Posts

Bali

Pengalaman Menetap & Bekerja di Bali

Cerita pengalaman saya bekerja dan menetap di Bali ini terlambat di posting di blog ini. Maklumlah sepulang dari Bali saya banyak disibukan dengan aktivitas/kegiatan pekerjaan, mengajar di kampus dan juga kegiatan lain.

Ceritanya di bulan Mei 2017 saya mendapat pekerjaan di Bali yang harus dimulai awal Juni. Pekerjaan itu sendiri terkait dengan aktivitas pekerjaan hukum. Kebetulan bulan Mei tersebut kuliah saya di Pasca Sarjana FHUI untuk Semester 1 sudah selesai. Maka saya pun menerima tawaran untuk bekerja di Bali.

Sebelumnya saya pernah ditahun 2011 bekerja di Kota Bandung Jawa Barat selama 6 bulan. Di Bandung saya tidak tinggal di rumah saudara dan mencari tempat tinggal sendiri. Demikian pula di Bali, saya tidak tinggal di rumah saudara, dan langsung fokus untuk cari tempat tinggal sendiri. Saya memang lebih suka dan memilih untuk mandiri.

Untuk persiapan tinggal di Bali ini maka ada 2 hal yang saya sudah persiapkan dari Jakarta, yaitu Tempat Tinggal dan Transportasi selama di Bali.

 

TEMPAT TINGGAL

Langkah pertama yang saya lakukan ketika mendapat kabar saya akan bekerja di Bali adalah mencari tempat tinggal. Dalam hal ini saya rencananya memilih untuk Kos.

Saya tidak ingin tinggal dengan saudara, kerabat atau teman. Selain untuk privacy saya juga tidak ingin merepotkan orang lain.

Pilihan saya adalah mencari indekost-an. Persoalannya saya masih berada di Jakarta. Sehingga saya harus cari kosan dari Jakarta. Sedangkan ketika tahun 2010 saya ke Bali dan sudah berada di Bali saja saya mengalami kesulitan untuk mencari kosan. Apakah bisa saya mencari kosan di Bali dari Jakarta?

Ternyata mencari kosan di Bali dengan kondisi saya ada di Jakarta bisa dan memungkinkan untuk dilakukan. Mungkin karena kondisi saat itu berbeda dengan kondisi di tahun 2010.

Saat bulan Mei 2017 saya mencari kosan di Bali, saya gunakan 2 cara untuk mencari kosan yaitu:
1. Bertanya ke teman-teman dan kerabat di Bali dan Jakarta
2. Browsing di Internet
pada prakteknya saya memadukan 2 sumber ini dalam mencari info kosan.

Hasilnya saya dapat dengan mudah menemukan pilihan kosan di Bali. Langkah pertama, saya konsultasikan kondisi lokasi kerja saya di daerah Sanur Denpasar Selatan (Densel) dengan teman-teman dan kerabat di Bali, saya tanyakan dimana lokasi yang enak untuk cari kosan.

Setelah itu saya tetapkan bahwa saya akan kos di daerah denpasar selatan atau maksimal kota Denpasar. Saya juga putuskan akan pergunakan sepeda motor sebagai sarana transportasi dari kosan ke kantor. Tadinya saya ingin cari kosan yang dekat dengan kantor, tapi ternyata kosan disekitar kantor gak ketemu yang cocok. Kalo pun ada harganya mahal. Ketika ketemu yang harganya klop ketika saya cek di internet atau saya telepon lokasi dan kondisi kosan nya yang kurang cocok.

Akhirnya setelah melalui proses mencari-cari sana sini (dan juga informasi dari teman), saya dapat link website https://www.rumahkostbali.com
Dari link website ini saya dapat 3 pilihan tempat kos yaitu:

Nama: Ibu Catrin
Email : setijadic@yahoo.com
Telp : 081 595 586 82
Kost Bamboo Residence
https://www.rumahkostbali.com/kos/detail/kost-bamboo-residence.html (link sudah tidak aktif lagi)

Nama : Mbak Yulianti
Email : deaprisnagraha@gmail.com
Telp : 085 100 200 300 / 0821 4796 0011 / 081 916 70 1188
https://www.rumahkostbali.com/kos/detail/dea-graha.html

Nama : Ibu Ratna
Email : kostbali@yahoo.com
Telp : 081 239 30 300
https://www.rumahkostbali.com/kos/detail/kost-elit-tukad-badung

Dari 3 Lokasi kosan tersebut setelah saya hubungi via telepon dan bertanya-tanya kepada pemiliknya akhirnya saya memutuskan untuk memilih kosan ke 3 di Jl. Tukad Badung https://www.rumahkostbali.com/kos/detail/kost-elit-tukad-badung

Pertimbangan saya adalah:
1. Harganya relatif murah dibanding yang lain (saat itu saya dikenakan biaya kost Rp. 1.500.000/bulan)
2. Fasilitas yang ditawarkan cukup lengkap, yaitu:
kamar mandi dalam menggunakan shower, dapur dilengkapi kitchen set, ada teras depan dan balcony untuk bersantai. Tempat parkir mobil dan motor. Kamar dilengkapi AC, Air Panas (Hot Water), ruang Jemuran, Kursi, Lemari, Lemari Es, Meja, Tempat Tidur, Teras Depan dan TV LCD (tanpa TV Kabel), WiFi.
3. Tidak terlalu jauh dari lokasi kantor (Berdasarkan peta GPS)

Jadi di Bali itu berdasarkan pengamatan saya ada 3 tipe kosan, yaitu:

1. Tipe Kosongan
Yaitu kosan yang hanya menyewakan kamar saja, tidak ada isinya seperti tempat tidur, meja, lemari dll.
Kamar mandi bisa di dalam bisa juga diluar. Sehingga harga sewanya untuk kamar kosongan ini sangat variatif mulai dari Rp. 300 ribu sampai Rp 800 ribuan (harga medio Mei 2017) dan harga tergantung lokasi juga.

