Posts

Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Wisata ke Taman Wisata Alam Angke Kapuk di PIK Jakarta

Sudah sejak lama saya mendengar tentang Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk Jakarta Utara. Tapi saya belum pernah sempat kesana. Baru pada tanggal  21 Desember 2016 saya punya waktu untuk bisa mengunjungi tempat wisata ini.

Sahabat saya Yulia Sari sering mengajak saya untuk melakukan wisata dengan biaya hemat diseputar Jakarta. Banyak lokasi yang awalnya kita ingin kunjungi, namun karena keterbatasan waktu dan juga akses ke lokasi maka akhirnya kami putuskan untuk berwisata ke lokasi Taman Wisata Alam Mangrove di Angke Kapuk Jakarta Utara.

Kebetulan Rido (Puteranya Sari) sedang libur sekolah, kemudian Ririn teman Sari juga bisa ikutan. Jadi rencananya kita akan pergi berempat. Kita janjian untuk ketemuan di Halte Transjakarta Stasiun Kota.

Tanggal 21 Desember 2016 sesuai rencana saya sudah sampai di halte TJ Stasiun Kota sekitar pukul 08.30. Disana saya menunggu Sari dan Rido anaknya. Ririn karena suatu hal ternyata batal ikut. Sehingga akhirnya kami pergi hanya bertiga saja.

Dari halte Transjakarta Stasiun Kota kami kemudian naik Bus Feeder Transjakarta tujuan PIK (Pantai Indah Kapuk). Sebelumnya dari Depok saya naik ojek online ke Halte Transjakarta Ragunan tujuan Monas (Koridor 6-B) kemudian lanjut ke Halte TJ Stasiun Kota. Karena saya tidak keluar halte Transjakarta maka biaya saya untuk ongkos dari Ragunan sampai ke lokasi Taman Wisata Alam di Angke Kapuk cukup hanya Rp. 3.500 saja.

Sebenarnya saya bisa saja naik Kereta Commuter line (CL) dari stasiun Depok ke Jakarta Kota, tapi saya kurang suka naik Kereta. Saya merasa lebih nyaman dan  pasti kalo naik Transjakarta. Sebelum nya kami sudah pelajari bagaimana mencapai lokasi Wisata Alam di Angke Kapuk tersebut. Ternyata memang mudah sekali.

Hari itu dari Halte TJ Ragunan ke Halte TJ Monas, dan kemudian saya lanjutkan ke Halte TJ Stasiun Kota kondisi lalu lintasnya tidak terlalu macet. Bus TJ juga tidak terlalu padat. Mungkin karena efek liburan sekolah. Dari Halte TJ Stasiun Kota ke PIK juga di dalam bus tidak terlalu penuh. Walaupun saya berdiri tidak dapat duduk, tapi di dalam bus tidak berdesakan.

Setelah kita berada di dalam Bus Feeder Transjakarta tujuan PIK maka kita tinggal bilang saja untuk turun di Yayasan Budha Tzu Chi. Sesampainya di setiap lokasi halte biasanya pramudi bus tersebut akan sebutkan nama haltenya.

Saat bus sampai di depan gedung Yayasan Budha Tzu Chi pramudi bus tersebut ingatkan penumpang, dan saya pun meminta berhenti untuk turun. Sewaktu naik di halte TJ stasiun Kota penumpang naik lewat pintu tengah seperti layaknya bus TJ namun ketika turun di Yayasan Budha Tzu Chi penumpang akan turun lewat pintu depan disebelah kiri bus. Haltenya pun tidak ada, jadi penumpang sebenarnya turun di pinggir jalan.

 

Turun di Yayasan Budha Tzu Chi

Sesuai dengan pedoman yang dibaca dari browsing di internet sebelum pergi ke lokasi wisata alam ini, maka kami turun dari bus feeder TJ di depan gedung Yayasan Budha Tzu Chi. Bangunan gedung Yayasan Budha Tzu Chi itu gedeee.. banget!, jadi jangan takut ga kelihatan atau ga ketemu ama gedung itu hehehehe :)

Turun dari Feeder TJ di tanda + itu

Turun dari Feeder TJ di tanda + itu

Saat kami turun di depan gedung maka di sebelah gedung itu ada jalan lurus ke dalam (katanya sih itu Jalan Garden House), itulah jalan menuju Taman Wisata Alam. Ikuti aja jalan itu, ngga bakal nyasar. Kami sampai dilokasi sekitar jam 09.30 WIB.

Ikuti panah belok kanan ke TWA Angke

Ikuti panah belok kanan ke TWA Angke

Peta Menuju Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Peta Menuju Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Jika diperhatikan peta tersebut maka kita akan turun di tanda X dan jalan mengikuti arah panah merah.

 

Tiket

Di pintu gerbang kita akan menemui loket yang ditunggu petugas jaga. Harga tiket masuknya untuk Dewasa adalah Rp. 25.000 dengan dua karcis diberikan yaitu:
- Rp. 20.000 tiket warna biru dengan tulisan Paket Rekreasi Penjelajahan Hutan Outbound dll
- Rp.  5.000 tiket warna putih dengan tulisan Karcis Masuk Pengunjung TWA Angke Kapuk

Sedangkan harga tiket untuk anak-anak hanya Rp. 10.000 saja. Warna tiket merah muda dengan tulisan tiket masuk rekreasi penjelajahan hutan outbound dll Taman Wisata Alam Angke Kapuk.

Tiket Masuk TWA Angke Kapuk

Tiket Masuk TWA Angke Kapuk

Terus terang menurut saya biaya tiket masuk ke Taman Wisata Alam (TWA) ini menurut saya kemahalan. Sebagai pembanding adalah harga tiket Kebun Binatang (KB) Ragunan misalnya, tiket untuk Dewasa Rp. 4.000,-/orang dan untuk Anak-anak Rp. 3.000,-/orang sedangkan untuk Tarif masuk Pusat Primata Schmutzer:
- Hari Selasa s.d Jumat (usia 3 tahun ke atas) : Rp. 6.000,-/orang
- Hari Sabtu s.d Minggu /libur nasional (usia 3 tahun ke atas) : Rp. 7.500,-/orang
Jauh sekali kan bedanya, padahal yang bisa dikunjungi di KB Ragunan dan yang bisa dilihat jauh lebih banyak dibandingkan dengan TWA Angke Kapuk.

