Posts

Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Wisata ke Taman Wisata Alam Angke Kapuk di PIK Jakarta

Sudah sejak lama saya mendengar tentang Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk Jakarta Utara. Tapi saya belum pernah sempat kesana. Baru pada tanggal  21 Desember 2016 saya punya waktu untuk bisa mengunjungi tempat wisata ini.

Sahabat saya Yulia Sari sering mengajak saya untuk melakukan wisata dengan biaya hemat diseputar Jakarta. Banyak lokasi yang awalnya kita ingin kunjungi, namun karena keterbatasan waktu dan juga akses ke lokasi maka akhirnya kami putuskan untuk berwisata ke lokasi Taman Wisata Alam Mangrove di Angke Kapuk Jakarta Utara.

Kebetulan Rido (Puteranya Sari) sedang libur sekolah, kemudian Ririn teman Sari juga bisa ikutan. Jadi rencananya kita akan pergi berempat. Kita janjian untuk ketemuan di Halte Transjakarta Stasiun Kota.

Tanggal 21 Desember 2016 sesuai rencana saya sudah sampai di halte TJ Stasiun Kota sekitar pukul 08.30. Disana saya menunggu Sari dan Rido anaknya. Ririn karena suatu hal ternyata batal ikut. Sehingga akhirnya kami pergi hanya bertiga saja.

Dari halte Transjakarta Stasiun Kota kami kemudian naik Bus Feeder Transjakarta tujuan PIK (Pantai Indah Kapuk). Sebelumnya dari Depok saya naik ojek online ke Halte Transjakarta Ragunan tujuan Monas (Koridor 6-B) kemudian lanjut ke Halte TJ Stasiun Kota. Karena saya tidak keluar halte Transjakarta maka biaya saya untuk ongkos dari Ragunan sampai ke lokasi Taman Wisata Alam di Angke Kapuk cukup hanya Rp. 3.500 saja.

Sebenarnya saya bisa saja naik Kereta Commuter line (CL) dari stasiun Depok ke Jakarta Kota, tapi saya kurang suka naik Kereta. Saya merasa lebih nyaman dan  pasti kalo naik Transjakarta. Sebelum nya kami sudah pelajari bagaimana mencapai lokasi Wisata Alam di Angke Kapuk tersebut. Ternyata memang mudah sekali.

Hari itu dari Halte TJ Ragunan ke Halte TJ Monas, dan kemudian saya lanjutkan ke Halte TJ Stasiun Kota kondisi lalu lintasnya tidak terlalu macet. Bus TJ juga tidak terlalu padat. Mungkin karena efek liburan sekolah. Dari Halte TJ Stasiun Kota ke PIK juga di dalam bus tidak terlalu penuh. Walaupun saya berdiri tidak dapat duduk, tapi di dalam bus tidak berdesakan.

Setelah kita berada di dalam Bus Feeder Transjakarta tujuan PIK maka kita tinggal bilang saja untuk turun di Yayasan Budha Tzu Chi. Sesampainya di setiap lokasi halte biasanya pramudi bus tersebut akan sebutkan nama haltenya.

Saat bus sampai di depan gedung Yayasan Budha Tzu Chi pramudi bus tersebut ingatkan penumpang, dan saya pun meminta berhenti untuk turun. Sewaktu naik di halte TJ stasiun Kota penumpang naik lewat pintu tengah seperti layaknya bus TJ namun ketika turun di Yayasan Budha Tzu Chi penumpang akan turun lewat pintu depan disebelah kiri bus. Haltenya pun tidak ada, jadi penumpang sebenarnya turun di pinggir jalan.

 

Turun di Yayasan Budha Tzu Chi

Sesuai dengan pedoman yang dibaca dari browsing di internet sebelum pergi ke lokasi wisata alam ini, maka kami turun dari bus feeder TJ di depan gedung Yayasan Budha Tzu Chi. Bangunan gedung Yayasan Budha Tzu Chi itu gedeee.. banget!, jadi jangan takut ga kelihatan atau ga ketemu ama gedung itu hehehehe :)

Turun dari Feeder TJ di tanda + itu

Turun dari Feeder TJ di tanda + itu

Saat kami turun di depan gedung maka di sebelah gedung itu ada jalan lurus ke dalam (katanya sih itu Jalan Garden House), itulah jalan menuju Taman Wisata Alam. Ikuti aja jalan itu, ngga bakal nyasar. Kami sampai dilokasi sekitar jam 09.30 WIB.

Ikuti panah belok kanan ke TWA Angke

Ikuti panah belok kanan ke TWA Angke

Peta Menuju Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Peta Menuju Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Jika diperhatikan peta tersebut maka kita akan turun di tanda X dan jalan mengikuti arah panah merah.

 

Tiket

Di pintu gerbang kita akan menemui loket yang ditunggu petugas jaga. Harga tiket masuknya untuk Dewasa adalah Rp. 25.000 dengan dua karcis diberikan yaitu:
- Rp. 20.000 tiket warna biru dengan tulisan Paket Rekreasi Penjelajahan Hutan Outbound dll
- Rp.  5.000 tiket warna putih dengan tulisan Karcis Masuk Pengunjung TWA Angke Kapuk

Sedangkan harga tiket untuk anak-anak hanya Rp. 10.000 saja. Warna tiket merah muda dengan tulisan tiket masuk rekreasi penjelajahan hutan outbound dll Taman Wisata Alam Angke Kapuk.

Tiket Masuk TWA Angke Kapuk

Tiket Masuk TWA Angke Kapuk

Terus terang menurut saya biaya tiket masuk ke Taman Wisata Alam (TWA) ini menurut saya kemahalan. Sebagai pembanding adalah harga tiket Kebun Binatang (KB) Ragunan misalnya, tiket untuk Dewasa Rp. 4.000,-/orang dan untuk Anak-anak Rp. 3.000,-/orang sedangkan untuk Tarif masuk Pusat Primata Schmutzer:
- Hari Selasa s.d Jumat (usia 3 tahun ke atas) : Rp. 6.000,-/orang
- Hari Sabtu s.d Minggu /libur nasional (usia 3 tahun ke atas) : Rp. 7.500,-/orang
Jauh sekali kan bedanya, padahal yang bisa dikunjungi di KB Ragunan dan yang bisa dilihat jauh lebih banyak dibandingkan dengan TWA Angke Kapuk.

Loket dan Pintu Gerbang TWA Angke

Loket dan Pintu Gerbang TWA Angke

Selain harga tiket masuk tersebut ditulis juga biaya lain yaitu:
- Mobil Rp. 10.000,00
- Motor Rp.  5.000,00
- Tiket untuk Turis/WNA Rp. 250.000,00
- Photo Pre Wedding Rp. 1.500.000,00

 

Menjelajahi TWA Angke Kapuk

Setelah membeli tiket maka kami mulai memasuki TWA Angke Kapuk ini. Hal yang pertama akan kita jumpai adalah Masjid panggung diatas air disebelah kiri jalan. Jadi untuk pengunjung yang ingin beribadah sholat tidak perlu khawatir. Saya lihat tempat wudhunya juga ada di pinggir jalan dan airnya mengalir. Saat saya pulang setelah berkeliling saya melihat ada beberapa pengunjung yang sholat di Masjid ini.

Masjid di TWA Angke

Masjid di TWA Angke

Pintu Masuk TWA Angke

Pintu Masuk TWA Angke

Tidak lama kemudian setelah berjalan sekitar 20 meter maka kita akan tiba di pos berikutnya. Di pos ini pengunjung bisa menitipkan tas jika merasa berat untuk harus dibawa-bawa. Selain itu di area ini pengunjung bisa memarkir kendaraannya.

Di pos ini terdapat peta besar isi dari TWA Angke Kapuk. Juga terdapat tanda-tanda larangan yaitu:
- Dilarang membawa makanan dari luar
- Dilarang membawa kamera
- Dilarang membawa hewan peliharaan

Kamera dilarang dibawa akan tetapi handphone atau smartphone berkamera diperbolehkan. Jika ingin membawa kamera maka dikenakan biaya Rp. 100.000,00

Setelah melewati pos penitipan barang/tas maka kita mulai memasuki area TWA Angke Kapuk ini. Jalan nya terpecah dua antara lurus ke jembatan besar atau belok kanan ke arah kantin, gedung aula, dan juga camping house. Saya dan teman saya memilih belok kanan.

Sambil jalan saya bisa melihat papan tulisan keterangan nama pohon-pohon disisi jalan masuk TWA. Sayangnya tulisan keterangan tersebut sudah tidak terlalu terawat.

Kemudian tidak lama kami tiba di area dekat kandang monyet. Kandangnya walau berjeruji juga diberi kawat jaring sehingga tangan si Monyet tidak bisa keluar. Beda dengan kondisi dahulu, kata Sari, dahulu belum ada jaring kawatnya sehingga si Monyet bisa mengambil atau menjambret barang milik pengunjung.

Saya tidak terlalu suka berada dekat kandang Monyet tsb. Saya kasihan melihatnya. Saya lebih senang jika monyet tersebut dilepaskan saja, mungkin bisa dilepaskan di area konservasi lainnya di hutan, tapi tidak di kawasan TWA Angke yang sudah ramai dan tidak ramah bagi monyet-monyet tersebut.

Monyet lucu

Monyet lucu

Dari area kandang monyet kami bergerak ke arah kantin dan area duduk-duduk depan kantin. Kalo saya perhatikan di depan kantin adalah gedung pertemuan atau semacam aula, dan di depannya banyak bangku-bangku untuk duduk-duduk.

Kita memang tidak boleh membawa makanan dari luar, tetapi sayangnya di Kantin hanya menjual makanan ringan dan minuman. Tidak ada menu makanan yang bisa untuk makan siang.  Ada tulisan Rumah Makan di petunjuk arah, tapi saya tidak menemukannya. Kebetulan kami tidak menghabiskan waktu seharian disini, saat makan siang kami putuskan untuk  makan siang di Mall baru depan Budha Tzu Chi yaitu PIK Avenue Mall.

Setelah puas foto-foto dan istirahat duduk duduk di area rumah makan maka kami lanjutkan jalan kembali. Di persimpangan ada petunjuk arah. Maka kami menyusuri jalan sesuai petunjuk arah ke arah lokasi perkemahan. Sambil saya ke toilet dulu. Toiletnya untungnya lumayan bersih dan airnya mengalir.

Di lokasi Wisata Alam ini tersedia pula arena bermain, terutama untuk kegiatan Outbond. Nampaknya TWA Angke ini dibuat sebagai tempat outbond yang letaknya masih di dalam kota Jakarta tidak perlu harus pergi ke Puncak, Cisarua dan lain-lainnya.

Selanjutnya kami menyusuri jalanan yang terbuat dari kayu atau bambu. Jalanan ini menuju rumah perkemahan diatas air. Jika saya perhatikan beberapa bangunan sudah dimakan usia sehingga beberapa sedang direnovasi atau diperbaiki. Demikian jalanan yang terbuat dari kayu juga sudah banyak dimakan usia dan mulai digantikan dengan bambu.

Saya menikmati pemandangan dengan menyusuri bangunan perkemahan yang berjajar menarik. Selain itu didepannya juga terdapat tanaman bakau yang merupakan sumbangan penanaman dari berbagai institusi seperti perusahaan, sekolah maupun perorangan.

Saya menyusuri jalan-jalan kayu yang menghubungkan dengan rumah-rumah penginapan untuk camping. Sayangnya di beberapa titik saya mencium aroma tidak sedap alias bau sampah. memang akhirnya saya temukan beberapa area penuh dengan sampah plastik dan botol bekas minuman. Pemandangan tentu menjadi tidak sedap dan menarik lagi buat saya yang sangat gandrung akan kebersihan :(

Setau saya pengelola TWA Angke Kapuk ini adalah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta yang berada di bawah naungan Kementerian Kehutanan RI bukan di bawah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Saya tau setelah baca di http://www.bksdadki.com/index.php/page/organisasi

Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 6187/KPTS-II/2002 tanggal 10 Juni 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Tugas pokok Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta adalah melaksanakan pengelolaan kawasan Suaka Margasatwa, Cagar Alam, Taman Wisata Alam dan Taman Buru serta konservasi tumbuhan dan satwa liar didalam dan diluar kawasan.

Sehingga pantas saja terlihat bedanya untuk pengelolaan TWA ini. Kebersihannya tidak sebaik pengelolaan kebersihan oleh PemProv DKI Jakarta. Demikian pula terkait tiket masuknya yang menurut saya relatif mahal.

Saya bersama Sari dan Rido berkeliling lokasi TWA Angke ini terutama area perkemahan. Walau saat itu hari kerja akan tetapi ada juga pengunjung lain yang datang ke lokasi wisata ini. Ada beberapa keluarga dan ada pula muda mudi yang bersama pasangan atau teman-temannya menikmati kawasan hutan mangrove tersebut.

Setelah puas berkeliling selama beberapa jam maka kami memutuskan untuk mengakhiri kunjungan kami di TWA ini. Saya tidak mencoba untuk melihat menara pemantau untuk melihat burung dan lain-lain. Saya juga tidak mencoba berperahu karena selain panas saya juga sudah melihat spot-spot kotor, yang langsung bikin ill feel. Saya memang gitu orangnya, kalo liat yang kotor-kotor jadi nge-drop. Saya melihat secara umum tempat wisata ini menarik namun perlu dikembangkan lebih jauh.

Selain itu saya juga udah mulai capek dan kepanasan. TWA ini kan berlokasi dipinggir laut disebelah utara Jakarta. Sementara saya orang dari Selatan Jakarta (Jakarta Coret) yang dingin hehehhee (alesan aja padahal emang udah tua jadi cepet capek …) Apalagi waktunya sudah siang waktunya untuk makan siang, para cacing di perut sudah demo walo aksinya damai. Incaran kami adalah nyobain maksi di PIK Avenue Mall sebuah mall yang katanya baru berdiri di kawasan PIK itu beberapa bulan lalu.

Secara umum review saya untuk wisata ke TWA ini adalah:

  1. Lokasinya sangat mudah untuk dijangkau dan biaya transportasinya relatif murah. Jalan kaki dari perhentian TJ ke lokasi TWA tidak lah jauh. TJ tujuan ke PIK juga sangat mudah diakses dari Halte TJ Stasiun Jakarta Kota.
  2. Sebenarnya lokasi wisata ini bisa menjadi alternatif pilihan wisata alam di Jakarta. Tapi sayangnya ketika kita sudah dilokasi tidak banyak hal yang menarik untuk dinikmati. Hanya pemandangan hutan mangrove saja. Binatang yang ada di alam liar juga tidak ada yang bisa dilihat, arena bermain ya hanya arena outbound saja. Tempat ini sepertinya hanya cocok untuk acara Camping atau perkemahan yang sudah diatur oleh EO atau sejenisnya.
  3. Tiket masuknya tidak kompetitif. Harga tiket terlalu mahal jika dibandingkan dengan fasilitas di dalamnya. Belum lagi banyak larangan dan biaya tambahan yang dikenakan, seperti larangan membawa kamera non handphone, larangan membawa makanan dari luar tapi di dalam variasi pilihan makanan tidak banyak. Akan lebih baik jika harga tiket diturunkan dan fasilitas didalamnya ditambah, terutama akan lebih menarik jika ada pusat kuliner.
  4. Kondisi lingkungan kotor dan kurang terawat. Menurut saya faktor kebersihan harus menjadi perhatian. Bagaimana bisa menarik pengunjung jika lokasi obyek wisata itu tidak menarik dan kotor. Dimasa mendatang TWA ini akan bersaing dengan Mall PIK Avenue yang lokasinya tidak jauh dari TWA ini. Memang antara TWA dam Mall tidak apple to apple akan tetapi Mall bisa jadi pilihan hang-out atau berlibur warga PIK karena gratis tidak ada tiket masuk, lebih nyaman karena dingin pake AC serta pilihan makanannya juga banyak. Artinya dengan uang harga tiket Rp. 25.000 TWA akan menjadi tidak kompetitif.

Semoga pihak BKSDA DKI Jakarta sebagai pengelola TWA Angke Kapuk bisa mengevaluasi kondisi ini untuk menjadi perbaikan dimasa mendatang.

Sampai jumpa di wisata dan jalan-jalan saya yang lainnya…. :)

 

 

 

banner

Jalan-jalan ke Chinatown Part 2

Setelah pada tanggal 26 November 2016 saya mengikuti trip jalan-jalan ke Chinatown di Jakarta yang diadakan oleh ITDP — didukung oleh Transjakarta, Kopi Oey, Trafi, dan Melu (Cerita lengkapnya bisa dibaca disini), maka pada tanggal 3 Desember 2016 saya kembali mengunjungi kawasan Chinatown tersebut bersama teman-teman.

Jadi ceritanya, gara-gara saya posting foto di Instagram dan Facebook tentang perjalanan ke Chinatown dengan ITDP itu ternyata membuat beberapa orang teman saya “pengen” dan tertarik untuk mengunjungi kawasan Chinatown juga. Terutama teman saya dulu di saat masih kerja di Bukopin si Sari (Yulia Sari) dan juga teman-teman saya di JASMEV seperti Tata dan Sinta.

Sist Tata usul agar saya membuat Trip yang serupa dan dengan Trip yang diselenggarakan oleh ITDP itu. Selain tertarik dengan wisata kulinernya, lokasi yang dituju tidak jauh alias masih di Jakarta. Selain itu biaya nya juga relatif murah, tidak butuh biaya yang mahal. Saya pun menyetujui ide tersebut dan bersedia untuk menjadi “pemandu” nya berbekal pengalaman ikut Trip sebelumnya.

Akhirnya saya hubungi Sari untuk ajak dia, Sari kemudian mengajak Rido (puteranya) dan Ririn (temannya). Sementara Sist Tata kemudian mengajak teman JASMEV yang lain seperti Sinta, Tika, Natalia dan Selvi. Akhirnya kami ber-sembilan akan menuju kawasan Petak Sembilan. Coba tanggalnya pas tanggal 9 juga… :D

Peserta Trip tanggal 3 Desember 2016 (satu hari setelah aksi damai 212) akhirnya terdiri dari:
- Saya Harri Baskoro Adiyanto.
- Sist Tata : Hartawati Rosmery
- Sist Sinta: Yasinta Wirdaningrum
- Sist Sari: Yulia Sari
- Rido Ghordiyan
- Sist Ririn
- Sist Natalia: Yuliana Natalia
- Sist Tika: Tika Murtika
- Sist Selviana

Ada 9 orang peserta sebagian besar adalah wanita alias emak-emak hahahahaha dan yg cowok cuma saya dan Rido. Seru juga nih saya “kembali” pergi bersama wanita :) Pergi jalan-jalan bersama dengan wanita bukanlah pengalaman pertama buat saya. Pasti selalu menarik dan “rame” ;)

Sebelum hari-H, kita sepakat untuk menggunakan rute yang sama dengan Trip ke Chinatown yang saya ikuti sebelumnya. Namun perbedaannya di Titik Kumpul awalnya, kami sepakat kumpul di stasiun Jakarta Kota.

