bannerperpus

Mengunjungi Gedung Perpustakaan Nasional RI yang Baru dan Menjadi Anggota

Setelah saya mengetahui dari berita di media bahwa Presiden RI Bapak Joko Widodo telah meresmikan gedung fasilitas layanan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) di kawasan Jalan Merdeka Selatan, Jakarta, tanggal 14 September 2017, maka saya pun tertarik untuk mengunjungi gedung perpustakaan tersebut.

Bapak Presiden Republik Indonesia dengan Kartu Anggota Perpustakaan Nasional

Bapak Presiden Republik Indonesia dengan Kartu Anggota Perpustakaan Nasional (Foto: Antara)

 

Kabarnya gedung perpusnas itu terdiri atas 24 lantai (27 lantai plus basement) disebut-sebut sebagai gedung tertinggi di dunia untuk kategori perpustakaan.

Saya kemudian mengatur rencana agar bisa berkunjung kesana. Tanggal 18 September 2017 akhirnya saya berkesempatan untuk  mampir ke gedung fasilitas layanan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Sepulang dari suatu urusan, maka saya sempatkan mampir ke Perpustakaan tersebut. Lokasinya berada di Medan Merdeka Selatan, sejajar dengan kantor Gubernur DKI Jakarta atau Balaikota. Jika anda tau lokasi gedung Balaikota maka tidak sulit bagi anda untuk mengunjungi Gedung Perpustakaan ini.

Jika anda menggunakan Trans Jakarta anda bisa turun di Halte Balaikota, kemudian menyeberang ke gedung Perpusnas ini. Sementara jika anda menggunakan Kereta Commuter Line, anda bisa turun di stasiun Gondangdia, kemudian jalan kaki kearah jalan Kebon Sirih. Saya sendiri tidak tau apakah gedung Perpusnas ini memiliki akses masuk dari Jl. Kebon Sirih. Sebab waktu itu saya naik KCL dan jalan kaki dari stasiun Gondangdia, kemudian saya masuk ke komplek DPRD/Balaikota di jalan Kebon Sirih trus keluar di depan Balaikota di Medan Merdeka Selatan untuk kemudian jalan masuk ke Perpusnas lewat gerbang depan.

 

Gedung Fasilitas Layanan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Baru)

Setibanya disana, saya langsung diarahkan untuk melalui gedung yang lama. Gedung perpustakaan yang lama adalah bangunan lama peninggalan Belanda. Di dalam gedung lama ini kita disambut dengan ruang tamu kuno khas jaman dulu, dimana tersedia deretan foto-foto koleksi PNRI.

 

Kemudian terdapat pula sejumlah ruangan-ruangan seperti ruangan diorama atau presentasi gitu, saya ngga ngerti apa namanya.
Foto-fotonya bisa dilihat seperti berikut :

 

Saya asyik menjelajah gedung lama ini. Saya masuk juga ke toiletnya untuk melihat bagaimana kondisi toiletnya. Semuanya bagus rapih dan bersih.

 

Sambil menunggu pak Darsum, teman saya yang katanya mau ketemu di Perpusnas ini, maka saya melanjutkan melihat-lihat koleksi foto-foto jaman dahulu terutama foto  presiden RI pertama Sukarno yang dipajang di salasar.

 

Setelah puas di gedung lama, maka saya lanjutkan ke gedung baru yang merupakan gedung utama.

Dari gedung lama ke gedung baru melalui pintu kaca ini

Dari gedung lama ke gedung baru melalui pintu kaca ini

 

Wuihhh gedungnya memang megah sekali. Belum masuk saja di pintu depan atau di teras gedungnya sudah keliatan kalo megah banget.

Gedung baru yang megah

Gedung baru yang megah

 

Tentu saja ga mau rugi udah sampe sini, maka sempatkan diri dulu untuk ber-narsis ria alias ber-swafoto.

 

Masuk ke dalam di lobby nya makin takjub dengan kemegahan Perpustakaan Nasional ini. Yang paling mencolok adalah dua pilar besar yang berdiri sampai langit2, merepresentasikan sebuah “rak buku raksasa”. Di rak tersebut tersimpan buku-buku sungguhan.

Pilar besar di lobby utama

Pilar besar di lobby utama

 

Dilangit-langit lobby terdapat gambar atau hiasan berwujud peta Indonesia, kerennnn banget. Saya senang dengan lobby gedung ini, terkesan megah, mewah dan modern. Pokoknya keren banget lah.

Hiasan di langit-langit bertema peta Indonesia

Hiasan di langit-langit bertema peta Indonesia

 

Narsis @Lobby

Narsis @Lobby

Kemudian di Lobby ini kita bisa temukan resepsionis atau penerima tamu. Berikut juga dengan direktori lantai di gedung perpustakaan ini.

Lantai 1  : Lobby Utama
Lantai 2  : Ruang Layanan Keanggotaan Perpustakaan dan Ruang Teater
Lantai 3  : Zona Promosi Budaya Baca
Lantai 4  : Ruang Pameran Koleksi Perpustakaan
Lantai 5  : Ruang Pustakawan
Lantai 6  : Data Center
Lantai 7  : Layanan Anak, Lansia Dan Disabilitas
Lantai 8  : Layanan Audiovisual
Lantai 9  : Layanan Naskah Nusantara
Lantai 10 : Layanan Deposit
Lantai 11 : Monograf Tertutup
Lantai 12 : Ruang Baca Pemustaka
Lantai 13 : Layanan Repositori Terbitan Karya Indonesia
Lantai 14 : Layanan Koleksi Buku Langka
Lantai 15 : Layanan Referens
Lantai 16 : Layanan Koleksi Foto, Peta Dan Lukisan
Lantai 17–18 : Kantor Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia
Lantai 19 : Layanan Multi Media
Lantai 20 : Layanan Koleksi Berkala Mutakhir dan Bidang Ilmu Perpustakaan
Lantai 21-22: Layanan Monograf Terbuka
Lantai 23 : Layanan Koleksi Bangsa-bangsa di Dunia Dan Majalah Terjilid
Lantai 24 : Layanan Koleksi Budaya Nusantara, Eksekutif Lounge dan Ruang Penerimaan Tamu Mancanegara

 

Dari laman situs www.pnri.go.id dapat saya peroleh informasi bahwa gedung fasilitas layanan perpustakaan ini dirancang dengan konsep Green Building dengan indeks konsumsi energi (IKE) 150 kwh/mm2 per tahun, dilengkapi dengan teknologi kabel jaringan data kategori 7 (CAT-7) serta perangkat jaringan aktif yang mampu mentransfer data sampai dengan 100 Gbps.

Selain itu fasilitas layanan perpustakaan yang disediakan merupakan perpaduan layanan inklusif, diversifikasi layanan, berbasis komunitas yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Layanan inklusif didesain untuk melayani penyandang disabilitas dari segi sarana prasarana, koleksi, maupun ruangan khusus bagi disabilitas tuna netra.

Kabarnya reading area anak-anak didesain secara apik, menarik dan colorful. Lukisan mural yang diambil dari cerita rakyat menghiasi pilar-pilar di area baca tersebut. Reading area anak-anak juga menyiapkan ruang khusus laktasi (menyusui) sehingga para ibu tidak perlu kuatir saat mendampingi buah hatinya bermain, membaca,

bereksplorasi maupun berkreasi di panggung kreasi yang sangat kondusif bagi pengembangan literasinya. Sedangkan, bagi para pengunjung lansia diberikan pelayanan khusus, termasuk koleksi maupun petugas yang mendampinginya.

Fasilitas layanan Perpusnas dilengkapi data center koleksi dengan Teknologi Tier 3 dan telelift (system transportasi buku secara otomatis), ruang pameran (galeri), teater, aula berkapasitas 1.000 kursi, ruang telekonferensi, dan ruang-ruang diskusi yang dapat digunakan oleh para komunitas literasi.

 

Membuat Kartu Keanggotaan

Setelah menunggu sekian lama akhirnya teman saya datang, maka kami naik ke lantai 2 yaitu Ruang Layanan Keanggotaan Perpustakaan dan Ruang Teater. Saya berminat untuk membuat kartu anggota di perpustakaan nasional ini.

Ruang Layanan Keanggotaan

Ruang Layanan Keanggotaan

 

Di lantai 2 ruangan untuk layanan keanggotaan cukup luas dan sangat modern. Di ruangan tersebut tersedia puluhan komputer untuk mengisi formulir pendaftaran langsung.

 

Selain itu toilet di gedung baru ini juga bagus dan bersih, tidak kalah dengan toilet di gedung perkantoran. Semoga saja bisa dirawat dengan baik seterusnya.

 

Setelah mengisi formulir maka kita akan mendapatkan nomor antrian. Saya sendiri mendapat nomor antrian cukup jauh, karena datang siang hari. Sehingga saya baru dipanggil sore hari menjelang Perpusnas tutup. Saat dipanggil ke meja pelayanan disana kita di Foto dan di konfirmasi atas beberapa data. Tidak lama kartu anggota pun dicetak. Proses pembuatan Kartu anggota ini tidak dipungut biaya alias gratis. Adapun masa keanggotaannya sampai 10 tahun.

Menurut info dari PNRI kartu anggota perpustakaan ini dikembangkan secara mutakhir berbasis radio frequency identification (RFID). Bahkan seluruh pengelolaan koleksi di setiap lantai menggunakan RFID. Penggunaan teknologi RFID sebagai sarana pengamanan dan inventori koleksi. Fasilitas layanan perpustakaan juga memberikan kemudahan bagi pemustaka yang ingin meminjam buku untuk dibawa pulang dengan limit waktu tertentu (open access).

Berikut penampakan kartu anggota saya.

Kartu Anggota Perpustakaan Nasional RI

Kartu Anggota Perpustakaan Nasional RI

 

Selain datang langsung ke gedung layanan perpustakaan nasional maka kita juga bisa melakukan pendaftaran keanggotaan secara online. caranya:
1. Mendaftar dahulu di http://keanggotaan.pnri.go.id/daftar.aspx dan mendapatkan nomor keanggotaan PNRI.

Keanggotaan Online

Keanggotaan Online

2. Kemudian masuk ke e-resources.pnri.go.id untuk mendaftarkan username dan password dengan menggunakan nomor keanggotaan PNRI yang telah didapat.

E-resources

E-resources

Pihak Perpustakaan akan mengirimkan email aktivasi akun anda, dan anda sudah bisa menggunakan fasilitas perpustakaan nasional RI.

Mengapa saya antusias mendaftar menjadi anggota di Perpustakaan Nasional RI? Karena Perpustakaan Nasional RI telah melanggan beberapa Database Jurnal Nasional dan Internasional terkemuka untuk berbagai bidang ilmu.
Di antaranya:
1. Alexander Street Press
2. Alexander Street Video
3. Balai Pustaka
4. Brill Online
5. Cambridge University Press
6. Cengage Learning
7. Ebrary
8. Ebsco Host
9. IGI Global
10. IG Publishing
11. Indonesia Heritage Digital Library
12. Digital Angkasa
13. Lexis Nexis
14. Myilibrary
15. Proquest
16. Sage Knowledge
17. Taylor & Francis
18. Ulrichs
19. Westlaw

(IG Group mencakup koleksi American Library Association, American Society for Training &  Development, Amsterdam University Press, Business Expert, Columbia University Press, Hawai, ISEAS, Liverpool University Press, Nias Press, Princeton University Press, RIBA Architecture, dan University Of California Press)

Seluruhnya dapat diakses di Digital Library PNRI http://e-resources.pnri.go.id

Saya sendiri merasa butuh untuk mengakses jurnal-jurnal tersebut. Sehingga saya pikir perlu untuk menjadi anggota di Perpustakaan Nasional RI.

Status Keanggotaan saya

Status Keanggotaan saya

 

Demikianlah sharing pengalaman saya berkunjung ke gedung fasilitas layanan perpustakaan nasional yang baru diresmikan Presiden RI Bapak Joko Widodo. Sangat menarik untuk menjadi alternatif untuk wisata edukasi yang layak dikunjungi di Jakarta.

Bersama pak Darsum di depan Gedung Perpusnas

Bersama pak Darsum di depan Gedung Perpusnas

Call Center PNRI National Digital Library
0800-1-737787
(Name & Membership ID)

Link
http://www.pnri.go.id/beranda/
http://e-resources.perpusnas.go.id/index.php
http://keanggotaan.perpusnas.go.id/

 

 

Sumber referensi:
Presiden Jokowi Resmikan Gedung Fasilitas Layanan Perpustakaan Nasional RI
http://www.pnri.go.id/2017/09/presiden-jokowi-resmikan-gedung-fasilitas-layanan-perpustakaan-nasional-ri/

 

 

Banner

Catatan dari Peradilan Basuki Tjahaja Purnama

Saya menulis makalah untuk tugas akhir mata kuliah Politik Hukum di Program Magister Hukum Universitas Indonesia. Judul lengkap makalah itu adalah:

KEMANDIRIAN KEKUASAAN KEHAKIMAN DI INDONESIA, KAJIAN DARI PERSIDANGAN KASUS BASUKI TJAHAJA PURNAMA (AHOK)”.

Ahok

Ahok

Saya umumkan perihal penulisan makalah ini di Facebook. Kemudian teman-teman banyak yang menghubungi saya, katanya ingin membaca makalah saya itu. Setelah nilainya keluar dan saya lulus mata kuliah tersebut, akhirnya saya putuskan untuk menayangkan sebagian isi makalah tersebut.

Tentunya untuk keperluan di halaman Blog ini agar lebih menarik saya berikan imbuhan photo-photo agar membacanya tidak membuat bosan dan lebih menarik. Biasanya jika membaca artikel dengan bergambar akan membuat lebih menarik daripada membaca tampilan “karya ilmiah” yang miskin photo atau gambar :)

Makalah ini secara keseluruhan terdiri dari 80 halaman, sehingga akan cukup panjang jika ditampilkan semua. Apalagi Bab I dan II merupakan bab pendahuluan dan pengantar teori tentang Kekuasaan Kehakiman. Materi tersebut “kurang” menarik bagi pembaca Non-Hukum. Oleh sebab itu dalam artikel ini saya putuskan hanya menampilkan bagian Bab III saja.

 

Bab III itu terdiri dari:

A.     Latar Belakang Kasus
B.     Kasus Tuduhan Penistaan Agama

  1. Kunjungan Kerja di Pulau Pramuka (Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu)
  2. Video Rekaman yang Diedit dan Diunggah
  3. Gelombang Protes Massa

C.     Putusan Pengadilan
D.     Mempertanyakan Kemandirian Hakim

 

Tulisan ini saya buat untuk kepentingan akademis, bukan untuk debat kusir di dunia maya. Apalagi untuk saling caci, menghujat dan bersikap rasis. Jika tidak berkenan dengan tulisan ini silahkan gunakan jalur akademis dengan menulis makalah serupa. Sehingga perdebatan berada ditataran akademis bukan debat kusir di dunia maya.

Saya ucapkan selamat membaca … Terimakasih.

———————————————————————————————————————————————————–

A. LATAR BELAKANG KASUS

Sosok Basuki Tjahaja Purnama cukup fenomenal kiprahnya dalam kancah politik Indonesia sejak pertengahan tahun 2012. Ketika itu ia maju mendampingi Joko Widodo, yang saat ini menjadi Presiden Republik Indonesia, untuk menjadi calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur dalam pemilihan kepala daerah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Basuki Tjahaja Purnama Lahir dengan nama Zhong Wan Xie di Manggar (Belitung Timur) pada 29 Juni 1966, anak pertama dari pasangan Zhong Kim Nam dan Nen Bun Caw. Politik hukum era orde baru yang rasis dan anti pluralisme mengakibatkan orang tua Zhong Wan Xie merubah namanya menjadi Basuki Tjahaja Purnama. Saat itu Rezim orde baru menerbitkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 240 tahun 1967 yang pada pasal 5 menegaskan bahwa pada intinya warga Indonesia yang menggunakan nama Tionghoa agar merubah namanya menjadi nama Indonesia.[1]

Basuki T.P dan Joko Widodo

Basuki T.P dan Joko Widodo

Basuki Tjahaja Purnama, yang lebih dikenal dan dipanggil dengan nama panggilan Ahok, kemudian melambung namanya di tahun 2012 ketika mendampingi politisi Partai PDI-Perjuangan yang juga Walikota dari kota Surakarta, yaitu Joko Widodo untuk menjadi calon Gubernur di DKI Jakarta. Pemungutan suara Pemilihan Umum (Pemilu) Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta 2012 dilaksanakan pada tanggal 11 Juli 2012. Hasilnya tidak ada calon yang memperoleh suara 50%+1, sehingga harus dilakukan pemilu Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta 2012 untuk putaran kedua pada tanggal 20 September 2012. Hasilnya diumumkan secara resmi pada 29 September 2012 oleh KPUD DKI Jakarta dengan hasil pasangan Joko Widodo dan Basuki TP keluar sebagai pemenang dan memperoleh 2.472.130 (53,82%) suara.[2]

Pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Joko Widodo dan Basuki T.P

Pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Joko Widodo dan Basuki T.P

Pada 15 Oktober 2012 akhirnya pasangan Joko Widodo dan Basuki TP dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.[3] Setelah terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta, popularitas Jokowi melejit berkat rekam jejaknya yang baik dan pendekatannya yang membumi dan pragmatis, seperti yang ditunjukkan melalui program “blusukan” untuk memeriksa keadaan di lapangan secara langsung. Sementara Basuki TP sebagai Wakil Gubernur lebih fokus pada masalah pembenahan di dalam pemerintahan Provinsi DKI Jakarta. Keduanya sangat cocok, saling melengkapi dan cukup padu dalam mengelola DKI Jakarta.

Basuki T.P dan Joko Widodo

Basuki T.P dan Joko Widodo

Basuki T.P dan Joko Widodo

Basuki T.P dan Joko Widodo

Perkembangan dinamika politik nasional kemudian membawa Joko Widodo yang belum menyelesaikan masa tugasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta akhirnya dicalonkan menjadi kandidat Presiden yang diusung oleh koalisi Partai PDI-Perjuangan dan partai lainnya.[4]

Basuki T.P dan Joko Widodo

Basuki T.P dan Joko Widodo

Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Tahun 2014 (disingkat Pilpres 2014) dilaksanakan pada tanggal 9 Juli 2014 untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden Indonesia untuk masa bakti 2014-2019. Hasilnya sesuai dengan keputusan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) pada 22 Juli 2014 pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla dinyatakan sebagai pemenang dengan memperoleh suara sebesar 53,15%, mengalahkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang memperoleh suara sebesar 46,85%.[5]

Basuki T.P dillantik sebagai Gubernur DKI Jakarta

Basuki T.P dillantik sebagai Gubernur DKI Jakarta

Sebagai konsekuensi dari terpilihnya Joko Widodo sebagai Presiden RI maka pada tanggal 19 November 2014  Basuki TP selaku Wakil Gubernur DKI Jakarta akhirnya diangkat dan dilantik menjadi Gubernur untuk menggantikan Joko Widodo.[6] Demikian pula DPRD DKI Jakarta yang secara resmi menetapkan Basuki TP sebagai Gubernur DKI Jakarta dalam sidang paripurna istimewa DPRD DKI Jakarta. Proses pelantikan dan penetapan ini tidaklah berlangsung dengan mulus. Pengangkatan Basuki TP sebagai Gubernur Jakarta, selain mendapat penentangan dari Koalisi Merah Putih di DPRD DKI Jakarta, juga ditolak oleh sejumlah kelompok yang berbasis Islam, terutama Front Pembela Islam (FPI). Beberapa kali FPI menggelar aksi protes menolak Ahok, dengan dukungan dari Partai Gerindra.[7]

 

Presiden Joko Widodo usai melantik Basuki T.P

Presiden Joko Widodo usai melantik Basuki T.P

 

Presiden Joko Widodo usai melantik Basuki T.P

Presiden Joko Widodo usai melantik Basuki T.P

 

Untuk mendampingi Gubernur DKI Jakarta Basuki TP maka kemudian ditunjuk Djarot Saiful Hidayat sebagai Wakil Gubernur, seorang politisi PDI-Perjuangan yang pernah menjadi Walikota Blitar, Anggota DPRD Jawa Timur dan Anggota DPR RI. Sosok Djarot telah dikenal sejak lama oleh Basuki.[8]

Pasangan Basuki-Djarot

Pasangan Basuki-Djarot

 

B. KASUS TUDUHAN PENISTAAN AGAMA

1. Kunjungan Kerja di Pulau Pramuka (Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu)

Setelah diangkat menjadi Gubernur DKI Jakarta pada tanggal 19 November 2014, Basuki TP kemudian melaksanakan dan program kerja membangun DKI Jakarta sebagaimana yang dicanangkan oleh pendahulunya yang kemudian menjadi Presiden yaitu Joko Widodo.

Bertemu masyarakat penduduk Jakarta

Bertemu masyarakat penduduk Jakarta

Basuki T.P dapat dikatakan cukup sukses dalam membangun DKI Jakarta. Ia berhasil membangun sejumlah Fasilitas Umum (Fasum) dan Fasilitas Sosial (Fasos) di DKI Jakarta tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) melainkan dengan menggunakan dana dari pihak swasta melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) atau dana kontribusi tambahan sebagai implikasi kegiatan pembangunan pihak swasta yang menaikan Koefisien Lantai Bangunan (KLB).

Basuki T.P dan Joko Widodo

Basuki T.P dan Joko Widodo

Dengan hasil dari dana CSR dan kontribusi tambahan itu, Pemprov DKI Jakarta dapat membangun rumah susun (rusun), normalisasi sungai dan waduk, pembangun RPTRA (Ruang Publik Terbuka Ramah Anak), pembangunan simpang susun Semanggi dan lain-lainnya. Selain itu program Pemprov DKI juga berhasil dalam hal implementasi program Kartu Jakarta Sehat dan Kartu Jakarta Pintar.

Giat Bekerja untuk Jakarta

Giat Bekerja untuk Jakarta

Hasil pembangunan ini membuat mayoritas warga DKI Jakarta puas akan kinerja Pemprov DKI Jakarta terutama dengan sosok figur Basuki T.P. Hasil survei menunjukan bahwa:

  1. 67% warga DKI Jakarta puas akan kinerja Basuki T.P. Survei ini dilakukan oleh Lembaga survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS), survei dilakukan pada 5-10 Januari 2016.[9]
  2. 68.72% warga DKI Jakarta puas akan kinerja Basuki T.P. Survei ini dilakukan oleh Lembaga survei Poltracking Indonesia, survei dilakukan pada 6-9 September 2016.[10]
  3. 75% warga DKI Jakarta puas akan kinerja Basuki TP. Survei ini dilakukan oleh Saiful Mujani Research Center (SMRC), survei dilakukan Agustus 2016.[11]
Prestasi Basuki T.P

Prestasi Basuki T.P

Dengan modal kepuasan tersebut maka Basuki TP kemudian diusung oleh koalisi partai-partai untuk maju dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 sebagai petahana (incumbent). Pada tanggal 21 September 2016 Basuki TP kemudian mendaftar di Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) DKI Jakarta, sebagai bakal calon Gubernur DKI Jakarta periode 2017 – 2022 dan kembali berpasangan dengan Djarot Syaiful Hidayat (sebagai bakal calon Wakil Gubernur DKI Jakarta).

