bannerperpus

Mengunjungi Gedung Perpustakaan Nasional RI yang Baru dan Menjadi Anggota

Setelah saya mengetahui dari berita di media bahwa Presiden RI Bapak Joko Widodo telah meresmikan gedung fasilitas layanan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) di kawasan Jalan Merdeka Selatan, Jakarta, tanggal 14 September 2017, maka saya pun tertarik untuk mengunjungi gedung perpustakaan tersebut.

Bapak Presiden Republik Indonesia dengan Kartu Anggota Perpustakaan Nasional

Bapak Presiden Republik Indonesia dengan Kartu Anggota Perpustakaan Nasional (Foto: Antara)

 

Kabarnya gedung perpusnas itu terdiri atas 24 lantai (27 lantai plus basement) disebut-sebut sebagai gedung tertinggi di dunia untuk kategori perpustakaan.

Saya kemudian mengatur rencana agar bisa berkunjung kesana. Tanggal 18 September 2017 akhirnya saya berkesempatan untuk  mampir ke gedung fasilitas layanan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Sepulang dari suatu urusan, maka saya sempatkan mampir ke Perpustakaan tersebut. Lokasinya berada di Medan Merdeka Selatan, sejajar dengan kantor Gubernur DKI Jakarta atau Balaikota. Jika anda tau lokasi gedung Balaikota maka tidak sulit bagi anda untuk mengunjungi Gedung Perpustakaan ini.

Jika anda menggunakan Trans Jakarta anda bisa turun di Halte Balaikota, kemudian menyeberang ke gedung Perpusnas ini. Sementara jika anda menggunakan Kereta Commuter Line, anda bisa turun di stasiun Gondangdia, kemudian jalan kaki kearah jalan Kebon Sirih. Saya sendiri tidak tau apakah gedung Perpusnas ini memiliki akses masuk dari Jl. Kebon Sirih. Sebab waktu itu saya naik KCL dan jalan kaki dari stasiun Gondangdia, kemudian saya masuk ke komplek DPRD/Balaikota di jalan Kebon Sirih trus keluar di depan Balaikota di Medan Merdeka Selatan untuk kemudian jalan masuk ke Perpusnas lewat gerbang depan.

 

Gedung Fasilitas Layanan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Baru)

Setibanya disana, saya langsung diarahkan untuk melalui gedung yang lama. Gedung perpustakaan yang lama adalah bangunan lama peninggalan Belanda. Di dalam gedung lama ini kita disambut dengan ruang tamu kuno khas jaman dulu, dimana tersedia deretan foto-foto koleksi PNRI.

 

Kemudian terdapat pula sejumlah ruangan-ruangan seperti ruangan diorama atau presentasi gitu, saya ngga ngerti apa namanya.
Foto-fotonya bisa dilihat seperti berikut :

 

Saya asyik menjelajah gedung lama ini. Saya masuk juga ke toiletnya untuk melihat bagaimana kondisi toiletnya. Semuanya bagus rapih dan bersih.

 

Sambil menunggu pak Darsum, teman saya yang katanya mau ketemu di Perpusnas ini, maka saya melanjutkan melihat-lihat koleksi foto-foto jaman dahulu terutama foto  presiden RI pertama Sukarno yang dipajang di salasar.

 

Setelah puas di gedung lama, maka saya lanjutkan ke gedung baru yang merupakan gedung utama.

Dari gedung lama ke gedung baru melalui pintu kaca ini

Dari gedung lama ke gedung baru melalui pintu kaca ini

 

Wuihhh gedungnya memang megah sekali. Belum masuk saja di pintu depan atau di teras gedungnya sudah keliatan kalo megah banget.

Gedung baru yang megah

Gedung baru yang megah

 

Tentu saja ga mau rugi udah sampe sini, maka sempatkan diri dulu untuk ber-narsis ria alias ber-swafoto.

 

Masuk ke dalam di lobby nya makin takjub dengan kemegahan Perpustakaan Nasional ini. Yang paling mencolok adalah dua pilar besar yang berdiri sampai langit2, merepresentasikan sebuah “rak buku raksasa”. Di rak tersebut tersimpan buku-buku sungguhan.

Pilar besar di lobby utama

Pilar besar di lobby utama

 

Dilangit-langit lobby terdapat gambar atau hiasan berwujud peta Indonesia, kerennnn banget. Saya senang dengan lobby gedung ini, terkesan megah, mewah dan modern. Pokoknya keren banget lah.

Hiasan di langit-langit bertema peta Indonesia

Hiasan di langit-langit bertema peta Indonesia

 

Narsis @Lobby

Narsis @Lobby

Kemudian di Lobby ini kita bisa temukan resepsionis atau penerima tamu. Berikut juga dengan direktori lantai di gedung perpustakaan ini.

Lantai 1  : Lobby Utama
Lantai 2  : Ruang Layanan Keanggotaan Perpustakaan dan Ruang Teater
Lantai 3  : Zona Promosi Budaya Baca
Lantai 4  : Ruang Pameran Koleksi Perpustakaan
Lantai 5  : Ruang Pustakawan
Lantai 6  : Data Center
Lantai 7  : Layanan Anak, Lansia Dan Disabilitas
Lantai 8  : Layanan Audiovisual
Lantai 9  : Layanan Naskah Nusantara
Lantai 10 : Layanan Deposit
Lantai 11 : Monograf Tertutup
Lantai 12 : Ruang Baca Pemustaka
Lantai 13 : Layanan Repositori Terbitan Karya Indonesia
Lantai 14 : Layanan Koleksi Buku Langka
Lantai 15 : Layanan Referens
Lantai 16 : Layanan Koleksi Foto, Peta Dan Lukisan
Lantai 17–18 : Kantor Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia
Lantai 19 : Layanan Multi Media
Lantai 20 : Layanan Koleksi Berkala Mutakhir dan Bidang Ilmu Perpustakaan
Lantai 21-22: Layanan Monograf Terbuka
Lantai 23 : Layanan Koleksi Bangsa-bangsa di Dunia Dan Majalah Terjilid
Lantai 24 : Layanan Koleksi Budaya Nusantara, Eksekutif Lounge dan Ruang Penerimaan Tamu Mancanegara

 

Dari laman situs www.pnri.go.id dapat saya peroleh informasi bahwa gedung fasilitas layanan perpustakaan ini dirancang dengan konsep Green Building dengan indeks konsumsi energi (IKE) 150 kwh/mm2 per tahun, dilengkapi dengan teknologi kabel jaringan data kategori 7 (CAT-7) serta perangkat jaringan aktif yang mampu mentransfer data sampai dengan 100 Gbps.

Selain itu fasilitas layanan perpustakaan yang disediakan merupakan perpaduan layanan inklusif, diversifikasi layanan, berbasis komunitas yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Layanan inklusif didesain untuk melayani penyandang disabilitas dari segi sarana prasarana, koleksi, maupun ruangan khusus bagi disabilitas tuna netra.

Kabarnya reading area anak-anak didesain secara apik, menarik dan colorful. Lukisan mural yang diambil dari cerita rakyat menghiasi pilar-pilar di area baca tersebut. Reading area anak-anak juga menyiapkan ruang khusus laktasi (menyusui) sehingga para ibu tidak perlu kuatir saat mendampingi buah hatinya bermain, membaca,

bereksplorasi maupun berkreasi di panggung kreasi yang sangat kondusif bagi pengembangan literasinya. Sedangkan, bagi para pengunjung lansia diberikan pelayanan khusus, termasuk koleksi maupun petugas yang mendampinginya.

Fasilitas layanan Perpusnas dilengkapi data center koleksi dengan Teknologi Tier 3 dan telelift (system transportasi buku secara otomatis), ruang pameran (galeri), teater, aula berkapasitas 1.000 kursi, ruang telekonferensi, dan ruang-ruang diskusi yang dapat digunakan oleh para komunitas literasi.

 

Membuat Kartu Keanggotaan

Setelah menunggu sekian lama akhirnya teman saya datang, maka kami naik ke lantai 2 yaitu Ruang Layanan Keanggotaan Perpustakaan dan Ruang Teater. Saya berminat untuk membuat kartu anggota di perpustakaan nasional ini.

Ruang Layanan Keanggotaan

Ruang Layanan Keanggotaan

 

Di lantai 2 ruangan untuk layanan keanggotaan cukup luas dan sangat modern. Di ruangan tersebut tersedia puluhan komputer untuk mengisi formulir pendaftaran langsung.

 

Selain itu toilet di gedung baru ini juga bagus dan bersih, tidak kalah dengan toilet di gedung perkantoran. Semoga saja bisa dirawat dengan baik seterusnya.

