Posts

banner

Operasi Hernia Kucing Saya di RS Hewan Jakarta

Cerita saya kali ini diawali ketika kami kedatangan seekor kucing ras awal Juni 2016 di rumah. Kucing ini diantarkan oleh Satpam sekolah yang berada dibelakang rumah. Alasan satpam memberikan kucing ini kepada ibu saya karena mereka tidak punya makanan kucing.

Di rumah memang ibu saya memelihara atau merawat lebih dari 20 ekor kucing lokal, tidak ada yang kucing ras. Karena kasihan melihat kondisi kucing ras ini maka ibu mau menerima kucing tersebut untuk dititipkan. Entah dari mana kucing itu berasal, juga tidak ada buku keterangan yang menyertainya. Sehingga tidak jelas juga usia nya.

Karena bulunya berwarna hitam maka kucing yang baru datang ini kami beri nama KELING.

Si Keling

Si Keling

Setelah beberapa hari di rumah kami, kami baru menyadari bahwa di tubuh si Keling terutama di bagian perutnya terdapat benjolan bulat sebesar bola bekel atau telur ayam. Kami tentu sedih melihatnya. Akhirnya karena ibu ga tega, maka ibu menghubungi pet shop di dekat rumah, tempat langganan ibu biasa membeli makanan kucing, untuk tanyakan jadwal praktek dokter hewan di pet shop tsb.

Benjolan di perut si Keling

Benjolan di perut si Keling

Setelah dihubungi via telpon oleh ibu, pet shop tersebut kemudian menjemput si Keling untuk diperiksa Dokter Hewan di pet shop tersebut. Setelah beberapa menit Keling dibawa ke Pet Shop tidak lama dia sudah diantarkan kembali. Ternyata menurut karyawan Pet Shop tersebut Dokter Hewan di tempatnya tidak bisa melakukan tindakan untuk mengobati benjolan si Keling. Bahkan si mas nya bilang kata dokter hewan si Keling ini ada Tumor. Selanjutnya ia merekomendasikan agar kami membawa si Keling ke rumah sakit hewan di daerah Ragunan.

Saya dan Ibu saya tidak tega sekali melihat Keling. Nasibnya sungguh menyedihkan. Mengapa dia bisa sampai ke tangan kami dengan kondisi seperti ini? Kemana pemilik sebelumnya? Mengapa Keling yang sakit seperti ini justru bisa berpindah-pindah tangan seperti ini.

 

Rumah Sakit Hewan Jakarta

Saya tidak tau tentang rumah sakit untuk Hewan. Selama ini saya hanya mendengar ada di Ragunan. Oleh sebab itu saya minta adik saya untuk mencari informasi tentang Rumah Sakit untuk hewan yang ada di daerah Ragunan.

Adik saya kemudian mencari tau Rumah Sakit yang dimaksud tersebut. Ternyata di wilayah Ragunan ia temukan 3 RS terkait untuk Hewan, yaitu:
1. Rumah Sakit Hewan Jakarta (RSHJ)
2. Klinik PPSJ (Pondok Pengayom Satwa Jakarta)
3. Puskeswan DKI (yaitu Pusat Kesehatan Hewan milik Pemprov DKI Jakarta)

Saya karena sibuk maka tidak sempat browsing atau cari info RS yang murah dan terbaik. Sehingga secara cepat saja saya putuskan ke RSHJ. Apalagi saya juga sering sekali dengar tentang RSHJ ini, jadi yang kepikir kayaknya ya RS ini yang bagus buat hewan.
RSHJ beralamat di Jl. Harsono RM No. 28 (belakang) Jakarta 12550 Telp. 021 7891093, 7891 094 Fax. 021 22701357 email: rshj.ragunan@gmail.com

Senin 13 Juni 2016, saya dan adik saya membawa si Keling ke RSHJ. Sekitar jam 10 pagi kami ke RSHJ. Di lobby saya langsung diarahkan satpam untuk mendaftarkan si Keling. Saya langsung ke loket pendaftaran disana saya mengisi formulir dan menyebutkan sekilas keluhannya.