2. Tipe Kosan Lengkap
Kosan ini sudah dilengkapi dengan meja, kursi, lemari dan tempat tidur. Biasanya kamar mandi di dalam. Harga sewanya berkisar lebih dari Rp 1 jutaan sampai sekitar Rp. 3 Jutaan dan harga tergantung lokasi juga. Kosan tipe ini adalah kosan yang saya pilih.

3. Tipe Apartemen
Disebut kosan Apartemen kalo di Bali. Awalnya saya kira memang apartemen, ternyata ini adalah tipe kosan yang mewah atau Lux. Biasanya berupa bangunan kosan 2-3 lantai yang kalo dilihat dari luar seperti bangunan asrama atau villa mewah dan bukan seperti apartemen (rumah susun) yang biasa kita kenal di Jakarta. Saya sempat kunjungi beberapa kosan dengan tipe apartemen ini ketika di Bali. Memang fasilitas di dalamnya lebih mewah, terutama perabotan di dalamnya. Beberapa diantaranya bahkan terdapat kolam renang.

Saya pribadi pengennya sih ngekos di tipe apartemen, sayangnya duitnya gak mendukung :D
Jadi saya ambil yang tipe kosan lengkap aja. Berdasarkan alasan itulah akhirnya saya memutuskan untuk memilih kosan di Jl. Tukad Badung itu. Ulasan lengkap mengenai kosan saya di Tukad Badung ini akan saya buat dalam tulisan terpisah.

 

TRANSPORTASI

Berikutnya adalah masalah transportasi selama saya tinggal di Bali. Denpasar berbeda dengan Jakarta yang banyak pilihan angkutan umumnya. Terutama untuk bus kota atau Kereta Commuter di Denpasar belum ada. Beda sekali dengan saya di Jakarta yang bisa berangkat dari rumah naik Transjakarta atau Kereta Commuter.

Saya sudah sadari akan masalah transporatsi ini sejak saya ke Bali tahun 2010 dahulu dan juga berdasarkan informasi dari teman-teman dan kerabat hal ini masih sama. Denpasar memang tidak ada angkutan umum massal seperti di Jakarta, karena tipe kotanya juga berbeda. Sebagian besar orang di Bali punya kendaraan pribadi atau Sepeda Motor.

Oleh sebab itu selama tinggal di Bali saya pun harus memiliki kendaraan pribadi. Walaupun saya dapat info di Denpasar sudah marak juga Ojek online atau Taxi Online. Tapi akan menjadi tidak efisien dan ekonomis jika saya mengandalkan ojek online. Saya harus punya kendaraan minimal sepeda motor selama di Bali. Untuk membeli sepeda motor di Bali tidak memungkinkan karena KTP saya masih KTP Depok. Maka jalan paling efisien menurut saya adalah menyewa sepeda motor.

Untuk penyewaan sepeda motor di Bali juga cukup banyak yang menyediakan. Hal ini disebabkan karena Bali adalah daerah wisata, dimana turis sering menyewa sepeda motor untuk keperluan jalan-jalan wisata di Bali. Hanya saja masalahnya, sebagian besar menyewakan untuk harian atau paling lama mingguan. Sementara saya butuh untuk bulanan dimana per bulan akan saya perpanjang.

Untuk urusan transportasi ini saya kembali mengandalkan browsing online. Hasilnya saya menemukan 2 (dua) tempat penyewaan sepeda motor yaitu:
1. Rental Motor Di Bali http://rentalmotordibalimurah.blogspot.co.id/2014/11/daftar-harga.html No telp 083 114 607 649
2. Bali Jaya Trans (http://www.balijayatrans.com/p/booking-online-motor.html)
Telephone : 0853 7199 9090 Whatapps / SMS / Line : 0819 9900 9090

Setelah saya mempelajari dan menghubungi kedua penyewaan motor tersebut, akhirnya saya menyewa motor di BALI JAYA TRANS untuk jangka waktu sewa seminggu. Hal ini untuk mencoba dan mempelajari kondisi di Bali terlebih dahulu. Siapa tau setelah seminggu saya bisa menemukan solusi lain terkait transportasi ini.

Saya jatuhkan pilihan untuk sewa motor matic H*nd* B**t untuk 6 hari dari tanggal 6 Juni sd 11 Juni dengan biaya per hari Rp. 60 ribu, dan saya bayar Rp. 350.000. Saya juga sampaikan bahwa setelah seminggu kemungkinan saya akan perpanjang menjadi sewa satu bulan, pihak Bali Jaya Trans menyetujui.

Cara pemesanannya mudah saja, saya cukup kirim WA untuk pastikan pemesanan. Kemudian saya tentukan bahwa saya mau pakai tanggal berapa dan diambil dimana. Saya kemudian tentukan akan ambil motor tersebut di Beach Walk Kuta Tanggal 6 Juni siang.

Sesuai dengan pesanan tanggal 6 Juni, saya temui pengantar motor tersebut di Beach Walk Kuta. Motornya bagus, masih baru dan tentunya kondisinya prima. Selain sewa motor saya juga mendapat 2 helm.

Saya kemudian bekerja ke kantor menggunakan motor itu. Singkatnya selama hampir seminggu itu saya tidak menemukan alternatif sewa motor lain. Sehingga saya hubungi pihak Bali Jaya Trans untuk perpanjang sewa motor tersebut. Sayangnya ketika saya mau perpanjang mereka berikan jawaban bahwa motor tidak bisa diperpanjang lagi karena sudah banyak penyewa yang antri. Tentu saja saya heran, padahal dalam pembicaraan via WA sebelumnya tidak ada masalah jika akan diperpanjang. Anehnya lagi ketika saya sampaikan niat untuk perpanjangan menjadi 1 bulan pihak Bali Jaya Trans menyampaikan bahwa harga sewanya naik. Saya lupa berapa tapi jelas beda jauh dengan harga yang tertera di website. Disitu saya kecewa dengan Bali Jaya Trans. Saya tidak banyak diskusi lagi maka tanggal 11 Juni motor saya kembalikan.