Hingga September 2016 elektabilitas Basuki TP sebagai cagub belum tertandingi bahkan dapat dikatakan masih terbilang tinggi.[12] Sampai akhirnya pada tanggal 27 September 2016 Basuki TP selaku Gubernur DKI Jakarta periode tahun 2014-2017 mengadakan kunjungan kerja di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pulau Pramuka, Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Pulau Seribu Selatan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta.

Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pulau Pramuka tersebut adalah program kerjasama Pemprov DKI Jakarta dengan Sekolah Tinggi Perikanan (STP). Pada kegiatan kunjungan kerja tersebut, Basuki TP selaku Gubernur DKI Jakarta berpidato menyampaikan sambutannya di hadapan para nelayan, masyarakat serta aparat setempat kira-kira berjumlah 100 orang lebih. Materi pidato yang disampaikan Basuki TP antara lain tentang program budidaya ikan Kerapu.

Dalam pidato inilah terdapat materi muatan pidato yang kemudian menjadi masalah dan menimbulkan pergolakan politik tidak hanya di DKI Jakarta akan tetapi juga di Indonesia. Materi muatan pidato yang kemudian menjadi masalah tersebut dapat dikutipkan sebagian terutama pada bagian berikut:[13]

…jadi saya ingin cerita ini supaya bapak ibu semangat, jadi ga usah pikiran ah nanti kalau ga ke pilih, pasti Ahok programnya bubar, engga saya sampai Oktober 2017, jadi jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu ga bisa pilih saya, ya kan dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macem-macem itu, itu hak bapak ibu, yah, jadi kalo bapak ibu perasaan gak bisa pilih nih karena saya takut masuk neraka dibodohin gitu ya, nggak papa, karna inikan panggilan pribadi bapak ibu, program ini jalan saja, jadi bapak ibu nggak usah merasa gak enak, dalam nuraninya ga bisa milih Ahok, gak suka sama Ahok nih, tapi programnya gua kalo terima ngga enak dong jadi utang budi jangan bapak ibu punya perasaan ngga enak nanti mati pelan-pelan loh kena stroke ”.

 

Sesuai dengan kebijakan Pemprov DKI Jakarta sejak era Joko Widodo-Basuki TP menjabat menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur, maka kegiatan-kegiatan kerja Gubernur dan Wakil Gubernur dilingkungan Pemprov DKI Jakarta diliput dan direkam oleh Dinas Komunikasi dan Informasi Masyarakat (Diskominfomas) Provinsi DKI Jakarta. Selanjutnya Diskominfomas Provinsi DKI Jakarta akan mempublikasikan rekaman kegiatan tersebut ke akun Youtube Pemprov DKI Jakarta.

Hal yang sama berlaku bagi kegiatan kunjungan kerja pada tanggal 27 September 2016 tersebut, selain direkam oleh Diskominfomas Provinsi DKI Jakarta, maka rekaman video kegiatan ini juga diunggah (upload) ke akun Youtube Pemprov DKI Jakarta dengan durasi 1 jam 48 menit, sehingga dapat diakses oleh masyarakat secara luas.

 

2. Video Rekaman yang di Edit dan di Unggah

Sejak acara kunjungan kerja tersebut yaitu tanggal 27 September 2016 dan juga sejak tanggal 28 September 2016 setelah Pemprov DKI mengunggah rekaman video kunjungan kerja Basuki T.P ke Pulau Pramuka, tidak ada masalah yang muncul. Hingga 9 hari kemudian yaitu pada tanggal 6 Oktober 2016 pukul 00:28 WIB seseorang bernama Buni Yani mengunggah video rekaman pidato itu di akun Facebook-nya, berjudul ‘Penistaan terhadap Agama?’ dengan transkripsi pidato dan video Ahok (yang telah dipotong ’30 detik dan menghapus kata ‘pakai’. Dalam status Facebook-nya Buni Yani menulis:[14]

“ ‘Penistaan Terhadap Agama?’
bapak ibu (pemilih muslim)… dibohongi Surat Al Maidah 51”… [dan] “masuk neraka (juga bapak ibu) dibodohi”.
Kelihatannya akan terjadi sesuatu yang kurang baik dari video ini.”

Dari catatan penyuntingan pada akun Facebook-nya, Buni Yani telah melakukan 7 kali penyuntingan (editing) untuk menekankan pemelintiran dan kalimat yang provokatif (lihat foto).

 

Selanjutnya pada 6 Oktober 2016 Pukul 14:17 WIB Harian Republika menurunkan laporan dengan judul: “Video Ahok: Anda Dibohongi Al Quran Surat Al-Maidah 51 Viral di Medsos”[15]. Kemudian berita ini menjadi viral di media sosial (medsos). Selanjutnya pada pukul 19:55 WIB Jawa Pos menurunkan laporan dengan judul: “Sebut Warga Dibohongi Alquran, Ahok Besok Dipolisikan”.[16]

 

3. Gelombang Protes Massa

Persoalan ini terus bergulir dengan cepat. Hingga keesokan harinya tanggal 7 Oktober 2016 terdapat 5 (lima) laporan pengaduan (LP) terhadap kasus Basuki T.P ke pihak kepolisian. Hingga tanggal 7 November 2016 ada 14 laporan. Laporan-laporan pengaduan tersebut dilakukan dengan mengacu kepada video rekaman dan transkrip yang diunggah Buni Yani, yang menghilangkan kata “pakai” dalam transkrip pidato Basuki TP. Opini publik kemudian berkembang liar melalui medsos. Bahkan telah terbentuk opini di media massa khususnya media online dan televisi bahwa “Ahok telah menistakan Al-Quran”.[17]

Akibat timbul keresahan di masyarakat yang begitu luas, maka pada tanggal 7 Oktober 2016 Basuki TP kemudian berinisiatif untuk meminta maaf kepada umat Islam terkait ucapannya soal surat Al Maidah ayat 51. Namun persoalan terus bergulir dan tidak berhenti meski telah adanya permintaan maaf tersebut. Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 11 Oktober 2016 mengeluarkan pendapat dan sikap keagamaan tentang Basuki TP yang dianggap telah menista Al-Quran dan ulama.[18]

Hal itu semakin membuat situasi sosial masyarakat semakin panas. Pada tanggal 14 Oktober 2016, ribuan orang dari berbagai ormas Islam berunjuk rasa di depan Balai Kota Jakarta. Massa menuntut Basuki TP agar segera dihukum. Pada tanggal 24 Oktober 2016 Basuki TP atas inisiatifnya sendiri kemudian mendatangi Bareskrim Mabes Polri untuk memberikan klarifikasi terkait ucapan-nya.[19]

Pada 4 November 2016 unjuk rasa anti-Ahok (Basuki TP) kembali terjadi. Kali ini aksi tersebut semakin besar, dihadiri ratusan ribu orang dari berbagai daerah tidak hanya dari DKI Jakarta. Hadir dalam aksi tersebut tokoh Front Pembeli Islam (FPI) Rizieq Shihab dan sejumlah anggota DPR seperti Fahri Hamzah dan Fadli Zon. Aksi ini menuntut agar Basuki TP dipidanakan dan dipenjarakan. Mereka juga menuntut bertemu Presiden Jokowi yang sedang tak berada di Istana. Perwakilan pengunjuk rasa akhirnya ditemui Wapres Jusuf Kalla yang menjanjikan untuk menuntaskan kasus ini dalam dua pekan.[20]

Sebagai respon terhadap aksi tersebut maka Presiden Joko Widodo pada 5 November 2016 pukul  00:00 memerintahkan Kapolri untuk menuntaskan kasus ini segera, setransparan mungkin dan jika perlu dengan membuat gelar perkara terbuka. Bahkan Presiden berulangkali mengatakan ia tidak akan melindungi Basuki T.P meski juga tak bisa melakukan intervensi.[21]

Kepolisian Republik Indonesia melaksanakan perintah Presiden dengan melakukan gelar perkara secara terbuka terbatas, karena secara hukum tak dimungkinkan membuatnya terbuka pada publik, untuk menentukan status hukum Basuki T.P. Kemudian pada 16 November 2016 kemudian Polisi menetapkan Basuki T.P sebagai tersangka dalam kasus dugaan penistaan agama. Basuki T.P menyatakan menerima keputusan polisi dan akan mengikuti proses hukum dengan tetap berkeyakinan bahwa dirinya tak bersalah. Basuki T.P juga menegaskan tidak akan mundur dari pemilihan gubernur Jakarta, di bulan Februari 2017.[22]

Pada tanggal 25 November 2016 Kepolisian menyerahkan berkas kasus Basuki T.P ke pihak Kejaksaan. Selanjutnya 30 November 2016 Kejaksaan menyatakan berkas penyidikan Basuki T.P sebagai tersangka telah lengkap (P21). Kemudian pada 1 Desember 2016 berkas Kasus Basuki T.P diserahkan ke Pengadilan Jakarta Utara. Pengadilan Jakarta Utara kemudian menetapkan jadwal sidang pertama, Selasa 13 Desember 2016.

Meski desakan massa agar Basuki T.P diproses secara hukum telah dipenuhi namun massa kembali melakukan aksi demo. Tanggal 2 Desember 2016 Massa berkumpul untuk melakukan demonstrasi dengan melakukan ibadah shalat Jumat di Monas dan Patung Kuda yang dihadiri ratusan ribu orang. Rizieq Shihab yang menjadi khatib Jumat menegaskan ayat suci lebih tinggi dari Konstitusi. Presiden Joko Widodo sempat bergabung dalam shalat Jumat itu dan memberikan apresiasi dan berterima kasih karena aksi berlangsung aman, damai dan tertib.[23]

Berdasarkan seluruh uraian dan kronologis tersebut maka jelas sekali dapat disimpulkan bahwa proses untuk penetapan tersangka dan terdakwa atas Basuki TP ini sangat sarat dengan muatan politis dan juga tekanan massa. Hal lain yang perlu dicermati adalah adanya Surat Edaran Kapolri No. SE/7/VI/2014 yang mengatur bahwa seluruh laporan terhadap calon kepala daerah yang menjadi terlapor saat memasuki tahapan Pilkada, proses hukumnya akan ditangguhkan sampai Pilkada selesai. Tujuan dari dikeluarkannya Surat Edaran tersebut adalah agar tidak terjadi politisasi atau terjadi kriminalisasi memanfaatkan penegak hukum.[24]

Presiden telah memerintahkan percepatan proses penuntasan kasus Basuki TP, sehingga Kepolisian Republik Indonesia kemudian menindaklanjuti perintah tersebut dan mengeyampingkan Surat Edaran yang sudah dibuat di tahun 2014 untuk memeriksa dan memproses Basuki TP, yang semestinya ditangguhkan hingga Pilkada selesai.

Sedemikian besarnya tekanan massa hingga akhirnya proses hukum berlangsung dan berada dibawah tekanan. Hukum menjadi  tidak berwibawa bahkan ketentuan yang sudah disepakati dan dibuat oleh Kepolisian, dapat diabaikan dan dicabut. Hal ini sangat memprihatinkan dan dapat menjadi preseden buruk dalam penegakan hukum kedepan. Meski hal ini terjadi sebelum memasuki proses persidangan di pengadilan, namun Kepolisian dan Kejaksaan juga merupakan bagian dari Justice System, yang seharusnya juga bebas dari tekanan dan intervensi pihak manapun.

Keprihatinan senada disampaikan oleh Otto Hasibuan, yang mengatakan bahwa:

Meski tidak ada yang salah, percepatan proses hukum kasus ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Ini tidak biasa. Memang tidak bisa dihindari, nuansa politis dalam kasus Ahok ini sangat kental. Apalagi ini mencuat disela masa kampanye pilkada DKI Jakarta“.[25]

 

C. PUTUSAN PENGADILAN

Setelah berkas penyidikan Basuki TP sebagai tersangka telah dinyatakan lengkap (P21) oleh Kejaksaan, maka pada 1 Desember 2016 berkas kasusnya diserahkan ke Pengadilan Jakarta Utara. Pengadilan Negeri Jakarta Utara melalui Ketua Pengadilan Negeri menunjuk Dwiarso Budi Santiarto sebagai Hakim Ketua dan Jupriyadi, Abd. Rosyad, Didik Wuryanto, serta I Wayan Wirjana sebagai Hakim Anggota.[26]

Ahok dalam persidangan

Ahok dalam persidangan

Sidang pertama dilaksanakan pada Selasa 13 Desember 2016. Lokasi persidangan awalnya di Gedung Pengadilan Jakarta Utara di Jl. Gajah Mada Jakarta Pusat, namun kemudian pada persidangan berikutnya dipindahkan ke Auditorium Gedung Departemen Pertanian di Jl. RM. Harsono. Aksi massa baik pro maupun kontra diluar ruang sidang mewarnai jalannya persidangan tersebut.

Pada tanggal 20 April 2017, setelah mengalami penundaan pembacaan tuntutan, akhirnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) membacakan tuntutannya yaitu: Menyatakan Basuki TP terbukti bersalah melakukan tindak pidana di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu golongan rakyat Indonesia, sebagaimana diatur dalam Pasal 156 KUHP dalam dakwaan alternatif kedua. Serta Menjatuhkan pidana terhadap Basuki TP dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun dengan masa percobaan selama 2 (dua) tahun. [27]

Basuki menjawab tuntutan tersebut dengan membacakan nota pembelaan berjudul “Tetap Melayani Walau difitnah” pada tanggal 25 April 2017. Rangkaian persidangan dilakukan untuk menyidangkan kasus ini. Persidangan berlangsung selama 8 (delapan) bulan, dengan 23 kali sidang, selama proses persidangan itu Basuki T.P selalu hadir dalam persidangan.[28]

Pada 9 Mei 2017 Majelis Hakim akhirnya membacakan vonis, putusan hakim adalah dengan mempertimbangkan dan memperhatikan Pasal 156 a huruf a KUHP dan pasal-pasal dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 serta ketentuan lain yang bersangkutan menyatakan Basuki TP, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Penodaan Agama, dan karenanya menjatuhkan pidana kepada Basuki TP dengan pidana penjara selama 2 (dua) Tahun memerintahkan Basuki TP langsung ditahan.[29]

Vonis tersebut mengundang pro dan kontra. Tidak sedikit pihak yang kaget dan mempertanyakan keputusan hakim. Todung Mulya Lubis misalnya, melalui akun Twitter-nya berpendapat adanya pandangan bahwa putusan kasus Ahok seperti an overkill” tak keliru sama sekali. Todung Mulya Lubis mengatakan demikian karena sesungguhnya Jaksa tak menuntut Ahok untuk penistaan agama. Majelis Hakim lah yg menyeret Ahok menjadi penista agama. Normalnya majelis hakim mendasarkan vonisnya pada requisitor jaksa, adalah sangat tidak biasa Majelis Hakim memeriksa dan mengadili sendiri. Digunakannya pasal penistaan agama oleh majelis hakim adalah inisiatif majelis hakim untuk menjustifikasi terjadinya penistaan agama.[30]

Pendapat ini ditentang oleh Hotman Paris Hutapea, dalam press release yang disampaikan kepada media massa, dikatakan bahwa terlepas dari substansi perkara, vonis lebih besar/berbeda dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) adalah sah menurut hukum acara pidana dan hal tersebut bukanlah Overkill.[31]

 

Dalam putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara No. 1537/Pid.B/2016/PN.Jkt Utr terdapat beberapa hal yang kemudian menimbulkan pertanyaan dan kontroversi, diantaranya adalah:

1. Putusan majelis hakim yang memerintahkan penahanan Basuki TP

Hal ini menimbulkan pertanyaan, karena sejak penyidikan oleh Kepolisian, pelimpahan perkara ke Kejaksaan, hingga pemeriksaan persidangan di pengadilan oleh majelis hakim sama sekali tidak dilakukan penahanan terhadap Basuki T.P.

Saat putusan selesai dibacakan Basuki T.P langsung menyatakan mengajukan banding. Dengan demikian status Ahok masih terdakwa karena sudah mengajukan banding sehingga putusan yang dijatuhkan hakim belum berkekuatan hukum tetap. Jika mengacu pada KUHAP, jelas disebutkan bahwa terdakwa adalah seorang tersangka yang dituntut, diperiksa dan diadili di sidang pengadilan, sedangkan terpidana adalah seorang yang dipidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Dengan demikian, status hukum Basuki TP bukanlah seorang narapidana yang tengah menjalani masa hukuman. Penahanan Basuki TP tersebut dilakukan atas dasar kewenangan hakim melakukan penahanan. Penetapan penahanan Basuki TP tertuang dalam isi putusan, dengan mengacu Pasal 21, Pasal 193, dan pasal 197 KUHAP.[32]

Hakim dalam menjatuhkan pemidanaan atas terdakwa yang dinilai bersalah dapat memerintahkan supaya terdakwa tersebut ditahan mengacu pada Pasal 193 KUHAP. Hal demikian sepanjang ketentuan Pasal 21 KUHAP dipenuhi dan terdapat alasan yang cukup untuk itu. Dalam penjelasan pasal ini disebutkan perintah penahanan terdakwa yang dimaksud adalah jika hakim pengadilan tingkat pertama yang memberi putusan berpendapat perlu dilakukannya penahanan tersebut karena dikhawatirkan bahwa selama putusan belum memperoleh kekuatan hukum tetap, terdakwa akan melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti ataupun mengulangi tindak pidana lagi.[33]

Disini putusan majelis hakim menimbulkan pertanyaan, apakah majelis hakim memutuskan penahanan karena khawatir Basuki TP akan melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti atau-pun mengulangi tindak pidana lagi. Hakim tidak mempertimbangkan itikad baik Basuki T.P selama menjalani 23 kali sidang yang selalu hadir dan bersikap kooperatif.

 

2. Hakim hanya mempertimbangkan kesaksian satu pihak

Pertimbangan hukum majelis hakim dalam Putusan dapat dibaca pada halaman 587 sampai dengan halaman 616. Dalam pertimbangan tersebut majelis hakim cenderung lebih mempertimbangkan dan mendengar saksi-saksi dari pihak pelapor. Majelis hakim tidak mempertimbangkan (mengesampingkan) pendapat dari saksi-saksi dari pihak terdakwa (Basuki T.P).

 

3. Tidak mempertimbangkan kinerja Basuki TP untuk umat Muslim

Majelis hakim berpendapat dalam pertimbangannya bahwa Basuki T.P sudah mengetahui dan sudah memahami kalau Surat Al Maidah 51 adalah ayat suci agama Islam yang harus dihargai dan dihormati oleh siapapun, akan tetapi Basuki T.P tetap menyebut Surat Al Maidah 51 bahkan mengaitkan dengan kata yang berkonotasi negatif yaitu kata “dibohongi” dengan mengatakan “ya kan dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macem-macem itu”.

Sedangkan dari rekaman video saat Basuki T.P mengucapkan kata-kata tersebut diputar di persidangan, Majelis hakim tidak melihat ada usaha dari Basuki T.P untuk menghindari penggunaan kata-kata atau susunan kata-kata yang bersifat merendahkan atau menghina nilai dari ayat suci Surat Al Maidah 51 sebagai bagian dari Kitab Suci agama Islam, bahkan diulangi dengan menyebut kata “dibodohi”.

Dengan demikian majelis hakim berpendapat bahwa pada saat Basuki T.P mengucapkan kata-kata “ya kan dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macem-macem itu”, ada niat dengan sengaja merendahkan atau menganggap rendah atau menghina nilai kesucian dari Surat Al Maidah 51 sebagai bagian dari Kitab Suci agama Islam.

Majelis hakim kembali tidak mempertimbangkan alasan Basuki T.P yang disampaikan dalam pembelaannya. Bahkan kesaksian saksi ahli terkait motif Basuki TP, rekam jejak kinerja Basuki T.P yang banyak membangun dan membantu umat Muslim sejak menjadi Bupati di Belitung dan ketika menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, serta latar belakang Basuki T.P yang memiliki keluarga angkat dari keluarga Muslim, seluruhnya tidak menjadi pertimbangan majelis hakim.

 

4. Tidak mempertimbangkan alat bukti rekaman pidato alm. Gus Dur

Majelis hakim berpendapat bahwa Basuki TP mengucapkan kata-kata “ya kan dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macem-macem itu”, adalah niat dengan sengaja merendahkan atau menganggap rendah atau menghina nilai kesucian dari Surat Al Maidah 51 sebagai bagian dari Kitab Suci agama Islam.

Majelis hakim tidak mempertimbangkan bahwa ucapan yang sama diucapkan oleh alm. Gus Dur dalam kampanye Basuki TP dalam pencalonan Gubernur Bangka Belitung tahun 2007. Padahal dalam daftar alat bukti terdapat flashdisk yang berisi video pidato Gus Dur saat kampanye tersebut.[34]

Alm. Gus Dur dan Basuki T.P

Alm. Gus Dur dan Basuki T.P

Anehnya kalimat yang sama diucapkan oleh alm. Gus Dur memiliki dampak yang berbeda bagi Basuki TP. Lalu dimana letak kepastian dan persamaan dihadapan hukum yang seharusnya dijunjung tinggi dan dihormati.

 

5. Hakim mengabaikan unggahan video Buni Yani

Majelis hakim juga menolak pendapat Penuntut Umum yang menyatakan timbulnya keresahan di masyarakat karena adanya unggahan dari orang yang bernama Buni Yani. Majelis hakim tidak sependapat dengan hal tersebut dengan alasan karena hal itu berada diluar konteks perkara ini. Selain itu dari seluruh Saksi yang telah didengar keterangannya di persidangan tidak ada satu pun saksi yang mengatakan bahwa informasi tentang adanya dugaan penodaan agama itu diperoleh dari unggahan Buni Yani.

Adanya informasi yang beredar, bahwa video yang diunggah oleh Buni Yani adalah tidak ada kata “pakai”, sedangkan informasi yang diperoleh para saksi ada kata “pakai”, yaitu dibohongi pakai Surat Al Maidah 51 macam-macam itu. Demikian pula yang dipersoalkan oleh para saksi dan dilaporkan kepada Kepolisian adalah ucapan Terdakwa yang dilihat oleh para saksi di video Youtube yang diunggah oleh Pemprov DKI Jakarta yang juga ada kata “pakai”, yaitu dibohongi pakai Surat Al Maidah 51 macam-macam itu.

Majelis hakim kembali mengabaikan fakta di masayarakat, bahkan hakim seolah telah mengambil alih peran penyidik. Jaksa Penuntut Umum telah mengemukakan bahwa awal mula keresahan adalah adanya unggahan video Buni Yani. Ironisnya Hakim tidak melihat keresahan sosial/masyarakat dari adanya unggahan video oleh Buni Yani tersebut. Fakta tersebut dapat ditemui dari kronologis rekam jejak pemberitaan berbagai media massa dan juga dari adanya laporan pengaduan terhadap Buni Yani ke pihak Kepolisian. Hakim juga tidak menggali adanya “hubungan” antara para saksi dengan Buni Yani. Seharusnya hal ini menimbulkan pertanyaan akan adanya “conflict of interest”. Hakim seharusnya bisa menggali lebih dalam akan hal ini, bukan justru mengabaikan adanya fakta unggahan video oleh Buni Yani.