Lobby RSHJ

Lobby RSHJ

Setelah mengisi formulir maka saya dipersilahkan menunggu di ruang tunggu. Pagi itu belum terlalu banyak pasien yang menunggu, sehingga tidak lama kemudian nama si Keling dipanggil. Saya dan Keling masuk ruangan periksa.

Di dalam ruangan sudah ada pak dokter Didi dan seorang perawat pria yang langsung menangani Keling. Keling yang saya masukkan keranjang langsung di keluarkan oleh perawat ke meja periksa. Sementara saya dipersilahkan duduk oleh dokter untuk menceritakan keluhan pasien apa. Saya kemudian jelaskan bahwa saya baru saja mendapat kucing ras yang ternyata ada benjolan di perutnya.

Pak Dokter Periksa si Keling

Pak Dokter Periksa si Keling

Setelah mendengarkan penjelasan saya maka dokter memeriksa si Keling. Dokter memeriksa dengan seksama. Setelah memeriksa Dokter sampaikan ke saya bahwa si Keling menderita HERNIA.

Walah… saya heran banget, masa si Keling yang kucing gitu bisa Hernia sih dok? apalagi si Keling kan betina. Kata dokternya walaupun kucing betina bisa saja mengalami Hernia. Menurut dokter jalan untuk mengobatinya adalah dengan di operasi :(

Saya ga tega banget denger si Keling kena Hernia. Saya konsultasi ama Ibu melalui telepon untuk menentukan bagaimana baiknya. Ibu bilang sih terserah saya ajalah. Saya kemudian tanya ke pak Dokter jika di operasi berapa biayanya dan berapa lama masa penyembuhannya?

Dokter kemudian mengatakan perawatan harus rawat inap, dengan masa perawatan yang bervariasi antara 3 sampai dengan 7 hari. Tergantung apakah lukanya cepat kering dan tidak ada hal lain yang mengganggu pemulihan. Kemudian untuk biayanya pak dokter kemudian koordinasi dengan bagian administrasi, cukup lama juga perhitungan simulasi biayanya. Saya ditinggalkan bersama si Keling di ruangan periksa.

Sebelumnya sempat juga mas Perawatnya sedikit pangkas bulu nya Keling, karena memang sepertinya sudah lama sekali Keling tidak dipangkas.

Kemudian dokter sampaikan biaya operasi dan rawat inap untuk perkiraan 7 hari adalah sekitar Rp. 3,3 juta.
Wuidiihhh mayan mahal juga ya…. :) Mana saya lagi bokek lagi… :(
Saya tanya ama pak Dokter apa saya ga bisa dikasih keringanan pak? Kemudian pak dokter Didi sampaikan bahwa paling dikurangin dari biaya rawat inapnya, kalo misalnya  ga sampai 7 hari maka biaya akan lebih murah.

Berhubung saya orangnya ogah rugi juga, saya tanya lagi apakah bisa sekalian si Keling di steril juga? Plus biaya nya udah include… Pak Dokter kemudian konsultasi dengan administrasi lagi dan kemudian nyatakan permintaan saya bisa diterima. Jadi si Keling di operasi Hernia sekaligus di steril. Biayanya semua sudah all in, baik operasi Hernia dan sterilisasinya.

Saya pikir sudah lumayan lah, biaya sudah bisa ditekan dan juga nanti semoga bisa pulang lebih cepat tidak perlu sampai 7 hari. Setelah saya sepakat maka si Keling di periksa lagi oleh pak dokter dan kemudian dipasang infus. Rencananya Keling akan menjalani operasi sore harinya dan akan menjalani puasa dulu, karena terakhir Keling makan sekitar jam 6 pagi.

Si Keling mau di infus

Si Keling mau di infus

Setelah sepakat dengan pak dokter maka saya menunggu di ruang tunggu untuk nanti dipanggil oleh bagian administrasi. Saat menunggu ini saya gunakan waktu saya ini untuk melihat-lihat sekeliling lingkungan RSHJ.