Pose di tugu Univ Udayana di depan McDonald

Pose di tugu Univ Udayana di depan McDonald

Terpaksa hari itu juga saya mencari motor sewaan di tempat lain. Berbekal browsing di Internet beberapa hari sebelumnya saya menemukan lokasi penyewaan motor lain di daerah Jimbaran. Nama penyewaannya SATRIA MOTOR RENTAL. Di tempat penyewaan yang sekaligus bengkel motor saya bertemu dengan pak I Putu Supena dan Ibu Seni Sudihati. Mereka berdua pasangan yang baik dan ramah.

SATRIA MOTOR RENTAL disebelah kiri dibawah plang Alfamart

SATRIA MOTOR RENTAL disebelah kiri dibawah plang Alfamart

Alamat SATRIA MOTOR RENTAL di Jl. Kampus Udayana Samping Depan Nirmala Plasa Jimbaran
No telepon: 085935039202 / 087861114880 / 081237117 906

SATRIA MOTOR RENTAL

SATRIA MOTOR RENTAL

Pak Putu awalnya sempat heran kenapa saya kos di Densel kerja di Sanur tapi sewanya jauh ke Jimbaran. Saya ceritakan saja bahwa saya baru seminggu di Bali dan belum tau banyak tentang Bali. Saya ceritakan juga kalo saya udah cari diseputaran Densel, tapi belum ketemu. Banyak sekali pertanyaan dari pak Putu ini, mungkin beliau hati-hati sekali sebelum melepas motornya ke saya :) Apalagi saya tidak bisa meninggalkan KTP saya di pak Putu selama sebulan, sebab saya takut membutuhkan KTP itu. Sebagai gantinya nya saya gantikan dengan SIM A saya yg jarang banget kepake hehehehe

Akhirnya sessi “interview” dengan pak Putu (yang ngalahin sessi interview lamaran pekerjaan) berhasil saya lewati :) Saya kemudian pulang kekosan dengan membawa motor H*nd* V*r** keluaran tahun lama, tidak baru, tapi karena pak Putu punya bengkel maka kondisinya cukup prima, terbukti selama sebulan saya pakai motor tersebut aman-aman saja. Saya bayar sewa motor tersebut selama sebulan dengan harga Rp. 700 ribu.

Dengan menggunakan sepeda motor sewa dari SATRIA MOTOR RENTAL itu saya ke kantor dan juga sambil nyari-nyari juga penyewaan motor lain yang tidak jauh dari tempat kos atau kantor. Maksudnya agar nyewa dan ngurusnya gampang kalo ada apa-apa. Sayangnya dekat kantor ada bengkel yang menyewakan motor tapi tidak pernah available, setiap ditanya motornya tidak tersedia dan kalopun bisa hanya maksimal seminggu atau disewa harian untuk turis-turis.

Sebelumnya teman-teman di kantor sering bilang kalo harga sewa motor saya kemahalan. Harusnya kalo sewa sebulan itu dikisaran Rp. 500 ribu tapi saya cari-cari gak ketemu yang harganya segitu. Saya minta mereka tunjukin atau anterin juga ga pernah ada yang bisa kasih harga segitu… artinya itu sih omdo :)

Kemudian secara tidak sengaja ketika saya jalan-jalan sambil liat-liat kos-kosan di daerah Tukad Unda saya melihat iklan di tempel di tembok. Iklan itu menyewakan sepeda motor dengan nomor telepon 085337492595 nama rentalnya WIRA RENTAL MOTOR. Saya telepon nomor tersebut dan berbicara dengan Bapak Ketut Wira.

Dari informasi yang saya terima dari pak Ketut maka motor matic yang tersedia di tempat beliau hanya Y*m*h* M** dan N*v*. Itupun bukan keluaran tahun terbaru. Tapi harga sewanya lumayan murah juga hanya Rp. 600.000 sebulan. Saya pikir gapapalah, motor ga baru asal kondisi masih prima dan harganya murah. Saya lupa lokasi persis rumah pak Ketut dimana, tapi yang jelas tidak jauh dari kosan saya di Tukad Badung.

Awalnya ketika di telepon pak Ketut seperti tidak ramah, akan tetapi ketika sudah bertemu dengan saya ketika antar motornya ternyata orangnya sangat ramah  dan kooperatif. Usia pak Ketut sekitar 30-an. Beliau juga cerita kalo sebelumnya sempat kehilangan motor dibawa kabur penyewanya. Wajar kalo pak Ketut jadi waspada.

Saya mendapatkan motor M** untuk disewa, berikut dengan 2 helm. Tapi sejak awal saya tiba di Bali saya beli helm dan jas hujan sendiri. Terus terang saya ga nyaman pakai helm pinjeman. Kalo jas hujan terpaksa beli karena bulan Juni sd Agustus di Bali sering hujan.

Saya akhirnya sejak Juli sd September menyewa motor dari pak Ketut saja, karena saya merasa nyaman dengan beliau. Selama sewa motor dari beliau saya tidak pernah mengalami masalah yang berarti. Hanya sekali saja saya mengalami ban kempes kena paku di deket kantor di daerah Sanur.

Bagi yang tidak terlalu peduli dengan motor keluaran tahun berapapun asal kondisi masih fit maka saya rekomendasikan menyewa dari Wira Rental Motor. Apalagi kalau anda tinggal tidak jauh dari Denpasar dan Sanur.