Loket dan Pintu Gerbang TWA Angke

Loket dan Pintu Gerbang TWA Angke

Selain harga tiket masuk tersebut ditulis juga biaya lain yaitu:
- Mobil Rp. 10.000,00
- Motor Rp.  5.000,00
- Tiket untuk Turis/WNA Rp. 250.000,00
- Photo Pre Wedding Rp. 1.500.000,00

 

Menjelajahi TWA Angke Kapuk

Setelah membeli tiket maka kami mulai memasuki TWA Angke Kapuk ini. Hal yang pertama akan kita jumpai adalah Masjid panggung diatas air disebelah kiri jalan. Jadi untuk pengunjung yang ingin beribadah sholat tidak perlu khawatir. Saya lihat tempat wudhunya juga ada di pinggir jalan dan airnya mengalir. Saat saya pulang setelah berkeliling saya melihat ada beberapa pengunjung yang sholat di Masjid ini.

Masjid di TWA Angke

Masjid di TWA Angke

Pintu Masuk TWA Angke

Pintu Masuk TWA Angke

Tidak lama kemudian setelah berjalan sekitar 20 meter maka kita akan tiba di pos berikutnya. Di pos ini pengunjung bisa menitipkan tas jika merasa berat untuk harus dibawa-bawa. Selain itu di area ini pengunjung bisa memarkir kendaraannya.

Di pos ini terdapat peta besar isi dari TWA Angke Kapuk. Juga terdapat tanda-tanda larangan yaitu:
- Dilarang membawa makanan dari luar
- Dilarang membawa kamera
- Dilarang membawa hewan peliharaan

Kamera dilarang dibawa akan tetapi handphone atau smartphone berkamera diperbolehkan. Jika ingin membawa kamera maka dikenakan biaya Rp. 100.000,00

Setelah melewati pos penitipan barang/tas maka kita mulai memasuki area TWA Angke Kapuk ini. Jalan nya terpecah dua antara lurus ke jembatan besar atau belok kanan ke arah kantin, gedung aula, dan juga camping house. Saya dan teman saya memilih belok kanan.

Sambil jalan saya bisa melihat papan tulisan keterangan nama pohon-pohon disisi jalan masuk TWA. Sayangnya tulisan keterangan tersebut sudah tidak terlalu terawat.

Kemudian tidak lama kami tiba di area dekat kandang monyet. Kandangnya walau berjeruji juga diberi kawat jaring sehingga tangan si Monyet tidak bisa keluar. Beda dengan kondisi dahulu, kata Sari, dahulu belum ada jaring kawatnya sehingga si Monyet bisa mengambil atau menjambret barang milik pengunjung.

Saya tidak terlalu suka berada dekat kandang Monyet tsb. Saya kasihan melihatnya. Saya lebih senang jika monyet tersebut dilepaskan saja, mungkin bisa dilepaskan di area konservasi lainnya di hutan, tapi tidak di kawasan TWA Angke yang sudah ramai dan tidak ramah bagi monyet-monyet tersebut.

Monyet lucu

Monyet lucu

Dari area kandang monyet kami bergerak ke arah kantin dan area duduk-duduk depan kantin. Kalo saya perhatikan di depan kantin adalah gedung pertemuan atau semacam aula, dan di depannya banyak bangku-bangku untuk duduk-duduk.

Kita memang tidak boleh membawa makanan dari luar, tetapi sayangnya di Kantin hanya menjual makanan ringan dan minuman. Tidak ada menu makanan yang bisa untuk makan siang.  Ada tulisan Rumah Makan di petunjuk arah, tapi saya tidak menemukannya. Kebetulan kami tidak menghabiskan waktu seharian disini, saat makan siang kami putuskan untuk  makan siang di Mall baru depan Budha Tzu Chi yaitu PIK Avenue Mall.

Setelah puas foto-foto dan istirahat duduk duduk di area rumah makan maka kami lanjutkan jalan kembali. Di persimpangan ada petunjuk arah. Maka kami menyusuri jalan sesuai petunjuk arah ke arah lokasi perkemahan. Sambil saya ke toilet dulu. Toiletnya untungnya lumayan bersih dan airnya mengalir.

Di lokasi Wisata Alam ini tersedia pula arena bermain, terutama untuk kegiatan Outbond. Nampaknya TWA Angke ini dibuat sebagai tempat outbond yang letaknya masih di dalam kota Jakarta tidak perlu harus pergi ke Puncak, Cisarua dan lain-lainnya.

Selanjutnya kami menyusuri jalanan yang terbuat dari kayu atau bambu. Jalanan ini menuju rumah perkemahan diatas air. Jika saya perhatikan beberapa bangunan sudah dimakan usia sehingga beberapa sedang direnovasi atau diperbaiki. Demikian jalanan yang terbuat dari kayu juga sudah banyak dimakan usia dan mulai digantikan dengan bambu.

Saya menikmati pemandangan dengan menyusuri bangunan perkemahan yang berjajar menarik. Selain itu didepannya juga terdapat tanaman bakau yang merupakan sumbangan penanaman dari berbagai institusi seperti perusahaan, sekolah maupun perorangan.

Saya menyusuri jalan-jalan kayu yang menghubungkan dengan rumah-rumah penginapan untuk camping. Sayangnya di beberapa titik saya mencium aroma tidak sedap alias bau sampah. memang akhirnya saya temukan beberapa area penuh dengan sampah plastik dan botol bekas minuman. Pemandangan tentu menjadi tidak sedap dan menarik lagi buat saya yang sangat gandrung akan kebersihan :(

Setau saya pengelola TWA Angke Kapuk ini adalah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta yang berada di bawah naungan Kementerian Kehutanan RI bukan di bawah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Saya tau setelah baca di http://www.bksdadki.com/index.php/page/organisasi

Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 6187/KPTS-II/2002 tanggal 10 Juni 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Tugas pokok Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta adalah melaksanakan pengelolaan kawasan Suaka Margasatwa, Cagar Alam, Taman Wisata Alam dan Taman Buru serta konservasi tumbuhan dan satwa liar didalam dan diluar kawasan.

