Posts

banner-mm-mh

Perbedaan Kuliah Program Magister Manajemen (MM) dengan Magister Hukum (MH)

Secara umum banyak orang yang sudah mengetahui perbedaan mendasar dari Program Magister Manajemen dan Magister Hukum. Keduanya adalah program studi dari dua disiplin ilmu yang berbeda. Akan tetapi dalam kesempatan ini saya ingin mengulas perbandingan kedua program ini sedikit lebih detail teknis perkuliahan berdasarkan pengalaman kuliah saya.

Dalam artikel ini saya ingin membandingkan perkuliahan program Magister Manajemen (MM) dengan Magister Hukum (MH). Perbandingan ini mengacu kepada perkuliahan yang saya tempuh di STIE Indonesia Banking School (IBS) untuk program Magister Manajemen di tahun 2013 sd 2015, dan perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia untuk program Magister Hukum (MH) tahun 2017.

Terdapat 4 hal yang akan saya bandingkan di artikel ini:

  1. Penyelenggaraan Pembelajaran
  2. Jumlah SKS dan Beban Studi
  3. Peminatan
  4. Distribusi Mata Kuliah

 

A. Penyelenggaraan Pembelajaran

Penyelenggaraan pembelajaran antara program MM di STIE IBS dengan program MH di FHUI sangat lah jauh berbeda.

1. MM STIE IBS

Pada saat saya kuliah dulu, penyelenggaraan kuliah program MM di STIE IBS diselenggarakan hanya pada hari Jumat dan Sabtu saja.
- Jum’at jam 18.00 – 21.00 WIB di Kampus Kemang
- Sabtu jam 08.00 – 16.00 WIB di Kampus Kemang

Sementara saat ini (Februari 2017) saat saya cek di laman http://ibs.ac.id/mm_info.php waktu perkuliahan nampaknya sudah berubah menjadi hanya di hari Sabtu pukul 07.30 – 18.00 WIB saja.

Sesi 1       : Pukul 07.30 – 10.00 WIB
Sesi 2       : Pukul 10.00 – 12.30 WIB
Sesi 3       : Pukul 13.00 – 15.30 WIB
Sesi 4       : Pukul 15.30 – 18.00 WIB

Tampaknya saat ini perkuliahan program MM di STIE IBS benar-benar dipadatkan di hari Sabtu (weekend). Saya pikir apakah tidak melelahkan kuliah seperti itu, dipadatkan hanya 1 hari? Kemudian jika mahasiswa harus absen 1 hari maka akan absen untuk 4 mata kuliah sekaligus, wuihhh… sayang sekali.

Penyelenggaraan kuliah Program MM di kampus lain tentunya bisa berbeda dan tergantung kebijakan dari setiap kampus. Kebetulan saya mengikuti perkuliahan program MM saat itu masih campuran antara kelas malam dan kelas Sabtu (weekend).

 

2. MH FHUI

Penyelenggaraan perkuliahan program MH FHUI terbagi dua, yaitu: Kelas Reguler dan Kelas Khusus.

1. Kelas Reguler (Kelas Pagi)

Perkuliahan diselenggarakan setiap hari Senin sd Jumat pukul 08.00 – 15.00.

Lokasi Perkuliahan di Kampus FHUI Depok.

2. Kelas Non Reguler (Kelas Sore)

Perkuliahan diselenggarakan setiap hari Senin sd Jumat pukul 17.00 – 21.00.

Lokasi Perkuliahan di Kampus FHUI Salemba Jakarta.

Penyelenggaraan perkuliahan program MH di FHUI ini menurut saya termasuk inovatif dan “unik”. Menagapa? sebab FHUI memberikan pilihan waktu perkuliahan pagi hari. Sehingga bagi mahasiswa yang ingin kuliah secara penuh waktu dan bisa kuliah di pagi hari maka bisa menempuh kuliah pagi hari. Selain biayanya lebih murah dibanding kelas malam juga waktu studinya bisa lebih singkat. Bisa ditempuh 3 semester saja.

 

B. Jumlah SKS dan Beban Studi

Jumlah SKS yang harus ditempuh pada program MM dan MH adalah sebagai berikut

1. MM STIE IBS

Jumlah kredit yang harus diselesaikan oleh peserta Program MM IBS adalah 42 satuan kredit semester (SKS) yang dapat diselesaikan dalam waktu empat (4) semester termasuk tugas akhir (Tesis).

 

2. MH FHUI

Beban studi yang harus ditempuh mahasiswa Program Magister Ilmu Hukum berjumlah 44 SKS.

Sedangkan masa studi program MH ini dapat ditempuh sebagai berikut:

  • Program Reguler yang diikuti penuh waktu dijadwalkan dalam waktu 4 (empat) Semester dimana dalam pelaksanaannya dapat ditempuh dalam waktu paling cepat 3 (tiga) semester dan paling lama 6 (enam) semester.
  • Program Non Reguler yang diikuti penuh waktu dijadwalkan dalam waktu 5 (empat) Semester dimana dalam pelaksanaannya dapat ditempuh dalam waktu paling cepat 4 (tiga) semester dan paling lama 7 (enam) semester.

 

C. Peminatan

Peminatan dan mata kuliah program MM dan program MH ini sangat jauh berbeda pula. Program MM jumlah peminatan lebih sedikit dari pada program MH.

 

1. MM STIE IBS

Peminatan atau konsentrasi studi di program MM STIE IBS terdiri dari:

  1. Perbankan Konvensional
  2. Perbankan Syariah
  3. Risk Management
  4. Marketing

Program MM di kampus lain biasanya tidak jauh berbeda, mereka menawarkan konsentrasi/peminatan yang mirip dengan penambahan konsentrasi/peminatan lain, seperti misalnya: Manajemen Keuangan, Manajemen Sumber Daya Manusia, Manajemen Internasional, Manajemen Operasi, Manajemen Aktuaria dan Manajemen Pasar Modal

 

2. MH FHUI

Sedangkan program Magister Ilmu Hukum di FHUI memiliki program peminatan yang jauh lebih banyak lagi. Peminatan tersebut adalah:

  1. Peminatan Hukum Ekonomi
  2. Peminatan Hukum Ekonomi Islam
  3. Peminatan Hukum dan Sistem Peradilan Pidana
  4. Peminatan Hukum Kenegaraan (Tata Negara/Administrasi Negara)
  5. Peminatan Hukum Transnasional
  6. Peminatan Hukum Perdagangan Internasional
  7. Peminatan Hukum Sumber Daya Alam
  8. Peminatan Hukum Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
  9. Peminatan Hak Asasi Manusia (HAM) dan Good Governance
  10. Peminatan Hukum Ketenagakerjaan
  11. Peminatan Hukum Keuangan Publik

Program Magister Hukum di FHUI memiliki 11 peminatan. Hal ini berbeda pula dengan Bidang Studi di Fakultas Hukum, karena Bidang Studi di FHUI adalah organisasi di dalam fakultas dimana para staf pengajar tergabung atau berkelompok sesuai minat dan keahlian masing-masing.

Bidang studi di FHUI adalah:

  1. Bidang Studi Dasar-dasar Ilmu Hukum
  2. Bidang Studi Hukum Keperdataan
  3. Bidang Studi Hukum Pidana
  4. Bidang Studi Hukum Tata Negara
  5. Bidang Studi Hukum Administrasi Negara
  6. Bidang Studi Hukum Internasional
  7. Bidang Studi Hukum Acara
  8. Bidang Studi Hukum Masyarakat dan Pembangunan

 

D. Distribusi Mata Kuliah

Melihat dari banyaknya peminatan di program MH di FHUI, demikian pula mata kuliah yang ditawarkan di program MH jauh lebih banyak dibandingkan mata kuliah di program MM. Apalagi setiap mata kuliah di program MH berbobot 2 SKS sementara mata kuliah di program MM bobot per mata kuliah adalah 3 SKS.

 

1. MM STIE IBS

Jumlah mata kuliah yang harus diselesaikan dalam program MM adalah 12 mata kuliah dan Tesis Program Magister, dengan jumlah satuan kreditnya adalah 42 kredit.

Artinya setiap mata kuliah bobotnya adalah 3 SKS x 12 mata kuliah = 36 SKS ditambah Tesis 6 SKS maka total adalah 42 SKS.

Merujuk kepada laman http://ibs.ac.id/mm_kurikulum.php maka dapat dilihat distribusi mata kuliah tersebut adalah sebagai berikut:

Semester 1 (Mata Kuliah Inti)

  1. Corporate Financial Management (3 SKS)
  2. Strategic Management (3 SKS)
  3. Organizational Behavior and Leadership (3 SKS)
  4. Strategic Marketing (3 SKS)

Semester 2 (Mata Kuliah Kompetensi)

  1. Decision Making Theory (3 SKS)
  2. Business Law & Business Ethic (3 SKS)
  3. Business Research Method (3 SKS)
  4. Operational Management (3 SKS)

Semester 3 (Konsentrasi Perbankan Konvensional)

  1. Asset and Liability Manegement (3 SKS)
  2. Management Bank & Jasa Keuangan (3 SKS)
  3. Banking and Finance Risk Management (3 SKS)
  4. Banking and Finance Reasearch & Seminar (3 SKS)

Semester 3 (Konsentrasi Perbankan Syariah)

  1. Asset and Liability Management for Islamic Bank (3 SKS)
  2. Accounting for Islamic-Bank (3 SKS)
  3. Risk Management for Islamic Bank (3 SKS)
  4. Seminar and Research for Islamic Bank (3 SKS)

Semester 3 (Konsentrasi Risk Management)

  1. Risk Management Research and Seminar (3 SKS)
  2. Banking Finance Research and Seminar (3 SKS)
  3. Introduction to Risk Management (3 SKS)
  4. Enterprise Risk Management (3 SKS)

Semester 3 (Konsentrasi Marketing)

  1. Consumers Behaviour (3 SKS)
  2. Integrated Markeing Communication (3 SKS)
  3. Service Marketing (3 SKS)
  4. Marketing Research and Seminar (3 SKS)

Semester 4

Tesis (6 SKS)

 

2. MH FHUI

Seperti apa yang sudah diuraikan sebelumnya, bahwa beban studi yang harus ditempuh mahasiswa Program Magister Ilmu Hukum berjumlah 44 SKS. Mata Kuliah dalam Program MH terbagi menjadi 2 (dua) bagian, Mata Kuliah Wajib Program Studi dan Mata Kuliah Wajib Peminatan.

