Posts

Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Wisata ke Taman Wisata Alam Angke Kapuk di PIK Jakarta

Sudah sejak lama saya mendengar tentang Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk Jakarta Utara. Tapi saya belum pernah sempat kesana. Baru pada tanggal  21 Desember 2016 saya punya waktu untuk bisa mengunjungi tempat wisata ini.

Sahabat saya Yulia Sari sering mengajak saya untuk melakukan wisata dengan biaya hemat diseputar Jakarta. Banyak lokasi yang awalnya kita ingin kunjungi, namun karena keterbatasan waktu dan juga akses ke lokasi maka akhirnya kami putuskan untuk berwisata ke lokasi Taman Wisata Alam Mangrove di Angke Kapuk Jakarta Utara.

Kebetulan Rido (Puteranya Sari) sedang libur sekolah, kemudian Ririn teman Sari juga bisa ikutan. Jadi rencananya kita akan pergi berempat. Kita janjian untuk ketemuan di Halte Transjakarta Stasiun Kota.

Tanggal 21 Desember 2016 sesuai rencana saya sudah sampai di halte TJ Stasiun Kota sekitar pukul 08.30. Disana saya menunggu Sari dan Rido anaknya. Ririn karena suatu hal ternyata batal ikut. Sehingga akhirnya kami pergi hanya bertiga saja.

Dari halte Transjakarta Stasiun Kota kami kemudian naik Bus Feeder Transjakarta tujuan PIK (Pantai Indah Kapuk). Sebelumnya dari Depok saya naik ojek online ke Halte Transjakarta Ragunan tujuan Monas (Koridor 6-B) kemudian lanjut ke Halte TJ Stasiun Kota. Karena saya tidak keluar halte Transjakarta maka biaya saya untuk ongkos dari Ragunan sampai ke lokasi Taman Wisata Alam di Angke Kapuk cukup hanya Rp. 3.500 saja.

Sebenarnya saya bisa saja naik Kereta Commuter line (CL) dari stasiun Depok ke Jakarta Kota, tapi saya kurang suka naik Kereta. Saya merasa lebih nyaman dan  pasti kalo naik Transjakarta. Sebelum nya kami sudah pelajari bagaimana mencapai lokasi Wisata Alam di Angke Kapuk tersebut. Ternyata memang mudah sekali.

Hari itu dari Halte TJ Ragunan ke Halte TJ Monas, dan kemudian saya lanjutkan ke Halte TJ Stasiun Kota kondisi lalu lintasnya tidak terlalu macet. Bus TJ juga tidak terlalu padat. Mungkin karena efek liburan sekolah. Dari Halte TJ Stasiun Kota ke PIK juga di dalam bus tidak terlalu penuh. Walaupun saya berdiri tidak dapat duduk, tapi di dalam bus tidak berdesakan.

Setelah kita berada di dalam Bus Feeder Transjakarta tujuan PIK maka kita tinggal bilang saja untuk turun di Yayasan Budha Tzu Chi. Sesampainya di setiap lokasi halte biasanya pramudi bus tersebut akan sebutkan nama haltenya.

Saat bus sampai di depan gedung Yayasan Budha Tzu Chi pramudi bus tersebut ingatkan penumpang, dan saya pun meminta berhenti untuk turun. Sewaktu naik di halte TJ stasiun Kota penumpang naik lewat pintu tengah seperti layaknya bus TJ namun ketika turun di Yayasan Budha Tzu Chi penumpang akan turun lewat pintu depan disebelah kiri bus. Haltenya pun tidak ada, jadi penumpang sebenarnya turun di pinggir jalan.

