Posts

catkeu_input

Tips Membuat Catatan Keuangan Pribadi

Kali ini saya ingin men-share bagaimana saya mencatat keuangan pribadi. Saya ini termasuk orang yang sangat senang mencatat, mengkompilasikan, atau mendokumentasikan banyak hal. Termasuk salah satunya mencatat pemasukan dan pengeluaran keuangan saya.

Entah mengapa saya suka sekali dengan segala sesuatu yang tertata, terdata dan terarsip dengan baik. Selain rasanya memberikan kepuasaan tersendiri juga memberikan rasa tenang, senang dan puas bagi diri pribadi.

Salah satu yang saya suka catat adalah dalam hal keuangan, saya suka mencatat pemasukan dan pengeluaran saya. Selain itu saya juga suka menyimpan kwitansi, struk belanja, bon-bon, receipt dan lain-lain. Aktivitas ini mulai saya lakukan secara lebih sistematis sejak saya bekerja di tahun 2002. Hal itu mungkin karena selain saya sudah mulai memiliki pemasukan yang pasti juga karena lingkungan kerja saya di bank membuat saya semakin senang mencatat dan mengarsipkan.

Selain itu pencatatan keuangan ini sangat berguna buat saya pribadi dalam merencanakan dan mengalokasikan penggunaan dana saya setiap bulan. Selain itu ini juga salah satu bentuk transparansi pengelolaan keuangan diri saya, karena jika suatu saat saya perlu mempertanggungjawabkan keuangan saya, maka saya dapat pertanggungjawabkan semuanya dengan transparan. Dari catatan saya itu saya bisa mengetahui kemana uang saya dipergunakan dan darimana saja sumber nya, tidak ada yang disembunyikan.

Dalam mencatatkan keuangan saya itu, saya gunakan aplikasi Microsoft Excel. Saya memiliki rencana untuk membuat aplikasi khusus guna pencatatan keuangan ini, tapi waktunya belum ada untuk pelajari atau mengembangkannya. Jadi hingga kini saya masih gunakan saja yang sederhana dan mudah . Namun demikian file yang tersaji saat ini sudah merupakan bentuk penyempurnaan dan perbaikan dari tahun ke tahun.

 

Jika berminat untuk menggunakan file catatan keuangan tersebut, maka silahkan diunduh DISINI.

 

Selanjutnya bagaimana menggunakan file catatan keuangan ini?

Buka file Catatan Keuangan tersebut kemudian isi nama, Bulan dan Tahun periode keuangan yang ingin dicatat.

catkeu_input

 

Dalam sistem Catatan Keuangan yang saya kembangkan ini sebenarnya terdiri atas 2 bagian besar yaitu:
I. Posisi KEUANGAN dan
II. PENGELUARAN

Untuk Bagian I yaitu Posisi Keuangan terdiri dari 2 bagian yaitu:
A. Saldo Bulan Sebelumnya
B. Pemasukan

A. Saldo Bulan Sebelumnya pada intinya mencatatkan jumlah uang kas dan setara kas di bulan sebelumnya. Termasuk disini posisi catatan keuangan pada rekening di bulan sebelumnya, yang tercatat di akhir bulan bersangkutan (misalnya tanggal 30 atau 31). Khusus untuk Bulan Januari awal tahun, maka Saldo Bulan Sebelumnya menggunakan saldo posisi 31 Desember tahun sebelumnya.

Adapun untuk jumlah rekening yang akan dicatatkan dapat disesuaikan dengan jumlah rekening yang dimiliki. Jika masih diperlukan tambahan baris untuk rekening lain maka bisa ditambahan baris (row) baru.

Selanjutnya bagian B. Pemasukan, adalah mencatatkan sumber-sumber pemasukan yang diperoleh setiap bulan. Bisa berupa pemasukan tetap seperti Gaji dan bunga Bank (jika memiliki rekening tabungan), atau pemasukan tidak tetap  seperti honor dan lain-lain. Jika masih kurang dan terdapat sumber pemasukan lainnya, maka bisa ditambahan baris (row) baru.

catkeu_pemasukan

 

Untuk Catatan Keuangan per bulan di bagian II. PENGELUARAN, terdiri atas 6 pos pengeluaran, yaitu:
C. Rutin Rumah Tangga
D. Personal
E. Transport
F. Kesehatan
G. Debt/Hutang
H. Lain-Lain/Non Rutin

Dimana untuk  pengeluaran “C. Rutin Rumah Tangga” merupakan catatan pengeluaran untuk kebutuhan rumah tangga rutin setiap bulan. Isi nya dapat berupa pencatatan seperti pos Belanja Harian, SPP anak, Transport & makan Anak, Listrik, Telepon Rumah, Gaji Pembantu, Iuran Keamanan, Iuran Kebersihan, Belanja Bulanan dll yang tentunya pos tersebut dapat ditambahkan atau dikurangi sesuai kondisi anda masing-masing.

Saya membuat contoh dalam catatan keuangan ini untuk keluarga dengan istri dan anak. Sedangkan untuk saya sendiri yang masih lajang, tentu pos pengeluarannya makin lebih sederhana dan lebih simpel. Sehingga bagi yang lajang seperti saya bisa dikurangi jumlah pos-posnya.

Untuk pos Belanja Harian ini maksudnya adalah catatan atas pengeluaran rutin belanja rumah tangga harian seperti untuk kebutuhan masak. Di contoh saya masukkan belanja harian setiap harinya Rp. 100 ribu. Tentunya ini akan bervariasi di setiap keluarga dan juga berubah-ubah setiap harinya, tergantung belanjanya. Silahkan di input sesuai kondisi belanja sehari-hari di lajur kolom sebelah kanan catatan keuangan dibawah kolom “Belanja Harian”.

Mengapa saya buat ada kolom khusus? karena belanja setiap hari bisa berbeda jumlahnya. Sehingga untuk pos di catatan keuangan per bulan adalah hasil penjumlahan kumulatif dalam satu bulan.

Demikian pula untuk pos “Transport dan jajan anak” saya buatkan kolom serupa dengan Belanja Harian yang merupakan hasil penjumlahan kumulatif satu bulan dan akan masuk ke pos “Transport dan jajan anak”.

catkeu_pengeluaran

Untuk pos lain seperti SPP Anak, Listrik, Telepon Rumah, Gaji Pembantu dll menurut saya itu dilakukan sekali pembayaran, sehingga tidak perlu dibuat kolom seperti pos Belanja Harian dan Transport & jajan Anak.

bagi yang lajang biasanya ada yang tinggal di tempat kos atau ngontrak, saya biasanya memasukkan pos pengeluaran ini di bagian “C. Rutin Rumah Tangga”

 

Kemudian untuk bagian pengeluaran “D. Personal” adalah catatan pengeluaran untuk keperluan pribadi/diri sendiri. Misalnya adalah pos untuk Makan Siang, Belanja Kecil, Pulsa Ponsel, Zakat/Sadakah, Biaya Bank dan lain-lain.

Pos pengeluaran personal ini tentunya dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing. Anda dapat menambah atau mengurangi sesuai kebutuhan.

Khusus untuk pos pengeluaran makan siang, jika mungkin anda bekerja dan ada pengeluaran makan siang, karena pos ini bervariasi setiap hari maka kembali kita buat kolom di sebelah kanan yang merupakan penjumlahan dari pengeluaran makan siang setiap hari. Sehingga pos makan siang di catatan keuangan adalah penjumlahan atau sudah kumulatif selama sebulan.

Sedangkan untuk pos Ponsel tidak perlu di isi di kolomnya akan tetapi diisi di kolom SIM Card di bawahnya. Misalnya anda memiliki 2 SIM Card maka isikan masing-masing SIM Card berapa pengeluarannya. Nanti di Kolom Ponsel akan langsung menjumlahkan. Jika memiliki lebih dari 2 SIM Card atau misalnya SIM Card anak anda dibayarkan oleh anda, maka dapat ditambahkan baris baru untuk mencatatkan SIM Card yang lain.

catkeu_DE

Pos pengeluaran selanjutnya adalah “E. Transport”. Pos ini merupakan catatan yang terkait masalah transportasi atau kendaraan yang dimiliki. Komponen di dalam pos ini adalah pos Gaji Supir, Bensin, Parkir, biaya tol, Perawatan Cuci dll, Bengkel atau mungkin biaya tansportasi Umum.

Kembali semua pos tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan, Jika anda tidak punya supir maka pos tersebut dapat dibuang. Kemudian jika kendaraan yang dimiliki adalah sepeda motor tentunya tidak ada pengeluaran untuk Tol. Jika ada pengeluaran lain yang belum dimasukkan silahkan ditambahkan.

Khusus untuk Pos Transportasi Umum mengingat pengeluarannya adalah harian maka kembali lagi untuk dibuat kolom pencatatan harian agar dicatatkan per hari kemudian dijumlahkan selama satu bulan. Hasil penjumlahan selama satu bulan itulah yang akan masuk dalam pos Transportasi Umum.

 

Pos pengeluaran berikutnya adalah “F. Kesehatan”. Pos ini untuk mencatat pengeluaran terkait dengan kesehatan. Diantaranya biaya Dokter, pengeluaran untuk Obat-obatan / Vitamin, perawatan Gigi dan mungkin Premi Asuransi. Dalam contoh disini biaya BPJS Kesehatan saya asumsikan sudah ditanggung perusahaan, sehingga saya tidak masukkan disini.

Silahkan untuk melakukan modifikasi di pos ini, anda dapat menambahkan dan mengurangi pos sesuai kebutuhan.

catkeu_F

Bagian berikutnya adalah pos yang “sangat” penting yaitu “G. Debt/Hutang”. Pos ini mencatat pengeluaran untuk pembayaran hutang atau pinjaman yang dimiliki. Diantaranya bisa berupa Kartu Kredit, Pinjaman KTA. Cicilan Rumah, Cicilan Mobil dan lain-lain.

Ada pribadi yang tidak mau memiliki hutang atau tidak memiliki kartu kredit, dengan demikian pos untuk ini dapat dikosongkan saja. Akan tetapi dalam kehidupan seperti jaman sekarang ini, jarang sekali ada pribadi yang terbebas dari pinjaman atau hutang. Sehingga pos ini perlu dicatat dan menjadi perhatian serius.

Berdasarkan pengalaman saya dan referensi yang saya baca, pengeluaran untuk membayar hutang sebaiknya tidak boleh lebih dari 30% pendapatan/pemasukan. Dengan kata lain, sebaiknya dari pendapatan anda sebaiknya 30% dialokasikan untuk Simpanan atau saving.

catkeu_G

 

Pos pengeluaran terakhir adalah “H. Lain-Lain/Non Rutin “ dimana dalam pos ini menampung pencatatan pengeluaran di luar semua item yang sudah disampaikan sebelumnya. Selain itu sifat dari pengeluaran yang dicatat dalam pos ini bersifat non-rutin.

catkeu_H

 

Bagian terakhir adalah I. Total dari seluruh pengeluaran (C + D +E +F +G +H). Kemudian Total Pemasukan (B) dikurangi dengan Total Pengeluaran (I)  maka hasilnya adalah Saldo Bulan tersebut.

Sementara untuk mendapatkan Saldo total dana yang dimiliki hingga akhir bulan tersebut maka Saldo Bulan Sebelumnya (A) + Pemasukan (B) – Total Pengeluaran (I).

 

Jangan lupa untuk memastikan perhitungan sudah benar, terutama untuk persentase, maka setiap angka persentase disetiap sub total per pos harus selalu sama seperti berikut ini:

catkeu_sama

 

Demikian file catatan keuangan saya yang dibuat secara sederhana, semoga dapat membantu dan berguna bagi anda yang ingin mencatatkan keuangannya dengan lebih sistematis dan terarsip dengan baik.

 

 

 

BPJS Ketenagakerjaan Ruko ITC Depok

Mancairkan BPJS Ketenagakerjaan di Kota Depok

Gara-gara kantong saya lagi kempes, saya jadi teringat bahwa saya masih punya uang JHT di Jamsostek (dulu namanya Jamsostek) atau sekarang jadi BPJS Ketenagakerjaan. Saya ingat terakhir bekerja di Bank Saudara sekitar bulan September 2011, dan saat itu JHT Jamsostek saya tidak langsung dicairkan. Sehingga kalo dihitung2 di tahun 2015 ini sudah mengendap sekitar 4 tahun :)

Terakhir saya mencairkan uang JHT disekitar tahun 2010. Saat itu saya baru saja berhenti kerja di Bukopin. Kemudian sebelum kerja di Bank Saudara saya cairkan JHT itu sekaligus menutup akun Jamsostek saya tersebut.

 

Lokasi mencairkan

Saya perlu pelajari kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan di Depok itu lokasinya ada dimana? Apakah masih seperti dulu atau sudah pindah ? sebab terakhir saya ngurus klaim JHT kan sudah 5 tahun lalu atau tahun 2010.

Setelah saya cek di http://www.bpjsketenagakerjaan.go.id/kanwil/904/KANWIL-JAWA-BARAT.html ternyata diketahui dari website tersebut bahwa alamat kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan kota Depok berada di:

DEPOK     JL. MARGONDA RAYA NO. 56 KOMPLEK RUKO ITC DEPOK NO. 19 – 20, DEPOK, DEPOK 16431, TELP: 021-77215101 s.d 02, FAKS: 021-77215103 s.d 04

Oh ternyata lokasinya masih sama dengan 5 tahun lalu alias belum pindah…

Kantor BPJS Ketenagakerjaan ITC Depok

Kantor BPJS Ketenagakerjaan ITC Depok

 

Syarat mencairkan

Sekitar awal Desember 2015 saya menuju ke kantor cabang BPJS ketenagakerjaan Kota Depok. Saya datang sekitar jam 9 pagi. Ternyata dalam sistem yang ada sekarang ini, kita tidak bisa datang begitu saja. Antrian yang ada saat itu sudah penuh dan sudah diatur sejak lama.

Jadi kita diharuskan untuk mendaftar dulu ke Satpam yang ada di depan pintu masuk kantor cabang tersebut, tuliskan nama, alamat, instansi terakhir bekerja dan no HP. Menurut Satpam yang bertugas, saya yang daftar pada awal Desember ini akan dipanggil melalui sms untuk diproses sekitar tanggal 29 Maret 2016…. Ehh buseettt…

Saya membayangkan prosesnya masih kayak tahun 2010 dulu, datang aja trus bisa proses hari itu juga. Ternyata sekarang sudah harus daftar dulu dan tunggu dipanggil.

Bayangan saya untuk dapat uang cash secara cepat pun sirna :)

Akhirnya saya daftarkan diri dalam buku register di meja pak Satpam itu, sambil meminta list persyaratan yang harus dipenuhi ketika nanti datang dipanggil untuk diproses.

List dokumen yang diminta sebagai persyaratan untuk mengajukan klaim JHT adalah:
1. Formulir JHT (F.5) yang telah diisi (ini diperoleh dan diisi nanti ketika dipanggil sesuai tanggal undangan untuk hadir)
2. Kartu Peserta (Asli)
3. KTP (Asli dan Foto Copy)
4. Kartu Keluarga (Asli dan Foto Copy)
5. Surat Keterangan Pemberhentian dari Perusahaan (Asli dan Foto Copy)
6. Buku Tabungan a/n Tenaga Kerja (Asli dan Foto Copy)
7. NPWP untuk saldo di atas 50 juta Rupiah (saya belom sampe segitu saldonya :D )

Akhirnya saya pun pulang menunggu panggilan di bulan Maret sesuai informasi dari pak Satpam.

 

Hari yang dinanti :)

Tanggal 15 Februari 2016, sehari setelah Valentine’s Day (haiyaahh…), saya menerima SMS yang membuat saya gembira… SMS itu dari kantor BPJS Ketenagakerjaan Kota Depok. Intinya saya diminta hadir tanggal 17 Februari 2016 dengan membawa dokumen lengkap untuk di proses.

Tanggal 17 Februari 2016 saya sudah meluncur ke TKP jam 9 pagi. Disana saya diminta oleh Satpam untuk menunjukkan SMS saya sebagai bukti telah dipanggil…. eh busee… masih kagak percaya yak gue dipanggil hari ini :) Untung tuh SMS belom saya buang, coba kalo sudah saya delete? Gimana coba??

So lesson learned dari hal ini…jangan cepet2 buang sms di inbox anda… sekalipun kadang itu sms menyakitkan dari mantan #Eeyyaaa…. simpen aja dulu, siapa tau bisa jadi bukti kalo lagi dibutuhkan.

Setelah saya tunjukkan SMS tersebut kemudian pak Satpam itu memberikan saya formulir JHT (F.5) untuk diisi. Formulir itu saya isi semua, dan saya kembalikan ke pak Satpam dengan disertai dokumen persyaratan lengkap.

Oh ya ada yang perlu kiranya disiapkan juga yaitu Materai. saya tidak tau kalo ada formulir yang harus dibubuhi materai. Saya tidak bawa materai, sehingga saya beli di Satpam disitu yang ternyata dia siap sedia atau jual materai, tentu harganya sudah berubah untuk materai Rp6000 sudah menjadi Rp8000. Jadi ada baiknya buat anda jika siapkan materai terlebih dahulu.

Setelah itu saya menunggu untuk dipanggil lagi. Saya menunggu di halaman luar di depan Ruko kantor cabang BPJS Ketenagekerjaan Kota Depok. Saya heran kok kita nunggu panggilan di luar emangnya ga ada ruangan untuk nunggu di dalam?

Ternyata saya menunggu untuk pengecekkan dokumen doang, setelah itu baru dapat nomor antrian dan bisa masuk ke dalam untuk antri. Jadi kita antri 2 kali…. :( Untuk pengecekan dokumen ini saya nunggu lumayan lama, kayaknya sejam lebih deh. Saya ampe bosen dan hampir ke abisan batere Handphone.

Setelah menunggu lama, akhirnya saya dipanggil, dokumen saya dinyatakan lengkap dan saya akan diproses berikutnya. Saya diberi nomor antrian 75. Ampuuunn masih antri lagi …. hmmmmm….

Saya liat jam, dikit lagi jam makan siang, ya udah saya pikir lebih baik saya tinggal makan siang dulu deh. Kebetulan Ruko kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan itu kan masih satu Komplek ama ITC Depok, maka saya cari makan siang di ITC aja.

Makan siang nyantai, setelah selesai masih sempet mampir liat2 DVD di ITC. Kemudian balik lagi lah ke kantor cabang BPJS tadi. Sekitar jam 1 an panggilan masih dinomor 50-an. Ya udah saya tunggu aja di luar.

Oh ya kenapa saya tunggu di luar? karena ruangan tunggu di dalam sempit banget dan saya sudah tidak kebagian kursi buat duduk menunggu. Akhirnya saya duduk diluar, sambil nunggu dipanggil.

Sekitar nomor antrian no 60 sekian saya mulai masuk, kursi didalam juga ada yang kosong. Ada 3 meja Customer Service yang tersedia, namun petugas yang melayani hanya 2 orang saja, sepertinya yg 1 tidak ada atau tidak masuk kerja. Saya menunggu sampai akhirnya giliran saya pun tiba.

Antrian di Customer Service

Antrian di Customer Service

Pas giliran saya dipanggil, teryata saya dilayani oleh mas yang di meja tengah. Mas tersebut melakukan beberapa konfirmasi atas beberapa hal dalam formulir. Mas itu tidak terlalu ramah sih, namun dia mencoba untuk becanda dengan saya, sayangnya saya udah ga mood untuk bercanda. Apalagi candaan si mas itu garing banget.

