Posts

Banner

Perbandingan Phacoemulsification di Jakarta Eye Center (JEC) dan Klinik Mata Nusantara (KMN)

Dalam blog yang telah saya tulis sebelumnya, saya ceritakan bahwa saya telah menjalani tindakan Phacoemulsification bulan Mei 2015 lalu di JEC Menteng.

Artikel saya yang menceritakan tentang tindakan Phaco yang saya jalani dapat dibaca disini:

Nah di bulan Maret 2016 saya memiliki teman baru namanya Josefhine Gunawan. Saya memanggil beliau mbak Vin. Mbak Vin kenal saya melalui artikel di website saya ini dan kemudian berkirim email ke saya untuk ngobrol masalah Phaco.

Rencananya mbak Vin itu akan menjalani operasi Phacoemulsification yang sama dengan saya, cuma mbak Vin masih ragu dan nervous alias masih grogi. Jadi mbak Vin mau minta saran dan sharing cerita ttg tindakan Phacoemulsification tersebut ke saya.

Sepertinya mbak Vin berhubungan dengan orang yang salah, karena setelah menghubungi saya melalui email dan tukeran nomor handphone kita jadi gak hanya ngobrolin masalah mata dan tindakan phacoemulsification, akan tetapi kita juga jadi bahas hal-hal yang lain, atau lebih tepatnya kita juga jadi ngerumpi dan ngegosip :) hahahahaha

Tapi dari hasil “gosip” kita ada banyak juga hal yang mau saya share disini, terutama terkait tindakan Phaco tersebut, semoga bisa bermanfaat dan bisa menjadi informasi bagi mereka yang akan menjalani tindakan Phacoemulsification dan semoga resume pengalaman saya dan pengalaman mbak Vin secara umum disini bisa membantu para pembaca.

Singkatnya setelah dipertimbangkan dengan matang mbak Vin memutuskan untuk menjalani tindakan Phacoemulsification di KMN (Klinik Mata Nusantara) Kemayoran. Mbak Vin menjalani tindakan phaco pada tanggal 30 Maret 2016. Saya beruntung sekali berkenalan dengan mbak Vin, sebab ia memilih menjalani tindakan Phaco di KMN sementara saya menjalani tindakan Phaco tahun lalu di JEC.

Dengan berbedanya tempat untuk tindakan yang dipilih antara saya dan mbak Vin maka saya bisa membandingkan bagaimana tindakan Phaco ini baik di KMN maupun di JEC. Tulisan ini tidak akan bisa di share di blog website saya jika tidak ada budi baik dari mbak Vin untuk share pengalaman, cerita, foto dan luangkan waktu untuk ini semua.

Untuk itu saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada mbak Vin….mohon tagihan fee dan royalty nya dibatalkan mbak… invoice nya please di shredder aja mbak …. :)

MOHON DIPERHATIKAN:
Tulisan ini BUKAN merupakan rekomendasi untuk memilih dokter, memilih tindakan yang pas dan cocok untuk anda, apalagi sebagai pedoman dalam menentukan dan memilih rumah sakit yang akan dipilih, karena kami bukan biro iklan atau pihak yang berafiliasi dengan rumah sakit manapun. Kami berdua adalah murni pasien yang tidak menerima bayaran, honor, segala bentuk imbalan apapun atas tulisan ini. Justru kami berdua membayar sesuai tarif biaya tindakan yang kami jalani.

 

Mari kita ulas satu persatu…. cie duo tigo let’s go…!!

 

Tindakan Phaco

Tindakan yang akan dijalani oleh mbak Vin adalah sama, yaitu PHACOEMULSIFICATION. Baik di JEC dan KMN tentunya menyebutnya sama. Yaitu tindakan mengganti lensa dengan lensa tanam. Baik saya dan mbak Vin juga sama, kami disarankan untuk menjalani Phaco ini karena lensa mata kami terdapat katarak. Mbak Vin sedikit beda dengan saya, dimana beliau sama-sama bermata minus namun selama ini pengguna softlens sementara saya menggunakan kacamata.

 

Pra Tindakan

Sebelum tindakan Phaco dilaksanakan mbak Vin menjalani pemeriksaan Lab +/- 2 hari sebelum operasi. Kemudian sehari sebelum operasi diberi obat Floxa (3 x 2 tetes) dan 2 jam sebelum operasi diberi obat Mydriatil (2 tetes/10 menit). Mbak Vin juga dipasang selang untuk Infus dan diberi obat sesuai dengan alergi/penyakit pasien ex. obat asthma.

Sedangkan pengalaman saya sedikit berbeda. Saya sehari sebelum operasi tidak diberikan obat apapun. Hanya jelang operasi saja saya ditetesi obat. Itupun saya tidak tau apa jenis dan nama obatnya, pokoknya saya nurut aja. Saya juga tidak dipasangi selang infus seperti mbak Vin. Kalo mbak Vin kok dikasih selang infus ya?? wah jadi heran saya… Kalo obat alergi dan obat asthma saya memang tidak perlu karena saya tidak ada alergi obat… (saya hanya alergi ama wanita cantik hahahaayy) ;)

 

Pasca Tindakan

Setelah tindakan berlangsung saya diberi obat Levofloxasin (LFX) dan Polydex MD. Saya juga diberi dop plastik dan plester untuk pelindung mata untuk tidur.

satu mata

satu mata

Sementara Mbak Vin mendapat obat Tobroson dan Noncort dan juga diberikan kit lengkap yang berisi Kacamata (seperti kacamata Ski), Dop penutup mata dan perban.

Kwitansi obat

Kwitansi obat

Nah disini yang saya bete. Ternyata kalo di KMN dikasih kacamata seperti kacamata untuk Ski dan itu free…

Mbak Vin dengan kacamata pelindungnya :)

Mbak Vin dengan kacamata pelindungnya :)

Kenapa saya ngiri ama kacamata itu? karena kacamata itu penting lho. Setelah menjalani Phaco mata kita perlu terlindungi dari debu. Sementara JEC Menteng kan lokasinya ada di pinggir jalan raya Menteng, sewaktu dari gedung ke parkiran atau ke lobby menunggu mobil saja banyak debu beterbangan, apalagi kalo saya naik ojek kan :)

Sedangkan saya tidak bisa menggunakan kacamata saya yang lama, karena mata yang sudah menjalani Phaco kan sudah “normal” tidak perlu lensa kacamata. Sementara saya tidak siap dengan kacamata dengan lensa polos atau nol.
Seharusnya JEC juga memberikan kacamata sejenis itu untuk para pasien setelah menjalani tindakan, agar mata kita tetap terjaga kebersihannya. Ini yang saya sayangkan dari JEC.

 

Konsultasi

Setelah menjalani Phaco saya di JEC diharuskan konsultasi 1 hari setelah tindakan phaco pertama dan kedua (biaya konsul dokter @ Rp 220 ribu). Kemudian konsul kembali 1 Minggu setelah tindakan ke 2 (biaya konsul Rp 280 ribu) dan selanjutnya konsultasi 1 bulan setelah operasi (biaya konsul bayar lagi). Untuk kasus saya konsultasi lumayan sering terjadi, untuk lebih jelasnya dapat dibaca pada artikel saya sebelumnya.

Sedangkan untuk Mbak Vin konsultasi dilakukan 1 hari pasca operasi (biaya dokter Rp 220.000) kemudian konsultasi 1 minggu pasca operasi (biaya dokter Rp 220.000) dan konsultasi 2 minggu pasca operasi (biaya dokter Rp 220.000).

Kwitansi Konsultasi

Kwitansi Konsultasi

Dari sini dapat dilihat bahwa biaya konsultasi di KMN lebih murah daripada di JEC. Apalagi saya harus menjalani serangkaian konsultasi bolak balik yang akhirnya makan biaya.

 

Merek Lensa

Lensa tanam yang digunakan oleh JEC untuk ditanam di mata saya adalah merek “Carl Zeiss” sementara mbak Vin di KMN menggunakan merek “Alcon“. Merek mana yang lebih baik? Saya tidak tahu sama sekali, saya pasrah saja semoga lensa kita berdua baik-baik dan bagus-bagus aja deh :)

 

Biaya

Biaya yang dihabiskan untuk menjalani tindakan Phaco antara saya dan Mbak Vin sedikit berbeda.

Saya di JEC sebelum tindakan mengeluarkan biaya pemeriksaaan lab sebesar Rp. 860 ribu Sedangkan untuk tindakan Phaco dikenakan biaya resmi Rp. 13.750.000/mata. Kemudian untuk tindakan pertama yaitu mata kiri, saya bayar total Rp 14.496.000. Kemudian untuk tindakan tahap 2 yaitu mata kanan saya bayar total Rp 13.806.000 sehingga setelah konsultasi beberapa kali biaya keseluruhan menjadi Rp. 33.180.000 ++
itupun masih plus plus karena saya masih menjalani beberapa kali konsultasi yang harus bayar dokter dan beli obat lagi.

Sementara Mbak Vin mengeluarkan biaya sebagai berikut:
biaya pemeriksaan awal: Rp 2,680,000.-

Kwitansi Periksa Lab

Kwitansi Periksa Lab

Biaya operasi/mata:
- Phaco: Rp 15,500,000.-
- Obat: Rp 191,800.-
- Admin: Rp 60,000.-
- Anestesi: Rp 132,000.-
- Pemakaian fasilitas RJ: Rp 33,000.-
Biaya keseluruhan: Rp 34,513,600.-

Kwitansi Phaco

Kwitansi Phaco

Untuk biaya tindakan Phaco ini di KMN Mbak Vin membayar sedikit lebih mahal, namun selanjutnya ia tidak banyak konsultasi seperti halnya saya di JEC. Sementara saya di JEC karena banyak konsultasi akhirnya total biaya jika dihitung keseluruhan jadi lebih mahal.

 

Perbedaan lain

Selain hal-hal yang sudah diperbandingkan di atas ada keunggulan lain dari KMN yaitu:

  1. Antrian yang lebih rapih, ruang tunggu lebih nyaman (ada kopi, teh, snack).
  2. Pelayanan sangat care. Malam di hari H pasca operasi pasien menerima sms dari KMN yang menanyakan kondisi pasien. Secara periodik pasien di telepon untuk menanyakan kondisi pasien. Jika ada keluhan maka suster yang melakukan tindakan akan menelpon ulang.

 

Nah dari uraian tersebut, silahkan dijadikan informasi bagi anda yang akan melakukan tindakan phaco di JEC atau di KMN.
Silahkan dipertimbangkan dengan matang, jangan lupa mintakan second opinion dari dokter lain sebelum anda memilih tindakan yang akan dipilih untuk mata anda.

Sekali lagi… artikel ini BUKAN artikel rekomendasi atau artikel untuk mempengaruhi keputusan anda. Ini hanya artikel informasi saja. Segala keputusan adalah sepenuhnya hak anda.

Semoga bermanfaat.

