Pose bareng dgn bus TJ seri vintage PPD

Jalan-jalan ke China Town di Jakarta Bersama ITDP

Hari Sabtu, tanggal 26 November 2016 saya diajak bro Tora (teman saya di Forum Diskusi Transportasi Jakarta) untuk ikut acara jalan-jalan mengunjungi daerah Pecinan dengan menggunakan Transjakarta. Nama acaranya  Site Visit Busway (SVB) – Culinary Edition “Down to Chinatown”. Penyelenggaranya adalah: ITDP (Institute for Transportation & Development Policy) bekerjasama dengan: Transjakarta, Kopi Oey, Mélu Culinary Tours dan Trafi.

Saya sangat tertarik sekali untuk ikut serta. Apalagi lokasi yang akan dituju adalah wilayah Pecinan di Jakarta yang sangat menarik untuk dikunjungi baik untuk wisata sejarah maupun kulinernya. Titik pertemuan (meeting point) untuk trip ini adalah di halte Transjakarta Bundaran Senayan pukul 07.30 WIB.

 

Persiapan

Saya janjian dengan bro Tora untuk bertemu langsung di titik kumpul. Tepat pada hari H saya sudah tiba pagi hari di halte Transjakarta Bundaran Senayan sebelum waktunya. Sehingga saya masih bisa melihat-lihat kondisi di sekitar halte Transjakarta tersebut. Tidak lama bro Tora pun tiba, saya dan bro Tora sempat ngobrol-ngobrol sebentar.

Tidak lama kemudian rekan-rekan dari ITDP dan Transjakarta serta Trafi.id pun tiba dilokasi juga. Kami langsung mengisi absen. Selain itu ada pembagian goodies bag yang jumlahnya terbatas, saya sendiri tidak dapat karena untuk satu komunitas hanya diberi satu.

Saya juga berkesempatan berkenalan dengan peserta trip lainnya. Salah satunya saya berkenalan dengan bro Tommy Godfried, teman dari bro Tora. Selanjutnya dalam perjalanan kali ini kami jadi sering ngobrol bertiga.

Walau saya tidak mendapat goodies bag karena tiap peserta mendapatkan sebuah kartu Jakcard edisi Vintage Series Transjakarta yang PPD. Saldonya saya cek lumayan juga Rp. 50.000,- :) Tapi yang paling bikin saya senang seri edisinya yang vintage PPD itu lho, yang keren banget.

Kartu Jakcard versi edisi Vintage PPD Transjakarta

Kartu Jakcard versi edisi Vintage PPD Transjakarta

Selesai dibagikan goodies bag dan kartu Jakcard TJ maka kita masih menunggu rekan-rekan lain yang belum datang. Total peserta yang ikut saya ingat-ingat ada sekitar 20 sd 30 orang. Namun dari semua yang terdaftar nampaknya tidak semuanya hadir.

Sebelum memulai Trip kita mendapat sambutan dari pihak ITDP dan juga diperkenalkan dengan seluruh panitia yang akan memandu perjalanan pagi ini.

Persiapan sebelum perjalanan di Halte TJ Bundaran Senayan. Foto Courtesy: http://www.itdp-indonesia.org/svbchinatown/

Persiapan sebelum perjalanan di Halte TJ Bundaran Senayan.
Foto Courtesy: http://www.itdp-indonesia.org/svbchinatown/

Oh ya kabarnya kami akan menggunakan bus TJ edisi PPD vintage series yang hanya ada 2 unit itu. Wah saya makin senang sebab saya belum pernah naik bus TJ edisi vintage tersebut. Kesempatan nih naik bus TJ edisi PPD vintage.

 

Bus TJ Vitage PPD dengan Ejaan Lama :)

Bus TJ Vitage PPD dengan Ejaan Lama :)

Sekitar pukul 08.15 kami memulai perjalanan dengan menggunakan bus TJ edisi PPD vintage tersebut. Rutenya sama persis melalui jalur TJ koridor 1 rute Blok M – Kota, hanya bedanya kami tidak berhenti di setiap halte :) Diatas bus pihak ITDP kembali perkenalkan diri dan juga menjelaskan tentang ITDP, kemudian pihak Transjakarta juga memberikan penjelasan terkait kegiatan ini disusul dengan Trafi.id yang menjelaskan mengenai aplikasi Trafi.

 

Tiba di Glodok

Sekitar pukul 08.45 kami sampai di Halte TJ Glodok. Disana kami disambut pihak Mélu Culinary Tours. Kemudian kami berjalan kaki menuju Gang Gloria, melaui kawasan pasar glodok yang sudah sangat terkenal.

