banner

Cerita Pengalaman Operasi Mata (Katarak) “Phacoemulsification”

Saya sejak kecil sekitar kelas 4 SD (sekitar tahun 1986) sudah pakai kacamata. Waktu itu saya sudah mengeluhkan tidak bisa melihat tulisan di papan tulis. Ibu saya ketika itu tidak mendengarkan keluhan saya karena dianggapnya hanya latah ikut-ikutan ingin pakai kacamata seperti teman-teman saya yang sudah pakai kacamata duluan. Tapi akhirnya saya dibawa Bapak & Ibu saya ke dokter mata di Klinik Pala Farma Jl. Mawar Perumnas Depok 1. Hasil analisa dokter mata saya minus beneran bukan latah. Untuk mata kanan minus 2,5 dan kiri minus 3,25. Pulang dari dokter Bapak saya sedih karena saya harus pakai kacamata, dan saya lebih sedih lagi karena mulai saat itu kehidupan saya berubah (lebayyy mode ON :) )

 

minus tinggi

Minus tinggi

 

MATA SAYA YANG MINUS TINGGI …

Sejak saat itu saya jadi sulit dalam beraktivitas, karena minus saya termasuk langsung tinggi (kanan -2,5 dan kiri -3,25). Bangun tidur jadi harus langsung ambil dan pake kacamata. Saya sangat aktif sebelumnya, hobby saya maen sepak bola, berenang, main sepeda, maen layangan dll pokoknya aktif kesana kemari. Akibat pakai kacamata maka saya menjadi sulit beraktivitas seperti berolahraga dll. Pokoknya memakai kacamata itu amat sangat tidak menyenangkan. Anehnya penglihatan saya semakin dewasa makin memburuk. SD kelas 6 mata saya menjadi kanan -3 dan -5. Kemudian SMP meningkat menjadi mata kanan -5 dan -7. Di SMA semakin parah mata kanan saya -7 dan kiri -9. Lulus SMA mata kanan saya -9 dan yang kiri -11. Di Bangku kuliah juga minus saya tidak berhenti, mata kanan menjadi -11 dan kiri -13. Hingga akhirnya saya sudah bekerja (usia sudah diatas 25 tahun) minus saya mulai stabil di angka kisaran kanan -11 dan kiri -13. Walaupun demikian sampai usia 37 tahun kemarin, saya cek mata saya masih naik minusnya menjadi kanan -12.25 dan kiri -14, tapi saya memakai kacamata tetap dengan ukuran kanan -12.00 dan kiri minus -13.75.

Minus ku

Minus ku

Memakai kacamata itu sedih banget lho. Membatasi gerak dan aktivitas kita. Apalagi dulu cita-cita saya ingin menjadi pemain sepak bola. Selain itu yang bikin saya stress, jaman saya masih kecil, tahun 80-90 an harga kacamata dan lensa itu masih mahal. Belinya kudu di optik yang belum semenjamur sekarang. Kacamata dan lensa itu baru mulai murah ketika muncul pusat perbelanjaan ITC di tahun 2000 -an. Sejak era ITC itu kacamata menjadi lebih terjangkau. Saya juga lebih mudah membeli kacamata, apalagi minus saya juga makin tinggi sehingga lensa harus ditipisin kalo ga ditipisin bisa tebel banget kayak pantat botol.

Saya ingat jaman saya kecil, saya tidak bisa dengan mudah ganti frame (bingkai) kacamata :( Kacamata masih barang mewah, apalagi jaman saya SD-SMP-SMA kehidupan keluarga saya lagi susah. Akibatnya saat SMA saya mesti nunggu lungsuran kacamata dari om saya yang kerja di Luar Negeri (kebayang kan  frame ukuran dan model untuk orang tua dipake ama remaja, kayak apa diwajah saya? :) ). Atau kalo ibu ada sedikit rejeki lebih saya bisa dibeliin atau ganti kacamata. Dulu sering banget saya benci ama mata saya dan benci ama keadaan ini, benci harus berkacamata dan benci karena ga bisa beli.

Saat saya masih sekolah harga lensa kontak saat itu masih belum terjangkau. Selain itu perawatannya merepotkan. Tante saya pake softlens. Buat cewe sepertinya softlens lebih cocok, tapi kalo buat cowo jangan harap deh! Ga telaten merawat nya dan merepotkan. Saya baru pake softlens ketika sudah bekerja. Itupun tidak berlangsung lama, saya bosan dan mata saya tidak terlalu cocok dengan softlens karena mata saya cenderung kering, kurang becek (Padahal saya doyan banget makan timun lho… #apasih??) :) Jadinya softlens hanya betah dipake beberapa bulan saja atau dipake saaat saya ada acara penting, selebihnya saya balik lagi pake kacamata.

Persoalan lain dengan minus yang tinggi, walopun lensa sudah ditipiskan tetap saja akan tebal di sisi pinggirnya. Tebalnya lensa juga jadi problem dengan frame nya, saya tidak bisa pake frame kacamata yang hanya setengah saja bingkainya yang saat ini sedang trend. Saya harus pake bingkai yang full mengelilingi lensa. Selain itu lensa yang tebal mengakibatkan selalu melebihi tebalnya bingkai. Jadi kalo dilihat dari sisi samping pasti keliatan kalo lensa nya tebal. Saya tidak pernah punya frame (bingkai) kacamata yang sama dengan tebalnya lensa, selalu lensa lebih tebal dari bingkai. Selain itu saya tidak bisa menggunakan sun-glasses kecuali dengan menggunakan soft-lens. Karena sun-glasses hanya bisa sampai minus 6. Minus yang lebih dari itu tidak bisa diakomodir oleh sun-glasses.

Saya sih ga merasa dengan berkacamata penampilan saya jadi jelek, toh dengan kacamata saya jadi “sedikit” “terlihat” pintar (padahal otaknya cabul) :D Saya masih pede dengan kacamata saya yang tebal. Tapi yang saya sedih karena saya ga bisa beraktivitas seperti apa yang saya inginkan. Bahkan cita-cita saya sewaktu kecil jadi pemain sepak bola harus saya kuburkan sejak awal. Selain berkacamata saya juga berbadan kecil dan kurus sehingga memang tidak bisa jadi olahragawan :(

Masih ga percaya kalo minus saya tinggi?? liat aja foto berikut ini …

minus
Halah bilang aja mau narsis lagi heheheh  :)

 

MIMPI SAYA UNTUK LASIK

Saya lupa tahun berapa ada teknologi LASIK masuk Indonesia, yang jelas begitu tau Lasik rasanya pengen banget di Lasik. Ternyata harganya mahal banget. Selain itu minus mata saya belum berhenti masih nambah terus. Dari informasi/bacaan yang saya pelajari katanya belum bisa di LASIK. Udah gitu masih banyak orang yang belum yakin dengan teknologi LASIK. Saya pribadi juga masih ragu, apalagi teknologi ini kan masih baru, kita belum tau efek samping, efek depan dan efek belakangnya :)

Tapi yang paling krusial dalam menentukan saya akan LASIK atau tidak adalah masalah DUIT :) Karena MUAHAL banget buat saya dan saya tidak punya uang yang berlebih, maka untuk itu saya mulai menabung untuk bisa LASIK. Dengan harapan jika nanti rejeki sudah terkumpul saya ingin di LASIK dan terbebas dari kacamata. Selama menunggu tabungan saya cukup, saya pelajari dulu pengalaman orang-orang yang sudah menjalani LASIK. Sehingga saya punya informasi yang cukup dan makin yakin untuk di LASIK.

Artikel tentang pengalaman orang lain yang sudah menjalani Lasik yang saya jadikan referensi diantaranya adalah:
https://matalasik.wordpress.com/2011/07/13/catatan-lasik/#more-3
http://www.ilmuterbang.com/blog-mainmenu-9-60730/blog-umum-mainmenu-82/745-pengalaman-menjalani-tindakan-lasik
Terimakasih saya ucapkan kepada para penulis blog tersebut yang bisa menjadi referensi saya dalam memutuskan untuk di LASIK.

 

BUKAN LASIK TAPI “PHACOEMULSIFICATION”

Desember 2014 saya merasa waktunya sudah tiba. Celengan saya sudah bisa dipecahin dan saya siap untuk di LASIK. Berbekal artikel di blog tentang pengalaman orang-orang yang sudah melakukan LASIK, juga browsing sana sini maka pilihan saya tetapkan untuk di LASIK di JAKARTA EYE CENTER (JEC). Selain itu saya tetapkan juga dokter mata yang saya pilih adalah Dr. Johan A. Hutauruk, SpM. Pemilihan ini saya lakukan hanya berdasarkan browsing saja, saya tidak memiliki referensi dari siapapun. Dari hasil penelusuran saya, sepertinya Dr. Johan ini cukup kooperatif dan komunikatif dengan pasiennya.

Tanggal 20 Desember 2014 saya menuju JEC cabang Kedoya, karena saya kos di Pejompongan jadi saya pikir lebih dekat dan gampang ke Kedoya. Seingat saya sebelumnya melalui telepon saya sudah booking untuk konsul dengan dr. Johan. Beliau ada di Kedoya setiap Senin dan Jumat jam 09.00-11.00 WIB. Saya datang ke JEC sendiri. DI JEC Kedoya saya diterima petugas receptionist untuk di data dan ditanya sudah janji dengan dokter siapa? Karena saya pasien baru maka sekaligus membuat kartu pasien JEC.

Dari situ saya di arahkan ke Lantai 3 (kalo gak salah) untuk tunggu giliran konsul ke dokter. Sebelum dipanggil untuk konsultasi dengan dokter saya dipanggil untuk periksa mata di ruang BDR (Basic Diagnostic Room). Selesai periksa di BDR saya kembali menunggu dipanggil untuk konsul dengan dr. Johan. Tidak lama kemudian saya dipanggil untuk konsultasi dengan dr. Johan.

Kesan saya pertama bertemu dr. Johan beliau ramah dan komunikatif dengan pasien. Setelah saya sampaikan maksud tujuan saya konsul yaitu untuk operasi LASIK, beliau langsung periksa mata saya. Dari hasil pemeriksaan beliau diketahui bahwa lensa mata saya sudah rusak dan keruh, dimana bagian tepi-tepinya itu sudah keruh berwarna keputihan. Saya diperlihatkan kondisi lensa mata saya di komputer hasil pemotretan dengan alat sambil dijelaskan dengan baik oleh dr. Johan. Saya kemudian disarankan untuk menjalani tindakan PHACOEMULSIFICATION dan bukan menjalani LASIK.

Waduh apa pula Phacoemulsification ini? saya sempat bingung. Penjelasan singkat dr. Johan tindakan Phacoemulsification ini adalah tindakan untuk mengganti lensa mata saya yang sudah rusak dengan lensa baru. Tindakan ini lazimnya dilakukan kepada mereka yang matanya Katarak. Sehingga bisa dibilang mata saya selama ini katarak. Dengan tindakan ini menurut dr. Johan selain saya bisa menghilangkan katarak juga bisa mengurangi minus di mata saya dengan menggunakan IOL Master. Dokter juga menjelaskan kemungkinan minusnya tidak bisa hilang sama sekali atau 0 (nol) dan sebagai kompensasinya mata saya akan ada plus nya.

Saya lumayan happy denger penjelasan ini artinya saya masih punya harapan tidak pakai kacamata lagi atau minimal minus saya jadi kecil :) saya diberi resep vitamin untuk diminum sambil sambil menunggu kapan saya akan menentukan waktu untuk di operasi phacoemulsification ini. Oh ya biaya tindakan Phacoemulsification ini adalah Rp. 13.750.000,00 / mata. Harganya lumayan yah … untuk tarif operasi di JEC selengkapnya bisa di cek di link ini http://jec.co.id/services/refractive-surgery-service/tarif-operasi-katarak

Untuk konsultasi pertama ini biaya yang saya keluarkan adalah sebesar:
- Konsul dokter dan periksa Rp. 430.000,00
- Vitamin saya tebus setengah saja Rp. 120.000,00
Total biaya yang saya keluarkan adalah Rp. 550.000,00

 

CARI TAU TENTANG “PHACOEMULSIFICATION”

Di rumah saya cari tau apa itu Phacoemulsification. Kok rasanya aneh di telinga saya yang sudah familiar dengan LASIK. Saya kunjungi laman website JEC tapi saya tidak temukan tentang Phacoemulsification ini (tepatnya saya yang salah mencarinya). Saya googling ga nemu, karena saya dengernya operasi ini adalah “Veco” jadi saya salah googling :) Akhirnya saya email saja pak dr. Johan, eh dibalas oleh beliau… beruntung sekali beliau mau melayani pasien di luar jam praktek dan tengah kesibukannya. Email saya di jawab oleh beliau yang mengkoreksi bukan Veco tapi Phaco. Plus saya diberikan link untuk cari tau tentang Phacoemulsification ini.

