Posts

banner

Jalan-jalan ke Chinatown Part 2

Setelah pada tanggal 26 November 2016 saya mengikuti trip jalan-jalan ke Chinatown di Jakarta yang diadakan oleh ITDP — didukung oleh Transjakarta, Kopi Oey, Trafi, dan Melu (Cerita lengkapnya bisa dibaca disini), maka pada tanggal 3 Desember 2016 saya kembali mengunjungi kawasan Chinatown tersebut bersama teman-teman.

Jadi ceritanya, gara-gara saya posting foto di Instagram dan Facebook tentang perjalanan ke Chinatown dengan ITDP itu ternyata membuat beberapa orang teman saya “pengen” dan tertarik untuk mengunjungi kawasan Chinatown juga. Terutama teman saya dulu di saat masih kerja di Bukopin si Sari (Yulia Sari) dan juga teman-teman saya di JASMEV seperti Tata dan Sinta.

Sist Tata usul agar saya membuat Trip yang serupa dan dengan Trip yang diselenggarakan oleh ITDP itu. Selain tertarik dengan wisata kulinernya, lokasi yang dituju tidak jauh alias masih di Jakarta. Selain itu biaya nya juga relatif murah, tidak butuh biaya yang mahal. Saya pun menyetujui ide tersebut dan bersedia untuk menjadi “pemandu” nya berbekal pengalaman ikut Trip sebelumnya.

Akhirnya saya hubungi Sari untuk ajak dia, Sari kemudian mengajak Rido (puteranya) dan Ririn (temannya). Sementara Sist Tata kemudian mengajak teman JASMEV yang lain seperti Sinta, Tika, Natalia dan Selvi. Akhirnya kami ber-sembilan akan menuju kawasan Petak Sembilan. Coba tanggalnya pas tanggal 9 juga… :D

Peserta Trip tanggal 3 Desember 2016 (satu hari setelah aksi damai 212) akhirnya terdiri dari:
- Saya Harri Baskoro Adiyanto.
- Sist Tata : Hartawati Rosmery
- Sist Sinta: Yasinta Wirdaningrum
- Sist Sari: Yulia Sari
- Rido Ghordiyan
- Sist Ririn
- Sist Natalia: Yuliana Natalia
- Sist Tika: Tika Murtika
- Sist Selviana

Ada 9 orang peserta sebagian besar adalah wanita alias emak-emak hahahahaha dan yg cowok cuma saya dan Rido. Seru juga nih saya “kembali” pergi bersama wanita :) Pergi jalan-jalan bersama dengan wanita bukanlah pengalaman pertama buat saya. Pasti selalu menarik dan “rame” ;)

Sebelum hari-H, kita sepakat untuk menggunakan rute yang sama dengan Trip ke Chinatown yang saya ikuti sebelumnya. Namun perbedaannya di Titik Kumpul awalnya, kami sepakat kumpul di stasiun Jakarta Kota.

Peta Trip Chinatown2

Peta Trip Chinatown2

Jadi rute yang akan dituju adalah:
Start – Stasiun Kota
1. Halte TJ Glodok
2. Gang Gloria
Petak 9
3. Vihara Toa Se Bio
4. Gereja St. Maria De Fatima
5. Vihara Dharma Bhakti
6. Candra Naya
End – Maksi di Kopi Oey.

 

Stasiun Kota (ngumpul)

Kami berencana untuk berkumpul di stasiun Jakarta Kota jam 08.00 Pagi. Darimana pun datangnya kita sepakat untuk kumpul di stasiun Jakarta Kota, hal ini dimaksudkan agar kita kompak pergi bareng ke kawasan Gang Gloria-nya. Jadi kita kumpul dulu di stasiun Jakarta Kota. Selain itu dilokasi ini juga menarik, karena penyeberangan dari stasiun ke Halte TJ nya berada di bawah tanah (underground) dan ada taman ditengahnya yang dihiasi payung-payung. Kami sepakat untuk foto-foto dulu disitu.

Pagi itu kami mulai kumpul sekitar pukul 08.00 namun sayangnya Kereta Api saya dari Depok mengalami keterlambatan, karena masuk ke stasiun Jakarta Kota nya mesti gantian. Demikian pula Sist Natalia yang juga naik Kereta dari Depok juga berada di belakang kereta saya.

Saya sampai di lokasi duluan, kemudian tidak lama Sari dan Rido datang. Disusul oleh Sist Tika dan Sist Selvi dan kemudian Sist Ririn juga muncul. Sist Natalia juga kemudian datang setelah keretanya bisa masuk Stasiun Jakarta Kota.

Sambil menunggu Sist Tata dan Sist Sinta, maka kami pun mulai sibuk foto-fotoan di lokasi taman payung. Tidak lama sist Tata dan Sinta bergabung dan juga ikut foto-foto dulu. Baru sekitar jam 08.30 kami bergeser ke halte TJ Kota. Sebenarnya ke Glodok bisa juga ditempuh naik Mikrolet dari stasiun Jakarta Kota tapi saya males naik Mikrolet soalnya pake nyari yang muat ber-9 dan nggak ngetem. Jadi kami pun naik Transjakarta saja.

 

Gang Gloria

Tujuan kami dari stasiun Kota adalah Halte TJ Glodok. Halte TJ Glodok dari Stasiun Kota sih ga jauh. Deket banget malah, hanya satu halte saja. Abis naik TJ, bus jalan, perhentian berikutnya maka kita langsung turun hehehehe

Sekitar pukul 08.55 WIB kami tiba di halte Glodok, disitu kami turun dan lagi-lagi kami sempatkan swafoto di lokasi tangga penyeberangan TJ tersebut. Pokoknya seru banget deh… belum sampe di lokasi gang Gloria kami udah banyak koleksi fotonya :)

Dari halte TJ Glodok kami berjalan menuju gang Gloria. Lokasinya tidak terlalu jauh. Tidak sampai sepuluh menit kami sudah tiba di gang Gloria yang kuliner nya termasyur itu :) Teman-teman langsung saya perlihatkan dengan deretan kuliner yang ada di Gang Gloria. Tidak semua teman saya tidak pernah ke Gang Gloria, beberapa diantaranya sudah sangat paham dan tau tentang kuliner di gang Gloria ni.