Sehingga pantas saja terlihat bedanya untuk pengelolaan TWA ini. Kebersihannya tidak sebaik pengelolaan kebersihan oleh PemProv DKI Jakarta. Demikian pula terkait tiket masuknya yang menurut saya relatif mahal.

Saya bersama Sari dan Rido berkeliling lokasi TWA Angke ini terutama area perkemahan. Walau saat itu hari kerja akan tetapi ada juga pengunjung lain yang datang ke lokasi wisata ini. Ada beberapa keluarga dan ada pula muda mudi yang bersama pasangan atau teman-temannya menikmati kawasan hutan mangrove tersebut.

Setelah puas berkeliling selama beberapa jam maka kami memutuskan untuk mengakhiri kunjungan kami di TWA ini. Saya tidak mencoba untuk melihat menara pemantau untuk melihat burung dan lain-lain. Saya juga tidak mencoba berperahu karena selain panas saya juga sudah melihat spot-spot kotor, yang langsung bikin ill feel. Saya memang gitu orangnya, kalo liat yang kotor-kotor jadi nge-drop. Saya melihat secara umum tempat wisata ini menarik namun perlu dikembangkan lebih jauh.

Selain itu saya juga udah mulai capek dan kepanasan. TWA ini kan berlokasi dipinggir laut disebelah utara Jakarta. Sementara saya orang dari Selatan Jakarta (Jakarta Coret) yang dingin hehehhee (alesan aja padahal emang udah tua jadi cepet capek …) Apalagi waktunya sudah siang waktunya untuk makan siang, para cacing di perut sudah demo walo aksinya damai. Incaran kami adalah nyobain maksi di PIK Avenue Mall sebuah mall yang katanya baru berdiri di kawasan PIK itu beberapa bulan lalu.

Secara umum review saya untuk wisata ke TWA ini adalah:

  1. Lokasinya sangat mudah untuk dijangkau dan biaya transportasinya relatif murah. Jalan kaki dari perhentian TJ ke lokasi TWA tidak lah jauh. TJ tujuan ke PIK juga sangat mudah diakses dari Halte TJ Stasiun Jakarta Kota.
  2. Sebenarnya lokasi wisata ini bisa menjadi alternatif pilihan wisata alam di Jakarta. Tapi sayangnya ketika kita sudah dilokasi tidak banyak hal yang menarik untuk dinikmati. Hanya pemandangan hutan mangrove saja. Binatang yang ada di alam liar juga tidak ada yang bisa dilihat, arena bermain ya hanya arena outbound saja. Tempat ini sepertinya hanya cocok untuk acara Camping atau perkemahan yang sudah diatur oleh EO atau sejenisnya.
  3. Tiket masuknya tidak kompetitif. Harga tiket terlalu mahal jika dibandingkan dengan fasilitas di dalamnya. Belum lagi banyak larangan dan biaya tambahan yang dikenakan, seperti larangan membawa kamera non handphone, larangan membawa makanan dari luar tapi di dalam variasi pilihan makanan tidak banyak. Akan lebih baik jika harga tiket diturunkan dan fasilitas didalamnya ditambah, terutama akan lebih menarik jika ada pusat kuliner.
  4. Kondisi lingkungan kotor dan kurang terawat. Menurut saya faktor kebersihan harus menjadi perhatian. Bagaimana bisa menarik pengunjung jika lokasi obyek wisata itu tidak menarik dan kotor. Dimasa mendatang TWA ini akan bersaing dengan Mall PIK Avenue yang lokasinya tidak jauh dari TWA ini. Memang antara TWA dam Mall tidak apple to apple akan tetapi Mall bisa jadi pilihan hang-out atau berlibur warga PIK karena gratis tidak ada tiket masuk, lebih nyaman karena dingin pake AC serta pilihan makanannya juga banyak. Artinya dengan uang harga tiket Rp. 25.000 TWA akan menjadi tidak kompetitif.

Semoga pihak BKSDA DKI Jakarta sebagai pengelola TWA Angke Kapuk bisa mengevaluasi kondisi ini untuk menjadi perbaikan dimasa mendatang.

Sampai jumpa di wisata dan jalan-jalan saya yang lainnya…. :)

 

 

 

banner

Jalan-jalan ke Chinatown Part 2

Setelah pada tanggal 26 November 2016 saya mengikuti trip jalan-jalan ke Chinatown di Jakarta yang diadakan oleh ITDP — didukung oleh Transjakarta, Kopi Oey, Trafi, dan Melu (Cerita lengkapnya bisa dibaca disini), maka pada tanggal 3 Desember 2016 saya kembali mengunjungi kawasan Chinatown tersebut bersama teman-teman.

Jadi ceritanya, gara-gara saya posting foto di Instagram dan Facebook tentang perjalanan ke Chinatown dengan ITDP itu ternyata membuat beberapa orang teman saya “pengen” dan tertarik untuk mengunjungi kawasan Chinatown juga. Terutama teman saya dulu di saat masih kerja di Bukopin si Sari (Yulia Sari) dan juga teman-teman saya di JASMEV seperti Tata dan Sinta.

Sist Tata usul agar saya membuat Trip yang serupa dan dengan Trip yang diselenggarakan oleh ITDP itu. Selain tertarik dengan wisata kulinernya, lokasi yang dituju tidak jauh alias masih di Jakarta. Selain itu biaya nya juga relatif murah, tidak butuh biaya yang mahal. Saya pun menyetujui ide tersebut dan bersedia untuk menjadi “pemandu” nya berbekal pengalaman ikut Trip sebelumnya.