Dia tanya: “oh dulu kerja di Bank Saudara? Saudara nya siapa? Saudara nya mas?” Saya diem aja, males melayani candaannya. Jujur aja saya udah bete dan males ama prosedurnya yang bertele-tele dan banyak antri, plus kantornya sempit banget. Belum lagi candaannya selain garing, orangnya juga ga enak banget buat becanda. Saya bener2 males ngobrol ama dia, jadi ngomong seperlunya aja.

Tidak lama selesai proses dengan mas itu, dia katakan uang akan ditransfer ke rekening maksimal berapa hari kerja gitu saya lupa. Ya sudah setelah semua diproses saya pun pulang….

Tanggal 19 Februari 2016 ternyata uang sudah masuk ke rekening saya. Ternyata cepet juga untuk proses pencairan ke rekeningnya, yang lama dan melelahkan adalah proses klaim ke kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan nya saja.

 

Saran untuk KC BPJS Ketenagkerjaan Kota Depok

  • Sebaiknya BPJS Ketenagakerjaan Kota Depok segera mencari dan mempunyai kantor baru yang lebih representatif. Dalam artian yang lebih besar dan lebih memadai. Sehingga orang yang mengurus BPJS Ketenagakerjaan bisa lebih nyaman.
  • Proses administrasi agar dipersingkat dan dipermudah. Selain banyaknya dokumen yang harus dibawa, juga pemeriksaan dokumen seharusnya bisa dipersingkat. Sehingga antrian tidak perlu sampai dua kali.
  • Jumlah Petugas juga sebaiknya ditambah. Sehingga antara pengunjung dan petugas juga berimbang. Masa dari dulu jumlah pengunjung semakin banyak atau terus nambah tapi yang melayani tetap segitu-segitu aja.

Sekarang adalah eranya pelayanan yang berkualitas, jangan mentang-mentang BPJS Ketenagakerjaan itu keharusan dan ga ada yang lain lagi (mirip monopoli), maka pelayanan seperti sudah “given” dan jalan gitu-gitu aja tanpa inovasi dan peningkatan. Ini bukan eranya pelayanan ala PNS jaman dulu.

Kunci utama usaha jasa adalah Pelayanan, pelayanan yang buruk akan sangat berpengaruh kepada bisnis. Apalagi masyarakat sekarang semakin kritis dan cerdas.

 

 

 

Logo IBS

Kuliah Pasca Sarjana MM di STIE IBS

Sudah sejak lama saya ingin kuliah pasca sarjana terutama mengambil jurusan manajemen atau hukum. Tapi waktu dan biaya belum memungkinkan. Sehingga keinginan saya itu saya tunda lama sekali. Saya lulus S-1 tahun 2000 dan sampai tahun 2013 saya belum pernah kuliah lagi. Artinya 13 tahun saya sudah meninggalkan kampus. Walaupun demikian selama 13 tahun tersebut banyak training atau pelatihan yang saya ikuti dan manfaat nya saya pikir tidak kalah dengan bangku kuliah.

Sejak saya bekerja di Badan Regulator PAM DKI Jakarta di tahun 2012 saya bertekad untuk kuliah lagi. Saya pikir waktunya sudah tepat dan tabungan saya juga sudah mencukupi untuk membayar biaya kuliah. Namun saya mesti pelajari dulu suasana bekerja dan loading pekerjaan di BRPAM ini, sehingga baru pada tahun 2013 saya memutuskan untuk mendaftar kuliah.

Saat itu saya terpikir untuk langsung mengambil kuliah Magister Hukum, akan tetapi kampus pilihan saya adalah Universitas Indonesia di Salemba dan Universitas Gajah Mada cabang Jakarta, yang semuanya berlokasi jauh dari kantor dan tempat tinggal saya. Sehingga saya memutuskan untuk mengambil kuliah lain yaitu Magister Manajemen dengan pertimbangan berikut:
1. Lokasi perkuliahan tidak jauh dari kantor dan rumah tinggal
2. Biaya Kuliah terjangkau
3. Status kampus berkualitas
4. Jurusan yang ditawarkan sesuai dengan minat
5. Waktu kuliah tidak mengganggu kerja

Berdasarkan pertimbangan tersebut maka saya melakukan browsing via internet dan media lainnya seperti koran dan majalah. Hasilnya saya menemukan website kampus IBS di http://www.ibs.ac.id. Kampus ini menurut saya sangat pas dengan kriteria pilihan saya, karena:

 

Lokasi Kampus
Lokasi kampus berada di Jalan Kemang Raya, artinya jika saya pulang dari kantor di Pejompongan (saat itu saya belum kost) ke Depok, maka jalan menuju ke Kampus itu searah dengan jalan saya menuju pulang ke rumah di Depok. Saya tadinya ingin kuliah di Universitas Indonesia, tapi kelas Pasca Sarjana mereka di Salemba. Arah ke Salemba itu macet sekali di sore hari, dan tidak searah ke Depok. Pilihan lain kuliah di Perbanas di Kuningan, wah ini lagi! Kuliah di Kuningan sore hari sih bisa stress duluan kena macetnya. Saya terbayang bisa terlambat kuliah. Pilihan lain adalah Kuliah di Atmajaya Semanggi, kampus ini deket banget ama kantor saya, tapi jika selesai kuliah jam 21.00 WIB, maka saya masih jauh lagi harus pulang ke rumah di Depok. Kasian ama pak Pardi supir saya. Memang akhirnya pilihan jatuh ke Kampus IBS di Kemang Raya ini. Jika saya kuliah sore, maka saya masih bisa kejar dari Pejompongan, walaupun macet di Perempatan Kemang (McDonald Kemang) tapi masih bisa terkejar lah, dan terbukti selama kuliah disana saya tidak pernah terlambat. Pulangnya jam 21.00 WIB jarak ke Depok sudah tidak terlalu jauh lagi, sudah tinggal separuh jalan saja.

 

Biaya Kuliah
Biaya Kuliah Pasca Sarjana Magister Manajemen di STIE IBS ini setelah saya bandingkan termasuk murah dan pembayarannya lumayan fleksibel. Jika dibandingkan dengan kampus lain yang menyelenggarakan program MM seperti:
- Universitas Indonesia yg bisa sampai 100 jutaan
- Prasetya Mulya sekitar Rp. 116.500.000 (http://pmbs.ac.id/admissions/Tuition_Fee)
- Atma Jaya Jakarta sekitar Rp. 39.900.000 (http://atmajaya.ac.id)
- Perbanas sekitar Rp. 21.000.000 sd 40.000.000 (http://sps-perbanas.ac.id/index.php?pilih=hal&id=34)
Biaya Kuliah di STIE IBS hanya Rp. 35.000.000 selama 4 Semester dan dapat diangsur 4 kali @Rp 8.750.000 per semester. Jika dibayar lunas sekaligus maka akan mendapatkan potongan sebesar Rp. 2.500.000 atau bisa dibayarkan perbulan menjadi Rp. 1.500.000 / Bulan (4 Semester). Silahkan cek di link ini http://www.ibs.ac.id/index.php?content=info-daftars2

 

Status Kampus
Status Kampus adalah faktor yang tidak kalah penting. Untuk pasca Sarjana jurusan Manajemen rata-rata setiap kampus ter-akreditasi “B” sepertinya. Saya lupa detail dari status setiap universitas atau kampus lainnya. Kampus STIE IBS ini setelah saya cek saat saya mendaftar masih belum terakreditasi, tapi dalam proses pengurusan. Hanya saja saya tau bahwa STIE IBS tahun 2010 berdasarkan Surat keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor: 98/D/O/2010 diberi ijin menyelenggarakan program studi S2 Magister Manajemen. Saya agak nekat juga untuk memilih kampus ini karena belum terakreditasi. Tapi untuk program S-1 nya terakreditasi “B”. Tapi saya tidak salah juga karena pada tahun 2013 prodi MM, mendapatkan akreditasi B dari BAN-PT dan sedang ditingkatkan menjadi A (informasi: http://www.ibs.ac.id/sejarah.php).

Akreditasi BAN PT

Akreditasi BAN PT. MM STIE IBS Terakreditasi “B”

 

Jurusan yang ditawarkan
Jurusan yang ditawarkan saat saya mendaftar saat itu di STIE IBS adalah Magister Manajemen dengan 4 Konsentrasi yaitu:

  • Manajemen Keuangan Perbankan
  • Manajemen Risiko
  • Manajemen Pemasaran
  • Manajemen SDM

Namun saat artikel ini saya buat di STIE IBS konsentrasi nya terbagi menjadi:

  • Manajemen Perbankan (Konvensional)
  • Manajemen Perbankan (Syariah)
  • Manajemen Marketing
  • Manajemen Risiko

Lihat : http://www.ibs.ac.id/mm_over.php

 

Waktu Perkuliahan
Waktu kuliah ini juga sangat penting. Enaknya waktu saya mendaftar dulu perkuliahan di STIE IBS itu Jumat Sore dan Sabtu pagi sampai sore. Namun dari brosur yang saya terima di tahun 2015 waktu perkuliahannya lebih menarik lagi, yaitu:
- Kamis/Jumat jam 18.00 – 21.00 WIB di Gedung YPPI Pancoran
- Jum’at jam 18.00 – 21.00 WIB di Kampus Kemang
- Sabtu jam 08.00 – 16.00 WIB di Kampus Kemang

 

Sejarah IBS
STIE IBS berdiri tahun 2004 sebagai pengembangan dari Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) sebuah lembaga yang banyak memberikan pelatihan di bidang perbankan. LPPI sendiri sudah ada sejak tahun 1950-an. Nama LPPI sempat mengalami beberapa perubahan, dimulai dari Akademi Bank, Pendidikan Tinggi Ilmu Keuangan khususnya perbankan (PTIKP), Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) dan Institut Bankir Indonesia (IBI). Namun sejak tahun 2004 lembaga ini kembali melakukan kegiatannya dengan nama LPPI.

 

Persyaratan Masuk
- Nilai TOEFL minimal 500 (Diserahkan sebelum ujian Thesis)
- Memiliki ijazah S1 dari semua jurusan dengan IPK minimal 2.75 *)
- Lulus tes Wawancara
*) Bagi calon mahasiswa yang memiliki IPK < 2.75 disyaratkan memiliki pengalaman kerja 2 tahun.
dan bagi calon mahasiswa yang tidak memiliki latarbelakang pendidikan Ekonomi diwajibkan mengikuti matrikulasi.

 

Prosedur Pendaftaran
Mengisi formulir secara online atau menyerahkan formulir pendaftaran dengan biaya sebesar Rp.300.000,- beserta kelengkapannya:
- Fotocopy Ijazah Strata 1 (S-1) dan Transkrip yang dilegalisir (cap basah) masing-masing sebanyak 2 (dua) lembar.
- Pas photo berwarna ukuran 4×6 dan 3×4, masing-masing sebanyak 2 (dua) lembar.

 

Biaya Pendidikan
- Total biaya pendidikan sebesar Rp. 35.000.000,- selama 4 (empat) semester, dapat diangsur 4X @ Rp.8.750.000,– per semester.
- Untuk pembayaran lunas sekaligus mendapat potongan sebesar Rp.2.500.000,–
- dapat dibayarkan perbulan menjadi Rp. 1.500.000 / Bulan (4 Semester)
Paket biaya pendidikan di atas sudah termasuk :
- Biaya total perkuliahan 42 SKS
- Bimbingan penulisan dan sidang Tesis
- Peminjaman buku wajib dari perpustakaan
- Jaket Almamater
- Coffee Break, snack, makan malam (jumat) dan makan siang (sabtu)

 

MENDAFTAR KULIAH
Saya mendaftar akhir Maret 2013. Saat itu Sekretaris Program MM masih ibu Dr. Paulina Harun dan Ketua Program MM adalah ibu Dr. Suhartati. Perkuliahan di mulai pada Bulan April 2013. Untuk saya yang sudah tidak pernah merasakan “bangku” perkuliahan sejak tahun 2000, maka rasanya sangat antusias dan bersemangat sekali. Angkatan saya terdiri dari 12 orang dalam 1 kelas. Semua mahasiswa usianya jauh lebih muda dari saya. Saya adalah siswa yang paling “tua” di kelas. Rata-rata mereka baru lulus S-1 dan langsung mengambil S-2. Sebelum dilakukan perkuliahan terdapat kelas matrikulasi yang harus diikuti oleh seluruh Mahasiswa (terutama saya yang bukan berlatar belakang dari ekonomi manajemen).

 

KURIKULUM PERKULIAHAN
Perkuliahan Magister Manajemen di STIE IBS ini terdiri dari 42 SKS yang terbagi atas:

Semester I:

  • Business Law and Business Ethic
  • Strategic Management
  • Operational Management
  • Business Research Methods

Karena saya masuk kuliah di Bulan April maka materi Semester I ini adalah materi yang sebenarnya adalah materi Semester II. Kami ikut Kuliah dengan teman-teman yang  kuliah dan masuk di bulan Oktober

Semester II:

  • Organizational Behavior & Leadership
  • Corporate Financial Management
  • Marketing Strategic
  • Global Human Resource Management

Materi ini adalah materi kuliah Semester I dan kami digabungkan dengan Mahasiswa angkatan berikutnya yang masuk kuliah di bulan Oktober.

Semester III:

  • Assets and Liability Management
  • Management of Bank Operational
  • Bank Risk Management
  • Banking Finance Research & Seminar

Materi perkuliahan di Semester ini adalah materi Kuliah yang sudah penjurusan sesuai Konsentrasi yang diambil. Karena saya mengambil konsentrasi Manajemen Keuangan Perbankan maka saya mendapat 4 Mata kuliah tersebut.

Semester IV: Thesis

Thesis ini adalah 6 SKS. Saya mulai mengerjakan Thesis di bulan Oktober dan selesai di bulan Maret. Alhamdullilah selesai sesuai jadwal.

 

Saya senang bisa kuliah di STIE IBS, selain sesuai dengan kriteria pilihan sebagaimana disebutkan diatas, saya suka IBS karena :
- Kampusnya asri dan hijau walau berada di pusat kota Jakarta yang panas dan sudah penuh dengan gedung beton.
- Lokasinya berada di daerah elite dan banyak hiburan. Jadi kalo hari Sabtu pulang kampus bisa langsung pergi ke restoran dan mall di sekitar kampus. Atau kalo hari Jumat malam pulang kuliah bisa dugem dulu (Walaupun hampir ga pernah bisa karena sudah sibuk kuliah).
- Gedungnya bagus dan masih baru, jadi walaupun biaya nya murah tapi kampusnya tidak murahan.
- Jaman saya kuliah dulu, uang kuliah sudah termasuk mendapat buku pegangan kuliah yang resmi berbahasa Inggris. Angkatan berikutnya sudah tidak ada lagi sepertinya (karena angkatan saya sepertinya angkatan promo). Selain itu juga mendapat makan malam (Kuliah Jumat Malam) dan makan siang (kuliah Sabtu Siang).

 

Senang bisa berkuliah di STIE Indonesia Banking School (IBS) dan lebih senang lagi karena saya bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu.

 

 

 

Kamar dan Tempat Tidur

Kost di Griya Salam – Pejompongan

Sejak awal 2014 saya rasakan jalanan menuju dan dari arah Jakarta di pagi dan sore hari kok rasanya makin macet. Terutama sejak MRT mulai dibangun di Jakarta. Saya tinggal di kawasan Depok sementara kantor saya di daerah Pejompongan. Jam masuk kantor saya jam 07.30 WIB, jadi saya pergi dari rumah sekitar jam 05.30 WIB. Biasanya jam 07.00 atau 07.15 saya sudah sampai di Pejompongan, tapi sejak kemacetan yang semakin parah maka saya sampai Pejompongan pernah jam 09.00 WIB. Walaupun saya ga nyupir tapi kasian aja ama pak supir nya berjam-jam, saya nya juga kadang ga betah di tengah kemacetan apalagi kalo kebelet pipis ;)

Saya kemudian terpikir untuk nge-kost saja di sekitar kantor saya. Apalagi disekitar kantor saya banyak kost-kostan dan dikenal sebagai surganya kuliner di Jakarta. Daerah Pejompongan dan Benhil ini saingan ama daerah Tebet untuk urusan lokasi kost dan kuliner. Sebelumnya saya pernah Kost di sekitar Tebet, tapi kostnya dirumahan lho ya, bukan kost yg model bisa check-in hehehehe :)  Saya Kost di Tebet Barat sekitar tahun 2010-an. Pernah juga sebelumnya kost di cikoko – pengadegan – pancoran dan sekitarnya, dekat ama kantor saya yang lama di MT Haryono Pancoran. Tahun 2002 saya pernah kost di Cikini deket RS PGI ketika saya pendidikan ODP di UI Salemba. Saya juga pernah kost di Bandung tahun 2011, yaitu Kost di Jalan Buah Batu, deket Kantor Pusat Bank Saudara di Buah Batu dulu (sebelum pindah ke Jl. Diponegoro Bandung). Pengalaman Kost saya justru setelah saya selesai kuliah dan saat bekerja, karena saya kuliah justru deket ama rumah :D

Akhirnya saya bulatkan tekad untuk kost saja karena macetnya makin hari makin parah. Saya cari kostan prioritas yang ga jauh dari kantor, karena saya ga pengen keluar budget ekstra untuk ongkos jalan. Kalo sudah kost masa keluar anggaran lagi buat transpor pikir saya. Untungnya deket kantor saya banyak kostan. Salah satunya adalah Hotel & suites Le-Green cuma kosan ini termasuk kelas wahid harganya. Saya selain ga sanggup budgetnya, ternyata tidak ada room yang available juga dalam waktu dekat.

 

Kostan Griya Salam – Jl. Salam Pejompongan Benhil

Kebetulan staf di kantor ada yang pernah browsing atau survei langsung kostan disekitar kantor, jadi saya gunakan saja database yang ia miliki. Ternyata persis di depan kantor saya ada gang, namanya Jl. Salam. Di situ katanya ada kostan. Saya pun meluncur ke TKP. Yang jaga saat itu ada mas Kiki namanya ama istrinya saya lupa. Saya langsung tertarik dengan Kostan ini yang ternyata namanya Kostan Griya Salam. Kostan ini memiliki 17 kamar. Saya tidak mengecek sebelumnya dari website atau mungkin saya mengecek di website tapi saya lupa. Seinget saya hanya mengandalkan catatan dari teman saya. Ternyata ketika saya menulis artikel ini kostan Griya Salam ini ada di link ini http://www.kostjakarta.com/tag/pejompongan/

Saat itu karena saya belum browse di internet saya mendapat penjelasan sebagai berikut, yang kurang lebihnya sama dengan di link http://www.kostjakarta.com/tag/pejompongan/

  • Harga Sewa kostan saat itu per bulan mulai: Rp 2.200.000, Rp 2.700.000, Rp 2.900.000 dan Rp 3.200.000 (harga ini perlu dicek lagi updatenya)
  • Deposit uang Rp. 1.000.000,00 (akan dikembalikan jika kita selesai kost dan meninggalkan kostan)
  • Penghuni Kost Untuk: Pria dan Wanita
  • Ukuran Kamar: Mulai 12 m2, 16 m2, 17,5 m2 dan 19,5 m2
  • Sekamar Boleh Berdua: Ya (tergantung ukuran kamar)
  • Biaya Tambahan Sekamar Berdua: Rp 400.000 per bulan (harga ini perlu dicek lagi updatenya)
  • Fasilitas: Tempat Tidur Springbed, TV LED 23’, AC, Kamar Mandi Dalam (Shower Air Panas/Dingin, Kloset Duduk, Washtafel), Lemari Pakaian, Rak Dinding, Meja Belajar dan Kursi, Tempat Sampah Kamar dan Kamar Mandi.
  • TV bisa dengan TV Cable tapi hanya di kamar tertentu dan ada biaya tambahan (saat saya kost sekitar Rp. 100 ribu per bulan saat terakhir saya kunjungi bulan Juli 2015 sudah menjadi Rp. 150.000,-).
  • Fasilitas Umum: Pantry bersih, Kulkas, Dispenser, Meja Makan, Mesin Cuci, Setrika, Area Jemur Baju, Ruang Tamu, Area Santai penghuni, Free WiFi Connection (saat saya kost menggunakan First Media sama dengan TV Cable).
  • Parkir Mobil: terbatas seingat saya hanya bisa nampung 4 (empat) mobil dan dikenakan biaya tambahan per bulan yang saya lupa besarnya karena saya tidak bawa mobil.
  • Parkir Motor: Ada. Tidak dikenakan biaya tambahan untuk penghuni kost.
  • Untuk jasa Cuci & setrika per bulan Rp. 250.000 (tidak dibatasi jumlah pakaiannya)
  • E-mail: griya.salam@yahoo.co.id
  • Telp: 021-5731934

 

Saya langsung kepincut (jatuh hati) ama Kostan Griya Salam ini. Cuma sayangnya waktu itu kamar yang tersisa dan paling murah adalah kamar A7 dengan harga saat itu Rp. 2.200.000,00 sementara kamar lain ada di sebelahnya tapi harganya Rp. 3.200.000,00 karena besar dan ada kulkas di dalamnya. Selain itu ada kamar kosong lainnya diatas, saya males kalo mesti naik-naik lagi keatas (walaupun pada akhirnya saya sempat pindah juga ke kamar di lantai atas).