Saya ajak teman-teman kemudian duduk dan memesan makanan di food court paling ujung di gang Gloria. Lokasi yang sama dengan Trip yang saya ikuti sebelumnya. Saya suka ditempat ini sebab dekat dengan cakwe incaran saya hahahaha

Sekitar jam 09.00 WIB kami sudah duduk di Food Court Gang Gloria dan sibuk memesan makanan.

Sarapan di Gang Gloria yang terkenal itu

Sarapan di Gang Gloria yang terkenal itu

Teman-teman di lokasi ini kemudian mulai memesan makanan untuk sarapan. Ada yang memesan Gado-Gado Direksi, yang katanya terkenal dan enak. Saya sih tidak terlalu suka dengan gado-gado. Ada yang memesan Mie Ayam Cah Jamur. Ada juga yang memesan Kari Sapi. Pokoknya semua bebas memilih makanan yang dipesannya lha wong yang bayar juga mereka sendiri kok :)

Saya sendiri bukan tipe orang yang muat sarapan pagi banyak-banyak. Jadi saya sarapan cakwe aja. Saya senang sekali cakwe di Gang Gloria ini. Harganya Rp 3000 per batang. Saya beli 10 batang dan kita makan ramai-ramai. Tapi yang paling doyan dan banyak makan cakwe-nya sih saya hehehee

Selesai sarapan sekitar jam 09.50 maka kita pun lanjut berjalan ke daerah kawasan petak 9. kita menyusuri pasar dikawasan tersebut untuk menuju Vihara Toa se Bio.

 

Vihara Dharma Bhakti

Diperjalanan saya berubah pikiran untuk tidak mengikuti jalan potong lewat gang seperti halnya Trip sebelumnya. Saya khawatir tidak hapal dengan jalan gangnya yang kecil dan berkelok-kelok. Akhirnya saya ikuti saja jalan besar di pasar petak 9. Akibatnya lokasi yang kita kunjungi pertama adalah Vihara Dharma Bhakti.

Kita jadi muter, bukan ke vihara Toa Se Bio dulu akan tetapi malah ke vihara Dharma Bhakti. Tapi tidak apa-apa, karena lokasi ini semua berdekatan. Cuma akibatnya rutenya jadi bolak-balik karena nanti akan ke Candra Naya.

Di Vihara Dharma Bhakti kita asyik foto-foto dan melihat-lihat aktivitas ibadah disana. Saya sempat melihat seorang bapak melepaskan burung-burung.

Melepas Burung di Vihara Dharma Bhakti

Melepas Burung di Vihara Dharma Bhakti

Setelah saya posting di FB teman saya Lie Na Lioe menjelaskan maksud dari ritual melepas burung ini:

“Salah satu ritual utk buang hal-hal buruk. Biasanya dilakukan oleh yg shionya tjiong atau bertentangan di tahun tertentu. Mungkin yg di gambar ini shionya tjiong atau bertentangan dgn tahun ayam ( kebetulan next year adalah th ayam). Dari mana kita mengetahui shio kita bertentangan atau tjiong? Bisa minta daftarnya di klenteng tempat kita biasa sembahyang. Biasanya selain burung juga ada yg melepas ikan. Ada pula nanti ritual upacaranya yg dipimpin seorang pemuka agama…”.

Dari wisata ini saya jadi memperoleh banyak informasi dan pengetahuan baru, sehingga tidak hanya menikmati makanan yang enak-enak saja alias wisata kuliner saja.

 

Gereja St Maria de Fatima

Destinasi berikutnya adalah Gereja St Maria de Fatima yang lokasinya tidak jauh dari vihara Dharma Bhakti alias masih di Jl. Kemenangan juga. Sesampainya di lokasi saya disambut dengan ramah dengan bapak yang jaga diparkiran. Kami ditanya ingin beribadah atau ingin melihat-lihat/berkunjung. Saya sampaikan bahwa kami ingin melihat-lihat. Oleh si Bapak saya diantarkan ke dalam. Sebelumnya saya tanya, apakah kami tidak apa-apa jika masuk ke dalam? Si Bapak bilang, tidak apa-apa. Maka kamipun masuk ke dalam.

Suasana di dalam Gereja St. Maria De Fatima

Suasana di dalam Gereja St. Maria De Fatima

Di dalam ternyata sedang ada jemaat atau pengurus gereja yang sedang beres-beres. Ibu-ibu itu sepertinya sedang merapihkan atau bebenah settingan dekor di area depan atau mimbar gereja. Saya tidak tau persis nya sebab saya tidak mampir ke depan, yang bicara adalah teman-teman saya para wanita. Saya pikir sesama ibu-ibu akan lebih nyambung hehehehee dan nampaknya benar sih, mereka bisa cepat nge-blend, alias ngobrol dan ketawa-ketawa. Para ibu-ibu pengurus Gereja itu ramah dan welcome sekali dengan kami para pengunjung.

Selesai foto-foto dan liat-liat gereja St Maria de Fatima ini maka kami pamit pulang dan berterimakasih sudah boleh berkunjung dan diperkenankan liat-liat. Sebelum kami meninggalkan Gereja kami masih sempatkan diri untuk foto-foto dulu di area halaman Gereja.

 

Vihara Toasebio

Lanjut kunjungan kami diteruskan ke Vihara Toa Se Bio yang juga masih di Jl. Kemenangan. Harusnya Vihara ini yang pertama akan kami datangi. Namun karena saya ambil jalan memutar maka Vihara ini justru didatangi belakangan.

Seperti halnya dilokasi lain maka di Vihara ini kami juga langsung melihat-lihat dan tentu saja mengambil foto.

