung.

Selebihnya saya liat sama saja, ada fasilitas ruang tamu yang lebih luks daripada Griya Salam, ada juga dapur kering, parkir mobil juga tersedia namun bayar tambahan juga, kemudian fasilitas air dengan heater, wi-fi dan TV cable. Semuanya saya lihat mirip dengan Griya Salam hanya sedikit lebih mewah saja. Sewaktu saya berkunjung harga kamar yang ditawarkan adalah Rp. 3.500.000,00 belum termasuk Listrik tadi, cuci & setrika dan parkir mobil.

Saya sih senang dengan kostan ini, tapi kok harganya belum masuk dengan hitungan kantong saya.

 

Kostan Jl. Danau Limboto

Berikutnya adalah kostan di Jl. Danau Limboto namanya saya lupa tapi lokasinya di depan Perpustakaan Fadli Zon. Sayangnya kostan ini setelah saya cek bentuknya seperti Asrama sekali, dimana masih-masing kamar berhadapan dan tidak ada jendela dengan pencahayaan atau sirkulasi luar. Ada jendela namun karena masing-masing kamar berhadapan maka jendelanya hanya di sisi akses jalan di antara kamar saja. Jika dilihat di foto, jendela di Kostan luks diatas sedikit lebih baik, karena jendela nya bisa mendapat udara dan cahaya dari luar.

Selebihnya saya lihat kasur dan perabotannya juga sudah lumayan lama. Jika dibandingkan dengan Griya Salam tetep lebih baru Griya Salam. Kelebihannya kostan ini kamarnya berukuran besar-besar. Selain itu harganya Rp. 2.800.000,00 sudah termasuk semua. Termasuk juga kamar dibersihin setiap hari.

Karena faktor sirkulasi udara dan cahaya, serta kurang baru perabotannya maka saya urungkan niat saya untuk pindah ke kostan ini.

 

Demikian cerita saya tentang kostan di daerah Pejompongan, mungkin bisa jadi referensi bagi mereka yang ingin kost di daerah ini.

banner

Cerita Pengalaman Operasi Mata (Katarak) “Phacoemulsification”

Saya sejak kecil sekitar kelas 4 SD (sekitar tahun 1986) sudah pakai kacamata. Waktu itu saya sudah mengeluhkan tidak bisa melihat tulisan di papan tulis. Ibu saya ketika itu tidak mendengarkan keluhan saya karena dianggapnya hanya latah ikut-ikutan ingin pakai kacamata seperti teman-teman saya yang sudah pakai kacamata duluan. Tapi akhirnya saya dibawa Bapak & Ibu saya ke dokter mata di Klinik Pala Farma Jl. Mawar Perumnas Depok 1. Hasil analisa dokter mata saya minus beneran bukan latah. Untuk mata kanan minus 2,5 dan kiri minus 3,25. Pulang dari dokter Bapak saya sedih karena saya harus pakai kacamata, dan saya lebih sedih lagi karena mulai saat itu kehidupan saya berubah (lebayyy mode ON :) )

 

minus tinggi

Minus tinggi

 

MATA SAYA YANG MINUS TINGGI …

Sejak saat itu saya jadi sulit dalam beraktivitas, karena minus saya termasuk langsung tinggi (kanan -2,5 dan kiri -3,25). Bangun tidur jadi harus langsung ambil dan pake kacamata. Saya sangat aktif sebelumnya, hobby saya maen sepak bola, berenang, main sepeda, maen layangan dll pokoknya aktif kesana kemari. Akibat pakai kacamata maka saya menjadi sulit beraktivitas seperti berolahraga dll. Pokoknya memakai kacamata itu amat sangat tidak menyenangkan. Anehnya penglihatan saya semakin dewasa makin memburuk. SD kelas 6 mata saya menjadi kanan -3 dan -5. Kemudian SMP meningkat menjadi mata kanan -5 dan -7. Di SMA semakin parah mata kanan saya -7 dan kiri -9. Lulus SMA mata kanan saya -9 dan yang kiri -11. Di Bangku kuliah juga minus saya tidak berhenti, mata kanan menjadi -11 dan kiri -13. Hingga akhirnya saya sudah bekerja (usia sudah diatas 25 tahun) minus saya mulai stabil di angka kisaran kanan -11 dan kiri -13. Walaupun demikian sampai usia 37 tahun kemarin, saya cek mata saya masih naik minusnya menjadi kanan -12.25 dan kiri -14, tapi saya memakai kacamata tetap dengan ukuran kanan -12.00 dan kiri minus -13.75.

Minus ku

Minus ku

Memakai kacamata itu sedih banget lho. Membatasi gerak dan aktivitas kita. Apalagi dulu cita-cita saya ingin menjadi pemain sepak bola. Selain itu yang bikin saya stress, jaman saya masih kecil, tahun 80-90 an harga kacamata dan lensa itu masih mahal. Belinya kudu di optik yang belum semenjamur sekarang. Kacamata dan lensa itu baru mulai murah ketika muncul pusat perbelanjaan ITC di tahun 2000 -an. Sejak era ITC itu kacamata menjadi lebih terjangkau. Saya juga lebih mudah membeli kacamata, apalagi minus saya juga makin tinggi sehingga lensa harus ditipisin kalo ga ditipisin bisa tebel banget kayak pantat botol.

Saya ingat jaman saya kecil, saya tidak bisa dengan mudah ganti frame (bingkai) kacamata :( Kacamata masih barang mewah, apalagi jaman saya SD-SMP-SMA kehidupan keluarga saya lagi susah. Akibatnya saat SMA saya mesti nunggu lungsuran kacamata dari om saya yang kerja di Luar Negeri (kebayang kan  frame ukuran dan model untuk orang tua dipake ama remaja, kayak apa diwajah saya? :) ). Atau kalo ibu ada sedikit rejeki lebih saya bisa dibeliin atau ganti kacamata. Dulu sering banget saya benci ama mata saya dan benci ama keadaan ini, benci harus berkacamata dan benci karena ga bisa beli.

Saat saya masih sekolah harga lensa kontak saat itu masih belum terjangkau. Selain itu perawatannya merepotkan. Tante saya pake softlens. Buat cewe sepertinya softlens lebih cocok, tapi kalo buat cowo jangan harap deh! Ga telaten merawat nya dan merepotkan. Saya baru pake softlens ketika sudah bekerja. Itupun tidak berlangsung lama, saya bosan dan mata saya tidak terlalu cocok dengan softlens karena mata saya cenderung kering, kurang becek (Padahal saya doyan banget makan timun lho… #apasih??) :) Jadinya softlens hanya betah dipake beberapa bulan saja atau dipake saaat saya ada acara penting, selebihnya saya balik lagi pake kacamata.

Persoalan lain dengan minus yang tinggi, walopun lensa sudah ditipiskan tetap saja akan tebal di sisi pinggirnya. Tebalnya lensa juga jadi problem dengan frame nya, saya tidak bisa pake frame kacamata yang hanya setengah saja bingkainya yang saat ini sedang trend. Saya harus pake bingkai yang full mengelilingi lensa. Selain itu lensa yang tebal mengakibatkan selalu melebihi tebalnya bingkai. Jadi kalo dilihat dari sisi samping pasti keliatan kalo lensa nya tebal. Saya tidak pernah punya frame (bingkai) kacamata yang sama dengan tebalnya lensa, selalu lensa lebih tebal dari bingkai. Selain itu saya tidak bisa menggunakan sun-glasses kecuali dengan menggunakan soft-lens. Karena sun-glasses hanya bisa sampai minus 6. Minus yang lebih dari itu tidak bisa diakomodir oleh sun-glasses.

Saya sih ga merasa dengan berkacamata penampilan saya jadi jelek, toh dengan kacamata saya jadi “sedikit” “terlihat” pintar (padahal otaknya cabul) :D Saya masih pede dengan kacamata saya yang tebal. Tapi yang saya sedih karena saya ga bisa beraktivitas seperti apa yang saya inginkan. Bahkan cita-cita saya sewaktu kecil jadi pemain sepak bola harus saya kuburkan sejak awal. Selain berkacamata saya juga berbadan kecil dan kurus sehingga memang tidak bisa jadi olahragawan :(

Masih ga percaya kalo minus saya tinggi?? liat aja foto berikut ini …

minus
Halah bilang aja mau narsis lagi heheheh  :)

 

MIMPI SAYA UNTUK LASIK

Saya lupa tahun berapa ada teknologi LASIK masuk Indonesia, yang jelas begitu tau Lasik rasanya pengen banget di Lasik. Ternyata harganya mahal banget. Selain itu minus mata saya belum berhenti masih nambah terus. Dari informasi/bacaan yang saya pelajari katanya belum bisa di LASIK. Udah gitu masih banyak orang yang belum yakin dengan teknologi LASIK. Saya pribadi juga masih ragu, apalagi teknologi ini kan masih baru, kita belum tau efek samping, efek depan dan efek belakangnya :)

Tapi yang paling krusial dalam menentukan saya akan LASIK atau tidak adalah masalah DUIT :) Karena MUAHAL banget buat saya dan saya tidak punya uang yang berlebih, maka untuk itu saya mulai menabung untuk bisa LASIK. Dengan harapan jika nanti rejeki sudah terkumpul saya ingin di LASIK dan terbebas dari kacamata. Selama menunggu tabungan saya cukup, saya pelajari dulu pengalaman orang-orang yang sudah menjalani LASIK. Sehingga saya punya informasi yang cukup dan makin yakin untuk di LASIK.

Artikel tentang pengalaman orang lain yang sudah menjalani Lasik yang saya jadikan referensi diantaranya adalah:
https://matalasik.wordpress.com/2011/07/13/catatan-lasik/#more-3
http://www.ilmuterbang.com/blog-mainmenu-9-60730/blog-umum-mainmenu-82/745-pengalaman-menjalani-tindakan-lasik
Terimakasih saya ucapkan kepada para penulis blog tersebut yang bisa menjadi referensi saya dalam memutuskan untuk di LASIK.

 

BUKAN LASIK TAPI “PHACOEMULSIFICATION”

Desember 2014 saya merasa waktunya sudah tiba. Celengan saya sudah bisa dipecahin dan saya siap untuk di LASIK. Berbekal artikel di blog tentang pengalaman orang-orang yang sudah melakukan LASIK, juga browsing sana sini maka pilihan saya tetapkan untuk di LASIK di JAKARTA EYE CENTER (JEC). Selain itu saya tetapkan juga dokter mata yang saya pilih adalah Dr. Johan A. Hutauruk, SpM. Pemilihan ini saya lakukan hanya berdasarkan browsing saja, saya tidak memiliki referensi dari siapapun. Dari hasil penelusuran saya, sepertinya Dr. Johan ini cukup kooperatif dan komunikatif dengan pasiennya.

Tanggal 20 Desember 2014 saya menuju JEC cabang Kedoya, karena saya kos di Pejompongan jadi saya pikir lebih dekat dan gampang ke Kedoya. Seingat saya sebelumnya melalui telepon saya sudah booking untuk konsul dengan dr. Johan. Beliau ada di Kedoya setiap Senin dan Jumat jam 09.00-11.00 WIB. Saya datang ke JEC sendiri. DI JEC Kedoya saya diterima petugas receptionist untuk di data dan ditanya sudah janji dengan dokter siapa? Karena saya pasien baru maka sekaligus membuat kartu pasien JEC.

Dari situ saya di arahkan ke Lantai 3 (kalo gak salah) untuk tunggu giliran konsul ke dokter. Sebelum dipanggil untuk konsultasi dengan dokter saya dipanggil untuk periksa mata di ruang BDR (Basic Diagnostic Room). Selesai periksa di BDR saya kembali menunggu dipanggil untuk konsul dengan dr. Johan. Tidak lama kemudian saya dipanggil untuk konsultasi dengan dr. Johan.

Kesan saya pertama bertemu dr. Johan beliau ramah dan komunikatif dengan pasien. Setelah saya sampaikan maksud tujuan saya konsul yaitu untuk operasi LASIK, beliau langsung periksa mata saya. Dari hasil pemeriksaan beliau diketahui bahwa lensa mata saya sudah rusak dan keruh, dimana bagian tepi-tepinya itu sudah keruh berwarna keputihan. Saya diperlihatkan kondisi lensa mata saya di komputer hasil pemotretan dengan alat sambil dijelaskan dengan baik oleh dr. Johan. Saya kemudian disarankan untuk menjalani tindakan PHACOEMULSIFICATION dan bukan menjalani LASIK.

Waduh apa pula Phacoemulsification ini? saya sempat bingung. Penjelasan singkat dr. Johan tindakan Phacoemulsification ini adalah tindakan untuk mengganti lensa mata saya yang sudah rusak dengan lensa baru. Tindakan ini lazimnya dilakukan kepada mereka yang matanya Katarak. Sehingga bisa dibilang mata saya selama ini katarak. Dengan tindakan ini menurut dr. Johan selain saya bisa menghilangkan katarak juga bisa mengurangi minus di mata saya dengan menggunakan IOL Master. Dokter juga menjelaskan kemungkinan minusnya tidak bisa hilang sama sekali atau 0 (nol) dan sebagai kompensasinya mata saya akan ada plus nya.

Saya lumayan happy denger penjelasan ini artinya saya masih punya harapan tidak pakai kacamata lagi atau minimal minus saya jadi kecil :) saya diberi resep vitamin untuk diminum sambil sambil menunggu kapan saya akan menentukan waktu untuk di operasi phacoemulsification ini. Oh ya biaya tindakan Phacoemulsification ini adalah Rp. 13.750.000,00 / mata. Harganya lumayan yah … untuk tarif operasi di JEC selengkapnya bisa di cek di link ini http://jec.co.id/services/refractive-surgery-service/tarif-operasi-katarak

Untuk konsultasi pertama ini biaya yang saya keluarkan adalah sebesar:
- Konsul dokter dan periksa Rp. 430.000,00
- Vitamin saya tebus setengah saja Rp. 120.000,00
Total biaya yang saya keluarkan adalah Rp. 550.000,00

 

CARI TAU TENTANG “PHACOEMULSIFICATION”

Di rumah saya cari tau apa itu Phacoemulsification. Kok rasanya aneh di telinga saya yang sudah familiar dengan LASIK. Saya kunjungi laman website JEC tapi saya tidak temukan tentang Phacoemulsification ini (tepatnya saya yang salah mencarinya). Saya googling ga nemu, karena saya dengernya operasi ini adalah “Veco” jadi saya salah googling :) Akhirnya saya email saja pak dr. Johan, eh dibalas oleh beliau… beruntung sekali beliau mau melayani pasien di luar jam praktek dan tengah kesibukannya. Email saya di jawab oleh beliau yang mengkoreksi bukan Veco tapi Phaco. Plus saya diberikan link untuk cari tau tentang Phacoemulsification ini.

Email dari pak dr. Johan

Email dari pak dr. Johan

Dr. Johan ini memang sangat informatif, saya mengkonfirmasi untuk kedua kalinya melalui email terkait minus saya yang akan hilang dengan tindakan phaco ini dan berikut biaya nya, beliau masih berkenan menjawabnya.

Email dari dr. Johan yg ke 2

Email dari dr. Johan yg ke 2

Dari email dr. Johan tersebut saya jadi bisa browsing untuk cari tau apa itu Phacoemulsification. Penjelasan di wikipedia bahwa:

“Phacoemulsification refers to modern cataract surgery in which the eye‘s internal lens is emulsified with an ultrasonic handpiece and aspirated from the eye. Aspirated fluids are replaced with irrigation of balanced salt solution, thus maintaining the anterior chamber, as well as cooling the handpiece.

The term originated from phaco- (Greek phako-, comb. form of phakós, lentil; see lens) + emulsification.[1]

http://dictionary.reference.com/browse/Phacoemulsification

Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Phacoemulsification

Phacoemulsification

Phacoemulsification

Sementara setelah saya cari di laman JEC, maka diketahui bahwa:

“Teknologi fakoemulsifikasi sendiri kini telah disempurnakan dengan apa yang disebut Cold Phacoemulsification evolusi dari teknologi fakoemulsifikasi konvensional, dimana jarum gelombang ultrasonik tidak lagi menimbulkan panas yang dapat menyebabkan iritasi pada mata pasien dan sayatan juga sangat kecil sehingga pemulihan menjadi lebih cepat. Lalu apa yang menjadi kelebihan “Cold Phacoemulsification“? Prosedur katarak menjadi sangat efisien, cepat, dan menurunkan resiko terjadinya panas yang sering diakibatkan atau ditimbulkan oleh mesin-mesin katarak konvensional. Perlu diketahui apabila terjadi luka bakar, penyembuhan menjadi terhambat dan ada kemungkinan timbulnya silindris di kemudian hari. Luka pada mata pasien akan terbuka dan yang seharusnya tidak memerlukan jahitan menjadi harus dilakukan jahitan. Dengan Cold Phacoemulsification, sayatan hanya sebesar (1,8 – 2,0 mm), sehingga prosedur operasi tidak lagi memerlukan jahitan. Cold Phacoemulsification adalah teknologi yang sangat membantu para dokter melakukan tindakan secara tepat dan cermat, sehingga membuat waktu operasi menjadi lebih cepat dengan tingkat komplikasi yang sangat minimal. Prosedur pemasangan lensa tanam pengganti lensa katarak dimasukkan dengan cara dilipat.”

Sumber: http://jec.co.id/services/refractive-surgery-service/cataract/

Masih dari laman tersebut, diketahui pula bahwa gejala terjadinya Katarak adalah:
1. Penglihatan buram atau berkabut, bahkan sampai tidak bisa melihat
2. Peka terhadap sinar atau cahaya
3. Sering ganti kacamata, karena ukurannya mudah berubah
4. Pada keadaan terang, mata terasa silau
5.
Penglihatan diruang gelap lebih jelas dibandingkan di ruang terang.
6.
Kadang penglihatan pada suatu mata menjadi dua (ganda)

Pantas saja saya selama ini dari 6 gejala tersebut memang mengalami 4 hal diantaranya yaitu:
1. Peka terhadap sinar atau cahaya
2. Sering ganti kacamata, karena ukurannya mudah berubah
3. Pada keadaan terang, mata terasa silau
4. Penglihatan diruang gelap lebih jelas dibandingkan di ruang terang.

Sehingga dari sini saya semakin yakin bahwa saya memang memiliki masalah mata katarak yaitu lensa mata yang keruh. Padahal katarak itu biasanya menyerang orang yang sudah tua, tapi saya kok yang masih muda udah katarak ya? ternyata muda nya hanya “perasaan” saya saja hahahaha atau muda diluarnya, tapi didalamnya udah uzur :D

 

TIBA SAATNYA …

Setelah pertemuan pertama tanggal 20 Desember 2014 selanjutnya saya disibukkan dengan pengerjaan tesis saya untuk program Magister Manajemen di STIE Indonesia Banking School. Ternyata pengerjaan tesis ini memang menyita waktu, dan yang saya khawatirkan jika tindakan phaco dilakukan saat itu maka proses pemulihannya bisa membuat saya tidak mampu mengerjakan tugas dan beraktivitas dengan lancar dan akan mengganggu pengerjaan tesis saya. Sehingga jika tadinya saya rencanakan Januari atau Februari untuk jalani tindakan Phaco maka rencana itu saya geser menjadi setelah tesis saya selesai.