 

Ini adalah penampakan kostan Griya Salam tersebut, foto dibawah ini diambil dari dari website http://www.kostjakarta.com/tag/pejompongan/

 

Sedangkan foto-foto ini saya ambil dengan smartphone android saya:

Ruang Tengah

Ruang Tengah

Dapur Bersama

Dapur Bersama

Selain melakukan pembayaran sewa kost, penyewa kamar kost juga harus mematuhi tata tertib dan mengisi form surat perjanjian yang telah ditetapkan oleh pemilik kost. Jadi di Griya Salam ini lumayan lengkap aturannya. Selain itu kita juga harus menyerahkan foto copy KTP kepada pemilik kost.

 

Kamar A7 (Kamar yang tidak ada sirkulasi udara & deket dapur)

Saya putuskan untuk mengambil kamar A7. Kamar ini adanya di pojok, ada jendelanya tapi langsung ke dapur (Foto Dapur Bersama adalah foto diatas). Sehingga saya pastikan tidak akan pernah saya buka jendela ini. Saya sebenarnya kurang suka kamar ini karena tidak ada cahaya matahari yang masuk, dimana buat saya cahaya matahari adalah sangat penting (buat berfotosintesa hehehehe). Kamar itu kalo ga ada cahaya matahari masuk akan lembab rasanya. Apalagi kalo pake AC.

Tapi saya pikir ya sudahlah, untuk sementara gapapa. Nanti jika kamar yang ada sinar matahari nya ada yang pindah penghuninya maka saya akan tukar kesana. Akhirnya saya putuskan kasih DP untuk kamar ini, karena kabarnya sudah ada yang mau atau naksir juga ama kamar ini.

Kamar A7 Kamar pertama saya

Kamar A7 Kamar pertama saya

Pulang dari liat kostan Griya Salam dan bayarin DP saya masih sempatkan diri ke Jl. Pejompongan Baru yaitu satu gang disebelahnya. Saya liat-liat lokasi kostan di Jalan ini, tapi sayangnya Kostan yang ada terlalu kostan banget bentuknya. Artinya Kamar kamar saling berhadapan kayak di asrama. Beda dengan di Griya Salam tadi yang kostannya berbentuk rumah dimana ada ruang tamu, ruang makan, ada dapur dan lain-lain, serta bangunannya yang masih baru. Sedangkan di kostan ini penghuni kos dikasih akses jalan sendiri berupa tangga, semua kamar di lantai 2. Ada kamar yang kosong sih, tapi ya itu tadi saya ga mood liat pengaturan kamarnya. Di Kamar disediakan tempat tidur, lemari dan meja. Kostan ini bangunan lama dan perabotannya juga lama. Ya sudah saya sekedar liat aja kostan ini, saya sudah fixed di kostan Griya Salam.

Peta Lokasi Kostan Griya Salam di Pejompongan Bendungan Hilir

Peta Lokasi Kostan Griya Salam di Pejompongan Bendungan Hilir

 

Saya masuk kamar Kostan ini resmi tanggal 2 Mei 2014. Saya langsung betah juga dikosan ini, karena fasilitasnya nyaman dan penghuninya juga enak. Tidak berisik seperti kostan di Grogol (dulu saya pernah ngerasain beberapa hari, karena kostan nya mahasiswa maka berisik banget kalo malam, mereka setel musik dan ngobrol). Saya langsung akrab dengan mas yg jaga Mas Kiki dan istrinya, mereka berdua baik dan sangat akrab.

Seperti yang saya sudah sampaikan, karena kamar saya deket dapur alias memang didepannya dapur maka kondisinya sedikit berisik. Terutama jika ada yang masak. Selain itu Galon air minum ada di depan kamar saya. Jadi siapa saja yang ambil air minum dan lalu lalang di dapur saya jadi mendengar. Saya sih tidak terlalu terganggu sekali ama hal ini, sebab saya kalo sudah tidur juga kebluk banget. Yang paling mengganggu buat saya adalah lembabnya kamar ini. Saya coba buka jendela kalo saya tinggal ngantor, tapi kan si mbak dan penghuni lain suka masak pas saya ga ada, kamar saya jadi bau masakan (bisa-bisa pas pulang kantor kamar saya bau ikan asin atau apalah).

Awalnya saya tidak langganan TV Cable, saya pake antena TV yang biasa dan sudah tersedia di dinding, tapi ternyata gambarnya jelek sekali. Terutama saat itu saya butuh Metro TV untuk nonton berita dan Trans7 untuk nonton OVJ :) Wah ga beres nih kalo gini, akhirnya saya ngobrol ama mas Kiki, katanya ada 1 dekoder yang masih available dan dia mau cek apakah ke kamar saya kabel TV nya udah siap dan tinggal colok dengan saluran pembagi di atas. Ternyata beberapa hari kemudian kata mas Kiki semuanya beres, okay. Jadi saya bisa pake TV Cable. Berguna juga sih TV cablenya, sebab saya ga bete kalo pulang kantor ga ada yang dikerjain. Terutama untuk tau berita perkembangan terkini di Metro TV.

Saya jalani Bulan Mei, Juni dan Juli  (pertengahan akhir) di kamar A7 ini. Oh ya satu yang enak dari kamar ini adalah ketika bulan Juni/Juli adalah bulan Ramadhan :) Karena saya di depan Dapur maka saya tidak pernah kesiangan untuk Sahur :) Sahur jadi bangun dan gampang siapinnya karena dapur pasti ada aja yang berisik nyiapin sahur. Kemudian pas menjelang Lebaran mas Kiki dan Istrinya pulang ke kampung dan tidak kembali lagi. Mereka digantikan oleh Mbak Jum dan Mas Bambang sebagai penjaga yang baru.

Biaya per bulan selama saya di kamar A7 ini adalah:
- Sewa Kamar Rp. 2.200.000,00
- Cuci dan Setrika Rp. 250.000,00
- TV cable Rp. 100.000,00
Total biaya per bulan adalah Rp. 2.550.000,00

Saya makin lama tapi makin tidak betah dengan kamar ini karena terasa semakin lembab dan berjamur. Saya merasa tidak ada sirkulasi udara yang sehat di kamar ini. Serba salah, dibuka udara yang masuk udara dapur, ditutup jadi pengap. Saya jadi teringat dengan kamar kostan saya di Tebet dulu yang tidak ada jendelanya, sehingga kamar saya pengap sekali hanya mengandalkan AC saja. Anehnya setelah saya pergi ada penghuni baru seorang wanita mahasiswi yang betah sekali menghuni kamar ini :) Saya sih nggak kuat deh …

 

Kamar B2 (Kamar yang salah desain, Kamar mandi terlalu besar)

Pertengahan Juli menjelang Lebaran saya dapat kabar kalo kamar di lantai 2 yaitu kamar B2 kosong. Si penghuni sebelumnya sudah pindah. Saya buru-buru liat kamar ini seperti apa. Wah saya senang sekali dengan posisi kamar ini karena posisinya di depan, jadi jendelanya langsung ke arah jalan Salam, matahari pagi juga bisa masuk ke dalam. Aduhh senangnya saya dengan kamar yang ada sinar matahari seperti ini :) Sebelum pindah ke kamar B2 ini Mas Kiki periksa dulu apakah jaringan TV Cable bisa dipindah dari kamar A7 ke B3 ini. Ternyata bisa, sehingga saya bisa pindah ke kamar ini.

Saya akhirnya ambil kamar B2 ini dan siap-siap pindah di akhir Juli. Harga kamar ini per bulannya memang lebih mahal yaitu Rp. 2.700.000,00 kamarnya pun lebih sempit. Hal ini disebabkan penataan dan lay-out desain kamarnya yang menurut saya salah. Salahnya adalah kamar mandinya terlalu besar sehingga banyak mengambil ruangan dan lemari pakaian menempel pada dinding sisi kamar mandi bukan ke dinding tembok yang membatasi dengan kamar sebelah. Sehingga kamar ini terasa lebih sempit. Dibanding kamar saya di A7 kamar di B2 ini jauh terasa lebih sempit.

Tapi lagi-lagi saya suka dengan sirkulasi udaranya. Jika pagi hari matahari menembus tirai jendela dan saya pasti akan bangun. Kemudian suara pedagang yang lewat di jalanan juga pasti akan terdengar, saya bisa memanggil mereka dengan mudah, tinggal turun aja untuk selesaikan transaksi :) Jika saya pergi ke kantor jendela sedikit saya buka, tirai juga saya buka dan aman karena ada teralisnya. Kamar saya juga sirkulasi udaranya jadi enak, kasur dan bantal kena matahari pagi. Inilah kelebihan kamar saya yang baru ini :)

Memang kamar B2 ini lebih mahal dari kamar A7 dan sedikit sempit tapi saya lebih senang dan betah di kamar ini. Gapapa lah lebih mahal yang penting sirkulasi udaranya sehat. Udaranya selalu berganti setiap hari. Saya tinggal di kamar ini sejak akhir Juli, sampai bulan Februari (sekitar 7 bulan). Di kamar inilah saya menyelesaikan Tesis saya untuk S2 MM saya di IBS. Saya sayang sekali dengan kamar ini, jika saja dulu desainnya tidak salah dan ukurannya sedikit lebih besar maka ini akan jadi kamar paling sempurna di kostan Griya Salam.

Biaya per bulan selama saya di kamar B2 ini adalah:
- Sewa Kamar Rp. 2.700.000,00
- Cuci dan Setrika Rp. 250.000,00
- TV cable Rp. 100.000,00
Total biaya per bulan adalah Rp. 3.050.000,00

 

Kamar A3 (Kamar paling top & saya paling suka)

Februari 2015 saya denger berita kamar A3 di lantai bawah kosong, penghuni sebelumnya adalah 2 orang pramugari yang berbagi kamar dengan menyewa kamar tersebut. Keduanya pindah barengan sehingga kamar A3 ini langsung kosong. Saya langsung melihat kamar ini untuk observasi. Kamar A3 ini terletak di lantai bawah sisi depan. Kamar ini memiliki jendela yang langsung ke parkiran mobil di depan rumah. Juga langsung bisa melihat ke jalan Salam. Sehingga sinar matahari juga masuk ke kamar ini.

Saya langsung jatuh hati ama kamar A3, inilah kamar yang cocok sekali dengan keinginan saya. Saya pun langsung menghubungi ibu pemilik kos (Ibu Evelyn) untuk kabarkan saya pindah kamar (lagi). Kamar ini memiliki kelebihan dibanding kamar B7 dalam hal tata lay-out desainnya, dimana kamar A3 ini terkesan jauh lebih luas. Tidak seperti kamar B2 yang lebih sempit. Seperti sebelumnya maka saya pindahan lagi ke kamar bawah :) Di kamar ini saya betah banget, karena sama seperti kamar B7 sinar matahari pagi masuk ke kamar dan bisa buka jendela untuk sirkulasi udara. Namun walaupun ada teralis besi, saya tidak menempatkan barang berharga dekat jendela karena ngeri takut hilang jika dikait melalui jendela oleh orang yang lewat depan kostan yang tidak berpagar.

Sewaktu pindah ke kamar A3 maka jaringan TV Cable saya juga pindah lagi dari kamar B2 ke kamar A3 ini. Karena sudah tidak ada Mas Kiki maka kali ini Bu Evelyn pemilik kost panggil teknisi dari First Media. Tapi ga ada masalah yang berarti, semuanya lancar-lancar saja. Akhirnya saya kembali pindah ke kamar baru saya.

Oh ya kamar A3 ini tidak berbeda harganya dengan kamar B2. Saya bayar per bulan Rp. 2.700.000,00 secara umum saya puas dengan kamar ini. Hanya sedikit kekurangannya adalah:

  1. Di tembok pojok kamar sisi depan terdapat rembesan bocoran yang sedikit mengganggu saya. Kemudian di kamar mandi terdapat tetesan bocoran dari saluran air kamar diatas kamar saya. Sudah beberapa kali ditambal namun hasilnya kurang maksimal.
  2. Pintu kamar saya memiliki rangka (frame) yang berdempetan dengan pintu kamar sebelah (Kamar A2). Sementara penghuni kamar sebelah saya jika menutup pintu kamarnya itu cenderung dilepas / slamming, akibatnya semua terasa bergetar. Saya sebel banget kalo penghuni sebelah kamar saya pulang kantor atau ada di kosan, pasti tembok saya bergetar semua. Suaranya itu keras dan mengganggu saya.

Biaya per bulan selama saya di kamar A3 ini adalah:
– Sewa Kamar Rp. 2.700.000,00
– Cuci dan Setrika Rp. 250.000,00
– TV cable Rp. 100.000,00
Total biaya per bulan adalah Rp. 3.050.000,00

Sayangnya saya tidak lama di kamar ini, saya masuk Maret 2015 dan saya selesai kerja di kantor saya bulan Juni 2015. Sehingga tanggal 11 Juni 2015 saya sudah meninggalkan kostan Griya Salam. Sedih juga rasanya tinggalkan kostan ini, banyak kenangan dan hal menarik selama saya kost di Griya Salam ini. Beberapa hal menarik dari kost saya kali ni adalah:

  1. Ini adalah kost saya untuk yang ke 7 (tujuh) kalinya dalam hidup saya, dimana kost saya pertama kali di Cikini tahun 2002.
  2. Kost saya kali ini adalah rekor yang paling lama durasinya yaitu sejak Mei 2014 hingga Juni 2015 (sekitar 1 tahun), yang paling lama sebelumnya di Tebet yaitu pada November 2009 s/d Juni 2010 dan di Bandung sejak Maret s/d Agustus 2011.
  3. Kost saya di Griya Salam ini juga tercatat sebagai kost saya yang paling banyak pindah kamar, saya pindah kamar sebanyak 3 (kali), sebelumnya di Bandung dan di Cikoko Jakarta saya pindah kamar 2 (dua) kali saja.
  4. Kost saya di Griya Salam adalah kostan saya yang paling mahal dibanding kostan saya sebelumnya. Sebelumnya kostan saya standar saja fasilitasnya, ada AC tapi tidak sampai semahal ini. Kost di kawasan Benhil memang cukup mahal.

Saya akhirnya pergi meninggalkan Kostan Griya Salam ini dengan begitu banyak kenangan.

 

Oh ya selama saya Kost di Griya Salam bukan berarti saya tidak mencari kostan yang lain atau tidak membandingkan lagi. Justru beberapa kali saya ingin pindah ke kostan yang ada disekitar situ juga, namun setelah dipertimbangkan saya urungkan niat untuk pindah kost.


Kosan Lux Limboto

Saya tertarik dengan kosan di Jl. Limboto persis depan SMKN 19 Jakarta sudah sejak lama. Kostannya mewah dan dari luar terlihat ekslusif seperti rumah mewah. Kostan ini memiliki basement untuk parkir mobil. Sewaktu saya berkunjung saya semakin sadari bahwa kostan ini memang mewah beneran. Ada lift untuk naik kesetiap lantai.

Saya pernah survei ke lokasi kostan ini, di kostan ini dijaga oleh beberapa pembantunya. Saat itu ada dua kamar yang kosong, biasanya kostan ini selalu penuh. Fasilitas di kostan ini tidak terlalu berbeda dengan di Kostan Griya Salam. Hanya saja satu yang paling berbeda adalah “Listrik bayar sendiri“. Jadi disetiap kamar ada meteran yang terdapat token pulsa untuk PLN. Selain itu cuci dan setrika juga bayar lagi, tapi ini dibatasi per stel pakaian per hari. Beda dengan di Griya Salam yang bebas cuci berapa stel tidak dihitung.

Selebihnya saya liat sama saja, ada fasilitas ruang tamu yang lebih luks daripada Griya Salam, ada juga dapur kering, parkir mobil juga tersedia namun bayar tambahan juga, kemudian fasilitas air dengan heater, wi-fi dan TV cable. Semuanya saya lihat mirip dengan Griya Salam hanya sedikit lebih mewah saja. Sewaktu saya berkunjung harga kamar yang ditawarkan adalah Rp. 3.500.000,00 belum termasuk Listrik tadi, cuci & setrika dan parkir mobil.

Saya sih senang dengan kostan ini, tapi kok harganya belum masuk dengan hitungan kantong saya.

 

Kostan Jl. Danau Limboto

Berikutnya adalah kostan di Jl. Danau Limboto namanya saya lupa tapi lokasinya di depan Perpustakaan Fadli Zon. Sayangnya kostan ini setelah saya cek bentuknya seperti Asrama sekali, dimana masih-masing kamar berhadapan dan tidak ada jendela dengan pencahayaan atau sirkulasi luar. Ada jendela namun karena masing-masing kamar berhadapan maka jendelanya hanya di sisi akses jalan di antara kamar saja. Jika dilihat di foto, jendela di Kostan luks diatas sedikit lebih baik, karena jendela nya bisa mendapat udara dan cahaya dari luar.

Selebihnya saya lihat kasur dan perabotannya juga sudah lumayan lama. Jika dibandingkan dengan Griya Salam tetep lebih baru Griya Salam. Kelebihannya kostan ini kamarnya berukuran besar-besar. Selain itu harganya Rp. 2.800.000,00 sudah termasuk semua. Termasuk juga kamar dibersihin setiap hari.

Karena faktor sirkulasi udara dan cahaya, serta kurang baru perabotannya maka saya urungkan niat saya untuk pindah ke kostan ini.