Di vihara ini saya bertemu dengan adik-adik mahasiswi dari Kampus UMN yang sedang mengerjakan tugas. Tugas mereka adalah melakukan wawancara kepada para pengunjung destinasi wisata di kawasan Chinatown dan menanyakan hal-hal terkait dengan kondisi Indonesia akhir-akhir ini. Mereka awalnya meminta teman saya untuk diwawancara, tapi teman saya tidak bersedia. Akhirnya saya yang bersedia untuk diwawancara mereka. Itung-itung saya sampaikan pandangan saya tentang kondisi Indonesia saat ini, masalah keberagaman dan kunjungan wisata kami hari ini. Semoga wawancara dengan saya itu dapat membantu mereka dalam memenuhi tugas perkuliahan mereka.

 

Candra Naya

Setelah puas di Vihara Toa Se Bio maka perjalanan kami siang itu kami lanjutkan ke Candra Naya. Kami harus kembali ke arah Vihara Dharma Bhakti untuk menuju ke Candra Naya. Kasihan juga Rido mulai capek dan demikian pula teman-teman. Perjalanan kita lumayan melelahkan juga hari ini.

Jalan Menuju Candra Naya

Jalan Menuju Candra Naya

Setelah berjalan lumayan capek maka kami sampai juga di Candra Naya. Bangunan bersejarah yang minggu sebelumnya saya sudah kunjungi juga dan saya masih sesali sampai sekarang karena harus menerima “dikangkangi” dua bangunan menara di kanan kirinya :( Candra Naya adalah bangunan cagar budaya yang menurut saya tidak selayaknya dipaksa “tenggelam’ diantara angkuhnya dua bangunan modern.

Sayangnya hari itu kami tidak bisa masuk ke dalam Candra Naya. Kata satpamnya hari itu Candra Naya tidak dibuka. Padahal minggu lalu saya datang dengan rombongan dari ITDP bangunan itu buka. Kata satpam yang berjaga disana karena minggu lalu yang datang adalah rombongan jadi Candra Naya di buka. Entah bener atau ngga saya juga ga yakin pasti, yang jelas ini menambah kejengkelan saya pada pengelola Candra Naya.

Untungnya kami masih bisa foto-foto di terasnya. Begitu juga di kolam bagian belakang. Teman-teman bisa puas untuk berfoto di area ini. Saya agak kecewa juga bawa teman-teman ke Candra Naya tapi ternyata tidak bisa masuk. Baru tau juga ternyata Candra Naya tidak dibuka secara bebas.

Pose di Depan Candra Naya

Pose di Depan Candra Naya

 

Maksi di Kopi Oey

Selesai dan puas foto-foto perut mulai lapar lagi, ternyata sudah waktunya jam makan siang. Seperti trip sebelumnya maka saya ajak teman-teman makan di Kopi Oey juga. Sebenarnya di lokasi Candra Naya ada restoran lain, tapi karena saya sudah familiar dengan Kopi Oey dari kunjungan sebelumnya maka saya ajak teman-teman untuk kesitu aja. Lain waktu jika berkunjung kesana lagi saya akan coba resto yang lain.

Kopi Oey di Candra Naya

Kopi Oey di Candra Naya

Kami lumayan lama juga di Kopi Oey selain untuk makan siang, kami juga beristirahat karena kaki pegel sudah jalan lumayan jauh dan juga ngecharge hape.

Foto yg Indah Karya mbak Yasinta Wirdaningrum

Foto yg Indah Karya mbak Yasinta Wirdaningrum

Sekitar pukul 13.00 kami membubarkan diri. Saya dan sist Natalia memisahkan diri dengan teman-teman yang masih asyik foto-foto di kolam Koi dibelakang. Saya dan Natalia jalan ke halte TJ Olimo dan naik TJ ke Stasiun Kota untuk naik Kereta ke Depok. Sayangnya perjalanan kita berdua pulang ke Depok agak terhambat di Stasiun Tebet karena ada gangguan pada saluran listrik di Stasiun Pasar Minggu Baru yang terkena batang pohon yang tumbang. Saya sampai rumah akibatnya sudah sore.

Hari itu saya hanya keluar uang untuk ongkos berwisata ke Chinatown di Jakarta cukup murah. Naik Kereta tiketnya Rp. 4000 dari Depok ke Stasiun Kota. Demikian pula pulangnya. Sedangkan tiket Transjakarta dari Stasiun Kota ke Glodok Rp. 3500,- demikian pula dari halte TJ Olimo ke Stasiun Kota. Ongkos yang sedikit lebih mahal adalah ongkos ojek online dari rumah ke stasiun Pondok Cina (saya naik kereta selalu dari stasiun pondok cina).

Secara umum wisata kuliner kami hari ini relatif murah dan terjangkau sekali. Tidak perlu biaya mahal untuk wisata kuliner ini dan lokasinya pun tidak terlalu jauh masih di Jakarta juga. Seru banget wisata ini, next kami akan jelajahi tempat lain.

 

Sampai Jumpa di wisata kami berikutnya …

 

 

Pose bareng dgn bus TJ seri vintage PPD

Jalan-jalan ke China Town di Jakarta Bersama ITDP

Hari Sabtu, tanggal 26 November 2016 saya diajak bro Tora (teman saya di Forum Diskusi Transportasi Jakarta) untuk ikut acara jalan-jalan mengunjungi daerah Pecinan dengan menggunakan Transjakarta. Nama acaranya  Site Visit Busway (SVB) – Culinary Edition “Down to Chinatown”. Penyelenggaranya adalah: ITDP (Institute for Transportation & Development Policy) bekerjasama dengan: Transjakarta, Kopi Oey, Mélu Culinary Tours dan Trafi.

Saya sangat tertarik sekali untuk ikut serta. Apalagi lokasi yang akan dituju adalah wilayah Pecinan di Jakarta yang sangat menarik untuk dikunjungi baik untuk wisata sejarah maupun kulinernya. Titik pertemuan (meeting point) untuk trip ini adalah di halte Transjakarta Bundaran Senayan pukul 07.30 WIB.

 

Persiapan

Saya janjian dengan bro Tora untuk bertemu langsung di titik kumpul. Tepat pada hari H saya sudah tiba pagi hari di halte Transjakarta Bundaran Senayan sebelum waktunya. Sehingga saya masih bisa melihat-lihat kondisi di sekitar halte Transjakarta tersebut. Tidak lama bro Tora pun tiba, saya dan bro Tora sempat ngobrol-ngobrol sebentar.