 

Turun di Yayasan Budha Tzu Chi

Sesuai dengan pedoman yang dibaca dari browsing di internet sebelum pergi ke lokasi wisata alam ini, maka kami turun dari bus feeder TJ di depan gedung Yayasan Budha Tzu Chi. Bangunan gedung Yayasan Budha Tzu Chi itu gedeee.. banget!, jadi jangan takut ga kelihatan atau ga ketemu ama gedung itu hehehehe :)

Turun dari Feeder TJ di tanda + itu

Turun dari Feeder TJ di tanda + itu

Saat kami turun di depan gedung maka di sebelah gedung itu ada jalan lurus ke dalam (katanya sih itu Jalan Garden House), itulah jalan menuju Taman Wisata Alam. Ikuti aja jalan itu, ngga bakal nyasar. Kami sampai dilokasi sekitar jam 09.30 WIB.

Ikuti panah belok kanan ke TWA Angke

Ikuti panah belok kanan ke TWA Angke

Peta Menuju Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Peta Menuju Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Jika diperhatikan peta tersebut maka kita akan turun di tanda X dan jalan mengikuti arah panah merah.

 

Tiket

Di pintu gerbang kita akan menemui loket yang ditunggu petugas jaga. Harga tiket masuknya untuk Dewasa adalah Rp. 25.000 dengan dua karcis diberikan yaitu:
- Rp. 20.000 tiket warna biru dengan tulisan Paket Rekreasi Penjelajahan Hutan Outbound dll
- Rp.  5.000 tiket warna putih dengan tulisan Karcis Masuk Pengunjung TWA Angke Kapuk

Sedangkan harga tiket untuk anak-anak hanya Rp. 10.000 saja. Warna tiket merah muda dengan tulisan tiket masuk rekreasi penjelajahan hutan outbound dll Taman Wisata Alam Angke Kapuk.

Tiket Masuk TWA Angke Kapuk

Tiket Masuk TWA Angke Kapuk

Terus terang menurut saya biaya tiket masuk ke Taman Wisata Alam (TWA) ini menurut saya kemahalan. Sebagai pembanding adalah harga tiket Kebun Binatang (KB) Ragunan misalnya, tiket untuk Dewasa Rp. 4.000,-/orang dan untuk Anak-anak Rp. 3.000,-/orang sedangkan untuk Tarif masuk Pusat Primata Schmutzer:
- Hari Selasa s.d Jumat (usia 3 tahun ke atas) : Rp. 6.000,-/orang
- Hari Sabtu s.d Minggu /libur nasional (usia 3 tahun ke atas) : Rp. 7.500,-/orang
Jauh sekali kan bedanya, padahal yang bisa dikunjungi di KB Ragunan dan yang bisa dilihat jauh lebih banyak dibandingkan dengan TWA Angke Kapuk.

Loket dan Pintu Gerbang TWA Angke

Loket dan Pintu Gerbang TWA Angke

Selain harga tiket masuk tersebut ditulis juga biaya lain yaitu:
- Mobil Rp. 10.000,00
- Motor Rp.  5.000,00
- Tiket untuk Turis/WNA Rp. 250.000,00
- Photo Pre Wedding Rp. 1.500.000,00

 

Menjelajahi TWA Angke Kapuk

Setelah membeli tiket maka kami mulai memasuki TWA Angke Kapuk ini. Hal yang pertama akan kita jumpai adalah Masjid panggung diatas air disebelah kiri jalan. Jadi untuk pengunjung yang ingin beribadah sholat tidak perlu khawatir. Saya lihat tempat wudhunya juga ada di pinggir jalan dan airnya mengalir. Saat saya pulang setelah berkeliling saya melihat ada beberapa pengunjung yang sholat di Masjid ini.

Masjid di TWA Angke

Masjid di TWA Angke

Pintu Masuk TWA Angke

Pintu Masuk TWA Angke

Tidak lama kemudian setelah berjalan sekitar 20 meter maka kita akan tiba di pos berikutnya. Di pos ini pengunjung bisa menitipkan tas jika merasa berat untuk harus dibawa-bawa. Selain itu di area ini pengunjung bisa memarkir kendaraannya.