Mata Kuliah Wajib Program Studi untuk semua peminatan adalah sama yaitu sebagai berikut:

Kode MK Nama MK SKS
LWGP80101 Filsafat Hukum 2
LWGP80102 Politik Hukum 2
LWGP80103 Sosiologi Hukum 2
LWGP80104 Teori Hukum 2
LWGP80105 Metode Penelitian 2
LWGP80106 Seminar Usulan Penelitian Tesis 2
LWGP80107 Tesis 6

 

Mengingat program MH itu terdiri dari 11 peminatan maka saya hanya memberikan contoh Mata Kuliah Wajib Peminatan Hukum Ekonomi saja (dimana saya memilih peminatan ini). Mahasiswa yang memilih peminatan Hukum Ekonomi harus menempuh 22 SKS mata kuliah wajib peminatan dan 4 SKS mata kuliah pilihan bebas.

Berikut adalah daftar mata kuliah wajib peminatan dan mata kuliah pilihan bebas:

Kode MK Nama MK SKS
LWEL80201 Hukum Perusahaan 2
LWEL80202 Hukum Investasi dan Pasar Modal 2
LWEL80203 Hukum Perbankan dan Lembaga Keuangan 2
LWEL80204 Hukum Pembiayaan Perusahaan 2
LWEL80205 Transaksi Bisnis Internasional 2
LWEL80206 Hukum Anti Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 2
LWEL80207 Transaksi Berjaminan 2
LWEL80208 Tindak Pidana Ekonomi dan Anti Korupsi 2
LWEL80209 Hukum Hak Kekayaan Intelektual 2
LWEL80210 Hukum Pajak 2
LWEL80211 Hukum Asuransi* 2
LWEL80212 Hukum Dagang Internasional * 2
LWEL80213 Akutansi Untuk Sarjana Hukum * 2
LWEL80214 Arbitrase & Penyelesaian Sengketa Alternatif * 2
LWEL80215 Peranan Hukum dalam Pembangunan Ekonomi * 2
LWEL80216 Hukum Perlindungan Konsumen* 2
LWEL80217 Kapita Selekta Hukum Perikatan 2

* Mata Kuliah Pilihan Bebas

Satu hal yang sama dari perkuliahan saya di MM dan MH adalah tidak adanya sistem prasyarat mata kuliah yang harus diambil untuk menempuh mata kuliah lain. Baik MM dan MH saya memulai kuliah sama-sama dengan mata kuliah untuk semester 2 baru kemudian di semester 2 saya kuliah untuk mata kuliah semester 1.

Demikianlah uraian saya tentang perbandingan program MM dan program MH. Semoga bermanfaat bagi mereka yang berminat untuk meneruskan kuliah di tingkat Strata 2 atau Pasca Sarjana.

 

 

 

 

Logo IBS

Tautan (Link) Daftar Pustaka Tesis

Halaman ini adalah berisi tautan (link) menuju sumber daftar pustaka yang saya gunakan dalam menyusun Tesis saya.

Sepanjang daftar pustaka tersebut berupa bahan soft copy atau file PDF yang diperoleh di internet dan terdapat link nya maka akan saya cantumkan disini. Jika daftar pustaka tersebut berupa buku atau bahan pustaka cetak (hard copy) maka tidak dapat saya cantumkan link nya.

 