Perbandingan Phacoemulsification di JEC dan KMN
NoPerihalJECKMN
1Nama TindakanPhacoemulsificationPhacoemulsification
2Biaya – Biaya Resmi Rp. 13.750.000/mata
- Total Bayar operasi mata 1 = Rp 14.496.000
- Total Bayar operasi mata 2 = Rp 13.806.000
- Biaya Keseluruhan = Rp 33.180.000 ++
Biaya pemeriksaan awal: Rp 2.680.000
- Biaya operasi/mata:
- Phaco: @Rp 15.500.000 (dikali 2 mata)
- Obat: Rp 191.800
- Admin: Rp 60.000
- Anestesi: Rp 132.000
- Pemakaian fasilitas RJ: Rp 33.000
Biaya keseluruhan: Rp 34,513,600.-
3Pra Tindakan1) Periksa Cek Lab di JEC sehari sebelum tindakan biaya Rp 860 ribu
2) Sebelum tindakan di hari-H hanya diberikan obat tetes untuk pembiusan lokal
1) Periksa Lab +/- 2 hari sebelum operasi
2) Sehari sebelum tindakan diberi obat Floxa (3 x 2 tetes)
3) 2 jam sebelum tindakan diberi obat Mydriatil (2 tetes/10 menit)
4) Dipasang selang untuk Infus
5) Diberi obat sesuai dengan alergi/penyakit pasien, ex. obat asthma
4Pasca Tindakan1) Diberi obat Levofloxasin (LFX) dan Polydex MD
2) Diberi dop plastik dan plester untuk pelindung mata untuk tidur
1) Diberi obat Tobroson dan Noncort
2) Diberikan kit lengkap yang berisi Kacamata (seperti kacamata Ski), Dop penutup mata dan perban
5Konsultasi- 1 hari pasca operasi (biaya konsul dokter Rp 220 ribu)
- 1 Minggu setelah operasi (biaya konsul Rp 280 ribu)
- 1 bulan setelah operasi (biaya konsul bayar lagi)
- 3 x konsul lagi
- 1 hari pasca operasi (biaya konsul dokter Rp 220,000.-)
- 1 minggu pasca operasi (biaya konsul dokter Rp 220,000.-)
- 2 minggu pasca operasi (biaya konsul dokter Rp 220,000.-)
6Merek LensaCarl ZeissAlcon
7Perbedaan lain-- Antrian lebih rapih, ruang tunggu lebih nyaman, ada kopi, teh, snack
- Pelayanan sangat care. Malam di hari H di-sms menanyakan kondisi pasien. Setiap hari ke-5, 14, 28 (kalo ga salah nih) di telp untuk memeriksa kondisi pasien. Jika ada keluhan maka suster dari kamar operasi akan menelpon ulang.
nike

UPDATE Perkembangan Pasca Operasi “Phacoemulsification”

Saya ingin menceritakan UPDATE perkembangan mata saya setelah (pasca) operasi “Phacoemulsification” setelah artikel terakhir saya ceritakan DISINI

Terakhir tanggal 20 Juli 2015 saya kirim email ke dr. Johan untuk jelaskan semua kekecewaan saya dan saya sudah tidak akan kembali untuk kontrol lagi dengan beliau. Saat itu ada 3 (tiga) hal keluhan saya yaitu:
1. Mata kiri saya masih “ngeres” terasa mengganggu sekali (mata kanan tidak)
2. Di Mata kiri dipinggir kornea ada seperti “lemak” atau apalah, saya menduga itu adalah bekas sayatan
3. Mata kiri dan kanan saya menjadi tidak jernih, saya rasakan semakin kotor. Pandangan mata saya seperti ada benda2 terbang seperti kapas atau debu. Dahulu saya tidak rasakan ini.

Untuk lebih obyektifnya artikel saya ini, maka akan saya copy-kan email jawaban dr. Johan Hutauruk ke email pribadi saya yang dikirim pada tanggal 22 Juli 2015. Beliau menjelaskan dengan sangat baik dan saya bisa terima penjelasannya. Berikut email beliau:

Yth Bpk Harri Baskoro,

Saya mohon maaf telah mengecewakan bapak, dimana pada dasarnya mungkin seperti bapak katakan, masalah utama adalah karena masalah komunikasi, karena kita kekuragan waktu untuk diskusi mengenai kondisi mata dan diskusi untuk rencana kita mengatasi masalah yang dialami.

Saya tetap berusaha membantu ya pak, karena tujuan saya tentu sedapat mungkin mengurangi keluhan yang bapak rasakan.
Untuk menjelaskan keluhan bapak :

1. Bekas sayatan di kornea bisa menimbulkan rasa “ngeres” seperti yang bapak rasakan, tetapi tidak terus menerus karena bekas luka ini tentu akan sembuh. Jadi kalau setelah 1 bulan masih terasa kurang nyaman matanya, kemumgkinan ada kondisi dry eye syndrome karena berbagai faktor.
http://www.allaboutvision.com/conditions/dryeye.htm

2. Obat tetes yang diberikan adalah untuk mengatasi keluhan mata terasa “ngeres”tersebut untuk membantu kelenjar air mata memproduksi cairan air mata agar lebih baik. .Obat seperti Hilaid dan Polynel adalah obat tetes yang cukup aman digunakan pada keluhan seperti bapak rasakan, tetapi tidak berarti boleh digunakan terus menerus tanpa pengawasan dokter. Jika masih kurang efeknya, masih ada lagi beberapa  tahapan pengobatan seperti bisa dibaca dibawah ini :

3. Mengenai keluhan penglihatan berasa kotor dan perlu laser karena ada munculnya kondisi yang disebut PCO, bisa dibaca dibawah ini :
http://www.rnib.org.uk/eye-health-eye-conditions-z-eye-conditions/cataracts-laser-treatment-following-cataract-surgery
Memang biaya Yag Laser ini cukup mahal ya pak, tetapi saya bisa membantu meringankan biaya, bukan biaya rumah sakitnya tetapi honor dokternya bisa kita kurangi semoga bisa meringankan, tapi mohon bapak bantu mengingatkan juga agar nanti saya bisa membuat catatan kepada kasir,  Kita saling tolong menolong saja pak, karena dengan email yang bapak kirimkan tidak membuat mata bapak semakin baik tetapi malah suasana hati bapak menjadi semakin kurang enak.
Selama ini toh saya sering melakukan operasi katarak gratis bakti sosial sejak tahun 2002 sampai sekarang, yaitu untuk pasien-pasien di pelosok2 daerah yang tidak mungkin datang ke jakarta untuk operasi katarak. Dulu sih bisa 2 kali sebulan hari minggu operasi minimal 20-40 pasien katarak dari pagi sampai sore/malam  Tetapi sejak 2 tahun terakhir ini, – mungkin karena faktor usia saya – hanya bisa sekali sebulan saja operasi baksos di hari minggu. Jadi kita bisa tetap saling membantu dan saling pengertian agar lebih memudahkan mencari solusi masalah biaya ini.
 

4. Mengenai kondisi ukuran kacamata pasca operasi yang kita harapkan adalah nol ataupun – 0.50, tetapi tidak sesuai harapan kita, hal ini juga masih bisa kita atasi ya pak. Untuk lebih jelasnya bisa dibaca di:
https://en.wikipedia.org/wiki/Intraocular_lens_power_calculation

 

Kalau dibaca tulisan diatas, alat IOLMaster untuk  pengukuran biometry yang kami gunakan adalah jenis laser partial coherence interferometry. Alat ini ketepatannya semakin baik dibandingkan generasi sebelumnya. JEC menggunakan type ini sejak generasi pertama tahun 2002 dan setiap 2-3 tahun muncul generasi yang baru kami juga selalu mengganti dengan versi terbaru. Saat ini yang kami gunakan adalah generasi ke-6, tetapi tahun ini muncul generasi terbaru dan sudah kami pesan tetapi harus menunggu dulu pengurusan izin alat medis untuk masuk ke Indonesia, Versi terbaru ini semoga bisa lebih akurat lagi, yaitu IOLMaster 700 dan akan tiba di JEC 2 bulan lagi.
 http://www.eyesight-vision.com/en/products/biometry-iol-selection
 

Saya juga tentu ikut kecewa seperti yang bapak rasakan, karena pada mata dengan ukuran minus yang sangat tinggi (ukuran kacamata bapak sebelum operasi -14,00, menggunakan formula yang berbeda dan lebih rumit untuk menghitung power ukuran lensa tanam yang akan dimasukkan saat operasi katarak. Untuk kasus seperti bapak, saya menggunakan formula SRK/T dan dihitung ulang untuk konfirmasi  dengan formula Barret II dan Haigis.
http://www.doctor-hill.com/iol-main/extreme_axial_myopia.htm
 

Saya memang membalas email dari pasien tidak selalu tepat waktu, karena setiap hari ada 5-20 email dari pasien, masalahnya saya menjawab email dari rumah saat malam hari pulang praktek. atau hari minggu sore-sore. Sedangkan data pasien ada di catatan medis, sehingga ada kalanya jawaban saya lebih ke arah general saja karena tidak ingat data-data objektif hasil pemeriksaan yang tercatat saat pemeriksaan. Saat saya menjawab email saya yang bapak kutip, saya agak lupa bahwa kondisi mata minus sangat tinggi, sehingga saya jawab targetnya NOL. Pada mata minus tinggi, target saya adalah -0,50, sehingga kalaupun terjadi kalkulasi yang tidak tepat pada mata minus tinggi dengan ketepatan +/- 0.50, kisaran hasil operasi adalah antara 0 sampai -1.00.  Kalau targetnya NOL kisarannya menjadi antara +0.50 sampai -0.50.
 

Mengenai kacamata baca, untuk membaca Pak Harri cukup menggunakan kacamata baca ukuran +1.00 untuk huruf yang kecil, sedangkan untuk membaca sebentar2 seperti menu di restoran ataupun sms, tidak perlu pakai kacamata baca.
 

Kondisi mata minus tinggi perlu pemeriksaan berkala karena ada risiko ablasio retina yang bisa dicegah dengan Argon Laser, hal ini bisa diperiksa sekali setahun saja dan kalau hasil pemeriksaan ada risiko maka akan dilakukan argon laser.
 

Operasi katarak pada pasien dengan minus diatas 6 cukup risiko tinggi dan minus bapak menurut hasil biometry adalah diatas minus 15, sehingga sebenarnya operasi cukup sulit tapi untunglah berjalan lancar.
http://www.geteyesmart.org/eyesmart/ask/questions/does-having-high-myopia-rule-out-cataract-surgery.cfm
 

Penyakit mata sangat banyak variasinya pak, jadi kalau bisa bapak tetap kontrol rutin ke dokter mata, bisa ke JEC tapi kalau kurang nyaman dengan saya karena pengalaman yang kurang enak, bisa juga dengan dokter lain, ataupun ke negara tetangga kalau memang bapak sudah tidak mau datang lagi ke jec;  yang penting ada dokter mata untuk pemeriksaan berkala. Saya berterima kasih atas masukan bapak, dan saya tetap terbuka untuk konsultasi bisa melalui email ataupun datang ke jec ya pak, jangan sungkan datang karena saya berterima kasih atas email bapak dan selalu berupaya memperbaiki diri sesuai saran bapak.
 

Salam hormat,
 
Dr. Johan Hutauruk

 

Saya bisa menerima dan memahami penjelasan dari dr. Johan dengan baik, saya akui beliau berupaya dengan baik untuk bisa memahami pasiennya. Tapi sayangnya komunikasi kita dibangun kembali ketika saya sudah dalam kondisi kecewa. Pada saat saya menjalani operasi dan (terutama) saat pasca operasi komunikasi seperti ini tidak terjalin dengan baik. Saya tidak mendapat penjelasan yang cukup akan kondisi saya dan rencana solusi mengatasi masalah saya ke depan dengan baik. Itulah sebabnya saya kecewa. Sejak terakhir kontrol tanggal 15 Juli 2015 maka selanjutnya saya sudah tidak pernah kembali kontrol ke dokter manapun. Hingga saat ini saya tidak pernah memeriksakan mata saya kecuali ke optik saat membeli kacamata saja.

 

KONDISI SAAT INI

Hingga akhir September 2015 kondisi mata saya semakin stabil meski saya tidak pernah ke dokter lagi. Saya hanya menggunakan obat tetes EyeFresh atau Hialid (kadang-kadang).

Untuk minus di mata saya hasil pemeriksaan di optik Melawai adalah minus 1.5 (mata kiri) dan 1.25 (mata kanan). Sedangkan untuk plus atau rabun dekat saya adalah +2.00 di kedua mata (turun 0.5).