Akhirnya saya hubungi Sari untuk ajak dia, Sari kemudian mengajak Rido (puteranya) dan Ririn (temannya). Sementara Sist Tata kemudian mengajak teman JASMEV yang lain seperti Sinta, Tika, Natalia dan Selvi. Akhirnya kami ber-sembilan akan menuju kawasan Petak Sembilan. Coba tanggalnya pas tanggal 9 juga… :D

Peserta Trip tanggal 3 Desember 2016 (satu hari setelah aksi damai 212) akhirnya terdiri dari:
- Saya Harri Baskoro Adiyanto.
- Sist Tata : Hartawati Rosmery
- Sist Sinta: Yasinta Wirdaningrum
- Sist Sari: Yulia Sari
- Rido Ghordiyan
- Sist Ririn
- Sist Natalia: Yuliana Natalia
- Sist Tika: Tika Murtika
- Sist Selviana

Ada 9 orang peserta sebagian besar adalah wanita alias emak-emak hahahahaha dan yg cowok cuma saya dan Rido. Seru juga nih saya “kembali” pergi bersama wanita :) Pergi jalan-jalan bersama dengan wanita bukanlah pengalaman pertama buat saya. Pasti selalu menarik dan “rame” ;)

Sebelum hari-H, kita sepakat untuk menggunakan rute yang sama dengan Trip ke Chinatown yang saya ikuti sebelumnya. Namun perbedaannya di Titik Kumpul awalnya, kami sepakat kumpul di stasiun Jakarta Kota.

Peta Trip Chinatown2

Peta Trip Chinatown2

Jadi rute yang akan dituju adalah:
Start – Stasiun Kota
1. Halte TJ Glodok
2. Gang Gloria
Petak 9
3. Vihara Toa Se Bio
4. Gereja St. Maria De Fatima
5. Vihara Dharma Bhakti
6. Candra Naya
End – Maksi di Kopi Oey.

 

Stasiun Kota (ngumpul)

Kami berencana untuk berkumpul di stasiun Jakarta Kota jam 08.00 Pagi. Darimana pun datangnya kita sepakat untuk kumpul di stasiun Jakarta Kota, hal ini dimaksudkan agar kita kompak pergi bareng ke kawasan Gang Gloria-nya. Jadi kita kumpul dulu di stasiun Jakarta Kota. Selain itu dilokasi ini juga menarik, karena penyeberangan dari stasiun ke Halte TJ nya berada di bawah tanah (underground) dan ada taman ditengahnya yang dihiasi payung-payung. Kami sepakat untuk foto-foto dulu disitu.

Pagi itu kami mulai kumpul sekitar pukul 08.00 namun sayangnya Kereta Api saya dari Depok mengalami keterlambatan, karena masuk ke stasiun Jakarta Kota nya mesti gantian. Demikian pula Sist Natalia yang juga naik Kereta dari Depok juga berada di belakang kereta saya.

Saya sampai di lokasi duluan, kemudian tidak lama Sari dan Rido datang. Disusul oleh Sist Tika dan Sist Selvi dan kemudian Sist Ririn juga muncul. Sist Natalia juga kemudian datang setelah keretanya bisa masuk Stasiun Jakarta Kota.

Sambil menunggu Sist Tata dan Sist Sinta, maka kami pun mulai sibuk foto-fotoan di lokasi taman payung. Tidak lama sist Tata dan Sinta bergabung dan juga ikut foto-foto dulu. Baru sekitar jam 08.30 kami bergeser ke halte TJ Kota. Sebenarnya ke Glodok bisa juga ditempuh naik Mikrolet dari stasiun Jakarta Kota tapi saya males naik Mikrolet soalnya pake nyari yang muat ber-9 dan nggak ngetem. Jadi kami pun naik Transjakarta saja.

 

Gang Gloria

Tujuan kami dari stasiun Kota adalah Halte TJ Glodok. Halte TJ Glodok dari Stasiun Kota sih ga jauh. Deket banget malah, hanya satu halte saja. Abis naik TJ, bus jalan, perhentian berikutnya maka kita langsung turun hehehehe

Sekitar pukul 08.55 WIB kami tiba di halte Glodok, disitu kami turun dan lagi-lagi kami sempatkan swafoto di lokasi tangga penyeberangan TJ tersebut. Pokoknya seru banget deh… belum sampe di lokasi gang Gloria kami udah banyak koleksi fotonya :)

Dari halte TJ Glodok kami berjalan menuju gang Gloria. Lokasinya tidak terlalu jauh. Tidak sampai sepuluh menit kami sudah tiba di gang Gloria yang kuliner nya termasyur itu :) Teman-teman langsung saya perlihatkan dengan deretan kuliner yang ada di Gang Gloria. Tidak semua teman saya tidak pernah ke Gang Gloria, beberapa diantaranya sudah sangat paham dan tau tentang kuliner di gang Gloria ni.

Saya ajak teman-teman kemudian duduk dan memesan makanan di food court paling ujung di gang Gloria. Lokasi yang sama dengan Trip yang saya ikuti sebelumnya. Saya suka ditempat ini sebab dekat dengan cakwe incaran saya hahahaha

Sekitar jam 09.00 WIB kami sudah duduk di Food Court Gang Gloria dan sibuk memesan makanan.

Sarapan di Gang Gloria yang terkenal itu

Sarapan di Gang Gloria yang terkenal itu

Teman-teman di lokasi ini kemudian mulai memesan makanan untuk sarapan. Ada yang memesan Gado-Gado Direksi, yang katanya terkenal dan enak. Saya sih tidak terlalu suka dengan gado-gado. Ada yang memesan Mie Ayam Cah Jamur. Ada juga yang memesan Kari Sapi. Pokoknya semua bebas memilih makanan yang dipesannya lha wong yang bayar juga mereka sendiri kok :)

Saya sendiri bukan tipe orang yang muat sarapan pagi banyak-banyak. Jadi saya sarapan cakwe aja. Saya senang sekali cakwe di Gang Gloria ini. Harganya Rp 3000 per batang. Saya beli 10 batang dan kita makan ramai-ramai. Tapi yang paling doyan dan banyak makan cakwe-nya sih saya hehehee

Selesai sarapan sekitar jam 09.50 maka kita pun lanjut berjalan ke daerah kawasan petak 9. kita menyusuri pasar dikawasan tersebut untuk menuju Vihara Toa se Bio.