Email dari pak dr. Johan

Email dari pak dr. Johan

Dr. Johan ini memang sangat informatif, saya mengkonfirmasi untuk kedua kalinya melalui email terkait minus saya yang akan hilang dengan tindakan phaco ini dan berikut biaya nya, beliau masih berkenan menjawabnya.

Email dari dr. Johan yg ke 2

Email dari dr. Johan yg ke 2

Dari email dr. Johan tersebut saya jadi bisa browsing untuk cari tau apa itu Phacoemulsification. Penjelasan di wikipedia bahwa:

“Phacoemulsification refers to modern cataract surgery in which the eye‘s internal lens is emulsified with an ultrasonic handpiece and aspirated from the eye. Aspirated fluids are replaced with irrigation of balanced salt solution, thus maintaining the anterior chamber, as well as cooling the handpiece.

The term originated from phaco- (Greek phako-, comb. form of phakós, lentil; see lens) + emulsification.[1]

http://dictionary.reference.com/browse/Phacoemulsification

Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Phacoemulsification

Phacoemulsification

Phacoemulsification

Sementara setelah saya cari di laman JEC, maka diketahui bahwa:

“Teknologi fakoemulsifikasi sendiri kini telah disempurnakan dengan apa yang disebut Cold Phacoemulsification evolusi dari teknologi fakoemulsifikasi konvensional, dimana jarum gelombang ultrasonik tidak lagi menimbulkan panas yang dapat menyebabkan iritasi pada mata pasien dan sayatan juga sangat kecil sehingga pemulihan menjadi lebih cepat. Lalu apa yang menjadi kelebihan “Cold Phacoemulsification“? Prosedur katarak menjadi sangat efisien, cepat, dan menurunkan resiko terjadinya panas yang sering diakibatkan atau ditimbulkan oleh mesin-mesin katarak konvensional. Perlu diketahui apabila terjadi luka bakar, penyembuhan menjadi terhambat dan ada kemungkinan timbulnya silindris di kemudian hari. Luka pada mata pasien akan terbuka dan yang seharusnya tidak memerlukan jahitan menjadi harus dilakukan jahitan. Dengan Cold Phacoemulsification, sayatan hanya sebesar (1,8 – 2,0 mm), sehingga prosedur operasi tidak lagi memerlukan jahitan. Cold Phacoemulsification adalah teknologi yang sangat membantu para dokter melakukan tindakan secara tepat dan cermat, sehingga membuat waktu operasi menjadi lebih cepat dengan tingkat komplikasi yang sangat minimal. Prosedur pemasangan lensa tanam pengganti lensa katarak dimasukkan dengan cara dilipat.”

Sumber: http://jec.co.id/services/refractive-surgery-service/cataract/

Masih dari laman tersebut, diketahui pula bahwa gejala terjadinya Katarak adalah:
1. Penglihatan buram atau berkabut, bahkan sampai tidak bisa melihat
2. Peka terhadap sinar atau cahaya
3. Sering ganti kacamata, karena ukurannya mudah berubah
4. Pada keadaan terang, mata terasa silau
5.
Penglihatan diruang gelap lebih jelas dibandingkan di ruang terang.
6.
Kadang penglihatan pada suatu mata menjadi dua (ganda)

Pantas saja saya selama ini dari 6 gejala tersebut memang mengalami 4 hal diantaranya yaitu:
1. Peka terhadap sinar atau cahaya
2. Sering ganti kacamata, karena ukurannya mudah berubah
3. Pada keadaan terang, mata terasa silau
4. Penglihatan diruang gelap lebih jelas dibandingkan di ruang terang.

Sehingga dari sini saya semakin yakin bahwa saya memang memiliki masalah mata katarak yaitu lensa mata yang keruh. Padahal katarak itu biasanya menyerang orang yang sudah tua, tapi saya kok yang masih muda udah katarak ya? ternyata muda nya hanya “perasaan” saya saja hahahaha atau muda diluarnya, tapi didalamnya udah uzur :D

 

TIBA SAATNYA …

Setelah pertemuan pertama tanggal 20 Desember 2014 selanjutnya saya disibukkan dengan pengerjaan tesis saya untuk program Magister Manajemen di STIE Indonesia Banking School. Ternyata pengerjaan tesis ini memang menyita waktu, dan yang saya khawatirkan jika tindakan phaco dilakukan saat itu maka proses pemulihannya bisa membuat saya tidak mampu mengerjakan tugas dan beraktivitas dengan lancar dan akan mengganggu pengerjaan tesis saya. Sehingga jika tadinya saya rencanakan Januari atau Februari untuk jalani tindakan Phaco maka rencana itu saya geser menjadi setelah tesis saya selesai.

Untuk cerita saya tentang Indonesia Banking School silahkan klik disini.

Singkat cerita, Tesis saya selesai dan sidang di bulan Maret, dan saya lulus dengan nilai A (pamer dikit ah…) :) Akhirnya saya bulatkan tekad untuk langsung jalani tindakan Phaco setelah sidang. Saya hubungi pak dr. Johan via email dan utarakan maksud saya tersebut. Ternyata dr. Johan sepanjang April sering ke luar negeri, waduuhh. Sehingga sulit juga saya atur jadwalnya. Ya sudah saya atur jadwal melalui assisten dr. Johan yaitu mbak Igetha (Ige) untuk atur jadwal tindakan Phaco di bulan Mei saja.

Mbak Ige kemudian telepon saya untuk jadwalkan tindakan pada hari Selasa 5 Mei 2015. Sebelum hari-h suster Ige sampaikan kepada saya agar saya periksa darah rutin untuk mengetahui kondisi kesehatan saya (apakah ada gula, diabetes dan sejenisnya). Suster Ige sudah sarankan saya periksa di laboratorium di deket rumah saja, tidak perlu ke JEC. Saya ingin gampang maka saya pilih ke JEC Menteng, padahal di Cideng ada Prodia tapi saat itu akses ke Cideng macet. Ternyata cek lab di JEC itu mahal, biayanya sampai Rp. 860.00. Nyesel juga saya ga cek ke Prodia aja, tau gitu kan saya bisa hemat :( saya ga menuruti arahan suster Ige.

Untuk periksa lab ini biaya yang saya keluarkan adalah sebesar:
- Admin Pasien Rp. 50.000,00
- Paket cek Lab Rp. 810.000,00
Total biaya yang saya keluarkan adalah Rp. 860.000,00

Ya sudah lah, yang penting saya sehat dan bisa jalani tindakan phaco. Hari Kamis saya ke lab JEC untuk periksa lab, hasilnya sudah bisa keluar sabtu, karena Jumat libur, dan hasilnya pun katanya akan disampaikan langsung saja ke dokter jadi saya tidak perlu ambil. Hari Senin saya dikabari mba Ige bahwa hasil labnya ga ada masalah, saya bisa jalani tindakan Selasa besok pada jam 10 pagi. Wah senang rasanya mendapat kabar ini :)

Selasa 5 Mei 2015 saya cuti dari kantor. Saya sudah tidak sabar untuk jalani tindakan Phaco ini. Tadinya saya mau jalan sendiri kesana, tapi saya pikir lebih baik saya ditemani oleh seseorang takutnya nanti ada apa2. Maka saya ajak teman kantor saya, bangbro Sayuti. Kita pun meluncur ke JEC Menteng sekitar jam 9.00 dari Pejompongan. Sampai disana kami langsung daftar di pendaftaran lantai bawah, lalu di perintahkan langsung ke lantai 5 yaitu ruangan operasi.

Sebenarnya saya memang orangnya kalo kemana2 jarang mau ditemenin, termasuk ke Rumah Sakit sekalipun. Selama ini saya kalo sakit datang ke RS sendiri, bawa tas ransel, kalo hasil lab bilang kudu dirawat inap ya udah saya daftar sendiri, trus telpon orang rumah ga usah khawatir saya sudah di RS dan sudah dirawat inap hahahaa :D Saya lebih asyik aja rasanya kalo jalan sendiri. Apalagi saya kan single, jadi emang ga biasa kalo jalan pake ditemenin orang lain.

Tapi memang ternyata untuk jalani tindakan ini harus ada pendampingnya. Saya tidak diberitahu sebelumnya oleh siapapun di JEC. Tapi sewaktu daftar di lantai 5 untuk operasi saya ditanya didampingi siapa? dan agar yang mendampingi isi formulir dan tanda tangan. Wah untung aja saya ajak Sayuti teman saya dari kantor. Saya liat yang lain juga gitu sih, setiap pasien yang akan jalani tindakan tidak ada yang datang sendirian pasti didampingi keluarga nya. Saran saya: jika anda hidup sendiri atau suka sendirian kayak saya, untuk jalani tindakan phaco atau lasik di JEC carilah teman untuk dampingi, minimal yang bisa isi formulir dan tandatangan.

Di ruang tunggu lantai 5 itu saya menunggu bersama teman saya, kemudian saya dipanggil untuk masuk ruang pre-operasi. Masuk ruangan itu sandal harus di lepas di ruang tunggu. Kemudian saya dibawa keruang ganti baju, disitu saya ganti pakaian untuk operasi dan pakaian serta barang2 saya yang lain masuk di loker. Selesai ganti pakaian dan urusan di loker maka saya masuk ke ruang tunggu operasi. Disitu saya ditetesin obat tetes beberapa kali sambil nunggu ruang operasi dan dokternya siap. Sepertinya obat tetes yang diberikan itu semacam obat bius lokal, saya juga ga tau pasti sih (ga nanya-nanya).

 

TINDAKAN PHACO TAHAP-1

Akhirnya sekitar jam 11.30 an saya masuk ruangan operasi. Saya termasuk tipe orang pemberani di rumah sakit, karena saya familiar dengan kondisi rumah sakit sejak kecil. Saya dulu sering sakit-sakitan jadi ama Rumah Sakit itu udah biasa. Lihat dokter atau suster perawat itu saya sudah biasa. Tapi mulai deh masuk ruangan tindakan saya jadi deg degan. Padahal diruangan itu sudah disetel musik tapi saya tetap nervous :) Lagu “Lumpuhkanlah Ingatanku” dari Geisha dengan suara Momo yang merdu tidak bisa menghilangkan deg degan saya :) (dalem juga nih lagunya si perawat2 ini ;) ). Perawat diruangan ada 2 orang saya ga tau mereka perawat atau anastesi. Dokternya belum masuk ke ruangan. Saya didudukan dan kemudian tidur dengan posisi terlentang di kursi operasi yang telah disiapkan.

Foto saya ambil dari website JEC

Foto saya ambil dari website JEC

Sebelum dokter masuk para perawat menyiapkan saya, tangan kiri saya di jepit dengan alat yang terhubung ke monitor detak jantung. Kemudian kedua mata saya ditutup dengan penutup plastik yang nempel/lengket dengan mata, agar mata saya tetap melek/terbuka. Oh ya sesuai arahan dokter mata yang akan dioperasi terlebih dahulu adalah mata kiri, baru minggu depan adalah mata kanan. Dokter masuk ke ruangan, beliau sapa saya dan memberikan arahan agar saya berdoa agar operasi berjalan lancar. Beliau juga sampaikan operasi akan berlangsung selama 7 menit saja.

Penutup plastik tadi seperti plastik yang buram tidak terlalu jernih, tapi dokter bisa liat mata saya, hal ini terbukti dimana dia minta mata saya melotot dan bola mata diarahkan kebawah. Sementara sinar terang menyorot mata saya. Saya tidak merasakan apa-apa. Sewaktu plastik dibagian mata dibuka oleh dokter entah dengan apa (sepertinya disayat) saya tidak merasakan sakit atau nyeri. Tapi saya bisa rasakan sepertinya mata saya diairin, kemudian seperti agak tertekan di bola mata, agak pegel juga karena melek terus dan ada yg dikerjakan di mata saya. Jadi rasa nervous tapi campur ama penasaran.

Proses operasi Phaco (ilustrasi ini diambil dari internet)

Proses operasi Phaco (ilustrasi ini diambil dari internet)

Dr. Johan sangat komunikatif, setiap prosedur diucapkan dengan lantang sehingga saya tau apa yang sedang dikerjakan. Termasuk ketika lensa saya diganti dengan lensa baru, dokter Johan bilang: “yukk masuk lensa nya yuk”. Terus dimata saya seperti agak tertekan kemudian ada suara mesin berdenging sepertinya mengerjakan sesuatu :) wah pokoknya kalo yang takut ama tindakan operasi pasti takut deh. Walopun ga ada rasa sakit sama sekali. Tidak lama pak dokter bilang: “yak operasi selesai, cuma 6 menit”.