Dari 3 (tiga) keluhan saya saat itu yaitu:
1. Mata kiri saya masih “ngeres” terasa mengganggu sekali (mata kanan tidak)
2. Di Mata kiri dipinggir kornea ada seperti “lemak” atau apalah, saya menduga itu adalah bekas sayatan
3. Mata kiri dan kanan saya menjadi tidak jernih, saya rasakan semakin kotor. Pandangan mata saya seperti ada benda2 terbang seperti kapas atau debu.
Dimana perkembangannya adalah sebagai berikut:

Keluhan 1
Sudah tidak terlalu sering saya rasakan. Mata ngeres atau kessed saya rasakan akan muncul di sore hari atau jika sudah lama membaca atau kerja di komputer. Sehingga saya harus teteskan EyeFresh atau saya beristirahat untuk bekerja. Secara umum mata kiri saya tidak terlalu ngeres seperti dulu lagi, walaupun tetap saya perlu obat tetes disaat dirasakan diperlukan.

Keluhan 2
Sedangkan untuk goresan atau seperti bekas sayatan di mata kiri jika saya perhatikan sudah tidak ada lagi. Sepertinya luka sayatan itu sudah hilang. Saya tidak bisa memastikan dengan cermat karena mata saya tidak bisa melihat dekat dengan baik saat berkaca dicermin, namun jika saya bandingkan dengan kondisi dahulu dimana goresan itu terlihat walau tanpa kacamata maka saat ini goresan tidak terlihat lagi.

Keluhan 3
Untuk keluhan mata kiri dan kanan saya yang terasa keruh dan tidak jernih, masih saya rasakan hingga saat ini. Namun hal ini tidak mengganggu sekali. Meski demikian saya pikir akan lebih baik jika bisa dihilangkan. Artinya saya ingin kembali bisa jernih.

 

RENCANA KE DEPAN…

Saya masih belum memiliki rencana pasti ke depan untuk mengatasi masalah mata saya ini. Terutama untuk keluhan ke 3 dimana mata saya terasa keruh seperti ada rambut atau debu yang beterbangan di mata.
Tadinya saya ingin ke Singapore, saya sudah survei beberapa Rumah Sakit di negeri Singa itu, tapi saya belum konsultasi dan menemukan dokter yang tepat dan waktu yang pas untuk pergi ke sana.
Saya juga masih berpikir-pikir untuk pindah ke Rumah Sakit lain. Saya khawatir jika pindah Rumah Sakit maka akan “dikerjain” lagi. Bisa jadi dibisnisin lagi sehingga saya harus jalanin proses yang macem-macem lagi. Karena saya operasi di JEC sementara mereka yang kebagian cuma “beresin” doang.

Alternatif yang lain adalah kemungkinan saya kembali ke JEC dengan mengganti dokter oleh dokter yang lain, namun pilihan inipun masih saya pertimbangkan lagi.

Yang jelas kondisi saat ini sudah cukup lumayan, saya hanya minum vitamin dan gunakan tetes mata saja. Selebihnya berdoa saja semoga mata saya tidak ada masalah.

 

 

 

karllagerfeld

Pasca Operasi Mata (Katarak) “Phacoemulsification”

Melanjutkan kembali cerita saya sebelumnya tentang pengalaman saya operasi mata Phacoemulsification yang sudah saya tulis DI SINI.

Terakhir saya datang kontrol ke JEC tanggal 10 Juni 2015. Kedatangan saya itu seharusnya untuk yang terakhir namun “ternyata” saya diharuskan untuk kembali lagi setelah lebaran untuk kontrol lagi. Belum sampai setelah lebaran pada tanggal 29 Juni 2015 hari Senin saya merasakan mata sebelah kiri selain terasa ngeres juga gatal, nyeri di pelupuknya dan kedutan. Saking gatalnya senin malam saya tidak bisa tidur, saya mau kucek tapi takut, ga dikucek mata saya gatel banget. Selain itu mata kiri saya masih terasa kessett/ngeres ga hilang2 sejak pasca operasi dulu.

Hari Selasa saya rencananya mau ke JEC periksakan mata saya, tapi ternyata ada kabar dari kantor saya yang dulu (Badan Regulator) bahwa hari Rabu tgl 1 Juli 2015 jam 08.00 pagi saya dijadwalkan meeting dengan Direktur PAM Jaya yang baru. Ya udah saya pikir sekalian aja, abis meeting yang saya perkirakan jam 10.00 sudah selesai saya akan ke JEC. Saya sudah booking malam sebelumnya melalui JEC Apps for Anfroid utk kontrol dengan Dr. Johan Rabu siang.

 

KONTROL LAGI (RABU TANGGAL 1 JULI 2015)

Tanggal 1 Juli 2015 saya meeting di kantor PAM Jaya sampai jam 12.00 siang ternyata. Selesai meeting dengan pak Dirut dan Direksi PAM Jaya lainnya saya kemudian bergegas ke JEC Menteng. Seperti biasa saya diperiksa di ruangan BDR. Hasil periksa di ruang BDR cukup melegakan saya karena ternyata mata kiri dan kanan minusnya sama yaitu -1.50 dan plusnya adalah +2.5 (artinya plusnya tidak berubah). Sehingga saya cukup lega namun demikian masih terdapat masalah yaitu mata kiri saya yang terasa ngeres dan gatelnya yang nanti akan ditanyakan ke Dr. Johan.

Selesai dari BDR seperti biasa menunggu panggilan di depan ruang dokter di ruang 4E. Setelah saya menunggu kemudian saya dipanggil. Langsung saya utarakan semua masalah saya. Dokter katakan bahwa mata yang ngeres dan gatal itu semua satu paket. Untuk itu saya diberikan obat lagi yang baru, yaitu: FML Neo ED, Hialid ED dan Nutrivision.
- FML Neo ED dan Hialid ED adalah obat tetes yang diteteskan di mata kiri dan kanan 4X sehari
- Nutrivision adalah vitamin kapsul yang diminum 2X sehari.

Pada kesempatan ini saya sampaikan juga bahwa obat Protagenta yang diresepkan oleh dr Johan tanggal 10 Juni 2015 ternyata terasa pedih dimata. Dokter hanya merespon biasa saja, dia katakan agar obat itu jangan digunakan lagi. Selanjutnya dokter meminta saya untuk kontrol kembali 2 minggu lagi, pas sebelum lebaran. Saya pun meninggalkan ruangan periksa.

Saya perhatikan di JEC ada sistem baru terkait pemanggilan pasien berikutnya, dimana pasien yang masih berbicara dengan dokter tapi bel panggilan di luar sudah dibunyikan oleh susternya, sehingga pasien berikutnya sudah siap-siap masuk sementara kita masih ada perbincangan dengan dokter. Saya perhatikan ini tidak hanya berlaku buat saya saja tapi pasien sebelumnya juga demikian. Sistem baru ini menurut saya tidak bagus, seolah-olah pasien diusir buru-buru keluar dari ruangan. Menurut saya sebaiknya panggilan pasien berikutnya dibunyikan ketika dokter dan pasien betul-betul sudah selesai berbincang.

Kontrol tanggal 1 Juli 2015 ini, saya mengeluarkan biaya sebesar:
- Administrasi Rp. 50.000,00
- Pemeriksaan Awal Rp. 105.000,00
- Konsultasi Dokter Rp. 280.000,00
- Obat Rp. 525.000,00
Total hari ini saya keluarkan biaya Rp. 960.000,00

 

KONTROL TANGGAL 15 JULI 2015 

Tanggal 15 Juli 2015 saya datang lagi ke JEC untuk kontrol lagi. Seperti biasa saya daftar dulu di loket lantai dasar kemudian diarahkan ke BDR di lantai 4. di BDR saya diperiksa, dan hasilnya sedikit melegakan karena tekanan bola mata normal dan minus mata saya menurun. Mata kiri jadi -1.50 dan mata kanan -1.25, sedangkan untuk plus nya kedua mata tetap +2.5. Selesai dari BDR saya dipersilahkan tunggu panggilan di depan ruangan 4E seperti biasa, itu adalah ruangan dokter Johan.

Pada konsultasi kali ini saya memiliki 3 keluhan yaitu:
1. Mata kiri saya masih “ngeres” terasa mengganggu sekali (mata kanan tidak)
2. Di Mata kiri dipinggir kornea ada seperti “lemak” atau apalah, saya menduga itu adalah bekas sayatan
3. Mata kiri dan kanan saya menjadi tidak jernih, saya rasakan semakin kotor. Pandangan mata saya seperti ada benda2 terbang seperti kapas atau debu. Dahulu saya tidak rasakan ini.

Saya akhirnya dipanggil. Langsung saja saya utarakan permasalahan saya tersebut. Untuk masalah mata saya yang masih ngeres dr. Johan tetap sarankan saya gunakan protagenta. Ketika saya katakan protagenta itu rasanya perih di mata dan saya ingatkan saya sudah laporkan ini beberapa waktu lalu, dr. Johan seperti kaget dan teringat. Ternyata menurut dr. Johan, pabrikan dari Protagenta melakukan kesalahan pada batch obat yang saya gunakan, karena pada batch obat saya itu terjadi kontaminasi dalam mencampur obat, protagenta saya tercampur dengan bahan pengawet yang membuat obat tersebut menjadi perih di mata. Atas kejadian ini obat saya boleh ditukarkan. Saya terus terang kaget dengan kejadian ini, kok bisa seperti itu pabrik obat membuat kesalahan di obat mata, masih untung tidak fatal, bagaimana jika tercampur dengan obat yang keras dan berbahaya?

Protagenta PolyvinylPyrrolidone

Protagenta PolyvinylPyrrolidone

Saya sudah pesimis sebenarnya dengan solusi dokter Johan yang masih gunakan Protagenta untuk masalah mata saya yang ngeres ini. Sedangkan untuk masalah kedua yaitu ada guratan seperti “lemak” di dekat kornea mata kiri saya dr. Johan mengkonfirmasi dugaan saya bahwa itu adalah sayatan bekas pisau operasi. Sayangnya dr. Johan tidak menjelaskan lebih detail itu apa hanya menegaskan itu tidak lah berbahaya. Saya sih melihat di mata kanan tidak ada guratan seperti itu, dan mata kanan saya tidak ada keluhan mata yang terasa ngeres seperti di mata kiri, sehingga analisa awam saya itulah yang membuat mata kiri saya terasa tidak nyaman. Namun dokter berkesimpulan lain.

Sedangkan untuk masalah ketiga, dimana saya merasakan kedua mata saya menjadi keruh, pandangan tidak jernih karena terasa seperti ada debu-debu dimata dr. Johan melakukan pemeriksaan dan ia katakan bahwa bola mata saya kotor dan perlu dibersihkan dengan teknik laser yang perlu biaya lagi. Sementara ini saya minta gunakan obat saja, dan tidak mau untuk jalani laser karena akan butuh biaya lagi dan melihat perkembangan pengobatan.

Dokter Johan hanya berikan obat tetes EyeFresh sesuai permintaan saya jika saya merasa mata saya masih tidak nyaman. Selesai konsultasi dr. Johan bilang agar saya kembali lagi 3 minggu lagi. Saya pun melangkah pergi dengan lesu.

Kontrol tanggal 15 Juli 2015 ini, saya mengeluarkan biaya sebesar:
- Administrasi Rp. 50.000,00
- Pemeriksaan Awal Rp. 105.000,00
- Konsultasi Dokter Rp. 280.000,00
- Obat Rp. 33.000,00
Total hari ini saya keluarkan biaya Rp. 468.000,00

Saya memang sudah tidak terlalu yakin dengan konsultasi saya hari itu. Terbukti hingga tanggal 21 Juli 2012 mata kiri saya tetap terasa ngeres dan sekarang tambahan persoalannya adalah mata yang tidak jernih alias terasa ada kotorannya. Tanggal 20 Juli 2015 saya kirim email ke dr. Johan untuk jelaskan semua kekecewaan saya dan saya sudah tidak akan kembali untuk kontrol lagi dengan beliau. Saya sudah kecewa dengan kondisi ini. Saya masih bisa terima dengan kondisi minus di mata saya yang tidak bisa nol, tapi saya kecewa dengan permasalahan mata saya yang ngeres dan belum juga terselesaikan padahal sudah hampir 2 bulan lebih sejak operasi Phaco.