 

Demikian cerita saya tentang kostan di daerah Pejompongan, mungkin bisa jadi referensi bagi mereka yang ingin kost di daerah ini.

banner

Cerita Pengalaman Operasi Mata (Katarak) “Phacoemulsification”

Saya sejak kecil sekitar kelas 4 SD (sekitar tahun 1986) sudah pakai kacamata. Waktu itu saya sudah mengeluhkan tidak bisa melihat tulisan di papan tulis. Ibu saya ketika itu tidak mendengarkan keluhan saya karena dianggapnya hanya latah ikut-ikutan ingin pakai kacamata seperti teman-teman saya yang sudah pakai kacamata duluan. Tapi akhirnya saya dibawa Bapak & Ibu saya ke dokter mata di Klinik Pala Farma Jl. Mawar Perumnas Depok 1. Hasil analisa dokter mata saya minus beneran bukan latah. Untuk mata kanan minus 2,5 dan kiri minus 3,25. Pulang dari dokter Bapak saya sedih karena saya harus pakai kacamata, dan saya lebih sedih lagi karena mulai saat itu kehidupan saya berubah (lebayyy mode ON :) )

 

minus tinggi

Minus tinggi

 

MATA SAYA YANG MINUS TINGGI …

Sejak saat itu saya jadi sulit dalam beraktivitas, karena minus saya termasuk langsung tinggi (kanan -2,5 dan kiri -3,25). Bangun tidur jadi harus langsung ambil dan pake kacamata. Saya sangat aktif sebelumnya, hobby saya maen sepak bola, berenang, main sepeda, maen layangan dll pokoknya aktif kesana kemari. Akibat pakai kacamata maka saya menjadi sulit beraktivitas seperti berolahraga dll. Pokoknya memakai kacamata itu amat sangat tidak menyenangkan. Anehnya penglihatan saya semakin dewasa makin memburuk. SD kelas 6 mata saya menjadi kanan -3 dan -5. Kemudian SMP meningkat menjadi mata kanan -5 dan -7. Di SMA semakin parah mata kanan saya -7 dan kiri -9. Lulus SMA mata kanan saya -9 dan yang kiri -11. Di Bangku kuliah juga minus saya tidak berhenti, mata kanan menjadi -11 dan kiri -13. Hingga akhirnya saya sudah bekerja (usia sudah diatas 25 tahun) minus saya mulai stabil di angka kisaran kanan -11 dan kiri -13. Walaupun demikian sampai usia 37 tahun kemarin, saya cek mata saya masih naik minusnya menjadi kanan -12.25 dan kiri -14, tapi saya memakai kacamata tetap dengan ukuran kanan -12.00 dan kiri minus -13.75.

Minus ku

Minus ku

Memakai kacamata itu sedih banget lho. Membatasi gerak dan aktivitas kita. Apalagi dulu cita-cita saya ingin menjadi pemain sepak bola. Selain itu yang bikin saya stress, jaman saya masih kecil, tahun 80-90 an harga kacamata dan lensa itu masih mahal. Belinya kudu di optik yang belum semenjamur sekarang. Kacamata dan lensa itu baru mulai murah ketika muncul pusat perbelanjaan ITC di tahun 2000 -an. Sejak era ITC itu kacamata menjadi lebih terjangkau. Saya juga lebih mudah membeli kacamata, apalagi minus saya juga makin tinggi sehingga lensa harus ditipisin kalo ga ditipisin bisa tebel banget kayak pantat botol.

Saya ingat jaman saya kecil, saya tidak bisa dengan mudah ganti frame (bingkai) kacamata :( Kacamata masih barang mewah, apalagi jaman saya SD-SMP-SMA kehidupan keluarga saya lagi susah. Akibatnya saat SMA saya mesti nunggu lungsuran kacamata dari om saya yang kerja di Luar Negeri (kebayang kan  frame ukuran dan model untuk orang tua dipake ama remaja, kayak apa diwajah saya? :) ). Atau kalo ibu ada sedikit rejeki lebih saya bisa dibeliin atau ganti kacamata. Dulu sering banget saya benci ama mata saya dan benci ama keadaan ini, benci harus berkacamata dan benci karena ga bisa beli.

Saat saya masih sekolah harga lensa kontak saat itu masih belum terjangkau. Selain itu perawatannya merepotkan. Tante saya pake softlens. Buat cewe sepertinya softlens lebih cocok, tapi kalo buat cowo jangan harap deh! Ga telaten merawat nya dan merepotkan. Saya baru pake softlens ketika sudah bekerja. Itupun tidak berlangsung lama, saya bosan dan mata saya tidak terlalu cocok dengan softlens karena mata saya cenderung kering, kurang becek (Padahal saya doyan banget makan timun lho… #apasih??) :) Jadinya softlens hanya betah dipake beberapa bulan saja atau dipake saaat saya ada acara penting, selebihnya saya balik lagi pake kacamata.

Persoalan lain dengan minus yang tinggi, walopun lensa sudah ditipiskan tetap saja akan tebal di sisi pinggirnya. Tebalnya lensa juga jadi problem dengan frame nya, saya tidak bisa pake frame kacamata yang hanya setengah saja bingkainya yang saat ini sedang trend. Saya harus pake bingkai yang full mengelilingi lensa. Selain itu lensa yang tebal mengakibatkan selalu melebihi tebalnya bingkai. Jadi kalo dilihat dari sisi samping pasti keliatan kalo lensa nya tebal. Saya tidak pernah punya frame (bingkai) kacamata yang sama dengan tebalnya lensa, selalu lensa lebih tebal dari bingkai. Selain itu saya tidak bisa menggunakan sun-glasses kecuali dengan menggunakan soft-lens. Karena sun-glasses hanya bisa sampai minus 6. Minus yang lebih dari itu tidak bisa diakomodir oleh sun-glasses.

Saya sih ga merasa dengan berkacamata penampilan saya jadi jelek, toh dengan kacamata saya jadi “sedikit” “terlihat” pintar (padahal otaknya cabul) :D Saya masih pede dengan kacamata saya yang tebal. Tapi yang saya sedih karena saya ga bisa beraktivitas seperti apa yang saya inginkan. Bahkan cita-cita saya sewaktu kecil jadi pemain sepak bola harus saya kuburkan sejak awal. Selain berkacamata saya juga berbadan kecil dan kurus sehingga memang tidak bisa jadi olahragawan :(

Masih ga percaya kalo minus saya tinggi?? liat aja foto berikut ini …

minus
Halah bilang aja mau narsis lagi heheheh  :)

 

MIMPI SAYA UNTUK LASIK

Saya lupa tahun berapa ada teknologi LASIK masuk Indonesia, yang jelas begitu tau Lasik rasanya pengen banget di Lasik. Ternyata harganya mahal banget. Selain itu minus mata saya belum berhenti masih nambah terus. Dari informasi/bacaan yang saya pelajari katanya belum bisa di LASIK. Udah gitu masih banyak orang yang belum yakin dengan teknologi LASIK. Saya pribadi juga masih ragu, apalagi teknologi ini kan masih baru, kita belum tau efek samping, efek depan dan efek belakangnya :)

Tapi yang paling krusial dalam menentukan saya akan LASIK atau tidak adalah masalah DUIT :) Karena MUAHAL banget buat saya dan saya tidak punya uang yang berlebih, maka untuk itu saya mulai menabung untuk bisa LASIK. Dengan harapan jika nanti rejeki sudah terkumpul saya ingin di LASIK dan terbebas dari kacamata. Selama menunggu tabungan saya cukup, saya pelajari dulu pengalaman orang-orang yang sudah menjalani LASIK. Sehingga saya punya informasi yang cukup dan makin yakin untuk di LASIK.

Artikel tentang pengalaman orang lain yang sudah menjalani Lasik yang saya jadikan referensi diantaranya adalah:
https://matalasik.wordpress.com/2011/07/13/catatan-lasik/#more-3
http://www.ilmuterbang.com/blog-mainmenu-9-60730/blog-umum-mainmenu-82/745-pengalaman-menjalani-tindakan-lasik
Terimakasih saya ucapkan kepada para penulis blog tersebut yang bisa menjadi referensi saya dalam memutuskan untuk di LASIK.

 

BUKAN LASIK TAPI “PHACOEMULSIFICATION”

Desember 2014 saya merasa waktunya sudah tiba. Celengan saya sudah bisa dipecahin dan saya siap untuk di LASIK. Berbekal artikel di blog tentang pengalaman orang-orang yang sudah melakukan LASIK, juga browsing sana sini maka pilihan saya tetapkan untuk di LASIK di JAKARTA EYE CENTER (JEC). Selain itu saya tetapkan juga dokter mata yang saya pilih adalah Dr. Johan A. Hutauruk, SpM. Pemilihan ini saya lakukan hanya berdasarkan browsing saja, saya tidak memiliki referensi dari siapapun. Dari hasil penelusuran saya, sepertinya Dr. Johan ini cukup kooperatif dan komunikatif dengan pasiennya.

Tanggal 20 Desember 2014 saya menuju JEC cabang Kedoya, karena saya kos di Pejompongan jadi saya pikir lebih dekat dan gampang ke Kedoya. Seingat saya sebelumnya melalui telepon saya sudah booking untuk konsul dengan dr. Johan. Beliau ada di Kedoya setiap Senin dan Jumat jam 09.00-11.00 WIB. Saya datang ke JEC sendiri. DI JEC Kedoya saya diterima petugas receptionist untuk di data dan ditanya sudah janji dengan dokter siapa? Karena saya pasien baru maka sekaligus membuat kartu pasien JEC.

Dari situ saya di arahkan ke Lantai 3 (kalo gak salah) untuk tunggu giliran konsul ke dokter. Sebelum dipanggil untuk konsultasi dengan dokter saya dipanggil untuk periksa mata di ruang BDR (Basic Diagnostic Room). Selesai periksa di BDR saya kembali menunggu dipanggil untuk konsul dengan dr. Johan. Tidak lama kemudian saya dipanggil untuk konsultasi dengan dr. Johan.

Kesan saya pertama bertemu dr. Johan beliau ramah dan komunikatif dengan pasien. Setelah saya sampaikan maksud tujuan saya konsul yaitu untuk operasi LASIK, beliau langsung periksa mata saya. Dari hasil pemeriksaan beliau diketahui bahwa lensa mata saya sudah rusak dan keruh, dimana bagian tepi-tepinya itu sudah keruh berwarna keputihan. Saya diperlihatkan kondisi lensa mata saya di komputer hasil pemotretan dengan alat sambil dijelaskan dengan baik oleh dr. Johan. Saya kemudian disarankan untuk menjalani tindakan PHACOEMULSIFICATION dan bukan menjalani LASIK.

Waduh apa pula Phacoemulsification ini? saya sempat bingung. Penjelasan singkat dr. Johan tindakan Phacoemulsification ini adalah tindakan untuk mengganti lensa mata saya yang sudah rusak dengan lensa baru. Tindakan ini lazimnya dilakukan kepada mereka yang matanya Katarak. Sehingga bisa dibilang mata saya selama ini katarak. Dengan tindakan ini menurut dr. Johan selain saya bisa menghilangkan katarak juga bisa mengurangi minus di mata saya dengan menggunakan IOL Master. Dokter juga menjelaskan kemungkinan minusnya tidak bisa hilang sama sekali atau 0 (nol) dan sebagai kompensasinya mata saya akan ada plus nya.

Saya lumayan happy denger penjelasan ini artinya saya masih punya harapan tidak pakai kacamata lagi atau minimal minus saya jadi kecil :) saya diberi resep vitamin untuk diminum sambil sambil menunggu kapan saya akan menentukan waktu untuk di operasi phacoemulsification ini. Oh ya biaya tindakan Phacoemulsification ini adalah Rp. 13.750.000,00 / mata. Harganya lumayan yah … untuk tarif operasi di JEC selengkapnya bisa di cek di link ini http://jec.co.id/services/refractive-surgery-service/tarif-operasi-katarak

Untuk konsultasi pertama ini biaya yang saya keluarkan adalah sebesar:
- Konsul dokter dan periksa Rp. 430.000,00
- Vitamin saya tebus setengah saja Rp. 120.000,00
Total biaya yang saya keluarkan adalah Rp. 550.000,00

 

CARI TAU TENTANG “PHACOEMULSIFICATION”

Di rumah saya cari tau apa itu Phacoemulsification. Kok rasanya aneh di telinga saya yang sudah familiar dengan LASIK. Saya kunjungi laman website JEC tapi saya tidak temukan tentang Phacoemulsification ini (tepatnya saya yang salah mencarinya). Saya googling ga nemu, karena saya dengernya operasi ini adalah “Veco” jadi saya salah googling :) Akhirnya saya email saja pak dr. Johan, eh dibalas oleh beliau… beruntung sekali beliau mau melayani pasien di luar jam praktek dan tengah kesibukannya. Email saya di jawab oleh beliau yang mengkoreksi bukan Veco tapi Phaco. Plus saya diberikan link untuk cari tau tentang Phacoemulsification ini.

Email dari pak dr. Johan

Email dari pak dr. Johan

Dr. Johan ini memang sangat informatif, saya mengkonfirmasi untuk kedua kalinya melalui email terkait minus saya yang akan hilang dengan tindakan phaco ini dan berikut biaya nya, beliau masih berkenan menjawabnya.

Email dari dr. Johan yg ke 2

Email dari dr. Johan yg ke 2

Dari email dr. Johan tersebut saya jadi bisa browsing untuk cari tau apa itu Phacoemulsification. Penjelasan di wikipedia bahwa:

“Phacoemulsification refers to modern cataract surgery in which the eye‘s internal lens is emulsified with an ultrasonic handpiece and aspirated from the eye. Aspirated fluids are replaced with irrigation of balanced salt solution, thus maintaining the anterior chamber, as well as cooling the handpiece.

The term originated from phaco- (Greek phako-, comb. form of phakós, lentil; see lens) + emulsification.[1]

http://dictionary.reference.com/browse/Phacoemulsification

Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Phacoemulsification

Phacoemulsification

Phacoemulsification

Sementara setelah saya cari di laman JEC, maka diketahui bahwa:

“Teknologi fakoemulsifikasi sendiri kini telah disempurnakan dengan apa yang disebut Cold Phacoemulsification evolusi dari teknologi fakoemulsifikasi konvensional, dimana jarum gelombang ultrasonik tidak lagi menimbulkan panas yang dapat menyebabkan iritasi pada mata pasien dan sayatan juga sangat kecil sehingga pemulihan menjadi lebih cepat. Lalu apa yang menjadi kelebihan “Cold Phacoemulsification“? Prosedur katarak menjadi sangat efisien, cepat, dan menurunkan resiko terjadinya panas yang sering diakibatkan atau ditimbulkan oleh mesin-mesin katarak konvensional. Perlu diketahui apabila terjadi luka bakar, penyembuhan menjadi terhambat dan ada kemungkinan timbulnya silindris di kemudian hari. Luka pada mata pasien akan terbuka dan yang seharusnya tidak memerlukan jahitan menjadi harus dilakukan jahitan. Dengan Cold Phacoemulsification, sayatan hanya sebesar (1,8 – 2,0 mm), sehingga prosedur operasi tidak lagi memerlukan jahitan. Cold Phacoemulsification adalah teknologi yang sangat membantu para dokter melakukan tindakan secara tepat dan cermat, sehingga membuat waktu operasi menjadi lebih cepat dengan tingkat komplikasi yang sangat minimal. Prosedur pemasangan lensa tanam pengganti lensa katarak dimasukkan dengan cara dilipat.”

Sumber: http://jec.co.id/services/refractive-surgery-service/cataract/

Masih dari laman tersebut, diketahui pula bahwa gejala terjadinya Katarak adalah:
1. Penglihatan buram atau berkabut, bahkan sampai tidak bisa melihat
2. Peka terhadap sinar atau cahaya
3. Sering ganti kacamata, karena ukurannya mudah berubah
4. Pada keadaan terang, mata terasa silau
5.
Penglihatan diruang gelap lebih jelas dibandingkan di ruang terang.
6.
Kadang penglihatan pada suatu mata menjadi dua (ganda)

Pantas saja saya selama ini dari 6 gejala tersebut memang mengalami 4 hal diantaranya yaitu:
1. Peka terhadap sinar atau cahaya
2. Sering ganti kacamata, karena ukurannya mudah berubah
3. Pada keadaan terang, mata terasa silau
4. Penglihatan diruang gelap lebih jelas dibandingkan di ruang terang.

Sehingga dari sini saya semakin yakin bahwa saya memang memiliki masalah mata katarak yaitu lensa mata yang keruh. Padahal katarak itu biasanya menyerang orang yang sudah tua, tapi saya kok yang masih muda udah katarak ya? ternyata muda nya hanya “perasaan” saya saja hahahaha atau muda diluarnya, tapi didalamnya udah uzur :D

 

TIBA SAATNYA …

Setelah pertemuan pertama tanggal 20 Desember 2014 selanjutnya saya disibukkan dengan pengerjaan tesis saya untuk program Magister Manajemen di STIE Indonesia Banking School. Ternyata pengerjaan tesis ini memang menyita waktu, dan yang saya khawatirkan jika tindakan phaco dilakukan saat itu maka proses pemulihannya bisa membuat saya tidak mampu mengerjakan tugas dan beraktivitas dengan lancar dan akan mengganggu pengerjaan tesis saya. Sehingga jika tadinya saya rencanakan Januari atau Februari untuk jalani tindakan Phaco maka rencana itu saya geser menjadi setelah tesis saya selesai.

Untuk cerita saya tentang Indonesia Banking School silahkan klik disini.

Singkat cerita, Tesis saya selesai dan sidang di bulan Maret, dan saya lulus dengan nilai A (pamer dikit ah…) :) Akhirnya saya bulatkan tekad untuk langsung jalani tindakan Phaco setelah sidang. Saya hubungi pak dr. Johan via email dan utarakan maksud saya tersebut. Ternyata dr. Johan sepanjang April sering ke luar negeri, waduuhh. Sehingga sulit juga saya atur jadwalnya. Ya sudah saya atur jadwal melalui assisten dr. Johan yaitu mbak Igetha (Ige) untuk atur jadwal tindakan Phaco di bulan Mei saja.

Mbak Ige kemudian telepon saya untuk jadwalkan tindakan pada hari Selasa 5 Mei 2015. Sebelum hari-h suster Ige sampaikan kepada saya agar saya periksa darah rutin untuk mengetahui kondisi kesehatan saya (apakah ada gula, diabetes dan sejenisnya). Suster Ige sudah sarankan saya periksa di laboratorium di deket rumah saja, tidak perlu ke JEC. Saya ingin gampang maka saya pilih ke JEC Menteng, padahal di Cideng ada Prodia tapi saat itu akses ke Cideng macet. Ternyata cek lab di JEC itu mahal, biayanya sampai Rp. 860.00. Nyesel juga saya ga cek ke Prodia aja, tau gitu kan saya bisa hemat :( saya ga menuruti arahan suster Ige.

Untuk periksa lab ini biaya yang saya keluarkan adalah sebesar:
- Admin Pasien Rp. 50.000,00
- Paket cek Lab Rp. 810.000,00
Total biaya yang saya keluarkan adalah Rp. 860.000,00

Ya sudah lah, yang penting saya sehat dan bisa jalani tindakan phaco. Hari Kamis saya ke lab JEC untuk periksa lab, hasilnya sudah bisa keluar sabtu, karena Jumat libur, dan hasilnya pun katanya akan disampaikan langsung saja ke dokter jadi saya tidak perlu ambil. Hari Senin saya dikabari mba Ige bahwa hasil labnya ga ada masalah, saya bisa jalani tindakan Selasa besok pada jam 10 pagi. Wah senang rasanya mendapat kabar ini :)

Selasa 5 Mei 2015 saya cuti dari kantor. Saya sudah tidak sabar untuk jalani tindakan Phaco ini. Tadinya saya mau jalan sendiri kesana, tapi saya pikir lebih baik saya ditemani oleh seseorang takutnya nanti ada apa2. Maka saya ajak teman kantor saya, bangbro Sayuti. Kita pun meluncur ke JEC Menteng sekitar jam 9.00 dari Pejompongan. Sampai disana kami langsung daftar di pendaftaran lantai bawah, lalu di perintahkan langsung ke lantai 5 yaitu ruangan operasi.