 

6. Hakim menganggap kasus ini murni pidana

Majelis hakim juga tidak sependapat dengan pembelaan Penasihat Hukum yang diberi judul “Terkoyaknya Kebhinnekaan”. Majelis hakim berpendapat bahwa kasus Basuki T.P ini adalah murni merupakan kasus pidana. Sehingga apa yang digambarkan oleh Penasihat Hukum seolah-olah Basuki T.P merupakan korban anti keberagaman berdasarkan suku, agama, ras dan antara golongan.

Majelis hakim kembali tidak cermat melihat rentetan peristiwa dalam kasus ini. Jika dicermati maka jelas terlihat bahwa sejak video pidato Basuki TP diunggah tanggal 28 September 2016 hingga 6 Oktober 2016, selama 9 hari, sesungguhnya tidak ada gejolak atau masalah apapun di masyarakat. Keresahan di masyarakat muncul ketika tanggal 6 Oktober 2016 Buni Yani mengunggah video pidato yang telah diedit berikut transkripnya (Hal ini juga menjawab persoalan poin 5 sebelumnya).

Majelis hakim berpendapat kasus ini murni kasus pidana, tanpa melihat dan memperhitungkan fakta bahwa situasi di DKI Jakarta sangat panas menjelang Pilkada 2017. Selain itu serangan intimidasi berbau rasis di masyarakat terhadap Basuki T.P dan pendukungnya juga cukup marak. Hal itu merupakan fakta yang tidak terbantahkan dan dapat dilihat dengan kasat mata.

Dapat dengan mudah dibuktikan, bahwa jika seseorang mengucapkan kalimat seperti apa yang diucapkan oleh Basuki T.P dan bukan sebagai kapasitasnya sebagai calon gubernur di Pilkada DKI Jakarta, maka dapat dipastikan tidak akan menjadi masalah sebesar ini (bukti nyata adalah alm. Gus Dur). Sehingga jelas bahwa Basuki T.P adalah korban anti keberagaman berdasarkan suku, agama, ras dan antara golongan atau dapat dikatakan diskriminasi SARA.

 

Demikianlah putusan majelis hakim yang menimbulkan kontroversi dan dirasakan tidak memenuhi rasa keadilan. Apapun keputusan hakim memang harus tetap dihormati, namun bukan berarti tanpa kritik. Berdasarkan seluruh uraian tersebut maka sulit sekali untuk dapat mengatakan bahwa hakim dalam persidangan ini telah menjalankan kewenangannya secara mandiri/ independen dan bebas dari tekanan.

Meski secara teori dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa hakim adalah mandiri dalam menjalankan kekuasaannya namun pada kenyataannya tidaklah selalu demikian. Hal ini dapat dilihat pada kasus ini yang sejak awal sudah sarat sekali dengan muatan politis dan adanya tekanan dari beberapa organisasi masyarakat yang begitu kuat.

Hakim yang seharusnya bisa menggali fakta-fakta dalam persidangan nampak sebatas hanya memutus sesuai dengan tuntutan kelompok masyarakat tertentu. Pertimbangan majelis hakim pun sangat dangkal. Tidak terlihat adanya upaya untuk menggali fakta lebih jauh dan mendalam untuk mewujudkan rasa keadilan.

Terkait dengan putusan hakim, Gustaf Radbruch berpendapat bahwa suatu putusan pengadilan idealnya harus mengandung idee das recht, yaitu aspek keadilan (gerechtigkeid), aspek kepastian hukum (rechtssicherkeit) dan aspek kemanfaatan (zweechtmatigkeit).[35] Sayangnya dalam kasus ini nampaknya kualitas putusan tersebut masih jauh dari idee das recht.

Jika saja hakim lebih cermat dan jeli maka hakim dapat dengan baik menjalankan fungsinya untuk lebih aktif menggali kebenaran materiil sesuai dengan sifat peradilan pidana. Berbeda dengan peradilan perdata yang hanya menggali kebenaran formil.

 

D. Mempertanyakan Kemandirian Hakim

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa kemandirian Kekuasaan Kehakiman di Indonesia dijamin dalam Konstitusi Indonesia yaitu Undang-undang Dasar 1945. Pada Pasal 24 ayat (1) ditegaskan bahwa: “Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.”[36]

Meski demikian kemandirian kekuasaan kehakiman tersebut bukanlah kebebasan absolut atau tanpa batas. Kemandirian tersebut senantiasa didasarkan oleh norma yuridis, kode etik profesi, dan norma moral. Meskipun hakim itu mandiri atau bebas, tetapi kebebasan hakim itu tidaklah mutlak, karena dalam menjalankan tugasnya hakim dibatasi oleh Pancasila, UUD (Konstitusi), peraturan perundang-undangan, kehendak para pihak, ketertiban umum dan kesusilaan.[37]

Hakim memiliki Kode Etik profesi yang telah mengatur 10 (sepuluh) aturan perilaku hakim, yaitu:[38]

  1. Berperilaku  Adil,
  2. Berperilaku Jujur,
  3. Berperilaku Arif dan Bijaksana,
  4. Bersikap Mandiri,
  5. Berintegritas Tinggi,
  6. Bertanggung Jawab,
  7. Menjunjung Tinggi Harga Diri,
  8. Berdisiplin Tinggi,
  9. Berperilaku Rendah Hati,
  10. Bersikap Profesional.

Dari Kode etik hakim tersebut adalah kewajiban hakim untuk memelihara kehormatan dan keluhuran martabat, serta perilaku hakim sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-undangan harus diimplementasikan secara konkrit dan konsisten baik dalam menjalankan tugas yudisialnya maupun di luar tugas yudisialnya, sebab hal itu berkaitan erat dengan upaya penegakan hukum dan keadilan.

Menilik dari persidangan kasus Basuki T.P maka muncul pertanyaan terkait kemandirian atau independensi hakim dalam kasus ini. Selain telah mengkaji isi putusan majelis hakim sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, yang banyak menimbulkan pertanyaan dan kontroversi, ada hal lain terkait perilaku hakim yang menangani perkara, yaitu:

 

1. Hakim terindikasi sebagai simpatisan kelompok tertentu

Salah satu hakim anggota yang menangani perkara Basuki TP (inisial “AR”) diketahui dari akun sosmed Facebook miliknya ternyata pernah beberapa kali menyebarkan (share) tulisan-tulisan dari orang-orang (tokoh) yang kontroversial. Tulisan orang-orang tersebut seringkali kontroversial bahkan anti Pancasila dan UUD 1945. Demikian pula akun sosmed milik anak hakim tersebut juga menyebarkan berita-berita yang sama.

Di era yang serba terbuka dan transparan seperti saat ini maka informasi ini dapat dengan cepat beredar luas di masyarakat dan menimbulkan pertanyaan. Kredibilitas seorang hakim kemudian dipertanyakan karena menyebarkan pemikiran dan tulisan dari orang-orang yang merupakan tokoh dari organisasi massa yang dilarang/ dibubarkan pemerintah karena fahamnya bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.[39]

Sangat disayangkan jika seorang hakim yang seharusnya adalah sosok yang dihormati dan mulia, dalam bekerja juga seharusnya patuh dan setia pada Pancasila dan UUD 1945, namun pada kenyataannya adalah simpatisan ormas anti Pancasila yang dibubarkan pemerintah.

Dalam peristiwa ini ada beberapa pelanggaran terhadap aturan perilaku hakim sebagaimana diatur dalam Kode Etik yaitu: Pertama, Berperilaku Adil, ada poin yang dilanggar dari aturan berperilaku adil yaitu: “Hakim wajib tidak memihak, baik di dalam maupun di luar pengadilan, dan tetap menjaga serta menumbuhkan kepercayaan masyarakat pencari keadilan.” Kedua, Berintegritas tinggi, dimana Hakim tidak boleh mengadili suatu perkara apabila memiliki konflik kepentingan, baik karena hubungan pribadi dan kekeluargaan, atau hubungan-hubungan lain yang beralasan (reasonable) patut diduga mengandung konflik kepentingan.”

 

2. Ketua Mahkamah Agung hadir dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh politik

Meski hal ini tidak terkait langsung dengan peradilan kasus Basuki T.P, namun hal ini lebih memprihatinkan yaitu adanya photo yang memperlihatkan hadirnya Ketua Mahkamah Agung Hatta Ali dalam pertemuan yang dihadiri tokoh-tokoh politik dalam rangka menyaksikan hitung cepat Pilkada DKI Jakarta disebuah ruangan yang tidak diketahui lokasinya.[40]

Dalam photo tersebut hadir Wakil Presiden Jusuf Kalla dan tokoh-tokoh lainnya. Ironisnya ikut hadir dalam pertemuan itu adalah Ketua Mahkamah Agung. Hadirnya Ketua MA dalam pertemuan tersebut menjadi tanda tanya besar, mengapa dan dalam rangka apa Ketua MA hadir dalam pertemuan itu.

Salah satu aturan perilaku hakim di dalam Kode Etik Hakim adalah berperilaku arif dan bijaksana, dimana salah satunya mengatur bahwa “Hakim wajib bebas dari hubungan yang tidak patut dengan lembaga eksekutif maupun legislatif serta kelompok lain yang berpotensi mengancam kemandirian (independensi) Hakim dan Badan Peradilan.”

Kehadiran Ketua Mahkamah Agung dalam photo tersebut tidak-lah tepat, karena pertemuan tersebut bukanlah pertemuan resmi (formal) antara Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan Ketua Mahkamah Agung Hatta Ali. Pertemuan tersebut informal, karena yang hadir lainnya tidak mewakili institusi resmi atau pejabat di institusi negara. Pertemuan tersebut adalah dalam rangka hitung cepat hasil Pilkada putaran ke 2.

Dalam aturan perilaku Kode Etik Hakim terutama berperilaku arif dan bijaksana, diatur pula bahwa: [41]

”Hakim tidak boleh menjadi pengurus atau anggota dari partai politik atau secara terbuka menyatakan dukungan terhadap salah satu partai politik atau terlibat dalam kegiatan yang dapat menimbulkan persangkaan beralasan bahwa Hakim tersebut mendukung suatu partai politik.”

Kehadiran Ketua Mahkamah Agung dalam pertemuan tersebut dapat saja menimbulkan persangkaan beralasan bahwa yang bersangkutan mendukung suatu partai politik atau kelompok politik tertentu. Apalagi suasana Pilkada DKI Jakarta 2017 ini yang sangat panas. Seharusnya Ketua MA dapat menempatkan dirinya dengan baik. Apalagi MA sebelumnya sudah disorot dalam kasus pelantikan pimpinan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang juga penuh kontroversi. [42]

Pertemuan Ketua MA dengan para politisi

Pertemuan Ketua MA dengan para politisi



Catatan Kaki:
[1] Agus Santosa, Hargaku Adalah Nyawaku – Basuki Tjahaja Purnama Berani Mati Demi Konstitusi dan Melawan Korupsi, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2015), hlm 5-10.
[2] Wikipedia, Pemilihan Umum Gubernur DKI Jakarta 2012, https://id.wikipedia.org/wiki/Pemilihan_umum_Gubernur_DKI_Jakarta_2012. Diakses tanggal 20 Mei 2017.
[3] Nina Susilo-Kompas.com, “Pelantikan Jokowi-Basuki 15 Oktober” tanggal 7 Oktober 2012. http://megapolitan.kompas.com/read/2012/10/07/15200435/Pelantikan.Jokowi -Basuki.15.Oktober. Diakses 20 Mei 2017.
[4] Fabian Januarius Kuwado-Kompas.com, “Jokowi: Saya Siap Jadi Capres dari PDI-P”, tanggal 14 Maret 2014. http://nasional.kompas.com/read/2014/03/14/1453471/Jokowi. Saya.Siap.Jadi.Capres.dari. PDI-P. Diakses 20 Mei 2017.
[5] Fransiska Ninditya-antaranews.com, “KPU tetapkan Jokowi-JK sebagai presiden-wapres terpilih”, tanggal 22 Juli 2014. http://www.antaranews.com/pemilu/berita/445322/kpu-tetapkan-jokowi-jk-sebagai-presiden-wapres-terpilih. Diakses 20 Mei 2017.
[6] Andylala Waluyo-VOAIndonesia.com, “Presiden Jokowi Lantik Ahok Jadi Gubernur DKI Jakarta” tanggal 19 November 2014. http://www.voaindonesia.com/a/presidenokowiantik -ahok-jadi-gubernur-dki-jakarta/2526024.html. Diakses 20 Mei 2017.
[7] hp/yf (kompas, detikcom)-DW.com, “DPRD Resmikan Ahok Jadi Gubernur DKI” tanggal 14 November 2011. http://www.dw.com/id/dprd-resmikan-ahok-jadi-gubernur-dki/a-18062177. Diakses 20 Mei 2017.
[8] Yopie/beritajakarta.com , “Djarot Saiful Hidayat Dilantik Sebagai Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta” tanggal 17 Desember 2014. http://www.beritajakarta.id/potret/albu/809/Djarot_Saiful_Hidayat_Dilantik_Sebagai_Wakil_Gubernur_Provinsi_DKI_Jakarta. Diakses 20 Mei 2017.
[9] Putri Adityo-Tempo.com, “Survei CSIS, Warga Jakarta Puas atas Kinerja Ahok” tanggal 25 Januari 2016. https://metro.tempo.co/read/news/2016/01/25/231739081/survei-csis-warga-jakarta-puas-atas-kinerja-ahok. Diakses 20 Mei 2017.
[10] David Oliver Purba-Kompas.com, “Survei Poltracking: Mayoritas Warga Jakarta Puas Kinerja Ahok-Djarot” tanggal 15 September 2016. http://megapolitan.kompas.com/ read/2016/09/15/17215661/survei.poltracking.mayoritas.warga.jakarta.puas.kinerja.ahok-djarot. Diakses 20 Mei 2017.
[11] Nibras Nada Nailufar-Kompas.com, “Survei SMRC: 75 Persen Warga DKI Puas dengan Kinerja Ahok” tanggal 20 Oktober 2016. http://megapolitan.kompas.com/read/2016/ 10/20/20290451/survei.smrc.75.persen.warga.dki.puas.dengan.kinerja.ahok. Diakses 20 Mei 2017.
[12] Dari hasil survei yang dilakukan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada 5-10 Januari 2016 menunjukkan elektabilitas bakal calon gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok masih cukup tinggi. Demikian pula hasil survei yang dilakukan Charta Politika Indonesia  pada 15-20 Maret 2016 menunjukan hasil yang serupa, elektabilitas Ahok tetap tinggi. Lihat: wid/dil/jpnn,CSIS: Ahok Belum Tertandingi”, 25 Januari 2016. http://www.jpnn.com/news/csis-ahok-belum-tertandingi?page=1. Diakses 20 Mei 2017 dan Abdul Aziz – Tirto.id, “Survei: Ahok Masih Tak Tertandingi di Pilkada Jakarta”, 30 Maret 2016. https://tirto.id/survei-ahok-masih-tak-tertandingi-di-pilkada-jakarta-wDp. Diakses 20 Mei 2017.
 [13] Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Putusan No. 1537/Pid.B/2016/PN.Jkt Utr, hlm. 588.
[14] Aliansi Masyarakat Sipil untuk Konstitusi, “Kronologi Kasus Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)”, http://www.amsik.id/kronologi-kasus-basuki-tjahaja-purnama-ahok-yang-dituduh-menistakan-agama/. Diakses 20 Mei 2017. Lihat juga dokumentasi capture Facebook Buni Yani pada Lampiran 1.
[15] Agung Sasongko-Republika.com, “Video Ahok: Anda Dibohongi Alquran Surat Al-Maidah 51 Viral di Medsos” tanggal 6 Oktober 2016. http://republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/10/06/oem6xe313-video-ahok-anda-dibohongi-alquran-surat-almaidah-51-viral-di-medsos. Diakses 20 Mei 2017.
[16] ara/jpnn, “Sebut Warga Dibohongi Alquran, Ahok Besok Dipolisikan” tanggal 6 Oktober 2016. http://www.jpnn.com/news/sebut-warga-dibohongi-alquran-ahok-besok-dipolisikan. Diakses 20 Mei 2017.
[17] Aliansi Masyarakat Sipil untuk Konstitusi, Op.cit.
[18] Indah Mutiara Kami – detikNews, “MUI Nyatakan Sikap Soal Ucapan Ahok Terkait Al Maidah 51, ini Isinya”, tanggal 11 Oktober 2017. https://news.detik.com/berita/d-3318150/mui-nyatakan-sikap-soal-ucapan-ahok-terkait-al-maidah-51-ini-isinya. Diakses 20 Mei 2017.
[19] Aliansi Masyarakat Sipil untuk Konstitusi, Op.cit.
[20] BBC.com, “Pidato di Kepulauan Seribu dan hari-hari hingga Ahok menjadi tersangka” tanggal 17 Oktober 2016. http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-37996601. Diakses 20 Mei 2017.
[21] Ibid.,
[22] Ibid.,
[23] Ibid.,
[24] Bartanius Dony – detikNews, “Kapolri Tegaskan Laporan Saat Pilkada Tetap Diproses”, tanggal 25 Januari 2017. https://news.detik.com/berita/3405008/kapolri-tegaskan-laporan-saat-pilkada-tetap-diproses. Diakses 20 Mei 2017. Lihat juga: Aulia Bintang Pratama-CNN Indonesia, “Kapolri: Proses Hukum Setiap Calon Kepala Daerah Ditangguhkan”, tanggal 11 Agustus 2015. http://www.cnnindonesia.com/nasional/ 20150811123745-12-71364/kapolri-proses-hukum-setiap-calon-kepala-daerah-ditangguhkan/. Diakses 20 Mei 2017.
[25] Angelina Anjar Sawitri-Tempo.com, “Percepatan Kasus Ahok Dinilai Kental Nuansa Politis” tanggal 5 Desember 2016. https://nasional.tempo.co/read/news/2016/12/05/ 078825386/percepatan-kasus-ahok-dinilai-kental-nuansa-politis. Diakses 20 Mei 2017.
[26] Lihat surat Penetapan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Utara Nomor 1537/ Pid.B/2016/ PN.JKT.UTR. tanggal 1 Desember 2016 tentang penunjukan Majelis Hakim.
[27] Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Op.cit., hlm. 2.
[28] Lalu Rahadian-CNN Indonesia, “Akhir Drama Perkara Penodaan Agama Ahok”, tanggal 9 Mei 2017. http://www.cnnindonesia.com/nasional/20170509072746-12-213320/ akhir-drama-perkara-penodaan-agama-ahok/. Diakses 20 Mei 2017.
[29] Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Op.cit., hlm. 616.
[30] Rendy Adrikni Sadikin-TribunWow.com, ”Todung Sebut Kasus Ahok Overkill, Bukan Jaksa Malah Hakim yang Seret Ahok Jadi Penista Agama”, tanggal 10 Mei 2017. http://wow.tribunnews.com/2017/05/10/todung-sebut-kasus-ahok-overkill-bukan-jaksa-malah-hakim-yang-seret-ahok-jadi-penista-agama?page=1. Diakses 20 Mei 2017
[31] Hotman Paris Hutapea, “Press Release: Hukum Acara Berbeda Dengan Substansi Kasus” (Jakarta: Hotman Paris & Partners Law Firm, 15 Mei 2017) – Lihat Lampiran 3.
[32] Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Op.cit., hlm. 615.
[33] Indonesia, Undang-Undang Hukum Acara Pidana, UU No. 8 Tahun 1981, LN No. 76 Tahun 1981, TLN No. 3209, Ps. 193 Juncto Ps. 21.
[34] Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Op.cit., hlm. 619
[35] Bambang Sutiyoso dan Sri Hastuti Puspitasari, Aspek-Aspek Pengembangan Kekuasaan Kehakiman Di Indonesia (UII Press, Yogyakarta, 2005), hal. 86.
[36] Indonesia, Undang Undang Dasar 1945, Ps. 24 ayat (1).
[37] Sudikno Mertokusumo, “Pemantapan Sistem Peradilan”, Op.cit.,
[38] Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung dan Ketua Komisi Yudisial No: 047/KMA/SKB/IV/2009 dan No: 02/SKB/P.KY/IV/2009 Tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim, hlm. 5.
[39] Aulia Bintang Pratama dan Aulia Bintang Pratama-CNN Indonesia, “Wiranto: Langkah Hukum Diambil untuk Bubarkan HTI” tanggal 8 Mei 2017, http://www.cnnindonesia.com/nasional/ 20170508140554-20-213154/wiranto-langkah-hukum-diambil-untuk-bubarkan-hti/. Diakses 20 Mei 2017.
[40] Photo pertemuan tokoh-tokoh politik yang dihadiri oleh Ketua Mahkamah Agung tersebut dapat dilihat pada Lampiran 4.
[41] Keputusan Bersama …, Op.cit., hlm. 13
[42] Lihat makalah Harri Baskoro Adiyanto, “Kewenangan Judicial Review Dan Independensi Mahkamah Agung Dalam Sengketa Tata Tertib Dewan Perwakilan Daerah (DPD)”, (Jakarta: Program Magister Ilmu Hukum, 2017).
*) Photo-photo dari berbagai sumber.
banner

Membeli Buku Bekas di Toko Buku Daring (Online) di Luar Negeri

Saya sering membutuhkan buku teks (text book) terbitan dari luar negeri yang berbahasa Inggris. Terutama terkait dengan pekerjaan saya di Badan Regulator PAM dan kuliah pasca sarjana sekitar tahun 2013-2015. Mengingat kebutuhan tersebut maka saya biasanya membeli buku teks di toko buku di Indonesia. Sayangnya kalo di toko buku mainstream buku yang dijual tentunya buku terbitan lokal dan kalo pun ada buku teks terbitan luar negeri maka harganya sangat mahal.

Mensiasati harga buku terbitan luar negeri yang mahal biasanya adalah dengan mencari bajakannya yang fotokopian. Tapi kan ketersediannya terbatas, buku seperti itu biasanya harus dicari di tempat fotokopian sekitar kampus. Itupun judulnya terbatas pada buku yang populer diperkuliahan. Biasanya saya butuh buku yang justru jarang dijual dan dipakai. Mau order atau beli langsung di Amazon pun mahal harganya.

Awalnya saya beli buku teks bahasa Inggris di toko daring (online) Periplus. Di Periplus yang dijual buku baru. Tapi ternyata bukunya juga tidak semuanya tersedia di gudang di Jakarta/Indonesia. Ada buku yang tetap harus dipesan dari Luar Negeri, akibatnya saya harus menunggu lama dan harganya juga tetap harga buku baru yang relatif mahal.

Saya kemudian coba juga browsing di Ebay untuk mencari-cari buku yang saya minati. Di Ebay memang ada buku teks baik yang baru dan bekas. Tapi saat itu (sekitar tahun 2013) harga di Ebay untuk buku-buku yang dijual masih relatif mahal dan yang berat adalah ongkos kirimnya yang juga mahal. Bahkan ada beberapa penjual yang tidak mau kirim ke Indonesia. Entah mengapa, apakah karena banyak fraud kartu kredit dari Indonesia atau karena layanan pengirimannya ke Indonesia yang bermasalah.