 

URUSAN MAKAN (KULINER)

Untuk urusan makan di Bali tidak terlalu berbeda dengan Jakarta. Baik pilihan ragam menu makanan dan harganya tidak jauh berbeda dengan di Jakarta.

Hanya saja hati-hati bagi anda yg Muslim karena di Bali banyak ditemui rumah makan yang menawarkan menu daging babi (pork), jadi harus hati-hati.

Saya pernah ketika pertama kali ke Bali saat itu jalan-jalan di sekitar Kuta, masuk restoran main duduk aja, ketika saya duduk saya baca menunya semua menu Babi :D Saya tanya ama pelayannya, “ini menunya semua babi aja?” kata pelayannya “iya pak”. Saya lalu bilang “kalo gitu saya ga jadi pesan gapapa ya?, mohon maaf” kata pelayannya “oh iya gapapa pak” dengan ramahnya. Saya pun melangkah keluar rumah makan itu. Saya salah karena saat di luar rumah makan tidak membaca tulisan di luar dengan cermat, main buru-buru masuk aja karena lapar :D

Saya suka nasi goreng, maka dimanapun saya pergi biasanya saya cari menu Nasi Goreng. Karena saya tinggal di Bali untuk beberapa bulan, maka lumayan sering saya mencari dan makan Nasi Goreng, terutama nasi goreng di pinggir jalan. Nasi Goreng di Bali sedikit berbeda dengan Nasi goreng di Jakarta. Nasgor di Bali lebih berwarna kemerahan, kayak dikasih obat merah obat luka :D hehehehee Kalo di Jakarta Nasi Goreng kan lebih coklat warnanya.

Makanan lain yang saya sering beli adalah Pecel Ayam (kalo di Jakarta disebut Pecel Ayam dan Pecel Lele). Nah di Bali saya sebutkan itu ke teman saya, maka saya diantarkan teman ke tempat makan Nasi pecel khas Madiun hahahahaha Ternyata yang disebut Pecel Ayam atau Pecel Lele di Jakarta di Bali disebutnya Lalapan.

Saya lebih setuju dengan sebutan ala Bali ini sih. Sebutan Pecel Ayam di Jakarta itu menurut saya salah kaprah. Sejak saya kenal Pecel Ayam di Jakarta saya udah protes kenapa disebutnya “Pecel”. Sebagai orang yang punya darah dari Magetan (deket Madiun) yang saya tau Sego Pecel (Nasi Pecel) itu ga kayak gitu. Harusnya sebutan di Jakarta kayak di Bali aja, Ayam Goreng Lalapan :)

Kalo bicara harga makanan harga di Bali dan Di Jakarta tidak terlalu jauh berbeda.

 

LAUNDRY

Hal lain yang biasanya dibutuhkan adalah jasa cuci baju. Di Jakarta saat kos ada kosan yang sudah termasuk jasa cuci baju dan setrika. Di Bali saat saya cari-cari kosan setiap saya tanya mereka tidak ada jasa cuci dan setrikanya. Rata-rata diarahkan untuk ke Laundry.

Setibanya saya di Bali, ternyata memang saya lihat di Bali banyak sekali terdapat jasa laundry dan setrika pakaian. Harganya sangat bervariasi, mulai dari satuan dan kiloan. Pokoknya banyak pilihan dan mudah sekali ditemui.

Namun untuk orang seperti saya yang “agak ribet” untuk masalah cuci dan setrika maka saya tidak menggunakan jasa laundry. Kecuali untuk selimut dan seprei yang besar. Untuk baju sehari-hari dan baju kerja ke kantor saya cuci sendiri. Hal ini disebabkan saya trauma dengan cucian laundry sebelumnya. Suka ga bersih nyucinya, Setrikanya bikin rusak kain, atau bahkan hilang. Walopun diganti uang tapi yg namanya baju hilang kan kesel.

Tadinya kalo ada jasa cuci dikosan saya pikir lebih enak karena bisa di monitor langsung ke mbak cucinya. Ternyata kosannya tidak ada jasa cuci, ya sudah cuci sendiri.

Harga jasa Laundry pakaian di Bali juga tidak terlalu jauh berbeda dengan harga di Jakarta.

Demikian cerita dan sharing tentang persiapan saya untuk tinggal dan menetap di Bali terutama di Denpasar Selatan dan Sanur untuk beberapa bulan. Semoga bermanfaat.
Simak ulasan saya tentang Kosan di Bali dalam tulisan lain. Sabar ya.

 

 

 

 

Kamar dan Tempat Tidur

Kost di Griya Salam – Pejompongan

Sejak awal 2014 saya rasakan jalanan menuju dan dari arah Jakarta di pagi dan sore hari kok rasanya makin macet. Terutama sejak MRT mulai dibangun di Jakarta. Saya tinggal di kawasan Depok sementara kantor saya di daerah Pejompongan. Jam masuk kantor saya jam 07.30 WIB, jadi saya pergi dari rumah sekitar jam 05.30 WIB. Biasanya jam 07.00 atau 07.15 saya sudah sampai di Pejompongan, tapi sejak kemacetan yang semakin parah maka saya sampai Pejompongan pernah jam 09.00 WIB. Walaupun saya ga nyupir tapi kasian aja ama pak supir nya berjam-jam, saya nya juga kadang ga betah di tengah kemacetan apalagi kalo kebelet pipis ;)