Dengan kejadian ini saya berencana untuk melanjutkan pengobatan di Singapore seperti saran teman saya dulu sebelum saya operasi ke JEC. Saya dulu masih coba untuk percayai rumah sakit di Indonesia tapi dengan kejadian ini saya sudah apatis. Menurut saya dokter dan rumah sakit di Indonesia belum bisa memberikan pelayanan yang maksimal bagi pasiennya. Semoga saya bisa menabung kembali untuk berobat ke Singapore suatu saat nanti.

 

 

 

banner

Cerita Pengalaman Operasi Mata (Katarak) “Phacoemulsification”

Saya sejak kecil sekitar kelas 4 SD (sekitar tahun 1986) sudah pakai kacamata. Waktu itu saya sudah mengeluhkan tidak bisa melihat tulisan di papan tulis. Ibu saya ketika itu tidak mendengarkan keluhan saya karena dianggapnya hanya latah ikut-ikutan ingin pakai kacamata seperti teman-teman saya yang sudah pakai kacamata duluan. Tapi akhirnya saya dibawa Bapak & Ibu saya ke dokter mata di Klinik Pala Farma Jl. Mawar Perumnas Depok 1. Hasil analisa dokter mata saya minus beneran bukan latah. Untuk mata kanan minus 2,5 dan kiri minus 3,25. Pulang dari dokter Bapak saya sedih karena saya harus pakai kacamata, dan saya lebih sedih lagi karena mulai saat itu kehidupan saya berubah (lebayyy mode ON :) )

 

minus tinggi

Minus tinggi

 

MATA SAYA YANG MINUS TINGGI …

Sejak saat itu saya jadi sulit dalam beraktivitas, karena minus saya termasuk langsung tinggi (kanan -2,5 dan kiri -3,25). Bangun tidur jadi harus langsung ambil dan pake kacamata. Saya sangat aktif sebelumnya, hobby saya maen sepak bola, berenang, main sepeda, maen layangan dll pokoknya aktif kesana kemari. Akibat pakai kacamata maka saya menjadi sulit beraktivitas seperti berolahraga dll. Pokoknya memakai kacamata itu amat sangat tidak menyenangkan. Anehnya penglihatan saya semakin dewasa makin memburuk. SD kelas 6 mata saya menjadi kanan -3 dan -5. Kemudian SMP meningkat menjadi mata kanan -5 dan -7. Di SMA semakin parah mata kanan saya -7 dan kiri -9. Lulus SMA mata kanan saya -9 dan yang kiri -11. Di Bangku kuliah juga minus saya tidak berhenti, mata kanan menjadi -11 dan kiri -13. Hingga akhirnya saya sudah bekerja (usia sudah diatas 25 tahun) minus saya mulai stabil di angka kisaran kanan -11 dan kiri -13. Walaupun demikian sampai usia 37 tahun kemarin, saya cek mata saya masih naik minusnya menjadi kanan -12.25 dan kiri -14, tapi saya memakai kacamata tetap dengan ukuran kanan -12.00 dan kiri minus -13.75.

Minus ku

Minus ku

Memakai kacamata itu sedih banget lho. Membatasi gerak dan aktivitas kita. Apalagi dulu cita-cita saya ingin menjadi pemain sepak bola. Selain itu yang bikin saya stress, jaman saya masih kecil, tahun 80-90 an harga kacamata dan lensa itu masih mahal. Belinya kudu di optik yang belum semenjamur sekarang. Kacamata dan lensa itu baru mulai murah ketika muncul pusat perbelanjaan ITC di tahun 2000 -an. Sejak era ITC itu kacamata menjadi lebih terjangkau. Saya juga lebih mudah membeli kacamata, apalagi minus saya juga makin tinggi sehingga lensa harus ditipisin kalo ga ditipisin bisa tebel banget kayak pantat botol.

Saya ingat jaman saya kecil, saya tidak bisa dengan mudah ganti frame (bingkai) kacamata :( Kacamata masih barang mewah, apalagi jaman saya SD-SMP-SMA kehidupan keluarga saya lagi susah. Akibatnya saat SMA saya mesti nunggu lungsuran kacamata dari om saya yang kerja di Luar Negeri (kebayang kan  frame ukuran dan model untuk orang tua dipake ama remaja, kayak apa diwajah saya? :) ). Atau kalo ibu ada sedikit rejeki lebih saya bisa dibeliin atau ganti kacamata. Dulu sering banget saya benci ama mata saya dan benci ama keadaan ini, benci harus berkacamata dan benci karena ga bisa beli.

Saat saya masih sekolah harga lensa kontak saat itu masih belum terjangkau. Selain itu perawatannya merepotkan. Tante saya pake softlens. Buat cewe sepertinya softlens lebih cocok, tapi kalo buat cowo jangan harap deh! Ga telaten merawat nya dan merepotkan. Saya baru pake softlens ketika sudah bekerja. Itupun tidak berlangsung lama, saya bosan dan mata saya tidak terlalu cocok dengan softlens karena mata saya cenderung kering, kurang becek (Padahal saya doyan banget makan timun lho… #apasih??) :) Jadinya softlens hanya betah dipake beberapa bulan saja atau dipake saaat saya ada acara penting, selebihnya saya balik lagi pake kacamata.

Persoalan lain dengan minus yang tinggi, walopun lensa sudah ditipiskan tetap saja akan tebal di sisi pinggirnya. Tebalnya lensa juga jadi problem dengan frame nya, saya tidak bisa pake frame kacamata yang hanya setengah saja bingkainya yang saat ini sedang trend. Saya harus pake bingkai yang full mengelilingi lensa. Selain itu lensa yang tebal mengakibatkan selalu melebihi tebalnya bingkai. Jadi kalo dilihat dari sisi samping pasti keliatan kalo lensa nya tebal. Saya tidak pernah punya frame (bingkai) kacamata yang sama dengan tebalnya lensa, selalu lensa lebih tebal dari bingkai. Selain itu saya tidak bisa menggunakan sun-glasses kecuali dengan menggunakan soft-lens. Karena sun-glasses hanya bisa sampai minus 6. Minus yang lebih dari itu tidak bisa diakomodir oleh sun-glasses.

Saya sih ga merasa dengan berkacamata penampilan saya jadi jelek, toh dengan kacamata saya jadi “sedikit” “terlihat” pintar (padahal otaknya cabul) :D Saya masih pede dengan kacamata saya yang tebal. Tapi yang saya sedih karena saya ga bisa beraktivitas seperti apa yang saya inginkan. Bahkan cita-cita saya sewaktu kecil jadi pemain sepak bola harus saya kuburkan sejak awal. Selain berkacamata saya juga berbadan kecil dan kurus sehingga memang tidak bisa jadi olahragawan :(

Masih ga percaya kalo minus saya tinggi?? liat aja foto berikut ini …

minus
Halah bilang aja mau narsis lagi heheheh  :)

 

MIMPI SAYA UNTUK LASIK

Saya lupa tahun berapa ada teknologi LASIK masuk Indonesia, yang jelas begitu tau Lasik rasanya pengen banget di Lasik. Ternyata harganya mahal banget. Selain itu minus mata saya belum berhenti masih nambah terus. Dari informasi/bacaan yang saya pelajari katanya belum bisa di LASIK. Udah gitu masih banyak orang yang belum yakin dengan teknologi LASIK. Saya pribadi juga masih ragu, apalagi teknologi ini kan masih baru, kita belum tau efek samping, efek depan dan efek belakangnya :)

Tapi yang paling krusial dalam menentukan saya akan LASIK atau tidak adalah masalah DUIT :) Karena MUAHAL banget buat saya dan saya tidak punya uang yang berlebih, maka untuk itu saya mulai menabung untuk bisa LASIK. Dengan harapan jika nanti rejeki sudah terkumpul saya ingin di LASIK dan terbebas dari kacamata. Selama menunggu tabungan saya cukup, saya pelajari dulu pengalaman orang-orang yang sudah menjalani LASIK. Sehingga saya punya informasi yang cukup dan makin yakin untuk di LASIK.

Artikel tentang pengalaman orang lain yang sudah menjalani Lasik yang saya jadikan referensi diantaranya adalah:
https://matalasik.wordpress.com/2011/07/13/catatan-lasik/#more-3
http://www.ilmuterbang.com/blog-mainmenu-9-60730/blog-umum-mainmenu-82/745-pengalaman-menjalani-tindakan-lasik
Terimakasih saya ucapkan kepada para penulis blog tersebut yang bisa menjadi referensi saya dalam memutuskan untuk di LASIK.

 

BUKAN LASIK TAPI “PHACOEMULSIFICATION”

Desember 2014 saya merasa waktunya sudah tiba. Celengan saya sudah bisa dipecahin dan saya siap untuk di LASIK. Berbekal artikel di blog tentang pengalaman orang-orang yang sudah melakukan LASIK, juga browsing sana sini maka pilihan saya tetapkan untuk di LASIK di JAKARTA EYE CENTER (JEC). Selain itu saya tetapkan juga dokter mata yang saya pilih adalah Dr. Johan A. Hutauruk, SpM. Pemilihan ini saya lakukan hanya berdasarkan browsing saja, saya tidak memiliki referensi dari siapapun. Dari hasil penelusuran saya, sepertinya Dr. Johan ini cukup kooperatif dan komunikatif dengan pasiennya.

Tanggal 20 Desember 2014 saya menuju JEC cabang Kedoya, karena saya kos di Pejompongan jadi saya pikir lebih dekat dan gampang ke Kedoya. Seingat saya sebelumnya melalui telepon saya sudah booking untuk konsul dengan dr. Johan. Beliau ada di Kedoya setiap Senin dan Jumat jam 09.00-11.00 WIB. Saya datang ke JEC sendiri. DI JEC Kedoya saya diterima petugas receptionist untuk di data dan ditanya sudah janji dengan dokter siapa? Karena saya pasien baru maka sekaligus membuat kartu pasien JEC.

Dari situ saya di arahkan ke Lantai 3 (kalo gak salah) untuk tunggu giliran konsul ke dokter. Sebelum dipanggil untuk konsultasi dengan dokter saya dipanggil untuk periksa mata di ruang BDR (Basic Diagnostic Room). Selesai periksa di BDR saya kembali menunggu dipanggil untuk konsul dengan dr. Johan. Tidak lama kemudian saya dipanggil untuk konsultasi dengan dr. Johan.

Kesan saya pertama bertemu dr. Johan beliau ramah dan komunikatif dengan pasien. Setelah saya sampaikan maksud tujuan saya konsul yaitu untuk operasi LASIK, beliau langsung periksa mata saya. Dari hasil pemeriksaan beliau diketahui bahwa lensa mata saya sudah rusak dan keruh, dimana bagian tepi-tepinya itu sudah keruh berwarna keputihan. Saya diperlihatkan kondisi lensa mata saya di komputer hasil pemotretan dengan alat sambil dijelaskan dengan baik oleh dr. Johan. Saya kemudian disarankan untuk menjalani tindakan PHACOEMULSIFICATION dan bukan menjalani LASIK.

Waduh apa pula Phacoemulsification ini? saya sempat bingung. Penjelasan singkat dr. Johan tindakan Phacoemulsification ini adalah tindakan untuk mengganti lensa mata saya yang sudah rusak dengan lensa baru. Tindakan ini lazimnya dilakukan kepada mereka yang matanya Katarak. Sehingga bisa dibilang mata saya selama ini katarak. Dengan tindakan ini menurut dr. Johan selain saya bisa menghilangkan katarak juga bisa mengurangi minus di mata saya dengan menggunakan IOL Master. Dokter juga menjelaskan kemungkinan minusnya tidak bisa hilang sama sekali atau 0 (nol) dan sebagai kompensasinya mata saya akan ada plus nya.