Akhirnya saya terpaksa “ubek-ubek” di berbagai website lagi, untuk mendapatkan buku-buku teks terbitan luar dengan harga “miring”. Ternyata saya temukan banyak sekali toko buku daring (online) yang menjual beraneka ragam buku baik baru maupun bekas, dan beberapa diantaranya bisa kirim ke Indonesia. Dari hasil penelusuran dan pengalaman membeli buku bekas dari luar negeri (terutama sekitar tahun 2014-2015), maka ada 4 toko buku daring tempat saya membeli buku. Toko buku daring tersebut adalah:

https://www.betterworldbooks.com/
http://www.biblio.com
https://www.abebooks.com/
https://www.thriftbooks.com/

Dari 4 toko buku daring tersebut tidak terdapat alasan khusus saya mengapa saya membeli disana. Sebagian besar saya kunjungi dan saya beli karena koleksi buku yang saya cari kebetulan adanya atau ketemunya di toko daring tersebut.

Namun dalam artikel ini saya ingin menceritakan dan mengulas toko buku daring tersebut dari segi tampilan, Koleksi, Harga buku/ongkir, Pembayaran, Pengiriman dan layanan keluhan.

Biblio Website

Biblio Website

 

Tampilan/Pencarian

Dari segi tampilan menurut saya ke empat website toko buku daring ini tidak memiliki perbedaan yang besar. Menurut saya semuanya sama menarik. Walaupun kalau untuk tampilan saya pribadi suka dengan betterworldBooks.com dan yang kedua Thriftbooks.com karena lebih simpel.

Selain tampilan yang simpel, saya suka kedua website tersebut karena mesin pencarian untuk koleksi bukunya cukup sederhana (1 field untuk input). Di mesin pencarian tersebut sudah langsung mencari berdasarkan title (judul), author (pengarang) dan ISBN. Sementara untuk Biblio.com dan Abebooks.com keduanya masih memisahkan mesin pencarian. Jadi Jika ingin mencari berdasar nama pengarang ada field-nya sendiri, berdasarkan author (pengarang) ada field-nya sendiri yang lain, begitu juga ISBN terdapat field sendiri.

Betterworlds website

Betterworlds website

 

Koleksi Judul

Berikutnya dalam segi koleksi buku yang tersedia. Saya bisa dapatkan informasi di halaman website mereka kalau Thriftbooks.com mengklaim memiliki lebih dari 7 Juta buku bekas yang tersedia dan sudah 80 juta buku bekas yang terjual. Tiga toko buku lainnya saya tidak tau angka pastinya.

Saya kemudian melakukan pengujian kecil-kecilan. Saya melakukan pencarian buku dengan kata kunci pengarang “Hans Kelsen” ternyata diperoleh hasil:

betterworldbooks.com = 48 buku
biblio.com = 422 buku
abebooks.com = 1117 buku
thriftbooks.com = 21 buku

Kemudian saya mencari lagi buku dengan kata kunci untuk pengarang “Steven Vago”.

betterworldbooks.com = 23 buku
biblio.com = 161 buku
abebooks.com = 271 buku
thriftbooks.com = 7 buku

Dari pencarian dengan menggunakan nama dua pengarang tersebut dapat dilihat bahwa ternyata koleksi buku bekas yang saya cari faktanya paling banyak dimiliki oleh abebooks.com dan kemudian diikuti oleh biblio.com.

Abebooks Website

Abebooks Website

 

Harga buku dan Ongkos Kirim

Untuk harga buku dan ongkos kirim, saya akan coba bandingkan (pada tanggal 16 April 2017) dengan mencari buku “Law & Society” 7th edition karangan Steven Vago. Hasilnya adalah:

Harga Buku Ongkir Total
betterworldbooks.com 10.48 USD Free 10.48
biblio.com 2.99 USD 16.50 USD 19.49
abebooks.com 3.35 USD 5.99 USD 9.34
thriftbooks.com 3.79 USD 4.99 USD 8.78

Dari uji pencarian tersebut maka saya mendapatkan buku “Law & Society” 7th edition karangan Steven Vago yang paling murah harga totalnya (buku+ongkir) adalah di toko Thriftbooks.com.
Jika berdasarkan harga buku yang paling murah maka biblio.com paling murah harganya, akan tetapi ongkir nya paling mahal.
Sedangkan jika melihat ongkir yang paling murah maka betterworldbooks.com menawarkan ongkir Free, tetapi harga bukunya paling mahal. Jadi sesungguhnya sama aja betterworldbooks.com sudah mensiasati, kesannya free ongkir tapi sesuangguhnya harga bukunya sudah mencakup ongkir.

Thrift Deals Website

Thrift Deals Website

 

Pembayaran

Untuk pembayaran semua menggunakan kartu kredit. Sebenarnya saya berharap akan lebih baik jika saya bisa membayar menggunakan paypal. Akan tetapi karena semua toko buku ini tidak bekerjasama dengan paypal, maka saya terpaksa gunakan kartu kredit. Alhamdulilah sejauh ini transaksi di keempat toko tersebut aman. Semoga saja tingkat keamanan transaksi di toko buku bekas daring tersebut selalu aman.

 

Pengiriman

Nah persoalan yang lain yang sangat penting adalah pengiriman. Karena semua toko buku bekas online tersebut ada diluar negeri maka pengirimannya ke Indonesia butuh waktu yang bervariasi. Biasanya terdapat dua jenis layanan, yaitu: pengiriman biasa (standard international) dan pengiriman expedited international yang lebih cepat dan tercatat.

Pengiriman biasa (standard international) membutuhkan waktu pengiriman 15 sd 20 hari. Sedangkan pengiriman expedited international membutuhkan waktu 10 sd 15 hari kerja. Tentunya jika kita memilih jasa pengiriman yang berbeda maka harga yang dibebankan juga akan berbeda. Makin cepet sampe maka makin mahal.

Saya punya pengalaman, rata-rata pengiriman dari Amerika atau negara di Eropa ke Indonesia itu makan waktu bisa sampai 1 bulan lebih. Berbeda jika saya gunakan alamat teman saya di Singapore untuk menampung pesanan buku saya. Jika dijanjikan 15 hari kerja, maka melesetnya tidak separah seperti kirim ke Indonesia.

Saya punya pengalaman sewaktu memesan buku “Law & Society” 7th edition karangan Steven Vago di Thriftbooks.com. Saya pesan dengan jasa pengiriman biasa (standard international) yang dijanjikan sampai sekitar 15-20 hari. Nyatanya 1 bulan lebih buku itu belum sampai juga di rumah saya. Akhirnya saya komplain dengan berkirim email ke Thriftbooks.com, responnya sangat baik sekali. Dengan cepat adminnya merespon email saya. Oleh Thriftbooks.com saya dikirimkan buku pengganti dengan pengiriman Expedited International dengan free alias cuma-cuma. Tapi tetap aja sampainya ke Indonesia lama juga. Akhirnya saya malah jadi punya 2 buku itu (yang 1 saya sumbangin ke Perpustakaan).

 

Layanan terhadap keluhan

Dari pengalaman saya memesan buku bekas secara online, maka layanan terhadap keluhan yang saya nilai cukup bagus adalah Thriftbooks.com. Sebab saya memiliki pengalaman di Thriftbooks.com. Di toko lainnya saya tidak menemui masalah dalam pengiriman atau hal lain. Di Thriftbooks.com memang ada masalah, tapi mereka bisa merespon dengan cepat dan memuaskan karena langsung mengirimkan buku pengganti.

 

Beberapa buku bekas yang saya beli secara online, diantaranya adalah:

Beberapa buku pesanan saya

Beberapa buku pesanan saya

  • Financial Risk Analysis of Infrastructure Debt: The Case of Water and
  • Law & Banking: Principles Author: Conboy, James C – ABEBooks.com Shipment Notification
  • Banking and Financial Institutions Law in a Nutshell Author: William A. Lovett
  • Ellinger’s Modern Banking Law Author: Hooley, Richard
  • Banking Law, Vol. 1: The Law Relating to Domestic  Author: Joan Wadsley
  • Water Law in a Nutshell (Nutshell Series) by David H. Getches from Bookseller: Hippo Books
  • Water Resource Management: A Casebook in Law and Public Policy (University Casebook Series) / A. Dan Tarlock, David
  • H. Getches, James N. Corbridge
  • Law and Society 7th Edition – Steven Vago (thriftbooks.com)

 

Dari hasil berburu buku bekas secara online tersebut saya cukup puas, karena buku yang saya peroleh secara umum dalam kondisi masih layak untuk dibaca dan sesuai dengan harga yang kita bayarkan.

Oh ya hampir semua toko buku online tersebut menampilkan kondisi buku yang dijual, apakah ada coretan, masih layak baca, tidak ada sampul nya atau bagaimana kondisi fisik lainnya. Saya pikir informasinya cukup jelas dan fair. Sehingga ketika buku sampai ditangan saya tidak kecewa karena sesuai dengan yang diiklankan.

Demikian sharing saya tentang berbelanja buku bekas secara online… semoga bermanfaat.

 

* Maaf sekali artikel ini baru di upload, meski sudah di draft sejak lama. Pindah kerja dan tempat tinggal jadi baru sempat untuk selesaikan artikel ini.

 

 

 

 

 

 

sid-banner

Memperoleh Informasi Debitur Individual (IDI) Historis (Pinjaman, Kredit, Hutang) di Bank Indonesia

Saya sudah meninggalkan dunia perbankan sekitar 6 tahun lalu. Saat itu saya sudah tau dan pernah mendengar tentang Sistem Informasi Debitur (SID) apalagi pekerjaan saya di bidang Kepatuhan (Compliance) membuat saya harus update dengan ketentuan terbaru dari Bank Indonesia sebagai otoritas pengawas perbankan saat itu. Akan tetapi saat itu SID belum berbentuk seperti Informasi Debitur Individual (IDI). Sifatnya hanya terbatas bagi Bank saja yang dapat memeriksa. Nasabah tidak dapat memeriksa atau meminta IDI Historis tersebut.

Beberapa bulan lalu saya mendengar cerita dari teman saya tentang Informasi Debitur Individual (IDI) yang katanya sudah memungkinkan kita masyarakat biasa untuk mendapatkan IDI Historis dengan meminta melalui Bank Indonesia (BI). Dari cerita teman saya itu saya jadi terpikir untuk minta IDI Historis ke Bank Indonesia.

 

Informasi Debitur Individual (IDI)

IDI Historis merupakan produk/output yang dihasilkan oleh Sistem Informasi Debitur (SID). IDI Historis mencakup informasi seluruh penyediaan dana/pembiayaan dengan kondisi lancar dan bermasalah mulai dari Rp.1 keatas, serta menampilkan informasi mengenai historis pembayaran yang dilakukan dalam kurun waktu 24 bulan terakhir.

Cakupan IDI Historis meliputi antara lain identitas debitur, pemilik dan pengurus, fasilitas penyediaan dana/pembiayaan yang diterima, agunan, penjamin, dan kolektibilitas.

SID diatur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 9/14/PBI/2007 yang telah diubah dengan PBI Nomor 18/21/PBI/2016. Sistem Informasi Debitur berisikan data-data debitur perbankan baik yang merupakan nasabah di bank swasta maupun bank milik negara. Lembaga yang bertugas menaungi SID adalah Bank Indonesia.

Semenjak ada peralihan tugas pengawasan industri perbankan dari Bank Indonesia ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maka proses pendataan SID pun turut dilimpahkan ke OJK. Kemudian BI dan OJK kembali memutuskan bahwa BI dan OJK bersama-sama melakukan penyempurnaan ketentuan terkait Sistem Informasi Debitur di Bank Indonesia.

Pihak-pihak yang bisa memperoleh IDI Historis ialah Anggota BLK (Bank dan Lembaga Pembiayaan) serta masyarakat. Masyarakat dapat memperoleh IDI Historis melalui Bank atau Lembaga Pembiayaan yang memberikan fasilitas kredit, dapat juga melalui Gerai Info Bank Indonesia atau Kantor Bank Indonesia setempat (daerah). Saat ini permintaan IDI Historis oleh masyarakat dapat pula dilakukan secara online melalui website Bank Indonesia.

 

Manfaat atau Kegunaan IDI Historis bagi Masyarakat

Menurut saya IDI Historis sangat bermanfaat sekali bagi masyarakat pada umumnya. Menagapa bermanfaat?

  • sebab seing kali terjadi seseorang yang mengajukan kredit di bank dan lembaga pembiayaan selalu ditolak. Ternyata ketika di cek melalui IDI Historis baru diketahui orang tersebut masih memiliki catatan kredit macet di Bank lain yang belum diselesaikan, akibatnya permohonan kreditnya ditolak. Bisa saja catatan kredit itu karena memang benar dan kondisi aktualnya demikian, akan tetapi bisa juga terjadi hal itu karena kesalahan bank. Sehingga alangkah baiknya jika setiap orang memeriksa catatan historis kreditnya.
  • bisa juga terjadi, kita sudah menutup kartu kredit atau menyelesaikan kredit kita di sebuah Bank, tapi oleh bank tersebut fasilitas tersebut masih “terbuka” atau belum “ditutup” alias masih terdaftar, walaupun memang tidak ada aktivitas. Untuk kasus ini tentunya akan sangat lebih baik jika kita mengetahui hal itu dari IDI Historis dan kemudian menghubungi bank ybs untuk meminta menutup secara permanen.
  • kadang-kadang sebuah kantor yang kita lamar untuk sebuah posisi pekerjaan, melakukan pemeriksaan Bank Checking untuk mengetahui fasilitas kredit dari si pelamar kerja. Tujuannya agar mereka TIDAK menerima pegawai yang tukang utang dan banyak tagihan macet, sebab pegawai yang tukang utang dan banyak tagihan macet akan mengganggu rekan kerja di kantornya, bisa sering pinjam uang atau gangguan debt collector yang mengganggu suasana kantor. Biasanya yang melakukan pemeriksaan seperti ini adalah kantor Bank, karena mereka punya akses Bank Checking.

Jadi banyak sekali kegunaan dari IDI Historis ini bagi kita. Terutama bagi individu yang tertib administrasi dan dokumen, untuk mengetahui kondisi catatan fasilitas keuangan yang diterima selama ini dari berbagai lembaga keuangan terutama Bank.

 

Cara Memperoleh IDI Historis

Setelah saya mendapat cerita teman saya tentang IDI Historis maka kemudian saya mencari tau di situs BI bagaimana mendapatkan IDI Historis itu. Saya akan ceritakan langkah-langkah bagaimana memperoleh IDI Historis tersebut. Namun demikian, uraian saya tidak seperti uraian di website BI. Jika anda ingin melihat alur proses mendapatkan IDI Historis versi BI silahkan ketautan ini http://www.bi.go.id/id/moneter/biro-informasi-kredit/permintaan-idi-historis/proses/Contents/Default.asp.

IDI Historis dapat diperoleh melalui 3 cara yaitu:

  • Permintaan IDI Historis melalui Lembaga Keuangan
  • Permintaan IDI Historis melalui Gerai Info
  • Permintaan IDI Historis secara online

Yang akan saya uraikan di artikel ini adalah permintaan IDI historis secara online.

 

Langkah pertama:

Karena kita akan melakukan permintaan IDI historis secara online maka bukalah website BI ditautan INI lalu kemudian setelah membaca penjelasan pada halaman tersebut maka klik tautan ini Formulir.

Setelah di klik akan muncul halaman dengan formulir seperti tampilan berikut ini:

formidi

Isilah dengan lengkap dan benar formulir tersebut, karena jika salah maka BI tidak dapat menemukan informasi sesuai nama debitur pemohon. Contohnya saya, karena kurang teliti saya mengisi tanggal lahir dengan tahun kelahiran yang salah yaitu tahun 2017. Akibatnya BI mengirimkan email ke saya dan memberitahukan bahwa data saya tidak tercatat di BI. Apess bener… udah nunggu lama buat dapat jawaban hasil pemeriksaan eh ternyata baru ketahuan kalo saya salah input dari email BI itu.

Jadi setelah formulir diisi dengan lengkap dan benar maka BI akan melakukan pengecekan data debitur:

  • Apabila data yang diisi tidak ada yang cocok dengan data yang dilaporkan lembaga keuangan, maka BI akan mengirimkan jawaban kepada pemohon melalui email bahwa data yang bersangkutan tidak ada.
  • Apabila data yang diisi sesuai dengan data yang dilaporkan lembaga keuangan, maka BI akan mengirimkan jawaban kepada pemohon melalui email bahwa data yang bersangkutan ada dan dapat diambil di Gerai Info Bank Indonesia pada hari dan jam tertentu dengan membawa persyaratan yang diperlukan.

 

Langkah kedua:

Beberapa hari kemudian kita akan mendapat pemberitahuan melalui email yang berisi informasi:

Dapat kami sampaikan bahwa data debitur a.n. XXX dengan tanggal lahir XXX tercatat dalam database SID. Untuk informasi selanjutnya, dapat dilihat pada attachment. Terima Kasih. DLMI-DPKL“.

Dalam attachment saya memperoleh surat yang berisi seperti berikut ini:

keterangan_tercatat

Intinya disampaikan bahwa data debitur tersebut tercatat dalam database SID. Selanjutnya Untuk mengambil hardcopy Informasi Debitur ini maka kita diharuskan dengan membawa print out dari email ini dan identitas diri/KTP asli.

Jika memang dikuasakan, dalam hal ini terbatas hanya hubungan antara Orang tua, Anak, Suami dan Istri dengan melampirkan Kartu Keluarga (KK) dan Surat Kuasa bermaterai Rp 6.000,- dengan keterangn surat kuasa yang berisi (untuk dipergunakan pengambilan hasil SID di Bank Indonesia). Hal ini karena pada prinsipnya IDI Historis bersifat rahasia.

Adapun lokasi pengambilan IDI Historis tersebut di alamat berikut:

Tempat : Gerai Info Bank Indonesia
Lobby Menara Sjafruddin Prawiranegara (Gedung B)
Komplek Perkantoran Bank Indonesia
Jl. MH. Thamrin No.2 Jakarta Pusat
Waktu : Hari kerja, Pukul 08.30 s.d. 15:00 WIB (11:00 s.d. 13.00 istirahat)
Khusus untuk hari jum’at (10:30 s.d 13:00 istirahat)
Pakaian : Sopan dan Rapi (memakai sepatu) serta Kemeja

Saya sebel banget amat syarat pakaian ini. Masa mau ambil dokumen aja sampai diatur gaya berpakaian dan mesti berpakaian apa. Menurut saya BI ini gayanya masih otoriter merasa penguasa (ambtenaar) bukan sebagai pelayan masyarakat. Jadi dia ngatur orang mesti pakai baju apa kalo datang “menghadap” ke BI. Padahalkan rakyat yang pemilik dana, rakyat yang bayar pajak buat gaji pegawai BI, kenapa BI ngatur orang mesti pakai pakaian apa kalo datang ke kantor dia :)

Pejabat BI itu kalo kerja di Bank yang ada di pasar-pasar bisa stress kali ya? Yang datang ke bank di pasar itu kan pake sandal jepit, celana pendek kaosnya lusuh. Trus ente ga mau layanin? hehehehe padahal dia setor duit. Ini pun begitu, walaupun orang yang datang minta informasi data IDI Historis tapi tetap aja mereka pembayar pajak yang buat ngegaji semua pegawai BI juga.

 

Langkah Ketiga:

Sesuai instruksi di email maka saya datangi BI untuk mendapatkan hardcopy dari IDI Historis tersebut. Oh ya karena saya di Jakarta maka saya dapat ambil di kantor BI pusat. Sedangkan bagi anda yang berada di daerah maka IDI Historis tersebut dapat diperoleh di:

  • Kantor Bank Indonesia (Kelompok Kajian, Survey dan Statistik atau Tim Pengawasan Bank) propinsi setempat dengan membawa print out dari e-mail ini.
  • Bank/BPR/Lembaga Keuangan yang memberikan fasilitas kredit kepada Saudara sesuai dengan ketentuan yang berlaku (Untuk Bank/BPR/Lembaga Keuangan tanpa harus disertai print out dari e-mail Bank Indonesia ini).

Lokasi Gerai Info Bank Indonesia di Lobby Menara Sjafruddin Prawiranegara (Gedung B) Komplek Perkantoran Bank Indonesia Jl. MH. Thamrin No.2 Jakarta Pusat. Bagi yang belum pernah ke gedung BI maka akses masuknya adalah melalui Jl. Budi Kemuliaan. Jika datang dari arah Sarinah Thamrin saat di patung Kuda belok Kiri, sebelum gedung Indosat.

Nanti di pintu masuk berupa pos keamanan di Jl. Budi Kemuliaan serahkan kartu identitas anda selain KTP, boleh SIM atau Kartu Pelajar. Selanjutnya anda akan mendapat ID Card untuk memasuki Area BI. Gedung Menara Sjafruddin Prawiranegara (Gedung B) jika dari pintu masuk pos keamanan maka berada di sebelah kiri. Lokasi gedung ada disisi depan dekat dengan jalan Thamrin.

Saat masuk Lobby Menara Sjafruddin Prawiranegara (Gedung B) kita harus serahkan ID Card yang tadi diberikan oleh satpam di pos masuk untuk ditukar dengan ID Card yang baru lagi. Di Gedung BI itu memang sedikit “ribet” karena harus sering tuker ID Card. Buat yang ga biasa masuk gedung perkantoran ala BI ini bakalan bete. Saya ga kebayang kalo yang masuk ke Gedung BI ini model kayak emak-emak yang naik motor matik :)

Setelah menukar ID Card di resepsionis maka anda akan diarahkan ke Gerai Info BI. Nanti di Gerai Info BI akan dibantu untuk registrasi. Jangan lupa bawa print out email yang disyaratkan dan juga Identitas anda yaitu KTP. Kemudian silahkan menunggu dipanggil untuk registrasi. Setelah registrasi maka kita menunggu lagi untuk mendapatkan Hard Copy dari laporan IDI Histroris tersebut.

Selanjutnya anda akan dipanggil untuk mengambil lembaran IDI Historis di salah satu meja. Petugas yang melayani akan menjelaskan secara singkat isi dari laporan tersebut. Berhubung saya memiliki latar belakang perbankan maka saya cukup paham dengan penjelasan singkat dari petugas yang menjelaskan. Jika anda belum jelas saya sarankan bertanya agar jelas dan tidak rugi, soalnya ke BI kan butuh waktu dan tenaga mana ribet lagi, jadi jangan disia-siakan.

Contoh hard copy dari IDI Historis tersebut adalah seperti berikut:

idi2

Setelah mendapat penjelasan dan Hard Copy tersebut saya pun pulang. Oh ya untuk permintaan IDI Historis di BI ini Gratis alias tidak dipungut biaya.

 

Saran Untuk BI

Saya senang sekali dengan adanya fasilitas IDI Historis ini, karena sebagai masyarakat individual tanpa harus melalui lembaga pembiayaan bisa mendapatkan akses untuk memperoleh IDI Historis. Hal ini sangat membantu masyarakat seperti saya yang ingin mengetahui catatan kredit kita yang ada di lembaga pembiayaan.

Meski demikian ada beberapa masukan dari saya agar IDI Historis ini bisa semakin mudah diakses masyarakat luas:

1. Sosialiasi agar ditingkatkan, sehingga masyarakat semakin banyak yang tau tentang adanya fasilitas IDI Historis ini.

2. Akses semakin dimudahkan, akses melalui online sudah sangat baik, namun akan lebih baik jika dibuat mekanisme bahwa data IDI historis ini tidak perlu diambil secara langsung di kantor BI. Cukup isi formulir online dan dokumen IDI Historis dikirim melalui email. Jika alasannya dokumen ini bersifat rahasia, saya pikir banyak mekanisme pengamanannya. Tiru saja sistem tagihan kartu kredit, dimana file tagihan berupa pdf terproteksi.