Saya kemudian terpikir untuk nge-kost saja di sekitar kantor saya. Apalagi disekitar kantor saya banyak kost-kostan dan dikenal sebagai surganya kuliner di Jakarta. Daerah Pejompongan dan Benhil ini saingan ama daerah Tebet untuk urusan lokasi kost dan kuliner. Sebelumnya saya pernah Kost di sekitar Tebet, tapi kostnya dirumahan lho ya, bukan kost yg model bisa check-in hehehehe :)  Saya Kost di Tebet Barat sekitar tahun 2010-an. Pernah juga sebelumnya kost di cikoko – pengadegan – pancoran dan sekitarnya, dekat ama kantor saya yang lama di MT Haryono Pancoran. Tahun 2002 saya pernah kost di Cikini deket RS PGI ketika saya pendidikan ODP di UI Salemba. Saya juga pernah kost di Bandung tahun 2011, yaitu Kost di Jalan Buah Batu, deket Kantor Pusat Bank Saudara di Buah Batu dulu (sebelum pindah ke Jl. Diponegoro Bandung). Pengalaman Kost saya justru setelah saya selesai kuliah dan saat bekerja, karena saya kuliah justru deket ama rumah :D

Akhirnya saya bulatkan tekad untuk kost saja karena macetnya makin hari makin parah. Saya cari kostan prioritas yang ga jauh dari kantor, karena saya ga pengen keluar budget ekstra untuk ongkos jalan. Kalo sudah kost masa keluar anggaran lagi buat transpor pikir saya. Untungnya deket kantor saya banyak kostan. Salah satunya adalah Hotel & suites Le-Green cuma kosan ini termasuk kelas wahid harganya. Saya selain ga sanggup budgetnya, ternyata tidak ada room yang available juga dalam waktu dekat.

 

Kostan Griya Salam – Jl. Salam Pejompongan Benhil

Kebetulan staf di kantor ada yang pernah browsing atau survei langsung kostan disekitar kantor, jadi saya gunakan saja database yang ia miliki. Ternyata persis di depan kantor saya ada gang, namanya Jl. Salam. Di situ katanya ada kostan. Saya pun meluncur ke TKP. Yang jaga saat itu ada mas Kiki namanya ama istrinya saya lupa. Saya langsung tertarik dengan Kostan ini yang ternyata namanya Kostan Griya Salam. Kostan ini memiliki 17 kamar. Saya tidak mengecek sebelumnya dari website atau mungkin saya mengecek di website tapi saya lupa. Seinget saya hanya mengandalkan catatan dari teman saya. Ternyata ketika saya menulis artikel ini kostan Griya Salam ini ada di link ini http://www.kostjakarta.com/tag/pejompongan/

Saat itu karena saya belum browse di internet saya mendapat penjelasan sebagai berikut, yang kurang lebihnya sama dengan di link http://www.kostjakarta.com/tag/pejompongan/

  • Harga Sewa kostan saat itu per bulan mulai: Rp 2.200.000, Rp 2.700.000, Rp 2.900.000 dan Rp 3.200.000 (harga ini perlu dicek lagi updatenya)
  • Deposit uang Rp. 1.000.000,00 (akan dikembalikan jika kita selesai kost dan meninggalkan kostan)
  • Penghuni Kost Untuk: Pria dan Wanita
  • Ukuran Kamar: Mulai 12 m2, 16 m2, 17,5 m2 dan 19,5 m2
  • Sekamar Boleh Berdua: Ya (tergantung ukuran kamar)
  • Biaya Tambahan Sekamar Berdua: Rp 400.000 per bulan (harga ini perlu dicek lagi updatenya)
  • Fasilitas: Tempat Tidur Springbed, TV LED 23’, AC, Kamar Mandi Dalam (Shower Air Panas/Dingin, Kloset Duduk, Washtafel), Lemari Pakaian, Rak Dinding, Meja Belajar dan Kursi, Tempat Sampah Kamar dan Kamar Mandi.
  • TV bisa dengan TV Cable tapi hanya di kamar tertentu dan ada biaya tambahan (saat saya kost sekitar Rp. 100 ribu per bulan saat terakhir saya kunjungi bulan Juli 2015 sudah menjadi Rp. 150.000,-).
  • Fasilitas Umum: Pantry bersih, Kulkas, Dispenser, Meja Makan, Mesin Cuci, Setrika, Area Jemur Baju, Ruang Tamu, Area Santai penghuni, Free WiFi Connection (saat saya kost menggunakan First Media sama dengan TV Cable).
  • Parkir Mobil: terbatas seingat saya hanya bisa nampung 4 (empat) mobil dan dikenakan biaya tambahan per bulan yang saya lupa besarnya karena saya tidak bawa mobil.
  • Parkir Motor: Ada. Tidak dikenakan biaya tambahan untuk penghuni kost.
  • Untuk jasa Cuci & setrika per bulan Rp. 250.000 (tidak dibatasi jumlah pakaiannya)
  • E-mail: griya.salam@yahoo.co.id
  • Telp: 021-5731934

 

Saya langsung kepincut (jatuh hati) ama Kostan Griya Salam ini. Cuma sayangnya waktu itu kamar yang tersisa dan paling murah adalah kamar A7 dengan harga saat itu Rp. 2.200.000,00 sementara kamar lain ada di sebelahnya tapi harganya Rp. 3.200.000,00 karena besar dan ada kulkas di dalamnya. Selain itu ada kamar kosong lainnya diatas, saya males kalo mesti naik-naik lagi keatas (walaupun pada akhirnya saya sempat pindah juga ke kamar di lantai atas).

 

Ini adalah penampakan kostan Griya Salam tersebut, foto dibawah ini diambil dari dari website http://www.kostjakarta.com/tag/pejompongan/

 

Sedangkan foto-foto ini saya ambil dengan smartphone android saya:

Ruang Tengah

Ruang Tengah

Dapur Bersama

Dapur Bersama

Selain melakukan pembayaran sewa kost, penyewa kamar kost juga harus mematuhi tata tertib dan menandatangani surat perjanjian sewa kost yang telah dibuat oleh pemilik kost. Jadi di Griya Salam ini lumayan lengkap aturannya. Selain itu kita juga harus menyerahkan foto copy KTP kepada pemilik kost.