Untuk cerita saya tentang Indonesia Banking School silahkan klik disini.

Singkat cerita, Tesis saya selesai dan sidang di bulan Maret, dan saya lulus dengan nilai A (pamer dikit ah…) :) Akhirnya saya bulatkan tekad untuk langsung jalani tindakan Phaco setelah sidang. Saya hubungi pak dr. Johan via email dan utarakan maksud saya tersebut. Ternyata dr. Johan sepanjang April sering ke luar negeri, waduuhh. Sehingga sulit juga saya atur jadwalnya. Ya sudah saya atur jadwal melalui assisten dr. Johan yaitu mbak Igetha (Ige) untuk atur jadwal tindakan Phaco di bulan Mei saja.

Mbak Ige kemudian telepon saya untuk jadwalkan tindakan pada hari Selasa 5 Mei 2015. Sebelum hari-h suster Ige sampaikan kepada saya agar saya periksa darah rutin untuk mengetahui kondisi kesehatan saya (apakah ada gula, diabetes dan sejenisnya). Suster Ige sudah sarankan saya periksa di laboratorium di deket rumah saja, tidak perlu ke JEC. Saya ingin gampang maka saya pilih ke JEC Menteng, padahal di Cideng ada Prodia tapi saat itu akses ke Cideng macet. Ternyata cek lab di JEC itu mahal, biayanya sampai Rp. 860.00. Nyesel juga saya ga cek ke Prodia aja, tau gitu kan saya bisa hemat :( saya ga menuruti arahan suster Ige.

Untuk periksa lab ini biaya yang saya keluarkan adalah sebesar:
- Admin Pasien Rp. 50.000,00
- Paket cek Lab Rp. 810.000,00
Total biaya yang saya keluarkan adalah Rp. 860.000,00

Ya sudah lah, yang penting saya sehat dan bisa jalani tindakan phaco. Hari Kamis saya ke lab JEC untuk periksa lab, hasilnya sudah bisa keluar sabtu, karena Jumat libur, dan hasilnya pun katanya akan disampaikan langsung saja ke dokter jadi saya tidak perlu ambil. Hari Senin saya dikabari mba Ige bahwa hasil labnya ga ada masalah, saya bisa jalani tindakan Selasa besok pada jam 10 pagi. Wah senang rasanya mendapat kabar ini :)

Selasa 5 Mei 2015 saya cuti dari kantor. Saya sudah tidak sabar untuk jalani tindakan Phaco ini. Tadinya saya mau jalan sendiri kesana, tapi saya pikir lebih baik saya ditemani oleh seseorang takutnya nanti ada apa2. Maka saya ajak teman kantor saya, bangbro Sayuti. Kita pun meluncur ke JEC Menteng sekitar jam 9.00 dari Pejompongan. Sampai disana kami langsung daftar di pendaftaran lantai bawah, lalu di perintahkan langsung ke lantai 5 yaitu ruangan operasi.

Sebenarnya saya memang orangnya kalo kemana2 jarang mau ditemenin, termasuk ke Rumah Sakit sekalipun. Selama ini saya kalo sakit datang ke RS sendiri, bawa tas ransel, kalo hasil lab bilang kudu dirawat inap ya udah saya daftar sendiri, trus telpon orang rumah ga usah khawatir saya sudah di RS dan sudah dirawat inap hahahaa :D Saya lebih asyik aja rasanya kalo jalan sendiri. Apalagi saya kan single, jadi emang ga biasa kalo jalan pake ditemenin orang lain.

Tapi memang ternyata untuk jalani tindakan ini harus ada pendampingnya. Saya tidak diberitahu sebelumnya oleh siapapun di JEC. Tapi sewaktu daftar di lantai 5 untuk operasi saya ditanya didampingi siapa? dan agar yang mendampingi isi formulir dan tanda tangan. Wah untung aja saya ajak Sayuti teman saya dari kantor. Saya liat yang lain juga gitu sih, setiap pasien yang akan jalani tindakan tidak ada yang datang sendirian pasti didampingi keluarga nya. Saran saya: jika anda hidup sendiri atau suka sendirian kayak saya, untuk jalani tindakan phaco atau lasik di JEC carilah teman untuk dampingi, minimal yang bisa isi formulir dan tandatangan.

Di ruang tunggu lantai 5 itu saya menunggu bersama teman saya, kemudian saya dipanggil untuk masuk ruang pre-operasi. Masuk ruangan itu sandal harus di lepas di ruang tunggu. Kemudian saya dibawa keruang ganti baju, disitu saya ganti pakaian untuk operasi dan pakaian serta barang2 saya yang lain masuk di loker. Selesai ganti pakaian dan urusan di loker maka saya masuk ke ruang tunggu operasi. Disitu saya ditetesin obat tetes beberapa kali sambil nunggu ruang operasi dan dokternya siap. Sepertinya obat tetes yang diberikan itu semacam obat bius lokal, saya juga ga tau pasti sih (ga nanya-nanya).

 

TINDAKAN PHACO TAHAP-1

Akhirnya sekitar jam 11.30 an saya masuk ruangan operasi. Saya termasuk tipe orang pemberani di rumah sakit, karena saya familiar dengan kondisi rumah sakit sejak kecil. Saya dulu sering sakit-sakitan jadi ama Rumah Sakit itu udah biasa. Lihat dokter atau suster perawat itu saya sudah biasa. Tapi mulai deh masuk ruangan tindakan saya jadi deg degan. Padahal diruangan itu sudah disetel musik tapi saya tetap nervous :) Lagu “Lumpuhkanlah Ingatanku” dari Geisha dengan suara Momo yang merdu tidak bisa menghilangkan deg degan saya :) (dalem juga nih lagunya si perawat2 ini ;) ). Perawat diruangan ada 2 orang saya ga tau mereka perawat atau anastesi. Dokternya belum masuk ke ruangan. Saya didudukan dan kemudian tidur dengan posisi terlentang di kursi operasi yang telah disiapkan.

Foto saya ambil dari website JEC

Foto saya ambil dari website JEC

Sebelum dokter masuk para perawat menyiapkan saya, tangan kiri saya di jepit dengan alat yang terhubung ke monitor detak jantung. Kemudian kedua mata saya ditutup dengan penutup plastik yang nempel/lengket dengan mata, agar mata saya tetap melek/terbuka. Oh ya sesuai arahan dokter mata yang akan dioperasi terlebih dahulu adalah mata kiri, baru minggu depan adalah mata kanan. Dokter masuk ke ruangan, beliau sapa saya dan memberikan arahan agar saya berdoa agar operasi berjalan lancar. Beliau juga sampaikan operasi akan berlangsung selama 7 menit saja.

Penutup plastik tadi seperti plastik yang buram tidak terlalu jernih, tapi dokter bisa liat mata saya, hal ini terbukti dimana dia minta mata saya melotot dan bola mata diarahkan kebawah. Sementara sinar terang menyorot mata saya. Saya tidak merasakan apa-apa. Sewaktu plastik dibagian mata dibuka oleh dokter entah dengan apa (sepertinya disayat) saya tidak merasakan sakit atau nyeri. Tapi saya bisa rasakan sepertinya mata saya diairin, kemudian seperti agak tertekan di bola mata, agak pegel juga karena melek terus dan ada yg dikerjakan di mata saya. Jadi rasa nervous tapi campur ama penasaran.

Proses operasi Phaco (ilustrasi ini diambil dari internet)

Proses operasi Phaco (ilustrasi ini diambil dari internet)

Dr. Johan sangat komunikatif, setiap prosedur diucapkan dengan lantang sehingga saya tau apa yang sedang dikerjakan. Termasuk ketika lensa saya diganti dengan lensa baru, dokter Johan bilang: “yukk masuk lensa nya yuk”. Terus dimata saya seperti agak tertekan kemudian ada suara mesin berdenging sepertinya mengerjakan sesuatu :) wah pokoknya kalo yang takut ama tindakan operasi pasti takut deh. Walopun ga ada rasa sakit sama sekali. Tidak lama pak dokter bilang: “yak operasi selesai, cuma 6 menit”.

Buseee… cepet juga yah ternyata cuma 6 menit, tapi rasanya kayak puluhan menit :) Saya lega juga operasi sudah selesai. Saya masih merem takut melek. Kata perawatnya sambil nyopotin alat monitor jantung bilang: “Udah pak bangun, buka aja mata nya gapapa kok”. Saya takut-takut, takut perih atau gimana. Saya buka mata saya pelan-pelan dan woaaaa….. saya bisa langsung liat. Pandangan saya jadi jelas dan terang. Terutama mata kiri saya. Tapi kalo mata kiri saya tutup mata kanan saya tetap masih rabun jauh, karena kan belum di operasi. Saya senang bukan kepalang, masalahnya dengan mata kiri yg lensanya baru dan kanan masih minus -12.00 saya sudah bisa lihat yang jauh-jauh. Cuma kondisi abis operasi ini mata saya seperti mata kelilipan jadi saya masih suka keluar air mata .

Saya langsung dituntun ke ruang tunggu saat mau dioperasi tadi. Kursi tunggunya enak, nyaman buat tiduran, plus kita dikasih selimut karena ruangan nya dingin. Saya juga dikasih roti dan air minum. Diruangan itu saya menunggu sampai diijinkan pulang plus secara berkala saya ditetesin obat di mata. Sekitar 1 jam saya menunggu kemudian saya diijinkan pulang. Saya ke ruang ganti pakaian, kemudian setelah ganti pakaian saya ke meja di depan ruang ganti untuk diberi petunjuk oleh mbak perawatnya tentang obat yang saya harus pakai di rumah dan perawatan mata saya tersebut.

Operasi Tahap 1

Operasi Tahap 1

Mbak perawat memberikan 2 obat yaitu Levofloxasin (LFX) dan Polydex MD dengan petunjuk pemakaian sbb:
- Obat tetes mata dipakai begitu sampai di rumah.
- Ada 2 macam obat LFX MD dan Polydex MD.
- Obat diteteskan 6 kali sehari 1 tetes (bisa diatur tiap 2 jam-an) dan dipakai pada mata yang dioperasi saja.
- Khusus untuk LFX MD hari pertama operasi obat diteteskan setiap 1 jam sampai mau tidur malam.
- Sedangkan untuk Polydex MD dari hari pertama operasi sudah 6 kali sehari (setiap 2 jam-an).
- Karena ada 2 macam obat sebaiknya diberi jarak pemakaian minimal 5 menit.
- Bentuk tetes mata LFX MD dan Polydex MD adalah botol kecil yang bisa dibuka tutup, dan apabila masih tersisa setelah dibuka hanya bisa bertahan maksimal 48 jam (2 hari).

Selain petunjuk pemakaian obat tersebut diatas saya juga diberi petunjuk untuk perawatan di rumah:
- Mata yang dioperasi tidak boleh kena air selama 3 (tiga) hari.
- Semua kegiatan sehari-hari boleh dilakukan seperti biasa , tidak ada larangan apa-apa kecuali mata yang dioperasi tidak boleh terpukul/terbentur dan digosok-gosok.
- Mata yang dioperasi harus memakai pelindung (DOP) pada waktu tidur selama 1 (satu) minggu setelah dioperasi, termasuk tidur siang.
- Obat tetes mata dipakai sesuai dengan petunjuk dokter sebelumnya tangan dicuci terlebih dahulu dengan sabun dan dibilas sampai bersih.
- Hindari daerah berdebu dan hewan peliharaan selama 2 (dua) minggu.
- Bila ada obat minum, minumlah sesuai dengan petunjuk dokter.

Kemudian saya diberi penutup mata (DOP) dari bahan fiber plastik yang bolong-bolong dan juga plester. Gunanya untuk menutup mata saya ketika nanti tidur. Penutup mata tersebut saya gunakan selama seminggu. Mata kiri saya yang dioperasi tadi tidak boleh kena air selama 3 hari. Saya juga diberikan surat untuk kontrol besok hari jam 10.30 di JEC Menteng dengan dr. Sharita Siregar Sp.M. Setelah mendapat petunjuk dari Mbak perawat saya pun keluar menuju ruang tunggu lantai 5 dimana teman saya menunggu dan saya melakukan pembayaran di Kasir ditempat itu juga.

Biaya yang saya keluarkan untuk operasi pertama ini adalah:
- Admin Pasien Rp. 50,000
- Retinometri Rp. 120,000
- Non Con Robo Rp. 260,000
- Biometri Rp. 310,000
- Aspina Phaco Rp. 11,110,000
- Anastesi Lokal Rp. 240,000
- Dokter Rp. 2,400,000
- Materai Rp.6,000
Sehingga total keseluruhan saya bayar Rp. 14,496,000

 

HARI KE 1 SETELAH OPERASI

Setelah semua beres maka saya pulang ke kosan. Hari itu saya tidak masuk kantor karena sudah ijin. Tidak ada masalah yang berarti, semua petunjuk saya ikuti sesuai dengan arahan yang diberikan. Mau tidur saya tutup mata saya dengan penutup dan plester sesuai arahan (walo ternyata cara saya menutup dengan plester dibilang dokter berlebihan, alias ga perlu seperti foto dibawah ini :D )

satu mata

satu mata

Saya di rumah bisa beraktifitas walaupun pandangan agak aneh, karena mata kiri saya sudah bagus dan kanan nya masih minus. Kalo membaca dekat memang tidak terlalu masalah tapi membaca jauh saya jadi susah. Saya coba juga pake kacamata yang lama dengan lensa kiri yang dicopot, tapi malah jadi ga enak.

Kontrol pertama

Kontrol pertama

Hari rabu tanggal 6 Mei 2015 saya ke JEC Menteng untuk kontrol dengan dr. Sharita, saya dititipin oleh dr. Johan untuk cek/kontrol dengan dr. Sharita. Dr Sharita ini jauh lebih muda dari dr. Johan. Kalo saya duga sih usianya masih lebih tua saya. Dr. Sharita juga komunikatif dan hangat dengan pasiennya.

Dalam konsultasi ini saya sampaikan bahwa saya tidak ada masalah berarti hanya sedikit masih merasa seperti kes’sed (kering) saja di mata kiri. Diperiksa oleh bu dokter dan hasilnya tidak ada yang aneh menurut dokter Sharita. Dokter Sharita berikan saya obat lagi yaitu TGF-Cendo (30 tablet). Ini adalah vitamin mata yang sama dengan yang diberikan oleh dr Johan ketika saya pertama kali periksa di bulan Desember. Ini hanya vitamin mata biasa saja.

Dr. Sharita juga sempat menanyakan saya mata yang kanan masih mau dioperasi juga ga? saya jawab mau lah dok, masa cuma separo-separo :D Kata dokternya sebab ada yang udah jalanin yang sebelah trus kapok jadinya ga mau lagi. Saya bilang saya mau kok nerusin operasi mata kanan saya biar enak melihatnya. Trus saya ditanya kapan maunya? saya jawab terserah dokter Johan. Sesuai jadwal sih katanya minggu depan, ya sudah saya ikut saja. Kemudian saya disuruh untuk atur jadwal dengan suster Ige assisten dokter Johan.

Kontrol pertama ini berlangsung singkat saja, yang sedikit bikin saya bete untuk kontrol ketemu cuma sebentar aja ternyata harus bayar lagi, artinya ga termasuk paket dari operasi :( ya sudahlah …

Kontrol pertama ini saya keluar biaya sebagai berikut:
- adm pasien Rp. 50.000,00
- Biaya Apotik Rp. 240.000,00
- Dokter Rp. 220.000,00
Total biaya saya bayar Rp. 510.000,00

 

MASALAH DI HARI KE-2

Setelah kontrol pertama saya jalankan aktivitas seperti biasa, walaupun sedikit sulit. Lama-lama kepala saya pusing juga karena untuk melihat jadi ribet, mata kiri udah baru yang mata kanan masih minus. Tapi semua saya jalani biasa. Sampai kemudian esok paginya saya bangun, mata kiri saya merah dan gatal. Wah saya ngeri juga. Saya kasih obat tetes sesuai petunjuk, agak mendingan jadinya tapi tetep merah dan saya merasa gatal.

Tanggal 7 Mei 2015, saya akhirnya telp JEC Menteng, ternyata sulit membuat janjian dengan Dr. Johan. Beliau sudah penuh jadwal pasiennya bahkan dari petugas telepon saya di sarankan booking dari sejak seminggu sebelumnya. Buseee mau ketemu dokter aja susah amat ternyata. Udah gitu jadwal dokter Johan adanya di sore sampai malam. Welehhh… saya minta saran rekomendasi dan ganti ke dokter lain mereka ga berani kasih rekomendasi (ga boleh kasih rekomendasi). Akhirnya saya inget dengan dr. Sharita lagi, saya cari lewat telp JEC, dari Customer Service diberitahu bahwa dr. Sharita lagi praktek di JEC kedoya.

Saya pun meluncur ke JEC Kedoya, setelah melalui receptionist di depan maka saya diarahkan ke lantai 3 tempat praktek dokter Sharita. Sambil nunggu panggilan dokter saya dipanggil ke BDR untuk periksa kondisi mata. Setelah diperiksa saya nunggu lagi dipanggil dokter. Tidak lama saya dipanggil untuk bertemu dr. Sharita Siregar. Dalam ruangan dr Sharita kaget ketemu saya lagi. Dia tanya bapak kenapa? saya terangkan mata saya merah sejak bangun tidur tadi dan saya khawatir. Dr. Sharita kemudian memeriksa saya.