Tanggal update: 22 Juli 2016

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Abdallah, Abed Al-Nasser dan Mostafa Kamal Hassan. 2014. The Determinants of Corporate Risk Disclosure in the Gulf Cooperative Council (GCC) Countries. Paper dipresentasikan pada: the BAFA 2014 Annual Conference, London School of Economics and Political Science, UK, April 14-16, 2014. Inggris.
  2. Abeysekera, Indra. 2010. The Influence of Board Size on Intellectual Capital Disclosure by Kenyan Listed Firms. Journal of Intellectual Capital 11 (4) hlm.504-518. (PDF)
  3. Adamu, Musa Uba. 2013. The Need for Corporate Risk Disclosure in the Nigerian Listed Companies Annual Reports. IOSR Journal of Economics and Finance (IOSR-JEF), Vol I Issue 6. (PDF)
  4. Adamu, Musa Uba. 2013. Risk Reporting: A Study of Risk Disclosures in the Annual Reports of Listed Companies in Nigeria. Research Journal of Finance and Accounting Vol. 4 No. 16. (PDF)
  5. Ahmed, Anwer S, Anne Beatty dan Bruce Bettinghaus. 1999. Evidence on the Efficacy of Market Risk Disclosures by Commercial Banks. (PDF)
  6. Akhtaruddin, Mohamed, Monirul Alam Hossain, Mahmud Hossain dan Lee Yao. 2009. Corporate Governance and Voluntary Disclosure in Corporate Annual Reports of Malaysian Listed Firms. JAMAR Vol. 7 – Number 1 – 2009. (PDF)
  7. Algifari. 2000. Analisis Regresi, Edisi Kedua, BPFE, Yogyakarta. (BUKU TEKS)
  8. Al-Janadi, Yaseen., Rashidah Abdul Rahman dan Normah Haj Omar.2013. Corporate Governance Mechanism and Voluntary Disclosure in Saudi Arabia. Research Journal of Finance and Accounting Vol. 4 No. 4, 2013. (PDF)
  9. Ali, Mazurina Mohd dan Dennis Taylor. 2014. Corporate Risk Disclosure in Malaysia: The Influence of Predispositions of Chief Executive Officers and Chairs of Audit Committee. Research Journal of Finance and Accounting Vol. 5 No. 2, 2014. (PDF)
  10. Ali, Mazurina Mohd dan Dennis Taylor. 2014. Content Analysis of Corporate Risk Disclosure in Malaysia. 4th Annual International Conference on Accounting and Finance (AF 2014). (PDF)
  11. Al-Moataz, Ehsan dan Khaled Hussainey. 2012. Determinant of Corporate Governance Disclosure in Saudi Companies. Journal of Economics and Management. (PDF)
  12. Al-Shammari, Bader. 2014. An Investigation of the Impact of Corporate Governance Mechanisms on Level of Corporate Risk Disclosure: Evidence from Kuwait. International Journal of Business and Social Research (IJBSR). (PDF)
  13. Al-Shammari, Bader. 2014. Kuwait Corporate Characteristics and Level of Risk Disclosure: A Content Analysis Approach. Journal of Contemporary Issues in Business Research Vol 3, Issue No. 3, 2014. (PDF)
  14. Amran, Azlan, M.S. Ishak,A.H. Zulkafli dan M. Nejati. 2010. Board Structure and Extent of Corporate Governance Statement. International Journal Managerial and Financial Accounting Vol. 2 No. 4, 2010. (PDF)
  15. Amran, Azlan, Abdul Manaf Rosli Bindan Bin Che Haat Mohd Hassan. 2009. Risk reporting an exploratory study on risk management disclosure in Malaysian annual reports. Managerial Auditing Journal Vol. 24, No. 1, 2009. (PDF)
  16. Andres, Pablo de dan Eleuterio Vallelado. 2008. Corporate Governance in Banking: The Role of the Board of Directors. Journal of Banking & Finance 32 (2008). (PDF)
  17. Arifin.(2005). Peran Akuntan Dalam Menegakkan Prinsip Good Corporate Governance Pada Perusahaan di Indonesia (Tinjauan Perspektif Teori Keagenan). Disampaikan Pada Sidang Senat Guru Besar Universitas Diponegoro Dalam Rangka Pengusulan Jabatan Guru Besar, Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang. (PDF)
  18. Bank for International Settlements. 2012. 2012 Core Principles for Effective Banking Supervision. Basel, Switzerland, Bank for International Settlements. (PDF)
  19. Barth, James R., Gerard Caprio Jr., dan Ross Levine. 2012. Bank Regulation and Supervision: what works best?. Journal of Financial Intermediation 13 (2004) hlm.205-248. (PDF)
  20. Barth, James R., Jie Gan dan Daniel E. Nolle. 2004. Global Banking Regulation & Supervision: What Are the Issues and What Are the Practices? (with Barth and Nolle), in “Focus on Financial Institutions and Services,” Nova Science Publisher. (PDF)
  21. Botosan, Christine A. 1997. Disclosure Level and the Cost of Equity Capital American Accounting Association. The Accounting Review Vol. 72, No. 3 (Jul 1997). (PDF)
  22. Cooper, Donal R dan Pamela S. Schindler. 2011. Business Research Methods. Singapore: McGrawHill. (BUKU TEKS)
  23. Damak-Ayadi, Salma dan Yvon Pesqueux. 2005. Stakeholder Theory in Perspective. Corporate Governance, Wiley-Blackwell, 2005, 5 (2), hlm.5-21. https://halshs.archives-ouvertes.fr/halshs-00154129. (PDF)
  24. Daniri, Mas Achmad. 2014. Lead By GCG. Jakarta: Gagas Bisnis Indonesia. (BUKU TEKS)
  25. Davis, E. Philip dan Ugochi Obasi. 2009. The Effectiveness of Banking Supervision. London: Brunel University Department of Economics and Finance. (PDF)
  26. Donaldson, Thomas dan Lee E. Preston. 1995. The Stakeholder Theory of the Corporation: Concepts, Evidence, and Implications. The Academy of Management Review, Vol. 20, No. 1 (Jan 1995), hlm. 65-91 http://www.jstor.org/stable/258887. (PDF)
  27. Elzahar, Hany dan Khaled Hussainey. 2012. Determinants of Narrative Risk Disclosures in UK Interim Reports. The Journal of Risk Finance 02/2012; 13(2):133-147. (PDF)
  28. Fontaine, Charles, Antoine Haarman dan Stefan Schmid. 2006. The Stakeholder Theory. (PDF)
  29. Freeman, R. Edward and John McVea. 2001. A Stakeholder Approach to Strategic Management. Darden Business School Working Paper No. 01-02. Available at SSRN: http://ssrn.com/abstract=263511 or http://dx.doi.org/ 10.2139/ ssrn.263511. (PDF)
  30. Ghozali, Imam. 2007. Manajemen Risiko Perbankan – Pendekatan Kuantitatif Value at Risk (VaR). Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. (BUKU TEKS)
  31. Ghozali, Imam. 2014. Ekonometrika: Teori, Konsep dan Aplikasi dengan IBM SPSS 22. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. (BUKU TEKS)
  32. Gitman, Lawrence J. dan Chad J. Zutter. 2012. Principles of Managerial Finance 13th ed. Boston: The Prentice Hall series in finance. (BUKU TEKS)
  33. Gregory, Holly J. 2001. International Comparison of Corporate Governance Guidelines And Codes Of Best Practice Investor Viewpoints. New York: Weil, Gotshal & Manges LLP – Egon Zehnder. (PDF)
  34. Group of Thirty. 2008. The structure of Financial Supervision: Approaches and Challenges in a Global Marketplace. Washington: The Group of Thirty. (PDF)
  35. Gujarati, Damodar. 2008. Ekonometrika Dasar. Jakarta: Penerbit Erlangga. (BUKU TEKS)
  36. Hassan, Mostafa Kamal. 2013. Corporate Governance Characteristics and Voluntary Disclosure: The Case of UAE Listed Corporations. Bangkok: The 2013 IBEA, International Conference on Business, Economics, and Accounting 20 – 23 March 2013. (PDF)
  37. Helbok, Gunther dan Christian Wagner. 2006. Determinants of Operational Risk Reporting in the Banking Industry. (PDF)
  38. Ho, Simon S.M. dan Kar Shun Wong.2001. A Study of the Relationship between Corporate Governance Structures and the Extent of Voluntary Disclosure. Journal of International Accounting, Auditing & Taxation 10 (2001) hlm.139-156. (PDF)
  39. Horring, Dirk dan Helmut Grundl. 2011. Investigating Risk Disclosure Practices in the European Insurance Industry. (PDF)
  40. Hossain, Mohammed. 2008. The Extent of Disclosure in Annual Reports of Banking Companies: The Case of India. European Journal of Scientific Research Vol. 23 no. 4 (2008), hlm.660-681. (PDF)
  41. Htay, Sheila Nu Nu, Ridzwana Mohd Said dan Syed Ahmed Salman. 2013. Impact of Corporate Governance on Disclosure Quality: empirical Evidence from Listed Banks in Malaysia. International Journal of Economics and Management 7 (2): hlm. 242-279. (PDF)
  42. Huang, Rocco. 2006. Bank Disclosure Index: Global Assessment of Bank Disclosure Practices.Washington: World Bank. (PDF)
  43. Idroes, Ferry. N. 2011. Manajemen Risiko Perbankan: Pemahaman Pendekatan 3 Pilar Kesepakatan Basel II Terkait Aplikasi Regulasi dan Pelaksanaannya di Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers. (BUKU TEKS)
  44. Idroes, Ferry. N dan Sugiarto. 2006. Manajemen Risiko Perbankan: Dalam Konteks Kesepakatan Basel dan Peraturan Bank Indonesia. Yogyakarta: Graha Ilmu. (BUKU TEKS)
  45. Jensen, Michael C., dan William H. Meckling. 1976. Theory of the Firm: Managerial Behavior, Agency Costs and Ownership Structure. Journal of Financial Economics, October, 1976, V. 3, No. 4, hlm.305-360. (PDF)
  46. Juhmani, Omar. 2013. Ownership Structure and Corporate Voluntary Disclosure: Evidence from Bahrain. International Journal of Accounting and Financial Reporting Vol. 3, No. 2. (PDF)
  47. Krivoy, Ruth de. 2000. Reforming Bank Supervision In Developing Countries. Conference Series 44 Building an Infrastructure for Financial Stability. Boston: the Federal Reserve Bank of Boston. (PDF)
  48. Linsley, Philip M dan Philip J. Shrives. 2006. Risk reporting: A study of risk disclosures in the annual reports of UK companies. The British Accounting Review 38 (2006) hlm.387–404. (PDF)
  49. MacDonald, S.Scott dan Timothy W. Koch. 2006. Management of Banking. Singapore: South-Western, Cengage Learning. (BUKU TEKS)
  50. Mallin, Chris., Andy Mullineux dan Clas Wihlborg. 2004. The Financial Sector and Corporate Governance – Lessons from the UK. Center for Law, Economics, and Financial Institutions on Copenhagen Business School (CBS), LEFIC Working Paper 2004-6. (PDF)
  51. Masciandaro, Donato., Maria J. Nieto, dan Henriette Prast. 2007. Financial Governance of Banking Supervision. Documentos de Trabajo No. 0725. Madrid: Banco De Espana. (PDF)
  52. Oorschot, Laura Van. 2009. Risk reporting: An Analysis of the German Banking Industry. Erasmus University Rotterdam, School of Economics, Master Accounting, Auditing and Control. (PDF)
  53. Pyle, David H. 1997. Bank Risk Management: Theory. Research Program in Finance – Working Paper RPF-272. Conference on Risk Management and Deregulation in Banking, Jerusalem, May 17-19, 1997. (PDF)
  54. Saunder, Anthony dan Marcia Millon Cornett. 2011. Financial Institutions Management: A Risk Management Approach 7ed. Singapore: McGrawHill International. (BUKU TEKS)
  55. Suhardjanto, Djoko., Aryane Dewi, Erna Rahmawati dan Firazonia M. 2012. Peran Corporate Governance dalam Praktik Risk Disclosure pada Perbankan Indonesia. Jurnal Akuntansi & Auditing Volume 9/No. 1/November 2012. (PDF)
  56. Suhardjanto, Djoko dan Aryane Dewi. 2011. Pengungkapan Risiko Finansial dan Tata Kelola Perusahaan: Studi Empiris Perbankan Indonesia. Jurnal Keuangan dan Perbankan, Vol. 15, No. 1 Januari 2011, hlm 105-108. (PDF)
  57. Umar, Husein. 2000. Metode Penelitian Untuk Skripsi & Tesis Bisnis. Jakarta: Rajawali Pers. (BUKU TEKS)
  58. Umar, Husein. 2011. Research Methods in Finance and Banking. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. (BUKU TEKS)
  59. Walsh, J.P. dan J.K. Seward. 1990. On the Efficiency of Internal and External of Corporate Control Mechanisms. Academy of Management Review 1990 Vol. 15 No. 3. Hlm: 421–458. (PDF)
  60. Zadeh, Farahnaz Orojali dan Alireza Eskandari. 2012. Firm Size As Company’s Characteristic and Level of Risk Disclosure: Review on Theories and Literatures. International Journal of Business and Social Science Vol. 3 No. 1. (PDF)
  61. Zadeh, Farahnaz Orojali dan Alireza Eskandari. 2012. Looking Forward to Financial Risk Disclosure Practices by Malaysian Firms. Australian Journal of Basic and Applied Sciences 6 (8). (PDF)

 

Peraturan/Ketentuan:

  1. Peraturan Bank Indonesia Nomor 3/22/PBI/2001 tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank. (PDF)
  2. Peraturan Bank Indonesia Nomor 5/8/PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum. (PDF)
  3. Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 Tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum. (PDF)
  4. Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/14/PBI/2006 Tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 Tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum. (PDF)
  5. Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/26/PBI/2012 tentang Kegiatan Usaha dan Jaringan Kantor Berdasarkan Modal Inti Bank. (PDF)
  6. Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/14/PBI/2012 tentang Transparansi dan Publikasi Laporan Bank. (PDF)
  7. Surat Edaran Bank Indonesia No. 3/31/DPNP perihal Laporan Tahunan Bank Umum dan Laporan Tahunan Tertentu yang Disampaikan kepada Bank Indonesia. (PDF)
  8. Surat Edaran Bank Indonesia No. 14/35/DPNP perihal Laporan Tahunan Bank Umum dan LaporanTahunan Tertentu yang Disampaikan kepada Bank Indonesia. (PDF)
  9. Keputusan Bapepam LK Nomor: Kep-134/BL/2006 tentang Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan Bagi Emiten atau Perusahaan Publik.
  10. Surat Keputusan Menteri Negara/Kepala Badan Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN No. 23/M PM/BUMN/2000 tentang Pengembangan Praktik GCG dalam Perusahaan Perseroan (PERSERO).

 

 

Jika terdapat link yang rusak atau hal-hal yang ingin ditanyakan, silahkan hubungi saya di :
hbaskoro (at) harribaskoro (dot) com , atau
hbaskoro (at) yahoo (dot) com

 

 

 

Logo IBS

Jurnal: Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengungkapan Risiko Perusahaan (Corporate Risk Disclosure) Pada Industri Perbankan Indonesia

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT PENGUNGKAPAN RISIKO PERUSAHAAN
(CORPORATE RISK DISCLOSURE) PADA INDUSTRI PERBANKAN INDONESIA

Oleh: Harri Baskoro Adiyanto

ABSTRACT

This research wants to examine the effects of Bank Size (CSIZE), Profitability (PROFIT), Public Shares Ownership (ISSUE), Total Number of the Board of Commissioner (BSIZE), Total Meeting of the Board of Commissioner (RPTDEKOM), and Member of Commissioner with background from Banking Supervisory Institution (BIDEKOM) to Corporate Risk Disclosure.

The sampling technique used in this research is purposive sampling, with certain criteria are: (1) Banking which already go public and listed on Bank of Indonesia and Indonesia Stock Exchange (IDX) (2) Bank that had published their annual report in 2012 and 2013 on their website and IDX website (www.idx.co.id), which data are complete and relevant with the research.