 

Vihara Dharma Bhakti

Diperjalanan saya berubah pikiran untuk tidak mengikuti jalan potong lewat gang seperti halnya Trip sebelumnya. Saya khawatir tidak hapal dengan jalan gangnya yang kecil dan berkelok-kelok. Akhirnya saya ikuti saja jalan besar di pasar petak 9. Akibatnya lokasi yang kita kunjungi pertama adalah Vihara Dharma Bhakti.

Kita jadi muter, bukan ke vihara Toa Se Bio dulu akan tetapi malah ke vihara Dharma Bhakti. Tapi tidak apa-apa, karena lokasi ini semua berdekatan. Cuma akibatnya rutenya jadi bolak-balik karena nanti akan ke Candra Naya.

Di Vihara Dharma Bhakti kita asyik foto-foto dan melihat-lihat aktivitas ibadah disana. Saya sempat melihat seorang bapak melepaskan burung-burung.

Melepas Burung di Vihara Dharma Bhakti

Melepas Burung di Vihara Dharma Bhakti

Setelah saya posting di FB teman saya Lie Na Lioe menjelaskan maksud dari ritual melepas burung ini:

“Salah satu ritual utk buang hal-hal buruk. Biasanya dilakukan oleh yg shionya tjiong atau bertentangan di tahun tertentu. Mungkin yg di gambar ini shionya tjiong atau bertentangan dgn tahun ayam ( kebetulan next year adalah th ayam). Dari mana kita mengetahui shio kita bertentangan atau tjiong? Bisa minta daftarnya di klenteng tempat kita biasa sembahyang. Biasanya selain burung juga ada yg melepas ikan. Ada pula nanti ritual upacaranya yg dipimpin seorang pemuka agama…”.

Dari wisata ini saya jadi memperoleh banyak informasi dan pengetahuan baru, sehingga tidak hanya menikmati makanan yang enak-enak saja alias wisata kuliner saja.

 

Gereja St Maria de Fatima

Destinasi berikutnya adalah Gereja St Maria de Fatima yang lokasinya tidak jauh dari vihara Dharma Bhakti alias masih di Jl. Kemenangan juga. Sesampainya di lokasi saya disambut dengan ramah dengan bapak yang jaga diparkiran. Kami ditanya ingin beribadah atau ingin melihat-lihat/berkunjung. Saya sampaikan bahwa kami ingin melihat-lihat. Oleh si Bapak saya diantarkan ke dalam. Sebelumnya saya tanya, apakah kami tidak apa-apa jika masuk ke dalam? Si Bapak bilang, tidak apa-apa. Maka kamipun masuk ke dalam.

Suasana di dalam Gereja St. Maria De Fatima

Suasana di dalam Gereja St. Maria De Fatima

Di dalam ternyata sedang ada jemaat atau pengurus gereja yang sedang beres-beres. Ibu-ibu itu sepertinya sedang merapihkan atau bebenah settingan dekor di area depan atau mimbar gereja. Saya tidak tau persis nya sebab saya tidak mampir ke depan, yang bicara adalah teman-teman saya para wanita. Saya pikir sesama ibu-ibu akan lebih nyambung hehehehee dan nampaknya benar sih, mereka bisa cepat nge-blend, alias ngobrol dan ketawa-ketawa. Para ibu-ibu pengurus Gereja itu ramah dan welcome sekali dengan kami para pengunjung.

Selesai foto-foto dan liat-liat gereja St Maria de Fatima ini maka kami pamit pulang dan berterimakasih sudah boleh berkunjung dan diperkenankan liat-liat. Sebelum kami meninggalkan Gereja kami masih sempatkan diri untuk foto-foto dulu di area halaman Gereja.

 

Vihara Toasebio

Lanjut kunjungan kami diteruskan ke Vihara Toa Se Bio yang juga masih di Jl. Kemenangan. Harusnya Vihara ini yang pertama akan kami datangi. Namun karena saya ambil jalan memutar maka Vihara ini justru didatangi belakangan.

Seperti halnya dilokasi lain maka di Vihara ini kami juga langsung melihat-lihat dan tentu saja mengambil foto.

Di vihara ini saya bertemu dengan adik-adik mahasiswi dari Kampus UMN yang sedang mengerjakan tugas. Tugas mereka adalah melakukan wawancara kepada para pengunjung destinasi wisata di kawasan Chinatown dan menanyakan hal-hal terkait dengan kondisi Indonesia akhir-akhir ini. Mereka awalnya meminta teman saya untuk diwawancara, tapi teman saya tidak bersedia. Akhirnya saya yang bersedia untuk diwawancara mereka. Itung-itung saya sampaikan pandangan saya tentang kondisi Indonesia saat ini, masalah keberagaman dan kunjungan wisata kami hari ini. Semoga wawancara dengan saya itu dapat membantu mereka dalam memenuhi tugas perkuliahan mereka.

 

Candra Naya

Setelah puas di Vihara Toa Se Bio maka perjalanan kami siang itu kami lanjutkan ke Candra Naya. Kami harus kembali ke arah Vihara Dharma Bhakti untuk menuju ke Candra Naya. Kasihan juga Rido mulai capek dan demikian pula teman-teman. Perjalanan kita lumayan melelahkan juga hari ini.

Jalan Menuju Candra Naya

Jalan Menuju Candra Naya

Setelah berjalan lumayan capek maka kami sampai juga di Candra Naya. Bangunan bersejarah yang minggu sebelumnya saya sudah kunjungi juga dan saya masih sesali sampai sekarang karena harus menerima “dikangkangi” dua bangunan menara di kanan kirinya :( Candra Naya adalah bangunan cagar budaya yang menurut saya tidak selayaknya dipaksa “tenggelam’ diantara angkuhnya dua bangunan modern.