Di pos ini terdapat peta besar isi dari TWA Angke Kapuk. Juga terdapat tanda-tanda larangan yaitu:
- Dilarang membawa makanan dari luar
- Dilarang membawa kamera
- Dilarang membawa hewan peliharaan

Kamera dilarang dibawa akan tetapi handphone atau smartphone berkamera diperbolehkan. Jika ingin membawa kamera maka dikenakan biaya Rp. 100.000,00

Setelah melewati pos penitipan barang/tas maka kita mulai memasuki area TWA Angke Kapuk ini. Jalan nya terpecah dua antara lurus ke jembatan besar atau belok kanan ke arah kantin, gedung aula, dan juga camping house. Saya dan teman saya memilih belok kanan.

Sambil jalan saya bisa melihat papan tulisan keterangan nama pohon-pohon disisi jalan masuk TWA. Sayangnya tulisan keterangan tersebut sudah tidak terlalu terawat.

Kemudian tidak lama kami tiba di area dekat kandang monyet. Kandangnya walau berjeruji juga diberi kawat jaring sehingga tangan si Monyet tidak bisa keluar. Beda dengan kondisi dahulu, kata Sari, dahulu belum ada jaring kawatnya sehingga si Monyet bisa mengambil atau menjambret barang milik pengunjung.

Saya tidak terlalu suka berada dekat kandang Monyet tsb. Saya kasihan melihatnya. Saya lebih senang jika monyet tersebut dilepaskan saja, mungkin bisa dilepaskan di area konservasi lainnya di hutan, tapi tidak di kawasan TWA Angke yang sudah ramai dan tidak ramah bagi monyet-monyet tersebut.

Monyet lucu

Monyet lucu

Dari area kandang monyet kami bergerak ke arah kantin dan area duduk-duduk depan kantin. Kalo saya perhatikan di depan kantin adalah gedung pertemuan atau semacam aula, dan di depannya banyak bangku-bangku untuk duduk-duduk.

Kita memang tidak boleh membawa makanan dari luar, tetapi sayangnya di Kantin hanya menjual makanan ringan dan minuman. Tidak ada menu makanan yang bisa untuk makan siang.  Ada tulisan Rumah Makan di petunjuk arah, tapi saya tidak menemukannya. Kebetulan kami tidak menghabiskan waktu seharian disini, saat makan siang kami putuskan untuk  makan siang di Mall baru depan Budha Tzu Chi yaitu PIK Avenue Mall.

Setelah puas foto-foto dan istirahat duduk duduk di area rumah makan maka kami lanjutkan jalan kembali. Di persimpangan ada petunjuk arah. Maka kami menyusuri jalan sesuai petunjuk arah ke arah lokasi perkemahan. Sambil saya ke toilet dulu. Toiletnya untungnya lumayan bersih dan airnya mengalir.

Di lokasi Wisata Alam ini tersedia pula arena bermain, terutama untuk kegiatan Outbond. Nampaknya TWA Angke ini dibuat sebagai tempat outbond yang letaknya masih di dalam kota Jakarta tidak perlu harus pergi ke Puncak, Cisarua dan lain-lainnya.

Selanjutnya kami menyusuri jalanan yang terbuat dari kayu atau bambu. Jalanan ini menuju rumah perkemahan diatas air. Jika saya perhatikan beberapa bangunan sudah dimakan usia sehingga beberapa sedang direnovasi atau diperbaiki. Demikian jalanan yang terbuat dari kayu juga sudah banyak dimakan usia dan mulai digantikan dengan bambu.

Saya menikmati pemandangan dengan menyusuri bangunan perkemahan yang berjajar menarik. Selain itu didepannya juga terdapat tanaman bakau yang merupakan sumbangan penanaman dari berbagai institusi seperti perusahaan, sekolah maupun perorangan.

Saya menyusuri jalan-jalan kayu yang menghubungkan dengan rumah-rumah penginapan untuk camping. Sayangnya di beberapa titik saya mencium aroma tidak sedap alias bau sampah. memang akhirnya saya temukan beberapa area penuh dengan sampah plastik dan botol bekas minuman. Pemandangan tentu menjadi tidak sedap dan menarik lagi buat saya yang sangat gandrung akan kebersihan :(

Setau saya pengelola TWA Angke Kapuk ini adalah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta yang berada di bawah naungan Kementerian Kehutanan RI bukan di bawah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Saya tau setelah baca di http://www.bksdadki.com/index.php/page/organisasi

Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 6187/KPTS-II/2002 tanggal 10 Juni 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Tugas pokok Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta adalah melaksanakan pengelolaan kawasan Suaka Margasatwa, Cagar Alam, Taman Wisata Alam dan Taman Buru serta konservasi tumbuhan dan satwa liar didalam dan diluar kawasan.