Tidak lama kemudian rekan-rekan dari ITDP dan Transjakarta serta Trafi.id pun tiba dilokasi juga. Kami langsung mengisi absen. Selain itu ada pembagian goodies bag yang jumlahnya terbatas, saya sendiri tidak dapat karena untuk satu komunitas hanya diberi satu.

Saya juga berkesempatan berkenalan dengan peserta trip lainnya. Salah satunya saya berkenalan dengan bro Tommy Godfried, teman dari bro Tora. Selanjutnya dalam perjalanan kali ini kami jadi sering ngobrol bertiga.

Walau saya tidak mendapat goodies bag karena tiap peserta mendapatkan sebuah kartu Jakcard edisi Vintage Series Transjakarta yang PPD. Saldonya saya cek lumayan juga Rp. 50.000,- :) Tapi yang paling bikin saya senang seri edisinya yang vintage PPD itu lho, yang keren banget.

Kartu Jakcard versi edisi Vintage PPD Transjakarta

Kartu Jakcard versi edisi Vintage PPD Transjakarta

Selesai dibagikan goodies bag dan kartu Jakcard TJ maka kita masih menunggu rekan-rekan lain yang belum datang. Total peserta yang ikut saya ingat-ingat ada sekitar 20 sd 30 orang. Namun dari semua yang terdaftar nampaknya tidak semuanya hadir.

Sebelum memulai Trip kita mendapat sambutan dari pihak ITDP dan juga diperkenalkan dengan seluruh panitia yang akan memandu perjalanan pagi ini.

Persiapan sebelum perjalanan di Halte TJ Bundaran Senayan. Foto Courtesy: http://www.itdp-indonesia.org/svbchinatown/

Persiapan sebelum perjalanan di Halte TJ Bundaran Senayan.
Foto Courtesy: http://www.itdp-indonesia.org/svbchinatown/

Oh ya kabarnya kami akan menggunakan bus TJ edisi PPD vintage series yang hanya ada 2 unit itu. Wah saya makin senang sebab saya belum pernah naik bus TJ edisi vintage tersebut. Kesempatan nih naik bus TJ edisi PPD vintage.

 

Bus TJ Vitage PPD dengan Ejaan Lama :)

Bus TJ Vitage PPD dengan Ejaan Lama :)

Sekitar pukul 08.15 kami memulai perjalanan dengan menggunakan bus TJ edisi PPD vintage tersebut. Rutenya sama persis melalui jalur TJ koridor 1 rute Blok M – Kota, hanya bedanya kami tidak berhenti di setiap halte :) Diatas bus pihak ITDP kembali perkenalkan diri dan juga menjelaskan tentang ITDP, kemudian pihak Transjakarta juga memberikan penjelasan terkait kegiatan ini disusul dengan Trafi.id yang menjelaskan mengenai aplikasi Trafi.

 

Tiba di Glodok

Sekitar pukul 08.45 kami sampai di Halte TJ Glodok. Disana kami disambut pihak Mélu Culinary Tours. Kemudian kami berjalan kaki menuju Gang Gloria, melaui kawasan pasar glodok yang sudah sangat terkenal.

Setelah berjalan sekitar 300 meter maka sampailah kami di gang Gloria yang terkenal itu :)

 

Surga Kuliner di Gang Gloria

Terdapat beragam kuliner di gang Gloria ini. Seperti Nasi Campur, Mie Ayam, Pempek, Soto Betawi Afung, kopi Tak Kie, Gado-Gado Direksi, Cakwe dll

Di Gang Gloria peserta disuguhi kopi Tak Kie yang legendaris dari tahun 1927 itu, dan juga merasakan Cakwe gang Gloria yang enak banget. Saya suka banget cakwe, sehingga saya terpikir untuk harus kembali lagi kesini.

Oh ya karena ini adalah kawasan Pecinan maka kuliner di wilayah ini tidak semuanya adalah makanan halal. Sebaiknya sebelum membeli bertanya dahulu. Mereka akan dengan senang hati menjelaskan mana yang halal.

Selain itu untuk yang tidak terbiasa dengan kondisi jajanan atau kuliner ala jalanan atau pasar seperti di kawasan gang Gloria ini, maka lokasi ini bukan tempat ideal buat anda. Kalo saya sih masih ada makanan yang saya bisa makan disini, seperti Cakwe yang masih panas baru diangkat dari penggorengannya. Saya sendiri tipe penggemar chinesse food ala restoran seperti Njun Njan dan lain sebagainya.

 

Petak Sembilan

Selesai makan di Gang Gloria kemudian sekitar pukul 09.30 kami melanjutkan perjalanan menyusuri kawasan Petak Sembilan. Kami berjalan menyusuri pasar tradisional yang menjual teripang dan beragam bahan makanan khas masyarakat Tionghoa lainnya.

Kawasan Pasar di Jl. Petak Sembilan

Kawasan Pasar di Jl. Petak Sembilan

Jalanan di Pasar di Petak Sembilan ini sudah di beton, namun seperti layaknya pasar tradisional selain toko-toko permanen terdapat pula lapak-lapak yang tidak permanen dan berada di jalanan. Saya sih tidak terlalu suka dengan pemandangan pasar di Indonesia. So perjalanan menyusuri pasar ini saya ingin segera saja saya lalui :)

Toko Mampank, namanya sama ama Desa di Depok

Toko Mampank, namanya sama ama Desa di Depok

 

Vihara Toasebio

Setelah menyusuri pasar dan gang-gang sempit dalam pasar Petak 9, tiba-tiba kami sudah berada di Jalan Kemenangan III atau jalan Toosebiostraat (nama jalan jaman Belanda). Persinggahan pertama adalah Vihara Taosebio. Di lokasi Vihara ini kita sibuk foto-foto dan mengamati kondisi sekitar Vihara. Saya sendiri tidak banyak mengambil foto. Lebih banyak liat-liat saja.