 

Sekilas Tentang RSHJ

Ternyata RSHJ ini didirikan sejak 28 Desember 1993 dan diresmikan oleh Ibu Tien Suharto. Mantan ibu negara atau istri Presiden Soeharto. Di RSHJ ini ada prasasti yang ditandatangani oleh ibu Tien dan Bapak Soeharto.

Selain itu terdapat pula daftar dermawan yang ikut berperan dalam pembangunan RSHJ ini. Dimana salah satunya adalah nama ibu Tien juga tercantum. RSHJ inilah salah satu peninggalan bu Tien Soeharto yang saya syukuri. Tidak banyak pejabat atau orang yang punya pemikiran untuk membangun RS khusus bagi hewan. Apalagi di jaman itu. Kalau saat ini pecinta hewan sudah banyak, tapi kala itu kan masyarakat lebih banyak memikirkan perutnya sendiri.

Daftar Dermawan yang mendirikan RSHJ

Daftar Dermawan yang mendirikan RSHJ

 

RSHJ ini ternyata melayani pasien 24 Jam. Jadi kapan pun anda datang hewan peliharaan anda pasti ada yang menangani. Dokter dan perawat juga siap sedia.

Pengumuman RSHJ 24 Jam

Pengumuman RSHJ 24 Jam

Selain itu di RSHJ ini saya perhatikan juga memiliki fasilitas seperti:

  1. Ruang Periksa
    Ruangan periksa hewan yang saya masuki lumayan besar dan nyaman. Di RSHJ terdiri dari beberapa ruangan periksa. Sehingga jika banyak antrian pasien hewan saya pikir akan mampu ditangani dengan baik.
  2. Ruang Instalasi Gawat Darurat 
  3. Ruang Rawat Inap
  4. Ambulance
    RSHJ juga menyediakan layanan antar jemput bagi pasien yang membutuhkan kendaraan untuk antar jemput. Namun saya lupa menanyakan berapa biayanya. Mungkin bagi anda yang berminat bisa menelpon ke no telp RSHJ.
  5. Taman Pusara Satwa
    Taman Pusara Satwa terletak persis diseberang RSHJ. Saya terkesan dengan tempat pemakaman satwa di RSHJ yang sangat rapih, bersih dan terawat.
  6. Apotik
    Bahkan yang unik di depan Apotik terdapat mesin minuman yang bersifat self-service tidak dijaga, dimana pembeli harus jujur. Disitu ditulis “Kantin Kejujuran”, wah keren sekali menurut saya mereka menerapkan hal ini.

    Kantin di RSHJ, Kantin Kejujuran...Kerenn!!

    Kantin di RSHJ, Kantin Kejujuran…Kerenn!!

  7. Pembayaran menerima Kartu Kredit
    Saya tadinya mikir kalo RSHJ ini menerima pembayaran tunai saja. Wah mana saya ga bawa uang yang cukup lagi untuk bayar DP. Ternyata mereka memiliki mesin EDC utk gesek kartu, dan mesin itu dari Bank BCA. Kebetulan banget kartu saya juga BCA hehehehee … jadi deh saya ngutang :)

Selanjutnya saya mengurus administrasi, dimana saya harus membayar DP 80% dari seluruh total perkiraan biaya sebesar 3 jutaan. Sehingga saya bayar DP sebesar Rp. 2.5 Juta. Saya ngerti sih kenapa DPnya sampai 80%, sebab bisa saja terjadi hewan yang sudah dirawat tidak diambil oleh pemiliknya, pasti RS ini jadi rugi kan. Sehingga saya tidak komplain sama sekali akan kebijakan ini … Setelah saya selesaikan administrasinya, maka si Keling pun berpisah dengan saya, dia masuk ke kamar rawat inap :(

Sedih juga sih… :(

 

Besuk Si Keling

Tanggal 15 Juni 2016 hari Rabu, pagi-pagi saya sempatkan diri untuk nengokin si Keling. Saya kasihan juga ngebayangin si Keling di RS ga ada yang nungguin sakit abis di operasi :(

Sehari sebelumnya saya telpon ke RSHJ menanyakan kondisi si Keling, kata perawatnya si Keling sudah di operasi Senin sore dan kondisinya baik-baik saja. Hanya saja Keling perlu pemulihan penyembuhan luka agar kering. Selain itu Keling juga belum mau makan, sehingga perlu disuapi begitu juga dengan obat antibiotiknya yang perlu diminum 2 kali sehari.