 

Setelah mengisi formulir maka kita akan mendapatkan nomor antrian. Saya sendiri mendapat nomor antrian cukup jauh, karena datang siang hari. Sehingga saya baru dipanggil sore hari menjelang Perpusnas tutup. Saat dipanggil ke meja pelayanan disana kita di Foto dan di konfirmasi atas beberapa data. Tidak lama kartu anggota pun dicetak. Proses pembuatan Kartu anggota ini tidak dipungut biaya alias gratis. Adapun masa keanggotaannya sampai 10 tahun.

Menurut info dari PNRI kartu anggota perpustakaan ini dikembangkan secara mutakhir berbasis radio frequency identification (RFID). Bahkan seluruh pengelolaan koleksi di setiap lantai menggunakan RFID. Penggunaan teknologi RFID sebagai sarana pengamanan dan inventori koleksi. Fasilitas layanan perpustakaan juga memberikan kemudahan bagi pemustaka yang ingin meminjam buku untuk dibawa pulang dengan limit waktu tertentu (open access).

Berikut penampakan kartu anggota saya.

Kartu Anggota Perpustakaan Nasional RI

Kartu Anggota Perpustakaan Nasional RI

 

Selain datang langsung ke gedung layanan perpustakaan nasional maka kita juga bisa melakukan pendaftaran keanggotaan secara online. caranya:
1. Mendaftar dahulu di http://keanggotaan.pnri.go.id/daftar.aspx dan mendapatkan nomor keanggotaan PNRI.

Keanggotaan Online

Keanggotaan Online

2. Kemudian masuk ke e-resources.pnri.go.id untuk mendaftarkan username dan password dengan menggunakan nomor keanggotaan PNRI yang telah didapat.

E-resources

E-resources

Pihak Perpustakaan akan mengirimkan email aktivasi akun anda, dan anda sudah bisa menggunakan fasilitas perpustakaan nasional RI.

Mengapa saya antusias mendaftar menjadi anggota di Perpustakaan Nasional RI? Karena Perpustakaan Nasional RI telah melanggan beberapa Database Jurnal Nasional dan Internasional terkemuka untuk berbagai bidang ilmu.
Di antaranya:
1. Alexander Street Press
2. Alexander Street Video
3. Balai Pustaka
4. Brill Online
5. Cambridge University Press
6. Cengage Learning
7. Ebrary
8. Ebsco Host
9. IGI Global
10. IG Publishing
11. Indonesia Heritage Digital Library
12. Digital Angkasa
13. Lexis Nexis
14. Myilibrary
15. Proquest
16. Sage Knowledge
17. Taylor & Francis
18. Ulrichs
19. Westlaw

(IG Group mencakup koleksi American Library Association, American Society for Training &  Development, Amsterdam University Press, Business Expert, Columbia University Press, Hawai, ISEAS, Liverpool University Press, Nias Press, Princeton University Press, RIBA Architecture, dan University Of California Press)

Seluruhnya dapat diakses di Digital Library PNRI http://e-resources.pnri.go.id

Saya sendiri merasa butuh untuk mengakses jurnal-jurnal tersebut. Sehingga saya pikir perlu untuk menjadi anggota di Perpustakaan Nasional RI.

Status Keanggotaan saya

Status Keanggotaan saya

 

Demikianlah sharing pengalaman saya berkunjung ke gedung fasilitas layanan perpustakaan nasional yang baru diresmikan Presiden RI Bapak Joko Widodo. Sangat menarik untuk menjadi alternatif untuk wisata edukasi yang layak dikunjungi di Jakarta.

Bersama pak Darsum di depan Gedung Perpusnas

Bersama pak Darsum di depan Gedung Perpusnas

Call Center PNRI National Digital Library
0800-1-737787
(Name & Membership ID)

Link
http://www.pnri.go.id/beranda/
http://e-resources.perpusnas.go.id/index.php
http://keanggotaan.perpusnas.go.id/

 

 

Sumber referensi:
Presiden Jokowi Resmikan Gedung Fasilitas Layanan Perpustakaan Nasional RI
http://www.pnri.go.id/2017/09/presiden-jokowi-resmikan-gedung-fasilitas-layanan-perpustakaan-nasional-ri/

 

 

Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Wisata ke Taman Wisata Alam Angke Kapuk di PIK Jakarta

Sudah sejak lama saya mendengar tentang Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk Jakarta Utara. Tapi saya belum pernah sempat kesana. Baru pada tanggal  21 Desember 2016 saya punya waktu untuk bisa mengunjungi tempat wisata ini.

Sahabat saya Yulia Sari sering mengajak saya untuk melakukan wisata dengan biaya hemat diseputar Jakarta. Banyak lokasi yang awalnya kita ingin kunjungi, namun karena keterbatasan waktu dan juga akses ke lokasi maka akhirnya kami putuskan untuk berwisata ke lokasi Taman Wisata Alam Mangrove di Angke Kapuk Jakarta Utara.

Kebetulan Rido (Puteranya Sari) sedang libur sekolah, kemudian Ririn teman Sari juga bisa ikutan. Jadi rencananya kita akan pergi berempat. Kita janjian untuk ketemuan di Halte Transjakarta Stasiun Kota.

Tanggal 21 Desember 2016 sesuai rencana saya sudah sampai di halte TJ Stasiun Kota sekitar pukul 08.30. Disana saya menunggu Sari dan Rido anaknya. Ririn karena suatu hal ternyata batal ikut. Sehingga akhirnya kami pergi hanya bertiga saja.

Dari halte Transjakarta Stasiun Kota kami kemudian naik Bus Feeder Transjakarta tujuan PIK (Pantai Indah Kapuk). Sebelumnya dari Depok saya naik ojek online ke Halte Transjakarta Ragunan tujuan Monas (Koridor 6-B) kemudian lanjut ke Halte TJ Stasiun Kota. Karena saya tidak keluar halte Transjakarta maka biaya saya untuk ongkos dari Ragunan sampai ke lokasi Taman Wisata Alam di Angke Kapuk cukup hanya Rp. 3.500 saja.

Sebenarnya saya bisa saja naik Kereta Commuter line (CL) dari stasiun Depok ke Jakarta Kota, tapi saya kurang suka naik Kereta. Saya merasa lebih nyaman dan  pasti kalo naik Transjakarta. Sebelum nya kami sudah pelajari bagaimana mencapai lokasi Wisata Alam di Angke Kapuk tersebut. Ternyata memang mudah sekali.

Hari itu dari Halte TJ Ragunan ke Halte TJ Monas, dan kemudian saya lanjutkan ke Halte TJ Stasiun Kota kondisi lalu lintasnya tidak terlalu macet. Bus TJ juga tidak terlalu padat. Mungkin karena efek liburan sekolah. Dari Halte TJ Stasiun Kota ke PIK juga di dalam bus tidak terlalu penuh. Walaupun saya berdiri tidak dapat duduk, tapi di dalam bus tidak berdesakan.

Setelah kita berada di dalam Bus Feeder Transjakarta tujuan PIK maka kita tinggal bilang saja untuk turun di Yayasan Budha Tzu Chi. Sesampainya di setiap lokasi halte biasanya pramudi bus tersebut akan sebutkan nama haltenya.

Saat bus sampai di depan gedung Yayasan Budha Tzu Chi pramudi bus tersebut ingatkan penumpang, dan saya pun meminta berhenti untuk turun. Sewaktu naik di halte TJ stasiun Kota penumpang naik lewat pintu tengah seperti layaknya bus TJ namun ketika turun di Yayasan Budha Tzu Chi penumpang akan turun lewat pintu depan disebelah kiri bus. Haltenya pun tidak ada, jadi penumpang sebenarnya turun di pinggir jalan.

 

Turun di Yayasan Budha Tzu Chi

Sesuai dengan pedoman yang dibaca dari browsing di internet sebelum pergi ke lokasi wisata alam ini, maka kami turun dari bus feeder TJ di depan gedung Yayasan Budha Tzu Chi. Bangunan gedung Yayasan Budha Tzu Chi itu gedeee.. banget!, jadi jangan takut ga kelihatan atau ga ketemu ama gedung itu hehehehe :)

Turun dari Feeder TJ di tanda + itu

Turun dari Feeder TJ di tanda + itu

Saat kami turun di depan gedung maka di sebelah gedung itu ada jalan lurus ke dalam (katanya sih itu Jalan Garden House), itulah jalan menuju Taman Wisata Alam. Ikuti aja jalan itu, ngga bakal nyasar. Kami sampai dilokasi sekitar jam 09.30 WIB.

Ikuti panah belok kanan ke TWA Angke

Ikuti panah belok kanan ke TWA Angke

Peta Menuju Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Peta Menuju Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Jika diperhatikan peta tersebut maka kita akan turun di tanda X dan jalan mengikuti arah panah merah.