Saya lumayan happy denger penjelasan ini artinya saya masih punya harapan tidak pakai kacamata lagi atau minimal minus saya jadi kecil :) saya diberi resep vitamin untuk diminum sambil sambil menunggu kapan saya akan menentukan waktu untuk di operasi phacoemulsification ini. Oh ya biaya tindakan Phacoemulsification ini adalah Rp. 13.750.000,00 / mata. Harganya lumayan yah … untuk tarif operasi di JEC selengkapnya bisa di cek di link ini http://jec.co.id/services/refractive-surgery-service/tarif-operasi-katarak

Untuk konsultasi pertama ini biaya yang saya keluarkan adalah sebesar:
- Konsul dokter dan periksa Rp. 430.000,00
- Vitamin saya tebus setengah saja Rp. 120.000,00
Total biaya yang saya keluarkan adalah Rp. 550.000,00

 

CARI TAU TENTANG “PHACOEMULSIFICATION”

Di rumah saya cari tau apa itu Phacoemulsification. Kok rasanya aneh di telinga saya yang sudah familiar dengan LASIK. Saya kunjungi laman website JEC tapi saya tidak temukan tentang Phacoemulsification ini (tepatnya saya yang salah mencarinya). Saya googling ga nemu, karena saya dengernya operasi ini adalah “Veco” jadi saya salah googling :) Akhirnya saya email saja pak dr. Johan, eh dibalas oleh beliau… beruntung sekali beliau mau melayani pasien di luar jam praktek dan tengah kesibukannya. Email saya di jawab oleh beliau yang mengkoreksi bukan Veco tapi Phaco. Plus saya diberikan link untuk cari tau tentang Phacoemulsification ini.

Email dari pak dr. Johan

Email dari pak dr. Johan

Dr. Johan ini memang sangat informatif, saya mengkonfirmasi untuk kedua kalinya melalui email terkait minus saya yang akan hilang dengan tindakan phaco ini dan berikut biaya nya, beliau masih berkenan menjawabnya.

Email dari dr. Johan yg ke 2

Email dari dr. Johan yg ke 2

Dari email dr. Johan tersebut saya jadi bisa browsing untuk cari tau apa itu Phacoemulsification. Penjelasan di wikipedia bahwa:

“Phacoemulsification refers to modern cataract surgery in which the eye‘s internal lens is emulsified with an ultrasonic handpiece and aspirated from the eye. Aspirated fluids are replaced with irrigation of balanced salt solution, thus maintaining the anterior chamber, as well as cooling the handpiece.

The term originated from phaco- (Greek phako-, comb. form of phakós, lentil; see lens) + emulsification.[1]

http://dictionary.reference.com/browse/Phacoemulsification

Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Phacoemulsification

Phacoemulsification

Phacoemulsification

Sementara setelah saya cari di laman JEC, maka diketahui bahwa:

“Teknologi fakoemulsifikasi sendiri kini telah disempurnakan dengan apa yang disebut Cold Phacoemulsification evolusi dari teknologi fakoemulsifikasi konvensional, dimana jarum gelombang ultrasonik tidak lagi menimbulkan panas yang dapat menyebabkan iritasi pada mata pasien dan sayatan juga sangat kecil sehingga pemulihan menjadi lebih cepat. Lalu apa yang menjadi kelebihan “Cold Phacoemulsification“? Prosedur katarak menjadi sangat efisien, cepat, dan menurunkan resiko terjadinya panas yang sering diakibatkan atau ditimbulkan oleh mesin-mesin katarak konvensional. Perlu diketahui apabila terjadi luka bakar, penyembuhan menjadi terhambat dan ada kemungkinan timbulnya silindris di kemudian hari. Luka pada mata pasien akan terbuka dan yang seharusnya tidak memerlukan jahitan menjadi harus dilakukan jahitan. Dengan Cold Phacoemulsification, sayatan hanya sebesar (1,8 – 2,0 mm), sehingga prosedur operasi tidak lagi memerlukan jahitan. Cold Phacoemulsification adalah teknologi yang sangat membantu para dokter melakukan tindakan secara tepat dan cermat, sehingga membuat waktu operasi menjadi lebih cepat dengan tingkat komplikasi yang sangat minimal. Prosedur pemasangan lensa tanam pengganti lensa katarak dimasukkan dengan cara dilipat.”

Sumber: http://jec.co.id/services/refractive-surgery-service/cataract/

Masih dari laman tersebut, diketahui pula bahwa gejala terjadinya Katarak adalah:
1. Penglihatan buram atau berkabut, bahkan sampai tidak bisa melihat
2. Peka terhadap sinar atau cahaya
3. Sering ganti kacamata, karena ukurannya mudah berubah
4. Pada keadaan terang, mata terasa silau
5.
Penglihatan diruang gelap lebih jelas dibandingkan di ruang terang.
6.
Kadang penglihatan pada suatu mata menjadi dua (ganda)

Pantas saja saya selama ini dari 6 gejala tersebut memang mengalami 4 hal diantaranya yaitu:
1. Peka terhadap sinar atau cahaya
2. Sering ganti kacamata, karena ukurannya mudah berubah
3. Pada keadaan terang, mata terasa silau
4. Penglihatan diruang gelap lebih jelas dibandingkan di ruang terang.

Sehingga dari sini saya semakin yakin bahwa saya memang memiliki masalah mata katarak yaitu lensa mata yang keruh. Padahal katarak itu biasanya menyerang orang yang sudah tua, tapi saya kok yang masih muda udah katarak ya? ternyata muda nya hanya “perasaan” saya saja hahahaha atau muda diluarnya, tapi didalamnya udah uzur :D

 

TIBA SAATNYA …

Setelah pertemuan pertama tanggal 20 Desember 2014 selanjutnya saya disibukkan dengan pengerjaan tesis saya untuk program Magister Manajemen di STIE Indonesia Banking School. Ternyata pengerjaan tesis ini memang menyita waktu, dan yang saya khawatirkan jika tindakan phaco dilakukan saat itu maka proses pemulihannya bisa membuat saya tidak mampu mengerjakan tugas dan beraktivitas dengan lancar dan akan mengganggu pengerjaan tesis saya. Sehingga jika tadinya saya rencanakan Januari atau Februari untuk jalani tindakan Phaco maka rencana itu saya geser menjadi setelah tesis saya selesai.

Untuk cerita saya tentang Indonesia Banking School silahkan klik disini.

Singkat cerita, Tesis saya selesai dan sidang di bulan Maret, dan saya lulus dengan nilai A (pamer dikit ah…) :) Akhirnya saya bulatkan tekad untuk langsung jalani tindakan Phaco setelah sidang. Saya hubungi pak dr. Johan via email dan utarakan maksud saya tersebut. Ternyata dr. Johan sepanjang April sering ke luar negeri, waduuhh. Sehingga sulit juga saya atur jadwalnya. Ya sudah saya atur jadwal melalui assisten dr. Johan yaitu mbak Igetha (Ige) untuk atur jadwal tindakan Phaco di bulan Mei saja.

Mbak Ige kemudian telepon saya untuk jadwalkan tindakan pada hari Selasa 5 Mei 2015. Sebelum hari-h suster Ige sampaikan kepada saya agar saya periksa darah rutin untuk mengetahui kondisi kesehatan saya (apakah ada gula, diabetes dan sejenisnya). Suster Ige sudah sarankan saya periksa di laboratorium di deket rumah saja, tidak perlu ke JEC. Saya ingin gampang maka saya pilih ke JEC Menteng, padahal di Cideng ada Prodia tapi saat itu akses ke Cideng macet. Ternyata cek lab di JEC itu mahal, biayanya sampai Rp. 860.00. Nyesel juga saya ga cek ke Prodia aja, tau gitu kan saya bisa hemat :( saya ga menuruti arahan suster Ige.

Untuk periksa lab ini biaya yang saya keluarkan adalah sebesar:
- Admin Pasien Rp. 50.000,00
- Paket cek Lab Rp. 810.000,00
Total biaya yang saya keluarkan adalah Rp. 860.000,00

Ya sudah lah, yang penting saya sehat dan bisa jalani tindakan phaco. Hari Kamis saya ke lab JEC untuk periksa lab, hasilnya sudah bisa keluar sabtu, karena Jumat libur, dan hasilnya pun katanya akan disampaikan langsung saja ke dokter jadi saya tidak perlu ambil. Hari Senin saya dikabari mba Ige bahwa hasil labnya ga ada masalah, saya bisa jalani tindakan Selasa besok pada jam 10 pagi. Wah senang rasanya mendapat kabar ini :)

Selasa 5 Mei 2015 saya cuti dari kantor. Saya sudah tidak sabar untuk jalani tindakan Phaco ini. Tadinya saya mau jalan sendiri kesana, tapi saya pikir lebih baik saya ditemani oleh seseorang takutnya nanti ada apa2. Maka saya ajak teman kantor saya, bangbro Sayuti. Kita pun meluncur ke JEC Menteng sekitar jam 9.00 dari Pejompongan. Sampai disana kami langsung daftar di pendaftaran lantai bawah, lalu di perintahkan langsung ke lantai 5 yaitu ruangan operasi.

Sebenarnya saya memang orangnya kalo kemana2 jarang mau ditemenin, termasuk ke Rumah Sakit sekalipun. Selama ini saya kalo sakit datang ke RS sendiri, bawa tas ransel, kalo hasil lab bilang kudu dirawat inap ya udah saya daftar sendiri, trus telpon orang rumah ga usah khawatir saya sudah di RS dan sudah dirawat inap hahahaa :D Saya lebih asyik aja rasanya kalo jalan sendiri. Apalagi saya kan single, jadi emang ga biasa kalo jalan pake ditemenin orang lain.

Tapi memang ternyata untuk jalani tindakan ini harus ada pendampingnya. Saya tidak diberitahu sebelumnya oleh siapapun di JEC. Tapi sewaktu daftar di lantai 5 untuk operasi saya ditanya didampingi siapa? dan agar yang mendampingi isi formulir dan tanda tangan. Wah untung aja saya ajak Sayuti teman saya dari kantor. Saya liat yang lain juga gitu sih, setiap pasien yang akan jalani tindakan tidak ada yang datang sendirian pasti didampingi keluarga nya. Saran saya: jika anda hidup sendiri atau suka sendirian kayak saya, untuk jalani tindakan phaco atau lasik di JEC carilah teman untuk dampingi, minimal yang bisa isi formulir dan tandatangan.

Di ruang tunggu lantai 5 itu saya menunggu bersama teman saya, kemudian saya dipanggil untuk masuk ruang pre-operasi. Masuk ruangan itu sandal harus di lepas di ruang tunggu. Kemudian saya dibawa keruang ganti baju, disitu saya ganti pakaian untuk operasi dan pakaian serta barang2 saya yang lain masuk di loker. Selesai ganti pakaian dan urusan di loker maka saya masuk ke ruang tunggu operasi. Disitu saya ditetesin obat tetes beberapa kali sambil nunggu ruang operasi dan dokternya siap. Sepertinya obat tetes yang diberikan itu semacam obat bius lokal, saya juga ga tau pasti sih (ga nanya-nanya).