Peta Trip Chinatown2

Peta Trip Chinatown2

Jadi rute yang akan dituju adalah:
Start – Stasiun Kota
1. Halte TJ Glodok
2. Gang Gloria
Petak 9
3. Vihara Toa Se Bio
4. Gereja St. Maria De Fatima
5. Vihara Dharma Bhakti
6. Candra Naya
End – Maksi di Kopi Oey.

 

Stasiun Kota (ngumpul)

Kami berencana untuk berkumpul di stasiun Jakarta Kota jam 08.00 Pagi. Darimana pun datangnya kita sepakat untuk kumpul di stasiun Jakarta Kota, hal ini dimaksudkan agar kita kompak pergi bareng ke kawasan Gang Gloria-nya. Jadi kita kumpul dulu di stasiun Jakarta Kota. Selain itu dilokasi ini juga menarik, karena penyeberangan dari stasiun ke Halte TJ nya berada di bawah tanah (underground) dan ada taman ditengahnya yang dihiasi payung-payung. Kami sepakat untuk foto-foto dulu disitu.

Pagi itu kami mulai kumpul sekitar pukul 08.00 namun sayangnya Kereta Api saya dari Depok mengalami keterlambatan, karena masuk ke stasiun Jakarta Kota nya mesti gantian. Demikian pula Sist Natalia yang juga naik Kereta dari Depok juga berada di belakang kereta saya.

Saya sampai di lokasi duluan, kemudian tidak lama Sari dan Rido datang. Disusul oleh Sist Tika dan Sist Selvi dan kemudian Sist Ririn juga muncul. Sist Natalia juga kemudian datang setelah keretanya bisa masuk Stasiun Jakarta Kota.

Sambil menunggu Sist Tata dan Sist Sinta, maka kami pun mulai sibuk foto-fotoan di lokasi taman payung. Tidak lama sist Tata dan Sinta bergabung dan juga ikut foto-foto dulu. Baru sekitar jam 08.30 kami bergeser ke halte TJ Kota. Sebenarnya ke Glodok bisa juga ditempuh naik Mikrolet dari stasiun Jakarta Kota tapi saya males naik Mikrolet soalnya pake nyari yang muat ber-9 dan nggak ngetem. Jadi kami pun naik Transjakarta saja.

 

Gang Gloria

Tujuan kami dari stasiun Kota adalah Halte TJ Glodok. Halte TJ Glodok dari Stasiun Kota sih ga jauh. Deket banget malah, hanya satu halte saja. Abis naik TJ, bus jalan, perhentian berikutnya maka kita langsung turun hehehehe

Sekitar pukul 08.55 WIB kami tiba di halte Glodok, disitu kami turun dan lagi-lagi kami sempatkan swafoto di lokasi tangga penyeberangan TJ tersebut. Pokoknya seru banget deh… belum sampe di lokasi gang Gloria kami udah banyak koleksi fotonya :)

Dari halte TJ Glodok kami berjalan menuju gang Gloria. Lokasinya tidak terlalu jauh. Tidak sampai sepuluh menit kami sudah tiba di gang Gloria yang kuliner nya termasyur itu :) Teman-teman langsung saya perlihatkan dengan deretan kuliner yang ada di Gang Gloria. Tidak semua teman saya tidak pernah ke Gang Gloria, beberapa diantaranya sudah sangat paham dan tau tentang kuliner di gang Gloria ni.

Saya ajak teman-teman kemudian duduk dan memesan makanan di food court paling ujung di gang Gloria. Lokasi yang sama dengan Trip yang saya ikuti sebelumnya. Saya suka ditempat ini sebab dekat dengan cakwe incaran saya hahahaha

Sekitar jam 09.00 WIB kami sudah duduk di Food Court Gang Gloria dan sibuk memesan makanan.

Sarapan di Gang Gloria yang terkenal itu

Sarapan di Gang Gloria yang terkenal itu

Teman-teman di lokasi ini kemudian mulai memesan makanan untuk sarapan. Ada yang memesan Gado-Gado Direksi, yang katanya terkenal dan enak. Saya sih tidak terlalu suka dengan gado-gado. Ada yang memesan Mie Ayam Cah Jamur. Ada juga yang memesan Kari Sapi. Pokoknya semua bebas memilih makanan yang dipesannya lha wong yang bayar juga mereka sendiri kok :)

Saya sendiri bukan tipe orang yang muat sarapan pagi banyak-banyak. Jadi saya sarapan cakwe aja. Saya senang sekali cakwe di Gang Gloria ini. Harganya Rp 3000 per batang. Saya beli 10 batang dan kita makan ramai-ramai. Tapi yang paling doyan dan banyak makan cakwe-nya sih saya hehehee

Selesai sarapan sekitar jam 09.50 maka kita pun lanjut berjalan ke daerah kawasan petak 9. kita menyusuri pasar dikawasan tersebut untuk menuju Vihara Toa se Bio.

 

Vihara Dharma Bhakti

Diperjalanan saya berubah pikiran untuk tidak mengikuti jalan potong lewat gang seperti halnya Trip sebelumnya. Saya khawatir tidak hapal dengan jalan gangnya yang kecil dan berkelok-kelok. Akhirnya saya ikuti saja jalan besar di pasar petak 9. Akibatnya lokasi yang kita kunjungi pertama adalah Vihara Dharma Bhakti.

Kita jadi muter, bukan ke vihara Toa Se Bio dulu akan tetapi malah ke vihara Dharma Bhakti. Tapi tidak apa-apa, karena lokasi ini semua berdekatan. Cuma akibatnya rutenya jadi bolak-balik karena nanti akan ke Candra Naya.

Di Vihara Dharma Bhakti kita asyik foto-foto dan melihat-lihat aktivitas ibadah disana. Saya sempat melihat seorang bapak melepaskan burung-burung.

Melepas Burung di Vihara Dharma Bhakti

Melepas Burung di Vihara Dharma Bhakti

Setelah saya posting di FB teman saya Lie Na Lioe menjelaskan maksud dari ritual melepas burung ini:

“Salah satu ritual utk buang hal-hal buruk. Biasanya dilakukan oleh yg shionya tjiong atau bertentangan di tahun tertentu. Mungkin yg di gambar ini shionya tjiong atau bertentangan dgn tahun ayam ( kebetulan next year adalah th ayam). Dari mana kita mengetahui shio kita bertentangan atau tjiong? Bisa minta daftarnya di klenteng tempat kita biasa sembahyang. Biasanya selain burung juga ada yg melepas ikan. Ada pula nanti ritual upacaranya yg dipimpin seorang pemuka agama…”.

Dari wisata ini saya jadi memperoleh banyak informasi dan pengetahuan baru, sehingga tidak hanya menikmati makanan yang enak-enak saja alias wisata kuliner saja.

 

Gereja St Maria de Fatima

Destinasi berikutnya adalah Gereja St Maria de Fatima yang lokasinya tidak jauh dari vihara Dharma Bhakti alias masih di Jl. Kemenangan juga. Sesampainya di lokasi saya disambut dengan ramah dengan bapak yang jaga diparkiran. Kami ditanya ingin beribadah atau ingin melihat-lihat/berkunjung. Saya sampaikan bahwa kami ingin melihat-lihat. Oleh si Bapak saya diantarkan ke dalam. Sebelumnya saya tanya, apakah kami tidak apa-apa jika masuk ke dalam? Si Bapak bilang, tidak apa-apa. Maka kamipun masuk ke dalam.

Suasana di dalam Gereja St. Maria De Fatima

Suasana di dalam Gereja St. Maria De Fatima

Di dalam ternyata sedang ada jemaat atau pengurus gereja yang sedang beres-beres. Ibu-ibu itu sepertinya sedang merapihkan atau bebenah settingan dekor di area depan atau mimbar gereja. Saya tidak tau persis nya sebab saya tidak mampir ke depan, yang bicara adalah teman-teman saya para wanita. Saya pikir sesama ibu-ibu akan lebih nyambung hehehehee dan nampaknya benar sih, mereka bisa cepat nge-blend, alias ngobrol dan ketawa-ketawa. Para ibu-ibu pengurus Gereja itu ramah dan welcome sekali dengan kami para pengunjung.

Selesai foto-foto dan liat-liat gereja St Maria de Fatima ini maka kami pamit pulang dan berterimakasih sudah boleh berkunjung dan diperkenankan liat-liat. Sebelum kami meninggalkan Gereja kami masih sempatkan diri untuk foto-foto dulu di area halaman Gereja.

 

Vihara Toasebio

Lanjut kunjungan kami diteruskan ke Vihara Toa Se Bio yang juga masih di Jl. Kemenangan. Harusnya Vihara ini yang pertama akan kami datangi. Namun karena saya ambil jalan memutar maka Vihara ini justru didatangi belakangan.

Seperti halnya dilokasi lain maka di Vihara ini kami juga langsung melihat-lihat dan tentu saja mengambil foto.

Di vihara ini saya bertemu dengan adik-adik mahasiswi dari Kampus UMN yang sedang mengerjakan tugas. Tugas mereka adalah melakukan wawancara kepada para pengunjung destinasi wisata di kawasan Chinatown dan menanyakan hal-hal terkait dengan kondisi Indonesia akhir-akhir ini. Mereka awalnya meminta teman saya untuk diwawancara, tapi teman saya tidak bersedia. Akhirnya saya yang bersedia untuk diwawancara mereka. Itung-itung saya sampaikan pandangan saya tentang kondisi Indonesia saat ini, masalah keberagaman dan kunjungan wisata kami hari ini. Semoga wawancara dengan saya itu dapat membantu mereka dalam memenuhi tugas perkuliahan mereka.

 

Candra Naya

Setelah puas di Vihara Toa Se Bio maka perjalanan kami siang itu kami lanjutkan ke Candra Naya. Kami harus kembali ke arah Vihara Dharma Bhakti untuk menuju ke Candra Naya. Kasihan juga Rido mulai capek dan demikian pula teman-teman. Perjalanan kita lumayan melelahkan juga hari ini.

Jalan Menuju Candra Naya

Jalan Menuju Candra Naya

Setelah berjalan lumayan capek maka kami sampai juga di Candra Naya. Bangunan bersejarah yang minggu sebelumnya saya sudah kunjungi juga dan saya masih sesali sampai sekarang karena harus menerima “dikangkangi” dua bangunan menara di kanan kirinya :( Candra Naya adalah bangunan cagar budaya yang menurut saya tidak selayaknya dipaksa “tenggelam’ diantara angkuhnya dua bangunan modern.

Sayangnya hari itu kami tidak bisa masuk ke dalam Candra Naya. Kata satpamnya hari itu Candra Naya tidak dibuka. Padahal minggu lalu saya datang dengan rombongan dari ITDP bangunan itu buka. Kata satpam yang berjaga disana karena minggu lalu yang datang adalah rombongan jadi Candra Naya di buka. Entah bener atau ngga saya juga ga yakin pasti, yang jelas ini menambah kejengkelan saya pada pengelola Candra Naya.

Untungnya kami masih bisa foto-foto di terasnya. Begitu juga di kolam bagian belakang. Teman-teman bisa puas untuk berfoto di area ini. Saya agak kecewa juga bawa teman-teman ke Candra Naya tapi ternyata tidak bisa masuk. Baru tau juga ternyata Candra Naya tidak dibuka secara bebas.

Pose di Depan Candra Naya

Pose di Depan Candra Naya

 

Maksi di Kopi Oey

Selesai dan puas foto-foto perut mulai lapar lagi, ternyata sudah waktunya jam makan siang. Seperti trip sebelumnya maka saya ajak teman-teman makan di Kopi Oey juga. Sebenarnya di lokasi Candra Naya ada restoran lain, tapi karena saya sudah familiar dengan Kopi Oey dari kunjungan sebelumnya maka saya ajak teman-teman untuk kesitu aja. Lain waktu jika berkunjung kesana lagi saya akan coba resto yang lain.

Kopi Oey di Candra Naya

Kopi Oey di Candra Naya

Kami lumayan lama juga di Kopi Oey selain untuk makan siang, kami juga beristirahat karena kaki pegel sudah jalan lumayan jauh dan juga ngecharge hape.

Foto yg Indah Karya mbak Yasinta Wirdaningrum

Foto yg Indah Karya mbak Yasinta Wirdaningrum

Sekitar pukul 13.00 kami membubarkan diri. Saya dan sist Natalia memisahkan diri dengan teman-teman yang masih asyik foto-foto di kolam Koi dibelakang. Saya dan Natalia jalan ke halte TJ Olimo dan naik TJ ke Stasiun Kota untuk naik Kereta ke Depok. Sayangnya perjalanan kita berdua pulang ke Depok agak terhambat di Stasiun Tebet karena ada gangguan pada saluran listrik di Stasiun Pasar Minggu Baru yang terkena batang pohon yang tumbang. Saya sampai rumah akibatnya sudah sore.

Hari itu saya hanya keluar uang untuk ongkos berwisata ke Chinatown di Jakarta cukup murah. Naik Kereta tiketnya Rp. 4000 dari Depok ke Stasiun Kota. Demikian pula pulangnya. Sedangkan tiket Transjakarta dari Stasiun Kota ke Glodok Rp. 3500,- demikian pula dari halte TJ Olimo ke Stasiun Kota. Ongkos yang sedikit lebih mahal adalah ongkos ojek online dari rumah ke stasiun Pondok Cina (saya naik kereta selalu dari stasiun pondok cina).

Secara umum wisata kuliner kami hari ini relatif murah dan terjangkau sekali. Tidak perlu biaya mahal untuk wisata kuliner ini dan lokasinya pun tidak terlalu jauh masih di Jakarta juga. Seru banget wisata ini, next kami akan jelajahi tempat lain.

 

Sampai Jumpa di wisata kami berikutnya …

 

 

Pose bareng dgn bus TJ seri vintage PPD

Jalan-jalan ke China Town di Jakarta Bersama ITDP

Hari Sabtu, tanggal 26 November 2016 saya diajak bro Tora (teman saya di Forum Diskusi Transportasi Jakarta) untuk ikut acara jalan-jalan mengunjungi daerah Pecinan dengan menggunakan Transjakarta. Nama acaranya  Site Visit Busway (SVB) – Culinary Edition “Down to Chinatown”. Penyelenggaranya adalah: ITDP (Institute for Transportation & Development Policy) bekerjasama dengan: Transjakarta, Kopi Oey, Mélu Culinary Tours dan Trafi.

Saya sangat tertarik sekali untuk ikut serta. Apalagi lokasi yang akan dituju adalah wilayah Pecinan di Jakarta yang sangat menarik untuk dikunjungi baik untuk wisata sejarah maupun kulinernya. Titik pertemuan (meeting point) untuk trip ini adalah di halte Transjakarta Bundaran Senayan pukul 07.30 WIB.

 

Persiapan

Saya janjian dengan bro Tora untuk bertemu langsung di titik kumpul. Tepat pada hari H saya sudah tiba pagi hari di halte Transjakarta Bundaran Senayan sebelum waktunya. Sehingga saya masih bisa melihat-lihat kondisi di sekitar halte Transjakarta tersebut. Tidak lama bro Tora pun tiba, saya dan bro Tora sempat ngobrol-ngobrol sebentar.

Tidak lama kemudian rekan-rekan dari ITDP dan Transjakarta serta Trafi.id pun tiba dilokasi juga. Kami langsung mengisi absen. Selain itu ada pembagian goodies bag yang jumlahnya terbatas, saya sendiri tidak dapat karena untuk satu komunitas hanya diberi satu.

Saya juga berkesempatan berkenalan dengan peserta trip lainnya. Salah satunya saya berkenalan dengan bro Tommy Godfried, teman dari bro Tora. Selanjutnya dalam perjalanan kali ini kami jadi sering ngobrol bertiga.

Walau saya tidak mendapat goodies bag karena tiap peserta mendapatkan sebuah kartu Jakcard edisi Vintage Series Transjakarta yang PPD. Saldonya saya cek lumayan juga Rp. 50.000,- :) Tapi yang paling bikin saya senang seri edisinya yang vintage PPD itu lho, yang keren banget.

Kartu Jakcard versi edisi Vintage PPD Transjakarta

Kartu Jakcard versi edisi Vintage PPD Transjakarta

Selesai dibagikan goodies bag dan kartu Jakcard TJ maka kita masih menunggu rekan-rekan lain yang belum datang. Total peserta yang ikut saya ingat-ingat ada sekitar 20 sd 30 orang. Namun dari semua yang terdaftar nampaknya tidak semuanya hadir.

Sebelum memulai Trip kita mendapat sambutan dari pihak ITDP dan juga diperkenalkan dengan seluruh panitia yang akan memandu perjalanan pagi ini.

Persiapan sebelum perjalanan di Halte TJ Bundaran Senayan. Foto Courtesy: http://www.itdp-indonesia.org/svbchinatown/

Persiapan sebelum perjalanan di Halte TJ Bundaran Senayan.
Foto Courtesy: http://www.itdp-indonesia.org/svbchinatown/

Oh ya kabarnya kami akan menggunakan bus TJ edisi PPD vintage series yang hanya ada 2 unit itu. Wah saya makin senang sebab saya belum pernah naik bus TJ edisi vintage tersebut. Kesempatan nih naik bus TJ edisi PPD vintage.

 

Bus TJ Vitage PPD dengan Ejaan Lama :)

Bus TJ Vitage PPD dengan Ejaan Lama :)

Sekitar pukul 08.15 kami memulai perjalanan dengan menggunakan bus TJ edisi PPD vintage tersebut. Rutenya sama persis melalui jalur TJ koridor 1 rute Blok M – Kota, hanya bedanya kami tidak berhenti di setiap halte :) Diatas bus pihak ITDP kembali perkenalkan diri dan juga menjelaskan tentang ITDP, kemudian pihak Transjakarta juga memberikan penjelasan terkait kegiatan ini disusul dengan Trafi.id yang menjelaskan mengenai aplikasi Trafi.

 

Tiba di Glodok

Sekitar pukul 08.45 kami sampai di Halte TJ Glodok. Disana kami disambut pihak Mélu Culinary Tours. Kemudian kami berjalan kaki menuju Gang Gloria, melaui kawasan pasar glodok yang sudah sangat terkenal.

Setelah berjalan sekitar 300 meter maka sampailah kami di gang Gloria yang terkenal itu :)

 

Surga Kuliner di Gang Gloria

Terdapat beragam kuliner di gang Gloria ini. Seperti Nasi Campur, Mie Ayam, Pempek, Soto Betawi Afung, kopi Tak Kie, Gado-Gado Direksi, Cakwe dll

Di Gang Gloria peserta disuguhi kopi Tak Kie yang legendaris dari tahun 1927 itu, dan juga merasakan Cakwe gang Gloria yang enak banget. Saya suka banget cakwe, sehingga saya terpikir untuk harus kembali lagi kesini.