Tata Tertib Kost:

Surat Perjanjian Sewa Kost:

 

Kamar A7 (Kamar yang tidak ada sirkulasi udara & deket dapur)

Saya putuskan untuk mengambil kamar A7. Kamar ini adanya di pojok, ada jendelanya tapi langsung ke dapur (Foto Dapur Bersama adalah foto diatas). Sehingga saya pastikan tidak akan pernah saya buka jendela ini. Saya sebenarnya kurang suka kamar ini karena tidak ada cahaya matahari yang masuk, dimana buat saya cahaya matahari adalah sangat penting (buat berfotosintesa hehehehe). Kamar itu kalo ga ada cahaya matahari masuk akan lembab rasanya. Apalagi kalo pake AC.

Tapi saya pikir ya sudahlah, untuk sementara gapapa. Nanti jika kamar yang ada sinar matahari nya ada yang pindah penghuninya maka saya akan tukar kesana. Akhirnya saya putuskan kasih DP untuk kamar ini, karena kabarnya sudah ada yang mau atau naksir juga ama kamar ini.

Kamar A7 Kamar pertama saya

Kamar A7 Kamar pertama saya

Pulang dari liat kostan Griya Salam dan bayarin DP saya masih sempatkan diri ke Jl. Pejompongan Baru yaitu satu gang disebelahnya. Saya liat-liat lokasi kostan di Jalan ini, tapi sayangnya Kostan yang ada terlalu kostan banget bentuknya. Artinya Kamar kamar saling berhadapan kayak di asrama. Beda dengan di Griya Salam tadi yang kostannya berbentuk rumah dimana ada ruang tamu, ruang makan, ada dapur dan lain-lain, serta bangunannya yang masih baru. Sedangkan di kostan ini penghuni kos dikasih akses jalan sendiri berupa tangga, semua kamar di lantai 2. Ada kamar yang kosong sih, tapi ya itu tadi saya ga mood liat pengaturan kamarnya. Di Kamar disediakan tempat tidur, lemari dan meja. Kostan ini bangunan lama dan perabotannya juga lama. Ya sudah saya sekedar liat aja kostan ini, saya sudah fixed di kostan Griya Salam.

Peta Lokasi Kostan Griya Salam di Pejompongan Bendungan Hilir

Peta Lokasi Kostan Griya Salam di Pejompongan Bendungan Hilir

 

Saya masuk kamar Kostan ini resmi tanggal 2 Mei 2014. Saya langsung betah juga dikosan ini, karena fasilitasnya nyaman dan penghuninya juga enak. Tidak berisik seperti kostan di Grogol (dulu saya pernah ngerasain beberapa hari, karena kostan nya mahasiswa maka berisik banget kalo malam, mereka setel musik dan ngobrol). Saya langsung akrab dengan mas yg jaga Mas Kiki dan istrinya, mereka berdua baik dan sangat akrab.

Seperti yang saya sudah sampaikan, karena kamar saya deket dapur alias memang didepannya dapur maka kondisinya sedikit berisik. Terutama jika ada yang masak. Selain itu Galon air minum ada di depan kamar saya. Jadi siapa saja yang ambil air minum dan lalu lalang di dapur saya jadi mendengar. Saya sih tidak terlalu terganggu sekali ama hal ini, sebab saya kalo sudah tidur juga kebluk banget. Yang paling mengganggu buat saya adalah lembabnya kamar ini. Saya coba buka jendela kalo saya tinggal ngantor, tapi kan si mbak dan penghuni lain suka masak pas saya ga ada, kamar saya jadi bau masakan (bisa-bisa pas pulang kantor kamar saya bau ikan asin atau apalah).

Awalnya saya tidak langganan TV Cable, saya pake antena TV yang biasa dan sudah tersedia di dinding, tapi ternyata gambarnya jelek sekali. Terutama saat itu saya butuh Metro TV untuk nonton berita dan Trans7 untuk nonton OVJ :) Wah ga beres nih kalo gini, akhirnya saya ngobrol ama mas Kiki, katanya ada 1 dekoder yang masih available dan dia mau cek apakah ke kamar saya kabel TV nya udah siap dan tinggal colok dengan saluran pembagi di atas. Ternyata beberapa hari kemudian kata mas Kiki semuanya beres, okay. Jadi saya bisa pake TV Cable. Berguna juga sih TV cablenya, sebab saya ga bete kalo pulang kantor ga ada yang dikerjain. Terutama untuk tau berita perkembangan terkini di Metro TV.

Saya jalani Bulan Mei, Juni dan Juli  (pertengahan akhir) di kamar A7 ini. Oh ya satu yang enak dari kamar ini adalah ketika bulan Juni/Juli adalah bulan Ramadhan :) Karena saya di depan Dapur maka saya tidak pernah kesiangan untuk Sahur :) Sahur jadi bangun dan gampang siapinnya karena dapur pasti ada aja yang berisik nyiapin sahur. Kemudian pas menjelang Lebaran mas Kiki dan Istrinya pulang ke kampung dan tidak kembali lagi. Mereka digantikan oleh Mbak Jum dan Mas Bambang sebagai penjaga yang baru.