Buseee… cepet juga yah ternyata cuma 6 menit, tapi rasanya kayak puluhan menit :) Saya lega juga operasi sudah selesai. Saya masih merem takut melek. Kata perawatnya sambil nyopotin alat monitor jantung bilang: “Udah pak bangun, buka aja mata nya gapapa kok”. Saya takut-takut, takut perih atau gimana. Saya buka mata saya pelan-pelan dan woaaaa….. saya bisa langsung liat. Pandangan saya jadi jelas dan terang. Terutama mata kiri saya. Tapi kalo mata kiri saya tutup mata kanan saya tetap masih rabun jauh, karena kan belum di operasi. Saya senang bukan kepalang, masalahnya dengan mata kiri yg lensanya baru dan kanan masih minus -12.00 saya sudah bisa lihat yang jauh-jauh. Cuma kondisi abis operasi ini mata saya seperti mata kelilipan jadi saya masih suka keluar air mata .

Saya langsung dituntun ke ruang tunggu saat mau dioperasi tadi. Kursi tunggunya enak, nyaman buat tiduran, plus kita dikasih selimut karena ruangan nya dingin. Saya juga dikasih roti dan air minum. Diruangan itu saya menunggu sampai diijinkan pulang plus secara berkala saya ditetesin obat di mata. Sekitar 1 jam saya menunggu kemudian saya diijinkan pulang. Saya ke ruang ganti pakaian, kemudian setelah ganti pakaian saya ke meja di depan ruang ganti untuk diberi petunjuk oleh mbak perawatnya tentang obat yang saya harus pakai di rumah dan perawatan mata saya tersebut.

Operasi Tahap 1

Operasi Tahap 1

Mbak perawat memberikan 2 obat yaitu Levofloxasin (LFX) dan Polydex MD dengan petunjuk pemakaian sbb:
- Obat tetes mata dipakai begitu sampai di rumah.
- Ada 2 macam obat LFX MD dan Polydex MD.
- Obat diteteskan 6 kali sehari 1 tetes (bisa diatur tiap 2 jam-an) dan dipakai pada mata yang dioperasi saja.
- Khusus untuk LFX MD hari pertama operasi obat diteteskan setiap 1 jam sampai mau tidur malam.
- Sedangkan untuk Polydex MD dari hari pertama operasi sudah 6 kali sehari (setiap 2 jam-an).
- Karena ada 2 macam obat sebaiknya diberi jarak pemakaian minimal 5 menit.
- Bentuk tetes mata LFX MD dan Polydex MD adalah botol kecil yang bisa dibuka tutup, dan apabila masih tersisa setelah dibuka hanya bisa bertahan maksimal 48 jam (2 hari).

Selain petunjuk pemakaian obat tersebut diatas saya juga diberi petunjuk untuk perawatan di rumah:
- Mata yang dioperasi tidak boleh kena air selama 3 (tiga) hari.
- Semua kegiatan sehari-hari boleh dilakukan seperti biasa , tidak ada larangan apa-apa kecuali mata yang dioperasi tidak boleh terpukul/terbentur dan digosok-gosok.
- Mata yang dioperasi harus memakai pelindung (DOP) pada waktu tidur selama 1 (satu) minggu setelah dioperasi, termasuk tidur siang.
- Obat tetes mata dipakai sesuai dengan petunjuk dokter sebelumnya tangan dicuci terlebih dahulu dengan sabun dan dibilas sampai bersih.
- Hindari daerah berdebu dan hewan peliharaan selama 2 (dua) minggu.
- Bila ada obat minum, minumlah sesuai dengan petunjuk dokter.

Kemudian saya diberi penutup mata (DOP) dari bahan fiber plastik yang bolong-bolong dan juga plester. Gunanya untuk menutup mata saya ketika nanti tidur. Penutup mata tersebut saya gunakan selama seminggu. Mata kiri saya yang dioperasi tadi tidak boleh kena air selama 3 hari. Saya juga diberikan surat untuk kontrol besok hari jam 10.30 di JEC Menteng dengan dr. Sharita Siregar Sp.M. Setelah mendapat petunjuk dari Mbak perawat saya pun keluar menuju ruang tunggu lantai 5 dimana teman saya menunggu dan saya melakukan pembayaran di Kasir ditempat itu juga.

Biaya yang saya keluarkan untuk operasi pertama ini adalah:
- Admin Pasien Rp. 50,000
- Retinometri Rp. 120,000
- Non Con Robo Rp. 260,000
- Biometri Rp. 310,000
- Aspina Phaco Rp. 11,110,000
- Anastesi Lokal Rp. 240,000
- Dokter Rp. 2,400,000
- Materai Rp.6,000
Sehingga total keseluruhan saya bayar Rp. 14,496,000

 

HARI KE 1 SETELAH OPERASI

Setelah semua beres maka saya pulang ke kosan. Hari itu saya tidak masuk kantor karena sudah ijin. Tidak ada masalah yang berarti, semua petunjuk saya ikuti sesuai dengan arahan yang diberikan. Mau tidur saya tutup mata saya dengan penutup dan plester sesuai arahan (walo ternyata cara saya menutup dengan plester dibilang dokter berlebihan, alias ga perlu seperti foto dibawah ini :D )

satu mata

satu mata

Saya di rumah bisa beraktifitas walaupun pandangan agak aneh, karena mata kiri saya sudah bagus dan kanan nya masih minus. Kalo membaca dekat memang tidak terlalu masalah tapi membaca jauh saya jadi susah. Saya coba juga pake kacamata yang lama dengan lensa kiri yang dicopot, tapi malah jadi ga enak.

Kontrol pertama

Kontrol pertama

Hari rabu tanggal 6 Mei 2015 saya ke JEC Menteng untuk kontrol dengan dr. Sharita, saya dititipin oleh dr. Johan untuk cek/kontrol dengan dr. Sharita. Dr Sharita ini jauh lebih muda dari dr. Johan. Kalo saya duga sih usianya masih lebih tua saya. Dr. Sharita juga komunikatif dan hangat dengan pasiennya.

Dalam konsultasi ini saya sampaikan bahwa saya tidak ada masalah berarti hanya sedikit masih merasa seperti kes’sed (kering) saja di mata kiri. Diperiksa oleh bu dokter dan hasilnya tidak ada yang aneh menurut dokter Sharita. Dokter Sharita berikan saya obat lagi yaitu TGF-Cendo (30 tablet). Ini adalah vitamin mata yang sama dengan yang diberikan oleh dr Johan ketika saya pertama kali periksa di bulan Desember. Ini hanya vitamin mata biasa saja.

Dr. Sharita juga sempat menanyakan saya mata yang kanan masih mau dioperasi juga ga? saya jawab mau lah dok, masa cuma separo-separo :D Kata dokternya sebab ada yang udah jalanin yang sebelah trus kapok jadinya ga mau lagi. Saya bilang saya mau kok nerusin operasi mata kanan saya biar enak melihatnya. Trus saya ditanya kapan maunya? saya jawab terserah dokter Johan. Sesuai jadwal sih katanya minggu depan, ya sudah saya ikut saja. Kemudian saya disuruh untuk atur jadwal dengan suster Ige assisten dokter Johan.

Kontrol pertama ini berlangsung singkat saja, yang sedikit bikin saya bete untuk kontrol ketemu cuma sebentar aja ternyata harus bayar lagi, artinya ga termasuk paket dari operasi :( ya sudahlah …

Kontrol pertama ini saya keluar biaya sebagai berikut:
- adm pasien Rp. 50.000,00
- Biaya Apotik Rp. 240.000,00
- Dokter Rp. 220.000,00
Total biaya saya bayar Rp. 510.000,00

 

MASALAH DI HARI KE-2

Setelah kontrol pertama saya jalankan aktivitas seperti biasa, walaupun sedikit sulit. Lama-lama kepala saya pusing juga karena untuk melihat jadi ribet, mata kiri udah baru yang mata kanan masih minus. Tapi semua saya jalani biasa. Sampai kemudian esok paginya saya bangun, mata kiri saya merah dan gatal. Wah saya ngeri juga. Saya kasih obat tetes sesuai petunjuk, agak mendingan jadinya tapi tetep merah dan saya merasa gatal.

Tanggal 7 Mei 2015, saya akhirnya telp JEC Menteng, ternyata sulit membuat janjian dengan Dr. Johan. Beliau sudah penuh jadwal pasiennya bahkan dari petugas telepon saya di sarankan booking dari sejak seminggu sebelumnya. Buseee mau ketemu dokter aja susah amat ternyata. Udah gitu jadwal dokter Johan adanya di sore sampai malam. Welehhh… saya minta saran rekomendasi dan ganti ke dokter lain mereka ga berani kasih rekomendasi (ga boleh kasih rekomendasi). Akhirnya saya inget dengan dr. Sharita lagi, saya cari lewat telp JEC, dari Customer Service diberitahu bahwa dr. Sharita lagi praktek di JEC kedoya.

Saya pun meluncur ke JEC Kedoya, setelah melalui receptionist di depan maka saya diarahkan ke lantai 3 tempat praktek dokter Sharita. Sambil nunggu panggilan dokter saya dipanggil ke BDR untuk periksa kondisi mata. Setelah diperiksa saya nunggu lagi dipanggil dokter. Tidak lama saya dipanggil untuk bertemu dr. Sharita Siregar. Dalam ruangan dr Sharita kaget ketemu saya lagi. Dia tanya bapak kenapa? saya terangkan mata saya merah sejak bangun tidur tadi dan saya khawatir. Dr. Sharita kemudian memeriksa saya.

Dari hasil pemeriksaan beliau, tidak ada masalah di mata saya. Kondisi lensa yang baru di mata kiri saya juga bagus. Sehingga mata merah saya kemungkinan hanya karena menyesuaikan saja. TAPII… ada tapinya nih. Mata kiri saya dari hasil periksa di BDR ternyata tekanan bola matanya tinggi (yaitu 29) dimana hal itu tidak bagus. Untuk tekanan bola mata tinggi ibu dr. Sharita berikan resep obat yaitu AZOPT ED dan GLAOPLUS MD.
- Azopt ED dipake 3 kali sehari
- Glaoplus dipake 1 kali sehari malam saja mau tidur

Azopt

Azopt

Glaoplus

Glaoplus

Untuk periksa dadakan di JEC Kedoya ini biaya yang saya keluarkan adalah:
- Adm pasien Rp. 50.000,00
- Dokter Rp. 250.000,00 (ini yang saya bandingkan lebih mahal dari JEC Menteng yg Rp. 220.000,00 beda 30 ribu)
- Periksa awal Rp. 120.000,00
- Obat : Azopt Rp. 315.000,00 dan Glaoplus Rp. 145.000,00
Total saya keluar biaya lagi Rp. 880.000,00

(Kayaknya mata saya jadi sehat tapi gantian kepala saya yg sakit kalo nanti pas lihat tagihan kartu kredit saya :D )

Sepulang dari dokter mata saya berangsur angsur normal, demikian pula hari-hari berikutnya hingga menjelang operasi tahap 2 untuk mata kanan. Hanya saja makin hari makin tidak enak, karena beda penglihatan mata kanan dan kiri makin mengganggu. Selain itu kondisi mata kiri yang awalnya ketika baru dioperasi sangat tajam dalam melihat jauh, ternyata makin hari makin menurun. Saya sadari hal ini hari Jumat dan weekend ketika di rumah Depok. Karena ketika saya melihat dengan satu mata, mata kiri saja, kok tidak sejelas awal ketika baru operasi (Nanti akan saya jelaskan mengapa, setelah saya konsultasi dengan dr. Johan satu minggu setelah operasi tahap 2).

 

OPERASI TAHAP ke-2 (MATA KANAN) …

Setelah menunggu selama seminggu saya sudah makin tidak sabar untuk operasi mata kanan saya. Akhirnya tanggal 12 Mei 2015, hari Selasa pun tiba. Sebelumnya saya sudah bikin perjanjian untuk operasi tahap 2 ini sejak minggu lalu dengan mbak Ige. Seninnya saya juga ditelpon kembali untuk konfirmasi operasi. Untuk operasi ke 2 ini sudah tidak perlu periksa laboratorium lagi sebelum operasi.

Seperti halnya minggu lalu, saya minta ditemani oleh teman kantor saya bangbro Sayuti. Saya pergi sekitar jam 09.00 dari Kosan dan sampai di JEC Menteng kepagian karena jadwalnya jam 10.30. Tapi gapapalah kepagian dari pada malah nanti telat. Lagipula saya udah ga sabar untuk bisa melihat dengan jelas dengan dua mata saya ini.