Oh ya karena ini adalah kawasan Pecinan maka kuliner di wilayah ini tidak semuanya adalah makanan halal. Sebaiknya sebelum membeli bertanya dahulu. Mereka akan dengan senang hati menjelaskan mana yang halal.

Selain itu untuk yang tidak terbiasa dengan kondisi jajanan atau kuliner ala jalanan atau pasar seperti di kawasan gang Gloria ini, maka lokasi ini bukan tempat ideal buat anda. Kalo saya sih masih ada makanan yang saya bisa makan disini, seperti Cakwe yang masih panas baru diangkat dari penggorengannya. Saya sendiri tipe penggemar chinesse food ala restoran seperti Njun Njan dan lain sebagainya.

 

Petak Sembilan

Selesai makan di Gang Gloria kemudian sekitar pukul 09.30 kami melanjutkan perjalanan menyusuri kawasan Petak Sembilan. Kami berjalan menyusuri pasar tradisional yang menjual teripang dan beragam bahan makanan khas masyarakat Tionghoa lainnya.

Kawasan Pasar di Jl. Petak Sembilan

Kawasan Pasar di Jl. Petak Sembilan

Jalanan di Pasar di Petak Sembilan ini sudah di beton, namun seperti layaknya pasar tradisional selain toko-toko permanen terdapat pula lapak-lapak yang tidak permanen dan berada di jalanan. Saya sih tidak terlalu suka dengan pemandangan pasar di Indonesia. So perjalanan menyusuri pasar ini saya ingin segera saja saya lalui :)

Toko Mampank, namanya sama ama Desa di Depok

Toko Mampank, namanya sama ama Desa di Depok

 

Vihara Toasebio

Setelah menyusuri pasar dan gang-gang sempit dalam pasar Petak 9, tiba-tiba kami sudah berada di Jalan Kemenangan III atau jalan Toosebiostraat (nama jalan jaman Belanda). Persinggahan pertama adalah Vihara Taosebio. Di lokasi Vihara ini kita sibuk foto-foto dan mengamati kondisi sekitar Vihara. Saya sendiri tidak banyak mengambil foto. Lebih banyak liat-liat saja.

Vihara Toa Se Bio

Vihara Toa Se Bio

Konon Vihara Toasebio pernah menjadi saksi bisu dari pembantaian kolonialisme Belanda terhadap etnis Tionghoa di Angke pada tahun 1740-an. Selain itu Kelenteng ini pernah dibakar Belanda dan dibangun lagi tahun 1751. Sehingga jika dihitung sejak didirikan tahun 1751 maka klenteng ini sudah berusia 265 tahun.

Vihara Toa Se Bio

Vihara Toa Se Bio

 

Gereja St Maria De Fatima

Dari vihara Toasebio kita lanjutkan perjalanan ke Gereja Katholik Santa Maria De Fatima. Jaraknya dari vihara tidak terlalu jauh. Jalan kaki hanya sekitar 50 meter saja. Gereja ini unik karena aristekturnya bernuansa tionghoa.

Gereja St Maria De Fatima

Gereja St Maria De Fatima

untuk mengetahui informasi seputar gereja ini secara lebih detail bisa di buka di  http://www.santamariadefatima.org/

 

Vihara Dharma Bhakti

Dari Gereja Santa Maria de Fatima perjalanan dilanjutkan ke Vihara Dharma Bhakti.  Vihara ini dibangun pertama kali pada tahun 1650 dan dinamakan Kwan Im Teng. Kata Kwan Im Teng kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi klenteng.

Kelenteng ini dipugar pada tahun 1755 oleh Kapitan Oei Tji-lo dan diberi nama “Kim Tek Ie”. Nama Kim Tek Ie diubah menjadi Vihara Dharma Bhakti. Nama Indonesia hasil terjemahan dari Kelenteng Keutamaan Emas.

Pada hari Senin tanggal 2 Maret 2015 dinihari, Klenteng Kim Tek Ie mengalami kebakaran, diduga penyebab kebakaran berasal dari api lilin. Dalam kebakaran ini, bangunan utama beserta rupang-rupang ikut musnah terbakar, terkecuali rupang Kwan Im dan dua rupang lainnya yang berhasil diselamatkan.

Informasi tentang Vihara ini saya dapat dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kim_Tek_Ie

 

Berjalan menuju Candra Naya

Selesai dari Vihara Dharma Bhakti perjalanan dilanjutkan ke bangunan bersejarah yang menjadi cagar budaya yaitu Candra Naya. Sepanjang perjalanan saya dan bro Tora ngobrol dengan salah satu perwakilan Trafi dari Eropa yang sedang berkunjung ke Jakarta.

 

Chandra Naya

Sekitar pukul 10.50 kami sudah tiba di Candra Naya. Sebuah bangunan bersejarah yang menurut saya “dirusak” oleh pembangunan jaman. Bagaimana tidak “rusak” Candra Naya berada ditengah dua bangunan menara hotel. Kondisi bangunan Candra Naya ini mirip dengan bagunan khas di Pondok Cina yang harus berada ditengah bangunan sebuah Mall Margo City Depok. Sedih liatnya … :(

Foto Bersama di Candra Naya (Courtesy Tommy Godfried)

Foto Bersama di Candra Naya (Courtesy Tommy Godfried)

Di Candra naya ini kami semua langsung berpose untuk foto bersama. Kemudian dilanjutkan para peserta untuk mengambil foto-foto diseputaran Candra Naya.

Candra Naya adalah sebuah bangunan cagar budaya di daerah Jakarta, Indonesia, yang merupakan bekas kediaman Mayor Khouw Kim An 許金安, mayor Tionghoa (majoor de Chineezen) terakhir di Batavia (1910-1918 dan diangkat kembali 1927-1942), setelah Mayor Tan Eng Goan 陳永元 (1837-1865), Tan Tjoen Tiat 陳濬哲 (1865-1879), Lie Tjoe Hong 李子鳳 (1879-1895) dan Tio Tek Ho 趙德和 (1896-1908). Bangunan seluas 2.250 meter persegi ini memiliki arsitektur Tionghoa yang khas dan merupakan salah satu dari dua kediaman rumah mayor Tionghoa Batavia yang masih berdiri di Jakarta.Kediaman mayor Tionghoa lainnya yang masih ada ialah bangunan “Toko Kompak” di Pasar Baru, bekas kediaman Mayor Tio Tek Ho. Bangunan yang didirikan pada abad ke-19 ini merupakan salah satu dari 3 bangunan berarsitektur serupa yang pernah ada di Jalan Gajah Mada, yaitu Jalan Gajah Mada 168 milik Khouw Tjeng Po 許清波, yang merupakan gedung Tiong Hoa Siang Hwee 中華商會 (Kamar Dagang Tionghoa) dan kini menjadi gedung SMA Negeri 2 Jakarta, Jalan Gajah Mada 188 milik Khouw Tjeng Tjoan 許清泉, yang kini dikenal sebagai gedung Candra Naya itu sendiri, dan Jalan Gajah Mada 204 milik Khouw Tjeng Kee 許清溪, yang pernah digunakan sebagai gedung Kedutaan Besar Republik Rakyat Republik Rakyat TiongkokTiongkok. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Candra_Naya)

 

Lunch Kopi Oey

Sesudah puas mengambil foto di Candra Naya kemudian seluruh peserta berkumpul untuk makan siang di kedai Kopi Oey yang berada di lingkungan Candra Naya. Menu nya sudah dipilih peserta setelah dikirimkan pilihan melalui email beberapa hari sebelumnya.

Selesai makan siang maka acara perjalanan hari ini akan segera berakhir. Acara selanjutnya adalah menuju Monas untuk mengabadikan peserta dengan berfoto dengan latar bus Transjakarta vintage.

Peserta kemudian berjalan ke halte Transjakarta dekat Candra Naya yaitu halte TJ Olimo. Dari situ kami menunggu bus TJ khusus vintage series PPD yang memang sudah diarahkan untuk membawa peserta kembali ke halte Bundaran Senayan.

 

Transit di Monas

Sekitar jam 12.30 kami sudah sampai sekitar halte TJ Monas. Di halte ini bus kami berhenti dan kami pun turun untuk foto-foto dengan latar belakang bus TJ vintage series PPD.

Pose di Halte TJ Monas

Pose di Halte TJ Monas

Akhirnya kami pun berfoto bersama dengan latar belakang bus TJ vintage series PPD.
Pose dengan latar belakang bus Transjakarta edisi vintage PPD

Pose dengan latar belakang bus Transjakarta edisi vintage PPD

 

Hari itu saya sangat senang sekali bisa ikut serta dalam trip wisata ke Pecinan di Jakarta. Lokasi kunjungan tidak jauh masih di Jakarta, tapi lumayan banyak hal baru yang saya peroleh dari perjalanan ini. Terimakasih ke bro Tora yang sudah mengajak saya. Terimakasih kepada ITDP, Transjakarta, Kopi Oey, Mélu Culinary Tours dan Trafi.id yang sudah membuat acara ini dapat terlaksana. Semoga kita dapat bertemu lagi dalam kesempatan lain.

Liputan dari ITDP bisa dibaca disini http://www.itdp-indonesia.org/svbchinatown/

 

 

 

Sumber: http://freeaussiestock.com/

Visa Bekerja dan Berlibur (Work & Holiday Visa) ke Australia

Sudah sejak lama saya ingin sekali berkunjung ke Australia. Kayaknya enak backpacker ke Australia. Tapi hingga saat ini saya belum punya waktu yang pas dan juga (ini yang penting) belum punya uang yang cukup :)

Bulan Agustus kemarin saya berniat untuk mengurus Visa ke Australia. Setelah iseng-iseng googling ternyata diperoleh informasi bahwa untuk urus Visa di Australia tidak harus memiliki tiket pesawat atau atur jadwal perjalanan terlebih dahulu. Alias kita bisa tentukan nanti setelah mendapat Visa. Visa  tersebut pun juga memiliki jangka waktu periode yang cukup lama.

Untuk lebih mengetahui tentang membuat Visa di Australia saya coba kunjungi website http://www.vfsglobal.com/Australia/Indonesia/visit-visa.html Ternyata dari hasil penelusuran saya persyaratan dan formulir pengajuan Visa sering berubah-ubah. Oleh sebab itu untuk informasi paling terkini memang sebaiknya dipelajari dari tautan (link) tersebut.

 

Tipe Visa

Ternyata ragam jenis Visa atau Tipe Visa yang diberikan oleh Australia itu banyak banget. Dari web http://www.vfsglobal.com/Australia/Indonesia/visit-visa.html bisa dilihat tipe visa tersebut adalah:

  • Visa Kunjungan
  • Visa Transit
  • Bekerja & Berlibur
  • Kewarganegaraan
  • Visa Bekerja Sementara (Jangka Pendek)
  • Visa Pelajar
  • Keluarga – Pasangan & Anak
  • Hubungan Keluarga Selandia Baru
  • Visa Bekerja Sementara (Jangka Panjang)
  • Perawatan Medis
  • Keluarga – Lainnya
  • Resident Return Visa (RRV)
Sumber: http://freeaussiestock.com/

Sumber: http://freeaussiestock.com/

Saya ingin mengajukan Visa Kunjungan yang ternyata terdiri atas Visa Turis dan Visa Bisnis. Untuk mengetahui lebih detail tentang pengajuan Visa ke Australia maka saya terus telusuri informasi lebih lanjut di internet.

Hasilnya saya malah menemukan informasi tentang Visa Bekerja dan Berlibur (Work & Holiday Visa) di Australia. Berdasarkan informasi yang saya peroleh, Visa ini dapat digunakan untuk berlibur dan bekerja hingga 12 bulan di Australia. Visa ini memungkinkan pemegang Visa nantinya bekerja sementara atau kasual sambil berlibur. Wah asyik banget nih pikir saya… Jadi saya bisa berlibur tapi juga bisa nyari kerjaan yang tidak serius, seperti misalnya jaga toko, bersih-bersih, layanan umum, perkebunan dan lain-lain.

 

Visa Bekerja dan Berlibur (Working & Holiday Visa)

Visa ini menarik sekali buat saya karena selain berlibur maka saya juga bisa nyambi kerja di sana. Setelah saya pelajari di web http://www.vfsglobal.com/Australia/Indonesia/work-voccation.html ternyata syarat terkait Visa Bekerja dan Berlibur (Work & Holiday Visa) adalah:

Persyaratan

  • Berusia 18 hingga 30 tahun (inklusif) pada tanggal Anda mengajukan aplikasi
  • Pemegang paspor dari negara yang memenuhi syarat
  • Memiliki surat dukungan dari pemerintah Anda
  • Sebelumnya tidak memegang visa bekerja dan berlibur (417) atau visa bekerja dan berlibur (462).

Persetujuan Pemerintah
Anda harus menyerahkan kepada departemen terkait surat dukungan dari pemerintah asal untuk melengkapi aplikasi Anda ketika mengajukan aplikasi visa bekerja dan berlibur. Surat ini harus dalam bentuk surat asli dari persetujuan Surat pengantar dari Kementerian Dalam Negeri. Rincian Anda akan diverifikasi terhadap daftar asli yang disediakan oleh Kementerian.

Catatan: Surat dukungan ini tidak menjamin penempatan dalam program bekerja dan berlibur.

Persyaratan Pendidikan
Anda harus memiliki kualifikasi pendidikan tinggi atau telah berhasil menyelesaikan setidaknya dua (2) tahun studi universitas sarjana.

Persyaratan Bahasa Inggris
Anda harus memberikan bukti dokumen tingkat bahasa Inggris Anda ketika Anda mengajukan aplikasi visa, persyaratan ini termasuk yang berada di daftar dokumen program bekerja dan berlibur.

Bukti Ketersediaan Dana
Anda harus memberikan salinan resmi dari rekening bank yang mampu menunjukkan Anda memiliki akses ke dana yang tersedia, umumnya membutuhkan setidaknya AUD $ 5,000 untuk mendukung tahap awal dari liburan Anda. Jumlah ini akan bervariasi tergantung pada durasi masa tinggal yang Anda usulkan dan sejauh mana perjalanan Anda.
Anda juga harus memberikan bukti tiket kepulangan atau dana untuk buiaya meninggalkan Australia.

Persyaratan Kesehatan
Anda akan perlu menjalani rontgen dada dan, tergantung pada keadaan pribadi Anda, Anda mungkin juga perlu melakukan pemeriksaan kesehatan tambahan.

Persyaratan Karakter
Semua pelamar harus memenuhi persyaratan karakter.

Biaya Visa Bekerja dan Berlibur
Biaya permohonan visa harus disertakan dalam proses pengajuan aplikasi Anda dan tidak dikembalikan jika aplikasi tidak disetujui..

 

Sumber: http://freeaussiestock.com/

Sumber: http://freeaussiestock.com/

Saking saya nafsunya saya lebih fokus perhatikan syarat yang mensyaratkan: “surat dukungan dari pemerintah”. Surat tersebut dapat diperoleh dengan mengajukan permohonan ke Direktorat Jenderal Imigrasi di link http://www.imigrasi.go.id/index.php/layanan-publik/rekomendasi-visa-bekerja-dan-berlibur

Di web tersebut diperoleh informasi bahwa: Program Bekerja dan Berlibur (Visa)/Work and Holiday mendorong pertukaran budaya dan hubungan person to person yang lebih erat dengan memungkinkan pemuda-pemudi Indonesia untuk menghabiskan liburan panjang serta dapat melakukan pekerjaan jangka pendek di Australia.

Program Bekerja dan Berlibur merupakan hasil kerjasama yang erat antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Australia sejak tahun 2009. Pada awal berlakunya kesepakatan, pemerintah kedua negara menyepakati kuota untuk program ini berjumlah 100 (seratus) orang. Namun berdasarkan hasil kunjungan Presiden RI ke Australia pada bulan Juli 2012 silam, jumlah kuota untuk Program Bekerja dan Berlibur (Visa)/Work and Holiday berjumlah 1000 (seribu) orang.

Dengan kekhususan tersebut, dan sesuai dengan kesepakatan kedua negara maka diperlukan Surat Rekomendasi (Letter of Government Support) sebagai salah satu syarat untuk mengajukan Visa ini kepada Perwakilan Australia di Indonesia. Surat rekomendasi dapat diperoleh dengan ketentuan umum sebagai berikut:

  1. Telah berusia 18 tahun atau belum berusia 30 tahun pada saat pengajuan permohonan surat rekomendasi;
  2. Memiliki kualifikasi setingkat perguruan tinggi, atau telah menjalani pendidikan di perguruan tinggi setidak-tidaknya 2 (dua) tahun pendidikan;
  3. Belum pernah mengikuti program bekerja dan berlibur sebelumnya;
  4. Memiliki paspor yang berlaku sekurang-kurangnya 12 bulan;
  5. Memiliki tingkat kemahiran berbahasa Inggris sekurang-kurangnya tingkat fungsional;
  6. Tidak disertai oleh anak-anak di bawah umur;
  7. Memiliki sejumlah dana seharga tiket pergi-pulang dan untuk membiayai keperluan selama masa awal tinggal di Australia;
  8. Surat Rekomendasi berlaku 1 (satu) bulan sejak tanggal dikeluarkan;
  9. Permohonan Surat Rekomendasi tidak dapat diwakilkan.

Lagi-lagi saya nafsu banget ketika membuka web ini, saking nafsunya saya langsung ke tabulasi “Persyaratan” dan setelah saya baca saya bisa penuhi persyaratannya semua. Langsung saja saya ke tabulasi “Registrasi”. Di tabulasi ini saya berhasil mengisi tanpa masalah. Setelah mengisi maka saya diberitahu bahwa undangan wawancara akan diumumkan di tabulasi “Wawancara” dan diberitahukan melalui email.

Namun setelah saya isi dan lengkapi semua di formulir permintaan surat Rekomendasi saya baru sadar bahwa Visa Bekerja dan Berlibur (Work & Holiday Visa) salah satu syaratnya berusia minimal 18 tahun dan maksimal 30 tahun… siall!!

Saya juga tidak sadar dengan kalimat:

“Program Bekerja dan Berlibur (Visa)/Work and Holiday mendorong pertukaran budaya dan hubungan person to person yang lebih erat dengan memungkinkan pemuda-pemudi Indonesia untuk menghabiskan liburan panjang serta dapat melakukan pekerjaan jangka pendek di Australia.”

Saya tidak sadar program ini ditujukan untuk Pemuda Pemudi :D Mana usia saya kan sudah lewat diatas 30 tahun, waduh udah kelewatan jauh ternyata. Tapi karena formulir sudah saya isi dan terkirim tanpa masalah maka saya cuek aja. Biar ajalah paling nggak dipanggil oleh Kantor Dirjen Imigrasi untuk wawancara karena usia saya sudah lewat.