The result of this research shows that the data has fulfilled the classical assumption, such as: there is no multicollinearity and distributed normally. From the regression analysis, found that partially Bank Size, Profitability and Member of Commissioner with Background from Banking Supervisory Institution variable, are significant to Corporate Risk Disclosure, while Public
Share Ownership, Total Number of the Board of Commissioner and Total Meeting of the Board of Commissioner are not significant to Corporate Risk Disclosure. From the research also found that those six variables Bank Size, Profitability, Public Share Ownership, Total Number of the Board of Commissioner, Total Meeting of the Board of Commissioner and Member of
Commissioner with Background from Banking Supervisory Institution variable simultaneously has influence to Corporate Risk Disclosure.

Key Words: Risk Disclosure, Good Corporate Governance, Risk Management, Agency Theory, Stakeholder Theory, Annual Report, and Banking Supervision.

 

Untuk membaca Jurnal dalam format PDF silahkan klik JURNAL

———————————————————————————————————————————————————–

PENDAHULUAN

Pengungkapan risiko perusahaan menjadi perhatian penting bagi masyarakat khususnya bagi para investor. Hal ini dapat dipahami mengingat informasi tersebut dibutuhkan para investor sebagai salah satu alat untuk pengambilan keputusan yang cermat dan tepat dalam melakukan investasi. Oleh sebab itu, pengungkapan informasi risiko oleh suatu perusahaan harus dilakukan secara berimbang, artinya informasi yang disampaikan bukan hanya yang bersifat positif saja namun termasuk informasi yang bersifat negatif terutama yang terkait dengan aspek risiko perusahaan.

Praktek pengungkapan informasi dalam industri perbankan di Indonesia sesungguhnya belum cukup memuaskan. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian Bank Dunia pada tahun 2006 yang berjudul “Bank Disclosure Index: Global Assessment of Bank Disclosure Practices”. Penelitian ini dilakukan dengan menghitung komposit indeks dari pengungkapan perbankan di 180 negara sejak tahun 1994. Dalam penelitian ini pengukuran dilakukan atas pengungkapan informasi perbankan dikaitkan dengan asset, liabilities, funding, incomes dan profil risiko.

Berdasarkan penelitian tersebut diketahui posisi Indonesia berada pada ranking 55 dari 177 negara di dunia yang diteliti oleh Bank Dunia. Posisi ini jelas jauh tertinggal dibandingkan dengan negara Asia lainnya seperti Hongkong yang berada di ranking nomor 1, Bahrain di posisi 6, Qatar di posisi 8, Jepang di posisi 12, UAE di posisi 18 dan India posisi 32. Bahkan di tingkat negara Asia Tenggara Indonesia tertinggal oleh Thailand yang berada diposisi 29, kemudian Malaysia di posisi 44 diikuti Singapura di posisi 45 dan Filipina di posisi 48. Dibandingkan negara di Asia Tenggara Indonesia hanya lebih baik dari Kamboja, Vietnam, Brunei Darussalam dan Laos.

Hasil penelitian tersebut diatas mendorong dilakukannya penelitian terhadap praktek pengungkapan risiko pada perbankan di Indonesia, ditambah dengan alasan lainnya bahwa bank dalam menjalankan aktivitas operasinya lebih banyak berhubungan dengan risiko jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan lainnya.

Berdasarkan latar belakang penelitian dan hasil beberapa penelitian terdahulu maka judul penelitian ini adalah: “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengungkapan Risiko Perusahaan (Corporate Risk Disclosure) Pada Industri Perbankan Indonesia”.

Beberapa penelitian terkait dengan pengungkapan risiko perusahaan (Corporate Risk Disclosure) sebagaimana telah disampaikan sebelumnya telah banyak dilakukan. Menurut hasil penelitian Hossain (2008) yang meneliti tentang “The Extent of Disclosurein Annual Reports of Banking Companies: The Case of India”, menunjukkan bahwa ukuran bank, profitabilitas, komposisi dewan komisaris dan disiplin pasar memiliki pengaruh/hubungan yang signifikan dengan tingkat pengungkapan (disclosure). Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Elzahar dan Hussainey (2012), yang meneliti tentang “Determinants of Narrative Risk Disclosures in UK Interim Reports”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan dan tipe industri memiliki hubungan dengan tingkat CRD. Sesuai dengan hasil penelitian tersebut maka hasil penelitian Juhmani (2013), Abdallah dan Hassan (2014), Al-Shammari (2014) dan Linsley dan Shrives (2006) menunjukan hal yang sama bahwa ukuran perusahaan memiliki pengaruh yang signifikan dengan CRD.

Merujuk kepada uraian latar belakang sebagaimana tersebut diatas maka identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah:

  • Mengevaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengungkapan risiko perusahaan pada industri perbankan di Indonesia.
  • Mengukur tingkat pengungkapan risiko perusahaan pada industri perbankan di Indonesia.
  • Mengukur pengaruh ukuran bank, profitabilitas, jumlah kepemilikan saham publik, jumlah anggota komisaris, jumlah rapat dewan komisaris dan adanya komisaris yang berlatar belakang pensiunan dari otoritas pengawas perbankan terhadap tingkat pengungkapan risiko perusahaan (Corporate Risk Disclosure) pada industri Perbankan Indonesia.

 

KAJIAN TEORI

Teori Tata Kelola Perusahaan (Good Corporate Governance)

Tata Kelola Perusahaan atau Good Corporate Governance (GCG) diperkenalkan pertama kali pada tahun 1992. Saat itu Cadbury Committee di Inggris menerbitkan laporan yang berjudul “The Financial Aspects of Corporate Governance” atau lebih dikenal dengan dengan Cadbury Report. Sejak saat itu maka Cadbury Report tersebut menjadi dasar dalam penerapan Tata Kelola Perusahaan/GCG di Inggris bahkan hingga ke berbagai negara.

Tata Kelola Perusahaan didefinisikan oleh Sir Adrian Cadbury (Mallin 2004, 3) sebagai: “the whole system of controls, both financial and otherwise, by which a company is directed and controlled.” Sedangkan the OECD tahun 1999 mendefinisikan sebagai:

“a set of relationships between a company’s board, its shareholders and other stakeholders. It also provides the structure through which the objectives of the company are set, and the means of attaining those objectives, and monitoring performance are determined.”

Daniri (2014, 21) mendefinisikan GCG sebagai suatu pola hubungan (struktur), sistem dan proses yang mengarahkan organ perusahaan (Direksi, Dewan Komisaris dan RUPS) memberikan nilai tambah kepada perusahaan secara berkesinambungan, dengan tetap memperhatikan kepentingan para stakeholder, berlandaskan peraturan perundangan dan norma yang berlaku.

 

Teori Pengungkapan Risiko (Risk Disclosure)

Pengungkapan (disclosure) merupakan penyebaran informasi yang material kepada masyarakat yang mana isinya berupa evaluasi dari kegiatan usaha sebuah perusahaan dalam hal ini yaitu bank. Menurut Idroes (2011, 234) Pilar 3 Basel II menetapkan persyaratan pengungkapan yang memungkinkan pelaku pasar untuk menilai informasi-informasi utama mengenai cakupan risiko, modal, eksposur risiko, proses pengukuran risiko dan kecukupan modal bank.

Pengungkapan risiko penting karena membantu stakeholder (pemangku kepentingan) dalam mendapatkan informasi yang diperlukan untuk memahami profil risiko dan bagaimana manajemen mengelola risiko.Pengungkapan risiko juga bermanfaat untuk memonitor risiko dan mendeteksi potensi masalah sehingga dapat melakukan tindakan lebih awal agar masalah tersebut tidak terjadi (Linsley dan Shrives 2006, 388).

 

Berdasarkan hal tersebut diatas maka penelitian ini mengukur pengaruh ukuran bank, profitabilitas, jumlah kepemilikan saham publik, jumlah anggota dewan komisaris, jumlah rapat dewan komisaris dan komisaris yang berlatar belakang pensiunan dari otoritas pengawas perbankan. Adapun Hipotesis yang dikembangkan adalah:

H1: Ukuran Bank memiliki pengaruh signifikan dan positif terhadap tingkat risk disclosure (pengungkapan risiko) pada industri Perbankan Indonesia.

H2: Profitabilitas perusahaan berpengaruh signifikan dan positif terhadap tingkat risk disclosure (pengungkapan risiko) pada industri Perbankan Indonesia.

H3: Kepemilikan saham publik memiliki pengaruh signifikan dan positif terhadap tingkat risk disclosure (pengungkapan risiko) pada industri Perbankan Indonesia.

H4: Jumlah anggota dewan komisaris memiliki pengaruh signifikan dan positif terhadap tingkat risk disclosure (pengungkapan risiko).

H5: Jumlah rapat dewan komisaris memiliki pengaruh signifikan dan positif terhadap tingkat risk disclosure (pengungkapan risiko).

H6: Komisaris yang berlatar belakang pensiunan dari otoritas pengawas perbankan memiliki pengaruh terhadap tingkat risk disclosure (pengungkapan risiko).

H7: Ukuran perusahaan, profitabilitas, kepemilikan saham publik, jumlah anggota komisaris,jumlah rapat dewan komisaris dan komisaris yang berlatar belakang pensiunan dari otoritas pengawas perbankan, berpengaruh secara simultan terhadap tingkat pengungkapan risiko perusahaan (CorporateRisk Disclosure) pada industri Perbankan Indonesia.