3. Jika memang masih harus diambil secara langsung oleh masyarakat di kantor BI, maka perlu dipikirkan lokasi kantornya dan Gerainya yang harus mudah diakses masyarakat. Untuk masyarakat umum memasuki area kantor Bank Indonesia itu tidak mudah lho. Apalagi bagi yang pertama kali ke kantor BI di Jl. Thamrin. Kebetulan saya kerja di Bank dulu sehingga cukup familiar dengan akses masuknya dan tempat-tempat gedungnya. Akan tetapi bagaimana dengan masyarakat umum yang belum pernah masuk gedung BI? Kalau salah turun untuk menuju ke pintu masuk umum di Jl. Budi Kemuliaan bisa jauh sekali muternya. Karena gedung BI ini kompleksnya luas sekali. Saran saya jika masih digunakan mekanisme diambil secara langsung sebaiknya gunakan gedung lain (bisa sewa) yang lebih mudah dijangkau dan diakses masyarakat di Jabodetabek. Lokasi Gerai Info BI yang sekarang bagus sekali, sangat mewah, tapi justru susah dijangkau karena sistem keamanannya ketat. Padahal masyarakat cuma mau ambil dokumen IDI Historis.

 

Demikian informasi dan sharing saya tentang IDI Historis yang saya peroleh di Gerai Info BI. Sistem IDI Historis ini keren banget, semoga semakin dikembangkan dan semakin baik lagi.

 

 

banner-mm-mh

Perbedaan Kuliah Program Magister Manajemen (MM) dengan Magister Hukum (MH)

Secara umum banyak orang yang sudah mengetahui perbedaan mendasar dari Program Magister Manajemen dan Magister Hukum. Keduanya adalah program studi dari dua disiplin ilmu yang berbeda. Akan tetapi dalam kesempatan ini saya ingin mengulas perbandingan kedua program ini sedikit lebih detail teknis perkuliahan berdasarkan pengalaman kuliah saya.

Dalam artikel ini saya ingin membandingkan perkuliahan program Magister Manajemen (MM) dengan Magister Hukum (MH). Perbandingan ini mengacu kepada perkuliahan yang saya tempuh di STIE Indonesia Banking School (IBS) untuk program Magister Manajemen di tahun 2013 sd 2015, dan perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia untuk program Magister Hukum (MH) tahun 2017.

Terdapat 4 hal yang akan saya bandingkan di artikel ini:

  1. Penyelenggaraan Pembelajaran
  2. Jumlah SKS dan Beban Studi
  3. Peminatan
  4. Distribusi Mata Kuliah

 

A. Penyelenggaraan Pembelajaran

Penyelenggaraan pembelajaran antara program MM di STIE IBS dengan program MH di FHUI sangat lah jauh berbeda.

1. MM STIE IBS

Pada saat saya kuliah dulu, penyelenggaraan kuliah program MM di STIE IBS diselenggarakan hanya pada hari Jumat dan Sabtu saja.
- Jum’at jam 18.00 – 21.00 WIB di Kampus Kemang
- Sabtu jam 08.00 – 16.00 WIB di Kampus Kemang

Sementara saat ini (Februari 2017) saat saya cek di laman http://ibs.ac.id/mm_info.php waktu perkuliahan nampaknya sudah berubah menjadi hanya di hari Sabtu pukul 07.30 – 18.00 WIB saja.

Sesi 1       : Pukul 07.30 – 10.00 WIB
Sesi 2       : Pukul 10.00 – 12.30 WIB
Sesi 3       : Pukul 13.00 – 15.30 WIB
Sesi 4       : Pukul 15.30 – 18.00 WIB

Tampaknya saat ini perkuliahan program MM di STIE IBS benar-benar dipadatkan di hari Sabtu (weekend). Saya pikir apakah tidak melelahkan kuliah seperti itu, dipadatkan hanya 1 hari? Kemudian jika mahasiswa harus absen 1 hari maka akan absen untuk 4 mata kuliah sekaligus, wuihhh… sayang sekali.

Penyelenggaraan kuliah Program MM di kampus lain tentunya bisa berbeda dan tergantung kebijakan dari setiap kampus. Kebetulan saya mengikuti perkuliahan program MM saat itu masih campuran antara kelas malam dan kelas Sabtu (weekend).

 

2. MH FHUI

Penyelenggaraan perkuliahan program MH FHUI terbagi dua, yaitu: Kelas Reguler dan Kelas Khusus.

1. Kelas Reguler (Kelas Pagi)

Perkuliahan diselenggarakan setiap hari Senin sd Jumat pukul 08.00 – 15.00.

Lokasi Perkuliahan di Kampus FHUI Depok.

2. Kelas Non Reguler (Kelas Sore)

Perkuliahan diselenggarakan setiap hari Senin sd Jumat pukul 17.00 – 21.00.

Lokasi Perkuliahan di Kampus FHUI Salemba Jakarta.

Penyelenggaraan perkuliahan program MH di FHUI ini menurut saya termasuk inovatif dan “unik”. Menagapa? sebab FHUI memberikan pilihan waktu perkuliahan pagi hari. Sehingga bagi mahasiswa yang ingin kuliah secara penuh waktu dan bisa kuliah di pagi hari maka bisa menempuh kuliah pagi hari. Selain biayanya lebih murah dibanding kelas malam juga waktu studinya bisa lebih singkat. Bisa ditempuh 3 semester saja.

 

B. Jumlah SKS dan Beban Studi

Jumlah SKS yang harus ditempuh pada program MM dan MH adalah sebagai berikut

1. MM STIE IBS

Jumlah kredit yang harus diselesaikan oleh peserta Program MM IBS adalah 42 satuan kredit semester (SKS) yang dapat diselesaikan dalam waktu empat (4) semester termasuk tugas akhir (Tesis).

 

2. MH FHUI

Beban studi yang harus ditempuh mahasiswa Program Magister Ilmu Hukum berjumlah 44 SKS.

Sedangkan masa studi program MH ini dapat ditempuh sebagai berikut:

  • Program Reguler yang diikuti penuh waktu dijadwalkan dalam waktu 4 (empat) Semester dimana dalam pelaksanaannya dapat ditempuh dalam waktu paling cepat 3 (tiga) semester dan paling lama 6 (enam) semester.
  • Program Non Reguler yang diikuti penuh waktu dijadwalkan dalam waktu 5 (empat) Semester dimana dalam pelaksanaannya dapat ditempuh dalam waktu paling cepat 4 (tiga) semester dan paling lama 7 (enam) semester.

 

C. Peminatan

Peminatan dan mata kuliah program MM dan program MH ini sangat jauh berbeda pula. Program MM jumlah peminatan lebih sedikit dari pada program MH.

 

1. MM STIE IBS

Peminatan atau konsentrasi studi di program MM STIE IBS terdiri dari:

  1. Perbankan Konvensional
  2. Perbankan Syariah
  3. Risk Management
  4. Marketing

Program MM di kampus lain biasanya tidak jauh berbeda, mereka menawarkan konsentrasi/peminatan yang mirip dengan penambahan konsentrasi/peminatan lain, seperti misalnya: Manajemen Keuangan, Manajemen Sumber Daya Manusia, Manajemen Internasional, Manajemen Operasi, Manajemen Aktuaria dan Manajemen Pasar Modal

 

2. MH FHUI

Sedangkan program Magister Ilmu Hukum di FHUI memiliki program peminatan yang jauh lebih banyak lagi. Peminatan tersebut adalah:

  1. Peminatan Hukum Ekonomi
  2. Peminatan Hukum Ekonomi Islam
  3. Peminatan Hukum dan Sistem Peradilan Pidana
  4. Peminatan Hukum Kenegaraan (Tata Negara/Administrasi Negara)
  5. Peminatan Hukum Transnasional
  6. Peminatan Hukum Perdagangan Internasional
  7. Peminatan Hukum Sumber Daya Alam
  8. Peminatan Hukum Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
  9. Peminatan Hak Asasi Manusia (HAM) dan Good Governance
  10. Peminatan Hukum Ketenagakerjaan
  11. Peminatan Hukum Keuangan Publik

Program Magister Hukum di FHUI memiliki 11 peminatan. Hal ini berbeda pula dengan Bidang Studi di Fakultas Hukum, karena Bidang Studi di FHUI adalah organisasi di dalam fakultas dimana para staf pengajar tergabung atau berkelompok sesuai minat dan keahlian masing-masing.

Bidang studi di FHUI adalah:

  1. Bidang Studi Dasar-dasar Ilmu Hukum
  2. Bidang Studi Hukum Keperdataan
  3. Bidang Studi Hukum Pidana
  4. Bidang Studi Hukum Tata Negara
  5. Bidang Studi Hukum Administrasi Negara
  6. Bidang Studi Hukum Internasional
  7. Bidang Studi Hukum Acara
  8. Bidang Studi Hukum Masyarakat dan Pembangunan

 

D. Distribusi Mata Kuliah

Melihat dari banyaknya peminatan di program MH di FHUI, demikian pula mata kuliah yang ditawarkan di program MH jauh lebih banyak dibandingkan mata kuliah di program MM. Apalagi setiap mata kuliah di program MH berbobot 2 SKS sementara mata kuliah di program MM bobot per mata kuliah adalah 3 SKS.

 

1. MM STIE IBS

Jumlah mata kuliah yang harus diselesaikan dalam program MM adalah 12 mata kuliah dan Tesis Program Magister, dengan jumlah satuan kreditnya adalah 42 kredit.

Artinya setiap mata kuliah bobotnya adalah 3 SKS x 12 mata kuliah = 36 SKS ditambah Tesis 6 SKS maka total adalah 42 SKS.

Merujuk kepada laman http://ibs.ac.id/mm_kurikulum.php maka dapat dilihat distribusi mata kuliah tersebut adalah sebagai berikut:

Semester 1 (Mata Kuliah Inti)

  1. Corporate Financial Management (3 SKS)
  2. Strategic Management (3 SKS)
  3. Organizational Behavior and Leadership (3 SKS)
  4. Strategic Marketing (3 SKS)

Semester 2 (Mata Kuliah Kompetensi)

  1. Decision Making Theory (3 SKS)
  2. Business Law & Business Ethic (3 SKS)
  3. Business Research Method (3 SKS)
  4. Operational Management (3 SKS)

Semester 3 (Konsentrasi Perbankan Konvensional)

  1. Asset and Liability Manegement (3 SKS)
  2. Management Bank & Jasa Keuangan (3 SKS)
  3. Banking and Finance Risk Management (3 SKS)
  4. Banking and Finance Reasearch & Seminar (3 SKS)

Semester 3 (Konsentrasi Perbankan Syariah)

  1. Asset and Liability Management for Islamic Bank (3 SKS)
  2. Accounting for Islamic-Bank (3 SKS)
  3. Risk Management for Islamic Bank (3 SKS)
  4. Seminar and Research for Islamic Bank (3 SKS)

Semester 3 (Konsentrasi Risk Management)

  1. Risk Management Research and Seminar (3 SKS)
  2. Banking Finance Research and Seminar (3 SKS)
  3. Introduction to Risk Management (3 SKS)
  4. Enterprise Risk Management (3 SKS)

Semester 3 (Konsentrasi Marketing)

  1. Consumers Behaviour (3 SKS)
  2. Integrated Markeing Communication (3 SKS)
  3. Service Marketing (3 SKS)
  4. Marketing Research and Seminar (3 SKS)

Semester 4

Tesis (6 SKS)

 

2. MH FHUI

Seperti apa yang sudah diuraikan sebelumnya, bahwa beban studi yang harus ditempuh mahasiswa Program Magister Ilmu Hukum berjumlah 44 SKS. Mata Kuliah dalam Program MH terbagi menjadi 2 (dua) bagian, Mata Kuliah Wajib Program Studi dan Mata Kuliah Wajib Peminatan.

Mata Kuliah Wajib Program Studi untuk semua peminatan adalah sama yaitu sebagai berikut:

Kode MK Nama MK SKS
LWGP80101 Filsafat Hukum 2
LWGP80102 Politik Hukum 2
LWGP80103 Sosiologi Hukum 2
LWGP80104 Teori Hukum 2
LWGP80105 Metode Penelitian 2
LWGP80106 Seminar Usulan Penelitian Tesis 2
LWGP80107 Tesis 6

 

Mengingat program MH itu terdiri dari 11 peminatan maka saya hanya memberikan contoh Mata Kuliah Wajib Peminatan Hukum Ekonomi saja (dimana saya memilih peminatan ini). Mahasiswa yang memilih peminatan Hukum Ekonomi harus menempuh 22 SKS mata kuliah wajib peminatan dan 4 SKS mata kuliah pilihan bebas.

Berikut adalah daftar mata kuliah wajib peminatan dan mata kuliah pilihan bebas:

Kode MK Nama MK SKS
LWEL80201 Hukum Perusahaan 2
LWEL80202 Hukum Investasi dan Pasar Modal 2
LWEL80203 Hukum Perbankan dan Lembaga Keuangan 2
LWEL80204 Hukum Pembiayaan Perusahaan 2
LWEL80205 Transaksi Bisnis Internasional 2
LWEL80206 Hukum Anti Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 2
LWEL80207 Transaksi Berjaminan 2
LWEL80208 Tindak Pidana Ekonomi dan Anti Korupsi 2
LWEL80209 Hukum Hak Kekayaan Intelektual 2
LWEL80210 Hukum Pajak 2
LWEL80211 Hukum Asuransi* 2
LWEL80212 Hukum Dagang Internasional * 2
LWEL80213 Akutansi Untuk Sarjana Hukum * 2
LWEL80214 Arbitrase & Penyelesaian Sengketa Alternatif * 2
LWEL80215 Peranan Hukum dalam Pembangunan Ekonomi * 2
LWEL80216 Hukum Perlindungan Konsumen* 2
LWEL80217 Kapita Selekta Hukum Perikatan 2

* Mata Kuliah Pilihan Bebas

Satu hal yang sama dari perkuliahan saya di MM dan MH adalah tidak adanya sistem prasyarat mata kuliah yang harus diambil untuk menempuh mata kuliah lain. Baik MM dan MH saya memulai kuliah sama-sama dengan mata kuliah untuk semester 2 baru kemudian di semester 2 saya kuliah untuk mata kuliah semester 1.

Demikianlah uraian saya tentang perbandingan program MM dan program MH. Semoga bermanfaat bagi mereka yang berminat untuk meneruskan kuliah di tingkat Strata 2 atau Pasca Sarjana.

 

 

 

 

Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Wisata ke Taman Wisata Alam Angke Kapuk di PIK Jakarta

Sudah sejak lama saya mendengar tentang Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk Jakarta Utara. Tapi saya belum pernah sempat kesana. Baru pada tanggal  21 Desember 2016 saya punya waktu untuk bisa mengunjungi tempat wisata ini.

Sahabat saya Yulia Sari sering mengajak saya untuk melakukan wisata dengan biaya hemat diseputar Jakarta. Banyak lokasi yang awalnya kita ingin kunjungi, namun karena keterbatasan waktu dan juga akses ke lokasi maka akhirnya kami putuskan untuk berwisata ke lokasi Taman Wisata Alam Mangrove di Angke Kapuk Jakarta Utara.

Kebetulan Rido (Puteranya Sari) sedang libur sekolah, kemudian Ririn teman Sari juga bisa ikutan. Jadi rencananya kita akan pergi berempat. Kita janjian untuk ketemuan di Halte Transjakarta Stasiun Kota.

Tanggal 21 Desember 2016 sesuai rencana saya sudah sampai di halte TJ Stasiun Kota sekitar pukul 08.30. Disana saya menunggu Sari dan Rido anaknya. Ririn karena suatu hal ternyata batal ikut. Sehingga akhirnya kami pergi hanya bertiga saja.

Dari halte Transjakarta Stasiun Kota kami kemudian naik Bus Feeder Transjakarta tujuan PIK (Pantai Indah Kapuk). Sebelumnya dari Depok saya naik ojek online ke Halte Transjakarta Ragunan tujuan Monas (Koridor 6-B) kemudian lanjut ke Halte TJ Stasiun Kota. Karena saya tidak keluar halte Transjakarta maka biaya saya untuk ongkos dari Ragunan sampai ke lokasi Taman Wisata Alam di Angke Kapuk cukup hanya Rp. 3.500 saja.

Sebenarnya saya bisa saja naik Kereta Commuter line (CL) dari stasiun Depok ke Jakarta Kota, tapi saya kurang suka naik Kereta. Saya merasa lebih nyaman dan  pasti kalo naik Transjakarta. Sebelum nya kami sudah pelajari bagaimana mencapai lokasi Wisata Alam di Angke Kapuk tersebut. Ternyata memang mudah sekali.

Hari itu dari Halte TJ Ragunan ke Halte TJ Monas, dan kemudian saya lanjutkan ke Halte TJ Stasiun Kota kondisi lalu lintasnya tidak terlalu macet. Bus TJ juga tidak terlalu padat. Mungkin karena efek liburan sekolah. Dari Halte TJ Stasiun Kota ke PIK juga di dalam bus tidak terlalu penuh. Walaupun saya berdiri tidak dapat duduk, tapi di dalam bus tidak berdesakan.

Setelah kita berada di dalam Bus Feeder Transjakarta tujuan PIK maka kita tinggal bilang saja untuk turun di Yayasan Budha Tzu Chi. Sesampainya di setiap lokasi halte biasanya pramudi bus tersebut akan sebutkan nama haltenya.

Saat bus sampai di depan gedung Yayasan Budha Tzu Chi pramudi bus tersebut ingatkan penumpang, dan saya pun meminta berhenti untuk turun. Sewaktu naik di halte TJ stasiun Kota penumpang naik lewat pintu tengah seperti layaknya bus TJ namun ketika turun di Yayasan Budha Tzu Chi penumpang akan turun lewat pintu depan disebelah kiri bus. Haltenya pun tidak ada, jadi penumpang sebenarnya turun di pinggir jalan.

 

Turun di Yayasan Budha Tzu Chi

Sesuai dengan pedoman yang dibaca dari browsing di internet sebelum pergi ke lokasi wisata alam ini, maka kami turun dari bus feeder TJ di depan gedung Yayasan Budha Tzu Chi. Bangunan gedung Yayasan Budha Tzu Chi itu gedeee.. banget!, jadi jangan takut ga kelihatan atau ga ketemu ama gedung itu hehehehe :)

Turun dari Feeder TJ di tanda + itu

Turun dari Feeder TJ di tanda + itu

Saat kami turun di depan gedung maka di sebelah gedung itu ada jalan lurus ke dalam (katanya sih itu Jalan Garden House), itulah jalan menuju Taman Wisata Alam. Ikuti aja jalan itu, ngga bakal nyasar. Kami sampai dilokasi sekitar jam 09.30 WIB.

Ikuti panah belok kanan ke TWA Angke

Ikuti panah belok kanan ke TWA Angke

Peta Menuju Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Peta Menuju Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Jika diperhatikan peta tersebut maka kita akan turun di tanda X dan jalan mengikuti arah panah merah.

 

Tiket

Di pintu gerbang kita akan menemui loket yang ditunggu petugas jaga. Harga tiket masuknya untuk Dewasa adalah Rp. 25.000 dengan dua karcis diberikan yaitu:
- Rp. 20.000 tiket warna biru dengan tulisan Paket Rekreasi Penjelajahan Hutan Outbound dll
- Rp.  5.000 tiket warna putih dengan tulisan Karcis Masuk Pengunjung TWA Angke Kapuk

Sedangkan harga tiket untuk anak-anak hanya Rp. 10.000 saja. Warna tiket merah muda dengan tulisan tiket masuk rekreasi penjelajahan hutan outbound dll Taman Wisata Alam Angke Kapuk.

Tiket Masuk TWA Angke Kapuk

Tiket Masuk TWA Angke Kapuk

Terus terang menurut saya biaya tiket masuk ke Taman Wisata Alam (TWA) ini menurut saya kemahalan. Sebagai pembanding adalah harga tiket Kebun Binatang (KB) Ragunan misalnya, tiket untuk Dewasa Rp. 4.000,-/orang dan untuk Anak-anak Rp. 3.000,-/orang sedangkan untuk Tarif masuk Pusat Primata Schmutzer:
- Hari Selasa s.d Jumat (usia 3 tahun ke atas) : Rp. 6.000,-/orang
- Hari Sabtu s.d Minggu /libur nasional (usia 3 tahun ke atas) : Rp. 7.500,-/orang
Jauh sekali kan bedanya, padahal yang bisa dikunjungi di KB Ragunan dan yang bisa dilihat jauh lebih banyak dibandingkan dengan TWA Angke Kapuk.

Loket dan Pintu Gerbang TWA Angke

Loket dan Pintu Gerbang TWA Angke

Selain harga tiket masuk tersebut ditulis juga biaya lain yaitu:
- Mobil Rp. 10.000,00
- Motor Rp.  5.000,00
- Tiket untuk Turis/WNA Rp. 250.000,00
- Photo Pre Wedding Rp. 1.500.000,00

 

Menjelajahi TWA Angke Kapuk

Setelah membeli tiket maka kami mulai memasuki TWA Angke Kapuk ini. Hal yang pertama akan kita jumpai adalah Masjid panggung diatas air disebelah kiri jalan. Jadi untuk pengunjung yang ingin beribadah sholat tidak perlu khawatir. Saya lihat tempat wudhunya juga ada di pinggir jalan dan airnya mengalir. Saat saya pulang setelah berkeliling saya melihat ada beberapa pengunjung yang sholat di Masjid ini.

Masjid di TWA Angke

Masjid di TWA Angke

Pintu Masuk TWA Angke

Pintu Masuk TWA Angke

Tidak lama kemudian setelah berjalan sekitar 20 meter maka kita akan tiba di pos berikutnya. Di pos ini pengunjung bisa menitipkan tas jika merasa berat untuk harus dibawa-bawa. Selain itu di area ini pengunjung bisa memarkir kendaraannya.

Di pos ini terdapat peta besar isi dari TWA Angke Kapuk. Juga terdapat tanda-tanda larangan yaitu:
- Dilarang membawa makanan dari luar
- Dilarang membawa kamera
- Dilarang membawa hewan peliharaan

Kamera dilarang dibawa akan tetapi handphone atau smartphone berkamera diperbolehkan. Jika ingin membawa kamera maka dikenakan biaya Rp. 100.000,00

Setelah melewati pos penitipan barang/tas maka kita mulai memasuki area TWA Angke Kapuk ini. Jalan nya terpecah dua antara lurus ke jembatan besar atau belok kanan ke arah kantin, gedung aula, dan juga camping house. Saya dan teman saya memilih belok kanan.

Sambil jalan saya bisa melihat papan tulisan keterangan nama pohon-pohon disisi jalan masuk TWA. Sayangnya tulisan keterangan tersebut sudah tidak terlalu terawat.

Kemudian tidak lama kami tiba di area dekat kandang monyet. Kandangnya walau berjeruji juga diberi kawat jaring sehingga tangan si Monyet tidak bisa keluar. Beda dengan kondisi dahulu, kata Sari, dahulu belum ada jaring kawatnya sehingga si Monyet bisa mengambil atau menjambret barang milik pengunjung.