Sebenarnya saya memang orangnya kalo kemana2 jarang mau ditemenin, termasuk ke Rumah Sakit sekalipun. Selama ini saya kalo sakit datang ke RS sendiri, bawa tas ransel, kalo hasil lab bilang kudu dirawat inap ya udah saya daftar sendiri, trus telpon orang rumah ga usah khawatir saya sudah di RS dan sudah dirawat inap hahahaa :D Saya lebih asyik aja rasanya kalo jalan sendiri. Apalagi saya kan single, jadi emang ga biasa kalo jalan pake ditemenin orang lain.

Tapi memang ternyata untuk jalani tindakan ini harus ada pendampingnya. Saya tidak diberitahu sebelumnya oleh siapapun di JEC. Tapi sewaktu daftar di lantai 5 untuk operasi saya ditanya didampingi siapa? dan agar yang mendampingi isi formulir dan tanda tangan. Wah untung aja saya ajak Sayuti teman saya dari kantor. Saya liat yang lain juga gitu sih, setiap pasien yang akan jalani tindakan tidak ada yang datang sendirian pasti didampingi keluarga nya. Saran saya: jika anda hidup sendiri atau suka sendirian kayak saya, untuk jalani tindakan phaco atau lasik di JEC carilah teman untuk dampingi, minimal yang bisa isi formulir dan tandatangan.

Di ruang tunggu lantai 5 itu saya menunggu bersama teman saya, kemudian saya dipanggil untuk masuk ruang pre-operasi. Masuk ruangan itu sandal harus di lepas di ruang tunggu. Kemudian saya dibawa keruang ganti baju, disitu saya ganti pakaian untuk operasi dan pakaian serta barang2 saya yang lain masuk di loker. Selesai ganti pakaian dan urusan di loker maka saya masuk ke ruang tunggu operasi. Disitu saya ditetesin obat tetes beberapa kali sambil nunggu ruang operasi dan dokternya siap. Sepertinya obat tetes yang diberikan itu semacam obat bius lokal, saya juga ga tau pasti sih (ga nanya-nanya).

 

TINDAKAN PHACO TAHAP-1

Akhirnya sekitar jam 11.30 an saya masuk ruangan operasi. Saya termasuk tipe orang pemberani di rumah sakit, karena saya familiar dengan kondisi rumah sakit sejak kecil. Saya dulu sering sakit-sakitan jadi ama Rumah Sakit itu udah biasa. Lihat dokter atau suster perawat itu saya sudah biasa. Tapi mulai deh masuk ruangan tindakan saya jadi deg degan. Padahal diruangan itu sudah disetel musik tapi saya tetap nervous :) Lagu “Lumpuhkanlah Ingatanku” dari Geisha dengan suara Momo yang merdu tidak bisa menghilangkan deg degan saya :) (dalem juga nih lagunya si perawat2 ini ;) ). Perawat diruangan ada 2 orang saya ga tau mereka perawat atau anastesi. Dokternya belum masuk ke ruangan. Saya didudukan dan kemudian tidur dengan posisi terlentang di kursi operasi yang telah disiapkan.

Foto saya ambil dari website JEC

Foto saya ambil dari website JEC

Sebelum dokter masuk para perawat menyiapkan saya, tangan kiri saya di jepit dengan alat yang terhubung ke monitor detak jantung. Kemudian kedua mata saya ditutup dengan penutup plastik yang nempel/lengket dengan mata, agar mata saya tetap melek/terbuka. Oh ya sesuai arahan dokter mata yang akan dioperasi terlebih dahulu adalah mata kiri, baru minggu depan adalah mata kanan. Dokter masuk ke ruangan, beliau sapa saya dan memberikan arahan agar saya berdoa agar operasi berjalan lancar. Beliau juga sampaikan operasi akan berlangsung selama 7 menit saja.

Penutup plastik tadi seperti plastik yang buram tidak terlalu jernih, tapi dokter bisa liat mata saya, hal ini terbukti dimana dia minta mata saya melotot dan bola mata diarahkan kebawah. Sementara sinar terang menyorot mata saya. Saya tidak merasakan apa-apa. Sewaktu plastik dibagian mata dibuka oleh dokter entah dengan apa (sepertinya disayat) saya tidak merasakan sakit atau nyeri. Tapi saya bisa rasakan sepertinya mata saya diairin, kemudian seperti agak tertekan di bola mata, agak pegel juga karena melek terus dan ada yg dikerjakan di mata saya. Jadi rasa nervous tapi campur ama penasaran.

Proses operasi Phaco (ilustrasi ini diambil dari internet)

Proses operasi Phaco (ilustrasi ini diambil dari internet)

Dr. Johan sangat komunikatif, setiap prosedur diucapkan dengan lantang sehingga saya tau apa yang sedang dikerjakan. Termasuk ketika lensa saya diganti dengan lensa baru, dokter Johan bilang: “yukk masuk lensa nya yuk”. Terus dimata saya seperti agak tertekan kemudian ada suara mesin berdenging sepertinya mengerjakan sesuatu :) wah pokoknya kalo yang takut ama tindakan operasi pasti takut deh. Walopun ga ada rasa sakit sama sekali. Tidak lama pak dokter bilang: “yak operasi selesai, cuma 6 menit”.

Buseee… cepet juga yah ternyata cuma 6 menit, tapi rasanya kayak puluhan menit :) Saya lega juga operasi sudah selesai. Saya masih merem takut melek. Kata perawatnya sambil nyopotin alat monitor jantung bilang: “Udah pak bangun, buka aja mata nya gapapa kok”. Saya takut-takut, takut perih atau gimana. Saya buka mata saya pelan-pelan dan woaaaa….. saya bisa langsung liat. Pandangan saya jadi jelas dan terang. Terutama mata kiri saya. Tapi kalo mata kiri saya tutup mata kanan saya tetap masih rabun jauh, karena kan belum di operasi. Saya senang bukan kepalang, masalahnya dengan mata kiri yg lensanya baru dan kanan masih minus -12.00 saya sudah bisa lihat yang jauh-jauh. Cuma kondisi abis operasi ini mata saya seperti mata kelilipan jadi saya masih suka keluar air mata .

Saya langsung dituntun ke ruang tunggu saat mau dioperasi tadi. Kursi tunggunya enak, nyaman buat tiduran, plus kita dikasih selimut karena ruangan nya dingin. Saya juga dikasih roti dan air minum. Diruangan itu saya menunggu sampai diijinkan pulang plus secara berkala saya ditetesin obat di mata. Sekitar 1 jam saya menunggu kemudian saya diijinkan pulang. Saya ke ruang ganti pakaian, kemudian setelah ganti pakaian saya ke meja di depan ruang ganti untuk diberi petunjuk oleh mbak perawatnya tentang obat yang saya harus pakai di rumah dan perawatan mata saya tersebut.

Operasi Tahap 1

Operasi Tahap 1

Mbak perawat memberikan 2 obat yaitu Levofloxasin (LFX) dan Polydex MD dengan petunjuk pemakaian sbb:
- Obat tetes mata dipakai begitu sampai di rumah.
- Ada 2 macam obat LFX MD dan Polydex MD.
- Obat diteteskan 6 kali sehari 1 tetes (bisa diatur tiap 2 jam-an) dan dipakai pada mata yang dioperasi saja.
- Khusus untuk LFX MD hari pertama operasi obat diteteskan setiap 1 jam sampai mau tidur malam.
- Sedangkan untuk Polydex MD dari hari pertama operasi sudah 6 kali sehari (setiap 2 jam-an).
- Karena ada 2 macam obat sebaiknya diberi jarak pemakaian minimal 5 menit.
- Bentuk tetes mata LFX MD dan Polydex MD adalah botol kecil yang bisa dibuka tutup, dan apabila masih tersisa setelah dibuka hanya bisa bertahan maksimal 48 jam (2 hari).

Selain petunjuk pemakaian obat tersebut diatas saya juga diberi petunjuk untuk perawatan di rumah:
- Mata yang dioperasi tidak boleh kena air selama 3 (tiga) hari.
- Semua kegiatan sehari-hari boleh dilakukan seperti biasa , tidak ada larangan apa-apa kecuali mata yang dioperasi tidak boleh terpukul/terbentur dan digosok-gosok.
- Mata yang dioperasi harus memakai pelindung (DOP) pada waktu tidur selama 1 (satu) minggu setelah dioperasi, termasuk tidur siang.
- Obat tetes mata dipakai sesuai dengan petunjuk dokter sebelumnya tangan dicuci terlebih dahulu dengan sabun dan dibilas sampai bersih.
- Hindari daerah berdebu dan hewan peliharaan selama 2 (dua) minggu.
- Bila ada obat minum, minumlah sesuai dengan petunjuk dokter.

Kemudian saya diberi penutup mata (DOP) dari bahan fiber plastik yang bolong-bolong dan juga plester. Gunanya untuk menutup mata saya ketika nanti tidur. Penutup mata tersebut saya gunakan selama seminggu. Mata kiri saya yang dioperasi tadi tidak boleh kena air selama 3 hari. Saya juga diberikan surat untuk kontrol besok hari jam 10.30 di JEC Menteng dengan dr. Sharita Siregar Sp.M. Setelah mendapat petunjuk dari Mbak perawat saya pun keluar menuju ruang tunggu lantai 5 dimana teman saya menunggu dan saya melakukan pembayaran di Kasir ditempat itu juga.

Biaya yang saya keluarkan untuk operasi pertama ini adalah:
- Admin Pasien Rp. 50,000
- Retinometri Rp. 120,000
- Non Con Robo Rp. 260,000
- Biometri Rp. 310,000
- Aspina Phaco Rp. 11,110,000
- Anastesi Lokal Rp. 240,000
- Dokter Rp. 2,400,000
- Materai Rp.6,000
Sehingga total keseluruhan saya bayar Rp. 14,496,000

 

HARI KE 1 SETELAH OPERASI

Setelah semua beres maka saya pulang ke kosan. Hari itu saya tidak masuk kantor karena sudah ijin. Tidak ada masalah yang berarti, semua petunjuk saya ikuti sesuai dengan arahan yang diberikan. Mau tidur saya tutup mata saya dengan penutup dan plester sesuai arahan (walo ternyata cara saya menutup dengan plester dibilang dokter berlebihan, alias ga perlu seperti foto dibawah ini :D )

satu mata

satu mata

Saya di rumah bisa beraktifitas walaupun pandangan agak aneh, karena mata kiri saya sudah bagus dan kanan nya masih minus. Kalo membaca dekat memang tidak terlalu masalah tapi membaca jauh saya jadi susah. Saya coba juga pake kacamata yang lama dengan lensa kiri yang dicopot, tapi malah jadi ga enak.

Kontrol pertama

Kontrol pertama

Hari rabu tanggal 6 Mei 2015 saya ke JEC Menteng untuk kontrol dengan dr. Sharita, saya dititipin oleh dr. Johan untuk cek/kontrol dengan dr. Sharita. Dr Sharita ini jauh lebih muda dari dr. Johan. Kalo saya duga sih usianya masih lebih tua saya. Dr. Sharita juga komunikatif dan hangat dengan pasiennya.

Dalam konsultasi ini saya sampaikan bahwa saya tidak ada masalah berarti hanya sedikit masih merasa seperti kes’sed (kering) saja di mata kiri. Diperiksa oleh bu dokter dan hasilnya tidak ada yang aneh menurut dokter Sharita. Dokter Sharita berikan saya obat lagi yaitu TGF-Cendo (30 tablet). Ini adalah vitamin mata yang sama dengan yang diberikan oleh dr Johan ketika saya pertama kali periksa di bulan Desember. Ini hanya vitamin mata biasa saja.

Dr. Sharita juga sempat menanyakan saya mata yang kanan masih mau dioperasi juga ga? saya jawab mau lah dok, masa cuma separo-separo :D Kata dokternya sebab ada yang udah jalanin yang sebelah trus kapok jadinya ga mau lagi. Saya bilang saya mau kok nerusin operasi mata kanan saya biar enak melihatnya. Trus saya ditanya kapan maunya? saya jawab terserah dokter Johan. Sesuai jadwal sih katanya minggu depan, ya sudah saya ikut saja. Kemudian saya disuruh untuk atur jadwal dengan suster Ige assisten dokter Johan.

Kontrol pertama ini berlangsung singkat saja, yang sedikit bikin saya bete untuk kontrol ketemu cuma sebentar aja ternyata harus bayar lagi, artinya ga termasuk paket dari operasi :( ya sudahlah …

Kontrol pertama ini saya keluar biaya sebagai berikut:
- adm pasien Rp. 50.000,00
- Biaya Apotik Rp. 240.000,00
- Dokter Rp. 220.000,00
Total biaya saya bayar Rp. 510.000,00

 

MASALAH DI HARI KE-2

Setelah kontrol pertama saya jalankan aktivitas seperti biasa, walaupun sedikit sulit. Lama-lama kepala saya pusing juga karena untuk melihat jadi ribet, mata kiri udah baru yang mata kanan masih minus. Tapi semua saya jalani biasa. Sampai kemudian esok paginya saya bangun, mata kiri saya merah dan gatal. Wah saya ngeri juga. Saya kasih obat tetes sesuai petunjuk, agak mendingan jadinya tapi tetep merah dan saya merasa gatal.

Tanggal 7 Mei 2015, saya akhirnya telp JEC Menteng, ternyata sulit membuat janjian dengan Dr. Johan. Beliau sudah penuh jadwal pasiennya bahkan dari petugas telepon saya di sarankan booking dari sejak seminggu sebelumnya. Buseee mau ketemu dokter aja susah amat ternyata. Udah gitu jadwal dokter Johan adanya di sore sampai malam. Welehhh… saya minta saran rekomendasi dan ganti ke dokter lain mereka ga berani kasih rekomendasi (ga boleh kasih rekomendasi). Akhirnya saya inget dengan dr. Sharita lagi, saya cari lewat telp JEC, dari Customer Service diberitahu bahwa dr. Sharita lagi praktek di JEC kedoya.

Saya pun meluncur ke JEC Kedoya, setelah melalui receptionist di depan maka saya diarahkan ke lantai 3 tempat praktek dokter Sharita. Sambil nunggu panggilan dokter saya dipanggil ke BDR untuk periksa kondisi mata. Setelah diperiksa saya nunggu lagi dipanggil dokter. Tidak lama saya dipanggil untuk bertemu dr. Sharita Siregar. Dalam ruangan dr Sharita kaget ketemu saya lagi. Dia tanya bapak kenapa? saya terangkan mata saya merah sejak bangun tidur tadi dan saya khawatir. Dr. Sharita kemudian memeriksa saya.

Dari hasil pemeriksaan beliau, tidak ada masalah di mata saya. Kondisi lensa yang baru di mata kiri saya juga bagus. Sehingga mata merah saya kemungkinan hanya karena menyesuaikan saja. TAPII… ada tapinya nih. Mata kiri saya dari hasil periksa di BDR ternyata tekanan bola matanya tinggi (yaitu 29) dimana hal itu tidak bagus. Untuk tekanan bola mata tinggi ibu dr. Sharita berikan resep obat yaitu AZOPT ED dan GLAOPLUS MD.
- Azopt ED dipake 3 kali sehari
- Glaoplus dipake 1 kali sehari malam saja mau tidur

Azopt

Azopt

Glaoplus

Glaoplus

Untuk periksa dadakan di JEC Kedoya ini biaya yang saya keluarkan adalah:
- Adm pasien Rp. 50.000,00
- Dokter Rp. 250.000,00 (ini yang saya bandingkan lebih mahal dari JEC Menteng yg Rp. 220.000,00 beda 30 ribu)
- Periksa awal Rp. 120.000,00
- Obat : Azopt Rp. 315.000,00 dan Glaoplus Rp. 145.000,00
Total saya keluar biaya lagi Rp. 880.000,00

(Kayaknya mata saya jadi sehat tapi gantian kepala saya yg sakit kalo nanti pas lihat tagihan kartu kredit saya :D )

Sepulang dari dokter mata saya berangsur angsur normal, demikian pula hari-hari berikutnya hingga menjelang operasi tahap 2 untuk mata kanan. Hanya saja makin hari makin tidak enak, karena beda penglihatan mata kanan dan kiri makin mengganggu. Selain itu kondisi mata kiri yang awalnya ketika baru dioperasi sangat tajam dalam melihat jauh, ternyata makin hari makin menurun. Saya sadari hal ini hari Jumat dan weekend ketika di rumah Depok. Karena ketika saya melihat dengan satu mata, mata kiri saja, kok tidak sejelas awal ketika baru operasi (Nanti akan saya jelaskan mengapa, setelah saya konsultasi dengan dr. Johan satu minggu setelah operasi tahap 2).

 

OPERASI TAHAP ke-2 (MATA KANAN) …

Setelah menunggu selama seminggu saya sudah makin tidak sabar untuk operasi mata kanan saya. Akhirnya tanggal 12 Mei 2015, hari Selasa pun tiba. Sebelumnya saya sudah bikin perjanjian untuk operasi tahap 2 ini sejak minggu lalu dengan mbak Ige. Seninnya saya juga ditelpon kembali untuk konfirmasi operasi. Untuk operasi ke 2 ini sudah tidak perlu periksa laboratorium lagi sebelum operasi.

Seperti halnya minggu lalu, saya minta ditemani oleh teman kantor saya bangbro Sayuti. Saya pergi sekitar jam 09.00 dari Kosan dan sampai di JEC Menteng kepagian karena jadwalnya jam 10.30. Tapi gapapalah kepagian dari pada malah nanti telat. Lagipula saya udah ga sabar untuk bisa melihat dengan jelas dengan dua mata saya ini.

Tahapan sebelum operasi masih sama seperti operasi tahap 1. Saya datang langsung ke lantai 5, kemudian lapor ke loket di lantai 5 itu. Trus tunggu di ruang tunggu sampai di panggil. Lumayan nunggu lama tapi saya kok merasa cepat yah, tau tau udah dipanggil aja. Simpan sandal/sepatu di rak ruang tunggu kemudian masuk ruangan ganti baju, simpan barang di Loker. Kemudian masuk dan duduk di ruangan pre-operasi. Disitu saya seperti yang operasi 1, duduk dan ditetesin obat dimata, entah obat apa yang jelas sambil menunggu ruang operasi disiapkan. Setelah menunggu lumayan lama, saya pun di bawa masuk ke ruang operasi (theather) 2. Tidak seperti operasi 1 yang ke ruangan operasi jalan kaki biasa maka kali ini saya diantar pake kursi roda. Ga tau juga alasannya apa? Apa karena saya operasi katarak jd dianggap tuir :D

Di dalam ruangan operasi 2 ini sama seperti minggu lalu, ada 2 orang wanita di dalam ruangan menyiapkan operasi untuk saya. Musik pun mengalun di dalam ruangan, mungkin untuk bikin saya rileks. Tapiii …. tetap saja walopun saya sudah alami operasi ini minggu lalu rasa nervous tidak bisa hilang. Sampe mbak perawatnya bilang bapak boleh nervous tapi nggak boleh tegang banget katanya. Lha bijimane :) boleh nervous tapi kagak boleh tegang??. Apa maksudnya ga boleh “tegang” yang lainnya? Wahhh si mbak ga jelas nih :))

Pak dr. Johan masuk ruangan, seperti biasa beliau sapa saya. Terus menyuruh saya berdoa. Seperti biasa nya beliau katakan operasi akan berlangsung maksimal 10 menit. Mulailah dengan cepat dr Johan lakukan operasi. Jantung saya masih berdegup degup :D walaopun ini udah kali kedua saya masih tetap nervous. Selama operasi pak dr Johan masih komunikatif, semua tahapan diomongin saya jadi bisa ikut nyimak. Apalagi waktu mau masuk lensa pak dr. Johan bilang: “yukkk masuk lensa lensa yukk!” hehehehe saya jadi kayak siap-siap karena tau mata saya akan terasa seperti tertekan. Operasi berlangsung sekitar 7 menit. Begitu selesai pak dr. Johan bilang: “Yak operasi kita sudah selesai. Sudah berhasil. Lensanya cakep banget sudah masuk. Operasi 7 menit”, saya pun menarik napas lega.