Sehingga pantas saja terlihat bedanya untuk pengelolaan TWA ini. Kebersihannya tidak sebaik pengelolaan kebersihan oleh PemProv DKI Jakarta. Demikian pula terkait tiket masuknya yang menurut saya relatif mahal.

Saya bersama Sari dan Rido berkeliling lokasi TWA Angke ini terutama area perkemahan. Walau saat itu hari kerja akan tetapi ada juga pengunjung lain yang datang ke lokasi wisata ini. Ada beberapa keluarga dan ada pula muda mudi yang bersama pasangan atau teman-temannya menikmati kawasan hutan mangrove tersebut.

Setelah puas berkeliling selama beberapa jam maka kami memutuskan untuk mengakhiri kunjungan kami di TWA ini. Saya tidak mencoba untuk melihat menara pemantau untuk melihat burung dan lain-lain. Saya juga tidak mencoba berperahu karena selain panas saya juga sudah melihat spot-spot kotor, yang langsung bikin ill feel. Saya memang gitu orangnya, kalo liat yang kotor-kotor jadi nge-drop. Saya melihat secara umum tempat wisata ini menarik namun perlu dikembangkan lebih jauh.

Selain itu saya juga udah mulai capek dan kepanasan. TWA ini kan berlokasi dipinggir laut disebelah utara Jakarta. Sementara saya orang dari Selatan Jakarta (Jakarta Coret) yang dingin hehehhee (alesan aja padahal emang udah tua jadi cepet capek …) Apalagi waktunya sudah siang waktunya untuk makan siang, para cacing di perut sudah demo walo aksinya damai. Incaran kami adalah nyobain maksi di PIK Avenue Mall sebuah mall yang katanya baru berdiri di kawasan PIK itu beberapa bulan lalu.

Secara umum review saya untuk wisata ke TWA ini adalah:

  1. Lokasinya sangat mudah untuk dijangkau dan biaya transportasinya relatif murah. Jalan kaki dari perhentian TJ ke lokasi TWA tidak lah jauh. TJ tujuan ke PIK juga sangat mudah diakses dari Halte TJ Stasiun Jakarta Kota.
  2. Sebenarnya lokasi wisata ini bisa menjadi alternatif pilihan wisata alam di Jakarta. Tapi sayangnya ketika kita sudah dilokasi tidak banyak hal yang menarik untuk dinikmati. Hanya pemandangan hutan mangrove saja. Binatang yang ada di alam liar juga tidak ada yang bisa dilihat, arena bermain ya hanya arena outbound saja. Tempat ini sepertinya hanya cocok untuk acara Camping atau perkemahan yang sudah diatur oleh EO atau sejenisnya.
  3. Tiket masuknya tidak kompetitif. Harga tiket terlalu mahal jika dibandingkan dengan fasilitas di dalamnya. Belum lagi banyak larangan dan biaya tambahan yang dikenakan, seperti larangan membawa kamera non handphone, larangan membawa makanan dari luar tapi di dalam variasi pilihan makanan tidak banyak. Akan lebih baik jika harga tiket diturunkan dan fasilitas didalamnya ditambah, terutama akan lebih menarik jika ada pusat kuliner.
  4. Kondisi lingkungan kotor dan kurang terawat. Menurut saya faktor kebersihan harus menjadi perhatian. Bagaimana bisa menarik pengunjung jika lokasi obyek wisata itu tidak menarik dan kotor. Dimasa mendatang TWA ini akan bersaing dengan Mall PIK Avenue yang lokasinya tidak jauh dari TWA ini. Memang antara TWA dam Mall tidak apple to apple akan tetapi Mall bisa jadi pilihan hang-out atau berlibur warga PIK karena gratis tidak ada tiket masuk, lebih nyaman karena dingin pake AC serta pilihan makanannya juga banyak. Artinya dengan uang harga tiket Rp. 25.000 TWA akan menjadi tidak kompetitif.