 

Tiket

Di pintu gerbang kita akan menemui loket yang ditunggu petugas jaga. Harga tiket masuknya untuk Dewasa adalah Rp. 25.000 dengan dua karcis diberikan yaitu:
- Rp. 20.000 tiket warna biru dengan tulisan Paket Rekreasi Penjelajahan Hutan Outbound dll
- Rp.  5.000 tiket warna putih dengan tulisan Karcis Masuk Pengunjung TWA Angke Kapuk

Sedangkan harga tiket untuk anak-anak hanya Rp. 10.000 saja. Warna tiket merah muda dengan tulisan tiket masuk rekreasi penjelajahan hutan outbound dll Taman Wisata Alam Angke Kapuk.

Tiket Masuk TWA Angke Kapuk

Tiket Masuk TWA Angke Kapuk

Terus terang menurut saya biaya tiket masuk ke Taman Wisata Alam (TWA) ini menurut saya kemahalan. Sebagai pembanding adalah harga tiket Kebun Binatang (KB) Ragunan misalnya, tiket untuk Dewasa Rp. 4.000,-/orang dan untuk Anak-anak Rp. 3.000,-/orang sedangkan untuk Tarif masuk Pusat Primata Schmutzer:
- Hari Selasa s.d Jumat (usia 3 tahun ke atas) : Rp. 6.000,-/orang
- Hari Sabtu s.d Minggu /libur nasional (usia 3 tahun ke atas) : Rp. 7.500,-/orang
Jauh sekali kan bedanya, padahal yang bisa dikunjungi di KB Ragunan dan yang bisa dilihat jauh lebih banyak dibandingkan dengan TWA Angke Kapuk.

Loket dan Pintu Gerbang TWA Angke

Loket dan Pintu Gerbang TWA Angke

Selain harga tiket masuk tersebut ditulis juga biaya lain yaitu:
- Mobil Rp. 10.000,00
- Motor Rp.  5.000,00
- Tiket untuk Turis/WNA Rp. 250.000,00
- Photo Pre Wedding Rp. 1.500.000,00

 

Menjelajahi TWA Angke Kapuk

Setelah membeli tiket maka kami mulai memasuki TWA Angke Kapuk ini. Hal yang pertama akan kita jumpai adalah Masjid panggung diatas air disebelah kiri jalan. Jadi untuk pengunjung yang ingin beribadah sholat tidak perlu khawatir. Saya lihat tempat wudhunya juga ada di pinggir jalan dan airnya mengalir. Saat saya pulang setelah berkeliling saya melihat ada beberapa pengunjung yang sholat di Masjid ini.

Masjid di TWA Angke

Masjid di TWA Angke

Pintu Masuk TWA Angke

Pintu Masuk TWA Angke

Tidak lama kemudian setelah berjalan sekitar 20 meter maka kita akan tiba di pos berikutnya. Di pos ini pengunjung bisa menitipkan tas jika merasa berat untuk harus dibawa-bawa. Selain itu di area ini pengunjung bisa memarkir kendaraannya.

Di pos ini terdapat peta besar isi dari TWA Angke Kapuk. Juga terdapat tanda-tanda larangan yaitu:
- Dilarang membawa makanan dari luar
- Dilarang membawa kamera
- Dilarang membawa hewan peliharaan

Kamera dilarang dibawa akan tetapi handphone atau smartphone berkamera diperbolehkan. Jika ingin membawa kamera maka dikenakan biaya Rp. 100.000,00

Setelah melewati pos penitipan barang/tas maka kita mulai memasuki area TWA Angke Kapuk ini. Jalan nya terpecah dua antara lurus ke jembatan besar atau belok kanan ke arah kantin, gedung aula, dan juga camping house. Saya dan teman saya memilih belok kanan.

Sambil jalan saya bisa melihat papan tulisan keterangan nama pohon-pohon disisi jalan masuk TWA. Sayangnya tulisan keterangan tersebut sudah tidak terlalu terawat.

Kemudian tidak lama kami tiba di area dekat kandang monyet. Kandangnya walau berjeruji juga diberi kawat jaring sehingga tangan si Monyet tidak bisa keluar. Beda dengan kondisi dahulu, kata Sari, dahulu belum ada jaring kawatnya sehingga si Monyet bisa mengambil atau menjambret barang milik pengunjung.

Saya tidak terlalu suka berada dekat kandang Monyet tsb. Saya kasihan melihatnya. Saya lebih senang jika monyet tersebut dilepaskan saja, mungkin bisa dilepaskan di area konservasi lainnya di hutan, tapi tidak di kawasan TWA Angke yang sudah ramai dan tidak ramah bagi monyet-monyet tersebut.

Monyet lucu

Monyet lucu

Dari area kandang monyet kami bergerak ke arah kantin dan area duduk-duduk depan kantin. Kalo saya perhatikan di depan kantin adalah gedung pertemuan atau semacam aula, dan di depannya banyak bangku-bangku untuk duduk-duduk.

Kita memang tidak boleh membawa makanan dari luar, tetapi sayangnya di Kantin hanya menjual makanan ringan dan minuman. Tidak ada menu makanan yang bisa untuk makan siang.  Ada tulisan Rumah Makan di petunjuk arah, tapi saya tidak menemukannya. Kebetulan kami tidak menghabiskan waktu seharian disini, saat makan siang kami putuskan untuk  makan siang di Mall baru depan Budha Tzu Chi yaitu PIK Avenue Mall.

Setelah puas foto-foto dan istirahat duduk duduk di area rumah makan maka kami lanjutkan jalan kembali. Di persimpangan ada petunjuk arah. Maka kami menyusuri jalan sesuai petunjuk arah ke arah lokasi perkemahan. Sambil saya ke toilet dulu. Toiletnya untungnya lumayan bersih dan airnya mengalir.

Di lokasi Wisata Alam ini tersedia pula arena bermain, terutama untuk kegiatan Outbond. Nampaknya TWA Angke ini dibuat sebagai tempat outbond yang letaknya masih di dalam kota Jakarta tidak perlu harus pergi ke Puncak, Cisarua dan lain-lainnya.

Selanjutnya kami menyusuri jalanan yang terbuat dari kayu atau bambu. Jalanan ini menuju rumah perkemahan diatas air. Jika saya perhatikan beberapa bangunan sudah dimakan usia sehingga beberapa sedang direnovasi atau diperbaiki. Demikian jalanan yang terbuat dari kayu juga sudah banyak dimakan usia dan mulai digantikan dengan bambu.

Saya menikmati pemandangan dengan menyusuri bangunan perkemahan yang berjajar menarik. Selain itu didepannya juga terdapat tanaman bakau yang merupakan sumbangan penanaman dari berbagai institusi seperti perusahaan, sekolah maupun perorangan.

Saya menyusuri jalan-jalan kayu yang menghubungkan dengan rumah-rumah penginapan untuk camping. Sayangnya di beberapa titik saya mencium aroma tidak sedap alias bau sampah. memang akhirnya saya temukan beberapa area penuh dengan sampah plastik dan botol bekas minuman. Pemandangan tentu menjadi tidak sedap dan menarik lagi buat saya yang sangat gandrung akan kebersihan :(

Setau saya pengelola TWA Angke Kapuk ini adalah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta yang berada di bawah naungan Kementerian Kehutanan RI bukan di bawah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Saya tau setelah baca di http://www.bksdadki.com/index.php/page/organisasi

Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 6187/KPTS-II/2002 tanggal 10 Juni 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Tugas pokok Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta adalah melaksanakan pengelolaan kawasan Suaka Margasatwa, Cagar Alam, Taman Wisata Alam dan Taman Buru serta konservasi tumbuhan dan satwa liar didalam dan diluar kawasan.

Sehingga pantas saja terlihat bedanya untuk pengelolaan TWA ini. Kebersihannya tidak sebaik pengelolaan kebersihan oleh PemProv DKI Jakarta. Demikian pula terkait tiket masuknya yang menurut saya relatif mahal.

Saya bersama Sari dan Rido berkeliling lokasi TWA Angke ini terutama area perkemahan. Walau saat itu hari kerja akan tetapi ada juga pengunjung lain yang datang ke lokasi wisata ini. Ada beberapa keluarga dan ada pula muda mudi yang bersama pasangan atau teman-temannya menikmati kawasan hutan mangrove tersebut.

Setelah puas berkeliling selama beberapa jam maka kami memutuskan untuk mengakhiri kunjungan kami di TWA ini. Saya tidak mencoba untuk melihat menara pemantau untuk melihat burung dan lain-lain. Saya juga tidak mencoba berperahu karena selain panas saya juga sudah melihat spot-spot kotor, yang langsung bikin ill feel. Saya memang gitu orangnya, kalo liat yang kotor-kotor jadi nge-drop. Saya melihat secara umum tempat wisata ini menarik namun perlu dikembangkan lebih jauh.

Selain itu saya juga udah mulai capek dan kepanasan. TWA ini kan berlokasi dipinggir laut disebelah utara Jakarta. Sementara saya orang dari Selatan Jakarta (Jakarta Coret) yang dingin hehehhee (alesan aja padahal emang udah tua jadi cepet capek …) Apalagi waktunya sudah siang waktunya untuk makan siang, para cacing di perut sudah demo walo aksinya damai. Incaran kami adalah nyobain maksi di PIK Avenue Mall sebuah mall yang katanya baru berdiri di kawasan PIK itu beberapa bulan lalu.