Vihara Toa Se Bio

Vihara Toa Se Bio

Konon Vihara Toasebio pernah menjadi saksi bisu dari pembantaian kolonialisme Belanda terhadap etnis Tionghoa di Angke pada tahun 1740-an. Selain itu Kelenteng ini pernah dibakar Belanda dan dibangun lagi tahun 1751. Sehingga jika dihitung sejak didirikan tahun 1751 maka klenteng ini sudah berusia 265 tahun.

Vihara Toa Se Bio

Vihara Toa Se Bio

 

Gereja St Maria De Fatima

Dari vihara Toasebio kita lanjutkan perjalanan ke Gereja Katholik Santa Maria De Fatima. Jaraknya dari vihara tidak terlalu jauh. Jalan kaki hanya sekitar 50 meter saja. Gereja ini unik karena aristekturnya bernuansa tionghoa.

Gereja St Maria De Fatima

Gereja St Maria De Fatima

untuk mengetahui informasi seputar gereja ini secara lebih detail bisa di buka di  http://www.santamariadefatima.org/

 

Vihara Dharma Bhakti

Dari Gereja Santa Maria de Fatima perjalanan dilanjutkan ke Vihara Dharma Bhakti.  Vihara ini dibangun pertama kali pada tahun 1650 dan dinamakan Kwan Im Teng. Kata Kwan Im Teng kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi klenteng.

Kelenteng ini dipugar pada tahun 1755 oleh Kapitan Oei Tji-lo dan diberi nama “Kim Tek Ie”. Nama Kim Tek Ie diubah menjadi Vihara Dharma Bhakti. Nama Indonesia hasil terjemahan dari Kelenteng Keutamaan Emas.

Pada hari Senin tanggal 2 Maret 2015 dinihari, Klenteng Kim Tek Ie mengalami kebakaran, diduga penyebab kebakaran berasal dari api lilin. Dalam kebakaran ini, bangunan utama beserta rupang-rupang ikut musnah terbakar, terkecuali rupang Kwan Im dan dua rupang lainnya yang berhasil diselamatkan.

Informasi tentang Vihara ini saya dapat dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kim_Tek_Ie

 

Berjalan menuju Candra Naya

Selesai dari Vihara Dharma Bhakti perjalanan dilanjutkan ke bangunan bersejarah yang menjadi cagar budaya yaitu Candra Naya. Sepanjang perjalanan saya dan bro Tora ngobrol dengan salah satu perwakilan Trafi dari Eropa yang sedang berkunjung ke Jakarta.

 

Chandra Naya

Sekitar pukul 10.50 kami sudah tiba di Candra Naya. Sebuah bangunan bersejarah yang menurut saya “dirusak” oleh pembangunan jaman. Bagaimana tidak “rusak” Candra Naya berada ditengah dua bangunan menara hotel. Kondisi bangunan Candra Naya ini mirip dengan bagunan khas di Pondok Cina yang harus berada ditengah bangunan sebuah Mall Margo City Depok. Sedih liatnya … :(

Foto Bersama di Candra Naya (Courtesy Tommy Godfried)

Foto Bersama di Candra Naya (Courtesy Tommy Godfried)

Di Candra naya ini kami semua langsung berpose untuk foto bersama. Kemudian dilanjutkan para peserta untuk mengambil foto-foto diseputaran Candra Naya.

Candra Naya adalah sebuah bangunan cagar budaya di daerah Jakarta, Indonesia, yang merupakan bekas kediaman Mayor Khouw Kim An 許金安, mayor Tionghoa (majoor de Chineezen) terakhir di Batavia (1910-1918 dan diangkat kembali 1927-1942), setelah Mayor Tan Eng Goan 陳永元 (1837-1865), Tan Tjoen Tiat 陳濬哲 (1865-1879), Lie Tjoe Hong 李子鳳 (1879-1895) dan Tio Tek Ho 趙德和 (1896-1908). Bangunan seluas 2.250 meter persegi ini memiliki arsitektur Tionghoa yang khas dan merupakan salah satu dari dua kediaman rumah mayor Tionghoa Batavia yang masih berdiri di Jakarta.Kediaman mayor Tionghoa lainnya yang masih ada ialah bangunan “Toko Kompak” di Pasar Baru, bekas kediaman Mayor Tio Tek Ho. Bangunan yang didirikan pada abad ke-19 ini merupakan salah satu dari 3 bangunan berarsitektur serupa yang pernah ada di Jalan Gajah Mada, yaitu Jalan Gajah Mada 168 milik Khouw Tjeng Po 許清波, yang merupakan gedung Tiong Hoa Siang Hwee 中華商會 (Kamar Dagang Tionghoa) dan kini menjadi gedung SMA Negeri 2 Jakarta, Jalan Gajah Mada 188 milik Khouw Tjeng Tjoan 許清泉, yang kini dikenal sebagai gedung Candra Naya itu sendiri, dan Jalan Gajah Mada 204 milik Khouw Tjeng Kee 許清溪, yang pernah digunakan sebagai gedung Kedutaan Besar Republik Rakyat Republik Rakyat TiongkokTiongkok. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Candra_Naya)

 

Lunch Kopi Oey

Sesudah puas mengambil foto di Candra Naya kemudian seluruh peserta berkumpul untuk makan siang di kedai Kopi Oey yang berada di lingkungan Candra Naya. Menu nya sudah dipilih peserta setelah dikirimkan pilihan melalui email beberapa hari sebelumnya.

Selesai makan siang maka acara perjalanan hari ini akan segera berakhir. Acara selanjutnya adalah menuju Monas untuk mengabadikan peserta dengan berfoto dengan latar bus Transjakarta vintage.

Peserta kemudian berjalan ke halte Transjakarta dekat Candra Naya yaitu halte TJ Olimo. Dari situ kami menunggu bus TJ khusus vintage series PPD yang memang sudah diarahkan untuk membawa peserta kembali ke halte Bundaran Senayan.

 

Transit di Monas

Sekitar jam 12.30 kami sudah sampai sekitar halte TJ Monas. Di halte ini bus kami berhenti dan kami pun turun untuk foto-foto dengan latar belakang bus TJ vintage series PPD.