Dari hasil pemeriksaan beliau, tidak ada masalah di mata saya. Kondisi lensa yang baru di mata kiri saya juga bagus. Sehingga mata merah saya kemungkinan hanya karena menyesuaikan saja. TAPII… ada tapinya nih. Mata kiri saya dari hasil periksa di BDR ternyata tekanan bola matanya tinggi (yaitu 29) dimana hal itu tidak bagus. Untuk tekanan bola mata tinggi ibu dr. Sharita berikan resep obat yaitu AZOPT ED dan GLAOPLUS MD.
- Azopt ED dipake 3 kali sehari
- Glaoplus dipake 1 kali sehari malam saja mau tidur

Azopt

Azopt

Glaoplus

Glaoplus

Untuk periksa dadakan di JEC Kedoya ini biaya yang saya keluarkan adalah:
- Adm pasien Rp. 50.000,00
- Dokter Rp. 250.000,00 (ini yang saya bandingkan lebih mahal dari JEC Menteng yg Rp. 220.000,00 beda 30 ribu)
- Periksa awal Rp. 120.000,00
- Obat : Azopt Rp. 315.000,00 dan Glaoplus Rp. 145.000,00
Total saya keluar biaya lagi Rp. 880.000,00

(Kayaknya mata saya jadi sehat tapi gantian kepala saya yg sakit kalo nanti pas lihat tagihan kartu kredit saya :D )

Sepulang dari dokter mata saya berangsur angsur normal, demikian pula hari-hari berikutnya hingga menjelang operasi tahap 2 untuk mata kanan. Hanya saja makin hari makin tidak enak, karena beda penglihatan mata kanan dan kiri makin mengganggu. Selain itu kondisi mata kiri yang awalnya ketika baru dioperasi sangat tajam dalam melihat jauh, ternyata makin hari makin menurun. Saya sadari hal ini hari Jumat dan weekend ketika di rumah Depok. Karena ketika saya melihat dengan satu mata, mata kiri saja, kok tidak sejelas awal ketika baru operasi (Nanti akan saya jelaskan mengapa, setelah saya konsultasi dengan dr. Johan satu minggu setelah operasi tahap 2).

 

OPERASI TAHAP ke-2 (MATA KANAN) …

Setelah menunggu selama seminggu saya sudah makin tidak sabar untuk operasi mata kanan saya. Akhirnya tanggal 12 Mei 2015, hari Selasa pun tiba. Sebelumnya saya sudah bikin perjanjian untuk operasi tahap 2 ini sejak minggu lalu dengan mbak Ige. Seninnya saya juga ditelpon kembali untuk konfirmasi operasi. Untuk operasi ke 2 ini sudah tidak perlu periksa laboratorium lagi sebelum operasi.

Seperti halnya minggu lalu, saya minta ditemani oleh teman kantor saya bangbro Sayuti. Saya pergi sekitar jam 09.00 dari Kosan dan sampai di JEC Menteng kepagian karena jadwalnya jam 10.30. Tapi gapapalah kepagian dari pada malah nanti telat. Lagipula saya udah ga sabar untuk bisa melihat dengan jelas dengan dua mata saya ini.

Tahapan sebelum operasi masih sama seperti operasi tahap 1. Saya datang langsung ke lantai 5, kemudian lapor ke loket di lantai 5 itu. Trus tunggu di ruang tunggu sampai di panggil. Lumayan nunggu lama tapi saya kok merasa cepat yah, tau tau udah dipanggil aja. Simpan sandal/sepatu di rak ruang tunggu kemudian masuk ruangan ganti baju, simpan barang di Loker. Kemudian masuk dan duduk di ruangan pre-operasi. Disitu saya seperti yang operasi 1, duduk dan ditetesin obat dimata, entah obat apa yang jelas sambil menunggu ruang operasi disiapkan. Setelah menunggu lumayan lama, saya pun di bawa masuk ke ruang operasi (theather) 2. Tidak seperti operasi 1 yang ke ruangan operasi jalan kaki biasa maka kali ini saya diantar pake kursi roda. Ga tau juga alasannya apa? Apa karena saya operasi katarak jd dianggap tuir :D

Di dalam ruangan operasi 2 ini sama seperti minggu lalu, ada 2 orang wanita di dalam ruangan menyiapkan operasi untuk saya. Musik pun mengalun di dalam ruangan, mungkin untuk bikin saya rileks. Tapiii …. tetap saja walopun saya sudah alami operasi ini minggu lalu rasa nervous tidak bisa hilang. Sampe mbak perawatnya bilang bapak boleh nervous tapi nggak boleh tegang banget katanya. Lha bijimane :) boleh nervous tapi kagak boleh tegang??. Apa maksudnya ga boleh “tegang” yang lainnya? Wahhh si mbak ga jelas nih :))

Pak dr. Johan masuk ruangan, seperti biasa beliau sapa saya. Terus menyuruh saya berdoa. Seperti biasa nya beliau katakan operasi akan berlangsung maksimal 10 menit. Mulailah dengan cepat dr Johan lakukan operasi. Jantung saya masih berdegup degup :D walaopun ini udah kali kedua saya masih tetap nervous. Selama operasi pak dr Johan masih komunikatif, semua tahapan diomongin saya jadi bisa ikut nyimak. Apalagi waktu mau masuk lensa pak dr. Johan bilang: “yukkk masuk lensa lensa yukk!” hehehehe saya jadi kayak siap-siap karena tau mata saya akan terasa seperti tertekan. Operasi berlangsung sekitar 7 menit. Begitu selesai pak dr. Johan bilang: “Yak operasi kita sudah selesai. Sudah berhasil. Lensanya cakep banget sudah masuk. Operasi 7 menit”, saya pun menarik napas lega.

Saya masih separo lega, sebelum saya membuka mata saya yang kanan. Saya buka mata kiri saya dulu, baru saya buka mata yang kanan, penglihatan mata kanan saya langsung terang dan tajam. Tapi belum bisa dibuka lama-lama, sebab langsung keluar air mata (reaksinya seperti mata di colok, tapi ga sakit sih). Karena keluar air mata maka saya pejamkan lagi mata kanan saya. Kemudian keluar ruangan operasi (theather) 2 saya dibawa pake kursi roda lagi. Berasa aneh aja naik kursi roda ini :) Kemudian saya di dudukan di kursi tunggu, dikasih kue dan minum dan beberapa kali ditetesin obat. Saya coba membuka mata kanan saya, senang rasanya tanpa kacamata saya bisa baca tulisan yang cukup jauh :D Tapi saya belum bisa enjoy banget karena masih keluarin air mata, kayaknya selain karena dampak dari operasi air mata itu keluar karena saya juga lagi mikirin nanti bayar nya hahahahaha :D

Setelah ditetesin dan duduk agak tiduran di ruangan tunggu perawatan pasca operasi saya dibolehkan pulang. Seperti biasa saya ke ruang ganti pakaian, sebelum ganti pakaian saya sempatkan selfie hahahaha :D

Pasca Operasi Tahap 2

Pasca Operasi Tahap 2

Setelah ganti pakaian saya kembali ke meja di depan kamar ganti. Disitu saya diberi petunjuk dan obat semuanya persis sama dengan yang operasi tahap 1. Saya juga diberitahu untuk kembali lagi kontrol esok hari dengan dokter Sharita lagi. Setelah diberi obat dan petunjuk maka saya ke kasir untuk bayar operasi tahap 2 ini. Untuk biaya operasi tahap 2 ini perinciannya adalah sebagai berikut:
- Admin Pasien Rp. 50.000,00
- Aspina Phaco Rp. 11.110.000,00
- Anastesi Lokal Rp. 240.000,00
- Dokter Rp. 2.400.000,00
- Materai Rp. 6.000,00
Total semua yang saya bayar Rp. 13.806.000,00

Saya diberikan selembar kartu sebagai bukti jenis lensa yang ditanam di mata saya. Ternyata dari kartu tersebut saya tau lensanya buatan Carl Zeiss :) Saya jadi berasa kayak robot, dimata saya ditanam lensa buatan ;)

Kartu tanda bukti lensa yang ditanam

Kartu tanda bukti lensa yang ditanam

Sepulangnya dari JEC Menteng saya masih sempatkan diri untuk ke kantor dan melanjutkan pekerjaan. Tapi ternyata kondisi mata saya belum fit untuk dipakai bekerja. Mata saya ternyata berubah menjadi ada rabun dekat alias mata plus. Sehingga jika melihat dekat malah sulit. Terpaksa saya membaca dokumen kertasnya saya jauhkan :) Saya berasa semakin tua aja :D Trus yang mengganggu juga adalah mata saya jadi seperti berkedut-kedut ketika dipaksa buat baca. Karena saya merasa belum fit maka saya putuskan untuk pulang saja, saya khawatir mata saya belum fit betul untuk beraktivitas. Saya pun ijin pulang untuk istirahat.

 

KONTROL PASCA OPERASI TAHAP-2

Esoknya tanggal 13 Mei 2015, sekitar pukul 10.30 saya kontrol lagi ke JEC Menteng. Saya bertemu dengan Dr. Sharita. Bu dokter senang karena setelah di periksa di BDR hasilnya tekanan bola matanya sudah tidak tinggi lagi. Dalam pertemuan ini saya keluhkan masalah mata kiri saya yang terus menurun, sehingga tidak seterang/sejelas ketika baru operasi minggu lalu. Bu dokter jelaskan bahwa mata saya ini belum stabil. Lensa nya masih menyesuaikan dimata, nanti minggu depan saya akan dijadwalkan kontrol dengan pak dr. Johan beliau akan periksa dan jelaskan semuanya.

Kemudian bu dokter kembali berikan saya resep obat. Obat yang diresepkan adalah Hyalub, Lapibal 250 dan Polydex ED. Hyalub dan Polydex ED ini adalah obat tetes yang digunakan jika obat Levofloxasin (LFX) dan Polydex MD yang sebelumnya dikasih sudah habis. Hyalub dan Polydex ED digunakan 3 kali sehari. Sedangkan Lapibal adalah tablet yang diminum 1 kali sehari.

Untuk kontrol kalo ini biaya yang saya keluarkan adalah:
- Adm pasien Rp. 50.000,00
- Dokter Rp. 220.000,00
- Obat Rp. 239.000,00
Sehingga total biaya yang saya bayar adalah Rp. 509.000,00

Pulang kontrol sampai beberapa hari kemudian mata saya baik-baik saja. Hingga akhirnya pada sekitar hari Jumat dan weekend mata kanan saya mulai menurun ketajamannya seperti mata kiri. Penglihatan mata saya untuk jauh sedikit menurun. Sehingga saya simpulkan saya masih ada sedikit rabun jauh (mata minus). Sedangkan untuk rabun dekat, kondisinya masih sama seperti saat baru jalani operasi alias masih sama, tidak bisa melihat terlalu dekat sehingga saya simpulkan mata saya juga sekarang plus (rabun dekat).

Saya jadi tidak sabar untuk bertemu dan konsultasi dengan dr. Johan yang dijadwalkan tanggal 19 Mei 2015 hari selasa jam 19.00 malam di JEC Menteng. Selama menunggu ini rasanya kurang enak, sebab pandangan jauh saya mulai berkurang ketajamannya hanya untuk baca dekat saja saya tidak terlalu masalah. Oh ya rabun dekat ini adalah pengalaman baru buat saya, sebab saya sebelumnya tidak punya rabun dekat (plus). Saya baru tau kalo pas lagi makan, karena piringnya terlalu dekat ama mata saya, maka lauknya jadi burem huahahahaa :D saya baru ngeh kalo orang udah tua matanya plus tu gini rasanya :) Kualat deh….

 

KONTROL 1 MINGGU SETELAH OPERASI

Hari Selasa 19 Mei 2015, saya sudah tidak sabar ke JEC Menteng untuk konsultasi satu minggu pasca operasi tahap 2. Saya berangkat jam 18.00 dari kosan, agak degdegan juga karena ternyata macet. Sampe di JEC Menteng ternyata sedikit terlambat yaitu jam 19.05. Tapi saya tidak terlambat sekali karena ternyata masih antri. Setelah daftar di lantai dasar saya tau kalo saya masih harus tunggu. Saya diarahkan ke lantai 4 tempat ruangan dr. Johan. Sebelumnya saya di suruh ke ruangan BDR dulu untuk periksa.

Di ruangan BDR inilah saya tau kondisi mata saya terkini. Ternyata mata saya yang kiri ada minus 1.75 dan yang kanan minus 1.5 dan keduanya Plus 2.5. Inilah yang saya sudah perkirakan sebelumnya, bahwa minus saya tidak bisa hilang sepenuhnya, saya sudah pernah baca informasi seperti ini sebelumnya. Tapi yang saya heran kenapa plus nya gede banget. Hal ini yang saya ingin tanyakan ke dr. Johan.

Saya kemudian menunggu dipanggil untuk konsul dengan dokter Johan. Ada 2 pasien yang konsultasi (kalo nggak salah) sampe akhirnya saya dipanggil. Saya masuk ruangan dr. Johan dan langsung disapa dengan hangat oleh dokter Johan. Di dalam ruangan ada dr. Sharita juga (Saya sepertinya tau kenapa mereka bisa ada berdua diruangan ini, tapi ga usah dibahas ah ;) ). Saya langsung uraikan kondisi saya. Saya mengeluh mata saya yang masih ada minus lagi dan adanya plus dimata saya.

Dr. Johan periksa mata saya, secara fisik beliau bilang bagus. Kemudian dr. Sharita jelaskan kalo tempo hari mata saya yg kiri tekanan bola mata saya tinggi, namun sekarang untungnya sudah tidak tinggi lagi. Dr Johan kemudian jelaskan bahwa mata saya memang harus diatur antara minus dan plus nya, sebab lensa yang baru ditanam ini tidak bisa dibuat minus nol karena dampaknya plusnya akan tinggi, demikian pula plusnya tidak bisa dibuat nol karena minusnya akan besar. Jadi harus ada kompromi. Penjelasan singkatnya demikianlah. Mungkin saya tidak terlalu tepat menyimpulkannya.

Kemudian untuk kondisi mata saya selanjutnya masih harus dipantau kembali artinya tidak bisa ditetapkan bahwa kondisi ini sudah fixed. Artinya masih dilihat lagi perkembangannya, harapan dokter sih minusnya mengecil paling tidak minus 1, tapi saya kok pesimis ya. Minus yg sekarang ini masih ada di mata saya secara prinsip bisa saya terima kok. Saat ini sebenarnya saya bisa tanpa kacamata, karena untuk baca dekat saya tidak terlalu masalah saya masih bisa baca, sedangkan untuk jauh tidak terlalu seberat seperti sebelumnya waktu mata kiri -13.75/kanan -12.00. Saya diminta untuk kembali konsultasi lagi (yang katanya untuk) terakhir kali, ketika semua obat saya sudah habis. Dokter tidak beri obat lagi, nanti aja katanya, sekarang dikasih resep ukuran kacamata tapi disuruh beli lensa yang murah aja dulu buat sementara.

Kontrol seminggu pasca operasi ini saya keluar biaya sbb:
- Adm pasien Rp. 50.000,00
- Periksa BDR Rp. 105.000,00
- Dokter Rp. 280.000,00 (tarif nya beda lagi nih :D apa karena dokternya ada 2 (dua) di ruangan :D )
Total saya keluar Rp. 435.000,00

Pulang dari JEC saya langsung ke ITC Kuningan untuk beli lensa minus sementara. Saya merasa ga terlalu nyaman untuk melihat jauh walopun saya masih bisa lihat. Saya pengen penglihatan jauh saya bisa terang dan tajam. Jadi saya langsung cari lensa ah biar bisa ngeliatnya enak. Framenya pake yang lama aja, lensanya aja yang baru. Ketemu toko yang masih buka, karena saya datang udah jam 21.00. Saya pesen lensa di toko itu, baru tau juga kalo lensa kaca akan hilang di pasaran dan akan diganti dengan lensa plastik. Sehingga saya beli lensa plastik untuk kacamata saya sementara ini. Toko itu janji besok lensanya akan selesai. Esoknya pas jam makan siang kacamata saya ambil. Biayanya Rp. 150.000,00 Saya pun puas karena mata saya makin jelas lagi untuk melihat.

Dengan kacamata itu saya bisa melihat jauh, sedangkan untuk melihat dekat saya tidak dibantu dengan kacamata. Sampai akhirnya tanggal 10 Juni 2015 saya jadwalkan lagi untuk kontrol dengan dr. Johan.

 

KONTROL TGL 10 JUNI 2015 …

Setelah hampir sebulan obat yang diberikan mulai habis, terutama FLX dan PolydexED. Tinggal sisanya obat Cendo Hyalub dan PolydexMD untuk mata kiri. Kondisi mata kanan saya sudah tidak ada masalah, hanya saja mata saya yang kiri masih suka terasa ngeres (kesett). Padahal obat tetesnya tinggal Cendo Hyalub dan PolydexMD yang ditetesin 3 kali sehari. Tentu saja rasanya kurang untuk atasi mata saya yang terasa ngeres ini. Saya mencoba tanyakan hal ini melalui email ke Dr. Johan, sayangnya beliau tidak menjawab email saya ini. Saya jadi merasa Dr. Johan lebih proaktif ketika saya belum operasi tapi begitu sudah operasi pelayanan atau tingkat informatifnya jadi berkurang. Saya jadi kecewa :(

Tanggal 10 Juni 2015 jam 08.00 kurang dikit saya sudah di JEC Menteng, setelah sebelumnya saya membuat perjanjian melalui website. Saya langsung daftar dan diarahkan ke lantai 4 untuk periksa dulu di ruangan BDR. Di ruangan BDR saya dites kondisi matanya dan di tes baca. Saya merasa minus saya kok kayaknya jadi nambah lagi. Tapi saya tidak menanyakannya ke petugas periksa, nanti saja saya tanya ke dokternya pikir saya.

Saya dapat nomor urut 1 dengan dr. Johan. Setelah dari BDR maka saya menunggu di depan ruangan dokter Johan. Setelah menunggu, maka sekitar jam 09.15 saya dipanggil. Dr Johan seperti biasa menyambut saya dengan akrab. Setelah sedikit basa-basi pak dokter langsung periksa mata saya. Saya sampaikan keluhan mata saya yang kiri masih sering terasa kesset atau ngeres. Dokter resepkan obat tetes yang bisa digunakan setiap saat saya merasa mata saya tidak nyaman.

obat itu adalah Protagenta, yang diteteskan setiap saya merasa tidak nyaman.

Protagenta PolyvinylPyrrolidone

Protagenta PolyvinylPyrrolidone

Sewaktu saya tanyakan kondisi mata minus saya, dokter Johan hanya katakan bahwa mata saya masih berubah-ubah. Ada kecenderungan mata minus saya saat ini akan kembali sedikit bertambah. Tapi saya masih bisa baca tanpa kacamata, jadi dr. Johan tidak resepkan ukuran lensa yang baru. Beliau katakan bahwa mata saya masih menyesuaikan terus. Hal ini bisa terjadi karena bergantung dengan pola hidup dan pola makan seseorang sehingga minus saya bisa bertambah lagi, ada kemungkinan minus saya maksimal jadi -3.

Saya agak bete juga dengan penjelasan dr. Johan karena nyatanya mata saya belum bisa stabil, masih akan berubah lagi. dr. Johan sarankan saya abis lebaran atau kapan ada waktu untuk kembali lagi untuk memastikan ukuran mata apakah sudah stabil dan apakah sudah bisa dikasih resep ukuran mata yang pasti. Padahal sebelumnya Dr. Johan katakan pada saya sudah tidak perlu kembali lagi, nanti kembali lagi setahun yang akan datang. Ternyata karena mata saya belum bisa stabil ukurannya maka sebulan lagi disuruh balik. Bukan hanya masalah uang yang sudah saya keluarkan tapi waktu nya untuk mondar mandir ke JEC dan ketidakpastiannya bikin saya bertanya-tanya terus, kok jadi gini? Kok malah ga selesai selesai.