Sayangnya hari itu kami tidak bisa masuk ke dalam Candra Naya. Kata satpamnya hari itu Candra Naya tidak dibuka. Padahal minggu lalu saya datang dengan rombongan dari ITDP bangunan itu buka. Kata satpam yang berjaga disana karena minggu lalu yang datang adalah rombongan jadi Candra Naya di buka. Entah bener atau ngga saya juga ga yakin pasti, yang jelas ini menambah kejengkelan saya pada pengelola Candra Naya.

Untungnya kami masih bisa foto-foto di terasnya. Begitu juga di kolam bagian belakang. Teman-teman bisa puas untuk berfoto di area ini. Saya agak kecewa juga bawa teman-teman ke Candra Naya tapi ternyata tidak bisa masuk. Baru tau juga ternyata Candra Naya tidak dibuka secara bebas.

Pose di Depan Candra Naya

Pose di Depan Candra Naya

 

Maksi di Kopi Oey

Selesai dan puas foto-foto perut mulai lapar lagi, ternyata sudah waktunya jam makan siang. Seperti trip sebelumnya maka saya ajak teman-teman makan di Kopi Oey juga. Sebenarnya di lokasi Candra Naya ada restoran lain, tapi karena saya sudah familiar dengan Kopi Oey dari kunjungan sebelumnya maka saya ajak teman-teman untuk kesitu aja. Lain waktu jika berkunjung kesana lagi saya akan coba resto yang lain.

Kopi Oey di Candra Naya

Kopi Oey di Candra Naya

Kami lumayan lama juga di Kopi Oey selain untuk makan siang, kami juga beristirahat karena kaki pegel sudah jalan lumayan jauh dan juga ngecharge hape.

Foto yg Indah Karya mbak Yasinta Wirdaningrum

Foto yg Indah Karya mbak Yasinta Wirdaningrum

Sekitar pukul 13.00 kami membubarkan diri. Saya dan sist Natalia memisahkan diri dengan teman-teman yang masih asyik foto-foto di kolam Koi dibelakang. Saya dan Natalia jalan ke halte TJ Olimo dan naik TJ ke Stasiun Kota untuk naik Kereta ke Depok. Sayangnya perjalanan kita berdua pulang ke Depok agak terhambat di Stasiun Tebet karena ada gangguan pada saluran listrik di Stasiun Pasar Minggu Baru yang terkena batang pohon yang tumbang. Saya sampai rumah akibatnya sudah sore.

Hari itu saya hanya keluar uang untuk ongkos berwisata ke Chinatown di Jakarta cukup murah. Naik Kereta tiketnya Rp. 4000 dari Depok ke Stasiun Kota. Demikian pula pulangnya. Sedangkan tiket Transjakarta dari Stasiun Kota ke Glodok Rp. 3500,- demikian pula dari halte TJ Olimo ke Stasiun Kota. Ongkos yang sedikit lebih mahal adalah ongkos ojek online dari rumah ke stasiun Pondok Cina (saya naik kereta selalu dari stasiun pondok cina).

Secara umum wisata kuliner kami hari ini relatif murah dan terjangkau sekali. Tidak perlu biaya mahal untuk wisata kuliner ini dan lokasinya pun tidak terlalu jauh masih di Jakarta juga. Seru banget wisata ini, next kami akan jelajahi tempat lain.

 

Sampai Jumpa di wisata kami berikutnya …

 

 

Pose bareng dgn bus TJ seri vintage PPD

Jalan-jalan ke China Town di Jakarta Bersama ITDP

Hari Sabtu, tanggal 26 November 2016 saya diajak bro Tora (teman saya di Forum Diskusi Transportasi Jakarta) untuk ikut acara jalan-jalan mengunjungi daerah Pecinan dengan menggunakan Transjakarta. Nama acaranya  Site Visit Busway (SVB) – Culinary Edition “Down to Chinatown”. Penyelenggaranya adalah: ITDP (Institute for Transportation & Development Policy) bekerjasama dengan: Transjakarta, Kopi Oey, Mélu Culinary Tours dan Trafi.

Saya sangat tertarik sekali untuk ikut serta. Apalagi lokasi yang akan dituju adalah wilayah Pecinan di Jakarta yang sangat menarik untuk dikunjungi baik untuk wisata sejarah maupun kulinernya. Titik pertemuan (meeting point) untuk trip ini adalah di halte Transjakarta Bundaran Senayan pukul 07.30 WIB.

 

Persiapan

Saya janjian dengan bro Tora untuk bertemu langsung di titik kumpul. Tepat pada hari H saya sudah tiba pagi hari di halte Transjakarta Bundaran Senayan sebelum waktunya. Sehingga saya masih bisa melihat-lihat kondisi di sekitar halte Transjakarta tersebut. Tidak lama bro Tora pun tiba, saya dan bro Tora sempat ngobrol-ngobrol sebentar.

Tidak lama kemudian rekan-rekan dari ITDP dan Transjakarta serta Trafi.id pun tiba dilokasi juga. Kami langsung mengisi absen. Selain itu ada pembagian goodies bag yang jumlahnya terbatas, saya sendiri tidak dapat karena untuk satu komunitas hanya diberi satu.

Saya juga berkesempatan berkenalan dengan peserta trip lainnya. Salah satunya saya berkenalan dengan bro Tommy Godfried, teman dari bro Tora. Selanjutnya dalam perjalanan kali ini kami jadi sering ngobrol bertiga.

Walau saya tidak mendapat goodies bag karena tiap peserta mendapatkan sebuah kartu Jakcard edisi Vintage Series Transjakarta yang PPD. Saldonya saya cek lumayan juga Rp. 50.000,- :) Tapi yang paling bikin saya senang seri edisinya yang vintage PPD itu lho, yang keren banget.