Pose di Halte TJ Monas

Pose di Halte TJ Monas

Akhirnya kami pun berfoto bersama dengan latar belakang bus TJ vintage series PPD.
Pose dengan latar belakang bus Transjakarta edisi vintage PPD

Pose dengan latar belakang bus Transjakarta edisi vintage PPD

 

Hari itu saya sangat senang sekali bisa ikut serta dalam trip wisata ke Pecinan di Jakarta. Lokasi kunjungan tidak jauh masih di Jakarta, tapi lumayan banyak hal baru yang saya peroleh dari perjalanan ini. Terimakasih ke bro Tora yang sudah mengajak saya. Terimakasih kepada ITDP, Transjakarta, Kopi Oey, Mélu Culinary Tours dan Trafi.id yang sudah membuat acara ini dapat terlaksana. Semoga kita dapat bertemu lagi dalam kesempatan lain.

Liputan dari ITDP bisa dibaca disini http://www.itdp-indonesia.org/svbchinatown/

 

 

 

Soto Betawi H. Mamat

(Kuliner): Soto Betawi H. Mamat di Serpong

Hari Selasa 19 April 2016 di pagi hari, saya dapat chat dadakan via Watsapp dari teman saya Sari (Yulia Sari). Sari bilang kalo kita diajak Ikay (teman kita) untuk ketemuan dan maksi bareng siang nanti. Karena saya ga punya acara atau kegiatan hari itu saya pun setuju. Saya sudah lama tidak bertemu dan ngobrol bareng dengan mama-mama muda cantik teman saya ODP dulu di Bank Bukopin. Seharusnya ada teman saya satu lagi, namanya Rizqa tapi sayang dia ga bisa hadir, karena anaknya ada acara di sekolah.

Saya semakin semangat sebab kata Sari mau ditraktir Ikay makan di Soto Betawi H. Mamat yang terkenal itu :) dan selesai dari situ Sari mau ajak ngopi-ngopi cantik di deket situ juga. Ga pake mikir lagi maka saya setuju deh.

 

Lokasi

Karena saya tidak tau dimana lokasinya Soto Betawi H. Mamat itu maka saya tanya ama Sari detail lokasinya. Sari berikan saya patokannya. Saya pun mencari dengan menggunakan Google map. Selanjutnya ketika udah siap mau pergi maka saya setting juga tujuannya di aplikasi Grab Bike yang saya gunakan. Ternyata lokasinya mudah ditemui, yaitu di Jalan Gading Serpong Boulevard atau Jl. Pahlawan Seribu, Kelapa Dua, Kec. Tangerang, Banten.

Peta Soto Betawi H. Mamat Jl. Pahlawan Seribu

Peta Soto Betawi H. Mamat Jl. Pahlawan Seribu

Lokasinya kalo dari arah ITC BSD ada disebelah kiri jalan, persis setelah SPBU Shell. Di depannya ada dealer mobil Suzuki. Sementara jika dari arah Teraskota lokasi Sobet H. Manmat itu ada disisi kanan. Bangunannya berwarna Hijau. Saya tidak menemukan kesulitan mencari bangunan restoran H. Mamat ini.

Soto Betawi H. Mamat

Soto Betawi H. Mamat

Kabarnya Soto Betawi H. Mamat ini memiliki cabang ditempat lain, namun saya tidak memperoleh informasi tentang hal ini. Mungkin karena sampai sana sudah laper banget hahahaha :) Jadi ga kepikir buat nyari tau tentang lokasi cabangnya dimana aja.

Kata Ikay, Sobet H. Mamat ini sangat terkenal karena enak dan kita perlu datang lebih awal, jangan terlalu mepet dengan jam maksi. Bener saja ketika kami makan disana, saat jam maksi tiba maka restoran ini langsung penuh. Sebenarnya kita bisa juga order pake Go Food ya? tapi kurang afdol rasanya kalo saya belum datang ke lokasi, apalagi saya mau silaturahmi dengan teman-teman.

Begitu sampai di lokasi saya langsung pesen makanan. Berhubung saya ngga ngerti mau pesen apa, Ikay pilihkan menu untuk saya yaitu Oseng Daging dengan kuah santan. Seharusnya Oseng daging itu dengan Rawit, tapi karena saya tidak suka pedes maka saya bisa minta agar tanpa Rawit. Selain Oseng terdapat menu lain seperti Soto dan Sop.

Terimakasih untuk Sari temanku, yang beberapa hari kemudian kembali lagi kesini dan memotret list menu yang ditawarkan oleh Soto Betawi H. Mamat ini.

Menu Soto Betawi H. Mamat Photo courtesy Yulia Sari

Menu Soto Betawi H. Mamat
Photo courtesy Yulia Sari

 

Rasa

Tidak lama pesanan saya datang. Lumayan cepet juga dari sejak dipesan sampai diantarkan ke meja tidak memakan waktu lama. Ternyata pesanan Oseng daging saya datang terpisah dengan kuah santannya. Jadi kalo disini Oseng daging dan kuahnya dipisah tidak dicampur. Saya perhatikan pesanan saya sudah benar tanpa rawit.

Soto Betawi H. Mamat

Soto Betawi H. Mamat

Begitu makanan sudah tersedia di meja, maka saya langsung santap saja oseng daging tersebut. Emmmmhhh rasanya ajiibb enak bangettt… Gurih sekali dagingnya, tidak keras alias empuk. Begitu pula dengan kuah santannya. Semua nya terasa gurih dan nikmat sekali. Namun karena saya bukan ahli makanan dan pakar cicip, saya tidak tau apakah makanan ini menggunakan mecin alias MSG. Yang jelas menurut saya sih soto betawi H. Mamat ini sangat gurih dan lezat sekali.