Ternyata dugaan saya meleset. Tanggal 26 Agustus 2016 saya menerima email yang mengundang saya untuk hadir untuk wawancara.

Panggilan

Panggilan

 

Wawancara di Kantor Imigrasi

Saya terus terang penasaran banget pengen dapat Visa ini. Selain itu persyaratan lain saya sudah penuhi semua dan udah lengkap. Sayang juga kalo saya ngga coba, pikir saya. Kalo masalah umur saya pikir wajah saya masih mirip pemuda kok, banyak orang bilang saya belum keliatan tua :) Pokoknya saya maksain banget deh… saking pengen liburan dan kerja di Aussie :)

Maka akhirnya saya putuskan untuk hadir sesuai undangan tersebut. Kebetulan saya ada waktu luang dan saya ada janji hari itu ke daerah Kuningan dan kemudian mengambil hasil tes TOEFL ITP saya di Senayan.

Jadilah tanggal 1 September 2016 sebelum jam 09.00 saya sudah hadir dilokasi yaitu Kantor Dirjen Imigrasi di Jl. HR Rasuna Said gedungnya persis di depan GOR Soemantri Brodjonegoro. Saya langsung menuju lantai 12. Disana ada ruangan meeting dan kursi-kursi untuk menunggu di depan ruangan tersebut. Tidak ada nomor antrian untuk wawancara, jadi tidak perlu datang paling pagi, karena saat saya datang tidak ada petugas. Petugas baru hadir jam 09.00 dan kita baru mendaftar saat petugas itu datang. Panggilan wawancara dilakukan sesuai pendaftaran yang barusan dilakukan.

Akhirnya saya dipanggil setelah menunggu sekitar 30 menit. Saya dapat nomor antrian lumayan di awal tidak diurutan bontot. Saya masuk ruangan wawancara, saya duduk di kursi persis di depan meja wawancara. Petugas yang melakukan wawancara seorang wanita masih muda berhijab. Dia terima berkas saya, saat terima berkas saya dia langsung pelajari dan tidak lama dia tampak kaget dan bingung. Akhirnya dia bisik-bisik tanya ama petugas disebelahnya yang juga wanita. Sepertinya dia belum bisa memperoleh kejelasan.

Akhirnya si Mbak petugas itu pergi dari meja wawancara saya :) Dalam hati saya ngikik, kayaknya saya tau deh masalahnya ;) Sambil menunggu saya dengar di meja lain para pemohon di wawancara dalam bahasa Inggris was wes wos…

Tidak lama datanglah seorang mas petugas bukan si mbak petugas yang tadi, sepertinya si mbak yang tadi ga berani jelaskan ke saya :) Mas petugas ini juga masih muda. Mas ini berbicara dan sampaikan dengan baik-baik dan sopan sekali, intinya saya tidak bisa mengajukan permohonan rekomendasi untuk visa bekerja dan berlibur karena usia saya diatas 30 tahun ;)

Walaupun saya tau bahwa usia saya sudah lewat jauh dari persyaratan tapi saya masih mencoba “menawar” ke mas petugas itu. saya bilang: “apa nggak bisa mas diberi toleransi? toh kan persyaratan lainnya terpenuhi?” :) Mas nya bilang: “wah ga bisa pak, soalnya dari pihak Australianya syaratnya demikian, bahkan nanti bapak bisa ditolak disana”.

Karena saya sadar sejak awal akan hal ini dan saya memang hanya coba-coba saja maka saya pun tidak permasalahkan atau perpanjang dan segera menarik dokumen aplikasi saya untuk kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut :) Misi percobaan saya gagal hahahahaha :D

Dengan demikian rencana saya ke Australia selanjutnya akan gunakan Visa Kunjungan Turis biasa saja …

Saran saya untuk para pemuda pemudi dengan usia dibawah 30 tahun yang ingin menambah pengalaman maka manfaatkanlah peluang ini. Apply deh visa bekerja dan berlibur di Australia ini. Lumayan banget buat nambah pengalaman berlibur dan bekerja di Australia. Siapa tau bisa dapat kerjaan dan malah disponsorin untuk kerja terus/diperpanjang bekerja di Australia. Sayang banget program ini baru ada di tahun 2009 dan usia saya sudah diatas 30 tahun, coba jika sudah ada sejak tahun 2000 :(

Dari kejadian ini saya semakin sedih dengan usia saya yang bertambah karena mengurangi kesempatan untuk bisa mengikuti program semacam ini. Usia sekarang menjadi batasan dalam hidup saya. Sementara peluang dan kesempatan makin hari kian banyak dan menarik … sebuah kesempatan yang jaman saya dulu tidak ada dan sulit diperoleh.

Beruntunglah generasi muda jaman sekarang… peluang semakin terbuka lebar, informasi semakin mudah diakses, jaman juga semakin canggih dan maju, banyak kemudahan yang bisa digunakan walaupun memang tantangan juga semakin berat.

 

Ayooo … buruan deh berpetualang sambil kerja di Australia …

 

banner

Perjalanan dari AEON Mall ke Stasiun Cisauk dan Stasiun Palmerah

Tanggal 12 April 2016 saya dipanggil lagi interview di sebuah kampus di BSD. Ini adalah interview yang kesekian kalinya. Interview diadakan pukul 8.30 WIB dan baru berakhir sekitar pukul 10.30. Mayan capek juga pikir saya. Sambil istirahat dan nunggu untuk jalan ke tempat tujuan berikutnya serta sekaligus mau makan siang maka saya menyebrang ke AEON Mall diseberangnya.

Jalan kaki tidak sampe lima menit sampe deh di AEON mall. Berhubung hari kerja maka mall ini lumayan sepi. Jadi nya enak sih, kabarnya kalo ke AEON Mall di saat weekend pasti penuh. Saya pun langsung melangkah ke food court di lantai paling atas.

Di AEON ini banyak sekali tempat makan atau restaurant, silahkan di googling aja deh kuliner apa yang ada di AEON Mall ini. Soalnya banyak banget sehingga saya tidak sempat mencatatnya. Yang jelas saya makan di food court paling atas.

Agenda saya setelah interview di pagi hari adalah sore hari sekitar jam 16.00 mengikuti training penulisan opini di Tempo Jl. Palmerah Barat. Sambil makan siang saya pikir, jika saya langsung jalan selesai makan siang naik kendaraan taxi atau sejenisnya bisa jadi macet dan lama. Saya ingat bahwa AEON mall ini dekat dengan Stasiun Kereta Commuter Line (KCL) CISAUK. Udah lama juga nih saya tidak naik kereta commuter line :) Ya udah saya putuskan naik KCL saja ke tujuan Stasiun Palmerah.

Jadwal training saya adalah jam 16.00, maka saya kasih waktu lebih ke Stasiun Cisauk sekitar pukul 13.45 WIB. Saya pesen Grabbike dari AEON Mall. Saya tidak tau apakah dari AEON Mall ada angkot ke Cisauk, sebab selama saya makan siang di AEON Mall memandang ke bawah lewat jendela, saya tidak melihat ada angkot lewat.

Teman saya pernah cerita bahwa dari AEON ke Sta Cisauk itu sebenarnya ada angkot. Tapi saya malas nunggu angkot yang ga pasti, apalagi cuacanya panas banget. Sekitar pukul 14.00 WIB ojek motor saya sudah datang dan mengantar saya ke Stasiun Cisauk.

Jarak dari AEON mall ke sta Cisauk tidak jauh, hanya 2.5 Km saja. Tapi karena lingkungan yang sepi dan cuaca panas jadinya kayak jauh juga. Apalagi selepas jalan Raya BSD Raya Utama kemudian masuk Jalan Raya Cisauk – Lapan, wuih… mayan serem juga, banyak truk proyek gede-gede dan jalannya lebih kecil. Tapi tidak lama melalui jalan itu saya sudah sampai di sta Cisauk.

Stasiun Cisauk
Sesampainya di stasiun Cisauk saya gunakan kartu flash BCA saya untuk tap di mesin gerbang tiket. Saya memang tidak punya kartu KCL, tapi saya ingat bahwa kartu flash BCA saya bisa di tap di jalur KCL. Saat saya tap in di mesin kartu Plazz BCA saya tidak ada masalah, saya pun lancar bisa masuk. Saat tap in kartu belum di debet.

Masuk ke stasiun saya tunggu di peron atau jalur tunggu penumpang arah ke Jakarta, karena saya tidak tau jalurnya yang, mana maka saya tanya ke Polisi KA yang jaga di stasiun. Dengan ramah dan baik polisi KA tersebut arahkan saya menunggu di peron yang menuju Jakarta. Stasiun Cisauk ini menurut saya ukurannya kecil, mirip Stasiun Pondok Cina Depok tapi yg jaman dulu.

Sta KA Cisauk

Sta Cisauk

Sta KA Cisauk

Sta Cisauk

Sta KA Cisauk

Sta Cisauk

Sambil menunggu kereta menuju Jakarta saya coba mengambil photo diseputar stasiun. Stasiun Cisauk pukul 14.00 siang saat itu sepi sekali. Penumpang ke Jakarta saya hitung tidak lebih dari 10 orang. Saya liat sekeliling stasiun sepi. Tempat parkir di Stasiun Cisauk saya liat cukup memadai dan tidak terlalu penuh.

Sta KRL Cisauk

Parkir di Sta Cisauk

Sebelum kereta commuter ke Jakarta tiba, sempat lewat terlebih dahulu Kereta pengangkut batu bara. Memang jalur Kereta ini adalah jalur kereta dari Rangkas Bitung ke Tanah Abang. Sehingga yang lewat tidak hanya kereta Commuter akan tetapi juga kereta penumpang dari Rangkas Bitung dan juga kereta Batubara.

Sta KA Cisauk

Sta Cisauk

Sta KA Cisauk

Sta Cisauk

Tapi kalo kereta Commuterline yang saya akan naiki adalah Kereta dari stasiun Maja. Kereta ini tiba sekitar pukul 14.35. Terdiri dari 10 rangkaian, sementara peron stasiun pendek sehingga 3 rangkaian terakhir tidak bisa masuk peron. Saya senang karena kereta kosong sekali. Saya bisa memilih tempat duduk :)

Route KRL Commuter Line Tanah Abang-Maja

Route KRL Commuter Line Tanah Abang-Maja

Sudah lama saya tidak naik Kereta Commuter Line. Kereta nya sekarang dingin pakai penyejuk udara atau AC. Tapi memang AC nya tidak dingin sekali. Kata teman saya karena Kereta tersebut bekas dari Jepang dan di Jepang mereka tidak memasang AC terlalu dingin.

Walaupun kereta tersebut bekas dari Jepang, namun secara umum masih layak pakai dan bagus. Hanya sayangnya karena semua jendela tertutup rapat dan menggunakan AC, maka gerbong yang saya naikin agak bau. Bau atau aromanya seperti bau kencing kecoa :)

Untuk kebersihan kereta saya pikir sudah bagus lah ya, ada OB atau pekerja yang berjalan di dalam gerbong untuk membersihkan atau menyapu kereta. Kereta ini juga sudah seperti Kereta MRT di Singapore, dimana setiap menjelang masuk stasiun diberikan pengumuman melalui pengeras suara.

Stasiun Serpong
Stasiun pertama setelah berangkat dari Cisauk adalah Stasiun Serpong. stasiun ini lebih besar daripada Sta Cisauk. Bahkan menurut saya stasiun ini mirip Stasiun Palmerah desain dan modelnya. Stasiunnya bertingkat. Di stasiun ini lebih ramai, penumpang yang naik jauh lebih banyak daripada di stasiun Cisauk.

Stasiun Rawa Buntu
Stasiun berikutnya stasiun Rawa Buntu. Stasiun ini mirip ama Stasiun Cisauk ukurannya juga tidak besar. Tapi lumayan rame penumpangnya. Siang itu yang naik dari stasiun ini lumayan lebih banyak daripada yang naik dari Cisauk.

Stasiun Sudimara
Nah stasiun ini lumayan kesohor :) saya sering denger nama stasiun ini. Stasiunnya juga lumayan besar, jauh lebih besar daripada stasiun Cisauk, mungkin sama ukurannya dengan Stasiun Serpong. Penumpangnya juga ramai. Lumayan banyak yang naik dari stasiun ini.

Stasiun Jurang Mangu
Sta Jurang Mangu ini juga terkenal, mungkin karena nama Jurang Mangu sangat terkenal. Akan tetapi walaupun terkenal stasiunnnya kecil dan penumpangnya siang itu sedikit alias sepi. Namun demikian sewaktu saya intip keluar di parkiran mobil dan motornya lumayan rame dan penuh sehingga asumsi saya berarti stasiun ini ramai terutama di pagi hari.

Stasiun Pondok Ranji
Stasiun ini adalah stasiun yang saya paling familiar, sebab jika saya pulang dari rumah pacar saya di Cipadu, Larangan, saya lewati Jl Raya Ceger dan pondok Betung dan kemudian lewati stasiun ini. Stasiun ini lumayan kecil tapi panjang peronnya setau saya sudah ditambah. Saya paling sebel kalo melewati stasiun ini karena perlintasannya macet sekali. Jalannya kecil, tapi angkotnya ngetem bikin sempit jalan yang udah sempit. Siang itu penumpang di stasiun ini juga lumayan ramai.

Bau Kentut…
Selepas stasiun pondok ranji ini terjadi hal yang saya khawatirkan. Gerbong kereta ber-AC dan tertutup rapat gini bagaimana jika ada yang buang angin atau kentut?
Dan hal itu terjadi…. eng ing eng… ibu-ibu sebelah saya tutup hidung, saya pun menutup hidung saya…
Mungkin diantara penumpang dalam hati sudah saling menuduh siapa yang kentut, kecuali sang pelaku tentunya :)
Duh suasana pun jadi tidak nyaman dan tidak kondusif lagi… gelisah lirik sana lirik sini :) hingga akhirnya bau itu hilang mungkin bergerak ke gerbong lain :)

Selepas stasiun Pondok Ranji pemandangan di luar kereta mulai berubah dengan pemandangan kota Jakarta. Jika sebelumnya banyak di dominasi oleh kebun dan pemandangan pedesaan maka selepas stasiun ini pemandangannya berbeda. Saya melihat dan melewati SMA Negeri 86 Jakarta dan juga melewati TPU Bintaro.

Stasiun Kebayoran
Setelah melewati pemandangan yang sudah lebih “kota” maka kereta singgah di stasiun Kebayoran. Stasiun ini sedang dalam proses renovasi. Sepertinya stasiun ini akan menjadi stasiun yang besar dan keren. Saya melihat diseputar stasiun disana sini masih dalam proses pengerjaan renovasi.

Stasiun Palmerah
Stasiun berikutnya adalah stasiun tujuan saya, yaitu Stasiun Palmerah. Saya tiba di stasiun ini pukul 15.10 WIB. Lumayan juga perjalanan saya sekitar 40 menit saja dari sta Cisauk. Stasiun Palmerah selama ini saya sering lihat dari luar saja. Sejak di renovasi tahun lalu saya belum pernah singgah disini. Jika dahulu saya pulang dari kantor di Pejompongan pun saya tidak naik kereta, hanya melintas saja di jalan Tentara Pelajar.

Hari itu saya berkesempatan berkeliling di stasiun Palmerah heheehehehe norak banget ya….

 

Sewaktu akan keluar dari stasiun Palmerah, saya harus tap out kartu Flash BCA saya agar bisa keluar. Saat tap out itu kartu saya di debet Rp. 2000 artinya saya naik dari Sta Cisauk sd Sta Palmerah tarifnya hanya Rp. 2000,- saja. Jauh lebih murah kan jika dibanding saya naik Taxi atau Grab Car. Dari stasiun Palmerah saya jalan ke Pasar Palmerah untuk nyambung naik Mikrolet ke Gedung Tempo atau bisa juga disambung naik ojek lagi.

Itulah cerita pengalaman perjalanan saya dari AEON Mall ke Stasiun Cisauk kemudian ke Stasiun Palmerah. Untungnya bukan di jam sibuk seperti pagi atau sore hari, sehingga saya bisa nikmati perjalanannya :)

Saya berdoa dan berharap semoga ke depan sarana dan prasarana serta pelayanan transportasi umum di Indonesia dapat semakin baik dan bersahabat bagi masyarakat.

Berikut adalah rute lengkap KRL Commuter Line yang saya peroleh dari website resmi KRL.

Rute KRL Commuter Line

Rute KRL Commuter Line

 

Foto di atas perahu

Trip ke Pulau Peucang Ujung Kulon

Awalnya …

Trip saya ke Pulau Peucang Ujung Kulon ini semuanya berawal dari sebuah twit di twitter. Saat itu @kurawa meretweet sebuah tweet dari @NikSukacita yang mempromosikan event trip ke pulau Peucang. Temanya saat itu sih “Backpacker Kartini” dan acara ini hanya diperuntukkan bagi para wanita.

Promo Pulau Peucang

Promo Pulau Peucang

Saya tertarik dengan trip ini, apalagi ke Pulau Peucang di Ujung Kulon saya belum pernah, tapi sayangnya acara ini khusus wanita saja. Ya udah iseng-iseng saya mention ke @NikSukacita saya bilang kurang lebih “cowok dibolehin ikut dong”. Saat itu aspirasi saya ditampung saja. Tapi pas tanggal 16 April 2015 saya dapat twit di mention ama @NikSukacita yang bilang “@HBaskoroA eh ini kemarin mau ikut Trip peuchang, nah hari ini diputuskan bisa tuh cowok ikut .. #FYI aja” Wah saya girang banget ternyata aspirasi saya diterima :D

Tapi sayangnya acara nya tanggal 24 April dan dikasih taunya tanggal 16 April, ya saya musti cek dulu dengan jadwal saya yang padat (#Belagu! #Sepa!!). Setelah saya pertimbangkan masak-masak maka saya putuskan ikut, dan pembayaran terakhir hari Senin tanggal 20 April 2015 sebesar Rp. 850.000,-

Setelah membayar saya di add ke group di Watsapp dan mendapat penjelasan untuk persiapan trip ke Pulau Peucang yang akan dilaksanakan tanggal 24-26 April 2015. Sedangkan untuk detail jadwalnya adalah sebagai berikut:

Jadwal Hari 1 : 24-25 April 2015
21.00 – 22. 00  Meeting Point
22.00 – 05.00  Perjalanan menuju SUMUR di Ujung Kulon
05.00 – 07.00  Sholat, Sarapan, persiapan menyebrang ke Pulau Peucang
07.00 – 09.30  Menuju Pulau Peucang
09.30 – 10.30  Tiba di P. Peucang (Pembagian Kamar)
10.30 – 13.00  Snorkeling & Makan siang
13.00 – 16.00  Tracking Tanjung Layar (Cibom Tanjung Layar)
16.00 – 17.30  Snorkeling Cibom
17.30 – 18.00  Sunset on boat mengelilingi P. Peucang
18.00 – 19.00  Mandi
19.00 – 20.00  Makan malam
20.00 – 22.00  Sharing, Door Prize, BBQ, Akustikan

Jadwal Hari 1 : 26 April 2016
05.30 – 06.00  Bangun pagi, Mandi
06.00 – 08.30  Tracking Karang Copong
08.30 – 10.00  Sarapan, Free time
10.00 – 12.00  Explore Cidaon, Snorkeling Cidaon
12.00 – 13.00  Makan Siang, Check Out
13.00 – 15.30  Kembali Ke Sumur
15.30 – 22.30  Perjalanan Ke Jakarta
22.30             Tiba di Jakarta

 

Meeting point

Hari H Jumat 24 April 2015 telah tiba. Meeting point acara ini sebenarnya adalah di Sevel Kebon Jeruk sebelahnya RCTI. Tapi karena banyak peserta yang dari arah selatan maka bus untuk trip di arahkan ke Plaza Semanggi dulu, baru ke Kebun Jeruk. Saya janjian dengan teman baru saya @NikSukacita di Plaza Semanggi sekitar jam 18.00. Rencananya kami mau makan malam dulu sekalian perkenalan pertama.