Semoga pihak BKSDA DKI Jakarta sebagai pengelola TWA Angke Kapuk bisa mengevaluasi kondisi ini untuk menjadi perbaikan dimasa mendatang.

Sampai jumpa di wisata dan jalan-jalan saya yang lainnya…. :)

 

 

 

Logo IBS

Kuliah Pasca Sarjana MM di STIE IBS

Sudah sejak lama saya ingin kuliah pasca sarjana terutama mengambil jurusan manajemen atau hukum. Tapi waktu dan biaya belum memungkinkan. Sehingga keinginan saya itu saya tunda lama sekali. Saya lulus S-1 tahun 2000 dan sampai tahun 2013 saya belum pernah kuliah lagi. Artinya 13 tahun saya sudah meninggalkan kampus. Walaupun demikian selama 13 tahun tersebut banyak training atau pelatihan yang saya ikuti dan manfaat nya saya pikir tidak kalah dengan bangku kuliah.

Sejak saya bekerja di Badan Regulator PAM DKI Jakarta di tahun 2012 saya bertekad untuk kuliah lagi. Saya pikir waktunya sudah tepat dan tabungan saya juga sudah mencukupi untuk membayar biaya kuliah. Namun saya mesti pelajari dulu suasana bekerja dan loading pekerjaan di BRPAM ini, sehingga baru pada tahun 2013 saya memutuskan untuk mendaftar kuliah.

Saat itu saya terpikir untuk langsung mengambil kuliah Magister Hukum, akan tetapi kampus pilihan saya adalah Universitas Indonesia di Salemba dan Universitas Gajah Mada cabang Jakarta, yang semuanya berlokasi jauh dari kantor dan tempat tinggal saya. Sehingga saya memutuskan untuk mengambil kuliah lain yaitu Magister Manajemen dengan pertimbangan berikut:
1. Lokasi perkuliahan tidak jauh dari kantor dan rumah tinggal
2. Biaya Kuliah terjangkau
3. Status kampus berkualitas
4. Jurusan yang ditawarkan sesuai dengan minat
5. Waktu kuliah tidak mengganggu kerja

Berdasarkan pertimbangan tersebut maka saya melakukan browsing via internet dan media lainnya seperti koran dan majalah. Hasilnya saya menemukan website kampus IBS di http://www.ibs.ac.id. Kampus ini menurut saya sangat pas dengan kriteria pilihan saya, karena:

 

Lokasi Kampus
Lokasi kampus berada di Jalan Kemang Raya, artinya jika saya pulang dari kantor di Pejompongan (saat itu saya belum kost) ke Depok, maka jalan menuju ke Kampus itu searah dengan jalan saya menuju pulang ke rumah di Depok. Saya tadinya ingin kuliah di Universitas Indonesia, tapi kelas Pasca Sarjana mereka di Salemba. Arah ke Salemba itu macet sekali di sore hari, dan tidak searah ke Depok. Pilihan lain kuliah di Perbanas di Kuningan, wah ini lagi! Kuliah di Kuningan sore hari sih bisa stress duluan kena macetnya. Saya terbayang bisa terlambat kuliah. Pilihan lain adalah Kuliah di Atmajaya Semanggi, kampus ini deket banget ama kantor saya, tapi jika selesai kuliah jam 21.00 WIB, maka saya masih jauh lagi harus pulang ke rumah di Depok. Kasian ama pak Pardi supir saya. Memang akhirnya pilihan jatuh ke Kampus IBS di Kemang Raya ini. Jika saya kuliah sore, maka saya masih bisa kejar dari Pejompongan, walaupun macet di Perempatan Kemang (McDonald Kemang) tapi masih bisa terkejar lah, dan terbukti selama kuliah disana saya tidak pernah terlambat. Pulangnya jam 21.00 WIB jarak ke Depok sudah tidak terlalu jauh lagi, sudah tinggal separuh jalan saja.