Tahapan sebelum operasi masih sama seperti operasi tahap 1. Saya datang langsung ke lantai 5, kemudian lapor ke loket di lantai 5 itu. Trus tunggu di ruang tunggu sampai di panggil. Lumayan nunggu lama tapi saya kok merasa cepat yah, tau tau udah dipanggil aja. Simpan sandal/sepatu di rak ruang tunggu kemudian masuk ruangan ganti baju, simpan barang di Loker. Kemudian masuk dan duduk di ruangan pre-operasi. Disitu saya seperti yang operasi 1, duduk dan ditetesin obat dimata, entah obat apa yang jelas sambil menunggu ruang operasi disiapkan. Setelah menunggu lumayan lama, saya pun di bawa masuk ke ruang operasi (theather) 2. Tidak seperti operasi 1 yang ke ruangan operasi jalan kaki biasa maka kali ini saya diantar pake kursi roda. Ga tau juga alasannya apa? Apa karena saya operasi katarak jd dianggap tuir :D

Di dalam ruangan operasi 2 ini sama seperti minggu lalu, ada 2 orang wanita di dalam ruangan menyiapkan operasi untuk saya. Musik pun mengalun di dalam ruangan, mungkin untuk bikin saya rileks. Tapiii …. tetap saja walopun saya sudah alami operasi ini minggu lalu rasa nervous tidak bisa hilang. Sampe mbak perawatnya bilang bapak boleh nervous tapi nggak boleh tegang banget katanya. Lha bijimane :) boleh nervous tapi kagak boleh tegang??. Apa maksudnya ga boleh “tegang” yang lainnya? Wahhh si mbak ga jelas nih :))

Pak dr. Johan masuk ruangan, seperti biasa beliau sapa saya. Terus menyuruh saya berdoa. Seperti biasa nya beliau katakan operasi akan berlangsung maksimal 10 menit. Mulailah dengan cepat dr Johan lakukan operasi. Jantung saya masih berdegup degup :D walaopun ini udah kali kedua saya masih tetap nervous. Selama operasi pak dr Johan masih komunikatif, semua tahapan diomongin saya jadi bisa ikut nyimak. Apalagi waktu mau masuk lensa pak dr. Johan bilang: “yukkk masuk lensa lensa yukk!” hehehehe saya jadi kayak siap-siap karena tau mata saya akan terasa seperti tertekan. Operasi berlangsung sekitar 7 menit. Begitu selesai pak dr. Johan bilang: “Yak operasi kita sudah selesai. Sudah berhasil. Lensanya cakep banget sudah masuk. Operasi 7 menit”, saya pun menarik napas lega.

Saya masih separo lega, sebelum saya membuka mata saya yang kanan. Saya buka mata kiri saya dulu, baru saya buka mata yang kanan, penglihatan mata kanan saya langsung terang dan tajam. Tapi belum bisa dibuka lama-lama, sebab langsung keluar air mata (reaksinya seperti mata di colok, tapi ga sakit sih). Karena keluar air mata maka saya pejamkan lagi mata kanan saya. Kemudian keluar ruangan operasi (theather) 2 saya dibawa pake kursi roda lagi. Berasa aneh aja naik kursi roda ini :) Kemudian saya di dudukan di kursi tunggu, dikasih kue dan minum dan beberapa kali ditetesin obat. Saya coba membuka mata kanan saya, senang rasanya tanpa kacamata saya bisa baca tulisan yang cukup jauh :D Tapi saya belum bisa enjoy banget karena masih keluarin air mata, kayaknya selain karena dampak dari operasi air mata itu keluar karena saya juga lagi mikirin nanti bayar nya hahahahaha :D

Setelah ditetesin dan duduk agak tiduran di ruangan tunggu perawatan pasca operasi saya dibolehkan pulang. Seperti biasa saya ke ruang ganti pakaian, sebelum ganti pakaian saya sempatkan selfie hahahaha :D

Pasca Operasi Tahap 2

Pasca Operasi Tahap 2

Setelah ganti pakaian saya kembali ke meja di depan kamar ganti. Disitu saya diberi petunjuk dan obat semuanya persis sama dengan yang operasi tahap 1. Saya juga diberitahu untuk kembali lagi kontrol esok hari dengan dokter Sharita lagi. Setelah diberi obat dan petunjuk maka saya ke kasir untuk bayar operasi tahap 2 ini. Untuk biaya operasi tahap 2 ini perinciannya adalah sebagai berikut:
- Admin Pasien Rp. 50.000,00
- Aspina Phaco Rp. 11.110.000,00
- Anastesi Lokal Rp. 240.000,00
- Dokter Rp. 2.400.000,00
- Materai Rp. 6.000,00
Total semua yang saya bayar Rp. 13.806.000,00

Saya diberikan selembar kartu sebagai bukti jenis lensa yang ditanam di mata saya. Ternyata dari kartu tersebut saya tau lensanya buatan Carl Zeiss :) Saya jadi berasa kayak robot, dimata saya ditanam lensa buatan ;)

Kartu tanda bukti lensa yang ditanam

Kartu tanda bukti lensa yang ditanam

Sepulangnya dari JEC Menteng saya masih sempatkan diri untuk ke kantor dan melanjutkan pekerjaan. Tapi ternyata kondisi mata saya belum fit untuk dipakai bekerja. Mata saya ternyata berubah menjadi ada rabun dekat alias mata plus. Sehingga jika melihat dekat malah sulit. Terpaksa saya membaca dokumen kertasnya saya jauhkan :) Saya berasa semakin tua aja :D Trus yang mengganggu juga adalah mata saya jadi seperti berkedut-kedut ketika dipaksa buat baca. Karena saya merasa belum fit maka saya putuskan untuk pulang saja, saya khawatir mata saya belum fit betul untuk beraktivitas. Saya pun ijin pulang untuk istirahat.

 

KONTROL PASCA OPERASI TAHAP-2

Esoknya tanggal 13 Mei 2015, sekitar pukul 10.30 saya kontrol lagi ke JEC Menteng. Saya bertemu dengan Dr. Sharita. Bu dokter senang karena setelah di periksa di BDR hasilnya tekanan bola matanya sudah tidak tinggi lagi. Dalam pertemuan ini saya keluhkan masalah mata kiri saya yang terus menurun, sehingga tidak seterang/sejelas ketika baru operasi minggu lalu. Bu dokter jelaskan bahwa mata saya ini belum stabil. Lensa nya masih menyesuaikan dimata, nanti minggu depan saya akan dijadwalkan kontrol dengan pak dr. Johan beliau akan periksa dan jelaskan semuanya.

Kemudian bu dokter kembali berikan saya resep obat. Obat yang diresepkan adalah Hyalub, Lapibal 250 dan Polydex ED. Hyalub dan Polydex ED ini adalah obat tetes yang digunakan jika obat Levofloxasin (LFX) dan Polydex MD yang sebelumnya dikasih sudah habis. Hyalub dan Polydex ED digunakan 3 kali sehari. Sedangkan Lapibal adalah tablet yang diminum 1 kali sehari.

Untuk kontrol kalo ini biaya yang saya keluarkan adalah:
- Adm pasien Rp. 50.000,00
- Dokter Rp. 220.000,00
- Obat Rp. 239.000,00
Sehingga total biaya yang saya bayar adalah Rp. 509.000,00

Pulang kontrol sampai beberapa hari kemudian mata saya baik-baik saja. Hingga akhirnya pada sekitar hari Jumat dan weekend mata kanan saya mulai menurun ketajamannya seperti mata kiri. Penglihatan mata saya untuk jauh sedikit menurun. Sehingga saya simpulkan saya masih ada sedikit rabun jauh (mata minus). Sedangkan untuk rabun dekat, kondisinya masih sama seperti saat baru jalani operasi alias masih sama, tidak bisa melihat terlalu dekat sehingga saya simpulkan mata saya juga sekarang plus (rabun dekat).

Saya jadi tidak sabar untuk bertemu dan konsultasi dengan dr. Johan yang dijadwalkan tanggal 19 Mei 2015 hari selasa jam 19.00 malam di JEC Menteng. Selama menunggu ini rasanya kurang enak, sebab pandangan jauh saya mulai berkurang ketajamannya hanya untuk baca dekat saja saya tidak terlalu masalah. Oh ya rabun dekat ini adalah pengalaman baru buat saya, sebab saya sebelumnya tidak punya rabun dekat (plus). Saya baru tau kalo pas lagi makan, karena piringnya terlalu dekat ama mata saya, maka lauknya jadi burem huahahahaa :D saya baru ngeh kalo orang udah tua matanya plus tu gini rasanya :) Kualat deh….

 

KONTROL 1 MINGGU SETELAH OPERASI

Hari Selasa 19 Mei 2015, saya sudah tidak sabar ke JEC Menteng untuk konsultasi satu minggu pasca operasi tahap 2. Saya berangkat jam 18.00 dari kosan, agak degdegan juga karena ternyata macet. Sampe di JEC Menteng ternyata sedikit terlambat yaitu jam 19.05. Tapi saya tidak terlambat sekali karena ternyata masih antri. Setelah daftar di lantai dasar saya tau kalo saya masih harus tunggu. Saya diarahkan ke lantai 4 tempat ruangan dr. Johan. Sebelumnya saya di suruh ke ruangan BDR dulu untuk periksa.

Di ruangan BDR inilah saya tau kondisi mata saya terkini. Ternyata mata saya yang kiri ada minus 1.75 dan yang kanan minus 1.5 dan keduanya Plus 2.5. Inilah yang saya sudah perkirakan sebelumnya, bahwa minus saya tidak bisa hilang sepenuhnya, saya sudah pernah baca informasi seperti ini sebelumnya. Tapi yang saya heran kenapa plus nya gede banget. Hal ini yang saya ingin tanyakan ke dr. Johan.

Saya kemudian menunggu dipanggil untuk konsul dengan dokter Johan. Ada 2 pasien yang konsultasi (kalo nggak salah) sampe akhirnya saya dipanggil. Saya masuk ruangan dr. Johan dan langsung disapa dengan hangat oleh dokter Johan. Di dalam ruangan ada dr. Sharita juga (Saya sepertinya tau kenapa mereka bisa ada berdua diruangan ini, tapi ga usah dibahas ah ;) ). Saya langsung uraikan kondisi saya. Saya mengeluh mata saya yang masih ada minus lagi dan adanya plus dimata saya.

Dr. Johan periksa mata saya, secara fisik beliau bilang bagus. Kemudian dr. Sharita jelaskan kalo tempo hari mata saya yg kiri tekanan bola mata saya tinggi, namun sekarang untungnya sudah tidak tinggi lagi. Dr Johan kemudian jelaskan bahwa mata saya memang harus diatur antara minus dan plus nya, sebab lensa yang baru ditanam ini tidak bisa dibuat minus nol karena dampaknya plusnya akan tinggi, demikian pula plusnya tidak bisa dibuat nol karena minusnya akan besar. Jadi harus ada kompromi. Penjelasan singkatnya demikianlah. Mungkin saya tidak terlalu tepat menyimpulkannya.

Kemudian untuk kondisi mata saya selanjutnya masih harus dipantau kembali artinya tidak bisa ditetapkan bahwa kondisi ini sudah fixed. Artinya masih dilihat lagi perkembangannya, harapan dokter sih minusnya mengecil paling tidak minus 1, tapi saya kok pesimis ya. Minus yg sekarang ini masih ada di mata saya secara prinsip bisa saya terima kok. Saat ini sebenarnya saya bisa tanpa kacamata, karena untuk baca dekat saya tidak terlalu masalah saya masih bisa baca, sedangkan untuk jauh tidak terlalu seberat seperti sebelumnya waktu mata kiri -13.75/kanan -12.00. Saya diminta untuk kembali konsultasi lagi (yang katanya untuk) terakhir kali, ketika semua obat saya sudah habis. Dokter tidak beri obat lagi, nanti aja katanya, sekarang dikasih resep ukuran kacamata tapi disuruh beli lensa yang murah aja dulu buat sementara.

Kontrol seminggu pasca operasi ini saya keluar biaya sbb:
- Adm pasien Rp. 50.000,00
- Periksa BDR Rp. 105.000,00
- Dokter Rp. 280.000,00 (tarif nya beda lagi nih :D apa karena dokternya ada 2 (dua) di ruangan :D )
Total saya keluar Rp. 435.000,00

Pulang dari JEC saya langsung ke ITC Kuningan untuk beli lensa minus sementara. Saya merasa ga terlalu nyaman untuk melihat jauh walopun saya masih bisa lihat. Saya pengen penglihatan jauh saya bisa terang dan tajam. Jadi saya langsung cari lensa ah biar bisa ngeliatnya enak. Framenya pake yang lama aja, lensanya aja yang baru. Ketemu toko yang masih buka, karena saya datang udah jam 21.00. Saya pesen lensa di toko itu, baru tau juga kalo lensa kaca akan hilang di pasaran dan akan diganti dengan lensa plastik. Sehingga saya beli lensa plastik untuk kacamata saya sementara ini. Toko itu janji besok lensanya akan selesai. Esoknya pas jam makan siang kacamata saya ambil. Biayanya Rp. 150.000,00 Saya pun puas karena mata saya makin jelas lagi untuk melihat.