Pertemuan kita akhirnya berlangsung di Kopi Legit Cafe & Resto Plaza Semanggi, disana saya bertemu dengan sist Nik, yang ternyata ia aktif di IDC (www.inidonesiaku.com). Pantes aja sist Nik ini aktif koordinasikan acara ini. Selain bertemu Nik saya dikenalin dengan teman2 lain yang akan ikut trip dan kumpul di Plaza Semanggi juga yaitu: sist Destar, Sist Jeanny dan Sist Deasy.

Kopi Legit Cafe & Resto Plaza Semanggi

Kopi Legit Cafe & Resto Plaza Semanggi

Semua teman-teman baru saya tersebut baik-baik dan langsung cepat akrab, sehingga saya juga ga canggung sebagai orang baru. Selesai makan malam maka kita mencari bus yang katanya sudah parkir di luar deket Plaza Semanggi. Saat mau ke Bus itu kita bertemu dengan teman peserta trip satu rombongan dengan kami ke Pulau Peucang yang lain, yaitu: Lulu, Wiwied, Dyandra dan Dion.

Lanjut saya dan sist Nik nyari bus nya, bus nya agak bermasalah juga sebab informasi pak supir dari handphone yg dihubungi dia bilang parkir busnya di depan ATMA JAYA. Setau saya mana bisa parkir di depan ATMA JAYA, itu kan jalan Jend Sudirman? Parkir disitu pasti bikin macet. Wah mungkin sebelah ATMA JAYA atau dibelakangnya. Dihubungi berkali-kali lewat telepon ga jelas juga lokasinya, ditanya warna bus nya dan nama busnya, dikasih tau warna ungu tapi kita cari ga ketemu. Ternyata bus itu diparkir dekat sekali dengan lokasi kami, yaitu di antara Plaza Semanggi dan ATMA JAYA, deket juga dengan antrian Taxi Blue Bird. Itu pun ternyata bus kami di “duduki” oleh rombongan lain yang mengira bus kami adalah bus mereka, karena mereka juga mau ke Sumur ;) Pantesan dari tadi dicari ga ada bus yang kosong.

Setelah itu sekitar jam 21.00 kami bergerak ke Sevel di Kebun Jeruk. Disana kami bertemu dengan peserta trip lainnya. Saya susah sebutkan mereka satu persatu, yang jelas mereka semua sangat ramah dan baik sehingga kami semua langsung cepat akrab.

Sevel Kebun Jeruk

Sevel Kebun Jeruk

 

Ke SUMUR – Banten

Setelah menunggu dan ngobrol lama di Sevel Kebun Jeruk maka sekitar jam 24.00 kami memulai perjalanan ke desa SUMUR di Ujung Kulon Banten. Perjalanannya mengambil rute mirip trip saya ke Sawarna. Dari kebun Jeruk kami masuk tol tapi pas masuk bantennya agak beda sedikit jalan yang diambil sampe ke Sumur nya. Ga tau saya bener atau nggak kalo jalan itu berbeda dengan ke Sawarna? sebab saya juga ga yakin sih, sewaktu ke Sawarna kan Mei tahun 2010, itu artinya 5 tahun yang lalu (time goes by…. ga terasa)

Untuk cerita trip saya ke Sawarna silahkan baca disini

Jalan menuju Sumur lepas dari Banten cukup mulus, hampir sudah beton semua. Sehingga selama perjalanan juga nyaman. Tapi tetap saja saya tidak bisa tidur. Melewati banten kami memasuki daerah-daerah pinggir pantai. salah satu yang saya ingat adalah SUKETI. Di daerah itu ternyata baru saja dilanda hujan besar, sehingga jalanan yang kami lewati di beberapa tempat banjir karena berada di pinggir laut juga. Wah kondisinya ngeri juga, takutnya kami ga bisa neruskan perjalanan dan stuck di tengah banjir kan repot. Apalagi itu sudah dinihari. Ternyata setelah diterabas pelan-pelan bus kami bisa melalui itu semua.

Kami sampai di Sumur sekitar pukul 04.30 atau saat subuh. Di Sumur kita transit dan beristirahat di rumah penduduk yang sekaligus ternyata pemilik kapal yang akan antar kita ke Pulau Peucang. Rumah bapak itu adalah rumah sederhana nelayan dengan satu kamar mandi dan ruangan sholat. Karena kamar mandi nya 1 maka kami pun harus bergantian. Di Sumur kami ada yang sholat dan melanjutkan tidur. Sayangnya cuaca tidak mendukung, seharusnya sesuai jadwal jam 07.00 kita berlayar ke Pulau Peucang tapi sekitar jam 06.00 hujan turun dengan derasnya. Ombak juga katanya tidak bersahabat, setelah koordinasi dengan Polisi Air mereka juga tidak rekomendasikan kami untuk berlayar. Weleh …

Risiko nya jika cuaca terus buruk maka kita tidak jadi ke Pulau Peucang, acara bisa batal dan kita kembali lagi ke Jakarta. Hal seperti ini yang sebenarnya harus kita pahami sebelum pergi ke Pulau Peucang. Bahwa cuaca saat ini tidak menentu sehingga apapun bisa terjadi. Saya sih udah sebodo amat dan pengen banget molor, maka saya putuskan untuk tidur saja, liat aja nanti gimana :)

Eh sekitar jam 09.00 kami semua dibangunkan, kita siap siap mau berlayar ke Pulau Peucang. Cuaca di luar sudah mulai cerah, ombak juga katanya sudah bisa diarungi. Maka jadilah kita berlayar ke Pulau Peucang.

 

Ke Pulau Peucang

Peta Pulau Peucang

Peta Pulau Peucang

Sumber: http://www.ujungkulon.org/tentang-tnuk/letak-dan-luas

Pelayaran kami ke Pulau Peucang dimulai dengan menaiki perahu kecil dari desa nelayan SUMUR ke kapal nelayan yang lebih besar ukurannya. Jaraknya sekitar 200 meter dari pantai. Kami dipindahkan ke kapal yang besar dalam 2 kali antaran dengan perahu. Sebelum berlayar saya sempatkan diri berpose di ruang kemudi kapal, dan masih bisa tersenyum, tidak mengetahui apa yang akan dihadapi di depan nanti :D

Nahkoda KW

Nahkoda KW

Selanjutnya kapal kami pun berlayar menuju Pulau Peucang.

Katanya tadi ombak sudah “mendingan”, ternyata mendingan versi nelayan setempat beda banget dengan pemahaman saya, yang belum pernah berlayar seumur-umur :D Cuaca masih tetap mendung dan berawan, sementara ombak bergelombang, lumayan tinggi buat saya, sekitar 1 – 2 meter lebih. Sehingga kapal kami lumayan terhempas hempas dilautan. Kalo sudah dalam kondisi di lautan lepas yang bergelombang gini saya baru merasa saya ini kecil dan ga ada apa2 nya di dunia ini #Lebay mode!

Headin' to Peucang

Headin’ to Peucang

Di awal perjalanan saya masih bisa ngobrol dan ketawa ketiwi ama teman teman dibagian geladak belakang kapal, ombak yang bergelombang saya anggap kora-kora di Dufan :) Tapi tidak lama teman saya Idha mulai mabok laut, dan akhirnya huekk … huekk… 2 kali. Saya masih tetap santai saja, dan tidak lama mulai tidur lagi di geladak kapal. Tapi saat saya tidur perut saya sakit dan mual. Kepala saya tidak pusing hanya perut saja mual, dan akhirnya … Jackpot!! saya pun muntah juga 2 kali :D

Saya salahnya sebelum pergi tidak makan jatah sarapan saya karena belum lapar, dan hanya makan Snickers saja. Selain itu saya tidak minum obat anti mabok. Jadinya ya gini deh, saya pikir saya kuat dan ga mabok, ternyata usia ga bisa bohong :D

Bangun tidur dan kena jackpot gitu saya putuskan untuk pindah ke dek  bagian depan kapal, dengan harapan hempasan ombak tidak terlalu keras, lagipula pulau peucang sudah mulai terlihat jadi asumsi saya sudah dekat kita dengan tujuan. Ternyata pindah ke dek depan tidak makin baik, debur ombak malah makin terasa. Kapal hempasan nya makin terasa di bagian depan. Saya udah males pindah ke belakang, ya sudah saya pasrah duduk di depan. Sementara bro Mark Christian malah asyik tiduran di dek depan berjemur matahari dan kena hempasan ombak.

Kita sampai di Pulau Peucang sekitar jam 12.30 perjalanan sekitar 3.5 jam. Lama perjalanan dalam keadaan normal sebenarnya hanya 2-2.5 jam tapi cuaca hari ini memang tidak mendukung. Sehingga kapal harus kerja keras melawan ombak. Selama perjalanan selain ombak yang kencang, juga cuaca yang cepat berubah, abis panas terik tiba-tiba hujan deras.

Sesampainya di pulau Peucang kami langsung disuguhi oleh pemandangan pasir putih yang menawan, airnya yang biru jernih nan mempesona. Plus satu lagi yang saya demen banget, ada wisatawan yang sudah tiba sebelumnya yang pria bule dan yang wanita orang Indonesia, si wanita pake bikini berenang di pantai. Nah ini saya demen banget, saya jadi kepikiran asyik juga tuh kalo bikin sessi foto-foto untuk swimsuit :)

Kapal bersandar di dermaga dan kami langsung siap-siap masuk ke kamar sesuai pembagian. Penginapan di Pulau Peucang itu adalah berupa bangunan Bungalow yang tiap bangunan terdiri dari banyak kamar. 1 Kamar sebenarnya untuk 2 orang tapi di trip ini 1 kamar diisi 4 orang :) Mungkin karena waktu tidurnya ga banyak sebenarnya jadi sayang kalo sewa kamar banyak-banyak toh ga ditidurin.

Another boat

Another boat

Di depan kamar penginapan kami ada heli pad juga lho. Saya jadi kepikir pulang ke Jakarta kalo naik Helikopter kena berapa ya? terima bayar pake kartu kredit ga ya? hehehee belagu banget abis muntah mabok laut jd kapok pengen pulangnya terbang :)

Helikopternya horang kayah :))

Helikopternya horang kayah :))

 

Di Pulau Peucang

Tiba di pulau Peucang masuk kamar, kita kumpul sebentar di teras. Penyelenggara usulkan ada perubahan jadwal sedikit. Jadi hari ini karena sampe di Pulau Peucang sudah hampir jam 13.00 maka acaranya ada yang bergeser. Harusnya ke Tanjung layar dan snorkeling di Cibom, dirubah menjadi besok. Sementara sore ini snorkeling di deket Pulau Peucang saja trus pulang istirahat dan makan malam. Saya sebagai peserta yang tidak minat snorkeling dan males capek-capekan ya setuju ajah :)

Kita akhirnya makan siang di kapal. Kita tinggalkan dermaga Pulau Peucang untuk menuju entah ke daerah mana, sebab disana katanya pada mau snorkeling sampe sore.

Sambil di perjalanan menuju area snorkeling kita makan siang. Makan siang kita jadi terlambat karena memang sampainya kami di Pulau Peucang juga terlambat.

Teman-teman IDC Trip Pulau Peucang

Teman-teman IDC Trip Pulau Peucang

Selesai makan, kita pun tiba di lokasi snorkeling. Kalo sudah sampai disini wah pada happy deh semua, nyebur!! Sementara saya tetap tidak berminat untuk nyebur. Lebih enak maenan kamera aja alias jadi tukang potret. Ekspektasi saya memang harapannya dapat view bagus buat motret, yang sayangnya sampe saat ini belum terlalu dapat karena dari tadi cuacanya tidak cerah. Yah tapi kalo buat jepret jepret biasa aja boleh lah … :)

Di lokasi snorkeling tersebut lumayan lama, sekitar 1.5 jam. Temen-temen asyik menjelajahi area tersebut, ada juga yang menembak ikan atau berburu ikan seperti bro Ryan. Kemudian awan kembali terlihat mendung, lagipula waktu sudah semakin sore. Kita kembali ke pulau peucang untuk istirahat. Saya sampai pulau langsung masuk kamar, mandi dan rebahan. Sementara teman2 yang lain masih pada belum puas main di pantai pulau peucang… saya ga mood main di pantai sebab cuacanya mendung ga bagus buat motret, udah gitu saya ga ajak model-model swimsuit yang bisa bikin saya semangat memotret ;) plus saya udah capek juga abis dapet jackpot dua kali tadi :) I guess I am too old for this …

Sekitar jam 19.30 kita pun siap-siap makan malam. Makan malam kita ga dipenginapan, akan tetapi di kapal yang sandar di dermaga Pulau Peucang. Yang masak crew kapal anak buah nya Nahkoda, si bapak Nahkoda pun katanya bisa masak lho. Masakan nya tentu saja kebanyakan produk dari laut.

Selesai makan malam, sekitar jam 20.30 kita pun melanjutkan dengan acara games yang dipandu bung Akri. Saya patut acungin jempol buat bung Akri yang masih tetap semangat untuk bikin acara games dan bagi-bagi door price. Sebagian peserta Trip banyak yang K.O udah masuk kamar masing-masing. Sementara yang masih kuat maka ikutan di games tersebut. Saya juga sebenarnya udah ngantuk, tapi saya bela-belain ikutan games sampe selesai kira-kira jam 21.30 malam. Setelah itu saya masuk kamar dan bablas sampe pagi. Sementara saya dengar teman-teman yang lain ada yang main kartu sampai larut malam.

 

Pagi di Pulau Peucang

Pagi-pagi sekali saya sudah dibangunkan sist Nik. Dia mau lari pagi katanya di pantai. Sementara saya juga mau ambil foto di pantai, maka saya pun cuci muka sebentar trus langsung ke pantai. Lagi-lagi cuaca di pantai tidak mendukung, agak mendung atau memang mataharinya tidak terlalu keluar.

Satu lagi kebodohan saya, tadi malam saya langsung tinggal tidur. Akibatnya baterai di kamera saya sudah drop banget. Saya bodoh banget! Terpaksa saya pulang ke penginapan dan tinggalkan kamera disana, lalu kemudian memotret di pantai lagi tapi dengan kamera hp android alcatel saya. yah hasilnya ga semaksimal kamera SLR Nikon yang saya bawa, tapi lumayan lah daripada ga ada :)

Pagi itu seperti saya duga sebelumnya banyak yang belum bangun. Sehingga acara tracking sesuai rencana ke Karang Copong (atau kemana gitu) yang masuk nya lewat hutan di Pulau Peucang akhirnya dibatalkan. Saya sih seneng-seneng aja :D Secara saya juga males banget jalan-jalan masuk hutan, buat saya lebih enak maen di pantai liat amoy amoy pake baju pantai ;)

Selesai berkelana di pantai kita pun sarapan di kapal lagi. Sarapan sekitar pukul 07.00 saya termasuk yang duluan hadir hahahaha….

Narsis Pagi Hari

Narsis Pagi Hari

Saya pagi itu dapat rejeki, mau naik kapal saya harus melewati kapal lain yang diparkir berjejer. Saat saya mau naik kapal, ada gadis amoy yang mau turun dari kapal, cantik juga sayang saya ga sempat moto dia. Dia takut kapalnya kan goyang goyang terus, eh sambil ancang2 mau turun dia kasih tangannya minta dipegangin saya. Ya udah rejeki lah buat saya :D Mana pak Nahkoda senyam senyum lagi, pas tuh cewe udah turun saya naik kapal, nahkoda ngeledekin “dapet rejeki nih ye” :D “Bagi dong bekas tangannya” kata si Nahkoda, saya kasih aja tangan saya yg bekas megang cewe tadi, SRIMULAT benerrr!! :D

Pose @Peucang

Pose @Peucang

Selesai sarapan kami melanjutkan acara ke Tanjung Layar. Disana rencananya akan melihat penjara peninggalan Belanda, Mercusuar, dan tebing. Saya sendiri tidak berminat tracking karena saya juga udah ngukur kekuatan, saya udah lama ga olah raga lagi. Saya khawatir nanti malah bikin masalah. Jadi mendingan di kapal aja saya terusin tidur saya :) Kesannya mungkin ga seru buat yang baca, tapi buat saya sih seru-seru aja hehehee… yang penting saya udah tau Pulau Peucang, saya juga udah liat Tanjung Layar. Jadi saya isi waktu saya di kapal sambil tidur atau ngobrol dengan Nahkoda dan peserta lain yang ga ikut juga.

Stranded

Stranded

Selain itu kamera saya kan di charge di penginapan, sehingga saya ga bawa kamera SLR saya, jadi percuma juga tracking kalo ga bawa kamera. Mending istirahat ajalah. Cuaca juga masih berubah-ubah, berangkat mendung, sampe tanjung layar terang, pas mau snorkeling masih terang terus mendadak mendung dan hujan.

Fotografer juga perlu narsis

Fotografer juga perlu narsis

Sekitar jam 11.00 kami menuju lokasi snorkeling di deket pulau Peucang entah namanya apa. Saya pegang kamera sist Ina yang ternyata sama persis dengan kamera yang saya bawa merek Nikon juga. Semua menikmati Snorkeling disana sementara saya asyik memotret mereka yang Snorkeling. Lumayan juga acara snorkeling sampai jam 12.30 sayangnya foto selama kegiatan ini masih di kamera sist Ina saya belum peroleh sampe artikel ini dibuat. Kami kembali ke Pulau Peucang untuk check out.