 

Biaya Kuliah
Biaya Kuliah Pasca Sarjana Magister Manajemen di STIE IBS ini setelah saya bandingkan termasuk murah dan pembayarannya lumayan fleksibel. Jika dibandingkan dengan kampus lain yang menyelenggarakan program MM seperti:
- Universitas Indonesia yg bisa sampai 100 jutaan
- Prasetya Mulya sekitar Rp. 116.500.000 (http://pmbs.ac.id/admissions/Tuition_Fee)
- Atma Jaya Jakarta sekitar Rp. 39.900.000 (http://atmajaya.ac.id)
- Perbanas sekitar Rp. 21.000.000 sd 40.000.000 (http://sps-perbanas.ac.id/index.php?pilih=hal&id=34)
Biaya Kuliah di STIE IBS hanya Rp. 35.000.000 selama 4 Semester dan dapat diangsur 4 kali @Rp 8.750.000 per semester. Jika dibayar lunas sekaligus maka akan mendapatkan potongan sebesar Rp. 2.500.000 atau bisa dibayarkan perbulan menjadi Rp. 1.500.000 / Bulan (4 Semester). Silahkan cek di link ini http://www.ibs.ac.id/index.php?content=info-daftars2

 

Status Kampus
Status Kampus adalah faktor yang tidak kalah penting. Untuk pasca Sarjana jurusan Manajemen rata-rata setiap kampus ter-akreditasi “B” sepertinya. Saya lupa detail dari status setiap universitas atau kampus lainnya. Kampus STIE IBS ini setelah saya cek saat saya mendaftar masih belum terakreditasi, tapi dalam proses pengurusan. Hanya saja saya tau bahwa STIE IBS tahun 2010 berdasarkan Surat keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor: 98/D/O/2010 diberi ijin menyelenggarakan program studi S2 Magister Manajemen. Saya agak nekat juga untuk memilih kampus ini karena belum terakreditasi. Tapi untuk program S-1 nya terakreditasi “B”. Tapi saya tidak salah juga karena pada tahun 2013 prodi MM, mendapatkan akreditasi B dari BAN-PT dan sedang ditingkatkan menjadi A (informasi: http://www.ibs.ac.id/sejarah.php).

Akreditasi BAN PT

Akreditasi BAN PT. MM STIE IBS Terakreditasi “B”

 

Jurusan yang ditawarkan
Jurusan yang ditawarkan saat saya mendaftar saat itu di STIE IBS adalah Magister Manajemen dengan 4 Konsentrasi yaitu:

  • Manajemen Keuangan Perbankan
  • Manajemen Risiko
  • Manajemen Pemasaran
  • Manajemen SDM

Namun saat artikel ini saya buat di STIE IBS konsentrasi nya terbagi menjadi:

  • Manajemen Perbankan (Konvensional)
  • Manajemen Perbankan (Syariah)
  • Manajemen Marketing
  • Manajemen Risiko

Lihat : http://www.ibs.ac.id/mm_over.php

 

Waktu Perkuliahan
Waktu kuliah ini juga sangat penting. Enaknya waktu saya mendaftar dulu perkuliahan di STIE IBS itu Jumat Sore dan Sabtu pagi sampai sore. Namun dari brosur yang saya terima di tahun 2015 waktu perkuliahannya lebih menarik lagi, yaitu:
- Kamis/Jumat jam 18.00 – 21.00 WIB di Gedung YPPI Pancoran
- Jum’at jam 18.00 – 21.00 WIB di Kampus Kemang
- Sabtu jam 08.00 – 16.00 WIB di Kampus Kemang

 

Sejarah IBS
STIE IBS berdiri tahun 2004 sebagai pengembangan dari Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) sebuah lembaga yang banyak memberikan pelatihan di bidang perbankan. LPPI sendiri sudah ada sejak tahun 1950-an. Nama LPPI sempat mengalami beberapa perubahan, dimulai dari Akademi Bank, Pendidikan Tinggi Ilmu Keuangan khususnya perbankan (PTIKP), Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) dan Institut Bankir Indonesia (IBI). Namun sejak tahun 2004 lembaga ini kembali melakukan kegiatannya dengan nama LPPI.