Buat saya masalahnya ada 2 hal. Mata kiri saya yang masih terasa ngeres dan minusnya yang masih akan naik lagi…

Kontrol tanggal 10 Juni 2015 ini, saya mengeluarkan biaya lagi sebesar:
- Administrasi Rp. 50.000,00
- Pemeriksaan Awal Rp. 105.000,00
- Konsultasi Dokter Rp. 280.000,00
- Obat Rp. 399.000,00
Total hari ini saya keluarkan biaya Rp. 834.000,00

Sampai tanggal 10 Juni ini saya sudah keluarkan biaya total Rp. 33.180.000,00 hanya untuk dokter, obat dan biaya RS (belum termasuk transport dll)

 

KESIMPULAN:

Jika lelah membaca artikel yang panjang ini maka saya coba buatkan poin penting yang bisa jadi kesimpulan:

Pertama, jika ingin memutuskan untuk di Lasik atau Phacoemulsification hal utama yang paling penting perlu dipersiapkan adalah budget atau anggaran atau dana. Sebab selain biaya operasi (yg utama/pokok)nya yang menurut saya cukup mahal biaya ikutan lainnya juga lumayan banyak. Harus diperhitungkan dan dialokasikan dengan cermat biayanya. Apalagi jika anda termasuk seperti saya yang anggarannya terbatas, bukan anggaran berlebih atau tidak punya masalah dengan biaya.

Kedua, mau jalanin Lasik atau Phacoemulsification butuh keberanian. Kita harus yakin dan punya keberanian untuk jalanin tindakan ini. Sebab biar bagaimanapun ini kan mata yang mau dioperasi. Jadi harus yakin dan percaya dulu ama dokternya. Sehingga waktu ngejalaninnya kita udah sreg/yakin.

Ketiga, jika anda memiliki minus yang tinggi maka sebaiknya jangan terlalu berharap minusnya itu akan hilang total. Bisa jadi minus itu akan nol, akan tetapi semua itu tergantung kondisi dari masing-masing pasien.

Keempat, poin-poin diatas bisa makin maksimal jika kita sebelum melakukan tindakan sudah pelajari Lasik atau Phacoemulsification secara maksimal. Dalam arti kita sudah mencari tau tentang Lasik atau Phacoemulsification melalui browsing di internet, baca, diskusi dengan orang yang sudah jalanin dlsb nya. Pokoknya intinya banyak cari tau.

Kelima, usahakan ada keluarga, kerabat atau teman yang mendampingi saat operasi. Jangan seperti saya yang ingin nya apa-apa sendiri. Walaupun sebenarnya kita jalan sendiri juga tidak masalah, karena berdasarkan pengalaman saya yang dibutuhkan RS sebelum operasi hanyalah mengisi form surat dan tandatangan dari pendamping saja.

 

Nah, bagi yang berminat untuk Lasik atau Phaco semoga tulisan ini bisa bermanfaat.
Nanti saya akan ceritakan lagi bagaimana perkembangan mata saya ini dalam cerita berikutnya DI SINI.

 

 

Foto di atas perahu

Trip ke Pulau Peucang Ujung Kulon

Awalnya …

Trip saya ke Pulau Peucang Ujung Kulon ini semuanya berawal dari sebuah twit di twitter. Saat itu @kurawa meretweet sebuah tweet dari @NikSukacita yang mempromosikan event trip ke pulau Peucang. Temanya saat itu sih “Backpacker Kartini” dan acara ini hanya diperuntukkan bagi para wanita.

Promo Pulau Peucang

Promo Pulau Peucang

Saya tertarik dengan trip ini, apalagi ke Pulau Peucang di Ujung Kulon saya belum pernah, tapi sayangnya acara ini khusus wanita saja. Ya udah iseng-iseng saya mention ke @NikSukacita saya bilang kurang lebih “cowok dibolehin ikut dong”. Saat itu aspirasi saya ditampung saja. Tapi pas tanggal 16 April 2015 saya dapat twit di mention ama @NikSukacita yang bilang “@HBaskoroA eh ini kemarin mau ikut Trip peuchang, nah hari ini diputuskan bisa tuh cowok ikut .. #FYI aja” Wah saya girang banget ternyata aspirasi saya diterima :D

Tapi sayangnya acara nya tanggal 24 April dan dikasih taunya tanggal 16 April, ya saya musti cek dulu dengan jadwal saya yang padat (#Belagu! #Sepa!!). Setelah saya pertimbangkan masak-masak maka saya putuskan ikut, dan pembayaran terakhir hari Senin tanggal 20 April 2015 sebesar Rp. 850.000,-

Setelah membayar saya di add ke group di Watsapp dan mendapat penjelasan untuk persiapan trip ke Pulau Peucang yang akan dilaksanakan tanggal 24-26 April 2015. Sedangkan untuk detail jadwalnya adalah sebagai berikut:

Jadwal Hari 1 : 24-25 April 2015
21.00 – 22. 00  Meeting Point
22.00 – 05.00  Perjalanan menuju SUMUR di Ujung Kulon
05.00 – 07.00  Sholat, Sarapan, persiapan menyebrang ke Pulau Peucang
07.00 – 09.30  Menuju Pulau Peucang
09.30 – 10.30  Tiba di P. Peucang (Pembagian Kamar)
10.30 – 13.00  Snorkeling & Makan siang
13.00 – 16.00  Tracking Tanjung Layar (Cibom Tanjung Layar)
16.00 – 17.30  Snorkeling Cibom
17.30 – 18.00  Sunset on boat mengelilingi P. Peucang
18.00 – 19.00  Mandi
19.00 – 20.00  Makan malam
20.00 – 22.00  Sharing, Door Prize, BBQ, Akustikan

Jadwal Hari 1 : 26 April 2016
05.30 – 06.00  Bangun pagi, Mandi
06.00 – 08.30  Tracking Karang Copong
08.30 – 10.00  Sarapan, Free time
10.00 – 12.00  Explore Cidaon, Snorkeling Cidaon
12.00 – 13.00  Makan Siang, Check Out
13.00 – 15.30  Kembali Ke Sumur
15.30 – 22.30  Perjalanan Ke Jakarta
22.30             Tiba di Jakarta

 

Meeting point

Hari H Jumat 24 April 2015 telah tiba. Meeting point acara ini sebenarnya adalah di Sevel Kebon Jeruk sebelahnya RCTI. Tapi karena banyak peserta yang dari arah selatan maka bus untuk trip di arahkan ke Plaza Semanggi dulu, baru ke Kebun Jeruk. Saya janjian dengan teman baru saya @NikSukacita di Plaza Semanggi sekitar jam 18.00. Rencananya kami mau makan malam dulu sekalian perkenalan pertama.

Pertemuan kita akhirnya berlangsung di Kopi Legit Cafe & Resto Plaza Semanggi, disana saya bertemu dengan sist Nik, yang ternyata ia aktif di IDC (www.inidonesiaku.com). Pantes aja sist Nik ini aktif koordinasikan acara ini. Selain bertemu Nik saya dikenalin dengan teman2 lain yang akan ikut trip dan kumpul di Plaza Semanggi juga yaitu: sist Destar, Sist Jeanny dan Sist Deasy.

Kopi Legit Cafe & Resto Plaza Semanggi

Kopi Legit Cafe & Resto Plaza Semanggi

Semua teman-teman baru saya tersebut baik-baik dan langsung cepat akrab, sehingga saya juga ga canggung sebagai orang baru. Selesai makan malam maka kita mencari bus yang katanya sudah parkir di luar deket Plaza Semanggi. Saat mau ke Bus itu kita bertemu dengan teman peserta trip satu rombongan dengan kami ke Pulau Peucang yang lain, yaitu: Lulu, Wiwied, Dyandra dan Dion.

Lanjut saya dan sist Nik nyari bus nya, bus nya agak bermasalah juga sebab informasi pak supir dari handphone yg dihubungi dia bilang parkir busnya di depan ATMA JAYA. Setau saya mana bisa parkir di depan ATMA JAYA, itu kan jalan Jend Sudirman? Parkir disitu pasti bikin macet. Wah mungkin sebelah ATMA JAYA atau dibelakangnya. Dihubungi berkali-kali lewat telepon ga jelas juga lokasinya, ditanya warna bus nya dan nama busnya, dikasih tau warna ungu tapi kita cari ga ketemu. Ternyata bus itu diparkir dekat sekali dengan lokasi kami, yaitu di antara Plaza Semanggi dan ATMA JAYA, deket juga dengan antrian Taxi Blue Bird. Itu pun ternyata bus kami di “duduki” oleh rombongan lain yang mengira bus kami adalah bus mereka, karena mereka juga mau ke Sumur ;) Pantesan dari tadi dicari ga ada bus yang kosong.

Setelah itu sekitar jam 21.00 kami bergerak ke Sevel di Kebun Jeruk. Disana kami bertemu dengan peserta trip lainnya. Saya susah sebutkan mereka satu persatu, yang jelas mereka semua sangat ramah dan baik sehingga kami semua langsung cepat akrab.

Sevel Kebun Jeruk

Sevel Kebun Jeruk

 

Ke SUMUR – Banten

Setelah menunggu dan ngobrol lama di Sevel Kebun Jeruk maka sekitar jam 24.00 kami memulai perjalanan ke desa SUMUR di Ujung Kulon Banten. Perjalanannya mengambil rute mirip trip saya ke Sawarna. Dari kebun Jeruk kami masuk tol tapi pas masuk bantennya agak beda sedikit jalan yang diambil sampe ke Sumur nya. Ga tau saya bener atau nggak kalo jalan itu berbeda dengan ke Sawarna? sebab saya juga ga yakin sih, sewaktu ke Sawarna kan Mei tahun 2010, itu artinya 5 tahun yang lalu (time goes by…. ga terasa)

Untuk cerita trip saya ke Sawarna silahkan baca disini

Jalan menuju Sumur lepas dari Banten cukup mulus, hampir sudah beton semua. Sehingga selama perjalanan juga nyaman. Tapi tetap saja saya tidak bisa tidur. Melewati banten kami memasuki daerah-daerah pinggir pantai. salah satu yang saya ingat adalah SUKETI. Di daerah itu ternyata baru saja dilanda hujan besar, sehingga jalanan yang kami lewati di beberapa tempat banjir karena berada di pinggir laut juga. Wah kondisinya ngeri juga, takutnya kami ga bisa neruskan perjalanan dan stuck di tengah banjir kan repot. Apalagi itu sudah dinihari. Ternyata setelah diterabas pelan-pelan bus kami bisa melalui itu semua.

Kami sampai di Sumur sekitar pukul 04.30 atau saat subuh. Di Sumur kita transit dan beristirahat di rumah penduduk yang sekaligus ternyata pemilik kapal yang akan antar kita ke Pulau Peucang. Rumah bapak itu adalah rumah sederhana nelayan dengan satu kamar mandi dan ruangan sholat. Karena kamar mandi nya 1 maka kami pun harus bergantian. Di Sumur kami ada yang sholat dan melanjutkan tidur. Sayangnya cuaca tidak mendukung, seharusnya sesuai jadwal jam 07.00 kita berlayar ke Pulau Peucang tapi sekitar jam 06.00 hujan turun dengan derasnya. Ombak juga katanya tidak bersahabat, setelah koordinasi dengan Polisi Air mereka juga tidak rekomendasikan kami untuk berlayar. Weleh …

Risiko nya jika cuaca terus buruk maka kita tidak jadi ke Pulau Peucang, acara bisa batal dan kita kembali lagi ke Jakarta. Hal seperti ini yang sebenarnya harus kita pahami sebelum pergi ke Pulau Peucang. Bahwa cuaca saat ini tidak menentu sehingga apapun bisa terjadi. Saya sih udah sebodo amat dan pengen banget molor, maka saya putuskan untuk tidur saja, liat aja nanti gimana :)

Eh sekitar jam 09.00 kami semua dibangunkan, kita siap siap mau berlayar ke Pulau Peucang. Cuaca di luar sudah mulai cerah, ombak juga katanya sudah bisa diarungi. Maka jadilah kita berlayar ke Pulau Peucang.

 

Ke Pulau Peucang

Peta Pulau Peucang

Peta Pulau Peucang

Sumber: http://www.ujungkulon.org/tentang-tnuk/letak-dan-luas

Pelayaran kami ke Pulau Peucang dimulai dengan menaiki perahu kecil dari desa nelayan SUMUR ke kapal nelayan yang lebih besar ukurannya. Jaraknya sekitar 200 meter dari pantai. Kami dipindahkan ke kapal yang besar dalam 2 kali antaran dengan perahu. Sebelum berlayar saya sempatkan diri berpose di ruang kemudi kapal, dan masih bisa tersenyum, tidak mengetahui apa yang akan dihadapi di depan nanti :D

Nahkoda KW

Nahkoda KW

Selanjutnya kapal kami pun berlayar menuju Pulau Peucang.

Katanya tadi ombak sudah “mendingan”, ternyata mendingan versi nelayan setempat beda banget dengan pemahaman saya, yang belum pernah berlayar seumur-umur :D Cuaca masih tetap mendung dan berawan, sementara ombak bergelombang, lumayan tinggi buat saya, sekitar 1 – 2 meter lebih. Sehingga kapal kami lumayan terhempas hempas dilautan. Kalo sudah dalam kondisi di lautan lepas yang bergelombang gini saya baru merasa saya ini kecil dan ga ada apa2 nya di dunia ini #Lebay mode!

Headin' to Peucang

Headin’ to Peucang

Di awal perjalanan saya masih bisa ngobrol dan ketawa ketiwi ama teman teman dibagian geladak belakang kapal, ombak yang bergelombang saya anggap kora-kora di Dufan :) Tapi tidak lama teman saya Idha mulai mabok laut, dan akhirnya huekk … huekk… 2 kali. Saya masih tetap santai saja, dan tidak lama mulai tidur lagi di geladak kapal. Tapi saat saya tidur perut saya sakit dan mual. Kepala saya tidak pusing hanya perut saja mual, dan akhirnya … Jackpot!! saya pun muntah juga 2 kali :D

Saya salahnya sebelum pergi tidak makan jatah sarapan saya karena belum lapar, dan hanya makan Snickers saja. Selain itu saya tidak minum obat anti mabok. Jadinya ya gini deh, saya pikir saya kuat dan ga mabok, ternyata usia ga bisa bohong :D

Bangun tidur dan kena jackpot gitu saya putuskan untuk pindah ke dek  bagian depan kapal, dengan harapan hempasan ombak tidak terlalu keras, lagipula pulau peucang sudah mulai terlihat jadi asumsi saya sudah dekat kita dengan tujuan. Ternyata pindah ke dek depan tidak makin baik, debur ombak malah makin terasa. Kapal hempasan nya makin terasa di bagian depan. Saya udah males pindah ke belakang, ya sudah saya pasrah duduk di depan. Sementara bro Mark Christian malah asyik tiduran di dek depan berjemur matahari dan kena hempasan ombak.

Kita sampai di Pulau Peucang sekitar jam 12.30 perjalanan sekitar 3.5 jam. Lama perjalanan dalam keadaan normal sebenarnya hanya 2-2.5 jam tapi cuaca hari ini memang tidak mendukung. Sehingga kapal harus kerja keras melawan ombak. Selama perjalanan selain ombak yang kencang, juga cuaca yang cepat berubah, abis panas terik tiba-tiba hujan deras.

Sesampainya di pulau Peucang kami langsung disuguhi oleh pemandangan pasir putih yang menawan, airnya yang biru jernih nan mempesona. Plus satu lagi yang saya demen banget, ada wisatawan yang sudah tiba sebelumnya yang pria bule dan yang wanita orang Indonesia, si wanita pake bikini berenang di pantai. Nah ini saya demen banget, saya jadi kepikiran asyik juga tuh kalo bikin sessi foto-foto untuk swimsuit :)

Kapal bersandar di dermaga dan kami langsung siap-siap masuk ke kamar sesuai pembagian. Penginapan di Pulau Peucang itu adalah berupa bangunan Bungalow yang tiap bangunan terdiri dari banyak kamar. 1 Kamar sebenarnya untuk 2 orang tapi di trip ini 1 kamar diisi 4 orang :) Mungkin karena waktu tidurnya ga banyak sebenarnya jadi sayang kalo sewa kamar banyak-banyak toh ga ditidurin.

Another boat

Another boat

Di depan kamar penginapan kami ada heli pad juga lho. Saya jadi kepikir pulang ke Jakarta kalo naik Helikopter kena berapa ya? terima bayar pake kartu kredit ga ya? hehehee belagu banget abis muntah mabok laut jd kapok pengen pulangnya terbang :)

Helikopternya horang kayah :))

Helikopternya horang kayah :))

 

Di Pulau Peucang

Tiba di pulau Peucang masuk kamar, kita kumpul sebentar di teras. Penyelenggara usulkan ada perubahan jadwal sedikit. Jadi hari ini karena sampe di Pulau Peucang sudah hampir jam 13.00 maka acaranya ada yang bergeser. Harusnya ke Tanjung layar dan snorkeling di Cibom, dirubah menjadi besok. Sementara sore ini snorkeling di deket Pulau Peucang saja trus pulang istirahat dan makan malam. Saya sebagai peserta yang tidak minat snorkeling dan males capek-capekan ya setuju ajah :)

Kita akhirnya makan siang di kapal. Kita tinggalkan dermaga Pulau Peucang untuk menuju entah ke daerah mana, sebab disana katanya pada mau snorkeling sampe sore.

Sambil di perjalanan menuju area snorkeling kita makan siang. Makan siang kita jadi terlambat karena memang sampainya kami di Pulau Peucang juga terlambat.

Teman-teman IDC Trip Pulau Peucang

Teman-teman IDC Trip Pulau Peucang

Selesai makan, kita pun tiba di lokasi snorkeling. Kalo sudah sampai disini wah pada happy deh semua, nyebur!! Sementara saya tetap tidak berminat untuk nyebur. Lebih enak maenan kamera aja alias jadi tukang potret. Ekspektasi saya memang harapannya dapat view bagus buat motret, yang sayangnya sampe saat ini belum terlalu dapat karena dari tadi cuacanya tidak cerah. Yah tapi kalo buat jepret jepret biasa aja boleh lah … :)

Di lokasi snorkeling tersebut lumayan lama, sekitar 1.5 jam. Temen-temen asyik menjelajahi area tersebut, ada juga yang menembak ikan atau berburu ikan seperti bro Ryan. Kemudian awan kembali terlihat mendung, lagipula waktu sudah semakin sore. Kita kembali ke pulau peucang untuk istirahat. Saya sampai pulau langsung masuk kamar, mandi dan rebahan. Sementara teman2 yang lain masih pada belum puas main di pantai pulau peucang… saya ga mood main di pantai sebab cuacanya mendung ga bagus buat motret, udah gitu saya ga ajak model-model swimsuit yang bisa bikin saya semangat memotret ;) plus saya udah capek juga abis dapet jackpot dua kali tadi :) I guess I am too old for this …

Sekitar jam 19.30 kita pun siap-siap makan malam. Makan malam kita ga dipenginapan, akan tetapi di kapal yang sandar di dermaga Pulau Peucang. Yang masak crew kapal anak buah nya Nahkoda, si bapak Nahkoda pun katanya bisa masak lho. Masakan nya tentu saja kebanyakan produk dari laut.