Biaya per bulan selama saya di kamar A7 ini adalah:
- Sewa Kamar Rp. 2.200.000,00
- Cuci dan Setrika Rp. 250.000,00
- TV cable Rp. 100.000,00
Total biaya per bulan adalah Rp. 2.550.000,00

Saya makin lama tapi makin tidak betah dengan kamar ini karena terasa semakin lembab dan berjamur. Saya merasa tidak ada sirkulasi udara yang sehat di kamar ini. Serba salah, dibuka udara yang masuk udara dapur, ditutup jadi pengap. Saya jadi teringat dengan kamar kostan saya di Tebet dulu yang tidak ada jendelanya, sehingga kamar saya pengap sekali hanya mengandalkan AC saja. Anehnya setelah saya pergi ada penghuni baru seorang wanita mahasiswi yang betah sekali menghuni kamar ini :) Saya sih nggak kuat deh …

 

Kamar B2 (Kamar yang salah desain, Kamar mandi terlalu besar)

Pertengahan Juli menjelang Lebaran saya dapat kabar kalo kamar di lantai 2 yaitu kamar B2 kosong. Si penghuni sebelumnya sudah pindah. Saya buru-buru liat kamar ini seperti apa. Wah saya senang sekali dengan posisi kamar ini karena posisinya di depan, jadi jendelanya langsung ke arah jalan Salam, matahari pagi juga bisa masuk ke dalam. Aduhh senangnya saya dengan kamar yang ada sinar matahari seperti ini :) Sebelum pindah ke kamar B2 ini Mas Kiki periksa dulu apakah jaringan TV Cable bisa dipindah dari kamar A7 ke B3 ini. Ternyata bisa, sehingga saya bisa pindah ke kamar ini.

Saya akhirnya ambil kamar B2 ini dan siap-siap pindah di akhir Juli. Harga kamar ini per bulannya memang lebih mahal yaitu Rp. 2.700.000,00 kamarnya pun lebih sempit. Hal ini disebabkan penataan dan lay-out desain kamarnya yang menurut saya salah. Salahnya adalah kamar mandinya terlalu besar sehingga banyak mengambil ruangan dan lemari pakaian menempel pada dinding sisi kamar mandi bukan ke dinding tembok yang membatasi dengan kamar sebelah. Sehingga kamar ini terasa lebih sempit. Dibanding kamar saya di A7 kamar di B2 ini jauh terasa lebih sempit.

Tapi lagi-lagi saya suka dengan sirkulasi udaranya. Jika pagi hari matahari menembus tirai jendela dan saya pasti akan bangun. Kemudian suara pedagang yang lewat di jalanan juga pasti akan terdengar, saya bisa memanggil mereka dengan mudah, tinggal turun aja untuk selesaikan transaksi :) Jika saya pergi ke kantor jendela sedikit saya buka, tirai juga saya buka dan aman karena ada teralisnya. Kamar saya juga sirkulasi udaranya jadi enak, kasur dan bantal kena matahari pagi. Inilah kelebihan kamar saya yang baru ini :)

Memang kamar B2 ini lebih mahal dari kamar A7 dan sedikit sempit tapi saya lebih senang dan betah di kamar ini. Gapapa lah lebih mahal yang penting sirkulasi udaranya sehat. Udaranya selalu berganti setiap hari. Saya tinggal di kamar ini sejak akhir Juli, sampai bulan Februari (sekitar 7 bulan). Di kamar inilah saya menyelesaikan Tesis saya untuk S2 MM saya di IBS. Saya sayang sekali dengan kamar ini, jika saja dulu desainnya tidak salah dan ukurannya sedikit lebih besar maka ini akan jadi kamar paling sempurna di kostan Griya Salam.

Biaya per bulan selama saya di kamar B2 ini adalah:
- Sewa Kamar Rp. 2.700.000,00
- Cuci dan Setrika Rp. 250.000,00
- TV cable Rp. 100.000,00
Total biaya per bulan adalah Rp. 3.050.000,00

 

Kamar A3 (Kamar paling top & saya paling suka)

Februari 2015 saya denger berita kamar A3 di lantai bawah kosong, penghuni sebelumnya adalah 2 orang pramugari yang berbagi kamar dengan menyewa kamar tersebut. Keduanya pindah barengan sehingga kamar A3 ini langsung kosong. Saya langsung melihat kamar ini untuk observasi. Kamar A3 ini terletak di lantai bawah sisi depan. Kamar ini memiliki jendela yang langsung ke parkiran mobil di depan rumah. Juga langsung bisa melihat ke jalan Salam. Sehingga sinar matahari juga masuk ke kamar ini.

Saya langsung jatuh hati ama kamar A3, inilah kamar yang cocok sekali dengan keinginan saya. Saya pun langsung menghubungi ibu pemilik kos (Ibu Evelyn) untuk kabarkan saya pindah kamar (lagi). Kamar ini memiliki kelebihan dibanding kamar B7 dalam hal tata lay-out desainnya, dimana kamar A3 ini terkesan jauh lebih luas. Tidak seperti kamar B2 yang lebih sempit. Seperti sebelumnya maka saya pindahan lagi ke kamar bawah :) Di kamar ini saya betah banget, karena sama seperti kamar B7 sinar matahari pagi masuk ke kamar dan bisa buka jendela untuk sirkulasi udara. Namun walaupun ada teralis besi, saya tidak menempatkan barang berharga dekat jendela karena ngeri takut hilang jika dikait melalui jendela oleh orang yang lewat depan kostan yang tidak berpagar.

Sewaktu pindah ke kamar A3 maka jaringan TV Cable saya juga pindah lagi dari kamar B2 ke kamar A3 ini. Karena sudah tidak ada Mas Kiki maka kali ini Bu Evelyn pemilik kost panggil teknisi dari First Media. Tapi ga ada masalah yang berarti, semuanya lancar-lancar saja. Akhirnya saya kembali pindah ke kamar baru saya.