Foto di atas perahu

Foto di atas perahu

Kita makan siang sambil menuju Pulau Peucang, plus kondisi juga hujan. Oh ya karena saya sendiri yang tidak basah, temen2 minta saya diceburin ke laut, saya tapi nawar untuk milih nyebur sendiri ajah di Dermaga Pulau Peucang ga usah diceburin deh. Lumayan memalukan juga udah lama ga kelelep, akhirnya di dermaga Pulau Peucang saya merasakan sedikit tenggelam sebelum ditolong bro Edward yang baik hati, tidak seperti yang lain tertawa di atas penderitaan saya :D

Tapi so far acaranya seru dan saya enjoy ikutan trip ini, apalagi saya boleh milih mau ikutan acara yang mana aja yang kira-kira saya bisa ikutin tanpa harus dipaksa :)

 

Pulang

Waktunya pulang tiba, sebenarnya masih betah di Peucang, apalagi saya belum maksimal dapat foto disini. Pasir putihnya dan airnya yang jernih biru bikin saya membayangkan bikin sessi foto swimsuit bawa cewe cewe model untuk foto disini. Menurut saya akomodasi di Pulau Peucang udah okay sih, penginapannya lumayan bagus. Masalahnya hanya di tempat transit di Sumur yang menurut saya belum nyaman. Coba ada tempat seperti penginapan atau dermaga yang mirip airport gitu wah pasti akan asyik. Saya pikir banyak keluarga yang minat pergi ke Pulau Peucang bawa anak-anaknya tanpa repot. Kalo kondisi dermaga Sumur  masih seperti sekarang susah juga, kurang nyaman. Katanya sih mau dibuat dermaga yang bagus di Sumur, semoga saja hal itu jadi kenyataan.

Fotografer pengen difotoin

Fotografer pengen difotoin

Sebelum pulang saya tidak lupa minum obat anti mabok, belajar dari pengalaman waktu berangkat. Pulangnya ga ada masalah yang berarti, selain ombaknya yang tidak besar saya juga tidur sampe Sumur :) Setibanya di sumur sekitar pukul 05.00 kita kembali transit di rumah pak Nahkoda. Sambil menunggu bus yang mengantar ke Jakarta para peserta mandi. Sementara saya nonton TV. Jam 18.00 saya sudah siap di bus dan jam 19.00 baru bus nya jalan ke Jakarta. Perjalanan pulang cukup lancar, saya sendiri  sempat tidur. Jam 24.00 kita sampai tol tangerang dan sekitar jam 01.00 pagi kita sampai di Kebun jeruk. Saya sendiri di drop depan Gedung DPR/MPR dan jalan kaki kekosan. Sampai di kosan sekitar Jam 02.0. Badan rasanya pegel banget tapi happy banget karena selain ketemu banyak teman baru juga udah ngerasain ke pulau Peucang di Ujung kulon.

Awesome experience…!!

Foto Bersama

Foto Bersama

 

General Review

Biaya:
Rp. 850.000,- per pax belum termasuk sewa alat snorkeling jika ingin snorkeling. Menurut saya harga segini cukup pantas lah. Untuk penginapan dan makan yang kita peroleh, saya pikir harga ini sudah cukup bagus. Ada sih yang offer harga lebih murah lagi tapi saya pikir bedanya tidak terlalu signifikan. Jangan-jangan fasilitasnya kurang.
Bahkan saya browsing ada paket yang lebih mahal lagi, tapi transit dari Sumurnya tetap sama, kalo buat saya untuk apa kalo sama. Persoalan utama dimata saya adalah kondisi di Sumur.

Fasilitas:
Fasilitas yang didapat peserta juga lumayan okay. Penginapan nya sudah standar yang terbaik di Pulau Peucang. Kapalnya juga lumayan bagus karena memang standar kapalnya seperti itu disana. Kalo kapal yang cepat jatuhnya lebih mahal. Makanannya juga enak-enak, cuma kalo yang ga suka seafood agak masalah juga. Minimal makan lalapan aja. Oh ya sambel nya katanya juga enak, saya sih ga doyan sambel, jadi cuma bisa bilang cerita dari temen yang makan.
Fasilitas yang jadi masalah hanya fasilitas transit di Sumur yang menggunakan fasilitas rumah penduduk. Saya pikir kalo dibuatkan fasilitas penginapan yang nyaman untuk antisipasi wisatawan yang gagal berangkat atau istirahat sejenak dan juga dermaga yang bagus maka hal ini akan baik sekali. Kalo melihat kondisi yg sekarang saya sih bisa nyemplung ke pantai naik ke perahu di Sumur, tapi kalo ibu saya yang kesana kayaknya jangan harap deh :D liat pantainya yang kotor bisa jadi ibu saya minta pulang lagi ke Jakarta :)

Acara:
Acara secara keseluruhan sudah bagus dan seru. Asyik semua yang ikut, panitia perlu diacungi jempol untuk usahanya membangun acara agar hidup. Masalahnya peserta nya beda-beda usia dan latar belakang jadi antusiasme dan keinginannya juga beda :)
Hanya saja sedikit yang kurang adalah masalah kepatuhan pada jadwal. Jika pada saat berangkat ke Pulau Peucang terlambat karena faktor cuaca itu bisa ditolerir. Tapi ketika pulang ke Jakarta sewaktu di Sumur kita molor dari jadwal yang ada. jika kita mau ikutin jadwal yang sudah diatur sebelumnya sebagai berikut:

13.00 – 15.30  Kembali Ke Sumur
15.30 – 22.30  Perjalanan Ke Jakarta
22.30             Tiba di Jakarta

Sebenarnya bisa saja. Sayangnya panitia terlalu lama kasih toleransi sejak di Pulau Peucang. Sehingga sampai di Sumur pun terlambat. Parahnya lagi di Sumur jam 18.00 sebenarnya sudah bisa jalan pulang ke Jakarta. Tapi ternyata kami baru jalan jam 19.00 Jauh kan dari jadwal yang jam 15.30 harusnya sudah jalan dari Sumur. Mungkin karena nunggu teman2 yang mandi di Sumur dimana kamar mandi nya cuma satu. Cuma kalo saya sih udah ga mandi lagi sekalian saja pas sampe Jakarta baru mandi. Akibatnya bukan jam 22.30 sampe Jakarta tapi saya sampe Kosan jam 01.30 dini hari. Mungkin teman yang lain tidak ada masalah paginya tidak perlu ngantor, tapi saya senin paginya tetap ngantor hehehehe Sampe kosan langsung mandi trus tidur :)

Tips:

  • Buat yang ekspektasinya motret dan menikmati pantai yang indah, sebaiknya pilih waktu yang tepat agar cuaca mendukung.
  • Yang fisiknya ga sporty alias jarang olah raga seperti saya jangan banyak ikut aktivitas outdoor daripada nanti nyusahin :D
  • Buat orang yang mencari pantai tapi ga biasa berlayar ngarungi laut, ga usah milih lokasi yang mesti nyebrang ke pulau. Pilih aja yang seperti Sawarna, atau pantai Uluwatu atau pantai Kuta sekalian. Pokoknya ga usah cari yang kudu berlayar.
  • Buat yang makannya dan kalo jalan milih-milih dan kudu bersih seperti ibu saya, maka saran saya jangan pilih trip model begini. Pilih lah trip yang nyaman seperti misalnya ke Bali sekalian dan sejenisnya saja :) karena trip ini cocok untuk para taveler/petualang, bukan untuk tipe wisatawan rumahan kayak ibu saya :) kalo saya sih bisa masuk kemana saja, cuma preferensi saya juga yg “enak-enak” sih hehehehe.

Skor:
Saya kasih nilai 8/10 secara keseluruhan asyik dan bagus. Cuma masalah infrastruktur di Sumur yang diluar kemampuan panitia, itu PR buat pemerintah daerah untuk kembangkan wilayah itu.

 

Terakhir credit goes to sist Nik Sukacita (www.niksukacita.com)  yang sudah mengijinkan saya untuk ikut dalam trip ini. Terimakasih banyak dan sampai jumpa lagi di trip lainnya :D

 

BAS

photo taken from http://www.smube.com/2013/12/10/boyce-avenue-one-life/

Nonton Konser Boyce Avenue di Singapore – Part 2

Setelah membaca bagaimana persiapan saya dan keberangkatan saya dari Indonesia untuk nonton konser Boyce Avenue di Singapore, maka saya akan lanjutkan untuk bagian review konser nya dan cerita lanjutannya …

 

REVIEW KONSERNYA

Selesai makan di McD saya kembali ke antrian di depan Hard Rock Resto dan hotel. Antrian tidak terlalu panjang jika dibandingkan dengan konser di Jakarta. Selain itu antrian hanya 2 jalur seingat saya, sementara kalo konser di Jakarta bisa ber jalur-jalur udah gitu ga teratur ga karuan. Saya duduk di barisan antrian lumayan juga sambil cuci mata liat amoy-amoy Singapore favorit saya ;)

Antri duduk lesehan

Antri duduk lesehan

 

Untuk Artikel Nonton Konser Boyce Avenue di Singapore Part 1 silahkan klik disini

Sekitar jam 18.30 antrian mulai bergerak untuk maju, karena tiket sudah mulai diperiksa dan kita pun sudah bisa memasuki venue. Di gate masuk venue isi tas saya diperiksa dan satu botol Pocari Sweat saya jadi korban :( terpaksa harus dibuang ke tong sampah ga boleh dibawa masuk.

Di dalam Venue ternyata tempatnya relatif kecil sekali. Mungkin besar venue nya sekitar 50 x 50 m, bahkan mungkin kurang. Penonton juga belum banyak saat saya masuk.

Pas jam 19.00 penonton sudah berangsur-angsur berdatangan, tapi tetep ga penuh-penuh amat. Saya lihat kondisi konser ini jadi inget Pensi (Pentas Seni) di Indonesia. Ama kemeriahan Pensi aja kayaknya konser Boyce Avenue ini kalah deh :( Yah abis Singapore penduduknya dikit kali, jadi untuk ukuran konser ini juga udah rame banget.

Oh ya saking lega dan lengang nya, di dalam venue ada stand yang jual makanan dan minuman, pantes aja saya ga boleh bawa dari luar :) Kayaknya saya baru kali ini liat ada stand jual makanan di dalam arena konsernya. Kalo stand makanan di luar arena konser saya sering liat.

Food & Drink inside the concert venue

Food & Beverages inside the concert venue

Lama-lama sambil nunggu konser dimulai penonton mulai berdatangan, venue akhirnya jadi lumayan penuh. Saya lihat sekeliling saya muda mudi berpasangan (cuma saya aja kayaknya yg paling tuir dan sendirian alias jones :D ). Ah tapi gapapa lah cuek aja, di Singapore negeri orang ga ada yang urusin mau lo tua kek, jones kek, semua have fun aja di crowd.

Gelang Konser

Gelang Konser

Cuma ini konser kok ga mulai-mulai ya? Kita disuguhi musik jedag jedug ala club dari sound system nya yang bagus, tapi kok ga ada tanda-tanda konser bakal dimulai. Apa mereka ga jadi konser karena penonton nya ga kuorum (emang rapat :D ) atau mereka masih nunggu penonton lain sampe venue nya penuh baru jalan (emangnya angkot :D ). Wah bete juga nih nunggu lama gini, konser ga dimulai-mulai, mana berdiri terus, yang bete karena yang sebelah-sebelah ama pasangannya atau minimal ama temen-temen. Wah saya chattingan aja lewat whats app ama sist Any. Sist Any kebetulan sekeluarga sakit jadi emang kebetulan juga saya ga nginep di apartemennya. Tapi sist Any walaupun sakit sangat baik ama saya, dia selalu memantau saya selama di SG, dia jadi mirip ibu buat saya , sementara ibu asli saya malah ga tau kalo saya ke Singapore hahahaha :D

Akhirnya sekitar pukul 21.00 waktu SG konser dibuka oleh Boyce Avenue, dengan lagunya “Speed Limit“. Sumpah saya ga tau lagu ini lagu apa :D Apakah lagu asli mereka atau lagu cover version dari lagi orang lain. Pokoknya selama lagu ini saya ikutan nyanyi-nyanyi ama goyang aja, sambil ga lupa ambil gambar. Selanjutnya dilanjutkan lagu “Teenage Dream” yang saya juga ga tau tapi semua lagu sepertinya saya kok familiar entah pernah denger dimana :D (maklum udah tuir)

Berikut adalah list lagu yang dibawakan mereka saat konser di Singap0re:

Boyce Avenue Concert List

Boyce Avenue Concert List

Sayangnya lagu-lagu cover yang Boyce Avenue biasanya nyanyikan kok ga ada yang dinyanyikan? Saya cuma kenal “Story of my Life” aja yg aslinya dari One Direction. Wah ternyata begitu saya pelajari sekembalinya ke Indonesia, ini adalah kunjungan kedua dari Boyce Avenue ke Singapore. Di kunjungan pertama mereka di tahun 2013 kalo ga salah, mereka udah nyanyikan semua itu lagu seperti Mirror kesukaan saya … huaaaaa :( Tapi gapapalah saya tetap happy kok :) (Ga jadi nangis deh)

Secara umum menurut saya penampilan mereka lumayan. Permainan musik mereka ga usah saya komentarin lah, selain suaranya bagus permainan musik mereka juga bagus menurut saya. Cuma untuk interaksi dengan penonton mereka masih seadanya belum punya pengalaman. Beda misalnya dengan dua konser yang saya tonton NKOTBSB di Ancol dan METALLICA di GBK. Dua grup musik beda aliran yang saya sebut ini udah pengalaman banget mengelola dan menghibur massa.

Boyce Avenue sebenarnya ga buruk-buruk amat dalam menjalin komunikasi dengan penonton, dia coba libatkan penonton untuk ikut nyanyi dan bertepuk tangan, mereka bagi penonton menjadi 2 bagian di kiri dan kanan untuk nyanyi atau tepuk tangan. Mereka juga menyapa penonton Singapore dengan basa basi ala mereka. Tapi emang beda rasanya dengan basa-basi nya NKOTB yang bisa bikin cewe-cewe penontonnya jejeritan histeris atau basa basi nya Metallica yang bikin satu GBK ikutan nyanyi dan bergemuruh metal dengan kompaknya, bikin bulu kuduk merinding :D Mungkin ini juga bukan salah Boyce Avenue, mungkin ini terjadi karena penontonnya Singapore emang cool, calm dan “santun” hahayy :D

Berikut ini adalah video penampilan mereka yang saya rekam pake Alcatel IdolX, mohon maaf kualitasnya ga oke, sbb saya juga baru pertama kali nyobain video nya, selama ini saya ga pernah bikin video di android saya ini ;) (Ga mau ngaku kalo udah dipake bikin video2 yg gimana gituh) :D

Video :

Konser hanya berlangsung selama 1.5 Jam, dimulai jam 9 malam dan berakhir jam 10.30. Saya kok merasa terlalu cepat yah? saya masih belum puas dengan konser mereka kok udah selesai aja :) Sempet sih ada jeda saat mereka menghilang di balik panggung, trus penonton teriak teriak “we want more… we want more… we want more…” dan mereka pun kembali untuk bawakan 3 lagu tambahan. (Sebuah drama konser yang sudah saya liat sejak tahun 90-an hahahaha)

Terlepas dari lagu tambahan itu saya merasa konser ini masih terlalu singkat, cuma 1,5 jam. Ga sebanding ama antri dan nunggu nya :) Ah sutralah, yang penting happy… Saya happy, penonton yang lain juga kayaknya happy :)

 

PULANG

Selesai konser saya bergegas untuk pulang, saya tidak tau apakah MRT masih ada sampe jam 11.00 malam seperti ini. Saya juga ga tau dimana kalo mau cari taxi dari lokasi saya. Ya udah saya ikutin aja orang-orang yang mengarah ke SkyTrain tujuan VIVO Mall. Ternyata antrian sudah panjang disana, tapi tetap tertib. Ga ada yang nyolong antrian, padahal kebanyakan remaja yang kalo di Indonesia susah diatur. Penjaga nya yang ngatur juga cuma sedikit karena sudah malam, tapi tetap saja mereka antri dengan tertib.

Saya akhirnya dapat giliran naik SkyTrain, ga lama kok nunggunya dan ga penuh sesak kayak di KRL Jabotabek atau busway. Penumpang yang ga keangkut sabar nunggu untuk SkyTrain berikutnya. Saya pun nyaman ke VIVO Mall. Sampai di VIVO Mall hampir semua toko sudah tutup, tapi kita bisa pake eskalator untuk turun ke MRT stationnya. Di MRT Station kereta nya sudah siap dan kosong juga. Saya bisa duduk nyaman sampe stasiun Farrer Park, stasiun dekat lokasi hostel saya. Aduh indah lah pokoknya malam ini saya pulang ke hostel dengan selamat, aman dan nyaman.

Sebelum ke hostel, saya mampir di pojokan jalan Serangon Road beli minuman buat bekal di hostel. Sampe hostel saya mandi, mayan ada air hangat nya juga batin saya. Trus ada wifi nya juga. Di lorong ujung deket toilet ada Personal Computer (PC) untuk akses internet. Ada dua cewe bule yang akses internet di situ. Badan mereka bongsor-bongsor dan lumayan cantik. Selesai mandi saya permisi lewat punggung nya mereka. Sebab jalanan lorong itu sempit trus kemakan PC dan badan bule yang gede kebayang dong. Saya aja lewat sampe ngecilin badan kayak kucing. Dia bilang “Sorry…” saya bilang “No problem…” basa basi busuk. Dalam hati “cakep juga lo le” :) Dikamar saya hanya sendiri dengan 8 tempat tidur, sambil ngayal kalo aja dua cewe bule diluar tadi mau masuk ke kamar ini, wah cakep yah…. dan saya pun terlelap dalam mimpi :)

Pagi saya setel weker di android untuk bangunin saya jam 5 waktu SG atau jam 6 waktu Indonesia Barat. Saya bangun langsung cuci muka trus meluncur ke Mustafa Center. Yup kalo ke Singapore ga mampir ke Mustafa trus ga beli Coklat buat ibu saya wah saya bisa durhaka :) Maka saya pun meluncur ke Musatafa, untuk yang belum tau Mustafa adalah toko supermaket serba ada yang buka 24 Jam, jadi sebenarnya saya bisa belanja kapan pun ga usah nunggu pagi hari jam 5 pagi kayak gini. Tapi saya sengaja pengen tidur dulu biar ga capek banget.