Selesai makan malam, sekitar jam 20.30 kita pun melanjutkan dengan acara games yang dipandu bung Akri. Saya patut acungin jempol buat bung Akri yang masih tetap semangat untuk bikin acara games dan bagi-bagi door price. Sebagian peserta Trip banyak yang K.O udah masuk kamar masing-masing. Sementara yang masih kuat maka ikutan di games tersebut. Saya juga sebenarnya udah ngantuk, tapi saya bela-belain ikutan games sampe selesai kira-kira jam 21.30 malam. Setelah itu saya masuk kamar dan bablas sampe pagi. Sementara saya dengar teman-teman yang lain ada yang main kartu sampai larut malam.

 

Pagi di Pulau Peucang

Pagi-pagi sekali saya sudah dibangunkan sist Nik. Dia mau lari pagi katanya di pantai. Sementara saya juga mau ambil foto di pantai, maka saya pun cuci muka sebentar trus langsung ke pantai. Lagi-lagi cuaca di pantai tidak mendukung, agak mendung atau memang mataharinya tidak terlalu keluar.

Satu lagi kebodohan saya, tadi malam saya langsung tinggal tidur. Akibatnya baterai di kamera saya sudah drop banget. Saya bodoh banget! Terpaksa saya pulang ke penginapan dan tinggalkan kamera disana, lalu kemudian memotret di pantai lagi tapi dengan kamera hp android alcatel saya. yah hasilnya ga semaksimal kamera SLR Nikon yang saya bawa, tapi lumayan lah daripada ga ada :)

Pagi itu seperti saya duga sebelumnya banyak yang belum bangun. Sehingga acara tracking sesuai rencana ke Karang Copong (atau kemana gitu) yang masuk nya lewat hutan di Pulau Peucang akhirnya dibatalkan. Saya sih seneng-seneng aja :D Secara saya juga males banget jalan-jalan masuk hutan, buat saya lebih enak maen di pantai liat amoy amoy pake baju pantai ;)

Selesai berkelana di pantai kita pun sarapan di kapal lagi. Sarapan sekitar pukul 07.00 saya termasuk yang duluan hadir hahahaha….

Narsis Pagi Hari

Narsis Pagi Hari

Saya pagi itu dapat rejeki, mau naik kapal saya harus melewati kapal lain yang diparkir berjejer. Saat saya mau naik kapal, ada gadis amoy yang mau turun dari kapal, cantik juga sayang saya ga sempat moto dia. Dia takut kapalnya kan goyang goyang terus, eh sambil ancang2 mau turun dia kasih tangannya minta dipegangin saya. Ya udah rejeki lah buat saya :D Mana pak Nahkoda senyam senyum lagi, pas tuh cewe udah turun saya naik kapal, nahkoda ngeledekin “dapet rejeki nih ye” :D “Bagi dong bekas tangannya” kata si Nahkoda, saya kasih aja tangan saya yg bekas megang cewe tadi, SRIMULAT benerrr!! :D

Pose @Peucang

Pose @Peucang

Selesai sarapan kami melanjutkan acara ke Tanjung Layar. Disana rencananya akan melihat penjara peninggalan Belanda, Mercusuar, dan tebing. Saya sendiri tidak berminat tracking karena saya juga udah ngukur kekuatan, saya udah lama ga olah raga lagi. Saya khawatir nanti malah bikin masalah. Jadi mendingan di kapal aja saya terusin tidur saya :) Kesannya mungkin ga seru buat yang baca, tapi buat saya sih seru-seru aja hehehee… yang penting saya udah tau Pulau Peucang, saya juga udah liat Tanjung Layar. Jadi saya isi waktu saya di kapal sambil tidur atau ngobrol dengan Nahkoda dan peserta lain yang ga ikut juga.

Stranded

Stranded

Selain itu kamera saya kan di charge di penginapan, sehingga saya ga bawa kamera SLR saya, jadi percuma juga tracking kalo ga bawa kamera. Mending istirahat ajalah. Cuaca juga masih berubah-ubah, berangkat mendung, sampe tanjung layar terang, pas mau snorkeling masih terang terus mendadak mendung dan hujan.

Fotografer juga perlu narsis

Fotografer juga perlu narsis

Sekitar jam 11.00 kami menuju lokasi snorkeling di deket pulau Peucang entah namanya apa. Saya pegang kamera sist Ina yang ternyata sama persis dengan kamera yang saya bawa merek Nikon juga. Semua menikmati Snorkeling disana sementara saya asyik memotret mereka yang Snorkeling. Lumayan juga acara snorkeling sampai jam 12.30 sayangnya foto selama kegiatan ini masih di kamera sist Ina saya belum peroleh sampe artikel ini dibuat. Kami kembali ke Pulau Peucang untuk check out.

Foto di atas perahu

Foto di atas perahu

Kita makan siang sambil menuju Pulau Peucang, plus kondisi juga hujan. Oh ya karena saya sendiri yang tidak basah, temen2 minta saya diceburin ke laut, saya tapi nawar untuk milih nyebur sendiri ajah di Dermaga Pulau Peucang ga usah diceburin deh. Lumayan memalukan juga udah lama ga kelelep, akhirnya di dermaga Pulau Peucang saya merasakan sedikit tenggelam sebelum ditolong bro Edward yang baik hati, tidak seperti yang lain tertawa di atas penderitaan saya :D

Tapi so far acaranya seru dan saya enjoy ikutan trip ini, apalagi saya boleh milih mau ikutan acara yang mana aja yang kira-kira saya bisa ikutin tanpa harus dipaksa :)

 

Pulang

Waktunya pulang tiba, sebenarnya masih betah di Peucang, apalagi saya belum maksimal dapat foto disini. Pasir putihnya dan airnya yang jernih biru bikin saya membayangkan bikin sessi foto swimsuit bawa cewe cewe model untuk foto disini. Menurut saya akomodasi di Pulau Peucang udah okay sih, penginapannya lumayan bagus. Masalahnya hanya di tempat transit di Sumur yang menurut saya belum nyaman. Coba ada tempat seperti penginapan atau dermaga yang mirip airport gitu wah pasti akan asyik. Saya pikir banyak keluarga yang minat pergi ke Pulau Peucang bawa anak-anaknya tanpa repot. Kalo kondisi dermaga Sumur  masih seperti sekarang susah juga, kurang nyaman. Katanya sih mau dibuat dermaga yang bagus di Sumur, semoga saja hal itu jadi kenyataan.

Fotografer pengen difotoin

Fotografer pengen difotoin

Sebelum pulang saya tidak lupa minum obat anti mabok, belajar dari pengalaman waktu berangkat. Pulangnya ga ada masalah yang berarti, selain ombaknya yang tidak besar saya juga tidur sampe Sumur :) Setibanya di sumur sekitar pukul 05.00 kita kembali transit di rumah pak Nahkoda. Sambil menunggu bus yang mengantar ke Jakarta para peserta mandi. Sementara saya nonton TV. Jam 18.00 saya sudah siap di bus dan jam 19.00 baru bus nya jalan ke Jakarta. Perjalanan pulang cukup lancar, saya sendiri  sempat tidur. Jam 24.00 kita sampai tol tangerang dan sekitar jam 01.00 pagi kita sampai di Kebun jeruk. Saya sendiri di drop depan Gedung DPR/MPR dan jalan kaki kekosan. Sampai di kosan sekitar Jam 02.0. Badan rasanya pegel banget tapi happy banget karena selain ketemu banyak teman baru juga udah ngerasain ke pulau Peucang di Ujung kulon.

Awesome experience…!!

Foto Bersama

Foto Bersama

 

General Review

Biaya:
Rp. 850.000,- per pax belum termasuk sewa alat snorkeling jika ingin snorkeling. Menurut saya harga segini cukup pantas lah. Untuk penginapan dan makan yang kita peroleh, saya pikir harga ini sudah cukup bagus. Ada sih yang offer harga lebih murah lagi tapi saya pikir bedanya tidak terlalu signifikan. Jangan-jangan fasilitasnya kurang.
Bahkan saya browsing ada paket yang lebih mahal lagi, tapi transit dari Sumurnya tetap sama, kalo buat saya untuk apa kalo sama. Persoalan utama dimata saya adalah kondisi di Sumur.

Fasilitas:
Fasilitas yang didapat peserta juga lumayan okay. Penginapan nya sudah standar yang terbaik di Pulau Peucang. Kapalnya juga lumayan bagus karena memang standar kapalnya seperti itu disana. Kalo kapal yang cepat jatuhnya lebih mahal. Makanannya juga enak-enak, cuma kalo yang ga suka seafood agak masalah juga. Minimal makan lalapan aja. Oh ya sambel nya katanya juga enak, saya sih ga doyan sambel, jadi cuma bisa bilang cerita dari temen yang makan.
Fasilitas yang jadi masalah hanya fasilitas transit di Sumur yang menggunakan fasilitas rumah penduduk. Saya pikir kalo dibuatkan fasilitas penginapan yang nyaman untuk antisipasi wisatawan yang gagal berangkat atau istirahat sejenak dan juga dermaga yang bagus maka hal ini akan baik sekali. Kalo melihat kondisi yg sekarang saya sih bisa nyemplung ke pantai naik ke perahu di Sumur, tapi kalo ibu saya yang kesana kayaknya jangan harap deh :D liat pantainya yang kotor bisa jadi ibu saya minta pulang lagi ke Jakarta :)

Acara:
Acara secara keseluruhan sudah bagus dan seru. Asyik semua yang ikut, panitia perlu diacungi jempol untuk usahanya membangun acara agar hidup. Masalahnya peserta nya beda-beda usia dan latar belakang jadi antusiasme dan keinginannya juga beda :)
Hanya saja sedikit yang kurang adalah masalah kepatuhan pada jadwal. Jika pada saat berangkat ke Pulau Peucang terlambat karena faktor cuaca itu bisa ditolerir. Tapi ketika pulang ke Jakarta sewaktu di Sumur kita molor dari jadwal yang ada. jika kita mau ikutin jadwal yang sudah diatur sebelumnya sebagai berikut:

13.00 – 15.30  Kembali Ke Sumur
15.30 – 22.30  Perjalanan Ke Jakarta
22.30             Tiba di Jakarta

Sebenarnya bisa saja. Sayangnya panitia terlalu lama kasih toleransi sejak di Pulau Peucang. Sehingga sampai di Sumur pun terlambat. Parahnya lagi di Sumur jam 18.00 sebenarnya sudah bisa jalan pulang ke Jakarta. Tapi ternyata kami baru jalan jam 19.00 Jauh kan dari jadwal yang jam 15.30 harusnya sudah jalan dari Sumur. Mungkin karena nunggu teman2 yang mandi di Sumur dimana kamar mandi nya cuma satu. Cuma kalo saya sih udah ga mandi lagi sekalian saja pas sampe Jakarta baru mandi. Akibatnya bukan jam 22.30 sampe Jakarta tapi saya sampe Kosan jam 01.30 dini hari. Mungkin teman yang lain tidak ada masalah paginya tidak perlu ngantor, tapi saya senin paginya tetap ngantor hehehehe Sampe kosan langsung mandi trus tidur :)

Tips:

  • Buat yang ekspektasinya motret dan menikmati pantai yang indah, sebaiknya pilih waktu yang tepat agar cuaca mendukung.
  • Yang fisiknya ga sporty alias jarang olah raga seperti saya jangan banyak ikut aktivitas outdoor daripada nanti nyusahin :D
  • Buat orang yang mencari pantai tapi ga biasa berlayar ngarungi laut, ga usah milih lokasi yang mesti nyebrang ke pulau. Pilih aja yang seperti Sawarna, atau pantai Uluwatu atau pantai Kuta sekalian. Pokoknya ga usah cari yang kudu berlayar.
  • Buat yang makannya dan kalo jalan milih-milih dan kudu bersih seperti ibu saya, maka saran saya jangan pilih trip model begini. Pilih lah trip yang nyaman seperti misalnya ke Bali sekalian dan sejenisnya saja :) karena trip ini cocok untuk para taveler/petualang, bukan untuk tipe wisatawan rumahan kayak ibu saya :) kalo saya sih bisa masuk kemana saja, cuma preferensi saya juga yg “enak-enak” sih hehehehe.

Skor:
Saya kasih nilai 8/10 secara keseluruhan asyik dan bagus. Cuma masalah infrastruktur di Sumur yang diluar kemampuan panitia, itu PR buat pemerintah daerah untuk kembangkan wilayah itu.

 

Terakhir credit goes to sist Nik Sukacita (www.niksukacita.com)  yang sudah mengijinkan saya untuk ikut dalam trip ini. Terimakasih banyak dan sampai jumpa lagi di trip lainnya :D

 

BAS

No. Seri TV Panasonic Viera

TV Panasonic Viera Plasma Yang Mengecewakan…

Keluarga saya itu termasuk penggemar fanatik produk elektronik buatan PANASONIC. Dulu produk Panasonic di Indonesia dikenal dengan produk National Panasonic buatan PT National Gobel. Di rumah semua produk National itu hampir semuanya ada, mulai dari Lemari Es, Rice Cooker, Pompa Air, Mesin Cuci, Kipas Angin, dan tentunya Televisi. Produk National Gobel itu dulu terkenal bagus dan bandel, makanya ayah saya selalu beli produk buatan National Gobel.

Saya inget dulu punya TV pertama kali itu merk National, ukuran 21 inch jenis nya QUINTRIX. TVnya kayak di dalam lemari dari kayu, kaki nya 4, speakernya di kanan kiri, trus kalo mau nonton pintu nya mesti digeser baru deh layarnya keliatan. Layarnya cembung, masih model tabung (tube) konde :D Jangan bicara remote TV yah! Jaman itu kalo ganti channel kita dorong-dorongan nyuruh yang bisa disuruh hahahaha

Jaman itu sekitar tahun 80-an TV itu udah bagus & keren banget. Punya TV itu udah gaya banget lah gimana gitu rasanya. Tapi jelang tahun 90an produk TV National mulai kalah pamor ama produk dari SONY. Apalagi bentuknya udah mulai keren-keren. Saya inget di tahun 90an itu juga ada TV merek DIGITECH NINJA yang sukses banget. Harganya murah dan bandel. Biasanya yang laku dibeli orang ukuran 14 Inch buat maen Nintendo hahahaha :)

TV Quintrix saya karena mulai ketinggalan jaman pernah suatu kali dibuat maenan pintunya ama Nissa anaknya Tante Annie & oom Boy. Mungkin dia heran kok TV ada pintunya ;) TV dia di rumah gak pake pintu untuk nutupin layar gini :) Sayangnya saya gak punya stok foto dari TV lama saya itu (saya masih cari). TV itu sekitar tahun 90an akhir mulai ga bisa bertahan, yang sering rusak Fly Back nya. Karena udah sering diservis akhirnya TV itu pensiun di Tahun 2000an (seinget saya). Trus digudangkan sampe akhirnya diangkut pemulung tahun 2000an akhir. Sedih juga kalo inget jasa TV itu.

Kemudian di tahun 2000 an munculah TV dengan layar datar, tapi masih pake teknologi tabung (tube) sebenarnya. Akibatnya TV masih besar dan makan tempat ke belakang. Bentuknya bener-bener kotak. Kami pun beli TV jenis ini sebagai ganti TV Quintrix tadi sekitar tahun 2001an dan kami beli TV flat screen dengan ukuran 21 Inch merek PANASONIC. Oh ya National Panasonic udah berubah jadi PANASONIC.

Sebenarnya saat era ini saudara dan teman2 sudah pada beli merek SONY. Tapi kami tetap bertahan, sebenarnya ibu yang bertahan, saya sih udah tergoda beli merek lain. Saya beli TV buat di kosan di sekitar tahun 2005/06 merek Samsung ukuran 20 inch kalo ga salah. Saya ingat TV Panasonic kebanggan ibu saya itu salah satu masalahnya, kalo dinyalain layarnya suka warna kuning kayak dikasih filter warna kuning, tapi kalo dimatiin trus dinyalain warnanya normal. Trus lama-lama TV ini kalo dinyalain gambarnya suka pepet ditengah kayak digencet dari atas dan bawah. Trus kita matiin dan nyalain lagi dia akan normal. Wah mulai aneh nih produk PANASONIC ini :(

 

PLASMA TV

Kemudian sekitar tahun 2007 ke atas seinget saya muncul TV Plasma. Ibu udah pengen banget punya Plasma ini trus disusul dengan teknologi LED TV. Teknologi plasma dan LED TV ini lebih revolusioner dari produk TV sebelumnya, karena sudah tidak pake tabung (tube) lagi. Sehingga layar jadi datar dan dimensi ruang ke belakang juga tidak memakan ruang alias lebih ramping dan tipis. Yang saya senang radiasi dari layar juga tidak ada, hal ini berbeda dengan layar tabung. Layar tabung mengeluarkan radiasi yang membuat mata bisa minus tinggi. Itulah sebabnya saya mungkin berminus tinggi, karena dulu nonton TV suka terlalu dekat ke layar :(

Nah ibu saya kembali lagi minta dibeliin TV Plasma yang mereknya Panasonic. Setelah liat iklannya di koran Kompas ibu saya pengen banget punya TV yang gede dan layarnya datar. Saya tau harga TV yang plasma atau LED ga murah saat itu. Akhirnya saya pikir ga ada salahnya saya beliin lah, pake kartu kredit gesek dulu :D Saya tapi ga sregg dengan merek TV pilihan ibu saya yaitu merk Panasonic lagi, sebab menurut saya kualitasnya makin kesini makin ga bagus. Selain itu produk lain juga sekarang ga kalah ama Panasonic. Merk seperti SHARP, SAMSUNG dan SONY tentunya itu kan merk yang menurut saya lebih unggul produknya.

Tapi saya akhirnya nyerah dengan pilihan ibu saya, soalnya udah fanatik ama Panasonic dan ingin menyenangkan ibu saya aja. Tanggal 15 September 2012 saya dan ibu saya pergi ke Margo City di Margonda Depok karena disitu ada outlet Electronic City (EC) yang paling dekat dengan rumah kita. Ibu di EC liat-liat produk Panasonic, sebab pilihannya tetap ama Panasonic. Ibu sepertinya udah mulai kepincut ama satu TV yang disuka, akhirnya pilihan ibu adalah TV Plasma Panasonic Viera seri TH-P42XT50G. Ukuran layarnya 42 Inch. Wah ibu saya seneng banget, sebab akan nonton TV dengan layar datar dan besar.