 

METODOLOGI

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bank umum konvensional telah go public (terbuka) di Indonesia yang tercatat di Bank Indonesia dan Bursa Efek Indonesia, serta telah menerbitkan Annual Report pada tahun 2012 dan 2013. Jumlah bank umum di Indonesia yang terdaftar di Bank Indonesia hingga Desember 2014 adalah 120 Bank, terdiri dari 109 bank umum konvensional dan 11 Bank Syariah. Dari 109 bank umum konvensional tersebut tercatat 39 bank telah go public dan tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis regresi linier berganda. Analisis regresi linier berganda dimaksudkan untuk menguji sejauh mana dan bagaimana arah variabel-variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Persamaan regresi berganda untuk pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah:

RDS = α + β1CSIZE + β2PROFIT + β3ISSUE + β4BSIZE + β5RPTDEKOM + β6BIDEKOM

Dimana:

RDS                   = Risk Disclosure Score
CSIZE               = Ukuran Bank
PROFIT           = Profitabilitas
ISSUE               = Jumlah Kepemilikan Saham Publik
BSIZE                = Jumlah anggota Komisaris
RPTDEKOM  = Jumlah Rapat Dewan Komisaris
BIDEKOM       = Adanya komisaris yang berlatar belakang pensiunan dari  otoritas pengawas perbankan
α                           = Konstanta
β1, β2, β3, β4, β5, β6 = Koefisien Regresi

 

HASIL PENELITIAN

Tabel 1 Analisis Deskriptif

Tabel 1

Tabel 1

Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel di atas , dapat kita lihat untuk nilai minimum variabel ukuran bank yaitu senilai 1048,15 dan nilai maksimum 733099,766 dan nilai rata-rata nya yaitu sebesar 105400,2 dengan standar deviasi sebesar 170083,313. Nilai minimum untuk variabel profitabilitas yaitu senilai -0,01 dan nilai maksimum 0,05 dan nilai rata-rata nya yaitu sebesar 0,02 dengan standar deviasi sebesar 0,013. Nilai minimum untuk variabel jumlah kepemilikan saham publik yaitu senilai 0,00 dan nilai maksimum 0,51 dan nilai rata-rata nya yaitu sebesar 0,22 dengan standar deviasi sebesar 0,160. Nilai minimum untuk variabel jumlah anggota dewan komisaris yaitu senilai 2 dan nilai maksimum 9 dan nilai rata-rata nya yaitu sebesar 4,98 dengan standar deviasi sebesar 1,807. Nilai minimum untuk variabel jumlah rapat dewan komisaris yaitu senilai 4 dan nilai maksimum 79 dan nilai rata-rata nya yaitu sebesar 17,77 dengan standar deviasi sebesar 16,963. Nilai minimum untuk variabel adanya komisaris yang berlatar belakang pensiunan dari otoritas pengawas perbankan yaitu senilai 0,00 dan nilai maksimum 1 dan nilai rata-rata nya yaitu sebesar 0,23 dengan standar deviasi sebesar 0,427. Nilai minimum untuk variabel RDS yaitu senilai 23,53 dan nilai maksimum 100 dan nilai rata-rata nya yaitu sebesar 80,79 dengan standar deviasi sebesar 17,883.

 

Tabel 2 Hasil Penelitian

Tabel 2

Tabel 2

Berdasarkan tabel 2 di atas diperoleh hasil sebagai berikut:

Untuk variabel Ukuran Bank (CSIZE) diperoleh nilai t hitung sebesar 2,164. Karena t hitung (2,164) > t tabel (1,99) maka Ho ditolak. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Ukuran Bank (CSIZE) secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Tingkat Pengungkapan Risiko Perusahaan.
Untuk variabel Profitabilitas (PROFIT) diperoleh nilai t hitung sebesar 2,316. Karena t hitung (2,316) > t tabel (1,99) maka Ho ditolak. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Profitabilitas (PROFIT) secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Tingkat Pengungkapan Risiko Perusahaan.
Untuk variabel Jumlah Kepemilikan Saham (ISSUE) diperoleh nilai t hitung sebesar 1,410. Karena t hitung (1,410) < t tabel (1,99) maka Ho diterima. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Jumlah Kepemilikan Saham (ISSUE) secara parsial memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap Tingkat Pengungkapan Risiko Perusahaan.
Untuk variabel Jumlah Anggota Komisaris (BSIZE) diperoleh nilai t hitung sebesar 1,145. Karena t hitung (1,145) < t tabel (1,99) maka Ho diterima. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Jumlah Anggota Komisaris (BSIZE) secara parsial memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap Tingkat Pengungkapan Risiko Perusahaan.
Untuk variabel Jumlah Rapat dewan komisaris (RPTDEKOM) diperoleh nilai t hitung sebesar 1, 783. Karena t hitung (1,783) < t tabel (1,99) maka Ho diterima. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa jumlah rapat dewan komisaris (RPTDEKOM) secara parsial memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap Tingkat Pengungkapan Risiko Perusahaan.
Untuk variabel adanya komisaris berlatar belakang pensiunan dari otoritas pengawas perbankan (BIDEKOM) diperoleh nilai t hitung sebesar 2,159. Karena t hitung (2,159) > t tabel (1,99) maka Ho ditolak. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Latar belakang Komisaris (BIDEKOM) secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Tingkat Pengungkapan Risiko Perusahaan.

 

Tabel 3 Koefisien Determinasi

Tabel 3

Tabel 3

Berdasarkan hasil output software SPSS di atas, diperoleh nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,592. Koefisien determinasi yang telah disesuaikan sebesar 28,5% menunjukkan bahwa kontribusi ukuran bank, profitabilitas, jumlah kepemilikan saham publik, jumlah anggota dewan komisaris, jumlah rapat dewan komisaris dan adanya komisaris yang berlatar belakang pensiunan pengawas perbankan terhadap Tingkat Pengungkapan Risiko Perusahaan sebesar 28,5% sedangkan sisanya sebesar 71,5% merupakan kontribusi variabel lain.

 

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI

Kesimpulan

Berikut adalah beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini:

1. Dari 6 (enam) variabel independen yaitu ukuran bank, profitabilitas, jumlah kepemilikan saham publik, ukuran dewan komisaris, jumlah rapat dewan komisaris dan adanya komisaris yang berlatar belakang pensiunan dari otoritas pengawas perbankan, yang diduga memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan risiko perusahaan (Corporate Risk Disclosure) pada industri Perbankan, ternyata terdapat 3 (tiga) variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan risiko perusahaan (Corporate Risk Disclosure). Ketiga variabel tersebut adalah:

  • Ukuran bank, dimana dalam penelitian ini disimpulkan bagi bank konvensional yang telah Tbk semakin besar total aset yang dimiliki maka akan semakin baik skor tingkat pengungkapan risikonya kepada publik. Hal ini disebabkan karena bank selain ingin menunjukkan kinerjanya kepada publik juga perlu menunjukkan kinerjanya dalam mengelola risiko.
  • Profitabilitas dalam penelitian ini menunjukkan memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat risk disclosure (pengungkapan risiko). Berdasarkan data empiris yang ada dan dari hasil penelitian yang diperoleh, ini menunjukkan bahwa naik dan turunnya profitabilitas perusahaan mempengaruhi tingkat risk disclosure (pengungkapan risiko). Namun demikian nilai koefiesien regresi yang negatif, perlu kiranya diteliti lebih lanjut dalam penelitian selanjutnya, hal ini diduga terjadi karena penelitian ini dilakukan hanya 2 (dua) periode saja yaitu 2012 dan 2013.
  • Komisaris yang berlatar belakang pensiunan dari otoritas pengawas perbankan adalah variabel independen baru yang tidak ada dalam penelitian sebelumnya. Pengawasan atau pengendalian internal oleh bank adalah penting. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut harus ditunjang dengan personalia yang memiliki pengetahuan, pengalaman dan kemampuan dalam hal pengawasan, utamanya pada level Komisaris atau Direksi. Hal tersebut untuk membantu bank guna mewujudkan pengawasan dan pengendalian internal yang efektif. Sejalan dengan hal tersebut maka personalia yang pernah bekerja di lembaga pengawasan seperti bank sentral memiliki pengetahuan, pengalaman dan kemampuan dalam pengawasan perbankan yang kemudian dapat diimplementasikan dalam proses pengendalian internal sebuah bank. Hasil penelitian ini mendukung teori tersebut dimana komisaris yang berlatar belakang pensiunan dari otoritas pengawas perbankan memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat risk disclosure (pengungkapan risiko) sebuah bank.

2. Dari hasil uji t dengan melihat nilai signifikansi maka dapat disimpulkan bahwa yang paling berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan risiko perusahaan (Corporate Risk Disclosure) adalah variabel profitabilitas dengan nilai signifikansi t sebesar 0,024 dan variabel independen yang paling tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan risiko perusahaan (Corporate Risk Disclosure) adalah jumlah anggota dewan komisaris dengan nilai signifikansi t sebesar 0,257.

Dari hasil uji F, terbukti bahwa nilai signifikansi F yaitu 0.000 lebih kecil dari nilai signifikansi yang telah ditentukan sebelumnya yaitu 0,05. Dengan demikian maka seluruh variabel independen dalam penelitian ini secara bersama-sama (simultan) berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan risiko perusahaan (Corporate Risk Disclosure) sebagai variabel dependen.

Implikasi

Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa variabel independen yang berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan risiko adalah ukuran bank, profitabilitas dan adanya komisaris yang berlatar belakang pensiunan dari otoritas pengawas perbankan. Oleh sebab itu bagi otoritas pengawas perbankan dan pasar modal maka ketiga faktor tersebut perlu diperhatikan dan dicermati, mengingat hal tersebut ternyata berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan risiko. Sehingga kebijakan pengawasan dan pengendalian bank dapat diselaraskan dengan hal tersebut.

Sedangkan bagi manajemen perbankan ketiga faktor tersebut harus dipertimbangkan mengingat bank-bank yang memiliki aset dan profitabilitas besar serta adanya komisaris yang berlatar belakang pensiunan dari otoritas pengawas perbankan berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan risiko bank.

Sedangkan variabel yang tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan risiko adalah jumlah kepemilikan saham, jumlah anggota dewan komisaris dan jumlah rapat dewan komisaris. Dengan demikian jumlah ketiga variabel tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan risiko. Namun demikian, variabel tersebut tetap perlu menjadi perhatian karena secara simultan variabel independen tersebut satu sama lain saling mempengaruhi terhadap tingkat pengungkapan risiko.