Untuk peta lokasi dan sedikit cerita tentang Mustafa Center bisa buka di sini

Belanja di Mustafa ini walo sudah tau apa yang dituju atau mau dibeli tetep aja ga bisa nutup mata liat yang lain. Sebab disana apa aja ada. Sayangnya saya ga nemu tali buat tas saya yang talinya putus di bandara changi pas datang ke SG kemaren. Ya udah lah saya beli coklat untuk oleh-oleh keluarga dan teman teman kantor. Lumayan juga pengalaman saya belanja subuh di Singapore :)

Tidak terasa udah jam 7 aja di SG. Waktu di negara ini menurut saya selain beda 1 jam lebih cepat juga bergerak lebih cepat kayaknya daripada di Jakarta hahahaha :D Saya pun bergegas siap-siap untuk rapihkan semua bawaan di hostel. Sekitar pukul 08.00 saya sudah siap check out. Tidak lupa saya kembalikan kartu akses ke front office, dan mereka kembalikan uang deposit saya 10 SGD. Mbak yang dari Indonesia tawarkan saya sarapan pagi, saya bilang terimakasih, saya mau buru-buru aja ke bandara. Sambil saya say good bye dan kapan-kapan kita ketemu lagi.

Nah waktu dari hotel mau ke Airport Changi, saya coba aplikasi Grab Taxi. Saya pengen tau kalo di Singapore apakah saya bisa gunakan. Ternyata aplikasinya jalan, hostel saya juga langsung ke detect dengan mudahnya. Taxinya juga langsung dapet ga pake lama. Wah saya happy banget, Grab Taxi emang memudahkan saya nih. Saya dapat Supir Mr. Chua Kwang Seng Edmund, he is really nice guy! Selama perjalanan dia ga pelit untuk ngobrol ama saya dan juga ramah. Dia bilang kalo saya pergi siangan dikit lagi maka mungkin saya akan kesulitan, karena hari ini (19 Feb) banyak yang udah ga masuk, saya aja cuma sampe jam 12.00. Dalam hati saya Alhamdulillah / Puji Tuhan saya rencanakan pulang pagi ini ternyata tepat. Oh ya di SG setiap taxi yang tergabung di Grab Taxi dikasih stiker hijau di kaca depannya, stiker berupa logo dan tulisan hijau Grab Taxi.

Taxi nya Mr. Chua ini ada kamera nya jadi selama perjalanan apa yang ada di jalan terekam di mobilnya. Tentu hanya sampai berapa jam saja, karena memori terbatas jadi akan tertimpa dengan data baru. Tapi saya pikir bagus juga kalo diterapin di Indonesia, lumayan buat bukti rekaman kalo ada kejadian tertentu. Orang Indonesia kan senengnya kalo udah salah masih ngotot tuh ampe uratnya keluar :D

Sampailah saya di Changi dan kemudian saya pulang ke Jakarta. Nothing special in Changi, seperti biasalah bagus semua :)

Cuma nanti sampai Jakarta saya ga langsung pulang karena saya pindah ke terminal 1 F untuk ke Lampung, saya mau merayakan Imlek dengan teman-teman saya di Lampung.

Sampai jumpa di cerita-cerita saya yang lainnya :) bye…..

 

 

sore di tepi pantai

Imlek di Lampung (Februari 2015)

Februari 2015 saya sangat beruntung sekali dapat merayakan Chinese New Year atau Imlek bersama keluarga besar sahabat saya di Lampung. Selain merayakan Imlek bersama keluarga besar sahabat saya tersebut, saya juga berkesempatan ke Pantai Sari Ringgung dan Pulau Pasir Timbul.

Keluarga Besar my best friend Felix

Keluarga Besar my best friend Felix

 

Ini foto-foto di pantai Sari Ringgung dan Pulau Pasir Timbul:

 

 

 

Boyce Avenue

Nonton Konser Boyce Avenue di Singapore – Part 1

Saya tuh dari dulu pengen banget nonton konser di Singapore. Selain negaranya tertib dan rapih saya yakin kalo nonton konser di Singapore pasti aman dan nyaman. Saya juga pengen nonton konser yang ga rame alias penuh sesak (crowded) banget. Saya pengen konser yang bisa dinikmati. Beda ama pengalaman nonton konser di Indonesia yang susah dinikmati, karena selain penuh/rame banget juga kadang suka ga nyaman.

Pucuk dicinta ulam tiba ketika saya mendapat kan informasi bahwa Boyce Avenue sebuah grup musik asal Amerika Serikat kabarnya akan konser di Singapore. Tepatnya mereka akan konser di Coliseum Hard Rock Hotel Resort World Sentosa tanggal 17 Februari 2015.

Boyce Avenue Concert Flyer

Boyce Avenue Concert Flyer

Saya suka lagu-lagunya Boyce Avenue dan tau mereka ketika browsing di Youtube. Jujur aja sebenarnya saya ga tau banyak juga tentang grup ini. Sampai pada suatu hari saya menemukan video mereka yang menyanyikan lagu Mirror nya Justin Timberlake, dan saya langsung kepincut alias jatuh hati dan lebih suka lagu Mirror versi dari Boyce Avenue ini.

Sejak perkenalan saya dengan Boyce Avenue di Youtube lewat lagu Mirror itu maka saya mulai suka lagu-lagu mereka yang lain. Saya baru tau kalo mereka emang spesialisasi cover lagu orang lain. Tapi mereka juga punya sih lagu-lagu koleksi mereka sendiri, yang sayangnya saya kurang familiar :)

Saya belum tau banyak tentang grup Boyce Avenue ini, yang saya tau mereka adalah Grup asal Sarasota, Florida, Amerika Serikat yang dibentuk pada tahun 2004 oleh 3 bersaudara yang terdiri dari Alejandro Luis Manzano (Vocals, Guitar, Piano), Fabian Rafael Manzano (Guitar, Backing Vocals) dan Daniel Enrique Manzano (Bass, Percussion, Backing Vocals). Nama grup band ini berasal dari nama 2 jalan tempat tinggal mereka sewaktu kecil. Mereka mulai mengunggah video mereka pada tahun 2006.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang Boyce Avenue silahkan cek disini

 

PERSIAPAN

1) Tiket konser

Setelah mengetahui dari flyer yang saya temukan di twitter sekitar bulan Januari tentang rencana konser Boyce Avenue di Singapore maka saya coba cari tau bagaimana memesan tiketnya. Ternyata dari penelusuran saya ketahui promotor konser ini di Singapore adalah Live Empire sementara yang mengatur penjualan tiket adalah SISTIC. Pemesanan ticket sebenarnya mudah sekali karena mereka juga jual secara on-line. Tinggal buka website http://www.sistic.com.sg trus bikin akun saja di web itu. Tapi saya kok ga sreg yah :) saya kepikiran kalo beli on-line dapet fisik tiketnya gimana nanti? apa akan dikirim oleh SISTIC tiket fisiknya, apa saya dapet voucher sementara yang nanti harus tukerin jelang konser atau gimana? Saya khawatir udah sampai di SG malah ga bisa nonton karena tiketnya ada masalah.

Setelah saya buka di webnya ternyata ada agen dari Sistic di Jakarta yaitu Smailing Tour di Senayan City Jl. Asia Afrika, Lot 19, Unit L-12C, Jakarta 10270. Wah kalo begini sih mendingan saya beli di Smailing Tour aja untuk lebih aman dan yakinnya. Maka pada tanggal 29 Januari 2015 saat jam makan siang saya ke Smailling Tour di Senci untuk beli tiket konser Boyce Avenue ini. Harga tiketnya adalah SGD 92.00 tapi ada tambahan biaya SGD 5.00 sehingga total menjadi SGD 97.00. Ah gapapalah dalam hati saya, sedikit lebih mahal tapi lebih yakin. Ternyata cara booking Smailing Tour ke Singapore sama persis seperti saya juga, bikin akun juga via internet. Tapi bedanya ketika sudah berhasil transaksinya mereka bisa cetak langsung dalam bentuk tiket yang keren seperti ini:

Tiket Konser

Tiket Konser

 

2) Pesawat

Setelah dapat tiket konser maka berikutnya adalah memesan tiket pesawat. Untuk masalah yang satu ini relatif mudah, selain jarak waktunya masih cukup lama juga karena penerbangan saya sudah biasa pake tiket murah dari Air Asia. Walaupun Air Asia bagi sebagian orang masih trauma karena penerbangan AA dari Surabaya ke Singapore ada yang jatuh (kecelakaan), tapi buat saya sih nggak masalah. Saya tetap berani naik Air Asia, selain murah saya masih percaya dengan keamanan penerbangan Air Asia.

Sorenya saya beli tiket AA secara online via internet. Saya lupa kalo tanggal 19 Februari 2015 itu Imlek, harga tiket pesawat untuk keberangkatan tanggal 17 Februari itu lumayan udah mahal, justru kembalinya tanggal 18 Februari lebih murah. Untuk perjalanan PP ke Singapore dengan AA ini total saya bayar Rp. 1.378.000,00

Oh ya saya memang rencanakan ke Singapore hanya 1 hari saja, datang di Singapore siang tanggal 17 Feb dan pulang tanggal 18 Feb pagi. Kenapa? sebab tanggal 19 Februari nya saya mau ke Lampung. Saya mau liburan merayakan Imlek di kediaman keluarga teman saya di Lampung.

Masalah tiket pesawat beres! :)

 

3) Hotel

Berikutnya masalah penginapan yang pada awalnya saya ga pikirkan. Kenapa? karena awalnya saya pikir saya sampe SG siang trus konsernya malam jam 7 an selesai sekitar jam 10 atau 11 an malam. Jadi saya pikir buat apa pesen kamar hotel, saya bisa tidur di bandara aja, sambil nunggu penerbangan di pagi hari. Selain saya pengen hemat saya pikir juga sayang kalo nginep di hotel apalagi yang mahal. Tapi setelah dipikir-pikir risiko juga, apa iya saya bisa tiduran di emperan Changi :D jangan-jangan saya nanti “digaruk” satpol PP nya Singapore :D Ah daripada risiko mending cari kamar hotel ah …

Sebenarnya sahabat saya sist Any sudah tawarkan nginep di Apartemen nya. Tapi saya ga mau ngerepotin keluarga sist Any, makanya saya pikir mending cari hotel ajalah. Cuma kan hotel di Singapore mahal-mahal, apalagi mau libur Imlek. Saya cuma butuh buat tidur dari sekitar  jam 11 malam trus bangun jam 6 pagi. Artinya singkat sekali kan. Sayang aja kalo hotel yg mahal dan mewah sementara saya ga bakal lama ngerasain tidur di kamarnya. Apalagi saya jalan cuma sendirian ga ajak siapa-siapa lagi, jadi ngegelandang aja ga masalah.

Akhirnya setelah browsing-browsing dapat ide untuk cari hostel atau hotelnya backpacker, kan bisa murah tuh. Dapat info dari bro Felix coba aja browse dan booking hotel dari www.booking.com disitu bisa dapat kamar hotel dengan harga miring. Bener aja, saya kunjungi booking.com dan saya tertarik dengan hostel Fernloft (City) Hostel yang berlokasi di 257 Jalan Besar Singapore. Alasan saya milih hostel ini selain murah, karena hostel ini berlokasi dekat dengan Stasiun MRT Farrer Park dan Supermarket yang tersohor Mustafa Center. Saya punya rencana sebelum pulang, pagi-pagi mau beli oleh-oleh coklat dulu buat ibu di Mustafa jadi lokasi ini sangat pas buat saya.

Akhirnya untuk pertama kalinya saya booking hotel lewat booking.com. Enaknya di booking.com ini kita bisa booking hotel tanpa harus bayar dulu alias kita bayar nanti aja kalo sudah check-in di hotel pada tanggal 17 Feb 2015 nya. Saya dapat harga dari booking.com ini sebesar SGD 24.00. Apakah benar harganya demikian ketika saya mau check in? Tunggu saja ceritanya dibawah… tetap dibaca terus ya.

 

Akhirnya semuanya sudah beres dipesan. Tiket Konser, okay!, Tiket Pesawat, okay! dan Booking kamar hotel, okay!. Siap siap deh untuk nonton konser Boyce Avenue di Singapore …

 

HARI-H PUN TIBA

Hari-H tiba, saya sudah ga sabar. Tanggal 17 Februari saya udah ngajuin cuti, juga untuk tanggal 18 dan 20 Februari, sedangkan tanggal 19 Februari nya libur nasional Imlek. Pagi-pagi saya udah bangun, cuaca Pejompongan hujan pagi itu. Saya jadi kepikiran bagaimana akses jalan ke Bandara Soetta? Saya juga belum pesen Taxi lagi. Saya coba pesen Taxi lewat aplikasi GrabTaxi (www.grabtaxi.com) Sayangnya pagi itu taxi sibuk sekali sehingga tidak bisa dilayani oleh Grab Taxi. Saya coba telp Bluebird, saking sibuknya malah di gantung alias telpon saya ga bisa masuk (nasib! Masalah nelpon Taxi aja juga digantung… Curcol!!). Saya coba hubungi Express Taxi nasibnya sedikit lebih baik bisa masuk ke operator tapi katanya mereka sibuk sekali sampai sejam kedepan mereka belum bisa layani panggilan pelanggan. Wah saya mulai panik nih, gimana donk kalo saya ga dapet taxi, salah saya juga sih tidak dari semalam pesen via telp ke Blue Bird biar paginya dia udah siap depan kosan langsung capcus anter ke Bandara.

Saya coba lagi iseng-iseng mesen lewat grabtaxi, kali ini saya terkejut ternyata saya mendapatkan supir yang ambil pesenan saya…yeeaaaayyy!! akhirnya dapat Taxi juga, jadi deh berangkat nih.
Eitt tapi entar dulu, saya hampir ga jadi berangkat lagi, sebab ketika saya nunggu Taxi mau pergi ke Bandara saya pake bikin acara yg ga penting banget yaitu nyuci gelas dulu. Gelasnya gelas Coca Cola hadiah McD itu lho, itu gelas meleset dari tangan kena wastafel akhirnya retak. Udah retak saya tetap cuci juga. Akibatnya retakan itu pecah dan pecahannya mengiris bagian atas jempol kanan saya :( Jadilah tangan saya berdarah. Aduhhh …. ada aja nih. Saya akhirnya ambil Betadine untuk obati luka saya, yah lumayan perih lah. Saya cuma punya hansaplast satu lembar saja. Saya liat lukanya lumayan tapi gak dalam, jadi ga perlu di jahit lah.

Taxi Express yang saya pesan via aplikasi GrabTaxi akhirnya datang, luka saya masih belum terlalu berhenti. Betadine saya bawa juga akhirnya ke Singapore :) Sebelum jalan ke Bandara saya minta pak Supir mampir ke Indomaret deket kosan. Saya beli Hansaplast lagi buat ganti hansaplast lama yang mulai basah kena darah yang belum kering.  Sepanjang perjalanan ke Bandara saya urusin jempol saya yang berdarah ini, ada ada aja deh … ;) tapi lumayan juga sampe bandara darahnya mulai berhenti. Jadi emang ga parah lukanya, kalo ga kan bisa batal saya ke Singapore gara-gara gelas hadiah McD yang tipis itu :)

Sampai di Bandara keberangkatan saya masih lama, saya masih aman bisa santai-santai di bandara. Sambil nunggu boarding maka penyakit narsis nya pun kumat ;)

Take off dari Jakarta sekitar jam 11.30 sampai di Changi Singapore jam 14.00. Alhamdulillah perjalanan lancar dan selamat sampai tujuan. Begitu mendarat maka pikiran saya yang pertama adalah menuju Fernloft (City) Hostel  untuk check in.

Tidak terasa saya keluar dari Changi makan waktu hampir 1 jam lebih. Emang katro juga sih saya, udah beberapa kali ke Changi pake acara lupa lagi bagaimana ke stasiun MRT nya. Saking buru-burunya saya juga langsung cari stasiun untuk ke MRT sementara saya belum ke Imigrasi hahahaha.

Akhirnya saya balik lagi ke terminal kedatangan saya untuk ke Imigrasi, sebab saya ga yakin juga kalo saya masuk immigrasi di terminal lain apakah akan diterima/dilayani. Daripada saya gambling ya udah deh balik lagi aja. Udah gitu tas yang saya bawa model tas olah raga yang pake tali di pundak dan tali pengaitnya itu mendadak pake patah pas mendarat di Changi, akibatnya tas itu harus saya jinjing. Wah capek juga, agak ribet jadinya.

Naik MRT seperti biasa saya cari tujuan ke pusat kota, turun di Dhobby Gaut saya pindah yg lewatin stasiun Farrer Park. Dari sini sih udah aman, tapi ternyata saya liat waktu sudah menunjukkan jam 16.45 waktu SG. Waduh dikit lagi udah jam 17.00 nih. Saya pun makin bergegas menuju ke hostel biar bisa check in.

Sekitar jam 17.00 lewat saya sampai di hotel yg saya tuju, hotelnya terletak di Jalan Besar (nama jalannya Jalan Besar) disekitar dekat nya Mustafa Center.

Fernloft (City) Hostel. Foto Taken from www.fernloft.com

Fernloft (City) Hostel. Foto Taken from www.fernloft.com

Seperti saya sudah sampaikan sebelumnya saya sangat familiar dengan Jalan ini. Disekitar jalan ini juga terdapat stadion sepak bola miliknya Singapore yang berumput sintetis. Saya pernah berkunjung ke stadion tersebut dan ke FAS (PSSI nya Singapore).

Pose di depan kantor FAS di Jalan Besar Stadium

Pose di depan kantor FAS di Jalan Besar Stadium

Lobby hostel itu ternyata gabung jadi satu dengan coffee shop. Jadi kalo kita mau check in harus masuk coffee shop itu. Setibanya di hotel saya disambut oleh 3 orang wanita yang semuanya ramah. Yang pertama adalah ibu-ibu Singapore yang sudah tua, beliau sangat ramah menyambut saya, saya sampe heran biasanya kan orang Singapore itu dingin dan ga ramah. Wanita yang ke dua masih cukup muda, dari dialeknya saya duga ia orang Singapore atau mungkin bahkan Filipina. Wanita yang ketiga saya diperkenalkan oleh ibu-ibu yang  pertama, dia katanya berasal dari Indonesia. Karena saya ketika check in diketahui dari Indonesia maka si ibu tadi kenalkan wanita ke 3 itu ke saya. Saya akhirnya panggil dia mbak. Dia memang sepertinya bekerja di hostel ini.

Saya selesaikan proses check in dengan wanita ke 2. Saya lupa kenalan dia namanya siapa. Orangnya ramah dan lumayan manis. Saya berikan print out booking saya via booking.com. Setelah dibaca sebentar maka saya pun ternyata sudah terdaftar di registrasi, sesuai dengan harga saat booking saya bayar 24 SGD. Tapi ada tambahan lagi deposit sebesar 10 SGD yang nanti bisa refundable saat kita check out. Saya dapat kartu untuk masuk pintu akses hostel jika nanti keluar masuk hostel dari pintu belakang atau pintu depan, karena coffee shop ini tidak 24 jam. Juga saya dapat fasilitas breakfast esoknya. Saya pun diantar ke kamar saya di lantai 2, tepat diatas coffee shop atau lobby check in hostel ini.