Saya masih separo lega, sebelum saya membuka mata saya yang kanan. Saya buka mata kiri saya dulu, baru saya buka mata yang kanan, penglihatan mata kanan saya langsung terang dan tajam. Tapi belum bisa dibuka lama-lama, sebab langsung keluar air mata (reaksinya seperti mata di colok, tapi ga sakit sih). Karena keluar air mata maka saya pejamkan lagi mata kanan saya. Kemudian keluar ruangan operasi (theather) 2 saya dibawa pake kursi roda lagi. Berasa aneh aja naik kursi roda ini :) Kemudian saya di dudukan di kursi tunggu, dikasih kue dan minum dan beberapa kali ditetesin obat. Saya coba membuka mata kanan saya, senang rasanya tanpa kacamata saya bisa baca tulisan yang cukup jauh :D Tapi saya belum bisa enjoy banget karena masih keluarin air mata, kayaknya selain karena dampak dari operasi air mata itu keluar karena saya juga lagi mikirin nanti bayar nya hahahahaha :D

Setelah ditetesin dan duduk agak tiduran di ruangan tunggu perawatan pasca operasi saya dibolehkan pulang. Seperti biasa saya ke ruang ganti pakaian, sebelum ganti pakaian saya sempatkan selfie hahahaha :D

Pasca Operasi Tahap 2

Pasca Operasi Tahap 2

Setelah ganti pakaian saya kembali ke meja di depan kamar ganti. Disitu saya diberi petunjuk dan obat semuanya persis sama dengan yang operasi tahap 1. Saya juga diberitahu untuk kembali lagi kontrol esok hari dengan dokter Sharita lagi. Setelah diberi obat dan petunjuk maka saya ke kasir untuk bayar operasi tahap 2 ini. Untuk biaya operasi tahap 2 ini perinciannya adalah sebagai berikut:
- Admin Pasien Rp. 50.000,00
- Aspina Phaco Rp. 11.110.000,00
- Anastesi Lokal Rp. 240.000,00
- Dokter Rp. 2.400.000,00
- Materai Rp. 6.000,00
Total semua yang saya bayar Rp. 13.806.000,00

Saya diberikan selembar kartu sebagai bukti jenis lensa yang ditanam di mata saya. Ternyata dari kartu tersebut saya tau lensanya buatan Carl Zeiss :) Saya jadi berasa kayak robot, dimata saya ditanam lensa buatan ;)

Kartu tanda bukti lensa yang ditanam

Kartu tanda bukti lensa yang ditanam

Sepulangnya dari JEC Menteng saya masih sempatkan diri untuk ke kantor dan melanjutkan pekerjaan. Tapi ternyata kondisi mata saya belum fit untuk dipakai bekerja. Mata saya ternyata berubah menjadi ada rabun dekat alias mata plus. Sehingga jika melihat dekat malah sulit. Terpaksa saya membaca dokumen kertasnya saya jauhkan :) Saya berasa semakin tua aja :D Trus yang mengganggu juga adalah mata saya jadi seperti berkedut-kedut ketika dipaksa buat baca. Karena saya merasa belum fit maka saya putuskan untuk pulang saja, saya khawatir mata saya belum fit betul untuk beraktivitas. Saya pun ijin pulang untuk istirahat.

 

KONTROL PASCA OPERASI TAHAP-2

Esoknya tanggal 13 Mei 2015, sekitar pukul 10.30 saya kontrol lagi ke JEC Menteng. Saya bertemu dengan Dr. Sharita. Bu dokter senang karena setelah di periksa di BDR hasilnya tekanan bola matanya sudah tidak tinggi lagi. Dalam pertemuan ini saya keluhkan masalah mata kiri saya yang terus menurun, sehingga tidak seterang/sejelas ketika baru operasi minggu lalu. Bu dokter jelaskan bahwa mata saya ini belum stabil. Lensa nya masih menyesuaikan dimata, nanti minggu depan saya akan dijadwalkan kontrol dengan pak dr. Johan beliau akan periksa dan jelaskan semuanya.

Kemudian bu dokter kembali berikan saya resep obat. Obat yang diresepkan adalah Hyalub, Lapibal 250 dan Polydex ED. Hyalub dan Polydex ED ini adalah obat tetes yang digunakan jika obat Levofloxasin (LFX) dan Polydex MD yang sebelumnya dikasih sudah habis. Hyalub dan Polydex ED digunakan 3 kali sehari. Sedangkan Lapibal adalah tablet yang diminum 1 kali sehari.

Untuk kontrol kalo ini biaya yang saya keluarkan adalah:
- Adm pasien Rp. 50.000,00
- Dokter Rp. 220.000,00
- Obat Rp. 239.000,00
Sehingga total biaya yang saya bayar adalah Rp. 509.000,00

Pulang kontrol sampai beberapa hari kemudian mata saya baik-baik saja. Hingga akhirnya pada sekitar hari Jumat dan weekend mata kanan saya mulai menurun ketajamannya seperti mata kiri. Penglihatan mata saya untuk jauh sedikit menurun. Sehingga saya simpulkan saya masih ada sedikit rabun jauh (mata minus). Sedangkan untuk rabun dekat, kondisinya masih sama seperti saat baru jalani operasi alias masih sama, tidak bisa melihat terlalu dekat sehingga saya simpulkan mata saya juga sekarang plus (rabun dekat).

Saya jadi tidak sabar untuk bertemu dan konsultasi dengan dr. Johan yang dijadwalkan tanggal 19 Mei 2015 hari selasa jam 19.00 malam di JEC Menteng. Selama menunggu ini rasanya kurang enak, sebab pandangan jauh saya mulai berkurang ketajamannya hanya untuk baca dekat saja saya tidak terlalu masalah. Oh ya rabun dekat ini adalah pengalaman baru buat saya, sebab saya sebelumnya tidak punya rabun dekat (plus). Saya baru tau kalo pas lagi makan, karena piringnya terlalu dekat ama mata saya, maka lauknya jadi burem huahahahaa :D saya baru ngeh kalo orang udah tua matanya plus tu gini rasanya :) Kualat deh….

 

KONTROL 1 MINGGU SETELAH OPERASI

Hari Selasa 19 Mei 2015, saya sudah tidak sabar ke JEC Menteng untuk konsultasi satu minggu pasca operasi tahap 2. Saya berangkat jam 18.00 dari kosan, agak degdegan juga karena ternyata macet. Sampe di JEC Menteng ternyata sedikit terlambat yaitu jam 19.05. Tapi saya tidak terlambat sekali karena ternyata masih antri. Setelah daftar di lantai dasar saya tau kalo saya masih harus tunggu. Saya diarahkan ke lantai 4 tempat ruangan dr. Johan. Sebelumnya saya di suruh ke ruangan BDR dulu untuk periksa.

Di ruangan BDR inilah saya tau kondisi mata saya terkini. Ternyata mata saya yang kiri ada minus 1.75 dan yang kanan minus 1.5 dan keduanya Plus 2.5. Inilah yang saya sudah perkirakan sebelumnya, bahwa minus saya tidak bisa hilang sepenuhnya, saya sudah pernah baca informasi seperti ini sebelumnya. Tapi yang saya heran kenapa plus nya gede banget. Hal ini yang saya ingin tanyakan ke dr. Johan.

Saya kemudian menunggu dipanggil untuk konsul dengan dokter Johan. Ada 2 pasien yang konsultasi (kalo nggak salah) sampe akhirnya saya dipanggil. Saya masuk ruangan dr. Johan dan langsung disapa dengan hangat oleh dokter Johan. Di dalam ruangan ada dr. Sharita juga (Saya sepertinya tau kenapa mereka bisa ada berdua diruangan ini, tapi ga usah dibahas ah ;) ). Saya langsung uraikan kondisi saya. Saya mengeluh mata saya yang masih ada minus lagi dan adanya plus dimata saya.

Dr. Johan periksa mata saya, secara fisik beliau bilang bagus. Kemudian dr. Sharita jelaskan kalo tempo hari mata saya yg kiri tekanan bola mata saya tinggi, namun sekarang untungnya sudah tidak tinggi lagi. Dr Johan kemudian jelaskan bahwa mata saya memang harus diatur antara minus dan plus nya, sebab lensa yang baru ditanam ini tidak bisa dibuat minus nol karena dampaknya plusnya akan tinggi, demikian pula plusnya tidak bisa dibuat nol karena minusnya akan besar. Jadi harus ada kompromi. Penjelasan singkatnya demikianlah. Mungkin saya tidak terlalu tepat menyimpulkannya.

Kemudian untuk kondisi mata saya selanjutnya masih harus dipantau kembali artinya tidak bisa ditetapkan bahwa kondisi ini sudah fixed. Artinya masih dilihat lagi perkembangannya, harapan dokter sih minusnya mengecil paling tidak minus 1, tapi saya kok pesimis ya. Minus yg sekarang ini masih ada di mata saya secara prinsip bisa saya terima kok. Saat ini sebenarnya saya bisa tanpa kacamata, karena untuk baca dekat saya tidak terlalu masalah saya masih bisa baca, sedangkan untuk jauh tidak terlalu seberat seperti sebelumnya waktu mata kiri -13.75/kanan -12.00. Saya diminta untuk kembali konsultasi lagi (yang katanya untuk) terakhir kali, ketika semua obat saya sudah habis. Dokter tidak beri obat lagi, nanti aja katanya, sekarang dikasih resep ukuran kacamata tapi disuruh beli lensa yang murah aja dulu buat sementara.

Kontrol seminggu pasca operasi ini saya keluar biaya sbb:
- Adm pasien Rp. 50.000,00
- Periksa BDR Rp. 105.000,00
- Dokter Rp. 280.000,00 (tarif nya beda lagi nih :D apa karena dokternya ada 2 (dua) di ruangan :D )
Total saya keluar Rp. 435.000,00

Pulang dari JEC saya langsung ke ITC Kuningan untuk beli lensa minus sementara. Saya merasa ga terlalu nyaman untuk melihat jauh walopun saya masih bisa lihat. Saya pengen penglihatan jauh saya bisa terang dan tajam. Jadi saya langsung cari lensa ah biar bisa ngeliatnya enak. Framenya pake yang lama aja, lensanya aja yang baru. Ketemu toko yang masih buka, karena saya datang udah jam 21.00. Saya pesen lensa di toko itu, baru tau juga kalo lensa kaca akan hilang di pasaran dan akan diganti dengan lensa plastik. Sehingga saya beli lensa plastik untuk kacamata saya sementara ini. Toko itu janji besok lensanya akan selesai. Esoknya pas jam makan siang kacamata saya ambil. Biayanya Rp. 150.000,00 Saya pun puas karena mata saya makin jelas lagi untuk melihat.

Dengan kacamata itu saya bisa melihat jauh, sedangkan untuk melihat dekat saya tidak dibantu dengan kacamata. Sampai akhirnya tanggal 10 Juni 2015 saya jadwalkan lagi untuk kontrol dengan dr. Johan.

 

KONTROL TGL 10 JUNI 2015 …

Setelah hampir sebulan obat yang diberikan mulai habis, terutama FLX dan PolydexED. Tinggal sisanya obat Cendo Hyalub dan PolydexMD untuk mata kiri. Kondisi mata kanan saya sudah tidak ada masalah, hanya saja mata saya yang kiri masih suka terasa ngeres (kesett). Padahal obat tetesnya tinggal Cendo Hyalub dan PolydexMD yang ditetesin 3 kali sehari. Tentu saja rasanya kurang untuk atasi mata saya yang terasa ngeres ini. Saya mencoba tanyakan hal ini melalui email ke Dr. Johan, sayangnya beliau tidak menjawab email saya ini. Saya jadi merasa Dr. Johan lebih proaktif ketika saya belum operasi tapi begitu sudah operasi pelayanan atau tingkat informatifnya jadi berkurang. Saya jadi kecewa :(

Tanggal 10 Juni 2015 jam 08.00 kurang dikit saya sudah di JEC Menteng, setelah sebelumnya saya membuat perjanjian melalui website. Saya langsung daftar dan diarahkan ke lantai 4 untuk periksa dulu di ruangan BDR. Di ruangan BDR saya dites kondisi matanya dan di tes baca. Saya merasa minus saya kok kayaknya jadi nambah lagi. Tapi saya tidak menanyakannya ke petugas periksa, nanti saja saya tanya ke dokternya pikir saya.

Saya dapat nomor urut 1 dengan dr. Johan. Setelah dari BDR maka saya menunggu di depan ruangan dokter Johan. Setelah menunggu, maka sekitar jam 09.15 saya dipanggil. Dr Johan seperti biasa menyambut saya dengan akrab. Setelah sedikit basa-basi pak dokter langsung periksa mata saya. Saya sampaikan keluhan mata saya yang kiri masih sering terasa kesset atau ngeres. Dokter resepkan obat tetes yang bisa digunakan setiap saat saya merasa mata saya tidak nyaman.

obat itu adalah Protagenta, yang diteteskan setiap saya merasa tidak nyaman.

Protagenta PolyvinylPyrrolidone

Protagenta PolyvinylPyrrolidone

Sewaktu saya tanyakan kondisi mata minus saya, dokter Johan hanya katakan bahwa mata saya masih berubah-ubah. Ada kecenderungan mata minus saya saat ini akan kembali sedikit bertambah. Tapi saya masih bisa baca tanpa kacamata, jadi dr. Johan tidak resepkan ukuran lensa yang baru. Beliau katakan bahwa mata saya masih menyesuaikan terus. Hal ini bisa terjadi karena bergantung dengan pola hidup dan pola makan seseorang sehingga minus saya bisa bertambah lagi, ada kemungkinan minus saya maksimal jadi -3.

Saya agak bete juga dengan penjelasan dr. Johan karena nyatanya mata saya belum bisa stabil, masih akan berubah lagi. dr. Johan sarankan saya abis lebaran atau kapan ada waktu untuk kembali lagi untuk memastikan ukuran mata apakah sudah stabil dan apakah sudah bisa dikasih resep ukuran mata yang pasti. Padahal sebelumnya Dr. Johan katakan pada saya sudah tidak perlu kembali lagi, nanti kembali lagi setahun yang akan datang. Ternyata karena mata saya belum bisa stabil ukurannya maka sebulan lagi disuruh balik. Bukan hanya masalah uang yang sudah saya keluarkan tapi waktu nya untuk mondar mandir ke JEC dan ketidakpastiannya bikin saya bertanya-tanya terus, kok jadi gini? Kok malah ga selesai selesai.

Buat saya masalahnya ada 2 hal. Mata kiri saya yang masih terasa ngeres dan minusnya yang masih akan naik lagi…

Kontrol tanggal 10 Juni 2015 ini, saya mengeluarkan biaya lagi sebesar:
- Administrasi Rp. 50.000,00
- Pemeriksaan Awal Rp. 105.000,00
- Konsultasi Dokter Rp. 280.000,00
- Obat Rp. 399.000,00
Total hari ini saya keluarkan biaya Rp. 834.000,00

Sampai tanggal 10 Juni ini saya sudah keluarkan biaya total Rp. 33.180.000,00 hanya untuk dokter, obat dan biaya RS (belum termasuk transport dll)

 

KESIMPULAN:

Jika lelah membaca artikel yang panjang ini maka saya coba buatkan poin penting yang bisa jadi kesimpulan:

Pertama, jika ingin memutuskan untuk di Lasik atau Phacoemulsification hal utama yang paling penting perlu dipersiapkan adalah budget atau anggaran atau dana. Sebab selain biaya operasi (yg utama/pokok)nya yang menurut saya cukup mahal biaya ikutan lainnya juga lumayan banyak. Harus diperhitungkan dan dialokasikan dengan cermat biayanya. Apalagi jika anda termasuk seperti saya yang anggarannya terbatas, bukan anggaran berlebih atau tidak punya masalah dengan biaya.

Kedua, mau jalanin Lasik atau Phacoemulsification butuh keberanian. Kita harus yakin dan punya keberanian untuk jalanin tindakan ini. Sebab biar bagaimanapun ini kan mata yang mau dioperasi. Jadi harus yakin dan percaya dulu ama dokternya. Sehingga waktu ngejalaninnya kita udah sreg/yakin.

Ketiga, jika anda memiliki minus yang tinggi maka sebaiknya jangan terlalu berharap minusnya itu akan hilang total. Bisa jadi minus itu akan nol, akan tetapi semua itu tergantung kondisi dari masing-masing pasien.

Keempat, poin-poin diatas bisa makin maksimal jika kita sebelum melakukan tindakan sudah pelajari Lasik atau Phacoemulsification secara maksimal. Dalam arti kita sudah mencari tau tentang Lasik atau Phacoemulsification melalui browsing di internet, baca, diskusi dengan orang yang sudah jalanin dlsb nya. Pokoknya intinya banyak cari tau.

Kelima, usahakan ada keluarga, kerabat atau teman yang mendampingi saat operasi. Jangan seperti saya yang ingin nya apa-apa sendiri. Walaupun sebenarnya kita jalan sendiri juga tidak masalah, karena berdasarkan pengalaman saya yang dibutuhkan RS sebelum operasi hanyalah mengisi form surat dan tandatangan dari pendamping saja.

 

Nah, bagi yang berminat untuk Lasik atau Phaco semoga tulisan ini bisa bermanfaat.
Nanti saya akan ceritakan lagi bagaimana perkembangan mata saya ini dalam cerita berikutnya DI SINI.

 

 

Sepedaku

Punya Maenan Baru – Sepedaan alias Gowes ^_^

Kesambet Setan Sepedaan

Sudah sejak lama saya diajak terus oleh teman-teman untuk olah raga sepedaan. Terutama waktu sepedaan lagi booming. Seingat saya sekitar tahun 2010-2011 sewaktu saya kerja di Bandung, sepedaan lagi booming banget. Kalo sekarang kan yang booming atau lagi happening adalah lari :)

Waktu di Bandung itu hampir setiap minggu ada aja kegiatan Gowes bareng. Kebetulan Bank tempat saya kerja itu aktif banget kegiatan club sepedanya. Tapi entah kenapa waktu itu saya ga minat maen sepeda atau olah raga sepedaan. Mungkin karena saya ngerasa naik sepeda itu bikin pegel dan nyeri di daerah bokong & selangkangan :) Padahal kalo kita bisa nyari sepeda yang bagus dan perlengkapan yg cukup, hal kayak gitu ga akan jadi masalah. Kalo masalah bisa naik sepeda atau nggak? saya kebetulan bisa naik sepeda. Alhamdulilah dulu waktu kecil dibeliin bapak sepeda buat belajar. Dari yang roda 4 sampai rodanya 2 :) Untung jadi nya saya bisa naik sepeda dan juga bisa naik motor. Walaupun motornya juga bisanya hanya motor matic :)

Tapi sejak saya kos di pejompongan godaan untuk naik sepeda akhirnya mulai muncul. Gara-garanya temen kosan saya bro Felix ngajakin kita para penghuni kosan untuk olah raga bareng dan salah satu aktivitasnya adalah melalui Sepedaan. Tadinya kita punya pilihan olah raga bareng seperti fitness atau lari sore di Senayan. Tapi karena bro Felix udah sering pinjem sepeda uda Irwansyah maka saya jadi kepikir kayaknya asyik nih kalo bisa sepedaan bareng teman-teman.