—————————————————————————————————————————————————

DAFTAR PUSTAKA

Abdallah, Abed Al-Nasser dan Mostafa Kamal Hassan. 2014. The Determinants of Corporate Risk Disclosure in the Gulf Cooperative Council (GCC) Countries. Paper dipresentasikan pada: the BAFA 2014 Annual Conference, London School of Economics and Political Science, UK, April 14-16, 2014. Inggris.

Abeysekera, Indra. 2010. The Influence of Board Size on Intellectual Capital Disclosure by Kenyan Listed Firms. Journal of Intellectual Capital 11 (4) hlm.504-518.

Adamu, Musa Uba. 2013. The Need for Corporate Risk Disclosure in the Nigerian Listed Companies Annual Reports. IOSR Journal of Economics and Finance (IOSR-JEF), Vol I Issue 6.

Adamu, Musa Uba. 2013. Risk Reporting: A Study of Risk Disclosures in the Annual Reports of Listed Companies in Nigeria. Research Journal of Finance and Accounting Vol. 4 No. 16.

Ahmed, Anwer S, Anne Beatty dan Bruce Bettinghaus. 1999. Evidence on the Efficacy of Market Risk Disclosures by Commercial Banks.

Akhtaruddin, Mohamed, Monirul Alam Hossain, Mahmud Hossain dan Lee Yao. 2009. Corporate Governance and Voluntary Disclosure in Corporate Annual Reports of Malaysian Listed Firms. JAMAR Vol. 7 – Number 1 – 2009.

Algifari. 2000. Analisis Regresi, Edisi Kedua, BPFE, Yogyakarta.

Al-Janadi, Yaseen., Rashidah Abdul Rahman dan Normah Haj Omar.2013. Corporate Governance Mechanism and Voluntary Disclosure in Saudi Arabia. Research Journal of Finance and Accounting Vol. 4 No. 4, 2013.

Ali, Mazurina Mohd dan Dennis Taylor. 2014. Corporate Risk Disclosure in Malaysia: The Influence of Predispositions of Chief Executive Officers and Chairs of Audit Committee. Research Journal of Finance and Accounting Vol. 5 No. 2, 2014.

Ali, Mazurina Mohd dan Dennis Taylor. 2014. Content Analysis of Corporate Risk Disclosure in Malaysia. 4th Annual International Conference on Accounting and Finance (AF 2014).

Al-Moataz, Ehsan dan Khaled Hussainey. 2012. Determinant of Corporate Governance Disclosure in Saudi Companies. Journal of Economics and Management.

Al-Shammari, Bader. 2014. An Investigation of the Impact of Corporate Governance Mechanisms on Level of Corporate Risk Disclosure: Evidence from Kuwait. International Journal of Business and Social Research (IJBSR).

Al-Shammari, Bader. 2014. Kuwait Corporate Characteristics and Level of Risk Disclosure: A Content Analysis Approach. Journal of Contemporary Issues in Business Research Vol 3, Issue No. 3, 2014.

Amran, Azlan, M.S. Ishak,A.H. Zulkafli dan M. Nejati. 2010. Board Structure and Extent of Corporate Governance Statement. International Journal Managerial and Financial Accounting Vol. 2 No. 4, 2010.

Amran, Azlan, Abdul Manaf Rosli Bindan Bin Che Haat Mohd Hassan. 2009. Risk reporting an exploratory study on risk management disclosure in Malaysian annual reports. Managerial Auditing Journal Vol. 24, No. 1, 2009.

Andres, Pablo de dan Eleuterio Vallelado. 2008. Corporate Governance in Banking: The Role of the Board of Directors. Journal of Banking & Finance 32 (2008).

Arifin.(2005). Peran Akuntan Dalam Menegakkan Prinsip Good Corporate Governance Pada Perusahaan di Indonesia (Tinjauan Perspektif Teori Keagenan). Disampaikan Pada Sidang Senat Guru Besar Universitas Diponegoro Dalam Rangka Pengusulan Jabatan Guru Besar, Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang.

Bank for International Settlements. 2012. 2012 Core Principles for Effective Banking Supervision. Basel, Switzerland, Bank for International Settlements.

Barth, James R., Gerard Caprio Jr., dan Ross Levine. 2012. Bank Regulation and Supervision: what works best?. Journal of Financial Intermediation 13 (2004) hlm.205-248.

Barth, James R., Jie Gan dan Daniel E. Nolle. 2004. Global Banking Regulation & Supervision: What Are the Issues and What Are the Practices? (with Barth and Nolle), in “Focus on Financial Institutions and Services,” Nova Science Publisher. http://www.bm.ust.hk/~jgan/papers/BARTHnolle%20gan_bood.pdf.

Botosan, Christine A. 1997. Disclosure Level and the Cost of Equity Capital American Accounting Association. The Accounting Review Vol. 72, No. 3 (Jul 1997).

Cooper, Donal R dan Pamela S. Schindler. 2011. Business Research Methods. Singapore: McGrawHill.

Damak-Ayadi, Salma dan Yvon Pesqueux. 2005. Stakeholder Theory in Perspective. Corporate Governance, Wiley-Blackwell, 2005, 5 (2), hlm.5-21. https://halshs.archives-ouvertes.fr/halshs-00154129.

Daniri, Mas Achmad. 2014. Lead By GCG. Jakarta: Gagas Bisnis Indonesia.

Davis, E. Philip dan Ugochi Obasi. 2009. The Effectiveness of Banking Supervision. London: Brunel University Department of Economics and Finance.

Donaldson, Thomas dan Lee E. Preston. 1995. The Stakeholder Theory of the Corporation: Concepts, Evidence, and Implications. The Academy of Management Review, Vol. 20, No. 1 (Jan 1995), hlm. 65-91 http://www.jstor.org/stable/258887.

Elzahar, Hany dan Khaled Hussainey. 2012. Determinants of Narrative Risk Disclosures in UK Interim Reports. The Journal of Risk Finance 02/2012; 13(2):133-147.

Fontaine, Charles, Antoine Haarman dan Stefan Schmid. 2006. The Stakeholder Theory.

Freeman, R. Edward and John McVea. 2001. A Stakeholder Approach to Strategic Management. Darden Business School Working Paper No. 01-02. Available at SSRN: http://ssrn.com/abstract=263511 or http://dx.doi.org/ 10.2139/ ssrn.263511.

Ghozali, Imam. 2007. Manajemen Risiko Perbankan – Pendekatan Kuantitatif Value at Risk (VaR). Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Ghozali, Imam. 2014. Ekonometrika: Teori, Konsep dan Aplikasi dengan IBM SPSS 22. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Gitman, Lawrence J. dan Chad J. Zutter. 2012. Principles of Managerial Finance 13th ed. Boston: The Prentice Hall series in finance.

Gregory, Holly J. 2001. International Comparison of Corporate Governance Guidelines And Codes Of Best Practice Investor Viewpoints. New York: Weil, Gotshal & Manges LLP – Egon Zehnder.

Group of Thirty. 2008. The structure of Financial Supervision: Approaches and Challenges in a Global Marketplace. Washington: The Group of Thirty.

Gujarati, Damodar. 2008. Ekonometrika Dasar. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Hassan, Mostafa Kamal. 2013. Corporate Governance Characteristics and Voluntary Disclosure: The Case of UAE Listed Corporations. Bangkok: The 2013 IBEA, International Conference on Business, Economics, and Accounting 20 – 23 March 2013.

Helbok, Gunther dan Christian Wagner. 2006. Determinants of Operational Risk Reporting in the Banking Industry.

Ho, Simon S.M. dan Kar Shun Wong.2001. A Study of the Relationship between Corporate Governance Structures and the Extent of Voluntary Disclosure. Journal of International Accounting, Auditing & Taxation 10 (2001) hlm.139-156.

Horring, Dirk dan Helmut Grundl. 2011. Investigating Risk Disclosure Practices in the European Insurance Industry.

Hossain, Mohammed. 2008. The Extent of Disclosure in Annual Reports of Banking Companies: The Case of India. European Journal of Scientific Research Vol. 23 no. 4 (2008), hlm.660-681.

Htay, Sheila Nu Nu, Ridzwana Mohd Said dan Syed Ahmed Salman. 2013. Impact of Corporate Governance on Disclosure Quality: empirical Evidence from Listed Banks in Malaysia. International Journal of Economics and Management 7 (2): hlm. 242-279.

Huang, Rocco. 2006. Bank Disclosure Index: Global Assessment of Bank Disclosure Practices.Washington: World Bank.

Idroes, Ferry. N. 2011. Manajemen Risiko Perbankan: Pemahaman Pendekatan 3 Pilar Kesepakatan Basel II Terkait Aplikasi Regulasi dan Pelaksanaannya di Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.

Idroes, Ferry. N dan Sugiarto. 2006. Manajemen Risiko Perbankan: Dalam Konteks Kesepakatan Basel dan Peraturan Bank Indonesia. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Jensen, Michael C., dan William H. Meckling. 1976. Theory of the Firm: Managerial Behavior, Agency Costs and Ownership Structure. Journal of Financial Economics, October, 1976, V. 3, No. 4, hlm.305-360.

Juhmani, Omar. 2013. Ownership Structure and Corporate Voluntary Disclosure: Evidence from Bahrain. International Journal of Accounting and Financial Reporting Vol. 3, No. 2.

Krivoy, Ruth de. 2000. Reforming Bank Supervision In Developing Countries. Conference Series 44 Building an Infrastructure for Financial Stability. Boston: the Federal Reserve Bank of Boston.

Linsley, Philip M dan Philip J. Shrives. 2006. Risk reporting: A study of risk disclosures in the annual reports of UK companies. The British Accounting Review 38 (2006) hlm.387–404.

MacDonald, S.Scott dan Timothy W. Koch. 2006. Management of Banking. Singapore: South-Western, Cengage Learning.