Setelah berjalan sekitar 300 meter maka sampailah kami di gang Gloria yang terkenal itu :)

 

Surga Kuliner di Gang Gloria

Terdapat beragam kuliner di gang Gloria ini. Seperti Nasi Campur, Mie Ayam, Pempek, Soto Betawi Afung, kopi Tak Kie, Gado-Gado Direksi, Cakwe dll

Di Gang Gloria peserta disuguhi kopi Tak Kie yang legendaris dari tahun 1927 itu, dan juga merasakan Cakwe gang Gloria yang enak banget. Saya suka banget cakwe, sehingga saya terpikir untuk harus kembali lagi kesini.

Oh ya karena ini adalah kawasan Pecinan maka kuliner di wilayah ini tidak semuanya adalah makanan halal. Sebaiknya sebelum membeli bertanya dahulu. Mereka akan dengan senang hati menjelaskan mana yang halal.

Selain itu untuk yang tidak terbiasa dengan kondisi jajanan atau kuliner ala jalanan atau pasar seperti di kawasan gang Gloria ini, maka lokasi ini bukan tempat ideal buat anda. Kalo saya sih masih ada makanan yang saya bisa makan disini, seperti Cakwe yang masih panas baru diangkat dari penggorengannya. Saya sendiri tipe penggemar chinesse food ala restoran seperti Njun Njan dan lain sebagainya.

 

Petak Sembilan

Selesai makan di Gang Gloria kemudian sekitar pukul 09.30 kami melanjutkan perjalanan menyusuri kawasan Petak Sembilan. Kami berjalan menyusuri pasar tradisional yang menjual teripang dan beragam bahan makanan khas masyarakat Tionghoa lainnya.

Kawasan Pasar di Jl. Petak Sembilan

Kawasan Pasar di Jl. Petak Sembilan

Jalanan di Pasar di Petak Sembilan ini sudah di beton, namun seperti layaknya pasar tradisional selain toko-toko permanen terdapat pula lapak-lapak yang tidak permanen dan berada di jalanan. Saya sih tidak terlalu suka dengan pemandangan pasar di Indonesia. So perjalanan menyusuri pasar ini saya ingin segera saja saya lalui :)

Toko Mampank, namanya sama ama Desa di Depok

Toko Mampank, namanya sama ama Desa di Depok

 

Vihara Toasebio

Setelah menyusuri pasar dan gang-gang sempit dalam pasar Petak 9, tiba-tiba kami sudah berada di Jalan Kemenangan III atau jalan Toosebiostraat (nama jalan jaman Belanda). Persinggahan pertama adalah Vihara Taosebio. Di lokasi Vihara ini kita sibuk foto-foto dan mengamati kondisi sekitar Vihara. Saya sendiri tidak banyak mengambil foto. Lebih banyak liat-liat saja.

Vihara Toa Se Bio

Vihara Toa Se Bio

Konon Vihara Toasebio pernah menjadi saksi bisu dari pembantaian kolonialisme Belanda terhadap etnis Tionghoa di Angke pada tahun 1740-an. Selain itu Kelenteng ini pernah dibakar Belanda dan dibangun lagi tahun 1751. Sehingga jika dihitung sejak didirikan tahun 1751 maka klenteng ini sudah berusia 265 tahun.

Vihara Toa Se Bio

Vihara Toa Se Bio

 

Gereja St Maria De Fatima

Dari vihara Toasebio kita lanjutkan perjalanan ke Gereja Katholik Santa Maria De Fatima. Jaraknya dari vihara tidak terlalu jauh. Jalan kaki hanya sekitar 50 meter saja. Gereja ini unik karena aristekturnya bernuansa tionghoa.

Gereja St Maria De Fatima

Gereja St Maria De Fatima

untuk mengetahui informasi seputar gereja ini secara lebih detail bisa di buka di  http://www.santamariadefatima.org/

 

Vihara Dharma Bhakti

Dari Gereja Santa Maria de Fatima perjalanan dilanjutkan ke Vihara Dharma Bhakti.  Vihara ini dibangun pertama kali pada tahun 1650 dan dinamakan Kwan Im Teng. Kata Kwan Im Teng kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi klenteng.

Kelenteng ini dipugar pada tahun 1755 oleh Kapitan Oei Tji-lo dan diberi nama “Kim Tek Ie”. Nama Kim Tek Ie diubah menjadi Vihara Dharma Bhakti. Nama Indonesia hasil terjemahan dari Kelenteng Keutamaan Emas.

Pada hari Senin tanggal 2 Maret 2015 dinihari, Klenteng Kim Tek Ie mengalami kebakaran, diduga penyebab kebakaran berasal dari api lilin. Dalam kebakaran ini, bangunan utama beserta rupang-rupang ikut musnah terbakar, terkecuali rupang Kwan Im dan dua rupang lainnya yang berhasil diselamatkan.

Informasi tentang Vihara ini saya dapat dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kim_Tek_Ie

 

Berjalan menuju Candra Naya

Selesai dari Vihara Dharma Bhakti perjalanan dilanjutkan ke bangunan bersejarah yang menjadi cagar budaya yaitu Candra Naya. Sepanjang perjalanan saya dan bro Tora ngobrol dengan salah satu perwakilan Trafi dari Eropa yang sedang berkunjung ke Jakarta.