Dengan kacamata itu saya bisa melihat jauh, sedangkan untuk melihat dekat saya tidak dibantu dengan kacamata. Sampai akhirnya tanggal 10 Juni 2015 saya jadwalkan lagi untuk kontrol dengan dr. Johan.

 

KONTROL TGL 10 JUNI 2015 …

Setelah hampir sebulan obat yang diberikan mulai habis, terutama FLX dan PolydexED. Tinggal sisanya obat Cendo Hyalub dan PolydexMD untuk mata kiri. Kondisi mata kanan saya sudah tidak ada masalah, hanya saja mata saya yang kiri masih suka terasa ngeres (kesett). Padahal obat tetesnya tinggal Cendo Hyalub dan PolydexMD yang ditetesin 3 kali sehari. Tentu saja rasanya kurang untuk atasi mata saya yang terasa ngeres ini. Saya mencoba tanyakan hal ini melalui email ke Dr. Johan, sayangnya beliau tidak menjawab email saya ini. Saya jadi merasa Dr. Johan lebih proaktif ketika saya belum operasi tapi begitu sudah operasi pelayanan atau tingkat informatifnya jadi berkurang. Saya jadi kecewa :(

Tanggal 10 Juni 2015 jam 08.00 kurang dikit saya sudah di JEC Menteng, setelah sebelumnya saya membuat perjanjian melalui website. Saya langsung daftar dan diarahkan ke lantai 4 untuk periksa dulu di ruangan BDR. Di ruangan BDR saya dites kondisi matanya dan di tes baca. Saya merasa minus saya kok kayaknya jadi nambah lagi. Tapi saya tidak menanyakannya ke petugas periksa, nanti saja saya tanya ke dokternya pikir saya.

Saya dapat nomor urut 1 dengan dr. Johan. Setelah dari BDR maka saya menunggu di depan ruangan dokter Johan. Setelah menunggu, maka sekitar jam 09.15 saya dipanggil. Dr Johan seperti biasa menyambut saya dengan akrab. Setelah sedikit basa-basi pak dokter langsung periksa mata saya. Saya sampaikan keluhan mata saya yang kiri masih sering terasa kesset atau ngeres. Dokter resepkan obat tetes yang bisa digunakan setiap saat saya merasa mata saya tidak nyaman.

obat itu adalah Protagenta, yang diteteskan setiap saya merasa tidak nyaman.

Protagenta PolyvinylPyrrolidone

Protagenta PolyvinylPyrrolidone

Sewaktu saya tanyakan kondisi mata minus saya, dokter Johan hanya katakan bahwa mata saya masih berubah-ubah. Ada kecenderungan mata minus saya saat ini akan kembali sedikit bertambah. Tapi saya masih bisa baca tanpa kacamata, jadi dr. Johan tidak resepkan ukuran lensa yang baru. Beliau katakan bahwa mata saya masih menyesuaikan terus. Hal ini bisa terjadi karena bergantung dengan pola hidup dan pola makan seseorang sehingga minus saya bisa bertambah lagi, ada kemungkinan minus saya maksimal jadi -3.

Saya agak bete juga dengan penjelasan dr. Johan karena nyatanya mata saya belum bisa stabil, masih akan berubah lagi. dr. Johan sarankan saya abis lebaran atau kapan ada waktu untuk kembali lagi untuk memastikan ukuran mata apakah sudah stabil dan apakah sudah bisa dikasih resep ukuran mata yang pasti. Padahal sebelumnya Dr. Johan katakan pada saya sudah tidak perlu kembali lagi, nanti kembali lagi setahun yang akan datang. Ternyata karena mata saya belum bisa stabil ukurannya maka sebulan lagi disuruh balik. Bukan hanya masalah uang yang sudah saya keluarkan tapi waktu nya untuk mondar mandir ke JEC dan ketidakpastiannya bikin saya bertanya-tanya terus, kok jadi gini? Kok malah ga selesai selesai.

Buat saya masalahnya ada 2 hal. Mata kiri saya yang masih terasa ngeres dan minusnya yang masih akan naik lagi…

Kontrol tanggal 10 Juni 2015 ini, saya mengeluarkan biaya lagi sebesar:
- Administrasi Rp. 50.000,00
- Pemeriksaan Awal Rp. 105.000,00
- Konsultasi Dokter Rp. 280.000,00
- Obat Rp. 399.000,00
Total hari ini saya keluarkan biaya Rp. 834.000,00

Sampai tanggal 10 Juni ini saya sudah keluarkan biaya total Rp. 33.180.000,00 hanya untuk dokter, obat dan biaya RS (belum termasuk transport dll)

 

KESIMPULAN:

Jika lelah membaca artikel yang panjang ini maka saya coba buatkan poin penting yang bisa jadi kesimpulan:

Pertama, jika ingin memutuskan untuk di Lasik atau Phacoemulsification hal utama yang paling penting perlu dipersiapkan adalah budget atau anggaran atau dana. Sebab selain biaya operasi (yg utama/pokok)nya yang menurut saya cukup mahal biaya ikutan lainnya juga lumayan banyak. Harus diperhitungkan dan dialokasikan dengan cermat biayanya. Apalagi jika anda termasuk seperti saya yang anggarannya terbatas, bukan anggaran berlebih atau tidak punya masalah dengan biaya.

Kedua, mau jalanin Lasik atau Phacoemulsification butuh keberanian. Kita harus yakin dan punya keberanian untuk jalanin tindakan ini. Sebab biar bagaimanapun ini kan mata yang mau dioperasi. Jadi harus yakin dan percaya dulu ama dokternya. Sehingga waktu ngejalaninnya kita udah sreg/yakin.

Ketiga, jika anda memiliki minus yang tinggi maka sebaiknya jangan terlalu berharap minusnya itu akan hilang total. Bisa jadi minus itu akan nol, akan tetapi semua itu tergantung kondisi dari masing-masing pasien.

Keempat, poin-poin diatas bisa makin maksimal jika kita sebelum melakukan tindakan sudah pelajari Lasik atau Phacoemulsification secara maksimal. Dalam arti kita sudah mencari tau tentang Lasik atau Phacoemulsification melalui browsing di internet, baca, diskusi dengan orang yang sudah jalanin dlsb nya. Pokoknya intinya banyak cari tau.

Kelima, usahakan ada keluarga, kerabat atau teman yang mendampingi saat operasi. Jangan seperti saya yang ingin nya apa-apa sendiri. Walaupun sebenarnya kita jalan sendiri juga tidak masalah, karena berdasarkan pengalaman saya yang dibutuhkan RS sebelum operasi hanyalah mengisi form surat dan tandatangan dari pendamping saja.

 

Nah, bagi yang berminat untuk Lasik atau Phaco semoga tulisan ini bisa bermanfaat.
Nanti saya akan ceritakan lagi bagaimana perkembangan mata saya ini dalam cerita berikutnya DI SINI.

 

 

Share this:
68 replies
  1. nina
    nina says:

    Selamat pagi pak harry,,,
    Artikel bapak ini sungguh menjadi gambaran buat saya ttg informasi yg mmg sy butuhkan. Sy memiliki minus lebih tinggi dr bapak dgn kondiai kornea yg tidak tebal, shg dua hal ini sy sudah tdk mngkin dilakukan lasik dan disarankan untuk tanam lensa seperti bapak.
    Sy kemungkinan akan melakukan d surabaya, tp sebenarnya sy msh bngung dan takut, karena sblmnya sy ddh siap untuk lasik. Sy ingin tau pendapat bapak, apakah tindakan phaco ini dsarankan (mengingat bapak dan sy memiliki kondisi yg sama)? Dan jika mmg sy akhirnya memutuskan untuk melakukannya, hal apa yg seharusnya sy siapkan, selain budget ppasti?
    Terimakasih

    Nina Difla
    Nb. Jika bapak berkenaan merespon, bisa balas lsg ke email sy (jk tdk merepotkan)..

    Reply
  2. Ahmed
    Ahmed says:

    menarik dan cukup mnguras air mata membaca cerita mas bas,sbgtu mahalnya biaya lasik bikin nangis ngelihat nominalnya,hehehe,
    btw.kacamata bekas yg tdk terpakai d sumbangin aja mas, kebetulan yayasan peduli mata anak bangsa yg kami kelola setiap 6 bln sekali mendonasikan kcmata bekas untk sodara kita yg kurang mampu…
    siapa tahu mas bas jg berminat untk mjd donatur
    thnks

    Reply
  3. Ratna feranti
    Ratna feranti says:

    Assalamualaikum Mas..sekarang matanya bagaimana? Smiga udah enakan yaa.. Ibu saya juga pasien di JEC menteng..awal januari 2015 operasi dengan dokter Vidyapati & oktober 2015 kmrn dgn dokter Gusti. Bsok check up ke-2 pasca operasi.

    Reply
    • Baskoro
      Baskoro says:

      Dear Mbak Ratna,
      Waalaikumsalam, Mata saya sekarang sudah enakan.
      Oh ibunda dengan dokter Vidyapati ya? bagaimana dengan dokter Vidya? Bisa di share pengalaman dengan beliau?
      Salam untuk Bunda ya, semoga bunda baik2 saja dan sehat selalu.

      Reply
  4. Pratiwi Wijayanti
    Pratiwi Wijayanti says:

    Hallo Harry,

    Artikel yang sangat detail. Terima kasih untuk sharing-nya. Hehe jadi inget waktu saya opname DB, saya ke UGD sendiri, pilih kamar sendiri, isi form sendiri, bayar DP ruangan sendiri. Waktu di UGD dokternya tanya nanti yang milih kamar siapa? saya. Petugas admin juga sama pertanyaannya lho ini yang sakit siapa? saya; yang nanggung siapa? saya. mana boleh begitu harus diisi keluarga yang bisa dihubungi. Pertanyaan yang lucu emang…
    Oh iya ibu saya ada katarak, dan ingin operasi. Dari artikel anda setidaknya saya jadi ada gambaran untuk ancang-ancang anggaran yang harus aku siapkan nanti untuk beliau. Belum tahu juga sih bisa di Klaten atau harus ke Jogja. Terima kasih banyak.

    Salam,
    Pratiwi W.

    Reply
    • Baskoro
      Baskoro says:

      Hallo Pratiwi,
      Terimakasih sudah berkunjung dan membaca Blog saya.
      Iya saya juga dulu waktu Typhus di rawat di RS bawa baju satu tas sendiri, daftar sendiri, bayar sendiri, dan tandatangani semua sendiri. Tapi makin kesini ga bisa begitu, oleh RS dibuat kebijakan harus ada persetujuan keluarga untuk suntik obat :)

      Saya doakan ibunda nya lancar dan sehat selalu untuk operasi katarak.

      Salam,
      Baskoro

      Reply
  5. M. Anam Lampung
    M. Anam Lampung says:

    Terharu, dramatis, kocak dan panjang lebar ya ceritanya. Smg lks sehat mas Bas. Dan Alloh ganti rejeki yg lbh bnyk lagi. Jadi ingat ponakan sy kls 4 SD minus 9. Lulus SMP gk sanggup lg lnjut ke SMA krn kondisi matanya. Kalo mata sy cuma minus 3/4 dan plus 1,25 jd gk terlalu mengganggu aktvitas sy sbg guru. Slm kenal dari sy sklrga di bdrlampung.

    Reply
    • Baskoro
      Baskoro says:

      Dear Pak Guru Anam di Lampung,
      Hehehehehehe senang sekali bapak bisa mampir di blog saya dan membaca tulisan saya ini.
      Kasian juga ya dengan keponakan bapak, saya turut prihatin sekali :(
      Terimakasih atas doanya, saya doakan semoga Bapak dan keluarga selalu diberi kesehatan dan kesuksesan. Salam kenal juga dari saya di Depok pak.