 

TINDAKAN PHACO TAHAP-1

Akhirnya sekitar jam 11.30 an saya masuk ruangan operasi. Saya termasuk tipe orang pemberani di rumah sakit, karena saya familiar dengan kondisi rumah sakit sejak kecil. Saya dulu sering sakit-sakitan jadi ama Rumah Sakit itu udah biasa. Lihat dokter atau suster perawat itu saya sudah biasa. Tapi mulai deh masuk ruangan tindakan saya jadi deg degan. Padahal diruangan itu sudah disetel musik tapi saya tetap nervous :) Lagu “Lumpuhkanlah Ingatanku” dari Geisha dengan suara Momo yang merdu tidak bisa menghilangkan deg degan saya :) (dalem juga nih lagunya si perawat2 ini ;) ). Perawat diruangan ada 2 orang saya ga tau mereka perawat atau anastesi. Dokternya belum masuk ke ruangan. Saya didudukan dan kemudian tidur dengan posisi terlentang di kursi operasi yang telah disiapkan.

Foto saya ambil dari website JEC

Foto saya ambil dari website JEC

Sebelum dokter masuk para perawat menyiapkan saya, tangan kiri saya di jepit dengan alat yang terhubung ke monitor detak jantung. Kemudian kedua mata saya ditutup dengan penutup plastik yang nempel/lengket dengan mata, agar mata saya tetap melek/terbuka. Oh ya sesuai arahan dokter mata yang akan dioperasi terlebih dahulu adalah mata kiri, baru minggu depan adalah mata kanan. Dokter masuk ke ruangan, beliau sapa saya dan memberikan arahan agar saya berdoa agar operasi berjalan lancar. Beliau juga sampaikan operasi akan berlangsung selama 7 menit saja.

Penutup plastik tadi seperti plastik yang buram tidak terlalu jernih, tapi dokter bisa liat mata saya, hal ini terbukti dimana dia minta mata saya melotot dan bola mata diarahkan kebawah. Sementara sinar terang menyorot mata saya. Saya tidak merasakan apa-apa. Sewaktu plastik dibagian mata dibuka oleh dokter entah dengan apa (sepertinya disayat) saya tidak merasakan sakit atau nyeri. Tapi saya bisa rasakan sepertinya mata saya diairin, kemudian seperti agak tertekan di bola mata, agak pegel juga karena melek terus dan ada yg dikerjakan di mata saya. Jadi rasa nervous tapi campur ama penasaran.

Proses operasi Phaco (ilustrasi ini diambil dari internet)

Proses operasi Phaco (ilustrasi ini diambil dari internet)

Dr. Johan sangat komunikatif, setiap prosedur diucapkan dengan lantang sehingga saya tau apa yang sedang dikerjakan. Termasuk ketika lensa saya diganti dengan lensa baru, dokter Johan bilang: “yukk masuk lensa nya yuk”. Terus dimata saya seperti agak tertekan kemudian ada suara mesin berdenging sepertinya mengerjakan sesuatu :) wah pokoknya kalo yang takut ama tindakan operasi pasti takut deh. Walopun ga ada rasa sakit sama sekali. Tidak lama pak dokter bilang: “yak operasi selesai, cuma 6 menit”.

Buseee… cepet juga yah ternyata cuma 6 menit, tapi rasanya kayak puluhan menit :) Saya lega juga operasi sudah selesai. Saya masih merem takut melek. Kata perawatnya sambil nyopotin alat monitor jantung bilang: “Udah pak bangun, buka aja mata nya gapapa kok”. Saya takut-takut, takut perih atau gimana. Saya buka mata saya pelan-pelan dan woaaaa….. saya bisa langsung liat. Pandangan saya jadi jelas dan terang. Terutama mata kiri saya. Tapi kalo mata kiri saya tutup mata kanan saya tetap masih rabun jauh, karena kan belum di operasi. Saya senang bukan kepalang, masalahnya dengan mata kiri yg lensanya baru dan kanan masih minus -12.00 saya sudah bisa lihat yang jauh-jauh. Cuma kondisi abis operasi ini mata saya seperti mata kelilipan jadi saya masih suka keluar air mata .

Saya langsung dituntun ke ruang tunggu saat mau dioperasi tadi. Kursi tunggunya enak, nyaman buat tiduran, plus kita dikasih selimut karena ruangan nya dingin. Saya juga dikasih roti dan air minum. Diruangan itu saya menunggu sampai diijinkan pulang plus secara berkala saya ditetesin obat di mata. Sekitar 1 jam saya menunggu kemudian saya diijinkan pulang. Saya ke ruang ganti pakaian, kemudian setelah ganti pakaian saya ke meja di depan ruang ganti untuk diberi petunjuk oleh mbak perawatnya tentang obat yang saya harus pakai di rumah dan perawatan mata saya tersebut.

Operasi Tahap 1

Operasi Tahap 1

Mbak perawat memberikan 2 obat yaitu Levofloxasin (LFX) dan Polydex MD dengan petunjuk pemakaian sbb:
- Obat tetes mata dipakai begitu sampai di rumah.
- Ada 2 macam obat LFX MD dan Polydex MD.
- Obat diteteskan 6 kali sehari 1 tetes (bisa diatur tiap 2 jam-an) dan dipakai pada mata yang dioperasi saja.
- Khusus untuk LFX MD hari pertama operasi obat diteteskan setiap 1 jam sampai mau tidur malam.
- Sedangkan untuk Polydex MD dari hari pertama operasi sudah 6 kali sehari (setiap 2 jam-an).
- Karena ada 2 macam obat sebaiknya diberi jarak pemakaian minimal 5 menit.
- Bentuk tetes mata LFX MD dan Polydex MD adalah botol kecil yang bisa dibuka tutup, dan apabila masih tersisa setelah dibuka hanya bisa bertahan maksimal 48 jam (2 hari).

Selain petunjuk pemakaian obat tersebut diatas saya juga diberi petunjuk untuk perawatan di rumah:
- Mata yang dioperasi tidak boleh kena air selama 3 (tiga) hari.
- Semua kegiatan sehari-hari boleh dilakukan seperti biasa , tidak ada larangan apa-apa kecuali mata yang dioperasi tidak boleh terpukul/terbentur dan digosok-gosok.
- Mata yang dioperasi harus memakai pelindung (DOP) pada waktu tidur selama 1 (satu) minggu setelah dioperasi, termasuk tidur siang.
- Obat tetes mata dipakai sesuai dengan petunjuk dokter sebelumnya tangan dicuci terlebih dahulu dengan sabun dan dibilas sampai bersih.
- Hindari daerah berdebu dan hewan peliharaan selama 2 (dua) minggu.
- Bila ada obat minum, minumlah sesuai dengan petunjuk dokter.

Kemudian saya diberi penutup mata (DOP) dari bahan fiber plastik yang bolong-bolong dan juga plester. Gunanya untuk menutup mata saya ketika nanti tidur. Penutup mata tersebut saya gunakan selama seminggu. Mata kiri saya yang dioperasi tadi tidak boleh kena air selama 3 hari. Saya juga diberikan surat untuk kontrol besok hari jam 10.30 di JEC Menteng dengan dr. Sharita Siregar Sp.M. Setelah mendapat petunjuk dari Mbak perawat saya pun keluar menuju ruang tunggu lantai 5 dimana teman saya menunggu dan saya melakukan pembayaran di Kasir ditempat itu juga.

Biaya yang saya keluarkan untuk operasi pertama ini adalah:
- Admin Pasien Rp. 50,000
- Retinometri Rp. 120,000
- Non Con Robo Rp. 260,000
- Biometri Rp. 310,000
- Aspina Phaco Rp. 11,110,000
- Anastesi Lokal Rp. 240,000
- Dokter Rp. 2,400,000
- Materai Rp.6,000
Sehingga total keseluruhan saya bayar Rp. 14,496,000

 

HARI KE 1 SETELAH OPERASI

Setelah semua beres maka saya pulang ke kosan. Hari itu saya tidak masuk kantor karena sudah ijin. Tidak ada masalah yang berarti, semua petunjuk saya ikuti sesuai dengan arahan yang diberikan. Mau tidur saya tutup mata saya dengan penutup dan plester sesuai arahan (walo ternyata cara saya menutup dengan plester dibilang dokter berlebihan, alias ga perlu seperti foto dibawah ini :D )

satu mata

satu mata

Saya di rumah bisa beraktifitas walaupun pandangan agak aneh, karena mata kiri saya sudah bagus dan kanan nya masih minus. Kalo membaca dekat memang tidak terlalu masalah tapi membaca jauh saya jadi susah. Saya coba juga pake kacamata yang lama dengan lensa kiri yang dicopot, tapi malah jadi ga enak.

Kontrol pertama

Kontrol pertama

Hari rabu tanggal 6 Mei 2015 saya ke JEC Menteng untuk kontrol dengan dr. Sharita, saya dititipin oleh dr. Johan untuk cek/kontrol dengan dr. Sharita. Dr Sharita ini jauh lebih muda dari dr. Johan. Kalo saya duga sih usianya masih lebih tua saya. Dr. Sharita juga komunikatif dan hangat dengan pasiennya.

Dalam konsultasi ini saya sampaikan bahwa saya tidak ada masalah berarti hanya sedikit masih merasa seperti kes’sed (kering) saja di mata kiri. Diperiksa oleh bu dokter dan hasilnya tidak ada yang aneh menurut dokter Sharita. Dokter Sharita berikan saya obat lagi yaitu TGF-Cendo (30 tablet). Ini adalah vitamin mata yang sama dengan yang diberikan oleh dr Johan ketika saya pertama kali periksa di bulan Desember. Ini hanya vitamin mata biasa saja.

Dr. Sharita juga sempat menanyakan saya mata yang kanan masih mau dioperasi juga ga? saya jawab mau lah dok, masa cuma separo-separo :D Kata dokternya sebab ada yang udah jalanin yang sebelah trus kapok jadinya ga mau lagi. Saya bilang saya mau kok nerusin operasi mata kanan saya biar enak melihatnya. Trus saya ditanya kapan maunya? saya jawab terserah dokter Johan. Sesuai jadwal sih katanya minggu depan, ya sudah saya ikut saja. Kemudian saya disuruh untuk atur jadwal dengan suster Ige assisten dokter Johan.

Kontrol pertama ini berlangsung singkat saja, yang sedikit bikin saya bete untuk kontrol ketemu cuma sebentar aja ternyata harus bayar lagi, artinya ga termasuk paket dari operasi :( ya sudahlah …

Kontrol pertama ini saya keluar biaya sebagai berikut:
- adm pasien Rp. 50.000,00
- Biaya Apotik Rp. 240.000,00
- Dokter Rp. 220.000,00
Total biaya saya bayar Rp. 510.000,00

 

MASALAH DI HARI KE-2

Setelah kontrol pertama saya jalankan aktivitas seperti biasa, walaupun sedikit sulit. Lama-lama kepala saya pusing juga karena untuk melihat jadi ribet, mata kiri udah baru yang mata kanan masih minus. Tapi semua saya jalani biasa. Sampai kemudian esok paginya saya bangun, mata kiri saya merah dan gatal. Wah saya ngeri juga. Saya kasih obat tetes sesuai petunjuk, agak mendingan jadinya tapi tetep merah dan saya merasa gatal.

Tanggal 7 Mei 2015, saya akhirnya telp JEC Menteng, ternyata sulit membuat janjian dengan Dr. Johan. Beliau sudah penuh jadwal pasiennya bahkan dari petugas telepon saya di sarankan booking dari sejak seminggu sebelumnya. Buseee mau ketemu dokter aja susah amat ternyata. Udah gitu jadwal dokter Johan adanya di sore sampai malam. Welehhh… saya minta saran rekomendasi dan ganti ke dokter lain mereka ga berani kasih rekomendasi (ga boleh kasih rekomendasi). Akhirnya saya inget dengan dr. Sharita lagi, saya cari lewat telp JEC, dari Customer Service diberitahu bahwa dr. Sharita lagi praktek di JEC kedoya.