Saya tidak terlalu suka berada dekat kandang Monyet tsb. Saya kasihan melihatnya. Saya lebih senang jika monyet tersebut dilepaskan saja, mungkin bisa dilepaskan di area konservasi lainnya di hutan, tapi tidak di kawasan TWA Angke yang sudah ramai dan tidak ramah bagi monyet-monyet tersebut.

Monyet lucu

Monyet lucu

Dari area kandang monyet kami bergerak ke arah kantin dan area duduk-duduk depan kantin. Kalo saya perhatikan di depan kantin adalah gedung pertemuan atau semacam aula, dan di depannya banyak bangku-bangku untuk duduk-duduk.

Kita memang tidak boleh membawa makanan dari luar, tetapi sayangnya di Kantin hanya menjual makanan ringan dan minuman. Tidak ada menu makanan yang bisa untuk makan siang.  Ada tulisan Rumah Makan di petunjuk arah, tapi saya tidak menemukannya. Kebetulan kami tidak menghabiskan waktu seharian disini, saat makan siang kami putuskan untuk  makan siang di Mall baru depan Budha Tzu Chi yaitu PIK Avenue Mall.

Setelah puas foto-foto dan istirahat duduk duduk di area rumah makan maka kami lanjutkan jalan kembali. Di persimpangan ada petunjuk arah. Maka kami menyusuri jalan sesuai petunjuk arah ke arah lokasi perkemahan. Sambil saya ke toilet dulu. Toiletnya untungnya lumayan bersih dan airnya mengalir.

Di lokasi Wisata Alam ini tersedia pula arena bermain, terutama untuk kegiatan Outbond. Nampaknya TWA Angke ini dibuat sebagai tempat outbond yang letaknya masih di dalam kota Jakarta tidak perlu harus pergi ke Puncak, Cisarua dan lain-lainnya.

Selanjutnya kami menyusuri jalanan yang terbuat dari kayu atau bambu. Jalanan ini menuju rumah perkemahan diatas air. Jika saya perhatikan beberapa bangunan sudah dimakan usia sehingga beberapa sedang direnovasi atau diperbaiki. Demikian jalanan yang terbuat dari kayu juga sudah banyak dimakan usia dan mulai digantikan dengan bambu.

Saya menikmati pemandangan dengan menyusuri bangunan perkemahan yang berjajar menarik. Selain itu didepannya juga terdapat tanaman bakau yang merupakan sumbangan penanaman dari berbagai institusi seperti perusahaan, sekolah maupun perorangan.

Saya menyusuri jalan-jalan kayu yang menghubungkan dengan rumah-rumah penginapan untuk camping. Sayangnya di beberapa titik saya mencium aroma tidak sedap alias bau sampah. memang akhirnya saya temukan beberapa area penuh dengan sampah plastik dan botol bekas minuman. Pemandangan tentu menjadi tidak sedap dan menarik lagi buat saya yang sangat gandrung akan kebersihan :(

Setau saya pengelola TWA Angke Kapuk ini adalah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta yang berada di bawah naungan Kementerian Kehutanan RI bukan di bawah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Saya tau setelah baca di http://www.bksdadki.com/index.php/page/organisasi

Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 6187/KPTS-II/2002 tanggal 10 Juni 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Tugas pokok Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta adalah melaksanakan pengelolaan kawasan Suaka Margasatwa, Cagar Alam, Taman Wisata Alam dan Taman Buru serta konservasi tumbuhan dan satwa liar didalam dan diluar kawasan.

Sehingga pantas saja terlihat bedanya untuk pengelolaan TWA ini. Kebersihannya tidak sebaik pengelolaan kebersihan oleh PemProv DKI Jakarta. Demikian pula terkait tiket masuknya yang menurut saya relatif mahal.

Saya bersama Sari dan Rido berkeliling lokasi TWA Angke ini terutama area perkemahan. Walau saat itu hari kerja akan tetapi ada juga pengunjung lain yang datang ke lokasi wisata ini. Ada beberapa keluarga dan ada pula muda mudi yang bersama pasangan atau teman-temannya menikmati kawasan hutan mangrove tersebut.

Setelah puas berkeliling selama beberapa jam maka kami memutuskan untuk mengakhiri kunjungan kami di TWA ini. Saya tidak mencoba untuk melihat menara pemantau untuk melihat burung dan lain-lain. Saya juga tidak mencoba berperahu karena selain panas saya juga sudah melihat spot-spot kotor, yang langsung bikin ill feel. Saya memang gitu orangnya, kalo liat yang kotor-kotor jadi nge-drop. Saya melihat secara umum tempat wisata ini menarik namun perlu dikembangkan lebih jauh.

Selain itu saya juga udah mulai capek dan kepanasan. TWA ini kan berlokasi dipinggir laut disebelah utara Jakarta. Sementara saya orang dari Selatan Jakarta (Jakarta Coret) yang dingin hehehhee (alesan aja padahal emang udah tua jadi cepet capek …) Apalagi waktunya sudah siang waktunya untuk makan siang, para cacing di perut sudah demo walo aksinya damai. Incaran kami adalah nyobain maksi di PIK Avenue Mall sebuah mall yang katanya baru berdiri di kawasan PIK itu beberapa bulan lalu.

Secara umum review saya untuk wisata ke TWA ini adalah:

  1. Lokasinya sangat mudah untuk dijangkau dan biaya transportasinya relatif murah. Jalan kaki dari perhentian TJ ke lokasi TWA tidak lah jauh. TJ tujuan ke PIK juga sangat mudah diakses dari Halte TJ Stasiun Jakarta Kota.
  2. Sebenarnya lokasi wisata ini bisa menjadi alternatif pilihan wisata alam di Jakarta. Tapi sayangnya ketika kita sudah dilokasi tidak banyak hal yang menarik untuk dinikmati. Hanya pemandangan hutan mangrove saja. Binatang yang ada di alam liar juga tidak ada yang bisa dilihat, arena bermain ya hanya arena outbound saja. Tempat ini sepertinya hanya cocok untuk acara Camping atau perkemahan yang sudah diatur oleh EO atau sejenisnya.
  3. Tiket masuknya tidak kompetitif. Harga tiket terlalu mahal jika dibandingkan dengan fasilitas di dalamnya. Belum lagi banyak larangan dan biaya tambahan yang dikenakan, seperti larangan membawa kamera non handphone, larangan membawa makanan dari luar tapi di dalam variasi pilihan makanan tidak banyak. Akan lebih baik jika harga tiket diturunkan dan fasilitas didalamnya ditambah, terutama akan lebih menarik jika ada pusat kuliner.
  4. Kondisi lingkungan kotor dan kurang terawat. Menurut saya faktor kebersihan harus menjadi perhatian. Bagaimana bisa menarik pengunjung jika lokasi obyek wisata itu tidak menarik dan kotor. Dimasa mendatang TWA ini akan bersaing dengan Mall PIK Avenue yang lokasinya tidak jauh dari TWA ini. Memang antara TWA dam Mall tidak apple to apple akan tetapi Mall bisa jadi pilihan hang-out atau berlibur warga PIK karena gratis tidak ada tiket masuk, lebih nyaman karena dingin pake AC serta pilihan makanannya juga banyak. Artinya dengan uang harga tiket Rp. 25.000 TWA akan menjadi tidak kompetitif.

Semoga pihak BKSDA DKI Jakarta sebagai pengelola TWA Angke Kapuk bisa mengevaluasi kondisi ini untuk menjadi perbaikan dimasa mendatang.

Sampai jumpa di wisata dan jalan-jalan saya yang lainnya…. :)

 

 

 

banner

Jalan-jalan ke Chinatown Part 2

Setelah pada tanggal 26 November 2016 saya mengikuti trip jalan-jalan ke Chinatown di Jakarta yang diadakan oleh ITDP — didukung oleh Transjakarta, Kopi Oey, Trafi, dan Melu (Cerita lengkapnya bisa dibaca disini), maka pada tanggal 3 Desember 2016 saya kembali mengunjungi kawasan Chinatown tersebut bersama teman-teman.

Jadi ceritanya, gara-gara saya posting foto di Instagram dan Facebook tentang perjalanan ke Chinatown dengan ITDP itu ternyata membuat beberapa orang teman saya “pengen” dan tertarik untuk mengunjungi kawasan Chinatown juga. Terutama teman saya dulu di saat masih kerja di Bukopin si Sari (Yulia Sari) dan juga teman-teman saya di JASMEV seperti Tata dan Sinta.

Sist Tata usul agar saya membuat Trip yang serupa dan dengan Trip yang diselenggarakan oleh ITDP itu. Selain tertarik dengan wisata kulinernya, lokasi yang dituju tidak jauh alias masih di Jakarta. Selain itu biaya nya juga relatif murah, tidak butuh biaya yang mahal. Saya pun menyetujui ide tersebut dan bersedia untuk menjadi “pemandu” nya berbekal pengalaman ikut Trip sebelumnya.

Akhirnya saya hubungi Sari untuk ajak dia, Sari kemudian mengajak Rido (puteranya) dan Ririn (temannya). Sementara Sist Tata kemudian mengajak teman JASMEV yang lain seperti Sinta, Tika, Natalia dan Selvi. Akhirnya kami ber-sembilan akan menuju kawasan Petak Sembilan. Coba tanggalnya pas tanggal 9 juga… :D

Peserta Trip tanggal 3 Desember 2016 (satu hari setelah aksi damai 212) akhirnya terdiri dari:
- Saya Harri Baskoro Adiyanto.
- Sist Tata : Hartawati Rosmery
- Sist Sinta: Yasinta Wirdaningrum
- Sist Sari: Yulia Sari
- Rido Ghordiyan
- Sist Ririn
- Sist Natalia: Yuliana Natalia
- Sist Tika: Tika Murtika
- Sist Selviana

Ada 9 orang peserta sebagian besar adalah wanita alias emak-emak hahahahaha dan yg cowok cuma saya dan Rido. Seru juga nih saya “kembali” pergi bersama wanita :) Pergi jalan-jalan bersama dengan wanita bukanlah pengalaman pertama buat saya. Pasti selalu menarik dan “rame” ;)

Sebelum hari-H, kita sepakat untuk menggunakan rute yang sama dengan Trip ke Chinatown yang saya ikuti sebelumnya. Namun perbedaannya di Titik Kumpul awalnya, kami sepakat kumpul di stasiun Jakarta Kota.

Peta Trip Chinatown2

Peta Trip Chinatown2

Jadi rute yang akan dituju adalah:
Start – Stasiun Kota
1. Halte TJ Glodok
2. Gang Gloria
Petak 9
3. Vihara Toa Se Bio
4. Gereja St. Maria De Fatima
5. Vihara Dharma Bhakti
6. Candra Naya
End – Maksi di Kopi Oey.

 

Stasiun Kota (ngumpul)

Kami berencana untuk berkumpul di stasiun Jakarta Kota jam 08.00 Pagi. Darimana pun datangnya kita sepakat untuk kumpul di stasiun Jakarta Kota, hal ini dimaksudkan agar kita kompak pergi bareng ke kawasan Gang Gloria-nya. Jadi kita kumpul dulu di stasiun Jakarta Kota. Selain itu dilokasi ini juga menarik, karena penyeberangan dari stasiun ke Halte TJ nya berada di bawah tanah (underground) dan ada taman ditengahnya yang dihiasi payung-payung. Kami sepakat untuk foto-foto dulu disitu.

Pagi itu kami mulai kumpul sekitar pukul 08.00 namun sayangnya Kereta Api saya dari Depok mengalami keterlambatan, karena masuk ke stasiun Jakarta Kota nya mesti gantian. Demikian pula Sist Natalia yang juga naik Kereta dari Depok juga berada di belakang kereta saya.

Saya sampai di lokasi duluan, kemudian tidak lama Sari dan Rido datang. Disusul oleh Sist Tika dan Sist Selvi dan kemudian Sist Ririn juga muncul. Sist Natalia juga kemudian datang setelah keretanya bisa masuk Stasiun Jakarta Kota.

Sambil menunggu Sist Tata dan Sist Sinta, maka kami pun mulai sibuk foto-fotoan di lokasi taman payung. Tidak lama sist Tata dan Sinta bergabung dan juga ikut foto-foto dulu. Baru sekitar jam 08.30 kami bergeser ke halte TJ Kota. Sebenarnya ke Glodok bisa juga ditempuh naik Mikrolet dari stasiun Jakarta Kota tapi saya males naik Mikrolet soalnya pake nyari yang muat ber-9 dan nggak ngetem. Jadi kami pun naik Transjakarta saja.

 

Gang Gloria

Tujuan kami dari stasiun Kota adalah Halte TJ Glodok. Halte TJ Glodok dari Stasiun Kota sih ga jauh. Deket banget malah, hanya satu halte saja. Abis naik TJ, bus jalan, perhentian berikutnya maka kita langsung turun hehehehe

Sekitar pukul 08.55 WIB kami tiba di halte Glodok, disitu kami turun dan lagi-lagi kami sempatkan swafoto di lokasi tangga penyeberangan TJ tersebut. Pokoknya seru banget deh… belum sampe di lokasi gang Gloria kami udah banyak koleksi fotonya :)

Dari halte TJ Glodok kami berjalan menuju gang Gloria. Lokasinya tidak terlalu jauh. Tidak sampai sepuluh menit kami sudah tiba di gang Gloria yang kuliner nya termasyur itu :) Teman-teman langsung saya perlihatkan dengan deretan kuliner yang ada di Gang Gloria. Tidak semua teman saya tidak pernah ke Gang Gloria, beberapa diantaranya sudah sangat paham dan tau tentang kuliner di gang Gloria ni.

Saya ajak teman-teman kemudian duduk dan memesan makanan di food court paling ujung di gang Gloria. Lokasi yang sama dengan Trip yang saya ikuti sebelumnya. Saya suka ditempat ini sebab dekat dengan cakwe incaran saya hahahaha

Sekitar jam 09.00 WIB kami sudah duduk di Food Court Gang Gloria dan sibuk memesan makanan.

Sarapan di Gang Gloria yang terkenal itu

Sarapan di Gang Gloria yang terkenal itu

Teman-teman di lokasi ini kemudian mulai memesan makanan untuk sarapan. Ada yang memesan Gado-Gado Direksi, yang katanya terkenal dan enak. Saya sih tidak terlalu suka dengan gado-gado. Ada yang memesan Mie Ayam Cah Jamur. Ada juga yang memesan Kari Sapi. Pokoknya semua bebas memilih makanan yang dipesannya lha wong yang bayar juga mereka sendiri kok :)

Saya sendiri bukan tipe orang yang muat sarapan pagi banyak-banyak. Jadi saya sarapan cakwe aja. Saya senang sekali cakwe di Gang Gloria ini. Harganya Rp 3000 per batang. Saya beli 10 batang dan kita makan ramai-ramai. Tapi yang paling doyan dan banyak makan cakwe-nya sih saya hehehee

Selesai sarapan sekitar jam 09.50 maka kita pun lanjut berjalan ke daerah kawasan petak 9. kita menyusuri pasar dikawasan tersebut untuk menuju Vihara Toa se Bio.

 

Vihara Dharma Bhakti

Diperjalanan saya berubah pikiran untuk tidak mengikuti jalan potong lewat gang seperti halnya Trip sebelumnya. Saya khawatir tidak hapal dengan jalan gangnya yang kecil dan berkelok-kelok. Akhirnya saya ikuti saja jalan besar di pasar petak 9. Akibatnya lokasi yang kita kunjungi pertama adalah Vihara Dharma Bhakti.

Kita jadi muter, bukan ke vihara Toa Se Bio dulu akan tetapi malah ke vihara Dharma Bhakti. Tapi tidak apa-apa, karena lokasi ini semua berdekatan. Cuma akibatnya rutenya jadi bolak-balik karena nanti akan ke Candra Naya.

Di Vihara Dharma Bhakti kita asyik foto-foto dan melihat-lihat aktivitas ibadah disana. Saya sempat melihat seorang bapak melepaskan burung-burung.

Melepas Burung di Vihara Dharma Bhakti

Melepas Burung di Vihara Dharma Bhakti

Setelah saya posting di FB teman saya Lie Na Lioe menjelaskan maksud dari ritual melepas burung ini:

“Salah satu ritual utk buang hal-hal buruk. Biasanya dilakukan oleh yg shionya tjiong atau bertentangan di tahun tertentu. Mungkin yg di gambar ini shionya tjiong atau bertentangan dgn tahun ayam ( kebetulan next year adalah th ayam). Dari mana kita mengetahui shio kita bertentangan atau tjiong? Bisa minta daftarnya di klenteng tempat kita biasa sembahyang. Biasanya selain burung juga ada yg melepas ikan. Ada pula nanti ritual upacaranya yg dipimpin seorang pemuka agama…”.

Dari wisata ini saya jadi memperoleh banyak informasi dan pengetahuan baru, sehingga tidak hanya menikmati makanan yang enak-enak saja alias wisata kuliner saja.

 

Gereja St Maria de Fatima

Destinasi berikutnya adalah Gereja St Maria de Fatima yang lokasinya tidak jauh dari vihara Dharma Bhakti alias masih di Jl. Kemenangan juga. Sesampainya di lokasi saya disambut dengan ramah dengan bapak yang jaga diparkiran. Kami ditanya ingin beribadah atau ingin melihat-lihat/berkunjung. Saya sampaikan bahwa kami ingin melihat-lihat. Oleh si Bapak saya diantarkan ke dalam. Sebelumnya saya tanya, apakah kami tidak apa-apa jika masuk ke dalam? Si Bapak bilang, tidak apa-apa. Maka kamipun masuk ke dalam.

Suasana di dalam Gereja St. Maria De Fatima

Suasana di dalam Gereja St. Maria De Fatima

Di dalam ternyata sedang ada jemaat atau pengurus gereja yang sedang beres-beres. Ibu-ibu itu sepertinya sedang merapihkan atau bebenah settingan dekor di area depan atau mimbar gereja. Saya tidak tau persis nya sebab saya tidak mampir ke depan, yang bicara adalah teman-teman saya para wanita. Saya pikir sesama ibu-ibu akan lebih nyambung hehehehee dan nampaknya benar sih, mereka bisa cepat nge-blend, alias ngobrol dan ketawa-ketawa. Para ibu-ibu pengurus Gereja itu ramah dan welcome sekali dengan kami para pengunjung.

Selesai foto-foto dan liat-liat gereja St Maria de Fatima ini maka kami pamit pulang dan berterimakasih sudah boleh berkunjung dan diperkenankan liat-liat. Sebelum kami meninggalkan Gereja kami masih sempatkan diri untuk foto-foto dulu di area halaman Gereja.

 

Vihara Toasebio

Lanjut kunjungan kami diteruskan ke Vihara Toa Se Bio yang juga masih di Jl. Kemenangan. Harusnya Vihara ini yang pertama akan kami datangi. Namun karena saya ambil jalan memutar maka Vihara ini justru didatangi belakangan.

Seperti halnya dilokasi lain maka di Vihara ini kami juga langsung melihat-lihat dan tentu saja mengambil foto.

Di vihara ini saya bertemu dengan adik-adik mahasiswi dari Kampus UMN yang sedang mengerjakan tugas. Tugas mereka adalah melakukan wawancara kepada para pengunjung destinasi wisata di kawasan Chinatown dan menanyakan hal-hal terkait dengan kondisi Indonesia akhir-akhir ini. Mereka awalnya meminta teman saya untuk diwawancara, tapi teman saya tidak bersedia. Akhirnya saya yang bersedia untuk diwawancara mereka. Itung-itung saya sampaikan pandangan saya tentang kondisi Indonesia saat ini, masalah keberagaman dan kunjungan wisata kami hari ini. Semoga wawancara dengan saya itu dapat membantu mereka dalam memenuhi tugas perkuliahan mereka.

 

Candra Naya

Setelah puas di Vihara Toa Se Bio maka perjalanan kami siang itu kami lanjutkan ke Candra Naya. Kami harus kembali ke arah Vihara Dharma Bhakti untuk menuju ke Candra Naya. Kasihan juga Rido mulai capek dan demikian pula teman-teman. Perjalanan kita lumayan melelahkan juga hari ini.

Jalan Menuju Candra Naya

Jalan Menuju Candra Naya

Setelah berjalan lumayan capek maka kami sampai juga di Candra Naya. Bangunan bersejarah yang minggu sebelumnya saya sudah kunjungi juga dan saya masih sesali sampai sekarang karena harus menerima “dikangkangi” dua bangunan menara di kanan kirinya :( Candra Naya adalah bangunan cagar budaya yang menurut saya tidak selayaknya dipaksa “tenggelam’ diantara angkuhnya dua bangunan modern.

Sayangnya hari itu kami tidak bisa masuk ke dalam Candra Naya. Kata satpamnya hari itu Candra Naya tidak dibuka. Padahal minggu lalu saya datang dengan rombongan dari ITDP bangunan itu buka. Kata satpam yang berjaga disana karena minggu lalu yang datang adalah rombongan jadi Candra Naya di buka. Entah bener atau ngga saya juga ga yakin pasti, yang jelas ini menambah kejengkelan saya pada pengelola Candra Naya.

Untungnya kami masih bisa foto-foto di terasnya. Begitu juga di kolam bagian belakang. Teman-teman bisa puas untuk berfoto di area ini. Saya agak kecewa juga bawa teman-teman ke Candra Naya tapi ternyata tidak bisa masuk. Baru tau juga ternyata Candra Naya tidak dibuka secara bebas.

Pose di Depan Candra Naya

Pose di Depan Candra Naya

 

Maksi di Kopi Oey

Selesai dan puas foto-foto perut mulai lapar lagi, ternyata sudah waktunya jam makan siang. Seperti trip sebelumnya maka saya ajak teman-teman makan di Kopi Oey juga. Sebenarnya di lokasi Candra Naya ada restoran lain, tapi karena saya sudah familiar dengan Kopi Oey dari kunjungan sebelumnya maka saya ajak teman-teman untuk kesitu aja. Lain waktu jika berkunjung kesana lagi saya akan coba resto yang lain.

Kopi Oey di Candra Naya

Kopi Oey di Candra Naya

Kami lumayan lama juga di Kopi Oey selain untuk makan siang, kami juga beristirahat karena kaki pegel sudah jalan lumayan jauh dan juga ngecharge hape.

Foto yg Indah Karya mbak Yasinta Wirdaningrum

Foto yg Indah Karya mbak Yasinta Wirdaningrum

Sekitar pukul 13.00 kami membubarkan diri. Saya dan sist Natalia memisahkan diri dengan teman-teman yang masih asyik foto-foto di kolam Koi dibelakang. Saya dan Natalia jalan ke halte TJ Olimo dan naik TJ ke Stasiun Kota untuk naik Kereta ke Depok. Sayangnya perjalanan kita berdua pulang ke Depok agak terhambat di Stasiun Tebet karena ada gangguan pada saluran listrik di Stasiun Pasar Minggu Baru yang terkena batang pohon yang tumbang. Saya sampai rumah akibatnya sudah sore.

Hari itu saya hanya keluar uang untuk ongkos berwisata ke Chinatown di Jakarta cukup murah. Naik Kereta tiketnya Rp. 4000 dari Depok ke Stasiun Kota. Demikian pula pulangnya. Sedangkan tiket Transjakarta dari Stasiun Kota ke Glodok Rp. 3500,- demikian pula dari halte TJ Olimo ke Stasiun Kota. Ongkos yang sedikit lebih mahal adalah ongkos ojek online dari rumah ke stasiun Pondok Cina (saya naik kereta selalu dari stasiun pondok cina).