 

Persyaratan Masuk
- Nilai TOEFL minimal 500 (Diserahkan sebelum ujian Thesis)
- Memiliki ijazah S1 dari semua jurusan dengan IPK minimal 2.75 *)
- Lulus tes Wawancara
*) Bagi calon mahasiswa yang memiliki IPK < 2.75 disyaratkan memiliki pengalaman kerja 2 tahun.
dan bagi calon mahasiswa yang tidak memiliki latarbelakang pendidikan Ekonomi diwajibkan mengikuti matrikulasi.

 

Prosedur Pendaftaran
Mengisi formulir secara online atau menyerahkan formulir pendaftaran dengan biaya sebesar Rp.300.000,- beserta kelengkapannya:
- Fotocopy Ijazah Strata 1 (S-1) dan Transkrip yang dilegalisir (cap basah) masing-masing sebanyak 2 (dua) lembar.
- Pas photo berwarna ukuran 4×6 dan 3×4, masing-masing sebanyak 2 (dua) lembar.

 

Biaya Pendidikan
- Total biaya pendidikan sebesar Rp. 35.000.000,- selama 4 (empat) semester, dapat diangsur 4X @ Rp.8.750.000,– per semester.
- Untuk pembayaran lunas sekaligus mendapat potongan sebesar Rp.2.500.000,–
- dapat dibayarkan perbulan menjadi Rp. 1.500.000 / Bulan (4 Semester)
Paket biaya pendidikan di atas sudah termasuk :
- Biaya total perkuliahan 42 SKS
- Bimbingan penulisan dan sidang Tesis
- Peminjaman buku wajib dari perpustakaan
- Jaket Almamater
- Coffee Break, snack, makan malam (jumat) dan makan siang (sabtu)

 

MENDAFTAR KULIAH
Saya mendaftar akhir Maret 2013. Saat itu Sekretaris Program MM masih ibu Dr. Paulina Harun dan Ketua Program MM adalah ibu Dr. Suhartati. Perkuliahan di mulai pada Bulan April 2013. Untuk saya yang sudah tidak pernah merasakan “bangku” perkuliahan sejak tahun 2000, maka rasanya sangat antusias dan bersemangat sekali. Angkatan saya terdiri dari 12 orang dalam 1 kelas. Semua mahasiswa usianya jauh lebih muda dari saya. Saya adalah siswa yang paling “tua” di kelas. Rata-rata mereka baru lulus S-1 dan langsung mengambil S-2. Sebelum dilakukan perkuliahan terdapat kelas matrikulasi yang harus diikuti oleh seluruh Mahasiswa (terutama saya yang bukan berlatar belakang dari ekonomi manajemen).

 

KURIKULUM PERKULIAHAN
Perkuliahan Magister Manajemen di STIE IBS ini terdiri dari 42 SKS yang terbagi atas:

Semester I:

  • Business Law and Business Ethic
  • Strategic Management
  • Operational Management
  • Business Research Methods

Karena saya masuk kuliah di Bulan April maka materi Semester I ini adalah materi yang sebenarnya adalah materi Semester II. Kami ikut Kuliah dengan teman-teman yang  kuliah dan masuk di bulan Oktober

Semester II:

  • Organizational Behavior & Leadership
  • Corporate Financial Management
  • Marketing Strategic
  • Global Human Resource Management

Materi ini adalah materi kuliah Semester I dan kami digabungkan dengan Mahasiswa angkatan berikutnya yang masuk kuliah di bulan Oktober.