Saya pun meluncur ke JEC Kedoya, setelah melalui receptionist di depan maka saya diarahkan ke lantai 3 tempat praktek dokter Sharita. Sambil nunggu panggilan dokter saya dipanggil ke BDR untuk periksa kondisi mata. Setelah diperiksa saya nunggu lagi dipanggil dokter. Tidak lama saya dipanggil untuk bertemu dr. Sharita Siregar. Dalam ruangan dr Sharita kaget ketemu saya lagi. Dia tanya bapak kenapa? saya terangkan mata saya merah sejak bangun tidur tadi dan saya khawatir. Dr. Sharita kemudian memeriksa saya.

Dari hasil pemeriksaan beliau, tidak ada masalah di mata saya. Kondisi lensa yang baru di mata kiri saya juga bagus. Sehingga mata merah saya kemungkinan hanya karena menyesuaikan saja. TAPII… ada tapinya nih. Mata kiri saya dari hasil periksa di BDR ternyata tekanan bola matanya tinggi (yaitu 29) dimana hal itu tidak bagus. Untuk tekanan bola mata tinggi ibu dr. Sharita berikan resep obat yaitu AZOPT ED dan GLAOPLUS MD.
- Azopt ED dipake 3 kali sehari
- Glaoplus dipake 1 kali sehari malam saja mau tidur

Azopt

Azopt

Glaoplus

Glaoplus

Untuk periksa dadakan di JEC Kedoya ini biaya yang saya keluarkan adalah:
- Adm pasien Rp. 50.000,00
- Dokter Rp. 250.000,00 (ini yang saya bandingkan lebih mahal dari JEC Menteng yg Rp. 220.000,00 beda 30 ribu)
- Periksa awal Rp. 120.000,00
- Obat : Azopt Rp. 315.000,00 dan Glaoplus Rp. 145.000,00
Total saya keluar biaya lagi Rp. 880.000,00

(Kayaknya mata saya jadi sehat tapi gantian kepala saya yg sakit kalo nanti pas lihat tagihan kartu kredit saya :D )

Sepulang dari dokter mata saya berangsur angsur normal, demikian pula hari-hari berikutnya hingga menjelang operasi tahap 2 untuk mata kanan. Hanya saja makin hari makin tidak enak, karena beda penglihatan mata kanan dan kiri makin mengganggu. Selain itu kondisi mata kiri yang awalnya ketika baru dioperasi sangat tajam dalam melihat jauh, ternyata makin hari makin menurun. Saya sadari hal ini hari Jumat dan weekend ketika di rumah Depok. Karena ketika saya melihat dengan satu mata, mata kiri saja, kok tidak sejelas awal ketika baru operasi (Nanti akan saya jelaskan mengapa, setelah saya konsultasi dengan dr. Johan satu minggu setelah operasi tahap 2).

 

OPERASI TAHAP ke-2 (MATA KANAN) …

Setelah menunggu selama seminggu saya sudah makin tidak sabar untuk operasi mata kanan saya. Akhirnya tanggal 12 Mei 2015, hari Selasa pun tiba. Sebelumnya saya sudah bikin perjanjian untuk operasi tahap 2 ini sejak minggu lalu dengan mbak Ige. Seninnya saya juga ditelpon kembali untuk konfirmasi operasi. Untuk operasi ke 2 ini sudah tidak perlu periksa laboratorium lagi sebelum operasi.

Seperti halnya minggu lalu, saya minta ditemani oleh teman kantor saya bangbro Sayuti. Saya pergi sekitar jam 09.00 dari Kosan dan sampai di JEC Menteng kepagian karena jadwalnya jam 10.30. Tapi gapapalah kepagian dari pada malah nanti telat. Lagipula saya udah ga sabar untuk bisa melihat dengan jelas dengan dua mata saya ini.

Tahapan sebelum operasi masih sama seperti operasi tahap 1. Saya datang langsung ke lantai 5, kemudian lapor ke loket di lantai 5 itu. Trus tunggu di ruang tunggu sampai di panggil. Lumayan nunggu lama tapi saya kok merasa cepat yah, tau tau udah dipanggil aja. Simpan sandal/sepatu di rak ruang tunggu kemudian masuk ruangan ganti baju, simpan barang di Loker. Kemudian masuk dan duduk di ruangan pre-operasi. Disitu saya seperti yang operasi 1, duduk dan ditetesin obat dimata, entah obat apa yang jelas sambil menunggu ruang operasi disiapkan. Setelah menunggu lumayan lama, saya pun di bawa masuk ke ruang operasi (theather) 2. Tidak seperti operasi 1 yang ke ruangan operasi jalan kaki biasa maka kali ini saya diantar pake kursi roda. Ga tau juga alasannya apa? Apa karena saya operasi katarak jd dianggap tuir :D

Di dalam ruangan operasi 2 ini sama seperti minggu lalu, ada 2 orang wanita di dalam ruangan menyiapkan operasi untuk saya. Musik pun mengalun di dalam ruangan, mungkin untuk bikin saya rileks. Tapiii …. tetap saja walopun saya sudah alami operasi ini minggu lalu rasa nervous tidak bisa hilang. Sampe mbak perawatnya bilang bapak boleh nervous tapi nggak boleh tegang banget katanya. Lha bijimane :) boleh nervous tapi kagak boleh tegang??. Apa maksudnya ga boleh “tegang” yang lainnya? Wahhh si mbak ga jelas nih :))

Pak dr. Johan masuk ruangan, seperti biasa beliau sapa saya. Terus menyuruh saya berdoa. Seperti biasa nya beliau katakan operasi akan berlangsung maksimal 10 menit. Mulailah dengan cepat dr Johan lakukan operasi. Jantung saya masih berdegup degup :D walaopun ini udah kali kedua saya masih tetap nervous. Selama operasi pak dr Johan masih komunikatif, semua tahapan diomongin saya jadi bisa ikut nyimak. Apalagi waktu mau masuk lensa pak dr. Johan bilang: “yukkk masuk lensa lensa yukk!” hehehehe saya jadi kayak siap-siap karena tau mata saya akan terasa seperti tertekan. Operasi berlangsung sekitar 7 menit. Begitu selesai pak dr. Johan bilang: “Yak operasi kita sudah selesai. Sudah berhasil. Lensanya cakep banget sudah masuk. Operasi 7 menit”, saya pun menarik napas lega.

Saya masih separo lega, sebelum saya membuka mata saya yang kanan. Saya buka mata kiri saya dulu, baru saya buka mata yang kanan, penglihatan mata kanan saya langsung terang dan tajam. Tapi belum bisa dibuka lama-lama, sebab langsung keluar air mata (reaksinya seperti mata di colok, tapi ga sakit sih). Karena keluar air mata maka saya pejamkan lagi mata kanan saya. Kemudian keluar ruangan operasi (theather) 2 saya dibawa pake kursi roda lagi. Berasa aneh aja naik kursi roda ini :) Kemudian saya di dudukan di kursi tunggu, dikasih kue dan minum dan beberapa kali ditetesin obat. Saya coba membuka mata kanan saya, senang rasanya tanpa kacamata saya bisa baca tulisan yang cukup jauh :D Tapi saya belum bisa enjoy banget karena masih keluarin air mata, kayaknya selain karena dampak dari operasi air mata itu keluar karena saya juga lagi mikirin nanti bayar nya hahahahaha :D

Setelah ditetesin dan duduk agak tiduran di ruangan tunggu perawatan pasca operasi saya dibolehkan pulang. Seperti biasa saya ke ruang ganti pakaian, sebelum ganti pakaian saya sempatkan selfie hahahaha :D

Pasca Operasi Tahap 2

Pasca Operasi Tahap 2

Setelah ganti pakaian saya kembali ke meja di depan kamar ganti. Disitu saya diberi petunjuk dan obat semuanya persis sama dengan yang operasi tahap 1. Saya juga diberitahu untuk kembali lagi kontrol esok hari dengan dokter Sharita lagi. Setelah diberi obat dan petunjuk maka saya ke kasir untuk bayar operasi tahap 2 ini. Untuk biaya operasi tahap 2 ini perinciannya adalah sebagai berikut:
- Admin Pasien Rp. 50.000,00
- Aspina Phaco Rp. 11.110.000,00
- Anastesi Lokal Rp. 240.000,00
- Dokter Rp. 2.400.000,00
- Materai Rp. 6.000,00
Total semua yang saya bayar Rp. 13.806.000,00

Saya diberikan selembar kartu sebagai bukti jenis lensa yang ditanam di mata saya. Ternyata dari kartu tersebut saya tau lensanya buatan Carl Zeiss :) Saya jadi berasa kayak robot, dimata saya ditanam lensa buatan ;)

Kartu tanda bukti lensa yang ditanam

Kartu tanda bukti lensa yang ditanam

Sepulangnya dari JEC Menteng saya masih sempatkan diri untuk ke kantor dan melanjutkan pekerjaan. Tapi ternyata kondisi mata saya belum fit untuk dipakai bekerja. Mata saya ternyata berubah menjadi ada rabun dekat alias mata plus. Sehingga jika melihat dekat malah sulit. Terpaksa saya membaca dokumen kertasnya saya jauhkan :) Saya berasa semakin tua aja :D Trus yang mengganggu juga adalah mata saya jadi seperti berkedut-kedut ketika dipaksa buat baca. Karena saya merasa belum fit maka saya putuskan untuk pulang saja, saya khawatir mata saya belum fit betul untuk beraktivitas. Saya pun ijin pulang untuk istirahat.

 

KONTROL PASCA OPERASI TAHAP-2

Esoknya tanggal 13 Mei 2015, sekitar pukul 10.30 saya kontrol lagi ke JEC Menteng. Saya bertemu dengan Dr. Sharita. Bu dokter senang karena setelah di periksa di BDR hasilnya tekanan bola matanya sudah tidak tinggi lagi. Dalam pertemuan ini saya keluhkan masalah mata kiri saya yang terus menurun, sehingga tidak seterang/sejelas ketika baru operasi minggu lalu. Bu dokter jelaskan bahwa mata saya ini belum stabil. Lensa nya masih menyesuaikan dimata, nanti minggu depan saya akan dijadwalkan kontrol dengan pak dr. Johan beliau akan periksa dan jelaskan semuanya.

Kemudian bu dokter kembali berikan saya resep obat. Obat yang diresepkan adalah Hyalub, Lapibal 250 dan Polydex ED. Hyalub dan Polydex ED ini adalah obat tetes yang digunakan jika obat Levofloxasin (LFX) dan Polydex MD yang sebelumnya dikasih sudah habis. Hyalub dan Polydex ED digunakan 3 kali sehari. Sedangkan Lapibal adalah tablet yang diminum 1 kali sehari.

Untuk kontrol kalo ini biaya yang saya keluarkan adalah:
- Adm pasien Rp. 50.000,00
- Dokter Rp. 220.000,00
- Obat Rp. 239.000,00
Sehingga total biaya yang saya bayar adalah Rp. 509.000,00

Pulang kontrol sampai beberapa hari kemudian mata saya baik-baik saja. Hingga akhirnya pada sekitar hari Jumat dan weekend mata kanan saya mulai menurun ketajamannya seperti mata kiri. Penglihatan mata saya untuk jauh sedikit menurun. Sehingga saya simpulkan saya masih ada sedikit rabun jauh (mata minus). Sedangkan untuk rabun dekat, kondisinya masih sama seperti saat baru jalani operasi alias masih sama, tidak bisa melihat terlalu dekat sehingga saya simpulkan mata saya juga sekarang plus (rabun dekat).

Saya jadi tidak sabar untuk bertemu dan konsultasi dengan dr. Johan yang dijadwalkan tanggal 19 Mei 2015 hari selasa jam 19.00 malam di JEC Menteng. Selama menunggu ini rasanya kurang enak, sebab pandangan jauh saya mulai berkurang ketajamannya hanya untuk baca dekat saja saya tidak terlalu masalah. Oh ya rabun dekat ini adalah pengalaman baru buat saya, sebab saya sebelumnya tidak punya rabun dekat (plus). Saya baru tau kalo pas lagi makan, karena piringnya terlalu dekat ama mata saya, maka lauknya jadi burem huahahahaa :D saya baru ngeh kalo orang udah tua matanya plus tu gini rasanya :) Kualat deh….