Oh ya di RSHJ juga sama seperti RS pada umumnya juga ada aturan jam besuk, yaitu:

Jadwal Besuk Pasien RSHJ

Jadwal Besuk Pasien RSHJ

Pagi itu saya datang besuk si Keling, Kasian sekali dia, mukanya bete ketika saya datang. :( Keling berada di kandang besi di kamar besar tempat rawat inap yang dicampur dengan hewan lain tidak hanya kucing tapi juga anjing. Saya heran kenapa kok kucing dan anjing disatukan dalam satu ruangan. Apalagi Anjing yang ada diruangan itu suka menggonggong, saya pikir apakah hal ini tidak membuat hewan lain tidak stress terutama kucing.

Saya tidak bisa terlalu lama besuk dia, saya hanya pastikan saja bahwa Keling sudah sehat setelah di operasi. Tapi memang ada rasa sedih melihat kondisi si Keling.

Narsis dulu saat jenguk :)

Narsis dulu saat jenguk :)

Mau ninggalin juga rasanya ga tega :( padahal saya baru sebentar merawat dia tapi kok rasanya sedih melihat nasib dia… Ini adalah video saat saya jenguk si Keling …

 

Saya tanyakan ke perawat bagaimana kondisi si Keling. Sama seperti penjelasan kemarin di telepon si Keling masih dalam pemulihan dan ia belum mau makan. Saya lihat memang di kandangnya makanan keling belum dimakan :(
Kata perawatnya jika memang ingin dibawa pulang, maka pastikan Keling dipaksa makan dan diberi obat 2 kali sehari. Saya kemudian koordinasi dengan ibu enaknya gimana. Setelah dipikir-pikir sebaiknya Keling diinapkan saja dulu di RS, daripada repot di rumah tidak ada yang urus.

Akhirnya pagi itu saya tinggalkan Keling untuk nginap lagi di RSHJ :(

 

Si Keling Pulang

Hari Kamis, ibu sudah kangen banget ama Keling. Walaupun baru sebentar di rumah tapi kita udah terlanjur merasa kehilangan ketika Keling tidak ada di rumah. Saya tidak bisa menjemput Keling Kamis sore itu. Sehingga saya putuskan untuk jemput pulang Keling Jumat esok hari saja.

Keesokannya hari Jumat si Keling saya jemput. Saya datang ke RSHJ siang. Setelah saya serahkan dokumen administrasinya maka pihak RSHJ menghitung biaya serta menyiapkan Keling dan obat yang perlu dibawa pulang. Setelah beberapa lama pihak kasir memberitahukan bahwa saya harus membayar sebesar Rp. 2.673.000 untuk 5 hari perawatan dengan rincian sebagai berikut:

No Item Jumlah  Harga Satuan Sub Total
1 Registrasi 1 27,500 27,500
2 Konsultasi 1 110,000    110,000
3 Materai 2                6,500 13,000
4 Rawat Inap Kucing 5      85,000 425,000
5 Visit Dokter 5              25,000   125,000
6 Operasi OH dan Steril Kucing Betina 1        525,000    525,000
7 Infus + IV catch 1          150,000    150,000
8 Ampicilin Inj 1 gr (1 box 10) 4      17,000     68,000
9 Infus Asering (1 dus: 20) 2  21,000  42,000
10 Salep Garamycin 15 mg 1 95,000 95,000
11 Zoletil 1 65,000  65,000
12 isoflurane 250 ml 2 175,000       350,000
13 Vicryl 3.0 2   100,000    200,000
14 E. Colar 10 (1 bag: 12) 1    75,000     75,000
15 Topi 2  2,000   4,000
16 Glove 2  5,500 11,000
17 Slopel 1  3,000 3,000
18 Silet (bedah) 1 6,500  6,500
19 Masker (1 box: 50) 2  2,000  4,000
20 Syringe 1 ml (Nipro/ 1 box: 100 pcs) 10 4,000 40,000
21 Syringe 3 ml 1  3,000 3,000
22 Penicilin Inj (1 box/10 vial) 1 17,000 17,000
23 Claneksky 1 71,000 71,000
Total Biaya 2,430,000
Biaya Admin 10%       243,000
Total Biaya  2,673,000
Kwitansi

Kwitansi

Setelah dihitung dengan DP yang sudah saya bayarkan maka saya hanya tinggal membayar sisanya yaitu Rp. 173.000 saja. Saya bereskan administrasi semua sambil menunggu Keling disiapkan oleh perawatnya.

Sambil menunggu si Keling siap dibawa pulang saya di ruang tunggu mendapat penjelasan dari perawat tentang obat dan cara minumnya. Obat minumnya adalah antibiotik saja sementara obat satunya adalah salep Garamycin.

Saya sedang mengurus administrasi untuk menjemput si Keling

Saya sedang mengurus administrasi untuk menjemput si Keling

Tidak lama kemudian si Keling sudah siap dalam keranjang yang saya bawa. Maka saya pun pulang bersama Keling.

 

Overall

Saya senang sekali jadi tau ada RSHJ di Jakarta. Ini pengalaman pertama saya ke RS khusus hewan. Selama ini saya nonton di TV tentang hewan ada RS nya ya kayak di acara Bondi vet aja :) Seru dan mengasyikkan sepertinya bekerja dengan hewan. Walaupun nanti kalau sudah ngejalanin juga paling saya bete karena hewan suka nakal-nakal… walaupun tetap ngegemesin hehehehe

Saya juga senang RSHJ lokasinya tidak jauh dari rumah Ibu saya di Depok. Lokasinya juga asri. Senang liat semuanya bersih dan rapih.

Untuk biaya memang sepertinya agak mahal dibandingkan RS hewan yang lain, saya tidak yakin juga hanya nebak-nebak saja, tapi saya sih ikhlas saja, sebab sepertinya RSHJ ini walau dimiliki yayasan swasta bukan milik pemerintah tetapi juga harus menghidupi satwa-satwa liar yang tinggal disana. Ketika saya datang ada kucing dan anjing yang berkeliaran bebas, sepertinya memang sudah tinggal di RSHJ ini. Mereka santai sekali hidup berdampingan dan tidak takut dengan pengunjung :)

Hanya saja, menurut evaluasi saya si Keling terlalu lama menginap di RSHJ sampai 5 hari. Sepertinya cukup sampai Rabu saja atau 3 hari saja. Hal ini saya perhatikan karena ketika Keling sampai rumah, dia masih tidak mau makan seperti di RS, tapi setelah saya buka tudung atau topi di lehernya maka dia langsung lahap makan. Jadi persoalan tidak mau makannya si Keling langsung terpecahkan. Sepertinya untuk pemulihan pasca operasi cukup 3 hari saja, kemudian kita rawat sendiri di rumah. Dengan demikian biayanya bisa ditekan dan kita juga tidak terpisah lama dengan hewan peliharaan.

Yang jelas sejak pulang dari RSHJ si Keling sayang sekali ama saya, kalo saya pergi dia nyariin saya dan selalu dekat-dekat minta disayang :)
Kata ibu saya binatang itu perasaan nya tajam :)

 

RS hewan lain

Seperti sudah saya sampaikan sebelumnya, selain RSHJ juga terdapat Klinik PPSJ dan Puskeswan yang berada tidak jauh dari lokasi RSHJ.