Semester III:

  • Assets and Liability Management
  • Management of Bank Operational
  • Bank Risk Management
  • Banking Finance Research & Seminar

Materi perkuliahan di Semester ini adalah materi Kuliah yang sudah penjurusan sesuai Konsentrasi yang diambil. Karena saya mengambil konsentrasi Manajemen Keuangan Perbankan maka saya mendapat 4 Mata kuliah tersebut.

Semester IV: Thesis

Thesis ini adalah 6 SKS. Saya mulai mengerjakan Thesis di bulan Oktober dan selesai di bulan Maret. Alhamdullilah selesai sesuai jadwal.

 

Saya senang bisa kuliah di STIE IBS, selain sesuai dengan kriteria pilihan sebagaimana disebutkan diatas, saya suka IBS karena :
- Kampusnya asri dan hijau walau berada di pusat kota Jakarta yang panas dan sudah penuh dengan gedung beton.
- Lokasinya berada di daerah elite dan banyak hiburan. Jadi kalo hari Sabtu pulang kampus bisa langsung pergi ke restoran dan mall di sekitar kampus. Atau kalo hari Jumat malam pulang kuliah bisa dugem dulu (Walaupun hampir ga pernah bisa karena sudah sibuk kuliah).
- Gedungnya bagus dan masih baru, jadi walaupun biaya nya murah tapi kampusnya tidak murahan.
- Jaman saya kuliah dulu, uang kuliah sudah termasuk mendapat buku pegangan kuliah yang resmi berbahasa Inggris. Angkatan berikutnya sudah tidak ada lagi sepertinya (karena angkatan saya sepertinya angkatan promo). Selain itu juga mendapat makan malam (Kuliah Jumat Malam) dan makan siang (kuliah Sabtu Siang).

 

Senang bisa berkuliah di STIE Indonesia Banking School (IBS) dan lebih senang lagi karena saya bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu.

 

 

 

Tiket Konser Metallica

Konser Metallica di Jakarta (25 Agustus 2013)

Tanggal 25 Agustus 2013 konser Metallica di gelar di Gelora Bung Karno Senayan Jakarta. Saya sebagai orang yang besar di generasi 90-an tentu sangat familiar dengan grup band metal ini. Apalagi keluarga kami termasuk penggemar berat musik mereka, kami dulu koleksi kaset dari Metallica ini. Saya, adik saya dan bahkan Ibu saya adalah penggemar musik mereka. Kalo cuma album Master of Puppets, atau lagu One, Album “Black” Enter the Sandman aja sih keluarga saya hapal deh :D

Saya putuskan nonton konser Metallica di GBK ini sebab ketika Metallica ke Jakarta di tahun 1993-an saya masih SMA dan ga punya duit buat beli tiket. Kali ini saya sudah bekerja jadi saya bisa beli tiket sendiri. Saya beli via online dengan kartu kredit dari BRI. Saya beli 3 tiket, untuk saya, adik saya dan teman kantor saya Mas Aji, yg juga penggemar Metallica. Tiket itu juga baru bisa ditukerin di GBK satu hari sebelum konser.

Hari H kita kompak pergi barengan dari Depok. Naik motor aja trus di parkir di kantor temen saya di gedung Summit Mas. Dari gedung itu kami jalan ke GBK. Berikut adalah foto-foto dari konser tersebut. Mohon maaf hasilnya tidak bagus karena saya motret pake hadphone yang kualitas kameranya juga ga bagus. Selain itu fotonya juga dikit sebab kita ga jalan ama cewe yang hobbynya moto.

 

Akses masuk ke lingkungan GBK

 

Foto dari Konser

 

Pose dulu ah…

 

Secara keseluruhan konser Metallica ini bagus sekali. Dari segi tata panggung, Tata Suara (dahsyattt!!)  waktu ngetes drum/perkusi sampe jantung kita ikutan getar :D, Tata Lampunya apalagi. Pokoknya konser Metallica ini ga rugi deh buat di tonton. Penampilan mereka juga total banget, sangat energik ga ada lemesnya, selalu bertenaga.

Saya puasss banget nonton konser Metallica….!!

Foto ini saya dapat dari Internet

Foto ini saya dapat dari Internet