Secara umum review saya untuk wisata ke TWA ini adalah:

  1. Lokasinya sangat mudah untuk dijangkau dan biaya transportasinya relatif murah. Jalan kaki dari perhentian TJ ke lokasi TWA tidak lah jauh. TJ tujuan ke PIK juga sangat mudah diakses dari Halte TJ Stasiun Jakarta Kota.
  2. Sebenarnya lokasi wisata ini bisa menjadi alternatif pilihan wisata alam di Jakarta. Tapi sayangnya ketika kita sudah dilokasi tidak banyak hal yang menarik untuk dinikmati. Hanya pemandangan hutan mangrove saja. Binatang yang ada di alam liar juga tidak ada yang bisa dilihat, arena bermain ya hanya arena outbound saja. Tempat ini sepertinya hanya cocok untuk acara Camping atau perkemahan yang sudah diatur oleh EO atau sejenisnya.
  3. Tiket masuknya tidak kompetitif. Harga tiket terlalu mahal jika dibandingkan dengan fasilitas di dalamnya. Belum lagi banyak larangan dan biaya tambahan yang dikenakan, seperti larangan membawa kamera non handphone, larangan membawa makanan dari luar tapi di dalam variasi pilihan makanan tidak banyak. Akan lebih baik jika harga tiket diturunkan dan fasilitas didalamnya ditambah, terutama akan lebih menarik jika ada pusat kuliner.
  4. Kondisi lingkungan kotor dan kurang terawat. Menurut saya faktor kebersihan harus menjadi perhatian. Bagaimana bisa menarik pengunjung jika lokasi obyek wisata itu tidak menarik dan kotor. Dimasa mendatang TWA ini akan bersaing dengan Mall PIK Avenue yang lokasinya tidak jauh dari TWA ini. Memang antara TWA dam Mall tidak apple to apple akan tetapi Mall bisa jadi pilihan hang-out atau berlibur warga PIK karena gratis tidak ada tiket masuk, lebih nyaman karena dingin pake AC serta pilihan makanannya juga banyak. Artinya dengan uang harga tiket Rp. 25.000 TWA akan menjadi tidak kompetitif.

Semoga pihak BKSDA DKI Jakarta sebagai pengelola TWA Angke Kapuk bisa mengevaluasi kondisi ini untuk menjadi perbaikan dimasa mendatang.

Sampai jumpa di wisata dan jalan-jalan saya yang lainnya…. :)

 

 

 

banner

Jalan-jalan ke Chinatown Part 2

Setelah pada tanggal 26 November 2016 saya mengikuti trip jalan-jalan ke Chinatown di Jakarta yang diadakan oleh ITDP — didukung oleh Transjakarta, Kopi Oey, Trafi, dan Melu (Cerita lengkapnya bisa dibaca disini), maka pada tanggal 3 Desember 2016 saya kembali mengunjungi kawasan Chinatown tersebut bersama teman-teman.

Jadi ceritanya, gara-gara saya posting foto di Instagram dan Facebook tentang perjalanan ke Chinatown dengan ITDP itu ternyata membuat beberapa orang teman saya “pengen” dan tertarik untuk mengunjungi kawasan Chinatown juga. Terutama teman saya dulu di saat masih kerja di Bukopin si Sari (Yulia Sari) dan juga teman-teman saya di JASMEV seperti Tata dan Sinta.

Sist Tata usul agar saya membuat Trip yang serupa dan dengan Trip yang diselenggarakan oleh ITDP itu. Selain tertarik dengan wisata kulinernya, lokasi yang dituju tidak jauh alias masih di Jakarta. Selain itu biaya nya juga relatif murah, tidak butuh biaya yang mahal. Saya pun menyetujui ide tersebut dan bersedia untuk menjadi “pemandu” nya berbekal pengalaman ikut Trip sebelumnya.

Akhirnya saya hubungi Sari untuk ajak dia, Sari kemudian mengajak Rido (puteranya) dan Ririn (temannya). Sementara Sist Tata kemudian mengajak teman JASMEV yang lain seperti Sinta, Tika, Natalia dan Selvi. Akhirnya kami ber-sembilan akan menuju kawasan Petak Sembilan. Coba tanggalnya pas tanggal 9 juga… :D

Peserta Trip tanggal 3 Desember 2016 (satu hari setelah aksi damai 212) akhirnya terdiri dari:
- Saya Harri Baskoro Adiyanto.
- Sist Tata : Hartawati Rosmery
- Sist Sinta: Yasinta Wirdaningrum
- Sist Sari: Yulia Sari
- Rido Ghordiyan
- Sist Ririn
- Sist Natalia: Yuliana Natalia
- Sist Tika: Tika Murtika
- Sist Selviana

Ada 9 orang peserta sebagian besar adalah wanita alias emak-emak hahahahaha dan yg cowok cuma saya dan Rido. Seru juga nih saya “kembali” pergi bersama wanita :) Pergi jalan-jalan bersama dengan wanita bukanlah pengalaman pertama buat saya. Pasti selalu menarik dan “rame” ;)

Sebelum hari-H, kita sepakat untuk menggunakan rute yang sama dengan Trip ke Chinatown yang saya ikuti sebelumnya. Namun perbedaannya di Titik Kumpul awalnya, kami sepakat kumpul di stasiun Jakarta Kota.

Peta Trip Chinatown2

Peta Trip Chinatown2

Jadi rute yang akan dituju adalah:
Start – Stasiun Kota
1. Halte TJ Glodok
2. Gang Gloria
Petak 9
3. Vihara Toa Se Bio
4. Gereja St. Maria De Fatima
5. Vihara Dharma Bhakti
6. Candra Naya
End – Maksi di Kopi Oey.

 

Stasiun Kota (ngumpul)

Kami berencana untuk berkumpul di stasiun Jakarta Kota jam 08.00 Pagi. Darimana pun datangnya kita sepakat untuk kumpul di stasiun Jakarta Kota, hal ini dimaksudkan agar kita kompak pergi bareng ke kawasan Gang Gloria-nya. Jadi kita kumpul dulu di stasiun Jakarta Kota. Selain itu dilokasi ini juga menarik, karena penyeberangan dari stasiun ke Halte TJ nya berada di bawah tanah (underground) dan ada taman ditengahnya yang dihiasi payung-payung. Kami sepakat untuk foto-foto dulu disitu.

Pagi itu kami mulai kumpul sekitar pukul 08.00 namun sayangnya Kereta Api saya dari Depok mengalami keterlambatan, karena masuk ke stasiun Jakarta Kota nya mesti gantian. Demikian pula Sist Natalia yang juga naik Kereta dari Depok juga berada di belakang kereta saya.

Saya sampai di lokasi duluan, kemudian tidak lama Sari dan Rido datang. Disusul oleh Sist Tika dan Sist Selvi dan kemudian Sist Ririn juga muncul. Sist Natalia juga kemudian datang setelah keretanya bisa masuk Stasiun Jakarta Kota.

Sambil menunggu Sist Tata dan Sist Sinta, maka kami pun mulai sibuk foto-fotoan di lokasi taman payung. Tidak lama sist Tata dan Sinta bergabung dan juga ikut foto-foto dulu. Baru sekitar jam 08.30 kami bergeser ke halte TJ Kota. Sebenarnya ke Glodok bisa juga ditempuh naik Mikrolet dari stasiun Jakarta Kota tapi saya males naik Mikrolet soalnya pake nyari yang muat ber-9 dan nggak ngetem. Jadi kami pun naik Transjakarta saja.

 

Gang Gloria

Tujuan kami dari stasiun Kota adalah Halte TJ Glodok. Halte TJ Glodok dari Stasiun Kota sih ga jauh. Deket banget malah, hanya satu halte saja. Abis naik TJ, bus jalan, perhentian berikutnya maka kita langsung turun hehehehe

Sekitar pukul 08.55 WIB kami tiba di halte Glodok, disitu kami turun dan lagi-lagi kami sempatkan swafoto di lokasi tangga penyeberangan TJ tersebut. Pokoknya seru banget deh… belum sampe di lokasi gang Gloria kami udah banyak koleksi fotonya :)

Dari halte TJ Glodok kami berjalan menuju gang Gloria. Lokasinya tidak terlalu jauh. Tidak sampai sepuluh menit kami sudah tiba di gang Gloria yang kuliner nya termasyur itu :) Teman-teman langsung saya perlihatkan dengan deretan kuliner yang ada di Gang Gloria. Tidak semua teman saya tidak pernah ke Gang Gloria, beberapa diantaranya sudah sangat paham dan tau tentang kuliner di gang Gloria ni.