Oh ya kamar A3 ini tidak berbeda harganya dengan kamar B2. Saya bayar per bulan Rp. 2.700.000,00 secara umum saya puas dengan kamar ini. Hanya sedikit kekurangannya adalah:

  1. Di tembok pojok kamar sisi depan terdapat rembesan bocoran yang sedikit mengganggu saya. Kemudian di kamar mandi terdapat tetesan bocoran dari saluran air kamar diatas kamar saya. Sudah beberapa kali ditambal namun hasilnya kurang maksimal.
  2. Pintu kamar saya memiliki rangka (frame) yang berdempetan dengan pintu kamar sebelah (Kamar A2). Sementara penghuni kamar sebelah saya jika menutup pintu kamarnya itu cenderung dilepas / slamming, akibatnya semua terasa bergetar. Saya sebel banget kalo penghuni sebelah kamar saya pulang kantor atau ada di kosan, pasti tembok saya bergetar semua. Suaranya itu keras dan mengganggu saya.

Biaya per bulan selama saya di kamar A3 ini adalah:
– Sewa Kamar Rp. 2.700.000,00
– Cuci dan Setrika Rp. 250.000,00
– TV cable Rp. 100.000,00
Total biaya per bulan adalah Rp. 3.050.000,00

Sayangnya saya tidak lama di kamar ini, saya masuk Maret 2015 dan saya selesai kerja di kantor saya bulan Juni 2015. Sehingga tanggal 11 Juni 2015 saya sudah meninggalkan kostan Griya Salam. Sedih juga rasanya tinggalkan kostan ini, banyak kenangan dan hal menarik selama saya kost di Griya Salam ini. Beberapa hal menarik dari kost saya kali ni adalah:

  1. Ini adalah kost saya untuk yang ke 7 (tujuh) kalinya dalam hidup saya, dimana kost saya pertama kali di Cikini tahun 2002.
  2. Kost saya kali ini adalah rekor yang paling lama durasinya yaitu sejak Mei 2014 hingga Juni 2015 (sekitar 1 tahun), yang paling lama sebelumnya di Tebet yaitu pada November 2009 s/d Juni 2010 dan di Bandung sejak Maret s/d Agustus 2011.
  3. Kost saya di Griya Salam ini juga tercatat sebagai kost saya yang paling banyak pindah kamar, saya pindah kamar sebanyak 3 (kali), sebelumnya di Bandung dan di Cikoko Jakarta saya pindah kamar 2 (dua) kali saja.
  4. Kost saya di Griya Salam adalah kostan saya yang paling mahal dibanding kostan saya sebelumnya. Sebelumnya kostan saya standar saja fasilitasnya, ada AC tapi tidak sampai semahal ini. Kost di kawasan Benhil memang cukup mahal.

Saya akhirnya pergi meninggalkan Kostan Griya Salam ini dengan begitu banyak kenangan.

 

Oh ya selama saya Kost di Griya Salam bukan berarti saya tidak mencari kostan yang lain atau tidak membandingkan lagi. Justru beberapa kali saya ingin pindah ke kostan yang ada disekitar situ juga, namun setelah dipertimbangkan saya urungkan niat untuk pindah kost.


Kosan Lux Limboto

Saya tertarik dengan kosan di Jl. Limboto persis depan SMKN 19 Jakarta sudah sejak lama. Kostannya mewah dan dari luar terlihat ekslusif seperti rumah mewah. Kostan ini memiliki basement untuk parkir mobil. Sewaktu saya berkunjung saya semakin sadari bahwa kostan ini memang mewah beneran. Ada lift untuk naik kesetiap lantai.

Saya pernah survei ke lokasi kostan ini, di kostan ini dijaga oleh beberapa pembantunya. Saat itu ada dua kamar yang kosong, biasanya kostan ini selalu penuh. Fasilitas di kostan ini tidak terlalu berbeda dengan di Kostan Griya Salam. Hanya saja satu yang paling berbeda adalah “Listrik bayar sendiri“. Jadi disetiap kamar ada meteran yang terdapat token pulsa untuk PLN. Selain itu cuci dan setrika juga bayar lagi, tapi ini dibatasi per stel pakaian per hari. Beda dengan di Griya Salam yang bebas cuci berapa stel tidak dihitung.

Selebihnya saya liat sama saja, ada fasilitas ruang tamu yang lebih luks daripada Griya Salam, ada juga dapur kering, parkir mobil juga tersedia namun bayar tambahan juga, kemudian fasilitas air dengan heater, wi-fi dan TV cable. Semuanya saya lihat mirip dengan Griya Salam hanya sedikit lebih mewah saja. Sewaktu saya berkunjung harga kamar yang ditawarkan adalah Rp. 3.500.000,00 belum termasuk Listrik tadi, cuci & setrika dan parkir mobil.

Saya sih senang dengan kostan ini, tapi kok harganya belum masuk dengan hitungan kantong saya.

 

Kostan Jl. Danau Limboto

Berikutnya adalah kostan di Jl. Danau Limboto namanya saya lupa tapi lokasinya di depan Perpustakaan Fadli Zon. Sayangnya kostan ini setelah saya cek bentuknya seperti Asrama sekali, dimana masih-masing kamar berhadapan dan tidak ada jendela dengan pencahayaan atau sirkulasi luar. Ada jendela namun karena masing-masing kamar berhadapan maka jendelanya hanya di sisi akses jalan di antara kamar saja. Jika dilihat di foto, jendela di Kostan luks diatas sedikit lebih baik, karena jendela nya bisa mendapat udara dan cahaya dari luar.

Selebihnya saya lihat kasur dan perabotannya juga sudah lumayan lama. Jika dibandingkan dengan Griya Salam tetep lebih baru Griya Salam. Kelebihannya kostan ini kamarnya berukuran besar-besar. Selain itu harganya Rp. 2.800.000,00 sudah termasuk semua. Termasuk juga kamar dibersihin setiap hari.

Karena faktor sirkulasi udara dan cahaya, serta kurang baru perabotannya maka saya urungkan niat saya untuk pindah ke kostan ini.

 

Demikian cerita saya tentang kostan di daerah Pejompongan, mungkin bisa jadi referensi bagi mereka yang ingin kost di daerah ini.