Satu lagi dorongan yang bikin semangat saya untuk main sepedaan adalah teman-teman di kantor yang juga antusias dukung untuk sepedaan. Wah seru nih kalo nanti yang nemenin banyak maen sepedaan di kantor, dalam bayangan saya. Selain itu ada motivasi lain yang saya mendorong saya untuk semakin giat olah raga, selain Badminton setiap kamis dan sekarang sepedaan, yaitu perut saya yang semakin hari semakin buncit hahahahaha :D
Perut saya ini saya perhatikan kalo ngaca semakin maju ke depan, ibarat pedagang kaki lima di pasar tanah abang mereka udah semakin maju, kalo tadinya di trotoar sekarang udah makin maju turun ke jalan :)

Kembali ke masalah sepedaan, saya ga punya budget besar buat beli sepeda. Selain itu saya takut terserang penyakit akut saya yaitu “Bosan”, saya khawatir kalo bosen trus tuh sepeda mangkrak ga dipake. Maka saya tetapkan kalo bisa beli sepeda di budget 1 juta sampai 2 jutaan. Well, saya juga ga ngerti tentang sepeda sama sekali. Tapi saya pikir dengan budget 1-2 jutaan saya bisa dapatkan sepeda dgn kualitas paling “maksimal”. Apalagi dalam memilih sepeda nantinya saya minta di bimbing oleh Pak Aji dan Mas Arga yang jago masalah sepeda di kantor.

Saya tau kalo harga sepeda itu ga ada batasnya, saya tau harga sepeda bisa sampai ratusan juta. Tapi bukan itu yang saya mau kejar. Selain budget yang terbatas kan yang mau kita cari olah raga dan keringat nya, bukan mau kejar prestise dan gayanya dengan sepeda mahal. Tapi kalo bisa dengan budget 1-2 juta bisa ga ya dapet sepeda yang “bagus”?? Akhirnya karena saya ga punya pemahaman sama sekali tentang sepeda maka saya “pasrahkan” pemilihannya pada Mas Arga dan Pak Aji. Saya anggap mereka berdua lebih paham. Untuk selanjutnya mereka saya sebut “Dewan Pakar”.

Langkah kedua, setelah menentukan Budget saya mendiskusikan jenis sepeda yang akan saya beli dengan “Dewan Pakar”. Setelah diskusi kita punya bayangan kalo mau beli sepeda untuk jalanan (road bike) atau jenis MTB (Mountain Bike) seperti biasa. Masalah kelengkapan dasar kita akan sesuaikan dengan kondisi di toko nanti, dengan budget sekian kita bisa dapat apa aja.
Selanjutnya kita kemudian tentukan mau beli dimana. Karena saya senang belanja daring (on line) maka tadinya saya mau beli sepeda on line. Ternyata saya ga bisa nemuin toko online yang jual sepeda yang memuaskan saya, baik dari segi harga maupun Sepeda yang dijual. Mas Arga (dewan Pakar) punya usul beli di Pasar Kebayoran Lama atau di Kemanggisan, sementara Pak Aji (Dewan Pakar) usul beli di Kramat. Akhirnya sebagai yg akan membeli maka saya putuskan beli di lokasi yang dekat kantor kita (di Pejompongan) yaitu di Kemanggisan.

Oh ya karena merek Polygon menurut saya agak mahal, maka saya putuskan tidak beli merek polygon. Selain itu polygon tidak dijual di toko sepeda umum, Polygon hanya di jual di Rodalink yaitu toko khusus sepeda Polygon. Sementara saya kan rencananya mau blusukan ke Pasar (Jokowi bangetttt … :D ).

 

Eksekusi Rencana

Maka pada hari senin tanggal 10 November 2014 menjadi hari yang bersejarah buat saya :) Saya bersama Dewan Pakar ditambah Mas Aldi dan Tarwan (Dewan Penasihat) pas jam makan siang naik Ertiga mobil kantor menuju ke Kemanggisan. Pas sampai dilokasi kita kecewa ternyata Toko Sepeda di Kemanggisan itu tutup. Baru kemudian dalam kunjungan berikutnya kita baru tau kalo toko itu setiap hari senin tutup.
Karena tutup maka kita lanjutkan ke Pasar Kebayoran Lama, sebelum ke Pasar Kebayoran Lama (KL) kita makan siang dulu di Bebek Yogi di Jalan Panjang. Selesai makan siang baru kita meluncur ke Pasar KL.

Sesampainya di Pasar KL kita langsung nyari toko sepeda untuk liat-liat, yang pertama toko sepeda di pojokan jalan yang dibawah fly over, disitu kita belum nemu koleksi yang cocok di hati. Kemudian kita lanjutin “blusukan” ke toko di seputar pasar KL, yaitu ke toko sepeda yang diseberangnya toko tadi tapi belum ada yang sreg juga di hati. Akhirnya kita lanjutin ke toko sepeda yang  ada di bawah jalan layang, tepatnya di depan pedagang batu cincin. Disitu kita juga belum nemu yang cocok. Saya hampir putus asa. Tapi Mas Arga emang kayaknya sangat kuasai “medan” sampai akhirnya kita nemu toko sepeda TRI GUNA. Toko ini kalo dari arah pasar KL ada mesti lewati kolong jalan layang. Adanya di ruko gitu, tepatnya di Ruko Kebayoran Lama Jl. Ciputat Raya No. 16 A Telp 7262194-7262161.

Disitu Mas Arga dan Pak Aji (Dewan Pakar) mulai menemukan yang diinginkan. Ada beberapa pilihan sepeda disana dari merek United, Pacific, Wim Cycle dll Tapi kita tertarik dengan sebuah sepeda merek United seri Miami XC-01. Ada dua warna disana, putih dan Merah-hitam. Setelah kita bandingkan dengan seksama dengan beberapa pilihan yang ada, maka sepeda united ini kayaknya paling lumayan. Rangkanya udah aluminium, gigi nya udah 7 speed yang belakang dan yang depan 3 speed. Remnya memang belum disc dan garpunya belum pake shock breaker. Tapi setelah di pertimbangkan rem ama shock itu bisa nyusul nanti, yang penting rangkanya sudah bagus, demikian masukan Dewan Pakar. Selain itu yang saya suka ban depannya bisa di copot (Quick Release).

Kita kemudian tanya harga. Si engkoh buka harga Rp. 1,8 juta. Saya tawar Rp. 1.3 juta. Akhirnya kita sepakat mentok di harga Rp. 1.550.000,- Saya ga tau apakah harga ini sudah maksimal atau belum. Tapi yang jelas saya puas dengan harga ini saya sudah dapat sepeda baru yang siap saya mainin. Setelah melunasi pembayaran maka saya pun bergegas kembali ke kantor. Saya minta pegawai tokonya untuk bawain sepeda ke mobil (dengan diberi tip tentunya). Sesampainya di kantor sepeda belum langsung di pakai, alias masuk ke gudang sebab saya belum sreg karena asesorisnya belum lengkap dan diluar udah mulai masuk musim hujan hahahaha (Jadi saya beli sepeda saat sudah masuk musim hujan, musim kering saya kemana aja ya??? :D

Lusanya saya rayu Dewan Pakar untuk anterin saya ke toko sepeda di Kemanggisan yang tempo hari tutup untuk beli asesoris. Kebetulan mereka bersedia. Kita berlima kembali “shopping” sepeda. Kali ini ada pergantian Dewan Penasihat Tarwan digantikan Sayuti. Kali ini toko tujuan kita adalah Toko Karya Jaya (aka Bude Bike) di jalan Budi Raya Kemanggisan Fanta No telp 0815 8571 7955.
Ternyata toko ini adalah toko yang termasyur untuk para bikers/gowesers terutama di wilayah Jakbar.

Toko Karya Jaya aka Toko Bude

Toko Karya Jaya aka Toko Bude

Di toko ini penjualnya ada seorang wanita yang biasa di panggil Bude. Beliau layani kami dengan baik dan ramah. Bude orangnya sangat friendly. Bude paham banget sepeda dan dia hapal banget naro barang jualannya di setiap sudut tokonya yang padat dan penuh dengan berbagai jenis sepeda berikut asesorisnya. Bude jualannya lumayan lengkap, mulai dari sepeda kelas biasa aja (kayak punya saya) sampai Sepeda yang rangka nya karbon dengan harga yang selangit (buat saya).

Di toko bude ini harga asesorisnya lumayan miring, setidaknya sudah saya bandingkan dengan toko on line yah. Di toko bude saya beli aksesoris sepeda seperti:

Pompa dan Tempat Minuman

Pompa dan Tempat Minuman

Pompa 50 ribu – Jepitan tempat minum 15 ribu

Lampu 3 Watt White LED

Lampu 3 Watt White LED

Lampu depan 45 ribu

Sadel Mosso

Sadel Mosso

Sadel Mosso 100 ribu

Helm

Helm

Helm 140 ribu

Tanduk Stang

Tanduk Stang

Tanduk 25 ribu

Kunci Tools

Kunci tools

Tool set 25 ribu

Spakbor

Spakbor

Spakbor depan-belakang 25 ribu

Standar segi tiga

Standar segi tiga

Standar segi tiga 45 ribu

Chain protector

Chain protector

Chain protector 10 ribu (belinya nyusul beberapa hari kemudian, setelah balik lagi nganterin pak Hendry teman kosan)

Di toko bude ini dia tanya tentang sepeda yang saya punya? berapa harganya? maka saya jawab saja dengan jujur apa adanya. Ternyata bude kasih harga untuk sepeda United saya di toko ini dengan harga 1.1 Juta. Tapi anehnya ketika saya kembali lagi dengan teman saya beberapa hari kemudian bude berubah tawarkan dengan harga 1,3 juta. Saya sih tetap puas dengan harga sepeda saya, saya anggap bude ini gak serius kasih harga. Lagian saya pikir toh kita beli udah yang paling maksimal. Jadi ga ada penyesalan buat saya. Selesai dari toko bude kita pun kembali ke kantor.

Sampai di kantor, semua aksesoris tadi dipasang ke sepeda. Pokoknya saya sepertinya sudah siap gowes deh :) Sorenya saya pulang dari kantor ke kosan dengan menggunakan sepeda. Pak Aji, Mas Arga dan Pak Mursan bantu saya menyetel sepeda saya :)

Sepeda saya disetel

Sepeda saya disetel

Oh ya saya juga sudah beli gembok kunci sepeda dari toko online. Gembok itu merek Polygon dengan dilengkapi lampu, saya beli seharga 73 ribu. Dengan gembok itu saya berani parkir sepeda di garasi. Sebelumnya saya masih simpen sepeda saya di gudang kantor.

Gembok Polygon

Gembok Polygon

 

Masih ada Masalah

Permasalahan berikutnya terjadi di hari jumat pagi, tanggal 14 November 2014. Ketika saya coba pake sepeda itu muter-muter kantor di seputar pejompongan ternyata giginya loncat loncat sendiri. Saya tadinya ga ngerti ama masalah ini, tapi waktu teman saya di kantor (pak Irmawan) nyobain sepeda saya, beliau bilang kalo gigi sepeda saya loncat loncat sendiri :(
Saya yang ga ngerti sepeda jd bingung. Untungnya saya punya “Dewan Pakar” :) dengan bantuan para sahabat saya yang baik-baik sepeda saya diutak atik mereka. Permasalahan ditemukan sepertinya di rantainya yang tidak lurus dan juga ternyata tali kawat giginya yang sepertinya tipis. Rantai yang tidak bagus bawaan dari toko membuat sepeda saya sepertinya perlu di servis.

Tadinya kita mau servis di deket kantor aja, tapi saya di ajak mas Arga untuk liat show room Rodalink nya Polygon di SCBD, sekaligus disana ada bengkel buat benerin sepeda saya. Saya pikir biar sekalian beres maka saya setujui usul mas Arga. Kita akhirnya bawa sepeda itu ke bengkel Rodalink di SCBD. Disana saya liat sepeda Polygon paling murah seharga sepeda saya Rp. 1.5 juta tapi rangkanya masih besi belum aluminium. Di toko ini selain ganti rantai dan tali kawat untuk gigi yang lebih bagus, saya juga beli kaos sepeda dan sarung tangan yang lagi sale.

Di Rodalink ini saya ganti rantai merek Polygon dan ganti tali kawat gigi (shift cable) merek Shimano. Saya juga beli bel model tukang es seharga Rp. …

bel nyaring merek cateye

bel nyaring merek cateye

Untuk Servis sepeda di Rodalink seluruhnya saya kena biaya Rp. 75 ribu.

Pulang dari Rodalink sepeda saya gowes dari kantor ke kosan. Sekarang masalah sepeda terpecahkan dan sepeda sudah siap untuk di genjot dalam kondisi jalan sesungguhnya.

 

Mulai beraksi …

Hari Minggu ajang pembuktian pun tiba, saya sudah lama ingin merasakan medan Car Free Day (CFD) di Jakarta. Saya janjian bangun Minggu pagi ama Felix dan Mas Arga untuk cobain sepedaan di CFD. Berangkat dari kosan pagi sekitar jam 7, dari pejompongan lewatin benhil ke luar di pasar benhil trus susurin Sudirman arah ke Bundaran HI.

Busyeeehh… penuhnya jalanan Sudirman-Thamrin pas saat CFD, bikin ga nyaman juga yah. Terutama pas sampe seputaran Bunderan HI. Disana manusia sudah menyemut dan aktivitasnya juga banyak sekali. Saya pun teruskan perjalanan lewat menteng, sabang dan keluar di Monas ke arah Balaikota, terus sampai ke monas puter balik dan mengarah pulang lagi lewat Bunderan HI dan terus sampe Benhil.

Sampe di pejompongan kita makan sarapan pagi di Mie Gamat ;) Teteuppp!! Olahraganya sebentar makannya tetep banyak :D

(Ulasan tentang Mie Gamat bisa dibaca disini)

Wah pokoknya puas lah maen sepedaan di CFD dengan sepeda baru saya… :)

Contoh kartu SIM Hi!

Pengalaman Beli SIM Card Yg Mahal di Lucky Plaza Singapore

Tanggal 6 sampai 17 Mei 2013 saya ikut short courseTemasek Foundation Water Leadership Programme” di  National University Singapore – Lee Kuan Yew School of Public Policy (NUS LKY SPP)  di Singapore. Jadi pada tanggal 5 Mei 2013, hari Minggu siang, saya sudah berada di Singapura.

Pada hari Minggu sore karena saya membutuhkan Pre-Paid Card (kartu perdana telepon selular) untuk berkomunikasi di Singapura, maka saya berdua dengan teman saya memutuskan untuk mencari dan membelinya di pertokoan Lucky Plaza. Saya pikir harga Pre-Paid Card akan standar atau sama di toko manapun di Singapura, maka saya memilih untuk membeli di toko M*g* *l*t* M*b*l* (sebaiknya namanya diinisialkan saja menjadi MEM) di Lucky Plaza Orchard Road. Saya menanyakan Pre-Paid Card yang sudah biasa saya gunakan sebelumnya ketika ke Singapura yaitu “Hi!” produk SingTel. Si penjual langsung melayani dengan meminta paspor saya untuk proses registrasi, membuka kartu perdana tersebut dari plastik bungkusnya dan kemudian memasangnya pada ponsel saya dan juga ponsel teman saya.

Bungkus SIM Card dan Kartu nama toko nya

Bungkus SIM Card dan Kartu nama toko nya

Ketika sedang memasang kartu tersebut, saya tanyakan kepada penjual berapa harga kartu perdana tersebut. Penjual mengatakan bahwa kartu perdana itu masing-masing adalah 38 SGD. Saya kaget namun saya pikir harganya memang sudah berubah sejak terakhir saya beli 2 tahun yang lalu. Kemudian sewaktu pemasangan si penjual bertanya, apakah kartu ini akan digunakan untuk telepon atau internet, saya jawab untuk kedua-duanya. Oleh si penjual dikatakan kalau begitu harus di top-up (ditambah) pulsanya. Saya menyetujui walaupun agak ragu.

Permasalahan muncul ketika selesai semua dan saya hendak membayar, ternyata harga yang diberikan penjual menjadi 98 SGD untuk masing-masing kartu. Sehingga harga dua kartu perdana itu kami menjadi 186 SGD atau setara sekitar Rp. 1.550.360,00 (1 SGD = Rp. 7.910). Tentu kami keberatan dan tidak setuju dengan harga tersebut, mengingat harga dasar kartu perdana tersebut menurut hemat kami tidak sebesar itu dan jika di top-up pun tidak akan sebesar itu. Apalagi ternyata Blackberry milik rekan saya masih belum bisa terkoneksi. Namun setelah berdebat dan terkendala bahasa/komunikasi serta kita tidak yakin dengan sistem hukum di SG plus ditambah penjual yang berbadan besar dengan badan penuh Tattoo :D maka kami akhirnya pilih membayar, walaupun dengan berat hati. Dengan harapan saya akan adukan ke otoritas berwenang di SG.

Sesampainya saya di hotel, yang tidak jauh dari Lucky Plaza, maka saya berinisiatif menghubungi SingTel sebagai produsen kartu perdana “Hi!” melalui email (surel). Tadinya saya coba mencari Lembaga Perlindungan Konsumen, tapi saya search/googling yang ketemu Kementrian Perdagangan Singapore, dan itupun saya ga yakin email saya dilayani oleh mereka (terbukti kemudian memang tidak ada respon dr mereka). Saya browse website Singtel dan melalui website mereka saya menyampaikan permasalahan saya. Dalam surat tersebut saya ceritakan kronologis kejadian diatas dengan menyebutkan nama Toko dan lokasinya (namun tanpa nomor telepon toko karena saya tidak mengetahui). Pihak SingTel kemudian melalui email penjawab otomatis menegaskan akan menindaklanjuti keluhan saya dalam 3 hari. Saya pribadi sebenarnya masih ragu apakah akan ditindaklanjuti oleh pihak SingTel.

Tiga hari kemudian, tepatnya hari Rabu pagi, ketika saya sedang mengikuti training tiba-tiba ada telepon dari nomor Singapura 98381010 yang saya tidak kenal. Setelah saya angkat ternyata itu adalah Customer Officer dari SingTel yang menghubungi saya. Ia mengkonfirmasi atas keluhan/pengaduan saya dan berjanji akan menindaklanjuti permasalahan saya tersebut dengan menghubungi dan berbicara kepada penjualnya. Saya masih ragu apakah pihak SingTel dapat membantu mengembalikan uang saya (apalagi saya tidak dapat mencantumkan nomor telepon toko di surat pengaduan saya).

Ternyata, sekitar jam 11.30 pihak SingTel menelepon saya kembali. Sayangnya saya tidak bisa menjawab karena ponsel saya low batt, sehingga terpaksa saya jawab melalui SMS. Alangkah gembiranya saya, ternyata pihak SingTel telah menghubungi pihak penjual dan hasilnya adalah pihak penjual bersedia untuk mengembalikan uang saya. Dari informasi pihak SingTel disebutkan bahwa harga satuan kartu perdana yang saya beli hanya dikenakan harga 12 SGD, sehingga untuk 2 kartu menjadi 24 SGD. Sisa kelebihan sebesar 172 SGD dapat saya minta kepada penjual di tokonya. Saya khawatir penjual akan mempersulit atau tidak bersedia membayar. Namun pihak SingTel meyakinkan pasti akan dibayar dan jika ada masalah silahkan hubungi mereka kembali. Akhirnya saya dan teman saya mendatangi toko tersebut dan berhasil meminta uang kami kembali tanpa ada kendala yang berarti.