Bukti pembelian di Electronic City Margo City Depok

Bukti pembelian di Electronic City Margo City Depok

No. Seri TV Panasonic Viera

No. Seri TV Panasonic Viera

Harga TV itu Rp. 8.299.000,- sepertinya waktu itu ada diskon. Jadi harganya bisa dibawah 10 juta. Saya bayar pake cicilan BCA jadi bisa dicicil 12x :D Saya minta TV nya diantar ke rumah, jadi ada biaya antar. TV diantar ke rumah besoknya tanggal 16 September 2012. Saya pas dikantor dilaporin ibu saya kalo TV nya udah datang, ibu happy banget punya TV baru. TV ini pun masuk di kamar nya :D TV yang flat kotak warna abu-abu digeser ke kamar saya dan akhirnya dikasih ke adik saya

TV Panasonic Viera TX-P42XT50G

TV Panasonic Viera TX-P42XT50G

TV Panasonic Plasma itu tidak lama kemudian punya “adik” baru. Selang beberapa bulan kemudian ibu punya rejeki sendiri trus beli lagi LED TV merek Panasonic ukuran layarnya 32 inch kalo ga salah. Ibu beli yang baru dan kecilan ukurannya karena yang sebelumnya ukuran 42 inch terasa besar di kamar. Harga TV yang kecilan ini juga sudah lebih murah sekitar 3,5 juta kalo saya tidak salah. Belinya juga di tempat yang sama. TV yang baru ini datang langsung masuk kamar dan TV yang sebelumnya digeser keluar di ruang keluarga.

Selain itu kemudian saya tambah dengan langganan TV dari jaringan TELKOMVISION (yang hanya bertahan langganan sampai 2014 karena bermasalah juga). Ibu saya senang banget bisa nonton TV yang gambarnya bagus dan acaranya juga bagus-bagus dari TV berlangganan.

 

MASALAH PUN MUNCUL …

Sayangnya kesenangan ibu saya tidak berlangsung lama. Sekitar pertengahan 2014 muncul masalah di TV Plasma Panasonic Viera seri TH-P42XT50G 42 inch. TV ini jika sudah dicabut dari stop kontak listrik trus dicolokin lagi ga mau langsung nyala. Mesti kita tunggu lama, kalo udah lama kita tekan tombol ON nya di belakang TV baru nyala. Saya perhatikan kalo setiap kabel power TV dicabut dari stop kontak persoalan yang sama selalu muncul. Padahal kami selalu cabut semua perangkat listrik dari stop kontak kalo pergi meninggalkan rumah dan turun hujan disertai petir.

Daripada semakin parah maka saya minta ibu saya untuk TV nya diservis saja. Cuma karena repot kalo bawa TV nya ke Panasonic di daerah Dewi Sartika Cawang mending saya minta petugas servisnya yang datang ke rumah. Akhirnya setelah ditelepon ke service centernya mereka janjikan beberapa hari kedepan akan dikirim teknisi untuk perbaiki TV plasma Viera itu.

Tanggal 10 November 2014 dua petugas Teknisi dari Panasonic datang dan memeriksa. Saya di kantor jadi yang terima ibu saya. Dari hasil analisa mereka blok komponen TV di bagian power nya ada yang rusak. Alasannya: karena kabel TV sering dicopot dari stop kontak dan tegangan listrik dirumah saya sering naik turun. Saran teknisi blok komponen TV itu diganti dan kena biaya sekitar Rp. 1,6 juta kalo saya ga salah dan saya harus beli stabilizer.

Lembar form servis

Lembar form servis

Form Servis

Form servis

Saya yang disambungkan dengan teknisi servis melalui telpon oleh ibu saya coba menanyakan masalah kerusakan TV itu. Saya diskusikan perihal analisa teknisi yang bicarakan masalah cabut power dari stop kontak dan masalah tegangan yang naik turun itu. Kedua analisa itu saya pertanyakan kepada teknisi:
1. Kenapa jika TV tidak boleh sering dicabut dari stop kontak jika tidak digunakan dalam waktu lama akan tetapi di buku petunjuk manual justru berkata sebaliknya? itu sebabnya saya cabut TV saya jika saya pergi meninggalkan rumah dalam waktu lama dan saya cabut jika hujan petir.

Petunjuk di buku manual

Petunjuk di buku manual

Halaman buku manual

Halaman buku manual

2. Jika memang TV saya rusak di bagian powernya karena tegangan di rumah saya tidak stabil, lalu kenapa TV dan alat listrik yang lain masih normal ga kena masalah ini? Bahkan TV LED 42 inch merek Panasonic milik ibu saya yang juga tidak menggunakan stabilizer tidak mengalami masalah yang sama. Jika memang harus pake stabilizer hal ini tidak dijelaskan dari awal dalam buku petunjuk? atau bisa disampaikan oleh penjualnya di EC?

Jawaban dari teknisi saat itu sayangnya tidak dapat memuaskan buat saya.

 

KEKECEWAAN SAYA…

Saya kecewa sekali dengan Panasonic. Bukan masalah garansi karena saya tau waktu garansi sudah lewat. Tapi saya kecewa karena antara apa yang teknisi sampaikan dengan apa yang ditulis di buku manual berbeda. Masa saya ikuti buku manual malah dipandang sebagai sumber masalah kerusakan TV saya? Ya kalo gitu jangan di tulis untuk mencabut power dari steker dong. Tulis aja : TV agar selalu menancap ke stop kontak!

Petunjuk di buku manual

Petunjuk di buku manual

Trus tegangan listrik di rumah saya disalahin juga oleh teknisi, sehingga menyebabkan TV saya rusak. Kalo pun tegangan di rumah saya jelek kenapa alat listrik lain ga pernah ada masalah, bahkan TV merek Panasonic yang lain di kamar ibu saya baik-baik saja? trus kenapa juga rekomendasi untuk gunakan Stabilizer ga disampaikan di buku manual sejak awal.

Lalu jika saya mau perbaiki biaya sparepartnya mahal sekali buat saya. Harga Rp. 1,6 juta itu ga murah apalagi dibandingkan dengan harga TV nya sewaktu beli yang Rp. 8,299 juta. Sehingga dalam kunjungan itu si Teknisi cukup analisa kerusakan saja tanpa perbaiki dengan ganti sparepartnya. Saya putuskan ga usah diperbaiki dululah, toh masih bisa nyala. Walaupun sampai sekarang masih suka ga mau nyala, mesti ditunggu lama trus kita tekan tombol ON nya baru nyala setelah lama kita diamkan. Udah dibeliin stabilizer juga nggak ngefek karena mungkin udah terlanjur rusak di sistem powernya.

Mulai sejak kejadian itu ibu saya setuju untuk tidak usah fanatik pake produk PANASONIC lagi. Mulai saat itu semua produk yang mau dibeli akan dipelajari dan dipilih sesuai informasi yang kita peroleh, seperti misalnya kemaren beli AC akhirnya beli merek SHARP saja karena informasinya produk dan jenis itu bagus. Kalo ga ada kejadian ini mungkin ibu saya masih mau beli AC merek Panasonic lagi :( Rencananya nanti mau beli lemari es, gantiin lemari es Panasonic dirumah yg udah lama, ibu mau beli merek lain ga mau beli merek Panasonic lagi.

Kecewa rasanya jadi penggemar sejak lama ternyata produk TVnya seperti ini dan penjelasannya tidak memuaskan.

Saya sudah kapok pake produk PANASONIC… :(

 

 

photo taken from http://www.smube.com/2013/12/10/boyce-avenue-one-life/

Nonton Konser Boyce Avenue di Singapore – Part 2

Setelah membaca bagaimana persiapan saya dan keberangkatan saya dari Indonesia untuk nonton konser Boyce Avenue di Singapore, maka saya akan lanjutkan untuk bagian review konser nya dan cerita lanjutannya …

 

REVIEW KONSERNYA

Selesai makan di McD saya kembali ke antrian di depan Hard Rock Resto dan hotel. Antrian tidak terlalu panjang jika dibandingkan dengan konser di Jakarta. Selain itu antrian hanya 2 jalur seingat saya, sementara kalo konser di Jakarta bisa ber jalur-jalur udah gitu ga teratur ga karuan. Saya duduk di barisan antrian lumayan juga sambil cuci mata liat amoy-amoy Singapore favorit saya ;)

Antri duduk lesehan

Antri duduk lesehan

 

Untuk Artikel Nonton Konser Boyce Avenue di Singapore Part 1 silahkan klik disini

Sekitar jam 18.30 antrian mulai bergerak untuk maju, karena tiket sudah mulai diperiksa dan kita pun sudah bisa memasuki venue. Di gate masuk venue isi tas saya diperiksa dan satu botol Pocari Sweat saya jadi korban :( terpaksa harus dibuang ke tong sampah ga boleh dibawa masuk.

Di dalam Venue ternyata tempatnya relatif kecil sekali. Mungkin besar venue nya sekitar 50 x 50 m, bahkan mungkin kurang. Penonton juga belum banyak saat saya masuk.

Pas jam 19.00 penonton sudah berangsur-angsur berdatangan, tapi tetep ga penuh-penuh amat. Saya lihat kondisi konser ini jadi inget Pensi (Pentas Seni) di Indonesia. Ama kemeriahan Pensi aja kayaknya konser Boyce Avenue ini kalah deh :( Yah abis Singapore penduduknya dikit kali, jadi untuk ukuran konser ini juga udah rame banget.

Oh ya saking lega dan lengang nya, di dalam venue ada stand yang jual makanan dan minuman, pantes aja saya ga boleh bawa dari luar :) Kayaknya saya baru kali ini liat ada stand jual makanan di dalam arena konsernya. Kalo stand makanan di luar arena konser saya sering liat.

Food & Drink inside the concert venue

Food & Beverages inside the concert venue

Lama-lama sambil nunggu konser dimulai penonton mulai berdatangan, venue akhirnya jadi lumayan penuh. Saya lihat sekeliling saya muda mudi berpasangan (cuma saya aja kayaknya yg paling tuir dan sendirian alias jones :D ). Ah tapi gapapa lah cuek aja, di Singapore negeri orang ga ada yang urusin mau lo tua kek, jones kek, semua have fun aja di crowd.

Gelang Konser

Gelang Konser

Cuma ini konser kok ga mulai-mulai ya? Kita disuguhi musik jedag jedug ala club dari sound system nya yang bagus, tapi kok ga ada tanda-tanda konser bakal dimulai. Apa mereka ga jadi konser karena penonton nya ga kuorum (emang rapat :D ) atau mereka masih nunggu penonton lain sampe venue nya penuh baru jalan (emangnya angkot :D ). Wah bete juga nih nunggu lama gini, konser ga dimulai-mulai, mana berdiri terus, yang bete karena yang sebelah-sebelah ama pasangannya atau minimal ama temen-temen. Wah saya chattingan aja lewat whats app ama sist Any. Sist Any kebetulan sekeluarga sakit jadi emang kebetulan juga saya ga nginep di apartemennya. Tapi sist Any walaupun sakit sangat baik ama saya, dia selalu memantau saya selama di SG, dia jadi mirip ibu buat saya , sementara ibu asli saya malah ga tau kalo saya ke Singapore hahahaha :D

Akhirnya sekitar pukul 21.00 waktu SG konser dibuka oleh Boyce Avenue, dengan lagunya “Speed Limit“. Sumpah saya ga tau lagu ini lagu apa :D Apakah lagu asli mereka atau lagu cover version dari lagi orang lain. Pokoknya selama lagu ini saya ikutan nyanyi-nyanyi ama goyang aja, sambil ga lupa ambil gambar. Selanjutnya dilanjutkan lagu “Teenage Dream” yang saya juga ga tau tapi semua lagu sepertinya saya kok familiar entah pernah denger dimana :D (maklum udah tuir)

Berikut adalah list lagu yang dibawakan mereka saat konser di Singap0re:

Boyce Avenue Concert List

Boyce Avenue Concert List

Sayangnya lagu-lagu cover yang Boyce Avenue biasanya nyanyikan kok ga ada yang dinyanyikan? Saya cuma kenal “Story of my Life” aja yg aslinya dari One Direction. Wah ternyata begitu saya pelajari sekembalinya ke Indonesia, ini adalah kunjungan kedua dari Boyce Avenue ke Singapore. Di kunjungan pertama mereka di tahun 2013 kalo ga salah, mereka udah nyanyikan semua itu lagu seperti Mirror kesukaan saya … huaaaaa :( Tapi gapapalah saya tetap happy kok :) (Ga jadi nangis deh)

Secara umum menurut saya penampilan mereka lumayan. Permainan musik mereka ga usah saya komentarin lah, selain suaranya bagus permainan musik mereka juga bagus menurut saya. Cuma untuk interaksi dengan penonton mereka masih seadanya belum punya pengalaman. Beda misalnya dengan dua konser yang saya tonton NKOTBSB di Ancol dan METALLICA di GBK. Dua grup musik beda aliran yang saya sebut ini udah pengalaman banget mengelola dan menghibur massa.

Boyce Avenue sebenarnya ga buruk-buruk amat dalam menjalin komunikasi dengan penonton, dia coba libatkan penonton untuk ikut nyanyi dan bertepuk tangan, mereka bagi penonton menjadi 2 bagian di kiri dan kanan untuk nyanyi atau tepuk tangan. Mereka juga menyapa penonton Singapore dengan basa basi ala mereka. Tapi emang beda rasanya dengan basa-basi nya NKOTB yang bisa bikin cewe-cewe penontonnya jejeritan histeris atau basa basi nya Metallica yang bikin satu GBK ikutan nyanyi dan bergemuruh metal dengan kompaknya, bikin bulu kuduk merinding :D Mungkin ini juga bukan salah Boyce Avenue, mungkin ini terjadi karena penontonnya Singapore emang cool, calm dan “santun” hahayy :D

Berikut ini adalah video penampilan mereka yang saya rekam pake Alcatel IdolX, mohon maaf kualitasnya ga oke, sbb saya juga baru pertama kali nyobain video nya, selama ini saya ga pernah bikin video di android saya ini ;) (Ga mau ngaku kalo udah dipake bikin video2 yg gimana gituh) :D

Video :

Konser hanya berlangsung selama 1.5 Jam, dimulai jam 9 malam dan berakhir jam 10.30. Saya kok merasa terlalu cepat yah? saya masih belum puas dengan konser mereka kok udah selesai aja :) Sempet sih ada jeda saat mereka menghilang di balik panggung, trus penonton teriak teriak “we want more… we want more… we want more…” dan mereka pun kembali untuk bawakan 3 lagu tambahan. (Sebuah drama konser yang sudah saya liat sejak tahun 90-an hahahaha)

Terlepas dari lagu tambahan itu saya merasa konser ini masih terlalu singkat, cuma 1,5 jam. Ga sebanding ama antri dan nunggu nya :) Ah sutralah, yang penting happy… Saya happy, penonton yang lain juga kayaknya happy :)

 

PULANG

Selesai konser saya bergegas untuk pulang, saya tidak tau apakah MRT masih ada sampe jam 11.00 malam seperti ini. Saya juga ga tau dimana kalo mau cari taxi dari lokasi saya. Ya udah saya ikutin aja orang-orang yang mengarah ke SkyTrain tujuan VIVO Mall. Ternyata antrian sudah panjang disana, tapi tetap tertib. Ga ada yang nyolong antrian, padahal kebanyakan remaja yang kalo di Indonesia susah diatur. Penjaga nya yang ngatur juga cuma sedikit karena sudah malam, tapi tetap saja mereka antri dengan tertib.

Saya akhirnya dapat giliran naik SkyTrain, ga lama kok nunggunya dan ga penuh sesak kayak di KRL Jabotabek atau busway. Penumpang yang ga keangkut sabar nunggu untuk SkyTrain berikutnya. Saya pun nyaman ke VIVO Mall. Sampai di VIVO Mall hampir semua toko sudah tutup, tapi kita bisa pake eskalator untuk turun ke MRT stationnya. Di MRT Station kereta nya sudah siap dan kosong juga. Saya bisa duduk nyaman sampe stasiun Farrer Park, stasiun dekat lokasi hostel saya. Aduh indah lah pokoknya malam ini saya pulang ke hostel dengan selamat, aman dan nyaman.

Sebelum ke hostel, saya mampir di pojokan jalan Serangon Road beli minuman buat bekal di hostel. Sampe hostel saya mandi, mayan ada air hangat nya juga batin saya. Trus ada wifi nya juga. Di lorong ujung deket toilet ada Personal Computer (PC) untuk akses internet. Ada dua cewe bule yang akses internet di situ. Badan mereka bongsor-bongsor dan lumayan cantik. Selesai mandi saya permisi lewat punggung nya mereka. Sebab jalanan lorong itu sempit trus kemakan PC dan badan bule yang gede kebayang dong. Saya aja lewat sampe ngecilin badan kayak kucing. Dia bilang “Sorry…” saya bilang “No problem…” basa basi busuk. Dalam hati “cakep juga lo le” :) Dikamar saya hanya sendiri dengan 8 tempat tidur, sambil ngayal kalo aja dua cewe bule diluar tadi mau masuk ke kamar ini, wah cakep yah…. dan saya pun terlelap dalam mimpi :)

Pagi saya setel weker di android untuk bangunin saya jam 5 waktu SG atau jam 6 waktu Indonesia Barat. Saya bangun langsung cuci muka trus meluncur ke Mustafa Center. Yup kalo ke Singapore ga mampir ke Mustafa trus ga beli Coklat buat ibu saya wah saya bisa durhaka :) Maka saya pun meluncur ke Musatafa, untuk yang belum tau Mustafa adalah toko supermaket serba ada yang buka 24 Jam, jadi sebenarnya saya bisa belanja kapan pun ga usah nunggu pagi hari jam 5 pagi kayak gini. Tapi saya sengaja pengen tidur dulu biar ga capek banget.

Untuk peta lokasi dan sedikit cerita tentang Mustafa Center bisa buka di sini

Belanja di Mustafa ini walo sudah tau apa yang dituju atau mau dibeli tetep aja ga bisa nutup mata liat yang lain. Sebab disana apa aja ada. Sayangnya saya ga nemu tali buat tas saya yang talinya putus di bandara changi pas datang ke SG kemaren. Ya udah lah saya beli coklat untuk oleh-oleh keluarga dan teman teman kantor. Lumayan juga pengalaman saya belanja subuh di Singapore :)

Tidak terasa udah jam 7 aja di SG. Waktu di negara ini menurut saya selain beda 1 jam lebih cepat juga bergerak lebih cepat kayaknya daripada di Jakarta hahahaha :D Saya pun bergegas siap-siap untuk rapihkan semua bawaan di hostel. Sekitar pukul 08.00 saya sudah siap check out. Tidak lupa saya kembalikan kartu akses ke front office, dan mereka kembalikan uang deposit saya 10 SGD. Mbak yang dari Indonesia tawarkan saya sarapan pagi, saya bilang terimakasih, saya mau buru-buru aja ke bandara. Sambil saya say good bye dan kapan-kapan kita ketemu lagi.