Saya sempat menghampiri Klinik PPSJ. Letaknya berada di jalan akses Pusdiklat PLN. PPSJ ini ternyata dikelola oleh penyayang binatang yang bekerjasama dengan Pemprov DKI jakarta. Banyak hewan yang di rawat disana dan tersedia untuk diadopsi. Saya melihat dan menegok kedalam, tapi akhirnya jadi malahan sedih :(
Banyak kucing dan anjing yang menunggu untuk di adopsi disana. Selain itu mereka juga memiliki fasilitas pemeriksaan lab, operasi, steril dan vaksinasi. Saya pikir suatu saat saya perlu kesini juga jika ada hewan yang sakit. Sebab sepertinya disini juga dana nya subsidi silang untuk merawat hewan-hewan yang ada.

Sementara untuk Puskeswan saya belum sempat kunjungi. Lain kali saya juga akan cari tau tentang Puskeswan tersebut.

Demikian cerita saya kali ini yang berawal dari kedatangan kucing ras kerumah saya, sampai akhirnya saya tau rumah sakit untuk satwa. Semoga informasi ini juga bermanfaat bagi anda yang ingin mengobati hewan peliharaannya.

 

Me & Geisha

Opini: Urgensi Larangan Konsumsi Daging Anjing

Urgensi Larangan Konsumsi Daging Anjing

Oleh: Harri Baskoro Adiyanto *)

 

Anjing bagi sebagian besar masyarakat adalah binatang setia sahabat manusia, sehingga tidak heran banyak dipelihara. Sementara bagi sebagian masyarakat lainnya daging anjing justru dikonsumsi. Hal ini sesungguhnya mengkhawatirkan bukan hanya karena alasan kesehatan namun juga dampak sosial yang ditimbulkan. Hingga kini belum ada regulasi yang mengatur masalah konsumsi daging anjing. Padahal sangat mendesak dan penting untuk segera diatur oleh pemerintah.

Menurut Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, saat ini 40.000 ekor anjing masuk ke DKI Jakarta per hari untuk diperdagangkan. Sementara menurut Animal Friends Jogja (AFJ) perdagangan daging anjing di Jawa Tengah mencapai 2000 ekor per minggu. Selain di 2 Propinsi tersebut tingginya konsumsi daging anjing juga tersebar di daerah lain seperti Bandung, Bali, Medan, dan Manado.

Perlunya pelarangan konsumsi daging anjing bukanlah tanpa alasan. Walaupun menurut ajaran  agama Islam diharamkan mengkonsumsi daging anjing, namun konsumsi daging tersebut tetap tinggi di Indonesia. Hal ini dapat dipahami karena yang mengkonsumsi daging anjing kemungkinan besar adalah masyarakat non Muslim. Sehingga alasan kesehatan kemudian menjadi alasan utama yang harus dipertimbangkan. Selain itu terdapat ekses sosial lainnya yang ditimbulkan dari perdagangan dan konsumsi daging anjing tersebut.

Telah banyak penelitian kesehatan yang dilakukan diberbagai negara terkait konsumsi daging anjing ini. Hasilnya sangat mengkhawatirkan. Pada tahun 2011 Seoul Health Enviromental Research Center di Korea Selatan melakukan penelitian terhadap daging anjing. Sebanyak 17 sampel daging anjing diperiksa, hasilnya ditemukan 7 sampel yang berisi 6 jenis kuman biasa, 4 jenis basilus usus besar (colon bacillus) dan 1 jenis stafilokokus kuning yang jumlahnya diatas batas standar.

Daging anjing juga menjadi perantara penularan berbagai penyakit seperti kolera, trikinelosis (radang saluran tenggorokan) dan juga rabies. Beragam jenis penyakit dari bakteri seperti anthrax, brucellosis, hepatitis, serta leptospirosis juga dapat ditularkan lewat daging anjing yang dikonsumsi manusia. Bahkan mengkonsumsi daging anjing dapat meningkatkan potensi terinfeksi bakteri sampai 20 kali lipat.