Untuk menambah nikmatnya menu tersebut saya makan dengan kerupuk putih. Tentu makanan oseng daging itu jadi semakin nikmat lagi. Pokoknya top markotop lah…

Soto Betawi H. Mamat

Soto Betawi H. Mamat

Dilihat dari porsinya, daging dan santannya sih lumayan banyak menurut saya. Cuma untuk nasi menurut saya porsinya nanggung, saya sebenarnya pengen nambah tapi kalo nambah takut nanti malah kebanyakan. Seharusnya porsi nasi ditambah dikit lagi jadi bisa pas tanpa nambah. Saya memutuskan tidak menambah porsi nasinya, selain malas untuk nambah karena takut nanti tanggung jadi kebanyakan, saya juga pengen diet hahahaha :) (gayanya mau diet).

Untuk harga per porsi karena saya tidak bayar alias ditraktir maka saya tidak tau angka pastinya. Tapi setau saya harga per porsinya masih dibawah Rp. 50 ribu. Jadi saya pikir untuk harga masih sangat wajar lah.

Info tambahan dari Sari setelah beberapa hari kemudian dia kembali lagi, katanya harga per porsi Soto Oseng Rp. 30.000 dan nasi per porsi Rp. 5.000 jadi Soto plus nasi sekitar 35.000.

Model: Rido anak Yulia Sari.

Model: Rido anak Yulia Sari.

 

Selain menikmati kuliner tidak lupa kami juga tidak lupa untuk wefie :)

Selesai makan siang di Soto Betawi H. Mamat kami lanjutkan dengan ngopi-ngopi cantik di coffee shop deket lokasi, kemudian tidak lama di sana kami lanjutkan kongkow di rumah Ikay sambil ngobrol sampe sore disana.

Hari itu saya puas sekali ditraktir oleh Ikay dan Sari, Terimakasih teman-teman ku yang cantik dan baik hati ;)

 

 

Mie Yamin - Mie Ayam Theresia

(Kuliner): Aneka Mie Ayam/Bakso Favorit

Saya tuh senang banget makan mie. Mulai dari mie instan buatan ibuku sampai Mie Ayam yang ada di resto. Ada beberapa Mie yang saya suka beli seperti Bakmi GM, Bakmi Margonda dan lain-lain, tapi ada Mie Ayam lain yang menurut saya bukan mie pasaran (yang banyak outletnya) dan menurut saya enak atau recommended boleh dicoba buat penggemar kuliner terutama penggemar Mie seperti saya ;)

Sejak saya kos dan punya temen kosan bro Felix yg juga doyan banget makan Mie, maka saya jadi makin doyan makan Mie. Saya coba ulas ya Mie ayam pilihan saya itu, semoga berkenan dan membantu :)

 

A. MIE AYAM THERESIA

Mie Theresia Kemang

Mie Theresia Kemang

Mie ayam ini sudah saya kenal cukup lama, yaitu sejak saya kerja di Bukopin. Seingat saya gank 9ers (atau anak-anak lantai 9) lah yg memperkenalkan saya dengan mie ayam ini. Kemudian sewaktu saya kerja di Bank Saudara pun saya pernah beli Mie Ayam ini untuk konsumsi makan siang sewaktu sesi pemotretan iklan Billboard bu Widyawati. Bu Widyawati sendiri yang usulin Mie Ayam ini.

Emang sih kalo kita berkunjung ke lokasi resto Mie Ayam Theresia di jl. Kemang Selatan Raya No 109A maka kita bisa liat di dindingnya banyak piring-piring yang sudah ditandatangani para artis. Jadi memang sepertinya mie ini sudah cukup dikenal oleh para selebritis Indonesia.

Saat saya datang lagi ke Mie Ayam Theresia tanggal 18 Oktober 2014 untuk satu porsi Mie Ayam Yamin Bakso dan Pangsit Goreng harganya Rp. 22.000,-  Selain menu Mie Ayam disini juga ada berbagai menu makanan lainnya, seperti Nasi Goreng, Kwetiau dll, saya ga hapal semua. Tapi menurut saya yang paling utama buat saya ya Mie Ayamnya.

Mie Yamin - Mie Ayam Theresia

Mie Yamin – Mie Ayam Theresia

Saya sih suka dengan Mie Ayam Theresia. Mie nya enak, baksonya juga enak. Pangsit gorengnya juga saya suka, karena besar-besar. Tapi bro Felix teman saya merasa kurang sreg ama Mie nya, menurut dia masih kalah enak ama Mie Gamat di Pejompongan (nanti kita baca review Mie Gamat di bawah).

Peta Mie Theresia

Peta Mie Theresia

Mie Ayam Theresia ini mudah dijangkau karena berada di kawasan Kemang. Tapi lokasinya bukan di Kemang Raya, lebih tepatnya di jl. Kemang Selatan Raya No 109A, yang lebih dekat ke arah Ampera dan Pejaten. Jika kita tidak bisa datang ke lokasi bisa Delivery Order di No 021-7197674. Khusus untuk delivery sekitar Kemang bebas dari biaya delivery, sedangkan untuk daerah di luar itu saya tidak tau berapa biaya deliverynya.

Kalo untuk saya Mie Ayam Theresia ini termasuk enak dan harganya seporsi Rp. 22.000,- masih bisa diterima, apalagi kalo kita liat lokasinya yang sudah dikawasan Kemang.

 

B. MIE GAMAT

Mie Ayam Gamat itu mulai saya kenal sejak saya kerja di Badan Regulator PAM DKI Jakarta. Lokasi kantor saya di Pejompongan, sementara lokasi resto Mie Gamat ini di Jalan  Danau Toba. Jarak kantor ke Mie Gamat sekitar 300 meter.

Saya kenal Mie Gamat sejak dibeliin makan siang oleh staf kantor saya si Tarwan. Seperti saya sudah sampaikan diawal tadi, saya suka sekali mie. Saya tanya “Mie apa yg enak disekitar sini Wan?” Kata Tarwan “ada Mie Gamat pak”. Ya udah saya cobain aja. Setau saya Mie ayam yang ditawarkan selain Mie Ayam biasa juga ada Mie Yamin, standar lah dengan mie ayam lainnya.