Saya ajak teman-teman kemudian duduk dan memesan makanan di food court paling ujung di gang Gloria. Lokasi yang sama dengan Trip yang saya ikuti sebelumnya. Saya suka ditempat ini sebab dekat dengan cakwe incaran saya hahahaha

Sekitar jam 09.00 WIB kami sudah duduk di Food Court Gang Gloria dan sibuk memesan makanan.

Sarapan di Gang Gloria yang terkenal itu

Sarapan di Gang Gloria yang terkenal itu

Teman-teman di lokasi ini kemudian mulai memesan makanan untuk sarapan. Ada yang memesan Gado-Gado Direksi, yang katanya terkenal dan enak. Saya sih tidak terlalu suka dengan gado-gado. Ada yang memesan Mie Ayam Cah Jamur. Ada juga yang memesan Kari Sapi. Pokoknya semua bebas memilih makanan yang dipesannya lha wong yang bayar juga mereka sendiri kok :)

Saya sendiri bukan tipe orang yang muat sarapan pagi banyak-banyak. Jadi saya sarapan cakwe aja. Saya senang sekali cakwe di Gang Gloria ini. Harganya Rp 3000 per batang. Saya beli 10 batang dan kita makan ramai-ramai. Tapi yang paling doyan dan banyak makan cakwe-nya sih saya hehehee

Selesai sarapan sekitar jam 09.50 maka kita pun lanjut berjalan ke daerah kawasan petak 9. kita menyusuri pasar dikawasan tersebut untuk menuju Vihara Toa se Bio.

 

Vihara Dharma Bhakti

Diperjalanan saya berubah pikiran untuk tidak mengikuti jalan potong lewat gang seperti halnya Trip sebelumnya. Saya khawatir tidak hapal dengan jalan gangnya yang kecil dan berkelok-kelok. Akhirnya saya ikuti saja jalan besar di pasar petak 9. Akibatnya lokasi yang kita kunjungi pertama adalah Vihara Dharma Bhakti.

Kita jadi muter, bukan ke vihara Toa Se Bio dulu akan tetapi malah ke vihara Dharma Bhakti. Tapi tidak apa-apa, karena lokasi ini semua berdekatan. Cuma akibatnya rutenya jadi bolak-balik karena nanti akan ke Candra Naya.

Di Vihara Dharma Bhakti kita asyik foto-foto dan melihat-lihat aktivitas ibadah disana. Saya sempat melihat seorang bapak melepaskan burung-burung.

Melepas Burung di Vihara Dharma Bhakti

Melepas Burung di Vihara Dharma Bhakti

Setelah saya posting di FB teman saya Lie Na Lioe menjelaskan maksud dari ritual melepas burung ini:

“Salah satu ritual utk buang hal-hal buruk. Biasanya dilakukan oleh yg shionya tjiong atau bertentangan di tahun tertentu. Mungkin yg di gambar ini shionya tjiong atau bertentangan dgn tahun ayam ( kebetulan next year adalah th ayam). Dari mana kita mengetahui shio kita bertentangan atau tjiong? Bisa minta daftarnya di klenteng tempat kita biasa sembahyang. Biasanya selain burung juga ada yg melepas ikan. Ada pula nanti ritual upacaranya yg dipimpin seorang pemuka agama…”.

Dari wisata ini saya jadi memperoleh banyak informasi dan pengetahuan baru, sehingga tidak hanya menikmati makanan yang enak-enak saja alias wisata kuliner saja.

 

Gereja St Maria de Fatima

Destinasi berikutnya adalah Gereja St Maria de Fatima yang lokasinya tidak jauh dari vihara Dharma Bhakti alias masih di Jl. Kemenangan juga. Sesampainya di lokasi saya disambut dengan ramah dengan bapak yang jaga diparkiran. Kami ditanya ingin beribadah atau ingin melihat-lihat/berkunjung. Saya sampaikan bahwa kami ingin melihat-lihat. Oleh si Bapak saya diantarkan ke dalam. Sebelumnya saya tanya, apakah kami tidak apa-apa jika masuk ke dalam? Si Bapak bilang, tidak apa-apa. Maka kamipun masuk ke dalam.

Suasana di dalam Gereja St. Maria De Fatima

Suasana di dalam Gereja St. Maria De Fatima

Di dalam ternyata sedang ada jemaat atau pengurus gereja yang sedang beres-beres. Ibu-ibu itu sepertinya sedang merapihkan atau bebenah settingan dekor di area depan atau mimbar gereja. Saya tidak tau persis nya sebab saya tidak mampir ke depan, yang bicara adalah teman-teman saya para wanita. Saya pikir sesama ibu-ibu akan lebih nyambung hehehehee dan nampaknya benar sih, mereka bisa cepat nge-blend, alias ngobrol dan ketawa-ketawa. Para ibu-ibu pengurus Gereja itu ramah dan welcome sekali dengan kami para pengunjung.

Selesai foto-foto dan liat-liat gereja St Maria de Fatima ini maka kami pamit pulang dan berterimakasih sudah boleh berkunjung dan diperkenankan liat-liat. Sebelum kami meninggalkan Gereja kami masih sempatkan diri untuk foto-foto dulu di area halaman Gereja.

 

Vihara Toasebio

Lanjut kunjungan kami diteruskan ke Vihara Toa Se Bio yang juga masih di Jl. Kemenangan. Harusnya Vihara ini yang pertama akan kami datangi. Namun karena saya ambil jalan memutar maka Vihara ini justru didatangi belakangan.

Seperti halnya dilokasi lain maka di Vihara ini kami juga langsung melihat-lihat dan tentu saja mengambil foto.

Di vihara ini saya bertemu dengan adik-adik mahasiswi dari Kampus UMN yang sedang mengerjakan tugas. Tugas mereka adalah melakukan wawancara kepada para pengunjung destinasi wisata di kawasan Chinatown dan menanyakan hal-hal terkait dengan kondisi Indonesia akhir-akhir ini. Mereka awalnya meminta teman saya untuk diwawancara, tapi teman saya tidak bersedia. Akhirnya saya yang bersedia untuk diwawancara mereka. Itung-itung saya sampaikan pandangan saya tentang kondisi Indonesia saat ini, masalah keberagaman dan kunjungan wisata kami hari ini. Semoga wawancara dengan saya itu dapat membantu mereka dalam memenuhi tugas perkuliahan mereka.

 

Candra Naya

Setelah puas di Vihara Toa Se Bio maka perjalanan kami siang itu kami lanjutkan ke Candra Naya. Kami harus kembali ke arah Vihara Dharma Bhakti untuk menuju ke Candra Naya. Kasihan juga Rido mulai capek dan demikian pula teman-teman. Perjalanan kita lumayan melelahkan juga hari ini.

Jalan Menuju Candra Naya

Jalan Menuju Candra Naya

Setelah berjalan lumayan capek maka kami sampai juga di Candra Naya. Bangunan bersejarah yang minggu sebelumnya saya sudah kunjungi juga dan saya masih sesali sampai sekarang karena harus menerima “dikangkangi” dua bangunan menara di kanan kirinya :( Candra Naya adalah bangunan cagar budaya yang menurut saya tidak selayaknya dipaksa “tenggelam’ diantara angkuhnya dua bangunan modern.

Sayangnya hari itu kami tidak bisa masuk ke dalam Candra Naya. Kata satpamnya hari itu Candra Naya tidak dibuka. Padahal minggu lalu saya datang dengan rombongan dari ITDP bangunan itu buka. Kata satpam yang berjaga disana karena minggu lalu yang datang adalah rombongan jadi Candra Naya di buka. Entah bener atau ngga saya juga ga yakin pasti, yang jelas ini menambah kejengkelan saya pada pengelola Candra Naya.

Untungnya kami masih bisa foto-foto di terasnya. Begitu juga di kolam bagian belakang. Teman-teman bisa puas untuk berfoto di area ini. Saya agak kecewa juga bawa teman-teman ke Candra Naya tapi ternyata tidak bisa masuk. Baru tau juga ternyata Candra Naya tidak dibuka secara bebas.

Pose di Depan Candra Naya

Pose di Depan Candra Naya

 

Maksi di Kopi Oey

Selesai dan puas foto-foto perut mulai lapar lagi, ternyata sudah waktunya jam makan siang. Seperti trip sebelumnya maka saya ajak teman-teman makan di Kopi Oey juga. Sebenarnya di lokasi Candra Naya ada restoran lain, tapi karena saya sudah familiar dengan Kopi Oey dari kunjungan sebelumnya maka saya ajak teman-teman untuk kesitu aja. Lain waktu jika berkunjung kesana lagi saya akan coba resto yang lain.

Kopi Oey di Candra Naya

Kopi Oey di Candra Naya

Kami lumayan lama juga di Kopi Oey selain untuk makan siang, kami juga beristirahat karena kaki pegel sudah jalan lumayan jauh dan juga ngecharge hape.