Contoh yang menonjol adalah kasus di Vietnam dimana konsumsi daging anjing dalam jumlah besar mengakibatkan meluasnya wabah kolera. Selain itu penelitian lainnya di Vietnam, China, dan Filipina, menyimpulkan bahwa rabies ditularkan melalui penyembelihan dan proses masak daging anjing yang tidak higienis.

Tantangan terbesar dalam membatasi konsumsi daging anjing di Indonesia adalah masih terdapat budaya lokal di daerah tertentu yang mendukung konsumsi daging anjing. Budaya tersebut didukung pula oleh sejumlah mitos bahwa daging anjing bermanfaat bagi kesehatan seperti meningkatkan vitalitas pria, anti radang dan penghangat tubuh.

Ekses sosial dari perdagangan anjing tersebut juga mengkhawatirkan. Akhir-akhir ini, terutama di media sosial, banyak pengumuman pemilik anjing yang kehilangan anjingnya. Jumlah kehilangan ini meningkat cukup signifikan dan sangat meresahkan. Banyak lembaga penyayang binatang, khususnya anjing, yang melakukan penelitian dan kuat dugaan bahwa anjing-anjing yang hilang tersebut diperdagangkan untuk dikonsumsi.

Ekses lainnya adalah kesejahteraan anjing dan ketentraman masyarakat disekitarnya. Anjing yang diternakkan untuk diperdagangkan ditempatkan di kandang yang sempit serta tidak higienis, layak dan sehat. Proses pemindahan mereka pun jauh dari kenyamanan. Belum lagi proses eksekusi anjing-anjing tersebut sebelum dimasak yang sangat menyeramkan. Masyarakat disekitar peternakkan anjing juga sangat terganggu dengan suara bising yang ditimbulkan oleh gonggongan anjing dan suara raungan/lolongan penyiksaan anjing tersebut.

Dalam Undang Undang No. 18 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Hewan tidak mengatur mengenai larangan mengkonsumsi daging anjing. Demikian pula Peraturan Daerah (Perda) di berbagai provinsi tidak mengatur hal tersebut. Provinsi DKI Jakarta misalnya, hanya mengatur pengawasan masuknya anjing ke Ibu Kota, sebagaimana diatur dalam Perda No 11 Tahun 2005. Perlu aturan di tingkat nasional yang secara tegas melarang konsumsi daging anjing.

Jika aturan tersebut belum dimungkinkan di tingkat nasional maka sebaiknya dapat dimulai melalui Perda di masing-masing daerah. Pemprov DKI Jakarta misalnya dapat mengikuti langkah yang telah dilakukan sebelumnya dengan melarang perdagangan daging sirip Hiu. Selain itu terdapat pula larangan pertunjukan topeng monyet. Seharusnya aturan seperti ini bisa ditiru oleh daerah lain atau ditingkatkan menjadi regulasi ditingkat nasional.

Larangan mengkonsumsi daging anjing sesungguhnya sudah diterapkan diberbagai negara. Di Australia secara tegas melarang perdagangan daging anjing di seluruh negara bagian. Demikian pula dengan Taiwan yang melarang perdagangan daging anjing. Sementara negara lain sedang menyusul, seperti Swiss dan Amerika Serikat di beberapa negara bagiannya sudah melarang perdagangan daging anjing tersebut.

Pemerintah harus segera menyusun aturan yang melarang konsumsi daging anjing mengingat potensi bahaya kesehatan yang ditimbulkan. Selain itu perlunya hal ini bagi perlindungan kesejahteraan hewan, terutama anjing, dari perlakuan yang kejam. Peraturan ini juga diperlukan mengingat dampak penyakit yang timbul dan diderita masyarakat luas pada akhirnya akan menjadi beban dan tanggungan negara.

“A dog is the only thing on earth that loves you more than he loves himself.” ― Josh Billings

 

*) Tulisan ini adalah tugas penulisan untuk Kelas Pelatihan Penulisan Opini di Tempo Institute 15 Maret – 12 April 2016 yang dimuat pula di INDONESIANA