      Reply
  6. lita Relawati
    lita Relawati says:

    Assalamualaikum pak Baskoro sy tanya wkt sy msh gadis mata kanan sy minus 8 mata kiri normal bahkan dokter pun tdk menyaran kan sy utk memakai kaca mata,kalau pun mau hny boleh memakai lensa itu pun sblh,,,tp akhir nya krn sy sering merasakan pusing sy nekat memakai kaca mata dan ironis nya mata kiri sy mlh jd ada silinder,, trs skrg mata kanan sy malah minus 12 silinder 1,dan mata kanan sy malah silinder 1.5 otomatis kedua nya jd minus,menurut pak Baskoro apakah perlu mata kanan sy di operasi krn khawatir nya semakin trs meningkat

    Terima kasih

    Reply
    • Baskoro
      Baskoro says:

      Waalaikumsalam Mbak Lita Relawati,
      Saya terus terang tidak bisa merekomendasikan apakah Mbak perlu dioperasi, baik di Lasik atau di Phaco. Saran saya sebaiknya mbak konsultasi dulu ke dokter ahli spesialis mata untuk mendapatkan pendapat dari mereka yang lebih ahli.
      Sebagai informasi, tadinya saya hanya ingin di Lasik, akan tetapi ketika datang konsultasi ke dokter mata, ternyata lensa mata saya katarak, sehingga saya direkomendasikan untuk mengganti lensa atau menjalani Phaco.
      Demikian saran saya, semoga membantu Mbak Lita.
      Salam,
      Baskoro

      Reply
      • fauzi
        fauzi says:

        assalamuailkum Mas Baskoro tulisannya bagus detail sekali, sya juga periksa mata di jec menteng tanggal 20 januari2016, mata kanan saya minus 9 dan ada putihnya karena tertimpuk waktu kecil, kata dokter tjahyono harus operasi phaco mengganti lensa sehingga minusnya berkurang jadi minus satu. saya jadi ragu takut tidak memuaskan seperti yang dialami Mas Baskoro. Menurut pendapat mas bagaimana ya, apakah saya harus operasi mata kanan saya yang minus 9 itu. terima kasih sebelumnya

        Reply
        • Baskoro
          Baskoro says:

          Waalaikumsalam Mas Fauzi,
          Maaf sekali saya agak terlambat mengetahui pertanyaan anda, sebab pertanyaan masuk ke Spam box.
          Pertama, saya bukan dokter mas, sehingga saya tidak bisa memberikan rekomendasi kepada mas.
          Kedua, Saya share pengalaman pribadi saya disini, dengan harapan bisa berbagi pengalaman. Jika diikuti dalam tulisan saya yang lain sebenarnya kondisi mata saya sekarang sudah semakin membaik. Minus dan plusnya sudah semakin berkurang.

          Hanya saja, saya sarankan kepada mas untuk konfirmasi ke dokter:
          1. Apakah dampak dari operasi ini? apakah ada mata plus seperti halnya yg saya alami?
          2. Bagaimana jika mata keruh? apakah itu bisa dicegah agar tidak keruh

          Selebihnya persiapkan mental dan berdoa saja mas. Semoga apapun keputusan mas bisa membuat mas nyaman dan tetap sehat wal afiat.
          Salam.

          Reply
  7. Marcelia
    Marcelia says:

    Selamat malam mas baskoro.
    3 minggu yang lalu saya baru saja menjalani operasi phaco dengan dokter yang sama juga. Sejauh ini ga ada masalah sih. Cuman yang saya bingung kenapa bengkak di mata ga kempes2 ya. Cuman menganggu penampilan aja sih berasa kayak ditonjok gitu haha. Anyway kalau pake contact lens setelah di phaco bermasalah ga ya mas. Ditunggu replynya via email

    Reply
    • Baskoro
      Baskoro says:

      Dear mbak Marcelia,
      Terimakasih sdh berkunjung ke web saya.
      Mengenai mata bengkak anda, saya sarankan untuk konsultasikan dgn dokter mata anda kembali segera. Bukan saya menakut nakuti tp mata bengkak itu tdk lazim. Sebaiknya diperiksakan saja.
      Demikian pula utk pemakaian softlens, sebaiknya konsultasikan dulu dgn dokter mata anda. Saya bukan dokter sehingga tdk bs berikan rekomendasi terkait hal tsb.
      Mohon maaf jika jawaban saya tdk memuaskan.
      Salam.

      Reply
  8. Firin Muhammad
    Firin Muhammad says:

    Selamat malam mas baskoro. Artikelnya detil banget.
    Cerita awal pengen lasiknya hampir mirip sama saya mas. Saya juga awalnya pengen lasik karena emang tahunya lasik dan lebih familiar dg lasik. Eh malah pas udh mantap malah sama dokternya saya ga bisa lasik, karena minus saya yg terlalu tinggi. Jadi tindakan yg diambil operasi tanam lensa persis seperti mas baskoro.
    Saya sudah 10 hari ini habis operasi tanam lensa. Dari awalnya minus 15 kanan dan 14 kiri ada silindernya juga skrng jadi minus 3,5 kanan kiri dan silinder 0,5 dan 1. Tapi masalahnya saya juga menderita presbiopi mas (yg biasa diderita orang tua). Susah melihat jauh dan dekat. Jadi kaca mata yg saya pake nanti lensa gabungan, lensa bifokal ada plus dan minusnya.
    Nah apakah mas baskoro mengalami ini juga? Soalnya kalo saya baca kok kaca mata yg dipake setelah operasi lensa minus aja. Apakah itu sudah mengatasi penglihatan mas?
    Terima kasih.

    Reply
    • Baskoro
      Baskoro says:

      Selamat Malam mas Firin Muhammad,
      Ya saya juga mengalami hal yang sama. Di artikel ini saya tulis kok ketika konsultasi pertama kali dengan Dr. Johan pun sudah disampaikan bahwa saya akan minus dan plus.
      Hal ini saya tulis juga di artikel berikutnya. Terutama di SINI.

      Reply
  9. DImas Sedayu
    DImas Sedayu says:

    Selamat Siang pak..
    kalo boleh tau,umur bapak berapa yaa..?? lalu pada saat minus itu berapa pas operasinya..??
    sebab umur saya 24th,minus saya tinggi,,ditawari oleh dokter ditempat saya kerja untuk Operasi seperti bapak kalo ingin mata kembail normal atau setidaknya minus rendah..makanya saya bingung nieh pak,,bisa beri masukan kepada saya..??saya kerja di salah satu rumah sakit angkatan darat,walaupun gratis,tapi masih ragu-ragu.

    Reply
    • Baskoro
      Baskoro says:

      Mas Dimas, terimakasih sudah berkunjung ke laman web saya.
      Saya usia saat ini sdh 39 tahun. Saat dioperasi thn lalu saya usia 38 tahun.
      Saya pernah baca bahwa Lasik atau sejenisnya tidak ada jaminan utk mata minus tdk akan muncul kembali. Selain itu saya pernah baca jg katanya mata minus seseorang baru akan berhenti jika sdh berusia 25 th.
      Coba deh informasi itu di tanyakan ke dokter. Apakah benar.Informasi ini yg saya gunakan sbg pertimbangan utk menentukan saya kemudian operasi phaco saat tahun lalu.
      Semoga membantu ya.

      Reply
  10. wiwin
    wiwin says:

    Assalamu’alaykum mas,

    Anak saya usia 6 thn juga baru menjalani oprasi mata dengan metode fakoe di RS fatmawati dan hasilnya alhamdulillah bagus dan lancar dan saya menggunakan BPJS dan free gak bayar sama sekali, saya jadi kaget ternyata kl bayar mahal sekali ya biayayanya, pelayanan di BPJS fatmawati ternyata tidak membedakan pasien BPJS dan tunai, saya sangat bersyukur sekali ada BPJS, sekarang anak saya lagi dalam masa pemulihan, mata anak saya juga agak merah tapi setelah baca tulisan mas baskoro saya jadi tenang karena tidak bahaya ternyata mata agak merah, tapi anak saya tidak mau diem maunya gerak terus karena pengen main dan saya harus ekstra buat jagain untuk tidak banyak gerak dulu, terima kasih atas sharingnya mas baskoro

    Reply
    • Baskoro
      Baskoro says:

      Waalaikumsalam mbak Wiwin,
      Terimakasih sudah berkunjung ke website saya dan sudah cerita ttg anaknya yang juga jalani operasi Phaco ini.
      Semoga anak mbak selalu sehat dan nyaman dengan lensa tanam barunya.
      Kalo boleh di share dong mbak kenapa anaknya di operasi phaco diusia yg sangat muda?
      Kemudian bagaimana proses nya bisa di cover BPJS di Fatmawati? sebab saya ingin periksakan ibu saya ke dokter mata juga.
      Dan sepertinya ibu saya juga katarak, sehingga perlu dioperasi. Tapi kalo ibu saya kan mahal sekali biaya segitu jadi kalo bisa mau diajukan ke BPJS saja.
      Saya harap mbak Wiwin bersedia share di sini atau di blog mbak wiwin jika ada.
      Terimakasih. Semoga sehat dan sukses selalu bersama mbak dan keluarga.

      Reply
  11. wiwin
    wiwin says:

    baik mas saya akan share semoga bermanfaat. Gejala awal anak saya matanya suka merem2 kalau ditempat terbuka yang lagi terik cahaya mataharinya dan kalo di rumah pintu minta di tutup kalo lagi baca or nonton tv, saya kawatir ada apa2 dengan anak saya dan saya bawa ke dokter mata RS hermina depok, setelah diperiksa dengan kaca mata minus ternyata gak bisa juga membantu penglihatanya yg sedikit terganggu dan gak bisa baca tulisan kecil2 jarak jauh, diagnosa dokter anak saya kena katarak tapi masih prematur sekitar 10 % kataraknya, untuk kasus anak saya dokter di hermina tidak bisa mengoprasi anak saya karena keterbatasan alat dan dokter menyarankan ke RS fatmawati yg lengkap alatnya. Dokter di hermina yang justru menyarankan saya pake BPJS karena kuwalitas pelayanan dan dokternya tidak dibedakan antara pasien BPJS dan non BPJS, tadinya saya berfikir kalo BPJS itu pelayanan dan dokternya dibedakan tapi akhirnya suami saya bilang kita coba dulu ke fatmawati. Untuk proses dengan menggunakan BPJS sangat mudah sekali ternyata tdiak seperti yang saya bayangan dan seperti cerita2 orang kalo BPJS itu sulit dan di bedakan dengan pasien non BPJS, dan alhamdulillah kantor saya juga baru ganti asuransinya menggunakan BPJS karena program wajib pemerintah untuk kantor2, Saya menggunakan BPJS dari kantor. pertama saya minta surat rujukan ke klinik bahar di depok sawangan yang merupakan faskes pertama BPJS saya, yang harus dibawa kartu BPJS dan fotocopynya dan fotocopy KK,disana saya minta surat rujukan, kami di rujuk dulu ke RS hermina gak langsung ke fatmawati karena di RS hermina yg bisa mendiagnosa penyakit mata anak saya, terus saya ke hermina lagi dengan menggunakan BPJS ke dokter mata yg pertama memeriksa anak saya, dari hermina baru saya dikasih surat rujukan ke fatmawati dengan diagnosa lengkap, ke esokan harinya saya langsung membawa anak saya ke fatmawati dengan membawa surat rujukan asli dr RS hermina dan fotocopynya dan KK dan kartu BPJS dan KTP (Pokoknya utk KTP,KK,kartu BPJS di fotocopy yg byak buat persediaan), sampe difatmawati ambil no antrian di gedung BPJS nnti disana dapet surat masuk utk ke poly mata, di poly mata nanti tinggal antri buat di priksa, anak saya dipriksa sama dokter sylvia yg khusus menangani mata anak2, setelah di priksa ternyata anak saya harus di oprasi dengan metode fakoe karena kataraknya masih terlalu tipis dan berada ditengah2 lensa mata, setelah selesai dari dokter mata disuruh konsul dulu ke dokter anastesi dan dokter anak karena mau oprasi dan di bius total, setelah menjalani proses ronsen, tes darah, dan hasilnya dah oke kita balik ke dokter mata lagi, setelah itu baru ditentukan jadwal oprasi, prosesnya emang agak panjang karena satu hari hanya boleh satu dokter, tapi ya gak papa demi kesembuhan anak harus sabar hehehehe, akhirnya anak saya dapet jadwal oprasi tgl 10 maret, dan alhamdulillah oprasi lancar dan anak saya tidak merasa kesakitan sama sekali karena dia tidak nangis, hanya nangis sebentar karena infusnya sakit katanya, anak saya rawat inap semalem dan tgl 11 boleh pulang setelah fisit dokter, sekarang tinggal proses pemulihan dan harus kontrol2 lagi, insyaallah BPJS gampang skr prosesnya dan pelayananya memuaskan, saya mape gak percaya kalo gratis dan tidak bayar sama sekali, alhamdulillah Allah sudah kasih jalan dan kemudahan, semoga ibu mas baskoro bisa cepet di obatin dan sembuh. aamiin, demikian yg bisa saya sharing semoga bisa membantu

    Reply
    • Baskoro
      Baskoro says:

      Mbak Wiwin… ya ampunnnn small world banget sih, kayaknya kita tetanggaan deh :)
      Mbak ke klinik Bahar yang di Mampang Sawangan, yg ada lapangan futsalnya kan di belakangnya?? Rumah saya itu sebelah persis klinik Bahar. Sebelah klinik ada toko KRISS BATIK, nah rumah saya dibelakangnya. Kapan2 mampir ya :)
      Mbak terimakasih lho untuk sharing dan penjelasannya yang rinci sekali, sangat bermanfaat bagi kita tentunya yang membaca sharing mbak disini. Oh ya anak mbak itu dioperasi di kedua mata nya ya? dalam satu hari dilakukan operasi berbarengan?
      Memang benar adanya BPJS sangat membantu masyarakat sekali, semoga pelayanan BPJS semakin baik jangan hanya iurannya aja yang makin naik :)
      Sekali lagi terimakasih banyak sudah mau berbagi di Blog saya ini. Salam.