Mie Gamat

Mie Gamat

Nah Mie Ayam Gamat ini menurut saya memang enak, kalo bro Felix suka sekali dengan mie nya yang rasanya kenyal-kenyal gurih gitu. Kalo saya selain mie nya enak bumbu kuahnya juga memang enak. Ayam yang disuir-suirnya juga enak. Baksonya juga enak. Kata teman saya sih dan sudah saya konfirmasi juga dengan peracik Mie Gamat ini Mie Gamat ini berbahan tripang. Gamat itu artinya katanya tripang (sea cucumber).

Hanya kekurangannya buat saya, bentuk pangsit nya adalah kerupuk kecil-kecil, bukan berbentuk pangsit goreng yang besar seperti biasanya. Hal ini mungkin karena pangsit nya sudah ada yang rebusnya. Jadi kerupuk kecil ini sebagai pelengkapnya saja. Sebenarnya kalo buat saya akan lebih pas jika pangsitnya bisa dipilih, mau direbus atau goreng, sbb saya lebih suka pangsit goreng. Tapi its oke lah, kalo pangsit ini masih bisa ditolerir.

Jika rasa nya enak, maka bagaimana dengan harganya? Harga per porsi nya Rp. 17.000,- menurut saya masih bagus banget harga segitu apalagi rasanya enak dan porsinya banyak. Tapi jgn bandingkan porsi saya dengan pak Felix, sbb pak Felix makan Mie Gamat tetap minta nambah porsi lagi hahahaha :D

Satu kekurangan dari Mie Gamat adalah lokasinya yang “nyelip” tidak dipinggir jalan utama, bahkan berada ditengah pemukiman penduduk didaerah seputar Pejompongan Bendungan Hilir. Saya aja kalo ngga ngantor ama Kos disini ga tau kalo ada mie Gamat. Mie Gamat ini berlokasi di halaman dan garasi sebuah rumah di Jl. Danau Toba, di depan Mie Gamat ini ada sekolah SD Negeri. Sebelahnya ada kantor2 kecil dan salon.

Peta Mie Gamat

Peta Mie Gamat

Jika Mie Gamat ini membuka franchise saya pikir akan bagus sekali, dan lokasinya dicarikan di tempat yang lebih strategis. Tempat yang sekarang walaupun “nyempil” banyak juga pengunjungnya, terutama pas jam makan siang. Saya bayangkan kalo tempatnya lebih strategis dan lebih besar, pasti akan lebih rame lagi… Jadi pengen juga buka franchisenya di Depok :)

Mie Gamat ini ternyata buka sejak pagi jam 05.30 sampai malam. Tapi mie Gamat ini sebenarnya jam 17.30 itu ada pergantian shift jualan. Kabarnya sih kakaknya yg gantian jualan, jadi antara pagi dan malam itu beda yang masak. Kalo pagi adiknya sementara malam kakaknya. Kalo jam tutup nya saya lupa tanya.

Oh ya kalo malam hari mereka jual Kopi Luwak. Untuk Kopi luwak yg hasil ternak per gelas Rp. 10.000,- tapi kalo Kopi Luwak hasil liar per gelas Rp. 40.000,-

 

C. MIE AYAM GONDANGDIA

Nah kalo ini sih Mie Ayam yang sudah terkenal banget, siapa yang ga tau ama Mie Ayam ini?
Kabarnya Mie Ayam ini sudah ada sejak tahun 60-an, pemiliknya seorang keturunan Tionghoa. Mie ini sudah terkenal dan dinilai sebagai Mie Ayam yang enak di Jakarta.

Saya sendiri setuju dengan pendapat yg menyatakan Mie Ayam ini enak karena memang enak. Bakso nya juga enak dan juga Pangsit gorengnya besar, walaupun daging ditengahnya kurang besar.  Porsinya juga pas buat saya, ga bikin kenyang banget. Tapi jangan dibandingin ama bro Felix lagi hahahaha dia tetap nambah porsinya… saya pikir memang wajar kalo bro felix ini nambah terus sebab badannya dia badan pemain basket, sementara badan saya kan kecil & imut hahahaha ;)

Kalo untuk harga per porsinya saya tidak terlalu ingat, sebab saya tidak dapat print out bon nya. Tapi seingat saya untuk Mia Ayam Bakso Pangsit Gorengnya seporsi itu Rp. 30.000,- Memang diantara semua Mie Ayam yang sudah saya coba diatas tsb, mie ayam ini paling mahal harganya. Tapi melihat reputasi nya mungkin harga tersebut masih wajar.

Mie Yamin - Mie Gondangdia

Mie Yamin – Mie Gondangdia

Satu yang kurang menurut saya adalah lokasi dan bangunannya yang kurang mendukung. Lokasi di Jl. RP. Soeroso No. 36 Gondangdia memang sangat bagus di tengah kota Jakarta, sangat prestisius, tidak jauh dari Menteng dan wilayah Jakarta Pusat. Tapi karena lokasinya langsung di pinggir jalan dan bangunan lama, maka parkirannya sulit. Saya susah sebenarnya parkir di depan Mie ayam ini, apalagi kalo pas jam-jam penuhnya. Bangunannya sendiri pun sudah kuno, alias bangunan lama yang sedikit lusuh. Jika harga perporsinya Rp. 30.000, – akan lebih baik jika bangunannya di rehab dan disediakan lahan parkir yang memadai, sehingga tidak parkir di jalan.

Tapi memang tempat makan enak di Jakarta itu sepertinya standarnya gitu, susah parkir dan bangunannya lusuh dan kusam. Mungkin itu yang bikin enak dan ramai pengunjung hahahaa :D

Peta Mie Ayam Gondangdia

Peta Mie Ayam Gondangdia

Untuk menjangkau Mie Ayam Gondangdia ini sangat mudah. Apabila dari arah Latuharhari maka kita cukup susuri jalan Cik Di Tiro.  Mie Ayam Gondangdia ini ada di sebelah kiri jalan, jika sudah melihat jalur layang KRL Commuteline maka siap-siap kurangi kecepatan kendaraan anda, karena setelah melewati kolong jalur layang KRL tersebut kita akan langsung temui Mie Ayam tersebut.

 

Next Review… (istirahat nulis dulu)

Mie Megaria

Mie Akung Lodaya Bandung