Nah waktu dari hotel mau ke Airport Changi, saya coba aplikasi Grab Taxi. Saya pengen tau kalo di Singapore apakah saya bisa gunakan. Ternyata aplikasinya jalan, hostel saya juga langsung ke detect dengan mudahnya. Taxinya juga langsung dapet ga pake lama. Wah saya happy banget, Grab Taxi emang memudahkan saya nih. Saya dapat Supir Mr. Chua Kwang Seng Edmund, he is really nice guy! Selama perjalanan dia ga pelit untuk ngobrol ama saya dan juga ramah. Dia bilang kalo saya pergi siangan dikit lagi maka mungkin saya akan kesulitan, karena hari ini (19 Feb) banyak yang udah ga masuk, saya aja cuma sampe jam 12.00. Dalam hati saya Alhamdulillah / Puji Tuhan saya rencanakan pulang pagi ini ternyata tepat. Oh ya di SG setiap taxi yang tergabung di Grab Taxi dikasih stiker hijau di kaca depannya, stiker berupa logo dan tulisan hijau Grab Taxi.

Taxi nya Mr. Chua ini ada kamera nya jadi selama perjalanan apa yang ada di jalan terekam di mobilnya. Tentu hanya sampai berapa jam saja, karena memori terbatas jadi akan tertimpa dengan data baru. Tapi saya pikir bagus juga kalo diterapin di Indonesia, lumayan buat bukti rekaman kalo ada kejadian tertentu. Orang Indonesia kan senengnya kalo udah salah masih ngotot tuh ampe uratnya keluar :D

Sampailah saya di Changi dan kemudian saya pulang ke Jakarta. Nothing special in Changi, seperti biasalah bagus semua :)

Cuma nanti sampai Jakarta saya ga langsung pulang karena saya pindah ke terminal 1 F untuk ke Lampung, saya mau merayakan Imlek dengan teman-teman saya di Lampung.

Sampai jumpa di cerita-cerita saya yang lainnya :) bye…..

 

 

sore di tepi pantai

Imlek di Lampung (Februari 2015)

Februari 2015 saya sangat beruntung sekali dapat merayakan Chinese New Year atau Imlek bersama keluarga besar sahabat saya di Lampung. Selain merayakan Imlek bersama keluarga besar sahabat saya tersebut, saya juga berkesempatan ke Pantai Sari Ringgung dan Pulau Pasir Timbul.

Keluarga Besar my best friend Felix

Keluarga Besar my best friend Felix

 

Ini foto-foto di pantai Sari Ringgung dan Pulau Pasir Timbul:

 

 

 

Boyce Avenue

Nonton Konser Boyce Avenue di Singapore – Part 1

Saya tuh dari dulu pengen banget nonton konser di Singapore. Selain negaranya tertib dan rapih saya yakin kalo nonton konser di Singapore pasti aman dan nyaman. Saya juga pengen nonton konser yang ga rame alias penuh sesak (crowded) banget. Saya pengen konser yang bisa dinikmati. Beda ama pengalaman nonton konser di Indonesia yang susah dinikmati, karena selain penuh/rame banget juga kadang suka ga nyaman.

Pucuk dicinta ulam tiba ketika saya mendapat kan informasi bahwa Boyce Avenue sebuah grup musik asal Amerika Serikat kabarnya akan konser di Singapore. Tepatnya mereka akan konser di Coliseum Hard Rock Hotel Resort World Sentosa tanggal 17 Februari 2015.

Boyce Avenue Concert Flyer

Boyce Avenue Concert Flyer

Saya suka lagu-lagunya Boyce Avenue dan tau mereka ketika browsing di Youtube. Jujur aja sebenarnya saya ga tau banyak juga tentang grup ini. Sampai pada suatu hari saya menemukan video mereka yang menyanyikan lagu Mirror nya Justin Timberlake, dan saya langsung kepincut alias jatuh hati dan lebih suka lagu Mirror versi dari Boyce Avenue ini.

Sejak perkenalan saya dengan Boyce Avenue di Youtube lewat lagu Mirror itu maka saya mulai suka lagu-lagu mereka yang lain. Saya baru tau kalo mereka emang spesialisasi cover lagu orang lain. Tapi mereka juga punya sih lagu-lagu koleksi mereka sendiri, yang sayangnya saya kurang familiar :)

Saya belum tau banyak tentang grup Boyce Avenue ini, yang saya tau mereka adalah Grup asal Sarasota, Florida, Amerika Serikat yang dibentuk pada tahun 2004 oleh 3 bersaudara yang terdiri dari Alejandro Luis Manzano (Vocals, Guitar, Piano), Fabian Rafael Manzano (Guitar, Backing Vocals) dan Daniel Enrique Manzano (Bass, Percussion, Backing Vocals). Nama grup band ini berasal dari nama 2 jalan tempat tinggal mereka sewaktu kecil. Mereka mulai mengunggah video mereka pada tahun 2006.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang Boyce Avenue silahkan cek disini

 

PERSIAPAN

1) Tiket konser

Setelah mengetahui dari flyer yang saya temukan di twitter sekitar bulan Januari tentang rencana konser Boyce Avenue di Singapore maka saya coba cari tau bagaimana memesan tiketnya. Ternyata dari penelusuran saya ketahui promotor konser ini di Singapore adalah Live Empire sementara yang mengatur penjualan tiket adalah SISTIC. Pemesanan ticket sebenarnya mudah sekali karena mereka juga jual secara on-line. Tinggal buka website http://www.sistic.com.sg trus bikin akun saja di web itu. Tapi saya kok ga sreg yah :) saya kepikiran kalo beli on-line dapet fisik tiketnya gimana nanti? apa akan dikirim oleh SISTIC tiket fisiknya, apa saya dapet voucher sementara yang nanti harus tukerin jelang konser atau gimana? Saya khawatir udah sampai di SG malah ga bisa nonton karena tiketnya ada masalah.

Setelah saya buka di webnya ternyata ada agen dari Sistic di Jakarta yaitu Smailing Tour di Senayan City Jl. Asia Afrika, Lot 19, Unit L-12C, Jakarta 10270. Wah kalo begini sih mendingan saya beli di Smailing Tour aja untuk lebih aman dan yakinnya. Maka pada tanggal 29 Januari 2015 saat jam makan siang saya ke Smailling Tour di Senci untuk beli tiket konser Boyce Avenue ini. Harga tiketnya adalah SGD 92.00 tapi ada tambahan biaya SGD 5.00 sehingga total menjadi SGD 97.00. Ah gapapalah dalam hati saya, sedikit lebih mahal tapi lebih yakin. Ternyata cara booking Smailing Tour ke Singapore sama persis seperti saya juga, bikin akun juga via internet. Tapi bedanya ketika sudah berhasil transaksinya mereka bisa cetak langsung dalam bentuk tiket yang keren seperti ini:

Tiket Konser

Tiket Konser

 

2) Pesawat

Setelah dapat tiket konser maka berikutnya adalah memesan tiket pesawat. Untuk masalah yang satu ini relatif mudah, selain jarak waktunya masih cukup lama juga karena penerbangan saya sudah biasa pake tiket murah dari Air Asia. Walaupun Air Asia bagi sebagian orang masih trauma karena penerbangan AA dari Surabaya ke Singapore ada yang jatuh (kecelakaan), tapi buat saya sih nggak masalah. Saya tetap berani naik Air Asia, selain murah saya masih percaya dengan keamanan penerbangan Air Asia.

Sorenya saya beli tiket AA secara online via internet. Saya lupa kalo tanggal 19 Februari 2015 itu Imlek, harga tiket pesawat untuk keberangkatan tanggal 17 Februari itu lumayan udah mahal, justru kembalinya tanggal 18 Februari lebih murah. Untuk perjalanan PP ke Singapore dengan AA ini total saya bayar Rp. 1.378.000,00

Oh ya saya memang rencanakan ke Singapore hanya 1 hari saja, datang di Singapore siang tanggal 17 Feb dan pulang tanggal 18 Feb pagi. Kenapa? sebab tanggal 19 Februari nya saya mau ke Lampung. Saya mau liburan merayakan Imlek di kediaman keluarga teman saya di Lampung.

Masalah tiket pesawat beres! :)

 

3) Hotel

Berikutnya masalah penginapan yang pada awalnya saya ga pikirkan. Kenapa? karena awalnya saya pikir saya sampe SG siang trus konsernya malam jam 7 an selesai sekitar jam 10 atau 11 an malam. Jadi saya pikir buat apa pesen kamar hotel, saya bisa tidur di bandara aja, sambil nunggu penerbangan di pagi hari. Selain saya pengen hemat saya pikir juga sayang kalo nginep di hotel apalagi yang mahal. Tapi setelah dipikir-pikir risiko juga, apa iya saya bisa tiduran di emperan Changi :D jangan-jangan saya nanti “digaruk” satpol PP nya Singapore :D Ah daripada risiko mending cari kamar hotel ah …

Sebenarnya sahabat saya sist Any sudah tawarkan nginep di Apartemen nya. Tapi saya ga mau ngerepotin keluarga sist Any, makanya saya pikir mending cari hotel ajalah. Cuma kan hotel di Singapore mahal-mahal, apalagi mau libur Imlek. Saya cuma butuh buat tidur dari sekitar  jam 11 malam trus bangun jam 6 pagi. Artinya singkat sekali kan. Sayang aja kalo hotel yg mahal dan mewah sementara saya ga bakal lama ngerasain tidur di kamarnya. Apalagi saya jalan cuma sendirian ga ajak siapa-siapa lagi, jadi ngegelandang aja ga masalah.

Akhirnya setelah browsing-browsing dapat ide untuk cari hostel atau hotelnya backpacker, kan bisa murah tuh. Dapat info dari bro Felix coba aja browse dan booking hotel dari www.booking.com disitu bisa dapat kamar hotel dengan harga miring. Bener aja, saya kunjungi booking.com dan saya tertarik dengan hostel Fernloft (City) Hostel yang berlokasi di 257 Jalan Besar Singapore. Alasan saya milih hostel ini selain murah, karena hostel ini berlokasi dekat dengan Stasiun MRT Farrer Park dan Supermarket yang tersohor Mustafa Center. Saya punya rencana sebelum pulang, pagi-pagi mau beli oleh-oleh coklat dulu buat ibu di Mustafa jadi lokasi ini sangat pas buat saya.

Akhirnya untuk pertama kalinya saya booking hotel lewat booking.com. Enaknya di booking.com ini kita bisa booking hotel tanpa harus bayar dulu alias kita bayar nanti aja kalo sudah check-in di hotel pada tanggal 17 Feb 2015 nya. Saya dapat harga dari booking.com ini sebesar SGD 24.00. Apakah benar harganya demikian ketika saya mau check in? Tunggu saja ceritanya dibawah… tetap dibaca terus ya.

 

Akhirnya semuanya sudah beres dipesan. Tiket Konser, okay!, Tiket Pesawat, okay! dan Booking kamar hotel, okay!. Siap siap deh untuk nonton konser Boyce Avenue di Singapore …

 

HARI-H PUN TIBA

Hari-H tiba, saya sudah ga sabar. Tanggal 17 Februari saya udah ngajuin cuti, juga untuk tanggal 18 dan 20 Februari, sedangkan tanggal 19 Februari nya libur nasional Imlek. Pagi-pagi saya udah bangun, cuaca Pejompongan hujan pagi itu. Saya jadi kepikiran bagaimana akses jalan ke Bandara Soetta? Saya juga belum pesen Taxi lagi. Saya coba pesen Taxi lewat aplikasi GrabTaxi (www.grabtaxi.com) Sayangnya pagi itu taxi sibuk sekali sehingga tidak bisa dilayani oleh Grab Taxi. Saya coba telp Bluebird, saking sibuknya malah di gantung alias telpon saya ga bisa masuk (nasib! Masalah nelpon Taxi aja juga digantung… Curcol!!). Saya coba hubungi Express Taxi nasibnya sedikit lebih baik bisa masuk ke operator tapi katanya mereka sibuk sekali sampai sejam kedepan mereka belum bisa layani panggilan pelanggan. Wah saya mulai panik nih, gimana donk kalo saya ga dapet taxi, salah saya juga sih tidak dari semalam pesen via telp ke Blue Bird biar paginya dia udah siap depan kosan langsung capcus anter ke Bandara.

Saya coba lagi iseng-iseng mesen lewat grabtaxi, kali ini saya terkejut ternyata saya mendapatkan supir yang ambil pesenan saya…yeeaaaayyy!! akhirnya dapat Taxi juga, jadi deh berangkat nih.
Eitt tapi entar dulu, saya hampir ga jadi berangkat lagi, sebab ketika saya nunggu Taxi mau pergi ke Bandara saya pake bikin acara yg ga penting banget yaitu nyuci gelas dulu. Gelasnya gelas Coca Cola hadiah McD itu lho, itu gelas meleset dari tangan kena wastafel akhirnya retak. Udah retak saya tetap cuci juga. Akibatnya retakan itu pecah dan pecahannya mengiris bagian atas jempol kanan saya :( Jadilah tangan saya berdarah. Aduhhh …. ada aja nih. Saya akhirnya ambil Betadine untuk obati luka saya, yah lumayan perih lah. Saya cuma punya hansaplast satu lembar saja. Saya liat lukanya lumayan tapi gak dalam, jadi ga perlu di jahit lah.

Taxi Express yang saya pesan via aplikasi GrabTaxi akhirnya datang, luka saya masih belum terlalu berhenti. Betadine saya bawa juga akhirnya ke Singapore :) Sebelum jalan ke Bandara saya minta pak Supir mampir ke Indomaret deket kosan. Saya beli Hansaplast lagi buat ganti hansaplast lama yang mulai basah kena darah yang belum kering.  Sepanjang perjalanan ke Bandara saya urusin jempol saya yang berdarah ini, ada ada aja deh … ;) tapi lumayan juga sampe bandara darahnya mulai berhenti. Jadi emang ga parah lukanya, kalo ga kan bisa batal saya ke Singapore gara-gara gelas hadiah McD yang tipis itu :)

Sampai di Bandara keberangkatan saya masih lama, saya masih aman bisa santai-santai di bandara. Sambil nunggu boarding maka penyakit narsis nya pun kumat ;)

Take off dari Jakarta sekitar jam 11.30 sampai di Changi Singapore jam 14.00. Alhamdulillah perjalanan lancar dan selamat sampai tujuan. Begitu mendarat maka pikiran saya yang pertama adalah menuju Fernloft (City) Hostel  untuk check in.

Tidak terasa saya keluar dari Changi makan waktu hampir 1 jam lebih. Emang katro juga sih saya, udah beberapa kali ke Changi pake acara lupa lagi bagaimana ke stasiun MRT nya. Saking buru-burunya saya juga langsung cari stasiun untuk ke MRT sementara saya belum ke Imigrasi hahahaha.

Akhirnya saya balik lagi ke terminal kedatangan saya untuk ke Imigrasi, sebab saya ga yakin juga kalo saya masuk immigrasi di terminal lain apakah akan diterima/dilayani. Daripada saya gambling ya udah deh balik lagi aja. Udah gitu tas yang saya bawa model tas olah raga yang pake tali di pundak dan tali pengaitnya itu mendadak pake patah pas mendarat di Changi, akibatnya tas itu harus saya jinjing. Wah capek juga, agak ribet jadinya.

Naik MRT seperti biasa saya cari tujuan ke pusat kota, turun di Dhobby Gaut saya pindah yg lewatin stasiun Farrer Park. Dari sini sih udah aman, tapi ternyata saya liat waktu sudah menunjukkan jam 16.45 waktu SG. Waduh dikit lagi udah jam 17.00 nih. Saya pun makin bergegas menuju ke hostel biar bisa check in.

Sekitar jam 17.00 lewat saya sampai di hotel yg saya tuju, hotelnya terletak di Jalan Besar (nama jalannya Jalan Besar) disekitar dekat nya Mustafa Center.

Fernloft (City) Hostel. Foto Taken from www.fernloft.com

Fernloft (City) Hostel. Foto Taken from www.fernloft.com

Seperti saya sudah sampaikan sebelumnya saya sangat familiar dengan Jalan ini. Disekitar jalan ini juga terdapat stadion sepak bola miliknya Singapore yang berumput sintetis. Saya pernah berkunjung ke stadion tersebut dan ke FAS (PSSI nya Singapore).

Pose di depan kantor FAS di Jalan Besar Stadium

Pose di depan kantor FAS di Jalan Besar Stadium

Lobby hostel itu ternyata gabung jadi satu dengan coffee shop. Jadi kalo kita mau check in harus masuk coffee shop itu. Setibanya di hotel saya disambut oleh 3 orang wanita yang semuanya ramah. Yang pertama adalah ibu-ibu Singapore yang sudah tua, beliau sangat ramah menyambut saya, saya sampe heran biasanya kan orang Singapore itu dingin dan ga ramah. Wanita yang ke dua masih cukup muda, dari dialeknya saya duga ia orang Singapore atau mungkin bahkan Filipina. Wanita yang ketiga saya diperkenalkan oleh ibu-ibu yang  pertama, dia katanya berasal dari Indonesia. Karena saya ketika check in diketahui dari Indonesia maka si ibu tadi kenalkan wanita ke 3 itu ke saya. Saya akhirnya panggil dia mbak. Dia memang sepertinya bekerja di hostel ini.

Saya selesaikan proses check in dengan wanita ke 2. Saya lupa kenalan dia namanya siapa. Orangnya ramah dan lumayan manis. Saya berikan print out booking saya via booking.com. Setelah dibaca sebentar maka saya pun ternyata sudah terdaftar di registrasi, sesuai dengan harga saat booking saya bayar 24 SGD. Tapi ada tambahan lagi deposit sebesar 10 SGD yang nanti bisa refundable saat kita check out. Saya dapat kartu untuk masuk pintu akses hostel jika nanti keluar masuk hostel dari pintu belakang atau pintu depan, karena coffee shop ini tidak 24 jam. Juga saya dapat fasilitas breakfast esoknya. Saya pun diantar ke kamar saya di lantai 2, tepat diatas coffee shop atau lobby check in hostel ini.

Ini untuk pertamakalinya dalam kunjungan saya ke Singapore saya nginep di hostel murmer/backpacker. Awalnya saya agak “gimana” gitu, kok nginep di hotel begini. Tapi setelah saya pikir dengan bijak, mikir gengsi duit malah ke buang percuma hanya untuk kamar hotel yang 2-3 jutaan tapi kita tidurin cuma 5 jam, sayang amat. Dalam hati saya: “Udah lah ga usah mikir gengsi dan gaya, yang penting lo bisa mandi dan tidur dengan aman & nyaman cuma dengan SGD 24 (Sekitar Rp. 240.000)”.