SMS saya dgn Customer Service dari Singtel SG

SMS saya dgn Customer Service dari Singtel SG

Saya sangat kagum dan senang sekali dengan pelayanan SingTel Singapura yang tanggap merespon keluhan saya dan menindaklanjuti keluhan saya tersebut hingga tuntas. SingTel juga mampu memberikan perlindungan yang baik sehingga saya sebagai turis di Singapura merasa dilindungi sekali dan dapat terhindar dari kerugian. Dalam kesempatan ini saya ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada SingTel. Saya sangat mengapresiasi sekali  upaya yang telah mereka lakukan sehingga uang saya bisa kembali dimana hal ini sangat berarti bagi saya. Kalo perusahaan layanan publik yang ada di Indonesia kapan ya bisa kayak gitu? bisa sangat responsif dan membantu sekali dalam menyelesaikan masalah pelanggannya.

Oh ya sebagai saran, jika ke Singapore bingung beli SIM Card yg aman dimana, saya punya rekomendasi di kawasan dekat Mustafa Shopping Center di deket stasiun MRT Farrer park.
Lokasi toko itu gampang sekali, keluar dari stasiun MRT Farrer Park pilih gate A, lalu keluar dari stasiun jalan ke arah City Square Mall, hingga di perempatan Serangoon road kalo ke kiri kita ke Mustafa, nah di perempatan itu ada Warnet 24 Jam punya orang keturunan India.Di depan warnet itu ada kios jualan voucer atau SIM Card persis kayak di Indonesia :) trus yg jual laki-laki keturunan India. Dia selain jual SIM Card juga bersedia mensetting kartu kita agar bisa sesuai dengan paket yg kita mau. Karena saya butuh buat Internet maka saya minta disetting paket internetan :) Orangnya tidak terlalu ramah tapi dia baik dan komunikasi dengan bahasa Inggrisnya bagus.
Harganya juga lumayan bagus, terakhir September 2014 saya beli SIM card udah disettingin sampai beres cuma bayar 18 SGD. Masih lumayan banget. Setiap saya ke Singapore saya jadi beli SIM Card disitu.

Sebenarnya di Lucky Plaza juga ada, tapi di lantai berapa ya? saya lupa. Tokonya di pojok deket tangga jalan yg dari sisi jalan Mount elizabeth, dilantai atas sekitar lantai 3 kalo ga salah, di depannya restoran Indonesia. Cuma kalo toko ini jam 6 atau 7 malam kalo tidak salah sudah tutup. Beda dengan yg didaerah Serangoon road ini, sepertinya 24 Jam mengikuti si Warnet yang juga 24 jam.

Lokasi toko jual SIM Card di Serangoon Road

Lokasi toko jual SIM Card di Serangoon Road

 

 

 

ilustrasi

Sertifikasi Mediator di PMN

Sehubungan dengan tugas saya sebagai anggota Badan Regulator PAM DKI Jakarta periode 2012 -2015, yang salah satunya adalah melakukan Mediasi maka saya pikir saya perlu mengikuti pelatihan Mediasi dan menempuh sertifikasi sebagai Mediator.

Setelah saya ajukan dalam rapat Anggota BR PAM DKI, akhirnya disetujui usulan saya untuk mengikuti training ini. Saya kemudian mencari tau informasi seputar Mediasi dan lembaga yang meyelenggarakan training dan sertifikasi tersebut.

Akhirnya setelah saya browse di internet saya menemukan lembaga Pusat Mediasi Nasional (PMN) yang beralamat di ADI PURI, WISMA SUBUD, Jl. RS. Fatmawati No. 52, Cilandak Barat, Jakarta 12430 Telephone: (021) 7691 466. (www.pmn.or.id)

 

Apa itu Mediasi?

Sesuai Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) No 1 tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan (sebelumnya diatur dalam PERMA NO. 2 tahun 2003), disebutkan bahwa:
Mediasi adalah cara penyelesaian sengketa proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan para pihak dengan dibantu oleh Mediator.”

Dalam Kode Etik Mediator PMN dijelaskan bahwa:
Mediasi adalah sebuah proses penyelesaian sengketa yang melibatkan pihak ketiga yang independen yaitu Mediator yang membantu Para Pihak yang sedang bersengketa untuk mencapai suatu penyelesaian dalam bentuk suatu kesepakatan secara sukarela terhadap sebagian ataupun seluruh permasalahan yang dipersengketakan.

 

Lalu siapa Mediator itu?
Mediator adalah pihak netral yang membantu para pihak dalam proses perundingan guna mencari berbagai kemungkinan penyelesaian sengketa tanpa menggunakan cara memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian.

Dari penjelasan diatas dapat digarisbawahi bahwa:

  • Negosiasi (perundingan) dilakukan oleh para pihak yang bersengketa
  • Negosiasi tersebut dibantu pihak netral yaitu Mediator
  • Mediasi tidak bersifat memutus dan memaksakan penyelesaian
  • Mediasi menghasilkan kesepakatan antara para pihak

Dalam Kode Etik Mediator PMN dijelaskan bahwa:
Mediator adalah seseorang yang independen dalam Mediasi dan bertugas membantu dan mendorong Para Pihak yang bersengketa untuk:

  1. berkomunikasi dan bekerjasama untuk mencapai suatu penyelesaian dengan itikad baik;
  2. mengidentifikasi dan menyampaikan permasalahan, kepentingan dan harapan dari satu pihak ke pihak lainnya;
  3. menciptakan, mengembangkan dan mempertimbangkan berbagai bentuk alternatif penyelesaian;
  4. mengkaji berbagai kemungkinan resiko dan implikasinya; dan
  5. menyelesaikan persengketaannya secara suka rela.

Dalam menjalankan tugasnya seorang Mediator harus Independen atau tidak memihak, dimana mediator bersikap dan tidak menunjukkan sikap memihak terhadap pihak tertentu, terhadap kepentingan pihak tertentu, dan terhadap usulan alternatif penyelesaian dari pihak tertentu.

ilustrasi

ilustrasi

 

Mengapa Mediasi dipilih?

  • Pengadilan yang memakan waktu, mahal/biaya besar dan ketidakpastian sistem hukum.
  • Mediasi bersifat pribadi, prosedur yang fleksibel dimana profesional terlatih membantu para pihak dalam mencapai kesepakatan yang berguna untuk kedua belah pihak.
  • Solusi yang menguntungkan kedua belah pihak.
  • Mediasi lebih fleksibel, efektif dan efisien daripada proses pengadilan umum.

Meskipun semua perkara tidak cocok dengan mediasi lebih dari 80% dari semua permasalahan yang mengarah pada mediasi berhasil diselesaikan.

 

Dimana dilakukan Mediasi?

Mediasi dilakukan baik dalam proses berperkara dipengadilan atau diluar Pengadilan. PERMA No. 1 tahun 2008 mengatur mediasi yang dilakukan dalam proses perkara di Pengadilan. Sedangkan untuk Mediasi di luar pengadilan dapat dilakukan oleh Mediator bersertifikat dan tidak mengacu ke PERMA No 1 tahun 2008.

 

Apa itu Mediator Bersertifikat?
Mediator bersertifikat adalah Mediator yang telah mengikuti pelatihan atau pendidikan mediasi yang dikeluarkan oleh lembaga yang telah diakreditasi oleh Mahkamah Agung.

Saat ini lembaga yang telah diakreditasi oleh MA tersebut yang saya tau diantaranya adalah:
1. PMN (www.pmn.or.id)
2. IICT (Indonesian Institute for Conflict Transformation)

 

Mengapa saya memilih PMN?

Ada sejumlah alasan mengapa saya memilih PMN, yaitu:

  • PMN Diakreditasi Mahkamah Agung (MA-RI) sejak tahun 2004;
  • PMN merupakan anggota pendiri Asian Mediation Association (AMA) dan aktif dalam setiap konferensi untuk mengikuti perkembangan dunia mediasi di kawasan;
  • PMN memiliki kode etik dan dewan kehormatan etik, memiliki kontrol terhadap semua pemegang Sertifikat Mediator yang berlaku 2 tahun (dapat diperpanjang);
  • PMN selain melakukan pelatihan juga melakukan mediasi baik di luar pengadilan maupun di pengadilan;
  • PMN melakukan program-program penyegaran bagi alumni;
  • PMN merupakan anggota Pokja mediasi di MA-RI yaitu paska terbitnya PerMA 2/2003 dan juga Pokja mediasi untuk revisi PerMA 1/2008.

Saya pun mendaftarkan diri dengan difasilitasi oleh instansi saya bekerja untuk mengikuti training Training Mediasi 40 Jam pada tanggal 6,7,13 dan 14 Juli 2012 dan ujian tanggal 15 Juli 2012 untuk mendapatkan sertifikasi Mediator. Training yang saya ikuti ini adalah training Mediasi PMN Angkatan 41.

Saya mengikuti training bersama puluhan peserta lainnya, yang berasal dari berbagai instansi dan profesi. Ada yang Dokter, Pengacara, Akuntan, LSM, Pendeta, Auditor, Polisi dan lain-lain. Pesertanya sangat beragam dan tentunya sangat bermanfaat dalam menambah ilmu dan pengalaman yang berbeda di setiap bidang.

Alhamdulillah saya lulus dan berhak mendapatkan sertifikat sebagai Mediator.

Pelatihan Mediasi 40-jam di PMN tersebut menggunakan silabus yang telah disetujui oleh Mahkamah Agung RI, difokuskan pada simulasi dan diskusi, mencakup:

  1. Alternatif Penyelesaian Sengketa
  2. Analisis Konflik
  3. Negosiasi
  4. Tahapan dan Pengantar Mediasi
  5. Mediator’s Skills
  6. Mediasi dalam Situasi Khusus : menghadapi kebuntuan & pihak yang beremosi
  7. Kode Etik Mediator
  8. Merancang Dokumen Kesepakatan
  9. Prosedur Mediasi Pengadilan
  10. Simulasi Mediasi (Role Play)

 

Dokumen:

  1. PERMA No. 1 tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan (PDF)
  2. Buku Tanya Jawab PERMA No. 1 tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan (PDF)
  3. Kode Etik Mediator PMN (Kode Etik PMN)

 

Dalam kesempatan lain saya akan menjelaskan lebih lanjut seputar Mediasi ini.

ilustrasi

ilustrasi

kerja

Tips Menjaga Komputer Tetap Sehat

TIPS MENJAGA KOMPUTER TETAP SEHAT
Harri Baskoro Adiyanto
Officer Kepatuhan Bisnis

 

Hampir sebagian besar masyarakat saat ini terutama karyawan dan mahasiswa dalam bekerja sehari-hari menggunakan perangkat komputer. Hal tersebut tentunya dengan intensitas yang berbeda-beda (bervariasi). Sering kali kita menghadapi kondisi dimana komputer yang akan digunakan tersebut ternyata tidak dapat bekerja dengan baik atau bahkan rusak.

Jika sudah begini mungkin beberapa pengguna diantaranya dapat segera mengetahui penyebabnya dan mampu mengatasi sendiri persoalan tersebut. Namun demikian, tidak sedikit pula beberapa diantaranya yang tidak dapat mengatasi hal tersebut. Untuk mengatasinya biasanya mereka akan menghubungi dan meminta bantuan Technical Support. Dampak dari perbaikan ini tidak jarang akan menyita waktu. Hal inilah yang dapat menyebabkan kekesalan, kejengkelan atau ‘membuat be’te,’ sebab pekerjaan yang sudah direncanakan atau perlu segera diselesaikan ternyata menjadi terganggu.

Secara sederhana komputer adalah suatu perangkat ataupun sistem elektronik yang mengolah atau memproses data atau informasi sebagaimana yang diperintahkan (Edmon Makarim, 2005: 60). Pada dasarnya komputer tersebut terdiri dari berbagai komponen yang bekerja secara terpadu yang dijalankan berdasarkan perintah-perintah khusus yang telah diolah dengan bahasa program tertentu. Dengan demikian untuk dapat bekerja dengan baik maka kondisi fisik setiap komponen tersebut harus selalu dalam kondisi prima. Komponen penting dalam sebuah komputer diantaranya adalah Motherboard, Processor, Data Storage (Harddisk) dan Memory.

Seperti halnya manusia maka agar komputer tersebut dapat senantiasa bekerja dengan prima perlu pula dijaga “kesehatannya”. Bukankah menjaga kesehatan untuk mencegah kerusakan lebih baik daripada harus mengobati (memperbaiki)? Oleh sebab itu untuk menjaga kesehatan komputer tersebut dapat kiranya dilakukan beberapa langkah sebagai berikut :

1. Tempatkan Central Processing Unit (CPU) — bagi yang mempergunakan Personal Computer (PC) — atau Notebook/Laptop, dalam ruang yang cukup terbuka dan dengan sirkulasi udara yang cukup. Memang sebagian besar ruangan sudah menggunakan penyejuk udara (Air Conditioning – AC) namun demikian penempatan CPU komputer yang kurang tepat dapat menyebabkan sirkulasi udara kedalam komputer menjadi terganggu. Sementara beberapa komponen dalam komputer sangat rentan terhadap suhu yang tinggi, dimana jika terjadi peningkatan suhu maka terdapat kemungkinan komputer akan menjadi hang atau tidak bekerja. Oleh sebab itu pada beberapa komputer yang digunakan untuk tingkat lanjut (seperti diantaranya untuk pekerjaan grafis atau editing) sering menggunakan alat pendingin tambahan seperti misalnya dengan menggunakan pendingin air (water cooling). Selain itu kerap dijumpai pada beberapa pengguna yang menempatkan CPU komputernya di kolong meja kerja dengan jarak antara CPU dengan dinding cukup rapat, ditambah pula ditumpuki dan ditutupi dengan berbagai macam barang seperti file-file, kardus sepatu dan lain-lain. Tentunya hal ini kurang baik bagi sirkulasi udara ke dalam komputer tersebut.

2. Sebaiknya hindari mematikan komputer tanpa melalui prosedur yang benar atau dimatikan secara paksa. Hal ini dapat menyebabkan komputer menjadi rentan akan kerusakan, terutama pada bagian Data Storage (Harddisk). Sebab dengan mematikan komputer tanpa melalui prosedur yang benar maka harddisk tersebut belum siap untuk berhenti bekerja dan kembali pada kondisi normal. Sehingga hal ini dapat memicu timbulnya bad sector pada harddisk tersebut. Jika sudah muncul bad sector tersebut maka usia pakai harddisk tersebut dapat diperkirakan tidak akan lama lagi atau akan segera rusak. Hal ini tentu sangat riskan dan berbahaya, terutama bagi pengguna yang memiliki data penting dalam harddisk-nya, maka langkah pertama setelah mengetahui adanya bad sector dalam harddisk tersebut adalah dengan melakukan back-up atau meng-copy data-data yang penting ke dalam harddisk lain yang masih sehat.Hendaknya sebelum menggunakan  perangkat lunak (software) atau perangkat keras (hardware) tambahan lainnya agar dikonsultasikan terlebih dahulu dengan Technical Support atau otoritas yang berwenang dalam mengelola komputer. Hal ini guna menghindari terjadinya benturan (conflict) antar perangkat tersebut sehingga dapat merubah konfigurasi atau menyebabkan gangguan kinerja bahkan merusak komputer tersebut.

3. Setting (atur) layar monitor komputer dengan mode hybernate (hibernasi) atau standby jika ditinggalkan dalam jangka waktu tertentu. Hal ini selain bermanfaat dalam menjaga usia pakai komputer juga menghemat konsumsi energi yang digunakan. Pengaturan semacam ini berguna bagi pengguna yang sering meninggalkan komputernya dalam waktu yang cukup lama, seperti misalnya untuk rapat atau bertemu klien tanpa perlu mematikan komputer. Untuk mengatur layar monitor seperti dimaksud dapat dilakukan dengan cara :

Klik Start à lalu masuk ke Control Panel à lalu pilih menu Display à selanjutnya pilih tab Sreen saver. Dalam tab ini terdapat menu monitor power à klik pada button power. Selanjutnya tentukan jangka waktu yang diinginkan agar monitor akan berada pada mode standby jika tidak digunakan.

4. Sebaiknya lakukan proses harddisk scan dan harddisk defragmentation. Hal ini merupakan salah satu bagian proses pencegahan kerusakan yang cukup penting serta sebagai upaya menjaga kondisi harddisk dan data didalamnya. Jika dianalogikan dengan sebuah perpustakaan maka proses defragmentation ini merupakan sebuah proses yang mirip dengan proses untuk mengembalikan buku-buku yang telah dibaca kembali ke dalam rak-raknya sesuai kelompoknya masing-masing. Data-data dalam harddisk yang tidak tersusun secara tepat dan teratur akan menyebabkan komputer menjadi terasa lambat ketika digunakan. Selain itu dua proses ini berguna pula untuk mengetahui adanya bad sector (sebagaimana telah disampaikan sebelumnya). Oleh sebab itu lakukan kedua proses ini minimal satu kali dalam sebulan atau dapat lebih cepat jika dipandang perlu. Proses ini dapat dilakukan dengan cara :

 Klik My Computer pada desktop à klik kanan pada harddisk yang ingin di scan dan di defrag (misalnya C:\harddisk) à lalu klik properties à pada tab Tools pilih menu yang diinginkan. Jalankan Scan now untuk proses scanning dan selanjutnya jika proses ini selesai beralih ke pilihan Defragment now untuk melakukan proses Defragmentation.

 Mengingat untuk melakukan aktivitas ini membutuhkan waktu yang cukup lama, maka proses ini dapat dilakukan untuk selanjutnya dapat ditinggalkan, misalnya untuk menghadiri rapat atau bertemu klien. Agar proses ini dilakukan secara rutin atau tidak terlewat, pada sekitar monitor komputer dapat ditempelkan sebuah catatan atau check-list kecil sebagai media untuk mengingatkan apakah proses ini telah dilakukan.

5. Pastikan bahwa pada komputer yang digunakan telah di install perangkat lunak (software) antivirus. Walaupun secara fisik sebuah perangkat komputer telah dirawat dan dijaga dengan baik, namun dalam keseharian bekerja tidak dapat dihindari bahwa komputer tersebut akan berinteraksi dengan komputer atau perangkat lain. Interaksi tersebut dapat terjadi melalui jaringan, menerima atau menyalin data melalui berbagai media penyimpan (disket, flash memory dll), menerima dan mengirim email atau bahkan mengakses jaringan diluar kantor melalui internet. Seluruh aktivitas tersebut akan menimbulkan potensi masuknya virus, berupa program yang dapat mengganggu atau bahkan merusak, ke dalam komputer. Oleh sebab itu agar hal tersebut tidak terjadi maka perlu di install antivirus yang memadai. Saat ini telah tersedia berbagai macam antivirus dan technical support biasanya telah meng-install-kan sebuah perangkat lunak antivirus dalam setiap perangkat komputer. Hal yang perlu pula diperhatikan adalah walaupun perangkat lunak antivirus tersebut telah di install, perlu senantiasa dilakukan pengkinian (updating) antivirus tersebut secara berkala. Hal ini cukup penting  mengingat setiap saat selalu muncul jenis/varian baru dari virus yang dapat menginfeksi komputer. Proses pengkinian tersebut dapat dilakukan dengan men-download (mengunduh) langsung melalui website resmi antivirus yang bersangkutan atau dapat pula diperoleh dengan meminta bantuan dari technical support yang berwenang.

Demikianlah beberapa langkah yang perlu kiranya dilakukan guna menjaga kinerja komputer anda agar selalu tetap prima. Semoga tidak be’te lagi… :)

Sumber Pustaka :

  1. Edmon Makarim, “Pengantar Hukum Telematika – Suatu Kompilasi Kajian”, 2005.
  2. PT. ANT – IT Training Center, “Practical Guide to Security Policy and Awareness for Managers: Defending Your Physical and Digital Asset Against Hacker, Crackers, Spies & Thieves”, 2007.

 

Artikel ini pernah dimuat di Majalah “Warta Bukopin” edisi …