      Reply
  12. wiwin
    wiwin says:

    Masyaallah ternyata kita bertetangga tho mas, saya tinggal di depok maharaja …, Anak saya baru satu matanya yg di oprasi, setelah pemulihan baru menyusul satunya untuk di jadwalkan oprasi lagi. Kalo mau membuat BPJS usahakan memilih klinik untuk faskes pertamanya karena lebih mudah bila dibanding di puskesmas hehehe, di klinik dokternya lebih ramah dan cepat pelayananya. Setelah anak saya sembuh saya juga berencana membawa ibu saya yg kena katarak karena usia tua ke fatmawati buat periksa dan oprasi mas baskoro, Sekarang BPJS pelayananya sudah baik kalo soal antri ya wajar soalnya kan banyak yang mau berobat hehhehehhe, kita juga bayar kok BPJS seperti asuransi swasta jadi memang harus selalu ditingkatkan pelayananya hihihihi, semoga bermanfaat.

    Reply
    • Baskoro
      Baskoro says:

      Hehehehee ternyata tetangga dekat ya kite :) (nomor rumah mbak saya hapus di website ini demi keamanan pribadi ya mbak. soalnya di web banyak yg bisa baca).
      Ow baru satu mata… tapi anak mbak blum banyak aktivitas ya mbak. Kalo saya rasanya beda seminggu aja ga enak banget rasanya, kayak agak njomplang sbb minus saya juga tinggi sih.
      Benar mbak BPJS saya juga dari klinik, tapi klinik saya di PALA FARMA jalan Mawar Perumnas Depok 1. Saya nggak mau ke Klinik Bahar sebab keluarga pernah ribut ama tetangga itu, ibu saya kesel banget ama Klinik itu, makanya kita cari klinik lain yang bisa kita percaya :)
      Semoga ibu mbak juga bisa dioperasi Phaco dengan lancar dan sehat. Salam

      Reply
  13. Freddy Muhammad G
    Freddy Muhammad G says:

    Saya juga pada 13 Jan 2016 dan 15 Feb 2016 yang lalu baru saja menjalani operasi katarak mata kiri dan kanan saya. Sampai dengan kontrol ulang terakhir pada Senin,14 Maret 2016 Alhamdulillah hasilnya bagus. Mata yang sebelum operasi berkabut dan tidak tahan cahaya (silau) di malam hari kini sudah tidak lagi. Saya operasi ditangani oleh Ibu dr Vetty SpM di Klinik Mata Cimanggis Medika di Cisalak.Jl Raya Bogor, di Ruko Ruko di depan BRI Cisalak/ Di samping Bank BNI. Untuk semua biayanya saya menggunakan fasilitas BPJS. Kalau Mas Baskoro lagi di Depok coba CrossCheck ke dr Vetty SpM di Klinik Mata Cimanggis Medika, Cisalak Telp No : (021) 8734051

    Reply
    • Baskoro
      Baskoro says:

      Dear Pak Freddy M,

      Terimakasih banyak atas sharing informasinya di blog saya. Saya memang kebetulan saat ini tinggal di depok pak.
      Semoga pak Freddy sehat selalu, terutama dgn hasil operasi kataraknya semoga sehat2 dan nyaman selalu. BAS

      Reply
  14. Ika
    Ika says:

    Selamat siang Pak,

    Aduh bener-bener merinding saya bacanaya, jadi berasa mual gini pas baca minusnya nambah terus menerus secara drastis dari 3, 7 sampe belasan (aduuuhh bahkan sampe berasa mual saya nulis ini) hehehe
    Saya juga sejak 2014 pengelihatan mulai bermasalah dan sempet periksa di orang Optik kenalan teman dan katanya minus seperempat terus saya beli aja kacamatanya tapi jaraannggg sekali saya pakai, paling kalau mendesak aja dan kalau lagi naik motor malam2, dan akhir2 ini pengelihatan saya makin buruk, saat kuliah bahkan sudah pakai kacamata tetap ga bisa baca tulisan dipapan tulis (padahal waktu SMK saya duduk paling belakang aja masih bisa baca tulisan dipapan tulis) dan sekarang saya sedang berencana untuk periksa mata yg lebih serius ke dokter mata (bukan di orang Optik “tukang kacamata”) dengan bantuan BPJS tentunya hehhe apalagi pas baca artikel Bapak ini mengenai pengalaman matanya jadi takut saya (karena awalnya saya menganggap sepele masalah mata) hehhe
    tapi Alhamdulillah sekali ya Bapak bisa sembuh dan diberi rezeki cukup untuk itu semua, Sehat selalu deh.
    Artikelnya membantu sekali untuk yang membutuhkan.

    Terimakasih,

    Ika.J.

    Reply
    • Baskoro
      Baskoro says:

      Ika J, terimakasih sdh mampir di blog saya.
      Saya ikut prihatin jg dgn kondisi matamu, anehnya baru saat usia kuliah kamu mengalami minus tinggi.
      Semoga minus mu ga tambah naik deh. Rajin pake kacamata nya, makan2 makanan yg sehat krn itu membantu menjaga kesehatan mata.
      Jika bs beli vitamin buat mata, di artikel saya ttg mata yg terakhir saya sebutkan ttg vit mata yg cocok buat saya.
      Saya sih masih optimis minus Ika tdk akan naik lbh tinggi lagi, tp memang tetap harus dijaga dengan makanan yang sehat dan bergizi. Dokter sarankan jgn banyak makan junk food lho.
      Sehat selalu ya Ika. Thanks

      Reply
  15. nabila
    nabila says:

    halo pak baskoro, saya jg tadinya mau lasik tp karena kondisi mata ga memungkinkan akhirnya dokter menyarankan utk dilakukan tindakan phakic iol
    boleh share ga, menurut pengalaman bpk sejauh ini, apakah tanam lensa cukup recommended? usia saya saat ini 24 thn
    oh iya bpk menghubungi suster Ige melalui apa ya? saya boleh minta kontaknya? krn saya selalu kesulitan menghubungi suster Ige kalau melalui call center JEC
    bpk bisa kirimkan ke email saya aja
    terimakasiiih :)

    Reply
    • Baskoro
      Baskoro says:

      Dear Nabila,
      Jika dokter menyarankan untuk operasi tanam lensa tentunya itu adalah saran terbaik dr seorang yg ahli. Saya tdk bs memberikan pandangan krn saya bukan dokter.
      Saran saya selain meminta pendapat dari satu dokter coba minta pendapat dari dokter lainnya atau second opinion.
      Oh ya saya sudah kirim emailnya ya.
      Thanks sdh mampir di blog saya :)
      Baskoro

      Reply
  16. Pradana Itsumo Kawaii
    Pradana Itsumo Kawaii says:

    Dulu saya pernah operasi katarak waktu smp. Tapi tetap gak bisa liat. Malahan sekarang setelah operasi buat kerja fisik berat atau ringan, mata jadi sering sakit bgt. Bagian dalam kayak ada yg menarik syaraf2nya, ditambah pusing dan perih di dalam mata.
    Sampai saya bingung harus kerja apa. Kerja yg bs dilakukan perempuan pun, mata kiri saya gak bisa diajak kerjasama.

    Reply
  17. icha
    icha says:

    Ibu saya baru saja operasi 3 hari lalu. alhamdullilah pake BPJS di RS graha permata ibu depok. Gratiss semuanya ….

    Reply
  18. def
    def says:

    Mas Baskoro…. Kalau boleh tahu alamat email atau nomor whatsapp mas Baskoro apa ya ? saya mau sedikit diskusi ttg phakic iol ini. Sabtu kemarin saya ke JEC juga disarankan menggunakan alternatif ini. email saya yusdanial@gmail.com. Terima kasih.

    Reply
  19. dian
    dian says:

    Setelah baca tulisan bapak ternyata pengalaman yang bapak alami setelah operasi sama persis dengan yang saya alami 2 thn lalu. Di JEC jg.
    Balas ke email saya saja pak mudah2an bisa sharing pengalaman setelah operasi mata di JEC.tks

    Reply
  20. mmcsurabayaoffice@gmail.com
    mmcsurabayaoffice@gmail.com says:

    Selamat Pagi, perkenalkan kami perwakilan Mahkota Medical Centre Surabaya Rep Office. kami adalah salah satu perwakilan di jawa timur. kami siap membantu dan memberikan:
    1. informasi seputar mahkota dan malaca malaysia
    2. informasi fasilitas & kesehatan
    3. Book dokter dan arange perjalanan sampai akomodasi dengan Company Rate kami ( sehingga lebih murah )
    3. Second opinion langsung dari Dokter kami.
    Semua pelayanan ini FREE of Charge, walaupun hanya untuk bertanya atau sekedar second opinion dari Dokter lain kita siap membantu .Jika Membutuhkan infomasi tentang Mahkota Medical Centre Melaka Malaysia, silahkan hubungi kantor perwakilan kami….
    Surabaya Representative Office
    Mahkota Medical Centre
    Jl. Barata Jaya XIX / 31C
    Surabaya 60131 – Indonesia.
    Phone : +6281 331777697
    Email : mmcsurabayaoffice@gmail.com
    Fb : https://www.facebook.com/mmc.surabaya
    http://mahkotamedicalcentresurabayaoffice.blogspot.co.id/

    Reply
  21. Fifie
    Fifie says:

    Hai mas baskoro, ceritanya sangat membantu. Saya juga minus tinggi dari kecil. Kondisi teenager, kanan minus 15, kiri minus 11,5.

    Sebelumnya saya kontrol ke KMN. Menurut dokter disana, mata saya ada katarak tipis. Tidak disarankan untuk lasik atau tahan lensa, menunggu perkembangan kataraknya. Disarankan kontrol lagi 6 bulan berikut nya..

    Tidak puas. Saya kontrol lagi me JEC cibubur. Menurut dokter disana, syaraf mata saya bagus, tapi tipis. Dan saya dirujuk ke dokter Johan di JEC menteng.

    Cerita mas baskoro menguatkan saya. Siap dana, siap mental.
    Thank you for sharing

    Oh iya mas, saat kondisi mata kiri sudah operasi dan mata kanan minus tinggi, menyulitkan salah aktivitas seperti berkendara/membaca?

    Reply
    • Baskoro
      Baskoro says:

      Dear Mbak Fifie,
      Terimakasih sudah mampir. Senang sekali mbak Fifie akhirnya bisa menjalani tindakan dengan dokter Johan.
      Semoga berjalan dengan sukses dan mbak semakin sehat. Salam kepada dokter Johan.
      Saya merasa kesulitan ketika satu mata sudah dioperasi, terutama untuk bekerja dan membaca. Sehingga tidak lama, seminggu kemudian saya jalani operasi berikutnya.

      Reply
  22. yulius usman
    yulius usman says:

    Salam kenal, Pak saya juga mau melakukan tanam lensa, tp saya jadi khawatir dengan cerita bapak, dimana setelah operasi, masih ada minus dan di tambah lagi plus. apakah minus dan plus sudah stabil atau masih bisa bertambah dengan bertambahnya usia.
    Apakah saya boleh minta no WA, agar saya bisa langsung berkomunikasi,
    email saya julius_yau@yahoo.com

    Thx
    Yulius

    Reply
    • Baskoro
      Baskoro says:

      Yth. Pak Yulius, terimakasih sudah berkunjung ke website saya.
      Untuk kondisi mata saya terkini masih sama dengan apa yang saya sampaikan di artikel http://harribaskoro.com/kondisi-mata-saya-terkini-januari-2016/
      Artinya Minus saya masih tetap 0.75 (kiri kanan) dan plus masih +1 (ki-ka).
      Untuk lebih pastinya sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter yang ahlinya. Selain memang masing-masing orang akan berbeda kondisinya.
      Saya pikir tidak usah terlalu cemas. Semoga sukses dengan operasinya.
      Saya sudah kirimkan nomor hp saya.
      Terimakasih.