Kamar saya berisi 4 ranjang susun yang artinya bisa diisi 8 orang.Tapi si petugas hotel nya bilang walaupun ada 8 ranjang, kamar itu tidak pernah diisi sampai full 8 orang, maksimal hanya 6 orang yang bisa nginep di kamar itu. Saya pikir kalo saya ke SG ama teman2 saya satu grup (4 sd 6 orang) enak juga nih nginep disini. Sebab murah dan kamarnya kan ga terlalu kepake, cuma buat tidur aja. jadi kita bisa seharian jalan-jalan di SG, trus tidurnya hemat.

Di kamar itu juga ada 8 locker yang tidak ada kuncinya. Kalo mau kuncinya bisa beli di lobby tadi :) buseet ternyata kunci loker aja kudu beli. Toiletnya ada di ujung lorong, tidak jauh dari kamar saya dan kondisinya bersih. Saat saya datang kondisi hostel masih sepi, saya duga pengunjungnya sedang traveling nanti malam baru akan ramai.

Saya menilai kamar ini biasa banget, bahkan sebenarnya boleh dibilang bukan tipe kamar yang ideal untuk hotel. Lebih mirip kamar kosan anak cowo di jaman kuliah dulu hahaha :D Ranjangnya pake kasur per seperti kasur tentara, ranjang susunnya juga memang mirip di barak tentara sih. Penataan layoutnya bisa dilihat seperti di foto di bawah ini. Ketika saya datang kondisi kamar tidak terlalu rapih, saya pun sedikit merasa gatal, mungkin karena saya belum terbiasa atau badan saya masih lengket karena keringat dan belum menyegarkan diri ke kamar mandi. (Tetapi ketika saya kembali lagi malamnya sepulang konser, kondisi kamar sudah jauh lebih baik dan saya juga sudah terbiasa sehingga saya tidak gatal-gatal lagi)

Setelah saya menyegarkan diri dan beristirahat sejenak maka saya segera bersiap untuk ke Sentosa. Maka saya pun berjalan ke stasiun Farrer Park untuk menuju ke stasiun Harbour front dan ke VIVO City Mall. Dari VIVO saya  nyebrang naik monorail ke Sentosa. Di Vivo kita beli tiket ke Sentosa seharga SGD 4.00 itu udah untuk PP. Saya berhenti di stasiun yang ada Universal Studiosnya  yang juga ada Hard Rock Hotel nya, sebab konsernya diadakan disitu.

@Vivo

@Vivo

Sampai di lokasi saya liat antrian untuk masuk ke venue yang sudah mulai mengular tapi tetap tertib dan rapih. Saya liat pintu akses ke venue konser belum dibuka, antrian juga masih rapih jadi saya putuskan makan dulu lah di McDonald dibawah. Saya mikir cari makan yg simple dan cepet aja. Setelah dari McD baru saya naik lagi untuk antri.

 

Khusus untuk bagian Review Konsernya akan saya sambung di artikel berikutnya. Tetap ikuti terus ya…

Klik disini –> Review Konsernya

 

Sepedaku

Punya Maenan Baru – Sepedaan alias Gowes ^_^

Kesambet Setan Sepedaan

Sudah sejak lama saya diajak terus oleh teman-teman untuk olah raga sepedaan. Terutama waktu sepedaan lagi booming. Seingat saya sekitar tahun 2010-2011 sewaktu saya kerja di Bandung, sepedaan lagi booming banget. Kalo sekarang kan yang booming atau lagi happening adalah lari :)

Waktu di Bandung itu hampir setiap minggu ada aja kegiatan Gowes bareng. Kebetulan Bank tempat saya kerja itu aktif banget kegiatan club sepedanya. Tapi entah kenapa waktu itu saya ga minat maen sepeda atau olah raga sepedaan. Mungkin karena saya ngerasa naik sepeda itu bikin pegel dan nyeri di daerah bokong & selangkangan :) Padahal kalo kita bisa nyari sepeda yang bagus dan perlengkapan yg cukup, hal kayak gitu ga akan jadi masalah. Kalo masalah bisa naik sepeda atau nggak? saya kebetulan bisa naik sepeda. Alhamdulilah dulu waktu kecil dibeliin bapak sepeda buat belajar. Dari yang roda 4 sampai rodanya 2 :) Untung jadi nya saya bisa naik sepeda dan juga bisa naik motor. Walaupun motornya juga bisanya hanya motor matic :)

Tapi sejak saya kos di pejompongan godaan untuk naik sepeda akhirnya mulai muncul. Gara-garanya temen kosan saya bro Felix ngajakin kita para penghuni kosan untuk olah raga bareng dan salah satu aktivitasnya adalah melalui Sepedaan. Tadinya kita punya pilihan olah raga bareng seperti fitness atau lari sore di Senayan. Tapi karena bro Felix udah sering pinjem sepeda uda Irwansyah maka saya jadi kepikir kayaknya asyik nih kalo bisa sepedaan bareng teman-teman.

Satu lagi dorongan yang bikin semangat saya untuk main sepedaan adalah teman-teman di kantor yang juga antusias dukung untuk sepedaan. Wah seru nih kalo nanti yang nemenin banyak maen sepedaan di kantor, dalam bayangan saya. Selain itu ada motivasi lain yang saya mendorong saya untuk semakin giat olah raga, selain Badminton setiap kamis dan sekarang sepedaan, yaitu perut saya yang semakin hari semakin buncit hahahahaha :D
Perut saya ini saya perhatikan kalo ngaca semakin maju ke depan, ibarat pedagang kaki lima di pasar tanah abang mereka udah semakin maju, kalo tadinya di trotoar sekarang udah makin maju turun ke jalan :)

Kembali ke masalah sepedaan, saya ga punya budget besar buat beli sepeda. Selain itu saya takut terserang penyakit akut saya yaitu “Bosan”, saya khawatir kalo bosen trus tuh sepeda mangkrak ga dipake. Maka saya tetapkan kalo bisa beli sepeda di budget 1 juta sampai 2 jutaan. Well, saya juga ga ngerti tentang sepeda sama sekali. Tapi saya pikir dengan budget 1-2 jutaan saya bisa dapatkan sepeda dgn kualitas paling “maksimal”. Apalagi dalam memilih sepeda nantinya saya minta di bimbing oleh Pak Aji dan Mas Arga yang jago masalah sepeda di kantor.

Saya tau kalo harga sepeda itu ga ada batasnya, saya tau harga sepeda bisa sampai ratusan juta. Tapi bukan itu yang saya mau kejar. Selain budget yang terbatas kan yang mau kita cari olah raga dan keringat nya, bukan mau kejar prestise dan gayanya dengan sepeda mahal. Tapi kalo bisa dengan budget 1-2 juta bisa ga ya dapet sepeda yang “bagus”?? Akhirnya karena saya ga punya pemahaman sama sekali tentang sepeda maka saya “pasrahkan” pemilihannya pada Mas Arga dan Pak Aji. Saya anggap mereka berdua lebih paham. Untuk selanjutnya mereka saya sebut “Dewan Pakar”.

Langkah kedua, setelah menentukan Budget saya mendiskusikan jenis sepeda yang akan saya beli dengan “Dewan Pakar”. Setelah diskusi kita punya bayangan kalo mau beli sepeda untuk jalanan (road bike) atau jenis MTB (Mountain Bike) seperti biasa. Masalah kelengkapan dasar kita akan sesuaikan dengan kondisi di toko nanti, dengan budget sekian kita bisa dapat apa aja.
Selanjutnya kita kemudian tentukan mau beli dimana. Karena saya senang belanja daring (on line) maka tadinya saya mau beli sepeda on line. Ternyata saya ga bisa nemuin toko online yang jual sepeda yang memuaskan saya, baik dari segi harga maupun Sepeda yang dijual. Mas Arga (dewan Pakar) punya usul beli di Pasar Kebayoran Lama atau di Kemanggisan, sementara Pak Aji (Dewan Pakar) usul beli di Kramat. Akhirnya sebagai yg akan membeli maka saya putuskan beli di lokasi yang dekat kantor kita (di Pejompongan) yaitu di Kemanggisan.

Oh ya karena merek Polygon menurut saya agak mahal, maka saya putuskan tidak beli merek polygon. Selain itu polygon tidak dijual di toko sepeda umum, Polygon hanya di jual di Rodalink yaitu toko khusus sepeda Polygon. Sementara saya kan rencananya mau blusukan ke Pasar (Jokowi bangetttt … :D ).

 

Eksekusi Rencana

Maka pada hari senin tanggal 10 November 2014 menjadi hari yang bersejarah buat saya :) Saya bersama Dewan Pakar ditambah Mas Aldi dan Tarwan (Dewan Penasihat) pas jam makan siang naik Ertiga mobil kantor menuju ke Kemanggisan. Pas sampai dilokasi kita kecewa ternyata Toko Sepeda di Kemanggisan itu tutup. Baru kemudian dalam kunjungan berikutnya kita baru tau kalo toko itu setiap hari senin tutup.
Karena tutup maka kita lanjutkan ke Pasar Kebayoran Lama, sebelum ke Pasar Kebayoran Lama (KL) kita makan siang dulu di Bebek Yogi di Jalan Panjang. Selesai makan siang baru kita meluncur ke Pasar KL.

Sesampainya di Pasar KL kita langsung nyari toko sepeda untuk liat-liat, yang pertama toko sepeda di pojokan jalan yang dibawah fly over, disitu kita belum nemu koleksi yang cocok di hati. Kemudian kita lanjutin “blusukan” ke toko di seputar pasar KL, yaitu ke toko sepeda yang diseberangnya toko tadi tapi belum ada yang sreg juga di hati. Akhirnya kita lanjutin ke toko sepeda yang  ada di bawah jalan layang, tepatnya di depan pedagang batu cincin. Disitu kita juga belum nemu yang cocok. Saya hampir putus asa. Tapi Mas Arga emang kayaknya sangat kuasai “medan” sampai akhirnya kita nemu toko sepeda TRI GUNA. Toko ini kalo dari arah pasar KL ada mesti lewati kolong jalan layang. Adanya di ruko gitu, tepatnya di Ruko Kebayoran Lama Jl. Ciputat Raya No. 16 A Telp 7262194-7262161.

Disitu Mas Arga dan Pak Aji (Dewan Pakar) mulai menemukan yang diinginkan. Ada beberapa pilihan sepeda disana dari merek United, Pacific, Wim Cycle dll Tapi kita tertarik dengan sebuah sepeda merek United seri Miami XC-01. Ada dua warna disana, putih dan Merah-hitam. Setelah kita bandingkan dengan seksama dengan beberapa pilihan yang ada, maka sepeda united ini kayaknya paling lumayan. Rangkanya udah aluminium, gigi nya udah 7 speed yang belakang dan yang depan 3 speed. Remnya memang belum disc dan garpunya belum pake shock breaker. Tapi setelah di pertimbangkan rem ama shock itu bisa nyusul nanti, yang penting rangkanya sudah bagus, demikian masukan Dewan Pakar. Selain itu yang saya suka ban depannya bisa di copot (Quick Release).

Kita kemudian tanya harga. Si engkoh buka harga Rp. 1,8 juta. Saya tawar Rp. 1.3 juta. Akhirnya kita sepakat mentok di harga Rp. 1.550.000,- Saya ga tau apakah harga ini sudah maksimal atau belum. Tapi yang jelas saya puas dengan harga ini saya sudah dapat sepeda baru yang siap saya mainin. Setelah melunasi pembayaran maka saya pun bergegas kembali ke kantor. Saya minta pegawai tokonya untuk bawain sepeda ke mobil (dengan diberi tip tentunya). Sesampainya di kantor sepeda belum langsung di pakai, alias masuk ke gudang sebab saya belum sreg karena asesorisnya belum lengkap dan diluar udah mulai masuk musim hujan hahahaha (Jadi saya beli sepeda saat sudah masuk musim hujan, musim kering saya kemana aja ya??? :D

Lusanya saya rayu Dewan Pakar untuk anterin saya ke toko sepeda di Kemanggisan yang tempo hari tutup untuk beli asesoris. Kebetulan mereka bersedia. Kita berlima kembali “shopping” sepeda. Kali ini ada pergantian Dewan Penasihat Tarwan digantikan Sayuti. Kali ini toko tujuan kita adalah Toko Karya Jaya (aka Bude Bike) di jalan Budi Raya Kemanggisan Fanta No telp 0815 8571 7955.
Ternyata toko ini adalah toko yang termasyur untuk para bikers/gowesers terutama di wilayah Jakbar.

Toko Karya Jaya aka Toko Bude

Toko Karya Jaya aka Toko Bude

Di toko ini penjualnya ada seorang wanita yang biasa di panggil Bude. Beliau layani kami dengan baik dan ramah. Bude orangnya sangat friendly. Bude paham banget sepeda dan dia hapal banget naro barang jualannya di setiap sudut tokonya yang padat dan penuh dengan berbagai jenis sepeda berikut asesorisnya. Bude jualannya lumayan lengkap, mulai dari sepeda kelas biasa aja (kayak punya saya) sampai Sepeda yang rangka nya karbon dengan harga yang selangit (buat saya).

Di toko bude ini harga asesorisnya lumayan miring, setidaknya sudah saya bandingkan dengan toko on line yah. Di toko bude saya beli aksesoris sepeda seperti:

Pompa dan Tempat Minuman

Pompa dan Tempat Minuman

Pompa 50 ribu – Jepitan tempat minum 15 ribu

Lampu 3 Watt White LED

Lampu 3 Watt White LED

Lampu depan 45 ribu

Sadel Mosso

Sadel Mosso

Sadel Mosso 100 ribu

Helm

Helm

Helm 140 ribu

Tanduk Stang

Tanduk Stang

Tanduk 25 ribu

Kunci Tools

Kunci tools

Tool set 25 ribu

Spakbor

Spakbor

Spakbor depan-belakang 25 ribu

Standar segi tiga

Standar segi tiga

Standar segi tiga 45 ribu

Chain protector

Chain protector

Chain protector 10 ribu (belinya nyusul beberapa hari kemudian, setelah balik lagi nganterin pak Hendry teman kosan)

Di toko bude ini dia tanya tentang sepeda yang saya punya? berapa harganya? maka saya jawab saja dengan jujur apa adanya. Ternyata bude kasih harga untuk sepeda United saya di toko ini dengan harga 1.1 Juta. Tapi anehnya ketika saya kembali lagi dengan teman saya beberapa hari kemudian bude berubah tawarkan dengan harga 1,3 juta. Saya sih tetap puas dengan harga sepeda saya, saya anggap bude ini gak serius kasih harga. Lagian saya pikir toh kita beli udah yang paling maksimal. Jadi ga ada penyesalan buat saya. Selesai dari toko bude kita pun kembali ke kantor.

Sampai di kantor, semua aksesoris tadi dipasang ke sepeda. Pokoknya saya sepertinya sudah siap gowes deh :) Sorenya saya pulang dari kantor ke kosan dengan menggunakan sepeda. Pak Aji, Mas Arga dan Pak Mursan bantu saya menyetel sepeda saya :)

Sepeda saya disetel

Sepeda saya disetel

Oh ya saya juga sudah beli gembok kunci sepeda dari toko online. Gembok itu merek Polygon dengan dilengkapi lampu, saya beli seharga 73 ribu. Dengan gembok itu saya berani parkir sepeda di garasi. Sebelumnya saya masih simpen sepeda saya di gudang kantor.

Gembok Polygon

Gembok Polygon

 

Masih ada Masalah

Permasalahan berikutnya terjadi di hari jumat pagi, tanggal 14 November 2014. Ketika saya coba pake sepeda itu muter-muter kantor di seputar pejompongan ternyata giginya loncat loncat sendiri. Saya tadinya ga ngerti ama masalah ini, tapi waktu teman saya di kantor (pak Irmawan) nyobain sepeda saya, beliau bilang kalo gigi sepeda saya loncat loncat sendiri :(
Saya yang ga ngerti sepeda jd bingung. Untungnya saya punya “Dewan Pakar” :) dengan bantuan para sahabat saya yang baik-baik sepeda saya diutak atik mereka. Permasalahan ditemukan sepertinya di rantainya yang tidak lurus dan juga ternyata tali kawat giginya yang sepertinya tipis. Rantai yang tidak bagus bawaan dari toko membuat sepeda saya sepertinya perlu di servis.

Tadinya kita mau servis di deket kantor aja, tapi saya di ajak mas Arga untuk liat show room Rodalink nya Polygon di SCBD, sekaligus disana ada bengkel buat benerin sepeda saya. Saya pikir biar sekalian beres maka saya setujui usul mas Arga. Kita akhirnya bawa sepeda itu ke bengkel Rodalink di SCBD. Disana saya liat sepeda Polygon paling murah seharga sepeda saya Rp. 1.5 juta tapi rangkanya masih besi belum aluminium. Di toko ini selain ganti rantai dan tali kawat untuk gigi yang lebih bagus, saya juga beli kaos sepeda dan sarung tangan yang lagi sale.

Di Rodalink ini saya ganti rantai merek Polygon dan ganti tali kawat gigi (shift cable) merek Shimano. Saya juga beli bel model tukang es seharga Rp. …

bel nyaring merek cateye

bel nyaring merek cateye

Untuk Servis sepeda di Rodalink seluruhnya saya kena biaya Rp. 75 ribu.

Pulang dari Rodalink sepeda saya gowes dari kantor ke kosan. Sekarang masalah sepeda terpecahkan dan sepeda sudah siap untuk di genjot dalam kondisi jalan sesungguhnya.

 

Mulai beraksi …

Hari Minggu ajang pembuktian pun tiba, saya sudah lama ingin merasakan medan Car Free Day (CFD) di Jakarta. Saya janjian bangun Minggu pagi ama Felix dan Mas Arga untuk cobain sepedaan di CFD. Berangkat dari kosan pagi sekitar jam 7, dari pejompongan lewatin benhil ke luar di pasar benhil trus susurin Sudirman arah ke Bundaran HI.

Busyeeehh… penuhnya jalanan Sudirman-Thamrin pas saat CFD, bikin ga nyaman juga yah. Terutama pas sampe seputaran Bunderan HI. Disana manusia sudah menyemut dan aktivitasnya juga banyak sekali. Saya pun teruskan perjalanan lewat menteng, sabang dan keluar di Monas ke arah Balaikota, terus sampai ke monas puter balik dan mengarah pulang lagi lewat Bunderan HI dan terus sampe Benhil.

Sampe di pejompongan kita makan sarapan pagi di Mie Gamat ;) Teteuppp!! Olahraganya sebentar makannya tetep banyak :D

(Ulasan tentang Mie Gamat bisa dibaca disini)

Wah pokoknya puas lah maen sepedaan di CFD dengan sepeda baru saya… :)