Secara umum wisata kuliner kami hari ini relatif murah dan terjangkau sekali. Tidak perlu biaya mahal untuk wisata kuliner ini dan lokasinya pun tidak terlalu jauh masih di Jakarta juga. Seru banget wisata ini, next kami akan jelajahi tempat lain.

 

Sampai Jumpa di wisata kami berikutnya …

 

 

Banner

Membuat Surat Keterangan Tidak Pailit di Pengadilan Niaga Jakarta

Sehubungan dengan proses seleksi disebuah institusi maka saya jadi berkenalan dengan “Surat keterangan tidak pailit dari Pengadilan Niaga” :) Sebelumnya saya tidak pernah berurusan dengan surat ini, karena lazimnya bagi masyarakat umum yang dimintakan untuk proses seleksi biasanya adalah SKCK, atau yang “aneh” dimintakan adalah paling Surat Keterangan Tidak Di Pidana dari Pengadilan Negeri setempat.

Ternyata “Surat keterangan tidak pailit dari Pengadilan Niaga (selanjutnya saya sebut “SURAT KETERANGAN“)” ini menjadi persyaratan di institusi tersebut akibat “salah ketik” dalam dasar hukum institusi mereka. Seharusnya Surat Keterangan ini hanya disyaratkan bagi pelamar yang berasal dari unsur pengusaha bukan masyarakat biasa. Berhubung sudah ditulis dalam dasar hukum mereka maka mau tidak mau semua pelamar terpaksa memenuhi persyaratan Surat Keterangan ini :)

“Unik” nya lagi persyaratan Surat Keterangan ini tidak dimintakan ketika sudah dipastikan diterima, akan tetapi harus dipenuhi saat sudah melewati tahap psikotes. Padahal setelah selesai Psikotes pun tidak berarti dipastikan para pelamar diterima. Jadi menurut saya persyaratan di institusi ini lumayan aneh daripada institusi yang lain :)

Oh ya hati-hati lho…. “Surat keterangan tidak pailit dari Pengadilan Niaga” ini berbeda dengan Surat Pernyataan Pailit … jangan sampe ketuker.

 

PERSYARATAN

Langkah pertama yang saya lakukan ketika mengetahui saya disyaratkan untuk menyerahkan Surat Keterangan ini adalah mencari tau dimana saya bisa mendapatkan surat keterangan ini. Ternyata surat keterangan ini diterbitkan oleh Pengadilan Niaga. Untuk wilayah Jakarta Pengadilan Niaga berada di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Saya kemudian mencari informasi syarat untuk mendapatkan Surat Keterangan ini apa saja. Ternyata saya cari di website http://pn-jakartapusat.go.id informasi itu tidak ada dan saya tidak bisa peroleh. Terpaksa saya browsing atau Googling untuk cari referensi persyaratannya. Hasilnya saya temukan di http://www.pn-medankota.go.id/mdn/index.php/informasi-publik/permohonan-surat-keterangan-tidak-pailit

Persayaratan dalam website PN Kota Medan itu menjadi referensi bagi saya dalam mempersiapkan dokumen untuk mendapatkan Surat Keterangan. Syarat-syarat untuk mengajukan surat keterangan tidak pailit itu antara lain :
1. Surat permohonan dari Pemohon.
2. Surat pernyataan
- “Tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap” yang ditandatangani oleh Pemohon diatas materai Rp. 6.000,-
- “Tidak memiliki Tanggungan Hutang yang dapat merugikan keuangan negara” yang ditandatangani oleh Pemohon diatas materai Rp. 6000.
3. Pasphoto berwarna ukuran 3×4 sebanyak 4 (empat) lembar.
4. Fotocopy KTP sebanyak 2 (dua) lembar.

Tapi ternyata ketika saya datang ke PN Jakarta Pusat baru saya ketahui bahwa syaratnya yang lengkap adalah:
1. Surat permohonan dari Pemohon.
2. (Cukup) Surat pernyataan Tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap” yang ditandatangani oleh Pemohon diatas materai Rp. 6.000.
3. Foto Copy Kartu Keluarga
4. Foto Copy SKCK
4. Pasphoto berwarna ukuran 3×4.
4. Fotocopy KTP.
Semua dokumen tersebut dibuat 4 rangkap.

Untuk persyaratan Surat permohonan dari Pemohon jika membutuhkan contohnya bisa di download DISINI.

Seperti halnya pengalaman saya mengurus surat keterangan tidak di pidana di PN Depok sebagaimana pernah saya ceritakan DISINI
Kembali lagi untuk mendapatkan Surat Keterangan tidak pernah pailit maka pemohon diharuskan membuat “Surat pernyataan Tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap” yang ditandatangani oleh Pemohon diatas materai Rp. 6.000.”
Aneh ga sih? :)
Sama seperti Surat Keterangan tidak pernah di pidana si pemohon harus membuat Surat Pernyataan tidak pernah di Pidana.
Lha kita ke pengadilan itu kan tujuannya untuk mendapatkan surat keterangan tersebut tapi untuk mendapatkannya kita harus membuat surat pernyataan yang intinya kita tidak pernah pailit atau di pidana… Sumpah kocak!! :)
Sama seperti ketika mengurus SKCK ada aplikasi yang harus diisi yang isinya kita menyatakan tidak dalam proses hukum di Polisi hehehehe… :)  lha kan harusnya Polisi yang periksa di database-nya, si pemohon ini terlibat proses hukum atau tidak. Demikian juga Pengadilan kan harusnya mereka yang periksa dan cek di database mereka. Jadi kenapa mereka yang minta pernyataan dari pemohon?

Contoh Surat Pernyataan Tidang Sedang Dinyatakan Pailit bisa dilihat DISINI

 

PROSES PENGAJUAN

Senin 5 Desember 2016 sore hari menjelang pukul 16.00 WIB kebetulan saya ada keperluan dan bisa mampir di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat di Jalan Bungur Besar No 24,26,28 Kemayoran, Jakarta Pusat. Saya masuk ke Pengadilan dan sebutkan keperluan saya di resepsionis, saya mesti tuker KTP saya dengan ID Card agar bisa masuk. Saya diarahkan untuk naik ke lantai 6 untuk ke Panitera PN Niaga bertemu dengan seorang petugas disana.

Setelah saya naik ke lantai 6, saya sampaikan pengajuan permohonan saya sesuai dengan syarat-syarat yang saya peroleh di website PN Kota Medan. Hasilnya menurut petugas itu aplikasi permohonan saya masih belum lengkap masih belum ada SKCK dan Kartu Keluarga nya. Duh nyesel banget saya ga bawa dua dokumen itu, padahal biasanya ada di map saya komplit. Terpaksa saya balik lagi deh besoknya.

Si petugas sampaikan juga bahwa besok saya tidak perlu kembali ke lantai 6 untuk ajukan aplikasi ini. Saya diarahkan untuk langsung saja ke ruangan Bagian Umum. Ruangan Bagian Umum itu berada di lantai dasar, jika kita masuk ke lobby gedung PN Jakpus maka ruangan itu ada disebelah sisi kanan, kemudian masuk pintu pertama di sebelah kiri. Petugas itu juga sampaikan bahwa biasanya surat keterangan itu selesai dalam 1-2 hari.

Esoknya Selasa tanggal 6 Desember 2016 saya kembali lagi ke PN Jakarta Pusat dengan membawa dokumen komplit dan sesuai arahan maka saya langsung ke ruangan Bagian Umum. Sesampainya disana saya diterima di loket oleh seorang pria. Sesampainya disini lagi-lagi persyaratan baru diberitahukan, yaitu saya harus buat aplikasi dalam 4 rangkap. Ada dokumen yang saya sudah miliki copy-nya seperti SKCK dan KTP tapi untuk Surat permohoan dan surat pernyataan saya tidak punya copy-nya. Sehingga untuk keperluan ini saya terpaksa harus fotokopy lagi dokumennya.

Untungnya di PN Jakpus ada tempat fotocopy, yaitu terletak di Basement di area parkir mobil. Akses tempat Fotocopy bisa lewat dari pintu keluar lobby ada tangga turun ke bawah disebelah kiri. Tapi saya lebih suka lewat sisi kanan gedung melalui jalanan kendaraan karena langsung ke lokasi tempat Fotocopy. Biaya fotocopy di PN Jakpus per lembar Rp 200.

Selesai saya fotocopy maka saya kembali ke petugas di bagian umum untuk serahkan 4 rangkap aplikasi permohonan itu. Semua diperiksa kembali dan dipilah oleh petugasnya satu persatu dan kemudian distreples.Oh ya, walaupun katanya disyaratkan fotocopy Kartu Keluarga tapi saya lupa membawa nya dan oleh si bapak petugas juga tidak ditanyakan, jadi ya saya cuek aja :)

Ternyata satu berkas aplikasi di tandatangani oleh petugas itu dan diberi nomor registrasi penerimaan dan nomor telepon. Tau gitu ga usah dibuat 4 rangkap ya? cukup saya buat 3 rangkap aja. Untuk tanda penerimaan alangkah lebih praktis, efisien dan ekonomis jika cukup dengan kertas selembar yang berisi informasi nomor registrasi penerimaan, nomor telepon dan nama petugas yang bisa dihubungi dan kapan waktu Surat Keterangan bisa diambil.

Aplikasi permohonan

Aplikasi permohonan

Si petugas memberikan berkas copy aplikasi itu sambil katakan: “ini berkas dibawa sebagai tanda pengambilan dan nomor telepon untuk menanyakan apakah Surat Keterangan sudah selesai”. Jadi mereka tidak bisa memastikan kapan surat keterangan itu selesai. Saya disuruh menelpon untuk tanyakan apakah surat sudah selesai.

 

SURAT KETERANGAN AKHIRNYA SELESAI

Setelah Selasa 6 Desember 2016 saya masukkan permohonan maka Kamis saya tanyakan melalui nomor telepon yang diberikan apakah surat keterangan sudah jadi. Dari penjelasan di telepon disebutkan bahwa Bagian Umum sudah meneruskan permohonan itu ke Panitera Pengadilan Niaga. Tapi mereka tidak tau sampai sejauh mana sudah ditindaklanjuti. Telepon saya kemudian dialihkan ke bagian Panitera Niaga, ternyata yang bersangkutan sedang rapat.

Saya pikir ya sudah tidak perlu saya kejar-kejar deh. Biar aja saya tunggu toh instansi yang meminta belum mendesak dan meminta. Jadi saya pikir hari Selasa tanggal 13 Desember 2016 saya bisa ambil karena hari Senin tanggal 12 Desember 2016 adalah hari libur Maulid Nabi Muhammad SAW.

Ternyata saya salah, hari Jumat siang masuk pesan di Whatsapp bahwa Surat Keterangan itu harus diserahkan hari Selasa tanggal 13 Desember 2016 Jam 10.00 WIB. Wadooohh… terpaksa detik itu juga saya meluncur ke PN Niaga JakPus untuk menanyakan surat saya. Gapake telepon, langsung aja deh saya todong udah jadi atau belum.

Sampai di PN jakpus sudah sore, Saya langsung ke lantai 6 bertemu ibu petugas di bagian Panitera PN Niaga. Ternyata ketika bertemu beliau disampaikan bahwa sampai saat ini surat keterangan belum selesai, hal ini disebabkan pak Ketua PN Jakpus sedang rapat di Mahkamah Agung dan belum kembali. Saya disarankan menunggu sampai jam 5 sore di ruang pelayanan utama di lantai dasar. Ternyata di ruang pelayanan utama sudah banyak teman “senasib” peserta seleksi dari institusi yang sama yang juga sedang menunggu. Syukurlah saya jadi punya teman untuk ngobrol.

Ruang Pelayanan Utama

Ruang Pelayanan Utama

Sampai jam 05.00 kami menunggu belum ada tanda-tanda juga Surat Keterangan tersebut selesai. Akhirnya si ibu petugas dari PN Niaga turun dan menemui kami. Beliau sampaikan permohonan maaf karena surat keterangan tersebut belum selesai dan Bapak Ketua PN Jakpus nampaknya belum ada tanda-tanda kembali ke kantor.

Ruang Pelayanan Utama

Ruang Pelayanan Utama

Selanjutnya si ibu petugas itu janjikan bahwa Surat Keterangan itu akan siap Selasa pagi jam 08.00. Hal ini setelah dikonsultasikan dengan Staff pak Ketua PN Jakpus yang janjikan bahwa Surat Keterangan itu akan di tandatangani malam ini setelah Pak Ketua PN kembali dari rapat di Mahkamah Agung. Ya sudah mau bagaimana lagi, kami pun pulang sore itu.

Ruang Pelayanan Utama

Ruang Pelayanan Utama

Hari Selasa pagi kami kembali ke ruangan pelayanan utama menunggu si ibu petugas dari PN Niaga. Sekitar pukul 08.00 Surat keterangan kami sudah dibagikan. Setiap pemohon dipanggil satu persatu dan diminta untuk menunjukkan KTP nya. Jadi berkas aplikasi yang diberikan ke saya oleh petugas tempo hari tidak berguna sama sekali :) Tau gitu bener deh, mending tanda terima nya cukup kertas selembar aja dari pihak PN, jangan berkas aplikasi saya yang komplit. Untungnya berkas aplikasi itu walo sudah di streples masih bisa saya pake lagi. Sayang soalnya fotocopy-an SKCK dan KTP nya masih bisa dipake lagi.

Oh ya untuk pengurusan Surat Keterangan ini TIDAK DIPUNGUT BIAYA alias GRATIS! Tapi yang mahal ongkos jalannya … hehehehe :)
Setelah saya menerima Surat Keterangan tersebut maka saya langsung antarkan ke panitia seleksi, karena tenggat nya adalah jam 10.00 WIB. Beruntung sekali saya masih bisa mengejar tenggat waktu tersebut.

 

Berikut ini adalah penampakan Surat Keterangan yang keramat tersebut :)

Surat Keterangan Tidak Pailit

Surat Keterangan Tidak Pailit

 

TIPS MENUJU PN. JAKPUS

Buat yang belum tau lokasi PN Jakarta Pusat yang baru adalah di: Jalan Bungur Besar No 24,26,28 Kemayoran, Jakarta Pusat. Kantor PN Jakpus ini adalah pindahan dari kantor lama di Jl. Gajah Mada yang sekarang sementara digunakan untuk PN Jakarta Utara.

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

Saya mau cerita akses ke lokasi Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan Kereta Commuter Line (KCL) dan Transjakarta. Kalo pengguna kendaraan pribadi sih abaikan saja, tinggal buka GPS juga ketemu kok.

Dengan KCL

Untuk Pengguna Kereta Commuter Line bisa turun di Stasiun Kemayoran untuk kemudian bisa jalan kaki ke Pengadilan Negeri. Memang lumayan sih kalo jalan kaki.

Atau jika sulit untuk ke stasiun Kemayoran karena dari arah Bogor atau Manggarai maka bisa juga turun di Stasiun Djuanda kemudian lanjut dengan ojek online ke PN Jakpus.

Pulang dari PN Jakpus jika ingin naik Kereta Commuter Line arah Manggarai maka bisa kembali ke stasiun Djuanda atau bisa juga ke stasiun Sawah Besar.

Dengan Trans-Jakarta (TJ)

Untuk menuju ke lokasi PN Jakpus, gunakan TJ rute Koridor 5 rute Kampung Melayu – Ancol atau 5E rute PGC – Ancol. Pokoknya Koridor 5 yang tujuannya ke Ancol. Kemudian turun di Halte Pasar baru Timur. Turun di Halte TJ kemudian jalan ke arah Golden Truly Farmers Market.

Sebenarnya bangunan gedung PN Jakpus ada di belakang SPBU Shell, sayangnya di SPBU itu tidak ada jalan tembus ke PN jakpus, jadi jalan paling cepet menurut saya potong jalan aja dari Golden Truly. Masuk ke Golden Truly atau Ruko disebelah Golden Truly, kemudian keluar lewat parkiran mobil di area belakang. Kenapa saya sarankan motong jalan lewat Golden Truly, karena kalo jalan kaki lewat jalan besar akan memutar dan jadi lebih jauh.

Saya hanya memberikan tips menuju ke PN Jakpus dengan KCL dan TJ, sedangkan untuk angkutan umum lainnya saya tidak mengetahui dan menguasai. Hanya saja memang lokasi Kantor PN Jakpus ini tidak jauh juga dari Terminal Senen. Sehingga seharusnya ada angkot yang lewat depan PN Jakpus.

 

Demikian cerita pengalaman saya membuat Surat Keterangan Tidak Pailit di Pengadilan Niaga Jakarta, semoga bermanfaat.

 

Pose bareng dgn bus TJ seri vintage PPD

Jalan-jalan ke China Town di Jakarta Bersama ITDP

Hari Sabtu, tanggal 26 November 2016 saya diajak bro Tora (teman saya di Forum Diskusi Transportasi Jakarta) untuk ikut acara jalan-jalan mengunjungi daerah Pecinan dengan menggunakan Transjakarta. Nama acaranya  Site Visit Busway (SVB) – Culinary Edition “Down to Chinatown”. Penyelenggaranya adalah: ITDP (Institute for Transportation & Development Policy) bekerjasama dengan: Transjakarta, Kopi Oey, Mélu Culinary Tours dan Trafi.

Saya sangat tertarik sekali untuk ikut serta. Apalagi lokasi yang akan dituju adalah wilayah Pecinan di Jakarta yang sangat menarik untuk dikunjungi baik untuk wisata sejarah maupun kulinernya. Titik pertemuan (meeting point) untuk trip ini adalah di halte Transjakarta Bundaran Senayan pukul 07.30 WIB.

 

Persiapan

Saya janjian dengan bro Tora untuk bertemu langsung di titik kumpul. Tepat pada hari H saya sudah tiba pagi hari di halte Transjakarta Bundaran Senayan sebelum waktunya. Sehingga saya masih bisa melihat-lihat kondisi di sekitar halte Transjakarta tersebut. Tidak lama bro Tora pun tiba, saya dan bro Tora sempat ngobrol-ngobrol sebentar.

Tidak lama kemudian rekan-rekan dari ITDP dan Transjakarta serta Trafi.id pun tiba dilokasi juga. Kami langsung mengisi absen. Selain itu ada pembagian goodies bag yang jumlahnya terbatas, saya sendiri tidak dapat karena untuk satu komunitas hanya diberi satu.

Saya juga berkesempatan berkenalan dengan peserta trip lainnya. Salah satunya saya berkenalan dengan bro Tommy Godfried, teman dari bro Tora. Selanjutnya dalam perjalanan kali ini kami jadi sering ngobrol bertiga.

Walau saya tidak mendapat goodies bag karena tiap peserta mendapatkan sebuah kartu Jakcard edisi Vintage Series Transjakarta yang PPD. Saldonya saya cek lumayan juga Rp. 50.000,- :) Tapi yang paling bikin saya senang seri edisinya yang vintage PPD itu lho, yang keren banget.

Kartu Jakcard versi edisi Vintage PPD Transjakarta

Kartu Jakcard versi edisi Vintage PPD Transjakarta

Selesai dibagikan goodies bag dan kartu Jakcard TJ maka kita masih menunggu rekan-rekan lain yang belum datang. Total peserta yang ikut saya ingat-ingat ada sekitar 20 sd 30 orang. Namun dari semua yang terdaftar nampaknya tidak semuanya hadir.

Sebelum memulai Trip kita mendapat sambutan dari pihak ITDP dan juga diperkenalkan dengan seluruh panitia yang akan memandu perjalanan pagi ini.

Persiapan sebelum perjalanan di Halte TJ Bundaran Senayan. Foto Courtesy: http://www.itdp-indonesia.org/svbchinatown/

Persiapan sebelum perjalanan di Halte TJ Bundaran Senayan.
Foto Courtesy: http://www.itdp-indonesia.org/svbchinatown/

Oh ya kabarnya kami akan menggunakan bus TJ edisi PPD vintage series yang hanya ada 2 unit itu. Wah saya makin senang sebab saya belum pernah naik bus TJ edisi vintage tersebut. Kesempatan nih naik bus TJ edisi PPD vintage.

 

Bus TJ Vitage PPD dengan Ejaan Lama :)

Bus TJ Vitage PPD dengan Ejaan Lama :)

Sekitar pukul 08.15 kami memulai perjalanan dengan menggunakan bus TJ edisi PPD vintage tersebut. Rutenya sama persis melalui jalur TJ koridor 1 rute Blok M – Kota, hanya bedanya kami tidak berhenti di setiap halte :) Diatas bus pihak ITDP kembali perkenalkan diri dan juga menjelaskan tentang ITDP, kemudian pihak Transjakarta juga memberikan penjelasan terkait kegiatan ini disusul dengan Trafi.id yang menjelaskan mengenai aplikasi Trafi.

 

Tiba di Glodok

Sekitar pukul 08.45 kami sampai di Halte TJ Glodok. Disana kami disambut pihak Mélu Culinary Tours. Kemudian kami berjalan kaki menuju Gang Gloria, melaui kawasan pasar glodok yang sudah sangat terkenal.

Setelah berjalan sekitar 300 meter maka sampailah kami di gang Gloria yang terkenal itu :)

 

Surga Kuliner di Gang Gloria

Terdapat beragam kuliner di gang Gloria ini. Seperti Nasi Campur, Mie Ayam, Pempek, Soto Betawi Afung, kopi Tak Kie, Gado-Gado Direksi, Cakwe dll

Di Gang Gloria peserta disuguhi kopi Tak Kie yang legendaris dari tahun 1927 itu, dan juga merasakan Cakwe gang Gloria yang enak banget. Saya suka banget cakwe, sehingga saya terpikir untuk harus kembali lagi kesini.

Oh ya karena ini adalah kawasan Pecinan maka kuliner di wilayah ini tidak semuanya adalah makanan halal. Sebaiknya sebelum membeli bertanya dahulu. Mereka akan dengan senang hati menjelaskan mana yang halal.

Selain itu untuk yang tidak terbiasa dengan kondisi jajanan atau kuliner ala jalanan atau pasar seperti di kawasan gang Gloria ini, maka lokasi ini bukan tempat ideal buat anda. Kalo saya sih masih ada makanan yang saya bisa makan disini, seperti Cakwe yang masih panas baru diangkat dari penggorengannya. Saya sendiri tipe penggemar chinesse food ala restoran seperti Njun Njan dan lain sebagainya.

 

Petak Sembilan

Selesai makan di Gang Gloria kemudian sekitar pukul 09.30 kami melanjutkan perjalanan menyusuri kawasan Petak Sembilan. Kami berjalan menyusuri pasar tradisional yang menjual teripang dan beragam bahan makanan khas masyarakat Tionghoa lainnya.

Kawasan Pasar di Jl. Petak Sembilan

Kawasan Pasar di Jl. Petak Sembilan

Jalanan di Pasar di Petak Sembilan ini sudah di beton, namun seperti layaknya pasar tradisional selain toko-toko permanen terdapat pula lapak-lapak yang tidak permanen dan berada di jalanan. Saya sih tidak terlalu suka dengan pemandangan pasar di Indonesia. So perjalanan menyusuri pasar ini saya ingin segera saja saya lalui :)

Toko Mampank, namanya sama ama Desa di Depok

Toko Mampank, namanya sama ama Desa di Depok

 

Vihara Toasebio

Setelah menyusuri pasar dan gang-gang sempit dalam pasar Petak 9, tiba-tiba kami sudah berada di Jalan Kemenangan III atau jalan Toosebiostraat (nama jalan jaman Belanda). Persinggahan pertama adalah Vihara Taosebio. Di lokasi Vihara ini kita sibuk foto-foto dan mengamati kondisi sekitar Vihara. Saya sendiri tidak banyak mengambil foto. Lebih banyak liat-liat saja.