 

Chandra Naya

Sekitar pukul 10.50 kami sudah tiba di Candra Naya. Sebuah bangunan bersejarah yang menurut saya “dirusak” oleh pembangunan jaman. Bagaimana tidak “rusak” Candra Naya berada ditengah dua bangunan menara hotel. Kondisi bangunan Candra Naya ini mirip dengan bagunan khas di Pondok Cina yang harus berada ditengah bangunan sebuah Mall Margo City Depok. Sedih liatnya … :(

Foto Bersama di Candra Naya (Courtesy Tommy Godfried)

Foto Bersama di Candra Naya (Courtesy Tommy Godfried)

Di Candra naya ini kami semua langsung berpose untuk foto bersama. Kemudian dilanjutkan para peserta untuk mengambil foto-foto diseputaran Candra Naya.

Candra Naya adalah sebuah bangunan cagar budaya di daerah Jakarta, Indonesia, yang merupakan bekas kediaman Mayor Khouw Kim An 許金安, mayor Tionghoa (majoor de Chineezen) terakhir di Batavia (1910-1918 dan diangkat kembali 1927-1942), setelah Mayor Tan Eng Goan 陳永元 (1837-1865), Tan Tjoen Tiat 陳濬哲 (1865-1879), Lie Tjoe Hong 李子鳳 (1879-1895) dan Tio Tek Ho 趙德和 (1896-1908). Bangunan seluas 2.250 meter persegi ini memiliki arsitektur Tionghoa yang khas dan merupakan salah satu dari dua kediaman rumah mayor Tionghoa Batavia yang masih berdiri di Jakarta.Kediaman mayor Tionghoa lainnya yang masih ada ialah bangunan “Toko Kompak” di Pasar Baru, bekas kediaman Mayor Tio Tek Ho. Bangunan yang didirikan pada abad ke-19 ini merupakan salah satu dari 3 bangunan berarsitektur serupa yang pernah ada di Jalan Gajah Mada, yaitu Jalan Gajah Mada 168 milik Khouw Tjeng Po 許清波, yang merupakan gedung Tiong Hoa Siang Hwee 中華商會 (Kamar Dagang Tionghoa) dan kini menjadi gedung SMA Negeri 2 Jakarta, Jalan Gajah Mada 188 milik Khouw Tjeng Tjoan 許清泉, yang kini dikenal sebagai gedung Candra Naya itu sendiri, dan Jalan Gajah Mada 204 milik Khouw Tjeng Kee 許清溪, yang pernah digunakan sebagai gedung Kedutaan Besar Republik Rakyat Republik Rakyat TiongkokTiongkok. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Candra_Naya)

 

Lunch Kopi Oey

Sesudah puas mengambil foto di Candra Naya kemudian seluruh peserta berkumpul untuk makan siang di kedai Kopi Oey yang berada di lingkungan Candra Naya. Menu nya sudah dipilih peserta setelah dikirimkan pilihan melalui email beberapa hari sebelumnya.

Selesai makan siang maka acara perjalanan hari ini akan segera berakhir. Acara selanjutnya adalah menuju Monas untuk mengabadikan peserta dengan berfoto dengan latar bus Transjakarta vintage.

Peserta kemudian berjalan ke halte Transjakarta dekat Candra Naya yaitu halte TJ Olimo. Dari situ kami menunggu bus TJ khusus vintage series PPD yang memang sudah diarahkan untuk membawa peserta kembali ke halte Bundaran Senayan.

 

Transit di Monas

Sekitar jam 12.30 kami sudah sampai sekitar halte TJ Monas. Di halte ini bus kami berhenti dan kami pun turun untuk foto-foto dengan latar belakang bus TJ vintage series PPD.

Pose di Halte TJ Monas

Pose di Halte TJ Monas

Akhirnya kami pun berfoto bersama dengan latar belakang bus TJ vintage series PPD.
Pose dengan latar belakang bus Transjakarta edisi vintage PPD

Pose dengan latar belakang bus Transjakarta edisi vintage PPD

 

Hari itu saya sangat senang sekali bisa ikut serta dalam trip wisata ke Pecinan di Jakarta. Lokasi kunjungan tidak jauh masih di Jakarta, tapi lumayan banyak hal baru yang saya peroleh dari perjalanan ini. Terimakasih ke bro Tora yang sudah mengajak saya. Terimakasih kepada ITDP, Transjakarta, Kopi Oey, Mélu Culinary Tours dan Trafi.id yang sudah membuat acara ini dapat terlaksana. Semoga kita dapat bertemu lagi dalam kesempatan lain.

Liputan dari ITDP bisa dibaca disini http://www.itdp-indonesia.org/svbchinatown/

 

 

 

Share this:

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>