 

KONTROL 1 MINGGU SETELAH OPERASI

Hari Selasa 19 Mei 2015, saya sudah tidak sabar ke JEC Menteng untuk konsultasi satu minggu pasca operasi tahap 2. Saya berangkat jam 18.00 dari kosan, agak degdegan juga karena ternyata macet. Sampe di JEC Menteng ternyata sedikit terlambat yaitu jam 19.05. Tapi saya tidak terlambat sekali karena ternyata masih antri. Setelah daftar di lantai dasar saya tau kalo saya masih harus tunggu. Saya diarahkan ke lantai 4 tempat ruangan dr. Johan. Sebelumnya saya di suruh ke ruangan BDR dulu untuk periksa.

Di ruangan BDR inilah saya tau kondisi mata saya terkini. Ternyata mata saya yang kiri ada minus 1.75 dan yang kanan minus 1.5 dan keduanya Plus 2.5. Inilah yang saya sudah perkirakan sebelumnya, bahwa minus saya tidak bisa hilang sepenuhnya, saya sudah pernah baca informasi seperti ini sebelumnya. Tapi yang saya heran kenapa plus nya gede banget. Hal ini yang saya ingin tanyakan ke dr. Johan.

Saya kemudian menunggu dipanggil untuk konsul dengan dokter Johan. Ada 2 pasien yang konsultasi (kalo nggak salah) sampe akhirnya saya dipanggil. Saya masuk ruangan dr. Johan dan langsung disapa dengan hangat oleh dokter Johan. Di dalam ruangan ada dr. Sharita juga (Saya sepertinya tau kenapa mereka bisa ada berdua diruangan ini, tapi ga usah dibahas ah ;) ). Saya langsung uraikan kondisi saya. Saya mengeluh mata saya yang masih ada minus lagi dan adanya plus dimata saya.

Dr. Johan periksa mata saya, secara fisik beliau bilang bagus. Kemudian dr. Sharita jelaskan kalo tempo hari mata saya yg kiri tekanan bola mata saya tinggi, namun sekarang untungnya sudah tidak tinggi lagi. Dr Johan kemudian jelaskan bahwa mata saya memang harus diatur antara minus dan plus nya, sebab lensa yang baru ditanam ini tidak bisa dibuat minus nol karena dampaknya plusnya akan tinggi, demikian pula plusnya tidak bisa dibuat nol karena minusnya akan besar. Jadi harus ada kompromi. Penjelasan singkatnya demikianlah. Mungkin saya tidak terlalu tepat menyimpulkannya.

Kemudian untuk kondisi mata saya selanjutnya masih harus dipantau kembali artinya tidak bisa ditetapkan bahwa kondisi ini sudah fixed. Artinya masih dilihat lagi perkembangannya, harapan dokter sih minusnya mengecil paling tidak minus 1, tapi saya kok pesimis ya. Minus yg sekarang ini masih ada di mata saya secara prinsip bisa saya terima kok. Saat ini sebenarnya saya bisa tanpa kacamata, karena untuk baca dekat saya tidak terlalu masalah saya masih bisa baca, sedangkan untuk jauh tidak terlalu seberat seperti sebelumnya waktu mata kiri -13.75/kanan -12.00. Saya diminta untuk kembali konsultasi lagi (yang katanya untuk) terakhir kali, ketika semua obat saya sudah habis. Dokter tidak beri obat lagi, nanti aja katanya, sekarang dikasih resep ukuran kacamata tapi disuruh beli lensa yang murah aja dulu buat sementara.

Kontrol seminggu pasca operasi ini saya keluar biaya sbb:
- Adm pasien Rp. 50.000,00
- Periksa BDR Rp. 105.000,00
- Dokter Rp. 280.000,00 (tarif nya beda lagi nih :D apa karena dokternya ada 2 (dua) di ruangan :D )
Total saya keluar Rp. 435.000,00

Pulang dari JEC saya langsung ke ITC Kuningan untuk beli lensa minus sementara. Saya merasa ga terlalu nyaman untuk melihat jauh walopun saya masih bisa lihat. Saya pengen penglihatan jauh saya bisa terang dan tajam. Jadi saya langsung cari lensa ah biar bisa ngeliatnya enak. Framenya pake yang lama aja, lensanya aja yang baru. Ketemu toko yang masih buka, karena saya datang udah jam 21.00. Saya pesen lensa di toko itu, baru tau juga kalo lensa kaca akan hilang di pasaran dan akan diganti dengan lensa plastik. Sehingga saya beli lensa plastik untuk kacamata saya sementara ini. Toko itu janji besok lensanya akan selesai. Esoknya pas jam makan siang kacamata saya ambil. Biayanya Rp. 150.000,00 Saya pun puas karena mata saya makin jelas lagi untuk melihat.

Dengan kacamata itu saya bisa melihat jauh, sedangkan untuk melihat dekat saya tidak dibantu dengan kacamata. Sampai akhirnya tanggal 10 Juni 2015 saya jadwalkan lagi untuk kontrol dengan dr. Johan.

 

KONTROL TGL 10 JUNI 2015 …

Setelah hampir sebulan obat yang diberikan mulai habis, terutama FLX dan PolydexED. Tinggal sisanya obat Cendo Hyalub dan PolydexMD untuk mata kiri. Kondisi mata kanan saya sudah tidak ada masalah, hanya saja mata saya yang kiri masih suka terasa ngeres (kesett). Padahal obat tetesnya tinggal Cendo Hyalub dan PolydexMD yang ditetesin 3 kali sehari. Tentu saja rasanya kurang untuk atasi mata saya yang terasa ngeres ini. Saya mencoba tanyakan hal ini melalui email ke Dr. Johan, sayangnya beliau tidak menjawab email saya ini. Saya jadi merasa Dr. Johan lebih proaktif ketika saya belum operasi tapi begitu sudah operasi pelayanan atau tingkat informatifnya jadi berkurang. Saya jadi kecewa :(

Tanggal 10 Juni 2015 jam 08.00 kurang dikit saya sudah di JEC Menteng, setelah sebelumnya saya membuat perjanjian melalui website. Saya langsung daftar dan diarahkan ke lantai 4 untuk periksa dulu di ruangan BDR. Di ruangan BDR saya dites kondisi matanya dan di tes baca. Saya merasa minus saya kok kayaknya jadi nambah lagi. Tapi saya tidak menanyakannya ke petugas periksa, nanti saja saya tanya ke dokternya pikir saya.

Saya dapat nomor urut 1 dengan dr. Johan. Setelah dari BDR maka saya menunggu di depan ruangan dokter Johan. Setelah menunggu, maka sekitar jam 09.15 saya dipanggil. Dr Johan seperti biasa menyambut saya dengan akrab. Setelah sedikit basa-basi pak dokter langsung periksa mata saya. Saya sampaikan keluhan mata saya yang kiri masih sering terasa kesset atau ngeres. Dokter resepkan obat tetes yang bisa digunakan setiap saat saya merasa mata saya tidak nyaman.

obat itu adalah Protagenta, yang diteteskan setiap saya merasa tidak nyaman.

Protagenta PolyvinylPyrrolidone

Protagenta PolyvinylPyrrolidone

Sewaktu saya tanyakan kondisi mata minus saya, dokter Johan hanya katakan bahwa mata saya masih berubah-ubah. Ada kecenderungan mata minus saya saat ini akan kembali sedikit bertambah. Tapi saya masih bisa baca tanpa kacamata, jadi dr. Johan tidak resepkan ukuran lensa yang baru. Beliau katakan bahwa mata saya masih menyesuaikan terus. Hal ini bisa terjadi karena bergantung dengan pola hidup dan pola makan seseorang sehingga minus saya bisa bertambah lagi, ada kemungkinan minus saya maksimal jadi -3.

Saya agak bete juga dengan penjelasan dr. Johan karena nyatanya mata saya belum bisa stabil, masih akan berubah lagi. dr. Johan sarankan saya abis lebaran atau kapan ada waktu untuk kembali lagi untuk memastikan ukuran mata apakah sudah stabil dan apakah sudah bisa dikasih resep ukuran mata yang pasti. Padahal sebelumnya Dr. Johan katakan pada saya sudah tidak perlu kembali lagi, nanti kembali lagi setahun yang akan datang. Ternyata karena mata saya belum bisa stabil ukurannya maka sebulan lagi disuruh balik. Bukan hanya masalah uang yang sudah saya keluarkan tapi waktu nya untuk mondar mandir ke JEC dan ketidakpastiannya bikin saya bertanya-tanya terus, kok jadi gini? Kok malah ga selesai selesai.

Buat saya masalahnya ada 2 hal. Mata kiri saya yang masih terasa ngeres dan minusnya yang masih akan naik lagi…

Kontrol tanggal 10 Juni 2015 ini, saya mengeluarkan biaya lagi sebesar:
- Administrasi Rp. 50.000,00
- Pemeriksaan Awal Rp. 105.000,00
- Konsultasi Dokter Rp. 280.000,00
- Obat Rp. 399.000,00
Total hari ini saya keluarkan biaya Rp. 834.000,00

Sampai tanggal 10 Juni ini saya sudah keluarkan biaya total Rp. 33.180.000,00 hanya untuk dokter, obat dan biaya RS (belum termasuk transport dll)

 

KESIMPULAN:

Jika lelah membaca artikel yang panjang ini maka saya coba buatkan poin penting yang bisa jadi kesimpulan:

Pertama, jika ingin memutuskan untuk di Lasik atau Phacoemulsification hal utama yang paling penting perlu dipersiapkan adalah budget atau anggaran atau dana. Sebab selain biaya operasi (yg utama/pokok)nya yang menurut saya cukup mahal biaya ikutan lainnya juga lumayan banyak. Harus diperhitungkan dan dialokasikan dengan cermat biayanya. Apalagi jika anda termasuk seperti saya yang anggarannya terbatas, bukan anggaran berlebih atau tidak punya masalah dengan biaya.

Kedua, mau jalanin Lasik atau Phacoemulsification butuh keberanian. Kita harus yakin dan punya keberanian untuk jalanin tindakan ini. Sebab biar bagaimanapun ini kan mata yang mau dioperasi. Jadi harus yakin dan percaya dulu ama dokternya. Sehingga waktu ngejalaninnya kita udah sreg/yakin.

Ketiga, jika anda memiliki minus yang tinggi maka sebaiknya jangan terlalu berharap minusnya itu akan hilang total. Bisa jadi minus itu akan nol, akan tetapi semua itu tergantung kondisi dari masing-masing pasien.

Keempat, poin-poin diatas bisa makin maksimal jika kita sebelum melakukan tindakan sudah pelajari Lasik atau Phacoemulsification secara maksimal. Dalam arti kita sudah mencari tau tentang Lasik atau Phacoemulsification melalui browsing di internet, baca, diskusi dengan orang yang sudah jalanin dlsb nya. Pokoknya intinya banyak cari tau.

Kelima, usahakan ada keluarga, kerabat atau teman yang mendampingi saat operasi. Jangan seperti saya yang ingin nya apa-apa sendiri. Walaupun sebenarnya kita jalan sendiri juga tidak masalah, karena berdasarkan pengalaman saya yang dibutuhkan RS sebelum operasi hanyalah mengisi form surat dan tandatangan dari pendamping saja.

 

Nah, bagi yang berminat untuk Lasik atau Phaco semoga tulisan ini bisa bermanfaat.
Nanti saya akan ceritakan lagi bagaimana perkembangan mata saya ini dalam cerita berikutnya DI SINI.