Ini untuk pertamakalinya dalam kunjungan saya ke Singapore saya nginep di hostel murmer/backpacker. Awalnya saya agak “gimana” gitu, kok nginep di hotel begini. Tapi setelah saya pikir dengan bijak, mikir gengsi duit malah ke buang percuma hanya untuk kamar hotel yang 2-3 jutaan tapi kita tidurin cuma 5 jam, sayang amat. Dalam hati saya: “Udah lah ga usah mikir gengsi dan gaya, yang penting lo bisa mandi dan tidur dengan aman & nyaman cuma dengan SGD 24 (Sekitar Rp. 240.000)”.

Kamar saya berisi 4 ranjang susun yang artinya bisa diisi 8 orang.Tapi si petugas hotel nya bilang walaupun ada 8 ranjang, kamar itu tidak pernah diisi sampai full 8 orang, maksimal hanya 6 orang yang bisa nginep di kamar itu. Saya pikir kalo saya ke SG ama teman2 saya satu grup (4 sd 6 orang) enak juga nih nginep disini. Sebab murah dan kamarnya kan ga terlalu kepake, cuma buat tidur aja. jadi kita bisa seharian jalan-jalan di SG, trus tidurnya hemat.

Di kamar itu juga ada 8 locker yang tidak ada kuncinya. Kalo mau kuncinya bisa beli di lobby tadi :) buseet ternyata kunci loker aja kudu beli. Toiletnya ada di ujung lorong, tidak jauh dari kamar saya dan kondisinya bersih. Saat saya datang kondisi hostel masih sepi, saya duga pengunjungnya sedang traveling nanti malam baru akan ramai.

Saya menilai kamar ini biasa banget, bahkan sebenarnya boleh dibilang bukan tipe kamar yang ideal untuk hotel. Lebih mirip kamar kosan anak cowo di jaman kuliah dulu hahaha :D Ranjangnya pake kasur per seperti kasur tentara, ranjang susunnya juga memang mirip di barak tentara sih. Penataan layoutnya bisa dilihat seperti di foto di bawah ini. Ketika saya datang kondisi kamar tidak terlalu rapih, saya pun sedikit merasa gatal, mungkin karena saya belum terbiasa atau badan saya masih lengket karena keringat dan belum menyegarkan diri ke kamar mandi. (Tetapi ketika saya kembali lagi malamnya sepulang konser, kondisi kamar sudah jauh lebih baik dan saya juga sudah terbiasa sehingga saya tidak gatal-gatal lagi)

Setelah saya menyegarkan diri dan beristirahat sejenak maka saya segera bersiap untuk ke Sentosa. Maka saya pun berjalan ke stasiun Farrer Park untuk menuju ke stasiun Harbour front dan ke VIVO City Mall. Dari VIVO saya  nyebrang naik monorail ke Sentosa. Di Vivo kita beli tiket ke Sentosa seharga SGD 4.00 itu udah untuk PP. Saya berhenti di stasiun yang ada Universal Studiosnya  yang juga ada Hard Rock Hotel nya, sebab konsernya diadakan disitu.

@Vivo

@Vivo

Sampai di lokasi saya liat antrian untuk masuk ke venue yang sudah mulai mengular tapi tetap tertib dan rapih. Saya liat pintu akses ke venue konser belum dibuka, antrian juga masih rapih jadi saya putuskan makan dulu lah di McDonald dibawah. Saya mikir cari makan yg simple dan cepet aja. Setelah dari McD baru saya naik lagi untuk antri.

 

Khusus untuk bagian Review Konsernya akan saya sambung di artikel berikutnya. Tetap ikuti terus ya…

Klik disini –> Review Konsernya

 

Taman buatan diatas ketinggian puluhan meter

Garden By The Bay Singapore itu Kebon ama Curug Dikasih A.C (^_^)

Tanggal 15-16 September 2014 saya ikut training di Singapore. Tapi sejak Jumat malam tanggal 12 September 2014 saya udah terbang ke Singapore. Buat saya ke negeri kecil satu ini ga pernah ada bosennya. Selalu excited buat saya untuk melihat perkembangan terkini dari negara/kota ini.

Salah satu agenda yang sudah saya rencanakan, adalah berkunjung ke “Garden by The Bay“. Katanya ini adalah salah satu tempat hiburan baru si Singapore yang wajib dikunjungi. Berlokasi di sekitaran Marina. Sewaktu di Jakarta saya sudah browsing ke website mereka untuk cari tau sedikit tentang tempat ini.

Silahkan kunjungi website Garden by The Bay di  www.gardensbythebay.com.sg

Tidak lupa juga saya tanya ke teman saya sista Any Susanti yang menetap di SG, bagaimana kondisi Garden by The Bay (GbTB) kalo kita datang di hari minggu. Menurut Sist Any sih lumayan rame tapi di SG ga ada tempat yang rame nya penuh full kayak di Taman Mini, Ragunan, Ancol, Dufan dll Jadi semuanya masih bisa ditolerir kok.

Berdasarkan keterangan itu saya pun berencana mengunjungi GbTB pada hari Minggu, karena Sabtu saya rencananya akan ketemu Mas Riwut dan sis Any sekeluarga yang mau datang ke hotel, siangnya saya mau ke NUS lewat Botanical Garden trus ke Bras Basah hunting buku second, jd kayaknya ga kuat kalo ke GbTB Sabtu malam. Untuk foto-foto saya di Botanical Garden dan NUS silahkan lihat DISINI.

Minggu pagi saya jalan disekitar hotel di daerah City Hall-North Bridge Road-Parliament House sambil tentunya potret-potret selfie :) Untuk lihat foto-foto hasil selfie di sekitar hotel silahkan liat DISINI.

Trus siangnya jalan deh ke GbTB. Dari stasiun MRT City Hall naik MRT North South Line (merah) arah ke Marina Bay. Sampai Marina pindah ke MRT jalur oranye  Circle Line arah Bishan trus turun di Bayfront.

Akses dari stasiun MRT Bayfront

Akses dari stasiun MRT Bayfront

Nah dari stasiun MRT Bayfront kalo mau ke GbTB ini mudah sekali, karena petunjuk jalannya banyak kita tinggal ikutin aja. Kita susuri lorong stasiun tersebut yang penuh hiasan kaca. Sesampainya di luar kita akan diarahkan ke arah taman, disitulah akses shuttle car ke ticket box GbTB.

Pose di akses masuk ke Garden By The Bay SG,

Pose di akses masuk ke Garden By The Bay SG,

Cukup membayar 2 SGD maka kita akan mendapat 2 tiket shuttle car untuk Pergi-Pulang. Waktu akan menaiki shuttle car itu penjaga nya akan mengarahkan kita naik mobil mana dan tiket kita disobek 1 bagian. Yg bagian sisanya untuk pulangnya. Sebetulnya saya hanya pakai 1 tiket saja karena pulangnya saya tidak naik Shuttle car ini (nanti saya ceritakan), tapi kita memang tidak bisa beli untuk pergi saja atau pulang saja, alias emang harus bayar 2 SGD untuk tiketnya PP.

Akses ke Garden By The Bay

Akses ke Garden By The Bay

Sepanjang jalan masuk ke area GbTB kita disuguhi pemandangan taman buatan yang sangat apik dan tertata.

Pemandangan dari Shuttle car

Pemandangan dari Shuttle car

Pemandangan Singapore Flyer dari Garden by The Bay

Pemandangan Singapore Flyer dari Garden by The Bay

Pemandangan taman tersebut sangat menarik, mengingat saya datang lewat tengah hari yang panas dan terik dan Singapore adalah negara kota ditengah laut. Jadi bisa dibilang ke GbTB siang-siang ini seperti kita jalan-jalan ke Pluit, Ancol atau Tanjung Priok tengah hari bolong. Tapi di area ini kita lumayan merasa nyaman, karena tamannya yg bersih dan suasana hijaunya membuat adem, plus angin berhembus cukup membuat segar. Oh ya Shuttle Car nya juga pake atap, jd ga usah takut kepanasan.

Jelang memasuki counter tiket Flower Dome dan Cloud Dome

Jelang memasuki counter tiket Flower Dome dan Cloud Dome

Setelah berkendara sekitar 3-5 menit kita akan sampai di area utama GbTB, dimana kita bisa membeli tiket masuk disana. Ticket box mirip Teller bank, kita antri secara teratur. Harganya untuk orang asing dewasa adalah 28 SGD, dimana kita bisa menikmati 2 Dome utama yaitu Flower Dome dan Cloud Dome. 2 Dome inilah yang utama.

Selain itu ada juga wahana lain atau venue lain seperti:
- Bay East Garden
- Dragonfly & Kingfisher Lakes
- Far East Organization Children’s Garden
- Heritage Gardens
- OCBC Skyway
- Sun Pavilion
- Supertree Grove
- World of Plants

Saya mulai dari :

Flower Dome

Flower Dome adalah Kubah pertama yang saya masuki. Kubah ini ternyata cukup dingin. Kubah yang dilapisi kaca dan mendapat sinar matahari penuh ini ternyata diberi penyejuk udara. Wah rasanya segar sekali, berbeda dengan suasana di luar yang cukup panas, maka suasana di dalam kubah jauh lebih segar.

Penataan tanaman di dalam Flower Dome juga sangat apik dan menarik. Saya kagum dengan pembuatan landscape tamannya yg sangat bagus. Dari akses pintu masuk Flower Dome ternyata Kubah ini memiliki struktur bertingkat. Jadi ketika masuk kita akan menyusuri jalan menurun, jadi taman di dalam Kubah sepertinya adalah lembah berundak. Kemudian ada bagian lain yang sejajar dengan pintu masuk tadi yang menurut saya seperti balkon dimana kita bisa melihat kebawah.

Masih indah pemandangan di belakang sana

Masih indah pemandangan di belakang sana

Tanamannya dibelakang sana bagus yah? :)

Tanamannya dibelakang sana bagus yah? :)

Kubah Flower Dome ini isinya di dominasi beragam tumbuhan yang ditata begitu menarik, namun yang paling asyik dan menarik buat saya adalah AC yang dihembuskan dari sela-sela bagian bawah tempat tanaman. Sewaktu saya masuk dan merasakan kesegaran kubah ini saya sudah heran dimana mereka meletakkan AC nya. Saya perhatikan dibagian atas Kubah hampir semuanya kaca dengan rangkanya tidak ada AC nyantel. Setelah saya rasakan hembusan AC ternyata memang datangnya dari bagian bawah atau sekitar kaki. Saya kagum dengan desain dan penempatannya.

Indah ya pemandangan di belakang nya? :)

Indah ya pemandangan di belakang nya? :)

Water is Precious... Indeed.

Water is Precious… Indeed.

Keretanya miniature aja, kalo kereta beneran ga muat

Keretanya miniature aja, kalo kereta beneran ga muat

Jadi setelah muter-muter di dalam Flower Dome sambil juga photo-photo narsis pake tongsis, saya bisa bilang kalo Flower Dome ini sebenarnya adalah “Kebon dikasih AC” :D

 

Cloud Dome

Selesai dari Flower Dome, kita keluar di pintu keluar yang telah disediakan dan pintu itu aksesnya langsung menuju ke Toko Sovenir :D Jadi keluar dari kubah itu kita akan langsung masuk Toko Sovenir. Singapore emang ngerti banget kalo dia harus pinter jualan untuk memperoleh pendapatan, makanya keluar dari lokasi dia tawarkan jualan sovenir. Cuma bedanya dengan Indonesia, di Indonesia ga rapih dan tertata. Banyak lokasi wisata yang jualan sovenir tidak tertata dan tidak tertib. Keluar dari toko saya langsung menuju ke pintu masuk Cloud Dome.

Memasuki Cloud Dome kita disambut dengan air terjun buatan. Yang tingginya setara bangunan tujuh lantai. Busyettt airnya dinaikin pake pompa kebayang pompanya kayak apa ya? Indah banget walaupun buatan alias air terjun imitasi tapi tetap aja saya salut ama teknologinya.

Ini mah curug buatan :)

Ini mah curug buatan :)

Air terjun itu ngalir begitu derasnya, dan di kaki tempat air itu jatuh kita bisa memotret dengan latar belakangnya air jatuh itu, bisa lumayan dekat tapi harus siap dengan cipratan airnya. Di kubah ini masih mirip dengan Flower Dome, dengan kubah yang dilingkupi kaca dan berpendingin udara. Udara disini tetap sejuk walaupun sinar matahari bersinar terang. Berbeda dengan Flower Dome yang lebih banyak di dominasi kebun tanaman berundak, maka Cloud Dome ini menurut saya seperti tiruan air terjun dan gunung. Wajar aja karena di Singapore tidak ada dan tidak punya gunung. Satu satunya bukit di Singapore ya kawasan Bukit Timah  dan itupun bukan Bukit :D

Patung kayak gini di Indonesia banyak banget

Patung kayak gini di Indonesia banyak banget

Lanjut dari area lokasi awal kita masuk yaitu seputar air terjun, saya puas foto-foto dengan background air terjun. Terus saya jalan kesisi belakang air terjun itu yang ternyata adalah akses untuk keatas, terdiri dari 6 atau 7 lantai (saya lupa). Naik lift itu saya langsung pilih lantai paling atas. Sampai diatas ternyata kita temukan tanaman-tanaman yang mengelilingi air terjun dan akses ke jembatan besi (sky bridge) yang ditopang dengan rangka-rangka ke atap kubah atau ditopang tiang-tiang. Jembatan itu mengelilingi air terjun itu. jadi kalo kita menyusuri jembatan itu maka kita akan jalan melingkar dan turun ke lantai berikutnya. Pemandangan nya bagus banget karena kita jadi dekat dengan sumber air terjun di ketinggian puluhan meter.

Heeeyyyy.... I am Up here ....

Heeeyyyy…. I am Up here ….

Saya awalnya ga ngeh ama jembatan (sky bridge) besi ini, apa dan ngapain?? Ternyata itu adalah jembatan yang mengitari air terjun dan berada puluhan meter diatas tanah. Saya termasuk orang yang takut ama ketinggian, tapi begitu diatas lihat pemandangannya dan inget ama harga tiketnya ;) saya jadi berusaha berani. Kalo saya mau mundur sebenarnya saya ada temennya, disamping saya ada suami-istri dan si Suami ngejerit balik lagi ga mau nerusin, sementara si Istri ketawa cekikian dan nerusin perjalanan (mungkin istrinya berprinsip seperti gue juga :D selain sih emang kayaknya dia berani).

Narsis tapi muka pucat di ketinggian :)

Narsis tapi muka pucat di ketinggian :)

Saya sok berani, jalan selangkah demi selangkah menyusuri jembatan (sky bridge) itu, waahh ngeri nya minta ampun. Saya paling sebel kalo di Jakarta nyebrang jembatan penyebrangan yang alasnya plat bordes (besi) saya suka jembatan penyebrangan yang dari beton. Nah ini jembatan semua dari besi dan rangka besi. Buat saya jembatan kayak gini tuh rasanya ga kokoh dan agak goyang. Saya coba untuk tetap tenang. Saya susuri semua level dengan melalui jembatan itu. Diatas jembatan itu saya sok berani beberapa kali ambil photo walaupun dalam hati takut banget :)

Lihat yg dibelakang sana, keren kan? :)

Lihat yg dibelakang sana, keren kan? :)

Disetiap level atau lantai dibalik air terjun itu terdapat berbagai tempat yang menyajikan berbagai tema yang berbeda. Saya sih ga terlalu minat dan sering saya lewatkan saja. Ada beberapa yang menarik juga sih seperti taman di bawah ini. Disini juga ada kolam untuk lempar koin.

Taman buatan diatas ketinggian puluhan meter

Taman buatan diatas ketinggian puluhan meter

Tapi jika diperhatikan sebenarnya landscapenya banyak yang “biasa” saja jika dibandingkan dengan aslinya di alam Indonesia. Cuma bedanya disini semua “buatan” tapi dibuat dengan teknologi tinggi dan rapih sekali.

Curug buatan

Curug buatan

Sepantaran ^_*

Sepantaran ^_*

Setelah menyusuri Cloud Dome maka saya pun melangkah menuju pintu keluar. Sepanjang jalan menuju pintu keluar terdapat taman air buatan bahkan buaya nya pun buatan :D Kocak juga sih negara satu ini. Karena keterbatasannya tapi mereka pengen punya alam yg menarik maka dibuatlah alam buatan.

Kalo Flower Domes saya bilang “Kebon dikasih AC” maka kalo Cloud Dome ini saya sebut sebagai “Curug buatan pake AC” :)

Pintu keluar dari Cloud Dome adalah muncul di Toko Souvenir lagi hahahaha. Disini saya liat-liat beberapa sovenir tapi seingat saya mahal-mahal. Jadi saya ga jadi beli kaos atau gantungan kunci buat oleh-oleh. Beli nya tempelan magnet untuk lemari es aja oleh-oleh untuk ibuku (kebetulan beliau suka banget tempelan magnet buat di kulkas).

Selesai dari dua Dome itu sebenarnya ada beberapa tempat seperti:
- Bay East Garden
- Dragonfly & Kingfisher Lakes
- Far East Organization Children’s Garden
- Heritage Gardens
- OCBC Skyway
- Sun Pavilion
- Supertree Grove
- World of Plants

Tapi tidak ada satupun yang saya masuki lagi. Tadinya saya mau ke OCBC Skyway, tapi setelah saya jalan kesana, saya kok jadi malas. Ticket masuknya 5 SGD, tapi yang bikin males bukan itu. Kaki saya mulai sakit dan pegal, plus baterai HP saya udah mulai drop tinggal 5%. Karena saya kebanyakan foto narsis ;) Akhirnya saya putuskan pulang saja.

Awalnya saya ingin sampai malam di kawasan GbTB, tapi berhubung sudah lelah dan baterai HP yg tidak mendukung maka saya memilih pulang. Padahal tadinya saya ingin melihat Supertree Groove di waktu malam yang kabarnya sangat indah. Plus ada festival lentera (lantern) di kawasan ini. Tapi sudahlah, udah ga kuat juga. Next time kesini lagi dimalam hari, plus bawa kamera DSLR, agar bisa hunting maksimal.

Pulang saya tidak naik shuttle car tapi saya jalan kaki, itulah makanya tiket shuttle car saya tidak kepake untuk pulangnya. Karena saya jalan kaki tadinya mau ke OCBC Skyway, jadi saya teruskan ke pintu akses ke MRT Station. Yang ternyata aksesnya malah masuk ke Pusat Shopping dan hotel Marina. Welehh… biar ga pusing saya cari lantai paling bawah trus cari petunjuk ke MRT. Hingga akhirnya saya sampai di Stasiun MRT Marina.

Dari situ saya putuskan untuk pulang ke hotel di kawasan City Hall. Demikian pengalaman saya berkunjung ke Garden By The Bay Singapore.