Vihara Toa Se Bio

Vihara Toa Se Bio

Konon Vihara Toasebio pernah menjadi saksi bisu dari pembantaian kolonialisme Belanda terhadap etnis Tionghoa di Angke pada tahun 1740-an. Selain itu Kelenteng ini pernah dibakar Belanda dan dibangun lagi tahun 1751. Sehingga jika dihitung sejak didirikan tahun 1751 maka klenteng ini sudah berusia 265 tahun.

Vihara Toa Se Bio

Vihara Toa Se Bio

 

Gereja St Maria De Fatima

Dari vihara Toasebio kita lanjutkan perjalanan ke Gereja Katholik Santa Maria De Fatima. Jaraknya dari vihara tidak terlalu jauh. Jalan kaki hanya sekitar 50 meter saja. Gereja ini unik karena aristekturnya bernuansa tionghoa.

Gereja St Maria De Fatima

Gereja St Maria De Fatima

untuk mengetahui informasi seputar gereja ini secara lebih detail bisa di buka di  http://www.santamariadefatima.org/

 

Vihara Dharma Bhakti

Dari Gereja Santa Maria de Fatima perjalanan dilanjutkan ke Vihara Dharma Bhakti.  Vihara ini dibangun pertama kali pada tahun 1650 dan dinamakan Kwan Im Teng. Kata Kwan Im Teng kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi klenteng.

Kelenteng ini dipugar pada tahun 1755 oleh Kapitan Oei Tji-lo dan diberi nama “Kim Tek Ie”. Nama Kim Tek Ie diubah menjadi Vihara Dharma Bhakti. Nama Indonesia hasil terjemahan dari Kelenteng Keutamaan Emas.

Pada hari Senin tanggal 2 Maret 2015 dinihari, Klenteng Kim Tek Ie mengalami kebakaran, diduga penyebab kebakaran berasal dari api lilin. Dalam kebakaran ini, bangunan utama beserta rupang-rupang ikut musnah terbakar, terkecuali rupang Kwan Im dan dua rupang lainnya yang berhasil diselamatkan.

Informasi tentang Vihara ini saya dapat dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kim_Tek_Ie

 

Berjalan menuju Candra Naya

Selesai dari Vihara Dharma Bhakti perjalanan dilanjutkan ke bangunan bersejarah yang menjadi cagar budaya yaitu Candra Naya. Sepanjang perjalanan saya dan bro Tora ngobrol dengan salah satu perwakilan Trafi dari Eropa yang sedang berkunjung ke Jakarta.

 

Chandra Naya

Sekitar pukul 10.50 kami sudah tiba di Candra Naya. Sebuah bangunan bersejarah yang menurut saya “dirusak” oleh pembangunan jaman. Bagaimana tidak “rusak” Candra Naya berada ditengah dua bangunan menara hotel. Kondisi bangunan Candra Naya ini mirip dengan bagunan khas di Pondok Cina yang harus berada ditengah bangunan sebuah Mall Margo City Depok. Sedih liatnya … :(

Foto Bersama di Candra Naya (Courtesy Tommy Godfried)

Foto Bersama di Candra Naya (Courtesy Tommy Godfried)

Di Candra naya ini kami semua langsung berpose untuk foto bersama. Kemudian dilanjutkan para peserta untuk mengambil foto-foto diseputaran Candra Naya.

Candra Naya adalah sebuah bangunan cagar budaya di daerah Jakarta, Indonesia, yang merupakan bekas kediaman Mayor Khouw Kim An 許金安, mayor Tionghoa (majoor de Chineezen) terakhir di Batavia (1910-1918 dan diangkat kembali 1927-1942), setelah Mayor Tan Eng Goan 陳永元 (1837-1865), Tan Tjoen Tiat 陳濬哲 (1865-1879), Lie Tjoe Hong 李子鳳 (1879-1895) dan Tio Tek Ho 趙德和 (1896-1908). Bangunan seluas 2.250 meter persegi ini memiliki arsitektur Tionghoa yang khas dan merupakan salah satu dari dua kediaman rumah mayor Tionghoa Batavia yang masih berdiri di Jakarta.Kediaman mayor Tionghoa lainnya yang masih ada ialah bangunan “Toko Kompak” di Pasar Baru, bekas kediaman Mayor Tio Tek Ho. Bangunan yang didirikan pada abad ke-19 ini merupakan salah satu dari 3 bangunan berarsitektur serupa yang pernah ada di Jalan Gajah Mada, yaitu Jalan Gajah Mada 168 milik Khouw Tjeng Po 許清波, yang merupakan gedung Tiong Hoa Siang Hwee 中華商會 (Kamar Dagang Tionghoa) dan kini menjadi gedung SMA Negeri 2 Jakarta, Jalan Gajah Mada 188 milik Khouw Tjeng Tjoan 許清泉, yang kini dikenal sebagai gedung Candra Naya itu sendiri, dan Jalan Gajah Mada 204 milik Khouw Tjeng Kee 許清溪, yang pernah digunakan sebagai gedung Kedutaan Besar Republik Rakyat Republik Rakyat TiongkokTiongkok. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Candra_Naya)

 

Lunch Kopi Oey

Sesudah puas mengambil foto di Candra Naya kemudian seluruh peserta berkumpul untuk makan siang di kedai Kopi Oey yang berada di lingkungan Candra Naya. Menu nya sudah dipilih peserta setelah dikirimkan pilihan melalui email beberapa hari sebelumnya.

Selesai makan siang maka acara perjalanan hari ini akan segera berakhir. Acara selanjutnya adalah menuju Monas untuk mengabadikan peserta dengan berfoto dengan latar bus Transjakarta vintage.

Peserta kemudian berjalan ke halte Transjakarta dekat Candra Naya yaitu halte TJ Olimo. Dari situ kami menunggu bus TJ khusus vintage series PPD yang memang sudah diarahkan untuk membawa peserta kembali ke halte Bundaran Senayan.

 

Transit di Monas

Sekitar jam 12.30 kami sudah sampai sekitar halte TJ Monas. Di halte ini bus kami berhenti dan kami pun turun untuk foto-foto dengan latar belakang bus TJ vintage series PPD.

Pose di Halte TJ Monas

Pose di Halte TJ Monas

Akhirnya kami pun berfoto bersama dengan latar belakang bus TJ vintage series PPD.
Pose dengan latar belakang bus Transjakarta edisi vintage PPD

Pose dengan latar belakang bus Transjakarta edisi vintage PPD

 

Hari itu saya sangat senang sekali bisa ikut serta dalam trip wisata ke Pecinan di Jakarta. Lokasi kunjungan tidak jauh masih di Jakarta, tapi lumayan banyak hal baru yang saya peroleh dari perjalanan ini. Terimakasih ke bro Tora yang sudah mengajak saya. Terimakasih kepada ITDP, Transjakarta, Kopi Oey, Mélu Culinary Tours dan Trafi.id yang sudah membuat acara ini dapat terlaksana. Semoga kita dapat bertemu lagi dalam kesempatan lain.

Liputan dari ITDP bisa dibaca disini http://www.itdp-indonesia.org/svbchinatown/

 

 

 

bannerpaspor

Mengurus Paspor di Kantor Imigrasi Depok

Sebenarnya paspor saya baru akan habis nanti Juni 2017. Tapi karena suatu  keperluan maka saya butuh paspor yang masa berlakunya minimal 12 bulan.  Untuk itu saya browsing ke website Kantor Imigrasi, terutama Kantor Imigrasi (Kanim) di Depok, karena saya ingin perpanjang Paspor saya di Kanim Depok.

Setau saya ngurus paspor sekarang bisa online, namun saat saya hendak mencoba mengurus secara online pada tanggal 2 Oktober 2016 ternyata sedang ada masalah di sistem layanan paspor online. Sehingga saya tidak dapat mengurus paspor secara on-line. Terpaksa saya akan urus dengan mendatangi langsung Kanim Depok.

Untuk mengurus paspor secara online bisa dilihat di https://ipass.imigrasi.go.id:9443/xpnet/faces/xpnet-main.xhtml

paspor-online

Sebelum saya ke Kanim Depok, saya cek apa saja persyaratan yang dibutuhkan untuk penggantian paspor atau perpanjangan ini. Syaratnya dapat dilihat DISINI, yaitu:

  1. Paspor Lama;
  2. Kartu tanda penduduk yang sah dan masih berlaku;
  3. Kartu Keluarga;
  4. Akta kelahiran atau akta perkawinan atau buku nikah (tercantum tanggal lahir), atau ijazah (SD, SMP, SMA) , atau surat baptis.

Selain itu terdapat informasi tambahan bahwa Seluruh lampiran tersebut di fotocopy dalam kertas ukuran A4 dan tidak dipotong biarkan lampiran dalam lembaran untuk dapat dimasukkan ke dalam mesin scan, Berkas persyaratan asli harus dibawa, dan Seluruh data dukung harus sinkron (nama, tempat tanggal lahir, alamat).

Semua persyaratan saya penuhi semua tanggal 2 Oktober 2016. Kemudian esoknya saya ke Kanim Depok, karena memang kebetulan hari Senin 3 Oktober saya punya waktu untuk urus Paspor ini.

Oh ya satu lagi yang sebaiknya disiapkan dan tidak dicantumkan dalam persyaratan adalah Materai. Walaupun di Kanim Depok jual materai, namun akan lebih baik jika kita sudah siapkan sebelumnya. Saya sendiri sudah siap dengan Materai tersebut.

 

Ke Kantor Imigrasi

Senin pagi sekitar pukul 07.00 saya sudah berada di Kanim Depok di Komplek Perkantoran Kota Depok Jl. Boulevard Raya Grand Depok City. Lokasi ini sudah lumayan familiar buat saya karena beberapa bulan lalu saya juga mengurus surat keterangan tidak di pidana di Pengadilan Negeri Depok yang lokasinya tidak jauh dari Kanim Depok. Artikel tentang mengurus surat keterangan tidak di pidana itu bisa dibaca DISINI.

Kantor Imigrasi Depok

Kantor Imigrasi Depok

Selain itu di tahun 2012 saya sudah mengurus Paspor di Kanim Depok, sehingga saya tau dimana lokasi Kanim Depok. Hanya saja sudah 4 tahun lalu, saya yakin sudah ada prosedur yang diubah.

Saat saya datang pukul 07.00 sudah ramai sekali. Setibanya dilokasi, saya langsung diarahkan ke sisi barat gedung. Lokasinya ada dibelakang pos jaga. Di lokasi sayap barat tersebut berupa undakan seperti tempat duduk penonton di stadion olah raga. Saya diarahkan untuk duduk sesuai dengan waktu kedatangan. selain itu saya juga diberi formulir untuk di isi dan map. Semua itu diberikan GRATIS, tidak seperti dulu harus diambil di Koperasi, sambil Fotocopy dan ada biayanya.

Pos Jaga di Kanim Depok

Pos Jaga di Kanim Depok

Di sisi barat Gedung itu kami sambil menunggu mengisi formulir yang diberikan. Selesai mengisi formulir saya di arahkan untuk melakukan pengambilan nomor antrian dan foto untuk antrian ke pos jaga. Pengantri yang diarahkan ke pos jaga ini dilakukan bertahap, sekitar per 20 orang antri menuju pos jaga.

Saat di pos jaga kita sampaikan tujuan kita untuk apa, dapat nomor antrian dan kemudian diarahkan untuk masuk ke ruang lobby atau ruang tunggu. Kami masuk melalui pintu samping di sisi Timur Gedung. Bukan dari pintu depan. Pintu Depan masih ditutup.

Saya dapat nomor antrian A 76. Di ruang tunggu ini saya antri untuk dipanggil periksa berkas. Sekitar pukul 08.00 lewat akhirnya proses pemanggilan untuk pemeriksaan berkas dimulai. Saya dipanggil sekitar jam 09.30 untuk diperiksa berkasnya. Nomor urut antrian dan foto wajah kita akan tampak di layar TV di sudut sebelah kanan ruangan. TV yang disudut sebelah kiri ruangan tunggu menayangkan tayangan televisi biasa. Saat urutan saya dipanggil maka tampak foto wajah saya di monitor TV… hehehee norak juga saya liatnya :)

Ruang Tunggu Kanim Depok

Ruang Tunggu Kanim Depok

 

Perbedaan Antrian Dengan Kondisi Tahun 2012

Antrian di tahun 2016 ini sudah jauh lebih baik dibandingkan tahun 2012. Di tahun 2012 di loket antrian terdapat loket antrian untuk pengurusan pribadi dan pengurusan oleh biro jasa atau calo. Akibatnya untuk antrian oleh pribadi langsung mengalami antrian yang panjang dan lama. Saya sempat kesal waktu itu, sehingga kondisi tersebut saya laporkan kepada Wamenkuham saat itu Bpk. Denny Indrayana melalui akun twitternya. Beliau menanggapi dan menyatakan sistem seperti itu seharusnya tidak boleh. Namun sayangnya tetap saja terjadi. Syukur lah di tahun ini tidak ada pembedaan di loket antara pemohon pribadi dengan pemohon melalui biro jasa.

Perbedaan berikutnya adalah lama proses. Di tahun 2012, proses memakan waktu 3 hari. Hari 1, kita antri ambil formulir, isi formulir dan verifikasi dokumen. Hari ke 2 untuk wawancara dan ambil foto. Kemudian Hari ke 3 untuk mengambil Paspor yang sudah jadi. Di tahun 2016 ini hanya dibutuhkan waktu 2 hari saja. Hari 1, untuk ambil formulir, verifikasi dokumen, wawancara dan ambil foto. Hari ke 2 untuk pengambilan Paspor jika sudah selesai.

Secara umum proses ini menurut saya sudah jauh lebih baik dibandingkan proses perpanjangan paspor saya di tahun 2012.

 

Kekurangan dan Saran Perbaikan untuk Antrian.

Walaupun secara umum sudah cukup baik namun masih terdapat beberapa hal yang dapat ditingkatkan untuk perbaikan. Saya amati proses yang paling memakan waktu justru adalah proses di awal yaitu Verifikasi Dokumen. Para pemohon paspor sebenarnya tidak perlu menunggu lama jika loket untuk proses verifikasi dokumen jumlahnya ditambah.

Saat saya mengurus perpanjangan paspor tanggal 3 Oktober 2016 loket untuk verifikasi dokumen hanya ada 2 petugas saja. Tepatnya ada di depan tengah ruang tunggu.

Ruang Tunggu Kanim Depok

Ruang Tunggu Kanim Depok

Jika saja loket untuk proses Verifikasi Dokumen ditambah maka saya yakin proses antrian juga dapat lebih dipersingkat lagi. Jika antrian proses Verifikasi Dokumen dipersingkat, maka saya yakin tidak perlu pemohon paspor datang atau hadir sebelum jam 7 pagi untuk antri formulir. Karena proses Verifikasi Dokumen inilah yang membuat antrian panjang dan mendorong pemohon untuk harus datang lebih awal atau pagi-pagi sekali.

 

Panggilan Verifikasi Dokumen dan Wawancara

Saya dipanggil untuk ke loket Verifikasi Dokumen sekitar pukul 09.30. Proses Verifikasi Dokumen tidak berlangsung lama. Semua dokumen yang saya bawa sudah sesuai dan tidak ada yang bermasalah. Alhamdulillah. Saya hanya perlu menambahkan isian di formulir yang masih belum saya isi. Selebihnya lancar-lancar saja.

Selanjutnya saya dapat nomor antrian C20 untuk wawancara dan foto. Proses wawancara dan foto dilakukan di ruangan kaca disisi sebelah kanan ruang tunggu.

Ruang Tunggu Kanim Depok

Ruang Tunggu Kanim Depok

Setelah  sekitar 30 Menit menunggu kemudian saya dipanggil untuk wawancara & foto. Proses pertama adalah wawancara, seperti biasa saja ditanyakan nama, tanggal lahir dan tujuan keperluan membuat paspor. Kemudian memastikan bahwa penulisan nama dan tanggal lahir sudah sesuai semua. Proses ini berlangsung tidak terlalu lama dan saya lalui dengan lancar.

Proses berikutnya adalah pengambilan foto dan sidik jari. Setelah wawancara saya duduk di kursi tunggu untuk pengambilan foto dan sidik jari. Saya menunggu sekitar 10 menit sebelum akhirnya dipanggil untuk foto dan sidik jari. Proses pengambilan foto sempat diulang entah kenapa, mungkin karena saya jelek :) kalo itu sih ga bisa diubah pak … mesti diedit pake aplikasi editor yang super canggih kali :) Kemudian pengambilan sidik jari pun berjalan lancar. Seluruh proses selesai sekitar pukul 10.30.

Selesai foto dan pengambilan sidik jari petugas memberikan form Bukti Pengantaran Pembayaran (1 lembar tapi terbagi dua bagian atas bawah yang sama persis, nanti yang bagian bawahnya disobek oleh Bank). Form kedua adalah Lembar untuk Pengambilan Paspor.

Bukti Pengantar Pembayaran

Bukti Pengantar Pembayaran

Form Pengambilan Paspor

Form Pengambilan Paspor

 

Saran Perbaikan di Bagian Wawancara dan Foto

Dalam proses ini saya ingin memberikan masukan bahwa proses ini sebenarnya bisa dipercepat. Saran saya proses Wawancara dan Foto dipisah tidak menjadi dalam satu kesatuan. Saat saya dipanggil untuk wawancara dan kemudian menunggu dipanggil untuk Foto, hingga kemudian selesai. Saya perhatikan petugas untuk wawancara tidak melakukan kegiatan wawancara untuk pemohon berikutnya. Saat saya selesai diwawancara oleh petugas itu dan kemudian menunggu untuk di foto, sampai kemudian saya di foto, saya perhatikan petugas yang melakukan wawancara tadi tidak melakukan pekerjaan lagi dan bisa bermain handphone.

Saya pikir akan lebih baik jika proses ini dipisah. Sehingga saat pemohon sudah selesai di wawancara dan kemudian menunggu untuk di foto, maka petugas wawancara sudah bisa memanggil pemohon berikutnya. Jadi antrian bisa berjalan kembali. Saya tidak tau apakah karena sistem di aplikasi ini adalah satu kesatuan sehingga harus seperti itu atau karena hal lain. Tapi saya yakin hal ini bisa dirubah agar proses alur kerja bisa lebih lancar dan cepat. Saya yakin proses akan berjalan lebih cepat jika petugas wawancara tidak perlu menunggu pemohon selesai sampai ambil foto untuk pemanggilan berikutnya.

 

Pembayaran Biaya Paspor

Satu hal yang saya patut acungi jempol adalah tidak ada lagi pungli atau pembayaran di luar biaya resmi. Pembayaran pun tidak dilakukan di Kanim akan tetapi pemohon lakukan penyetoran langsung ke Bank. Tidak ada lagi loket untuk menerima pembayaran, langsung uangnya masuk kas negara. Saya sangat kagum sekali dengan hal ini, tandanya perintah pak Presiden Jokowi sudah benar-benar di jalankan.

Pemohon diberikan waktu paling lambat 7 hari kerja untuk lakukan pembayaran. Saya melakukan pembayaran hari itu juga. Pulang dari Kanim Depok, saya mampir di ITC Depok karena disana banyak bank. Sayangnya tidak semua bank bisa menerima pembayaran tersebut. Saya nasabah Bank BCA tapi sayangnya di Ruko ITC Depok, BCA yang tersedia adalah kelas Kantor Unit bukan Capem (Cabang Pembantu), akibatnya saya tidak bisa setor melalui BCA.

Akhirnya saya coba bayar ke Bank Mandiri, karena saya sudah tidak lagi menjadi nasabah Bank Mandiri maka saya harus setor secara tunai. Di Bank Mandiri saya isi form transfer dan mengisi nomor kode di Bukti Pengantaran Pembayarab yaitu MPN G2 XXXXXXXX sebagai nomor kode rekening tujuan. Proses pembayaran berlangsung sederhana, mudah dan lancar. Namun saran saya akan lebih bagus lagi jika pemohon bisa menyetorkan melalui mesin ATM, sehingga akan semakin lebih mudah dan cepat lagi.

Biaya paspor yang saya bayarkan adalah Biaya Paspor Rp. 300.000,00 dan Biaya IT Biometrik Rp. 55.000,00 sehingga total saya setor sebesar Rp. 355.000,00 saya hanya perlu bayar biaya tersebut tanpa dikenakan biaya tambahan lainnya.

Selesai membayar melalui teller bank maka pemohon akan menerima bukti bayar berupa lembaran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) seperti berikut:

Bukti Penerimaan Negara Bukan Pajak

Bukti Penerimaan Negara Bukan Pajak

 

Pengambilan Paspor

Sesuai dengan komitmen Kanim Depok katanya Paspor akan selesai 3 hari setelah dilakukan pembayaran. Karena saya membayar hari Senin maka paspor saya bisa diambil hari Kamis. Namun karena kesibukkan saya baru bisa mengambil paspor hari Jumat pagi.

Pengambilan paspor dilakukan di Kanim Depok di loket khusus di sisi sebelah Timur bagian depan gedung. Di loket itu pemohon menancapkan kertas form pengambilan paspor berikut bukti setoran PNBP. Selanjutnya saya tunggu diluar untuk dipanggil. Saya datang sekitar pukul 08.00 dan sejam kemudian dipanggil untuk menerima Paspor saya yang sudah jadi.

Saat di loket untuk ambil Paspor saya disuruh petugas untuk tandatangani Paspor dihadapan mereka. Saya tidak mengerti bagaimana jika yang mengambil Paspor adalah orang yang diberi kuasa untuk mengambil, apakah syarat seperti itu merupakan kewajiban.

Selain menerima paspor pemohon juga akan menerima Tanda Bukti Pembayaran dari Kanim Depok. Paspor yang baru ini berwarna biru seperti biru UN (PBB). Saya senang dengan paspor yang baru ini.

Sampul Muka Paspor 2012 (Kiri) dan 2016 (kanan)

Sampul Muka Paspor 2012 (Kiri) dan 2016 (kanan)

Menurut saya Paspor yang sekarang ini jauh lebih bagus. Halaman untuk Identitas juga hologramnya lebih berkilat dan lebih jelas.

Halaman Identitas

Halaman Identitas

Selain itu halaman isi paspor juga lebih bagus dan menarik. Background-nya terdiri dari beragam tema tentang Indonesia. Ada Binatang khas Indonesia, Tanaman, Budaya seperti Ondel-ondel, Wayang dan lain-lain. Pokoknya paspornya jadi lebih bagus dan kreatif banget.

Di era pak Jokowi ini terasa banget perubahan di bidang pelayanan Paspor ini, seperti pelayanan yang lebih cepat, lebih ramah, tidak ada pungutan diluar tarif resmi dan dibayarkan langsung ke kas negara, bentuk tampilan paspor juga lebih menarik. Saya acungi jempol untuk perubahan ini. Namun demikian, tetap perlu ditingkatkan agar semakin baik lagi.