Foto yg Indah Karya mbak Yasinta Wirdaningrum

Foto yg Indah Karya mbak Yasinta Wirdaningrum

Sekitar pukul 13.00 kami membubarkan diri. Saya dan sist Natalia memisahkan diri dengan teman-teman yang masih asyik foto-foto di kolam Koi dibelakang. Saya dan Natalia jalan ke halte TJ Olimo dan naik TJ ke Stasiun Kota untuk naik Kereta ke Depok. Sayangnya perjalanan kita berdua pulang ke Depok agak terhambat di Stasiun Tebet karena ada gangguan pada saluran listrik di Stasiun Pasar Minggu Baru yang terkena batang pohon yang tumbang. Saya sampai rumah akibatnya sudah sore.

Hari itu saya hanya keluar uang untuk ongkos berwisata ke Chinatown di Jakarta cukup murah. Naik Kereta tiketnya Rp. 4000 dari Depok ke Stasiun Kota. Demikian pula pulangnya. Sedangkan tiket Transjakarta dari Stasiun Kota ke Glodok Rp. 3500,- demikian pula dari halte TJ Olimo ke Stasiun Kota. Ongkos yang sedikit lebih mahal adalah ongkos ojek online dari rumah ke stasiun Pondok Cina (saya naik kereta selalu dari stasiun pondok cina).

Secara umum wisata kuliner kami hari ini relatif murah dan terjangkau sekali. Tidak perlu biaya mahal untuk wisata kuliner ini dan lokasinya pun tidak terlalu jauh masih di Jakarta juga. Seru banget wisata ini, next kami akan jelajahi tempat lain.

 

Sampai Jumpa di wisata kami berikutnya …

 

 

sore di tepi pantai

Imlek di Lampung (Februari 2015)

Februari 2015 saya sangat beruntung sekali dapat merayakan Chinese New Year atau Imlek bersama keluarga besar sahabat saya di Lampung. Selain merayakan Imlek bersama keluarga besar sahabat saya tersebut, saya juga berkesempatan ke Pantai Sari Ringgung dan Pulau Pasir Timbul.

Keluarga Besar my best friend Felix

Keluarga Besar my best friend Felix

 

Ini foto-foto di pantai Sari Ringgung dan Pulau Pasir Timbul:

 

 

 

Pose di Bundaran HI

Ramenya Pesta Demokrasi 2014

Tahun 2014 rasanya adalah tahun yang paling ramai dengan hiruk pikuk politik di Indonesia. Gimana ga ramai, selama tahun 2014 ini ada 2 kali Pemilu yaitu:

- 9 April 2014 Pemungutan dan Penghitungan Suara Legislatif (Pemilu Legislatif)
- 09 Juli 2014 Pemungutan dan Perhitungan Suara Pemilihan Presiden (Pemilu Presiden)

Untuk pemilu legislatif ini saya dan keluarga tidak antusias, dan demikian pula sepertinya dengan keluarga-keluarga lainnya. Kami terus terang ga semangat dan ga minat menggunakan hak pilih kami di pemilihan legislatif ini. Mungkin karena kami merasa wakil rakyat yang mencalonkan diri dari partai tidak ada yang kami kenal dan percaya figurnya. Sehingga membuat animo masyarakat terutama di keluarga kami juga rendah.

PILPRES 9 JULI 2014

Berbeda dengan Pemilihan Presiden pada tanggal 9 Juli 2014. Untuk pemilihan presiden ini kami sekeluarga sangat antusias. Mungkin karena yang mencalonkan diri sebagai kandidat calon presiden salah satunya adalah Joko Widodo (Jokowi). Figur sederhana yang polos apa adanya dan tidak dibuat-buat. Seperti banyak orang lainnya saya juga sangat mengagumi beliau.

Itu sebabnya ketika hari pencoblosan kami semangat untuk ikut menggunakan hak pilih kami. Saya dan Ibu saya serta adik saya antusias sekali untuk datang ke TPS 26 di kampung saya tinggal. Sayangnya animo di lokasi TPS kami sangat rendah bahkan bisa dibilang sepi. Sesampainya di TPS 26 kami langsung dilayani dan langsung bisa mencoblos, karena memang sepi sekali. Selesai mencoblos kami pulang ke rumah dan baru jam 13.00 saya kembali ke TPS untuk melihat hasil perhitungan.

Saya, Ibu dan Dany Salam 2 Jari

Saya, Ibu dan Dany Salam 2 Jari

Perhitungan suara

Perhitungan suara

Pukul 13.00 TPS sudah ditutup oleh Kepala PPS dan perhitungan pun dimulai. Sayangnya di TPS 20 Desa Mampang Kecamatan Pancoranmas Depok ini pasangan capres Jokowi-JK yang saya jagokan kalah dari pasangan Prabowo-Hatta, dengan perolehan suara 98-107. Total Suara masuk 208, yang sah 205 yang tidak sah 3. Jujur aja TPS saya ini emang ga ada greget nya banget. Hasil TPS ini merepresentasikan kondisi di Depok secara umum yang memang merupakan lumbung suara PKS.

Rekapitulasi di TPS

Rekapitulasi di TPS

Selesai perhitungan di TPS saya pun pulang dengan sedikit kecewa atas hasil ini. Namun demikian saya masih memiliki harapan karena berdasarkan hasil quick count di TV (yg tentunya bukan TV affiliasi dengan Prabowo-Hatta) semua menunjukkan bahwa Jokowi-JK unggul walaupun tipis. Saya pun cukup senang. Setelah melalui proses perhitungan yang dikawal dengan ketat oleh relawan, maka KPU pada tanggal 22 Juli 2014 mengumumkan bahwa hasil perhitungan Pilpres ini dimenangkan oleh pasangan capres Jokowi-JK. Sebuah hasil yang sangat membahagiakan bagi kami pendukung Jokowi.

Sayangnya hasil ini tidak diterima oleh kubu koaliasi Prabowo-Hatta, sehingga pada tanggal 6 Agustus 2014 mereka mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Yang pada intinya mereka meminta pembatalan hasil pemilu KPU tersebut. MK pada tanggal 21 Agustus 2014 mengeluarkan keputusannya yang pada intinya menolak semua gugatan yang diajukan kubu Prabowo-Hatta. Maka sejak tanggal 21 Agustus 2014 resmilah Joko Widodo dan Yusuf Kalla menjadi pasangan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2014-2019.

Sebuah drama politik yang panjang sejak masa kampanye pilpres hingga kini rasanya seperti tidak berkesudahan :( ditingkahi dengan berbagai perilaku para elit/tokoh politik dan pertikaian di massa pendukung yang sangat membosankan. Namun hal itu berakhir, setidaknya untuk menetapkan Presiden NKRI terpilih, yaitu ketika MK memutuskan di tanggal 21 Agustus 2014.

 

BABAK BARU DEMOKRASI DI INDONESIA

Setelah resmi diputuskan MK bahwa Jokowi-JK adalah pasangan Presiden dan Wakil Presiden RI yang terpilih maka momen penting berikutnya adalah pelantikan pasangan ini secara resmi pada tanggal 20 Oktober 2014. Kami pendukung Jokowi-JK tentunya sangat sudah tidak sabar dengan momen pelantikan ini. Apalagi ternyata pelantikan ini tidak sama dengan pelantikan Presiden sebelumnya. Karena Jokowi menjanjikan pesta rakyat, dimana rencananya setelah mengucapkan Sumpah di Gedung DPR/MPR maka Jokowi-JK akan diarak dengan menggunakan kereta kuda dari Bundaran HI menuju istana.

Apalagi pesta rakyat ini ternyata tidak hanya kirab mengiring Jokowi dari Bundaran HI ke Istana, akan tetapi dibuat pesta rakyat, karena sepanjang jalan Sudirman hingga Monas akan disediakan jajanan atau kuliner gratis bagi warga. Kemudian di Monas akan ada panggung pesta rakyat.

Saya dan teman-teman kantor sejak beberapa hari sebelum tanggal 20 Oktober 2014 sangat antusias menyambut kegiatan ini. Kita memantau terus bagaimana rencana ini dilaksanakan pada hari H nanti. Selain masalah kuliner atau makanan yang akan disediakan kita juga mengetahui bahwa disarankan memakai pakaian putih. Sehingga sebelum hari Senin tanggal 20 Oktober tersebut kami sudah siap-siap janjian untuk bawa dan pake baju putih.