Kartu Jakcard versi edisi Vintage PPD Transjakarta

Kartu Jakcard versi edisi Vintage PPD Transjakarta

Selesai dibagikan goodies bag dan kartu Jakcard TJ maka kita masih menunggu rekan-rekan lain yang belum datang. Total peserta yang ikut saya ingat-ingat ada sekitar 20 sd 30 orang. Namun dari semua yang terdaftar nampaknya tidak semuanya hadir.

Sebelum memulai Trip kita mendapat sambutan dari pihak ITDP dan juga diperkenalkan dengan seluruh panitia yang akan memandu perjalanan pagi ini.

Persiapan sebelum perjalanan di Halte TJ Bundaran Senayan. Foto Courtesy: http://www.itdp-indonesia.org/svbchinatown/

Persiapan sebelum perjalanan di Halte TJ Bundaran Senayan.
Foto Courtesy: http://www.itdp-indonesia.org/svbchinatown/

Oh ya kabarnya kami akan menggunakan bus TJ edisi PPD vintage series yang hanya ada 2 unit itu. Wah saya makin senang sebab saya belum pernah naik bus TJ edisi vintage tersebut. Kesempatan nih naik bus TJ edisi PPD vintage.

 

Bus TJ Vitage PPD dengan Ejaan Lama :)

Bus TJ Vitage PPD dengan Ejaan Lama :)

Sekitar pukul 08.15 kami memulai perjalanan dengan menggunakan bus TJ edisi PPD vintage tersebut. Rutenya sama persis melalui jalur TJ koridor 1 rute Blok M – Kota, hanya bedanya kami tidak berhenti di setiap halte :) Diatas bus pihak ITDP kembali perkenalkan diri dan juga menjelaskan tentang ITDP, kemudian pihak Transjakarta juga memberikan penjelasan terkait kegiatan ini disusul dengan Trafi.id yang menjelaskan mengenai aplikasi Trafi.

 

Tiba di Glodok

Sekitar pukul 08.45 kami sampai di Halte TJ Glodok. Disana kami disambut pihak Mélu Culinary Tours. Kemudian kami berjalan kaki menuju Gang Gloria, melaui kawasan pasar glodok yang sudah sangat terkenal.

Setelah berjalan sekitar 300 meter maka sampailah kami di gang Gloria yang terkenal itu :)

 

Surga Kuliner di Gang Gloria

Terdapat beragam kuliner di gang Gloria ini. Seperti Nasi Campur, Mie Ayam, Pempek, Soto Betawi Afung, kopi Tak Kie, Gado-Gado Direksi, Cakwe dll

Di Gang Gloria peserta disuguhi kopi Tak Kie yang legendaris dari tahun 1927 itu, dan juga merasakan Cakwe gang Gloria yang enak banget. Saya suka banget cakwe, sehingga saya terpikir untuk harus kembali lagi kesini.

Oh ya karena ini adalah kawasan Pecinan maka kuliner di wilayah ini tidak semuanya adalah makanan halal. Sebaiknya sebelum membeli bertanya dahulu. Mereka akan dengan senang hati menjelaskan mana yang halal.

Selain itu untuk yang tidak terbiasa dengan kondisi jajanan atau kuliner ala jalanan atau pasar seperti di kawasan gang Gloria ini, maka lokasi ini bukan tempat ideal buat anda. Kalo saya sih masih ada makanan yang saya bisa makan disini, seperti Cakwe yang masih panas baru diangkat dari penggorengannya. Saya sendiri tipe penggemar chinesse food ala restoran seperti Njun Njan dan lain sebagainya.

 

Petak Sembilan

Selesai makan di Gang Gloria kemudian sekitar pukul 09.30 kami melanjutkan perjalanan menyusuri kawasan Petak Sembilan. Kami berjalan menyusuri pasar tradisional yang menjual teripang dan beragam bahan makanan khas masyarakat Tionghoa lainnya.

Kawasan Pasar di Jl. Petak Sembilan

Kawasan Pasar di Jl. Petak Sembilan

Jalanan di Pasar di Petak Sembilan ini sudah di beton, namun seperti layaknya pasar tradisional selain toko-toko permanen terdapat pula lapak-lapak yang tidak permanen dan berada di jalanan. Saya sih tidak terlalu suka dengan pemandangan pasar di Indonesia. So perjalanan menyusuri pasar ini saya ingin segera saja saya lalui :)

Toko Mampank, namanya sama ama Desa di Depok

Toko Mampank, namanya sama ama Desa di Depok

 

Vihara Toasebio

Setelah menyusuri pasar dan gang-gang sempit dalam pasar Petak 9, tiba-tiba kami sudah berada di Jalan Kemenangan III atau jalan Toosebiostraat (nama jalan jaman Belanda). Persinggahan pertama adalah Vihara Taosebio. Di lokasi Vihara ini kita sibuk foto-foto dan mengamati kondisi sekitar Vihara. Saya sendiri tidak banyak mengambil foto. Lebih banyak liat-liat saja.

Vihara Toa Se Bio

Vihara Toa Se Bio

Konon Vihara Toasebio pernah menjadi saksi bisu dari pembantaian kolonialisme Belanda terhadap etnis Tionghoa di Angke pada tahun 1740-an. Selain itu Kelenteng ini pernah dibakar Belanda dan dibangun lagi tahun 1751. Sehingga jika dihitung sejak didirikan tahun 1751 maka klenteng ini sudah berusia 265 tahun.

Vihara Toa Se Bio

Vihara Toa Se Bio

 

Gereja St Maria De Fatima

Dari vihara Toasebio kita lanjutkan perjalanan ke Gereja Katholik Santa Maria De Fatima. Jaraknya dari vihara tidak terlalu jauh. Jalan kaki hanya sekitar 50 meter saja. Gereja ini unik karena aristekturnya bernuansa tionghoa.

Gereja St Maria De Fatima

Gereja St Maria De Fatima

untuk mengetahui informasi seputar gereja ini secara lebih detail bisa di buka di  http://www.santamariadefatima.org/

 

Vihara Dharma Bhakti

Dari Gereja Santa Maria de Fatima perjalanan dilanjutkan ke Vihara Dharma Bhakti.  Vihara ini dibangun pertama kali pada tahun 1650 dan dinamakan Kwan Im Teng. Kata Kwan Im Teng kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi klenteng.