      Reply
  23. Richa
    Richa says:

    Hallo Pak Harry. Sebelumnya selamat sudah lepas dri kacamata tebal. Saya bisa merasakan kebahagiaan bapak yang rindu lepas dari kacamata.

    Terima Kasih udah sharing pengalamannya dan sangat membantu saya. kondisi mata kita kurang lebih sama Pak. Saya sudah mulai pakai kacamata dr kelas 3 SD dan itu sangat tidak menyenangkan. Minus saya sudah sangat tinggi -17. Rencana saya mau melakukan operasi Phecic juga. Tapi saya masih takut. Takut tidak berhasil mengingat minus mata saya yang sangat tinggi. dan saya masih bingung pilih dokter dan klinik mata yg bagus. menurut bapak yang bagus Klinik Mata Nusantara Kebon Jeruk atau JEC Kedoya/Menteng ya Pak? Soalnya takut juga dapat dokter yang operasi mata bapak tidak kooperatif setelah operasi. Btw budget yang bapak keluarkan di thn 2015 lumayan besar juga ya pak. Saya sedikit pesimis untuk melakukan operasi takut budget nya tidak cukup mengingat kondisi keuangan saya belum matang.

    Reply
    • Baskoro
      Baskoro says:

      Dear Richa, Terimakasih sudah mampir di website saya. Benar sekali sekarang saya bahagia setiap bangun tidur ga mesti nyari kacamata lagi, bisa langsung ngacir ke toilet hehehee
      Untuk pilihan dokter dan RS saya tidak bisa merekomendasikan akan tetapi jika Richa sudah baca artikel saya yang ini http://harribaskoro.com/perbandingan-phacoemulsification-di-jec-dan-kmn-2/ mungkin kemudian bisa memutuskan akan ke RS yang mana. Menurut saya masing-masing ada plus dan minusnya.
      Sebaiknya tanya-tanya saja dulu, konsultasi dengan dokternya apa langkah yang tepat untuk dilakukan. Sebab minus mata tinggi tidak selalu harus di Phaco lho! Apakah memang Richa ada Katarak? kalo tidak ada saya rasa cukup di lasik saja. Kalo hanya Lasik setau saya lebih murah.
      Masalah biaya memang akan makan banyak biaya, apalagi jika dengan dana pribadi. Saran saya coba saja dengan BPJS. Konslutasi saja ke dokter mata biasa, jika memang dokter rekomendasikan di operasi phecic maka dengan di cover BPJS biayanya akan sangat ringan.
      Pengunjung blog saya ada kok yang sharing pengalaman operasi Phaco menggunakan BPJS (silahkan dibaca cerita ibu Wiwin di bulan Maret 2016).
      Semoga Richa sehat dan sukses selalu.

      Reply
  24. marcella
    marcella says:

    Terima kasih atas penjelasannya yang detail mas. Dr. Ira JEC Menteng menyarankan saya untuk tanam lensa dan mencari second opinian ke dr. Johan. Saya sudah ragu sebelum membaca posting mas Hari. Setelah membaca, saya menjadi yakin untuk sementara waktu ini tidak melakukan konsultasi mengenai tanam lensa mengingat biaya yang mahal setiap konsultasinya.

    Reply
    • Baskoro
      Baskoro says:

      Dear Mbak Marcella,
      Terimakasih sudah mampir ke website saya. Saya senang Dr. Ira mengingatkan mbak Marcella untuk meminta 2nd opinion. Menurut saya itu justru langkah yang tepat dan harus mbak lakukan. Jika mbak membaca artikel saya terkait operasi phaco disitu saya tekankan perlunya 2nd opinion. Saya menulis total 5 artikel yang terkait phaco ini. Silahkan dibaca mbak.
      Lebih baik mbak keluar uang diawal untuk konsultasi tapi yakin dan mantap untuk menjalani operasi phaco tersebut. Semoga lancar operasinya dan sehat sukses selalu.

      Reply
  25. Lina
    Lina says:

    Terima kasih untuk sharing ceritanya.
    Saya juga sedang menimbang saran dari dokter untuk tindakan terhadap kedua mata saya.
    Bisa minta emailnya supaya bisa berkomunikasi lebih rinci.
    terima kasih

    Reply
  26. sherli
    sherli says:

    hallo mas,
    terimakasih untuk sharringnya,
    kebetulan eyang putri saya matanya sedang bermasalah,
    kata beliau pandangannya kabur, silau jika terkena cahaya
    sudah saya bawa ke puskesmas (menggunakan BPJS )
    katanya ada indikasi katarak, tapi belum “matang”
    katanya lagi, ngga bisa dioperasi harus nunggu “matang” dulu
    saya tanyakan, apakah ngga ada tindakan lain selain operasi? atau tindakan apa yg harus dilakukan supaya eyang saya tidak “mengeluh burem burem terus”, kata dokternya “diobatin aja dulu”
    terus dikasih 2 obat, yg 1 kurang paham obat apa karena ngga ada bungkusnya, yg 1nya paracetamol,
    masa dikasih paracetamol?? apakah nyambung??
    yg saya ingin tanyakan apakah memang operasi itu harus menunggu “parah” dulu baru bisa dilakukan tindakan?
    ditunggu balasannya, terimakasih

    Reply
    • Baskoro
      Baskoro says:

      Yth mbak Sherli,
      Pertama terimakasih sudah mampir ke website saya.
      Mbak Sherli terus terang saya tdk bisa mejawab pertanyaan mbak. Saya bukan dokter soalnya, nanti jawaban saya keliru/salah.
      Saya hanya bisa kasih saran, sebaiknya carikan second opinion dokter lain.
      Sehingga jika kita ragu bisa mendapat pendapat dari dokter lain agar lebih yakin.
      Semoga eyang putri dapat segera sembuh matanya. Amin.

      Reply
  27. evan
    evan says:

    Buat yg mau operasi katarak jangan takut.. saya di usia 30 th terkena mata katarak traumatik yg diakibatkan waktu kecil mata saya tercemes bola volley sehingga lensa mata saya rusak dan mulai parah di usia 30 th.. setelah operasi mata saya sudah tidak silau dan pusing lagi.. percayakan sama dokter dan berdoa.. semangat ya yg terkena katarak dunia belum berakhir.

    Reply
  28. destri insan fadilah
    destri insan fadilah says:

    Assalamualaikum mas, saya penderita katarak bawaan lahir. Gimana mas baskoro setelah menjalani operasi sampai sekarang? Apakah sudah membaik. O iya ada rasa sakit tidak pasca operasi katarak mas? terima kasih mas baskoro .

    Reply
    • Baskoro
      Baskoro says:

      Waalaikumsalam Insan,
      Kondisi saya saya saat ini sudah lebih baik. Saat operasi dan sesudah operasi saya tidak merasakan sakit atau perih sama sekali. Semuanya biasa-biasa saja.
      Jika anda akan menjalani operasi Katarak tidak usah khawatir. Semua Insya Allah akan baik-baik saja.
      Sehat dan sukses selalu. BAS

      Reply
  29. henny
    henny says:

    Salam kenal mas… sy memiliki riwayat myopia yg sama dgn mas yaitu minus 12 dan 13 dan baru didiagnosa terkena katarak sekitar 10 dan 20 persen dan sdh bs dioperasi. Antara senang dan takut yah mas.. senang krn kata dokter sy tdk perlu lg pakai kacamata minus setelahnya.. was2 juga krn mata sy minus tinggi dan byk keluhan spt floaters… kering… dan lelah krn terpaksa memakai kontak lens setiap hari.. mengingat kacamata yg tebalnya spt pantat botol hehehe.. apalagi dr pengalaman mas spt nya hrs byk rintangan yg dilalui sesudahnya hehehe.. mohon info mas bgmn minus dan plus mata mas skrg? apakah sdh tetap? dan apakah msh ada gangguan2? tp pasti lbh enak after operasi yah mas dibanding waktu msh berminus tinggi? ☺ rencananya sy akan operasi di KMN. Makasih yah mas atas sharingnya.. semoga sehat senantiasa..

    Reply
    • Baskoro
      Baskoro says:

      Dear Sdri. Henny,
      Salam kenal juga. Wah tinggi juga ya minusnya, saya setuju tuh untuk di operasi.
      Jelas setelah dioperasi memang jauh lebih enak dibanding waktu masih minus tinggi.
      Minus saya saat ini 0.75 kanan kiri dan sudah tetap. Gangguan tidak terlalu berarti. Kecuali mata sebelah kiri masih suka ditetes kadang2 karena terasa ngeres karena kotor saja, normal sih.
      Apakah sudah membaca artikel saya yang lain?
      http://harribaskoro.com/?p=3157
      http://harribaskoro.com/kondisi-mata-saya-terkini-januari-2016/
      Saya doakan semoga operasi lancar dan memuaskan :)
      Selamat menjalani hidup tanpa kacamata lagi ya…. Sehat selalu!

      Reply
      • henny
        henny says:

        Thanks ya mas atas kebaikannya memberikan semangat sehingga saya lebih yakin lagi menghadapi operasi nanti. Apalagi setelah membaca perbandingan di KMN dan JEC.. jika mas punya info dari sharing dgn teman2 mengenai perbandingan lensa zeiss dan alcon? bisa tolong dishare ke email saya mas? jika tidak merepotkan..dan bagaimana hasil operasi mbak Vin skrg? apakah saya bisa WA atau email ke beliau utk menanyakan bbrp hal.. sekali lg thanks yah mas..

        Reply
        • Baskoro
          Baskoro says:

          Sama-sama Sdri. Henny,
          Mohon maaf for the late respon, sebab pertanyaan ini masuk dalam list spam di admin.
          Sayangnya saya tidak punya info perbandingan Lensa Carl Zeiss dan Alcon.
          Mengenai Email mbak Vin akan saya kirimkan ke Email Sdri. Henny.

          Reply
  30. widya
    widya says:

    Mas, untuk operasi tanam lensa apakah bisa langsung dilakukan ketika kita datang ke RS atau harus menunggu dulu beberapa bulan mengingat lensa tanam yg akan dipakai harus disesuaikan ukurannya.

    Reply
    • Baskoro
      Baskoro says:

      Dear mbak Widya,
      Terus terang saya tidak paham dengan pertanyaan anda.
      Sebab setau saya tidak ada orang yang datang ke RS untuk pertama kalinya trus langsung dioperasi :)
      Harus diperiksa mata dulu dengan alat, kemudian dianalisa oleh dokter kemudian dokter rekomendasikan langkah apa yang perlu diambil.
      Pasien juga bisa mempertimbangkan dengan matang apakah akan dioperasi atau tidak.
      Jika anda membaca cerita saya harusnya hal ini sudah cukup jelas. Saya juga tidak langsung dioperasi kok.

      Reply
  31. Awan
    Awan says:

    Terima kasih atas kelengkapan informasinya pak, benar-benar membantu.
    Saya besok akan di operasi dimana kondisi mata kanan saya didiagnosa dokter mengalami katarak.
    Terima kasih atas share pengalaman nya pak :)

    Reply
    • Baskoro
      Baskoro says:

      Sama-sama pak Awan. Terimakasih juga sudah mampir ke web saya.
      Semoga sukses dengan operasinya dan lancar semua. Sehat dan sukses selalu ya pak.

      Reply
  32. Netty
    Netty says:

    Suami saya sudah menjalani operasi pheco, April 2016 lalu, sekarang mata harus di operasi laser karena ternyata ada virus di mata yg telah di operasi, bisa apa nggak ya…
    Saya tinggal di gorontalo, hrs operasi di manado. Yg kiri so buta. Tolong sarannya

    Reply
    • Baskoro
      Baskoro says:

      Dear Ibu Netty,
      Saya turut prihatin dengan apa yang menimpa Suami ibu, saya doakan suami ibu agar segera sembuh dan pulih kembali penglihatannya.
      Saya bukan dokter mata bu, sehingga saya tidak bisa dan tidak boleh memberikan analisa dan mengatakan bisa atau tidak nya.
      Ibu harus konsultasi dengan dokter yang memang ahli atau spesialis mata.
      Saran saya jika memungkinkan sebaiknya suami ibu bisa luangkan waktu ke Jakarta. Bisa di periksa di rumah sakit Pemerintah seperti RS Cipto Mangunkusumo Khusus Mata di Jl. Kimia Salemba. Bisa juga diperiksa di RS Mata AINI Setiabudi Kuningan, atau RS mata lain seperti JEC dan KMN.
      Saran saya banyak browsing saja bu di Internet untuk cari tau bagaimana sebaiknya dan dimana yang terbaik.

      Salam saya untuk suami dan keluarga ibu, semoga Tuhan selalu lindungi semua.

      Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply to lita Relawati Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>