Hari Senin, tanggal 20 Oktober 2014, pun tiba. Saya dan teman-teman sudah ga sabar dari pagi pengen ke Bundaran HI. Tapi berhubung ga enak ama kantor dan beberapa teman masih ada yang perlu di kerjakan, maka kita baru mulai jalan sekitar jam 10 -11 an. Itupun setelah kami mendengar bahwa kuliner di sepanjang jalan Sudirman hingga Monas sudah ludes diserbu oleh masyarakat :(

Akhirnya saya dan teman-teman kantor pun jalan ke Bundaran HI. Kru ke Pesta Rakyat ini adalah Saya, bu Esther, Mas Aji, Mimi, Mia, Tarwan, Sayuti, Kemas, Mas Aldi dan Pak Toto (Driver). Karena dari Info yang diperoleh jalanan Sudirman-Thamrin sudah ditutup, maka kami ambil jalan dari kantor kami di Pejompongan kita lewat Penjernihan, Hotel Shangrilla, Dukuh Atas, Halimun, Menteng, hingga ke hotel Pullman. Kita parkir mobil kami di hotel Pullman itu, dan dilanjutkan jalan ke Bundaran HI.

Di Bundaran HI sudah penuh dengan orang-orang yang akan menyambut pak Jokowi-JK untuk diarak ke Istana. Selain itu terdapat panggung hiburan kecil untuk masyarakat. Salah satunya panggung milik SCTV yang saat kami datang menampilkan grup musik SLANK. Saya dan teman-teman sempat nonton sebentar. Kemudian kami lanjutkan lagi perjalanan dari Bundaran HI ke arah Sarinah, sebab di area HI ini sudah sangat penuh. Sementara Jokowi-JK yang ditunggu-tunggu belum kunjung datang.

slank

Panggung SCTV dengan penampilan dari SLANK

Kami berjalan ke arah Sarinah melalui jalanan Thamrin yang sudah steril. Namun tidak lama kemudian kami berjalan di pinggir, karena jalanan utama mulai dilalui oleh iring iringan Drumband dan pembuka jalan berupa beragam kesenian daerah. Ada beragam kesenian yang lewat seperti Reog, Kesenian Papua dll saya ga hapal satu per satu. Pokoknya rame sekali saat itu, apalagi saat itu sudah lewat jam makan siang, sehingga banyak karyawan/ti sepanjang jalan itu yang memadati trotoar di jalanan Thamrin, baik untuk selfie atau menonton dan menantikan pak Jokowi-JK lewat.

Bicara mengenai makan siang, kami baru sadar kalo kami belum makan siang. Rencananya kita ingin makan di Sarinah ternyata ketika sampai diseberang Sarinah jembatan penyeberangan dan halte Sarinah sudah penuh dengan lautan manusia. Penuh sekali!! Kita sulit untuk menyebrang ke Sarinah, dan kalo pun bisa kami ragu apakah masih bisa makan disana karena kami liat dari seberang sudah penuh sekali. Sehingga sebagai gantinya saya ajak teman-teman makan di kantin kantor gedung Jaya, kebetulan di kantin itu sudah lumayan kosong dan masih ada makanan yang di jual. Teman-teman memanfaatkan waktu ini untuk makan, istirahat, dan sholat Dhuhur.

Sekitar pukul 14.00 kami mendengar kabar pak Jokowi-JK sudah di Bundaran HI dan akan segera melewati jalanan MH Thamrin. Kami pun bergegas keluar dari lokasi Gedung Jaya dan kembali ke pinggir jalan MH Thamrin. Benar saja pak Jokowi-JK melewati lokasi kami berdiri. Wah happy banget rasanya bisa sekedar dadah dadah ama pak Jokowi-JK hehehehe gapapa ah sekali sekali norak dikit.

Salah seorang teman saya malah mendapat angle foto yang bagus ketika pak Jokowi-JK lewat, salah satu foto dibawah ini ketika pak Jokowi menunjuk kearahnya adalah hasil karyanya. Asli keren banget!

Foto Kolase dari teman2 BR

Foto Kolase dari teman2 BR

Setelah pak Jokowi-JK lewat maka kami pun berjalan ke Sarinah Thamrin, rencananya kami ingin menunggu pak Toto (driver kantor) disana. Kita mau nunggu sambil nongkrong di McDonald Sarinah. Ternyata sampe sana McD nya penuh bangett! Busyeett deh. Akhirnya kita ke food court Sarinah di bawah, disitu ternyata sama aja penuh banget, dan isinya orang berbaju putih seperti kami semua hahahaha. Tapi kita masih bisa nyempil di sebuah sudut dengan beberapa kursi sambil menikmati minuman Chatime segerrrrr :)

Dari sini kami merencanakan untuk pulang saja ke kantor, karena sudah jam 3 an. Sebelumnya sempat saya tawarkan ke kawan-kawan apakah kita akan lanjut ke Monas tapi sepertinya teman-teman sudah cukup lelah. Jadi kita putuskan kita tarik pasukan ke markas saja hehehe :)

 

MASIH BELUM PUAS

Kami memutuskan untuk kembali ke kantor, demikian juga dengan saya dimana setelah sampai kantor dan sudah jam pulang kemudian pulang ke kosan. Di kosan saya cuma ganti baju sebentar, selanjutnya saya pergi lagi. Saya terus terang belum puas banget karena belum liat panggung di Monas yang kabarnya banyak artis tampil disana. Setelah saya ganti baju saya ke monas dengan menggunakan Taxi. Kali ini jalanan di Jakarta sudah dibuka normal.

Saya turun di depan Kementrian Informasi dan menyebrang ke  Istana, saya sengaja tidak langsung ke Monas. Saat itu sekitar pukul 17.00 jelang jam 18.00. Saya langsung abadikan gambar di depan Istana. Kondisi disana juga sudah ramai dengan masyarakat.

Pose depan Istana Rakyat

Pose depan Istana Rakyat

Tidak lama saya berdiri di gerbang Istana, dari dalam halaman Istana muncul pria dengan kemeja putih dikawal pengawal nya melangkah ke pintu gerbang, ternyata itu pak Jokowi. Pak Jokowi dengan santai melangkah ke pintu gerbang istana dan menyalami lewat pagar masyarakat yang sudah menanti dan mengelu elukannya di pagar. Presiden Jokoowi ini benar-benar menunjukan sikap tidak berjarak dan sangat dekat dengan kita. Saya sendiri tidak bisa bersalaman dengan beliau karena massa sangat padat, tapi saya puas bisa melihat beliau kembali dari dekat.

Setelah bersalaman dengan masyarakat yang menyalaminya di pagar, maka dengan mobil kepresidenan pak Jokowi pergi ke Monas untuk hadir di panggung pesta rakyat. Saat beliau akan ke monas dan pagar di Istana dibuka inilah saat yang menarik. Karena pak jokowi melalui masyarakat yang dipagari oleh personil polisi namun jarak kami dengan beliau tidak jauh. Pak jokowi juga tidak ragu membuka jendela mobil nya dan melambaikan tangan, padahal jarak rakyat yang dipagari polisi tidak kurang hanya 1 sd 2 meter saja. Dekat sekali.

Bahkan saya bisa menerobos pagar polisi, dan sambil berjalan mengikuti iring iringan mobil Presiden hingga masuk kawasan monas. Pokoknya pengawalan paspamres menurut saya sangat longgar sekali. Di kawasan monas pak jokowi masuk ke bagian belakang panggung. Sementara masyarakat mengabadikan diri dengan paspampres dan mobil dinas kepresidenan. Pokoknya santai sekali.

Saya sendiri akhirnya berjalan ke sisi depan panggung di kawasan monas itu, tapi massa sudah sangat banyak disana. Saya berdiri jauh sekali dari panggung dan hanya kebagian melihat panggung melalui layar besar yang ada diseputar monas. Malam itu saya lihat massa begitu banyak. Suasana di Monas sangat ramai bagaikan pasar malam, benar benar suasana pesta rakyat. Saya sendiri setelah mendengar pidato pak jokowi memutuskan untuk pulang. Tapi sebelumnya saya menunggu mas Riwut suami Sist Any  yang datang dari Singapore, dan akan menginap di kosan saya. Maka saya janjian tunggu mas Riwut di patung depan bunderan Indosat.

Setelah cukup lama menunggu mas Riwut akhirnya ia sampai juga dan ketemu saya. Cuma dari lokasi di depan Monas itu susah buat kita nyari Taxi. Jadinya kami terpaksa jalan kaki sampai ke Sarinah. Di Jalan Kebon sirih baru kami dapat Taxi, itu pun bukan Taxi yang biasa saya gunakan yaitu Burung Biru atau si Putih Cepat, tapi Taxi lain yang saya lupa namanya. Pokoknya yang penting kami sampai ke Kosan di pejompongan.

Pokoknya pesta rakyat hari itu sangat seru dan rangkaian pesta demokrasi sepanjang 2014 ini menurut saya sangat menarik dan seru… pengalaman menarik bagi bangsa Indonesia.

 

 

Training besok di dalam Gedung "Supreme Court" itu. Tapi ga bisa foto2 di dalam. Jadi fotonya dari luar aja :)

Training Singapore September 2014

Pada bulan September 2014 saya mengikuti training tentang Mediasi di Singapore. Penyelenggaranya Singapore Mediation Center (SMC). Lokasi training di gedung Supreme Court dekat area City Hall, oleh sebab itu saya juga nginep di hotel deket area itu. Di gedung Supreme Court itu ketat kita ga bisa motret-motret di dalam gedung (saya pernah datang tahun sebelumnya, jadi tau).