Kelenteng ini dipugar pada tahun 1755 oleh Kapitan Oei Tji-lo dan diberi nama “Kim Tek Ie”. Nama Kim Tek Ie diubah menjadi Vihara Dharma Bhakti. Nama Indonesia hasil terjemahan dari Kelenteng Keutamaan Emas.

Pada hari Senin tanggal 2 Maret 2015 dinihari, Klenteng Kim Tek Ie mengalami kebakaran, diduga penyebab kebakaran berasal dari api lilin. Dalam kebakaran ini, bangunan utama beserta rupang-rupang ikut musnah terbakar, terkecuali rupang Kwan Im dan dua rupang lainnya yang berhasil diselamatkan.

Informasi tentang Vihara ini saya dapat dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kim_Tek_Ie

 

Berjalan menuju Candra Naya

Selesai dari Vihara Dharma Bhakti perjalanan dilanjutkan ke bangunan bersejarah yang menjadi cagar budaya yaitu Candra Naya. Sepanjang perjalanan saya dan bro Tora ngobrol dengan salah satu perwakilan Trafi dari Eropa yang sedang berkunjung ke Jakarta.

 

Chandra Naya

Sekitar pukul 10.50 kami sudah tiba di Candra Naya. Sebuah bangunan bersejarah yang menurut saya “dirusak” oleh pembangunan jaman. Bagaimana tidak “rusak” Candra Naya berada ditengah dua bangunan menara hotel. Kondisi bangunan Candra Naya ini mirip dengan bagunan khas di Pondok Cina yang harus berada ditengah bangunan sebuah Mall Margo City Depok. Sedih liatnya … :(

Foto Bersama di Candra Naya (Courtesy Tommy Godfried)

Foto Bersama di Candra Naya (Courtesy Tommy Godfried)

Di Candra naya ini kami semua langsung berpose untuk foto bersama. Kemudian dilanjutkan para peserta untuk mengambil foto-foto diseputaran Candra Naya.

Candra Naya adalah sebuah bangunan cagar budaya di daerah Jakarta, Indonesia, yang merupakan bekas kediaman Mayor Khouw Kim An 許金安, mayor Tionghoa (majoor de Chineezen) terakhir di Batavia (1910-1918 dan diangkat kembali 1927-1942), setelah Mayor Tan Eng Goan 陳永元 (1837-1865), Tan Tjoen Tiat 陳濬哲 (1865-1879), Lie Tjoe Hong 李子鳳 (1879-1895) dan Tio Tek Ho 趙德和 (1896-1908). Bangunan seluas 2.250 meter persegi ini memiliki arsitektur Tionghoa yang khas dan merupakan salah satu dari dua kediaman rumah mayor Tionghoa Batavia yang masih berdiri di Jakarta.Kediaman mayor Tionghoa lainnya yang masih ada ialah bangunan “Toko Kompak” di Pasar Baru, bekas kediaman Mayor Tio Tek Ho. Bangunan yang didirikan pada abad ke-19 ini merupakan salah satu dari 3 bangunan berarsitektur serupa yang pernah ada di Jalan Gajah Mada, yaitu Jalan Gajah Mada 168 milik Khouw Tjeng Po 許清波, yang merupakan gedung Tiong Hoa Siang Hwee 中華商會 (Kamar Dagang Tionghoa) dan kini menjadi gedung SMA Negeri 2 Jakarta, Jalan Gajah Mada 188 milik Khouw Tjeng Tjoan 許清泉, yang kini dikenal sebagai gedung Candra Naya itu sendiri, dan Jalan Gajah Mada 204 milik Khouw Tjeng Kee 許清溪, yang pernah digunakan sebagai gedung Kedutaan Besar Republik Rakyat Republik Rakyat TiongkokTiongkok. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Candra_Naya)

 

Lunch Kopi Oey

Sesudah puas mengambil foto di Candra Naya kemudian seluruh peserta berkumpul untuk makan siang di kedai Kopi Oey yang berada di lingkungan Candra Naya. Menu nya sudah dipilih peserta setelah dikirimkan pilihan melalui email beberapa hari sebelumnya.

Selesai makan siang maka acara perjalanan hari ini akan segera berakhir. Acara selanjutnya adalah menuju Monas untuk mengabadikan peserta dengan berfoto dengan latar bus Transjakarta vintage.

Peserta kemudian berjalan ke halte Transjakarta dekat Candra Naya yaitu halte TJ Olimo. Dari situ kami menunggu bus TJ khusus vintage series PPD yang memang sudah diarahkan untuk membawa peserta kembali ke halte Bundaran Senayan.

 

Transit di Monas

Sekitar jam 12.30 kami sudah sampai sekitar halte TJ Monas. Di halte ini bus kami berhenti dan kami pun turun untuk foto-foto dengan latar belakang bus TJ vintage series PPD.

Pose di Halte TJ Monas

Pose di Halte TJ Monas

Akhirnya kami pun berfoto bersama dengan latar belakang bus TJ vintage series PPD.
Pose dengan latar belakang bus Transjakarta edisi vintage PPD

Pose dengan latar belakang bus Transjakarta edisi vintage PPD

 

Hari itu saya sangat senang sekali bisa ikut serta dalam trip wisata ke Pecinan di Jakarta. Lokasi kunjungan tidak jauh masih di Jakarta, tapi lumayan banyak hal baru yang saya peroleh dari perjalanan ini. Terimakasih ke bro Tora yang sudah mengajak saya. Terimakasih kepada ITDP, Transjakarta, Kopi Oey, Mélu Culinary Tours dan Trafi.id yang sudah membuat acara ini dapat terlaksana. Semoga kita dapat bertemu lagi dalam kesempatan lain.

Liputan dari ITDP bisa dibaca disini http://www.itdp-indonesia.org/svbchinatown/