Mallin, Chris., Andy Mullineux dan Clas Wihlborg. 2004. The Financial Sector and Corporate Governance – Lessons from the UK. Center for Law, Economics, and Financial Institutions on Copenhagen Business School (CBS), LEFIC Working Paper 2004-6.

Masciandaro, Donato., Maria J. Nieto, dan Henriette Prast. 2007. Financial Governance of Banking Supervision. Documentos de Trabajo No. 0725. Madrid: Banco De Espana.

Oorschot, Laura Van. 2009. Risk reporting: An Analysis of the German Banking Industry. Erasmus University Rotterdam, School of Economics, Master Accounting, Auditing and Control.

Pyle, David H. 1997. Bank Risk Management: Theory. Research Program in Finance – Working Paper RPF-272. Conference on Risk Management and Deregulation in Banking, Jerusalem, May 17-19, 1997.

Saunder, Anthony dan Marcia Millon Cornett. 2011. Financial Institutions Management: A Risk Management Approach 7ed. Singapore: McGrawHill International.

Suhardjanto, Djoko., Aryane Dewi, Erna Rahmawati dan Firazonia M. 2012. Peran Corporate Governance dalam Praktik Risk Disclosure pada Perbankan Indonesia. Jurnal Akuntansi & Auditing Volume 9/No. 1/November 2012.

Suhardjanto, Djoko dan Aryane Dewi. 2011. Pengungkapan Risiko Finansial dan Tata Kelola Perusahaan: Studi Empiris Perbankan Indonesia. Jurnal Keuangan dan Perbankan, Vol. 15, No. 1 Januari 2011, hlm 105-108.

Umar, Husein. 2000. Metode Penelitian Untuk Skripsi & Tesis Bisnis. Jakarta: Rajawali Pers.

Umar, Husein. 2011. Research Methods in Finance and Banking. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Walsh, J.P. dan J.K. Seward. 1990. On the Efficiency of Internal and External of Corporate Control Mechanisms. Academy of Management Review 1990 Vol. 15 No. 3. Hlm: 421–458.

Zadeh, Farahnaz Orojali dan Alireza Eskandari. 2012. Firm Size As Company’s Characteristic and Level of Risk Disclosure: Review on Theories and Literatures. International Journal of Business and Social Science Vol. 3 No. 1.

Zadeh, Farahnaz Orojali dan Alireza Eskandari. 2012. Looking Forward to Financial Risk Disclosure Practices by Malaysian Firms. Australian Journal of Basic and Applied Sciences 6 (8).

 

 

 

 

Logo IBS

Kuliah Pasca Sarjana MM di STIE IBS

Sudah sejak lama saya ingin kuliah pasca sarjana terutama mengambil jurusan manajemen atau hukum. Tapi waktu dan biaya belum memungkinkan. Sehingga keinginan saya itu saya tunda lama sekali. Saya lulus S-1 tahun 2000 dan sampai tahun 2013 saya belum pernah kuliah lagi. Artinya 13 tahun saya sudah meninggalkan kampus. Walaupun demikian selama 13 tahun tersebut banyak training atau pelatihan yang saya ikuti dan manfaat nya saya pikir tidak kalah dengan bangku kuliah.

Sejak saya bekerja di Badan Regulator PAM DKI Jakarta di tahun 2012 saya bertekad untuk kuliah lagi. Saya pikir waktunya sudah tepat dan tabungan saya juga sudah mencukupi untuk membayar biaya kuliah. Namun saya mesti pelajari dulu suasana bekerja dan loading pekerjaan di BRPAM ini, sehingga baru pada tahun 2013 saya memutuskan untuk mendaftar kuliah.

Saat itu saya terpikir untuk langsung mengambil kuliah Magister Hukum, akan tetapi kampus pilihan saya adalah Universitas Indonesia di Salemba dan Universitas Gajah Mada cabang Jakarta, yang semuanya berlokasi jauh dari kantor dan tempat tinggal saya. Sehingga saya memutuskan untuk mengambil kuliah lain yaitu Magister Manajemen dengan pertimbangan berikut:
1. Lokasi perkuliahan tidak jauh dari kantor dan rumah tinggal
2. Biaya Kuliah terjangkau
3. Status kampus berkualitas
4. Jurusan yang ditawarkan sesuai dengan minat
5. Waktu kuliah tidak mengganggu kerja

Berdasarkan pertimbangan tersebut maka saya melakukan browsing via internet dan media lainnya seperti koran dan majalah. Hasilnya saya menemukan website kampus IBS di http://www.ibs.ac.id. Kampus ini menurut saya sangat pas dengan kriteria pilihan saya, karena:

 

Lokasi Kampus
Lokasi kampus berada di Jalan Kemang Raya, artinya jika saya pulang dari kantor di Pejompongan (saat itu saya belum kost) ke Depok, maka jalan menuju ke Kampus itu searah dengan jalan saya menuju pulang ke rumah di Depok. Saya tadinya ingin kuliah di Universitas Indonesia, tapi kelas Pasca Sarjana mereka di Salemba. Arah ke Salemba itu macet sekali di sore hari, dan tidak searah ke Depok. Pilihan lain kuliah di Perbanas di Kuningan, wah ini lagi! Kuliah di Kuningan sore hari sih bisa stress duluan kena macetnya. Saya terbayang bisa terlambat kuliah. Pilihan lain adalah Kuliah di Atmajaya Semanggi, kampus ini deket banget ama kantor saya, tapi jika selesai kuliah jam 21.00 WIB, maka saya masih jauh lagi harus pulang ke rumah di Depok. Kasian ama pak Pardi supir saya. Memang akhirnya pilihan jatuh ke Kampus IBS di Kemang Raya ini. Jika saya kuliah sore, maka saya masih bisa kejar dari Pejompongan, walaupun macet di Perempatan Kemang (McDonald Kemang) tapi masih bisa terkejar lah, dan terbukti selama kuliah disana saya tidak pernah terlambat. Pulangnya jam 21.00 WIB jarak ke Depok sudah tidak terlalu jauh lagi, sudah tinggal separuh jalan saja.

 

Biaya Kuliah
Biaya Kuliah Pasca Sarjana Magister Manajemen di STIE IBS ini setelah saya bandingkan termasuk murah dan pembayarannya lumayan fleksibel. Jika dibandingkan dengan kampus lain yang menyelenggarakan program MM seperti:
- Universitas Indonesia yg bisa sampai 100 jutaan
- Prasetya Mulya sekitar Rp. 116.500.000 (http://pmbs.ac.id/admissions/Tuition_Fee)
- Atma Jaya Jakarta sekitar Rp. 39.900.000 (http://atmajaya.ac.id)
- Perbanas sekitar Rp. 21.000.000 sd 40.000.000 (http://sps-perbanas.ac.id/index.php?pilih=hal&id=34)
Biaya Kuliah di STIE IBS hanya Rp. 35.000.000 selama 4 Semester dan dapat diangsur 4 kali @Rp 8.750.000 per semester. Jika dibayar lunas sekaligus maka akan mendapatkan potongan sebesar Rp. 2.500.000 atau bisa dibayarkan perbulan menjadi Rp. 1.500.000 / Bulan (4 Semester). Silahkan cek di link ini http://www.ibs.ac.id/index.php?content=info-daftars2

 

Status Kampus
Status Kampus adalah faktor yang tidak kalah penting. Untuk pasca Sarjana jurusan Manajemen rata-rata setiap kampus ter-akreditasi “B” sepertinya. Saya lupa detail dari status setiap universitas atau kampus lainnya. Kampus STIE IBS ini setelah saya cek saat saya mendaftar masih belum terakreditasi, tapi dalam proses pengurusan. Hanya saja saya tau bahwa STIE IBS tahun 2010 berdasarkan Surat keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor: 98/D/O/2010 diberi ijin menyelenggarakan program studi S2 Magister Manajemen. Saya agak nekat juga untuk memilih kampus ini karena belum terakreditasi. Tapi untuk program S-1 nya terakreditasi “B”. Tapi saya tidak salah juga karena pada tahun 2013 prodi MM, mendapatkan akreditasi B dari BAN-PT dan sedang ditingkatkan menjadi A (informasi: http://www.ibs.ac.id/sejarah.php).

Akreditasi BAN PT

Akreditasi BAN PT. MM STIE IBS Terakreditasi “B”

 

Jurusan yang ditawarkan
Jurusan yang ditawarkan saat saya mendaftar saat itu di STIE IBS adalah Magister Manajemen dengan 4 Konsentrasi yaitu:

  • Manajemen Keuangan Perbankan
  • Manajemen Risiko
  • Manajemen Pemasaran
  • Manajemen SDM

Namun saat artikel ini saya buat di STIE IBS konsentrasi nya terbagi menjadi:

  • Manajemen Perbankan (Konvensional)
  • Manajemen Perbankan (Syariah)
  • Manajemen Marketing
  • Manajemen Risiko

Lihat : http://www.ibs.ac.id/mm_over.php

 

Waktu Perkuliahan
Waktu kuliah ini juga sangat penting. Enaknya waktu saya mendaftar dulu perkuliahan di STIE IBS itu Jumat Sore dan Sabtu pagi sampai sore. Namun dari brosur yang saya terima di tahun 2015 waktu perkuliahannya lebih menarik lagi, yaitu:
- Kamis/Jumat jam 18.00 – 21.00 WIB di Gedung YPPI Pancoran
- Jum’at jam 18.00 – 21.00 WIB di Kampus Kemang
- Sabtu jam 08.00 – 16.00 WIB di Kampus Kemang

 

Sejarah IBS
STIE IBS berdiri tahun 2004 sebagai pengembangan dari Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) sebuah lembaga yang banyak memberikan pelatihan di bidang perbankan. LPPI sendiri sudah ada sejak tahun 1950-an. Nama LPPI sempat mengalami beberapa perubahan, dimulai dari Akademi Bank, Pendidikan Tinggi Ilmu Keuangan khususnya perbankan (PTIKP), Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) dan Institut Bankir Indonesia (IBI). Namun sejak tahun 2004 lembaga ini kembali melakukan kegiatannya dengan nama LPPI.