 

Sabtu ke Botanical Garden dan NUS

 

Minggu jalan-jalan ke sekitar hotel

Saya puaskan jalan-jalan disekitar hotel dan foto-foto disekitar gedung lokasi training 1 hari sebelumnya, sambil pelajari rute dari hotel tempat saya nginap ke lokasi training, supaya senin esoknya saya ga terlambat :) (ternyata hotel ama lokasi training jalan kaki cuma lima menit bahkan dari kamar hotel saya keliatan gedungnya hahahaha).

 

View dari jendela kamar hotel ternyata tempat trainingnya besok keliatan dari kamar hotel :)

View dari jendela kamar hotel ternyata tempat trainingnya besok keliatan dari kamar hotel :)

 

Cerita saya ke Garden by The Bay silahkan dibaca DISINI.

Cerita saya ke Toko TAMIYA di Singapore silahkan dibaca DISINI.

 

 

Foto Bersama

Raker Pembahasan RAB BRPAM Tahun 2015

Pada tanggal 3 September 2014 Badan Regulator PAM DKI Jakarta kembali melaksanakan Rapat Kerja guna membahas Rencana Anggaran Belanja Badan Regulator PAM DKI Jakarta Tahun 2015.

Hal ini sesuai dengan Peraturan Gubernur No. 118 tahun 2011 tentang Badan Regulator Pelayanan Air Minum DKI Jakarta, yang mengatur bahwa: “Selambat-lambatnya setiap tanggal 15 bulan September atau 3,5 (tiga setengah) bulan sebelum tahun anggaran berakhir, Badan Regulator menyampaikan rancangan RAB tahun mendatang kepada PAM JAYA dengan tembusan kepada Mitra Swasta “. (vide Pasal 20)

Pembahasan tahun ini sedikit berbeda karena masa keanggotaan BR PAM DKI Jakarta adalah hingga tanggal 6 Juni 2015, namun demikian BR PAM DKI Jakarta tetap menyusun program kerja untuk 1 (satu) tahun kepengurusan dengan program kerja yang fleksibel dan diharapkan mampu mengikuti perkembangan dan kondisi BR PAM di tahun 2015 dengan Anggota nya yang baru.

Kegiatan ini kembali dilaksanakan di hotel Santika KS Tubun Jakarta. Dimana hotel ini nyaman dan mudah dijangkau karena dekat dengan lokasi kantor BR PAM di Pejompongan.

Berikut adalah foto-foto dokumentasi kegiatan raker tersebut:

 

Tidak lupa untuk foto bersama diakhir acara …

Foto Bersama

Foto Bersama

 

 

 

Foto bersama setelah rapat

Raker Pembahasan RAB BRPAM Tahun 2014

Pada tanggal 4 September 2013 Badan Regulator PAM DKI Jakarta kembali melaksanakan Rapat Kerja guna membahas Rencana Anggaran Belanja Badan Regulator PAM DKI Jakarta Tahun 2014.

Hal ini sesuai dengan Peraturan Gubernur No. 118 tahun 2011 tentang Badan Regulator Pelayanan Air Minum DKI Jakarta, yang mengatur bahwa: “Selambat-lambatnya setiap tanggal 15 bulan September atau 3,5 (tiga setengah) bulan sebelum tahun anggaran berakhir, Badan Regulator menyampaikan rancangan RAB tahun mendatang kepada PAM JAYA dengan tembusan kepada Mitra Swasta (vide Pasal 20)”.

Kali ini kegiatan ini dilaksanakan di hotel Santika KS Tubun Jakarta. Saya pribadi sudah untuk kesekian kali nya hadir rapat atau menginap di hotel Santika KS Tubun (sejak dahulu bekerja di Bank atau hadir dalam seminar). Hotel ini menurut saya nyaman dan mudah dijangkau.

Berikut adalah foto-foto dokumentasi kegiatan raker tersebut:

 

Foto Bersama :

Foto bersama setelah rapat

Foto bersama setelah rapat

 

 

Tiket Konser Metallica

Konser Metallica di Jakarta (25 Agustus 2013)

Tanggal 25 Agustus 2013 konser Metallica di gelar di Gelora Bung Karno Senayan Jakarta. Saya sebagai orang yang besar di generasi 90-an tentu sangat familiar dengan grup band metal ini. Apalagi keluarga kami termasuk penggemar berat musik mereka, kami dulu koleksi kaset dari Metallica ini. Saya, adik saya dan bahkan Ibu saya adalah penggemar musik mereka. Kalo cuma album Master of Puppets, atau lagu One, Album “Black” Enter the Sandman aja sih keluarga saya hapal deh :D

Saya putuskan nonton konser Metallica di GBK ini sebab ketika Metallica ke Jakarta di tahun 1993-an saya masih SMA dan ga punya duit buat beli tiket. Kali ini saya sudah bekerja jadi saya bisa beli tiket sendiri. Saya beli via online dengan kartu kredit dari BRI. Saya beli 3 tiket, untuk saya, adik saya dan teman kantor saya Mas Aji, yg juga penggemar Metallica. Tiket itu juga baru bisa ditukerin di GBK satu hari sebelum konser.

Hari H kita kompak pergi barengan dari Depok. Naik motor aja trus di parkir di kantor temen saya di gedung Summit Mas. Dari gedung itu kami jalan ke GBK. Berikut adalah foto-foto dari konser tersebut. Mohon maaf hasilnya tidak bagus karena saya motret pake hadphone yang kualitas kameranya juga ga bagus. Selain itu fotonya juga dikit sebab kita ga jalan ama cewe yang hobbynya moto.

 

Akses masuk ke lingkungan GBK

 

Foto dari Konser

 

Pose dulu ah…

 

Secara keseluruhan konser Metallica ini bagus sekali. Dari segi tata panggung, Tata Suara (dahsyattt!!)  waktu ngetes drum/perkusi sampe jantung kita ikutan getar :D, Tata Lampunya apalagi. Pokoknya konser Metallica ini ga rugi deh buat di tonton. Penampilan mereka juga total banget, sangat energik ga ada lemesnya, selalu bertenaga.

Saya puasss banget nonton konser Metallica….!!

Foto ini saya dapat dari Internet

Foto ini saya dapat dari Internet

 

 

Foto Bersama

Temasek Foundation Water Leadership Programme di Singapore 6 – 17 Mei 2013

Pada tanggal 6 – 17 Mei 2013 saya terpilih menjadi peserta untuk mengikuti Temasek Foundation Water Leadership Programme di Singapura.

Program ini merupakan kerjasama antara Lee Kuan Yew School of Public PolicyNational University of Singapore, Temasek Foundation dan Public Utility Board (PUB).

Program yang merupakan angkatan keempat (4th Run) ini diselenggarakan selama 2 minggu. Peserta pada angkatan keempat ini terdiri dari 43 orang dari 10 negara, yaitu: Indonesia, India, Nepal, Philipina, China, Mongolia, Timor Leste, Kamboja, Pakistan, dan Korea Selatan.

Indonesia merupakan merupakan peserta terbanyak, dimana terdiri dari 2 (dua) grup yang masing-masing beranggotakan 5 (lima) orang yang berasal dari Kementerian PU (BPPSPAM), PAM Jaya, Badan Regulator DKI Jakarta, PDAM Palembang, Bappeda Kab. Bandung, Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan Kab. Bandung, Dinas Perumahan, Tata Ruang dan Kesehatan Kab. Bandung dan PDAM Kab. Bandung.

Tim Indonesia 1 dan 2 berfoto bersama

Tim Indonesia 1 dan 2 berfoto bersama

Saya sendiri tergabung di Tim Indonesia 1 (sebenarnya tidak ada yang memberi nama tim 1 atau 2, tapi saya sendiri yang menyebutkan demikian biar gampang aja hehehe).

ini dia list tim Indonesia 1

ini dia list tim Indonesia 1

 

Selama mengikuti program ini kami mendapatkan materi di kelas maupun mengunjungi lokasi terkait pelayanan air minum di Singapore.

 

Selain materi di Kelas kami juga mengunjungi lokasi seperti Marina Barrage.

 

Kami juga mengunjungi Singsprings Desalination Plant, yaitu instalasi pengolahan air minum di Singapore yang menggunakan teknologi desalinasi air laut.

 

Selain itu kami juga mengunjungi New Water visitor center, yaitu salah satu perusahaan pemasok air minum bagi PUB yang mengelola air minum dengan teknologi reuse.

 

Sebuah pengalaman menarik bisa mengikuti short course ini di Singapore.

 

Untuk cerita lain terkait dengan kunjungan saya ke Singapore dalam rangka short course ini silahkan kunjungi link ini.