 

Persyaratan Masuk
- Nilai TOEFL minimal 500 (Diserahkan sebelum ujian Thesis)
- Memiliki ijazah S1 dari semua jurusan dengan IPK minimal 2.75 *)
- Lulus tes Wawancara
*) Bagi calon mahasiswa yang memiliki IPK < 2.75 disyaratkan memiliki pengalaman kerja 2 tahun.
dan bagi calon mahasiswa yang tidak memiliki latarbelakang pendidikan Ekonomi diwajibkan mengikuti matrikulasi.

 

Prosedur Pendaftaran
Mengisi formulir secara online atau menyerahkan formulir pendaftaran dengan biaya sebesar Rp.300.000,- beserta kelengkapannya:
- Fotocopy Ijazah Strata 1 (S-1) dan Transkrip yang dilegalisir (cap basah) masing-masing sebanyak 2 (dua) lembar.
- Pas photo berwarna ukuran 4×6 dan 3×4, masing-masing sebanyak 2 (dua) lembar.

 

Biaya Pendidikan
- Total biaya pendidikan sebesar Rp. 35.000.000,- selama 4 (empat) semester, dapat diangsur 4X @ Rp.8.750.000,– per semester.
- Untuk pembayaran lunas sekaligus mendapat potongan sebesar Rp.2.500.000,–
- dapat dibayarkan perbulan menjadi Rp. 1.500.000 / Bulan (4 Semester)
Paket biaya pendidikan di atas sudah termasuk :
- Biaya total perkuliahan 42 SKS
- Bimbingan penulisan dan sidang Tesis
- Peminjaman buku wajib dari perpustakaan
- Jaket Almamater
- Coffee Break, snack, makan malam (jumat) dan makan siang (sabtu)

 

MENDAFTAR KULIAH
Saya mendaftar akhir Maret 2013. Saat itu Sekretaris Program MM masih ibu Dr. Paulina Harun dan Ketua Program MM adalah ibu Dr. Suhartati. Perkuliahan di mulai pada Bulan April 2013. Untuk saya yang sudah tidak pernah merasakan “bangku” perkuliahan sejak tahun 2000, maka rasanya sangat antusias dan bersemangat sekali. Angkatan saya terdiri dari 12 orang dalam 1 kelas. Semua mahasiswa usianya jauh lebih muda dari saya. Saya adalah siswa yang paling “tua” di kelas. Rata-rata mereka baru lulus S-1 dan langsung mengambil S-2. Sebelum dilakukan perkuliahan terdapat kelas matrikulasi yang harus diikuti oleh seluruh Mahasiswa (terutama saya yang bukan berlatar belakang dari ekonomi manajemen).

 

KURIKULUM PERKULIAHAN
Perkuliahan Magister Manajemen di STIE IBS ini terdiri dari 42 SKS yang terbagi atas:

Semester I:

  • Business Law and Business Ethic
  • Strategic Management
  • Operational Management
  • Business Research Methods

Karena saya masuk kuliah di Bulan April maka materi Semester I ini adalah materi yang sebenarnya adalah materi Semester II. Kami ikut Kuliah dengan teman-teman yang  kuliah dan masuk di bulan Oktober

Semester II:

  • Organizational Behavior & Leadership
  • Corporate Financial Management
  • Marketing Strategic
  • Global Human Resource Management

Materi ini adalah materi kuliah Semester I dan kami digabungkan dengan Mahasiswa angkatan berikutnya yang masuk kuliah di bulan Oktober.

Semester III:

  • Assets and Liability Management
  • Management of Bank Operational
  • Bank Risk Management
  • Banking Finance Research & Seminar

Materi perkuliahan di Semester ini adalah materi Kuliah yang sudah penjurusan sesuai Konsentrasi yang diambil. Karena saya mengambil konsentrasi Manajemen Keuangan Perbankan maka saya mendapat 4 Mata kuliah tersebut.

Semester IV: Thesis

Thesis ini adalah 6 SKS. Saya mulai mengerjakan Thesis di bulan Oktober dan selesai di bulan Maret. Alhamdullilah selesai sesuai jadwal.

 

Saya senang bisa kuliah di STIE IBS, selain sesuai dengan kriteria pilihan sebagaimana disebutkan diatas, saya suka IBS karena :
- Kampusnya asri dan hijau walau berada di pusat kota Jakarta yang panas dan sudah penuh dengan gedung beton.
- Lokasinya berada di daerah elite dan banyak hiburan. Jadi kalo hari Sabtu pulang kampus bisa langsung pergi ke restoran dan mall di sekitar kampus. Atau kalo hari Jumat malam pulang kuliah bisa dugem dulu (Walaupun hampir ga pernah bisa karena sudah sibuk kuliah).
- Gedungnya bagus dan masih baru, jadi walaupun biaya nya murah tapi kampusnya tidak murahan.
- Jaman saya kuliah dulu, uang kuliah sudah termasuk mendapat buku pegangan kuliah yang resmi berbahasa Inggris. Angkatan berikutnya sudah tidak ada lagi sepertinya (karena angkatan saya sepertinya angkatan promo). Selain itu juga mendapat makan malam (Kuliah Jumat Malam) dan makan siang (kuliah Sabtu Siang).

 

Senang bisa berkuliah di STIE Indonesia Banking School (IBS) dan lebih senang lagi karena saya bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu.

 

 

 

Logo IBS

Tesis: “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengungkapan Risiko Perusahaan (Corporate Risk Disclosure) Pada Industri Perbankan Indonesia”

Ini adalah Tesis saya yang berjudul: “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengungkapan Risiko Perusahaan (Corporate Risk Disclosure) Pada Industri Perbankan Indonesia”. Tesis ini disidangkan pada tanggal 18 Maret 2015 dihadapan 3 (tiga) penguji sidang di STIE Indonesia Banking School (IBS). Saya berhasil mendapatkan nilai “A” dalam sidang tesis ini.

Saat ini saya sedang melakukan riset lanjutan untuk mengembangkan Tesis ini.

ABSTRACT

This research wants to examine the effects of Company Size (CSIZE), Profitability (PROFIT), Public Shares Ownership (ISSUE), Board Size (BSIZE), Board Number of Meeting (RPTDEKOM), and Board member who’s background from banking supervisory institution (BIDEKOM) to Corporate Risk Disclosure.

The sampling technique used in this research is purposive sampling, with certain criteria are: (1) Banking which already go public and listed on Bank of Indonesia and Indonesia Stock Exchange (IDX) (2) Bank that had published their annual report in 2012 and 2013 on their website and IDX website (www.idx.co.id), which data are complete and relevant with the research.

The result of this research shows that the data has fulfill the classical assumption, such as: there are no multicollinearity and distributed normally. From the regression analysis, found that partially Company Size, Profitability and Member of Commissioner with Background from Banking Supervisory Institution variable, are significant to Corporate Risk Disclosure, while Public Share Ownership, Total Number of the Board of Commissioner and Total Meeting of the Board of Commissioner are not significant to Corporate Risk Disclosure. From the research also found that those six variables Company Size, Profitability, Public Share Ownership, Total Number of the Board of Commissioner, Total Meeting of the Board of Commissioner and Member of Commissioner with Background from Banking Supervisory Institution variable simultaneously has influence to Corporate Risk Disclosure.

Key Words: Risk Disclosure, Good Corporate Governance, Risk Management, Agency Theory, Stakeholder Theory, Annual Report, and Banking Supervision.

 

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh variabel Ukuran Perusahaan (CSIZE), Profitabilitas (PROFIT), Kepemilikan Saham Publik (ISSUE), Ukuran Dewan Komisaris (BSIZE), Jumlah Rapat Dewan Komisaris (RPTDEKOM), dan Komisaris yang berlatar belakang pensiunan dari otoritas pengawas perbankan (BIDEKOM) terhadap Pengungkapan Risiko Perusahaan (Corporate Risk Disclosure).

Data diperoleh dengan metode purposive sampling dengan kriteria (1) Bank umum konvensional yang telah go public (terbuka) terdaftar di Bank Indonesia dan Bursa Efek Indonesia. (2) Bank umum konvensional yang mempublikasikan annual report tahun 2012 dan 2013 pada website (situs) perusahaan masing-masing dan juga website (situs) Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id) dengan data-data lengkap yang terkait dengan variabel penelitian.

Hasil analisis menunjukkan bahwa data-data yang digunakan didalam penelitian ini telah memenuhi asumsi klasik, yang meliputi: tidak terjadi gejala multikolinearitas, tidak terjadi gejala heteroskedastisitas, dan data terdistribusi normal. Dari hasil analisis regresi menunjukkan bahwa variabel Ukuran Perusahaan, Profitabilitas,  dan Komisaris yang berlatar belakang pensiunan dari otoritas pengawas perbankan secara persial berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan laba. Sedangkan variabel Kepemilikan Saham Publik, Ukuran Dewan Komisaris dan Jumlah Rapat Dewan Komisaris, tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat Pengungkapan Risiko Perusahaan (Corporate Risk Disclosure). Keenam variabel yang digunakan dalam penelitian ini Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Kepemilikan Saham Publik, Ukuran Dewan Komisaris, Jumlah Rapat Dewan Komisaris dan Komisaris yang berlatar belakang pensiunan dari otoritas pengawas perbankan secara bersama-sama berpengaruh terhadap tingkat Pengungkapan Risiko Perusahaan (Corporate Risk Disclosure).

Kata Kunci: Pengungkapan Risiko, Tata Kelola Perusahaan, Manajemen Risiko, Teori Keagenan, Stakeholder Theory, Laporan Tahunan dan Pengawasan Perbankan.

 

Untuk membaca Tesis saya dalam format PDF silahkan klik tautan dibawah ini:

1. Tesis Seluruh Bab

2. Hanya Bab 1

3. Hanya Bab 2

4. Hanya Bab 3

5. Hanya Bab 4

6. Hanya Bab 5

7. Hanya Daftar Pustaka