3 Pemain Sepak Bola Idola

3 Pemain Sepak Bola Idola Saya

Sepak bola adalah olah raga favorit saya sejak kecil. Bahkan cita-cita saya saat masa kecil dulu ingin menjadi pemain sepak bola profesional. Sayangnya impian atau cita-cita saya itu tidak bisa terwujud. Saya tidak memiliki pertumbuhan badan yang baik dan mendukung sebagai pemain sepak bola. Badan saya tidak besar dan atletis, bahkan yang paling parah sejak kelas 4 SD minus mata saya tinggi sekali .

Saya ingat saya mulai jatuh cinta pada sepak bola ketika timnas Indonesia melakukan pertandingan penyisihan Pra Piala Dunia tahun 1986. Dimana saat itu Indonesia dibawah pelatih (alm) Sinyoe Aliandoe berhasil lolos penyisihan Sub Grup III B. Pemain sepak bola timnas Indonesia saat itu yang saya ingat adalah Penjaga Gawang Hermansyah dan Penyerang Dede Sulaiman.

Selepas era itu, pemain timnas yang terkenal adalah Ricky Yakobi dan Bambang Nurdiansyah. Ricky Yacobi sempat menjadi idola saya juga ketika saya masih kecil. Apalagi ia sempat menjadi pemain Indonesia yang di kontrak oleh klub di Liga Jepang. Kemudian ada pula beberapa pemain tenar di Indonesia seperti M. Zein Al Hadad, Ribut Waidi, Herry Kiswanto, Mustaqim, Rochi Putiray dll

Hingga saya remaja kesukaan saya akan sepak bola masih tetap besar, walaupun saya tidak bermain sepak bola secara intens seperti saat masa kecil dulu. Saat saya SMA inilah kemudian muncul timnas yang di”sekolah”kan di Italy. Tim ini diikutsertakan dalam liga junior pemain U-19 tahun yang bernama Primavera. Sehingga timnas ini dijuluki timnas “Primavera”.

Beberapa pemain di timnas Primavera yang saya ingat adalah Penjaga Gawang Kurnia Sandy (yang sempat jadi kiper ketiga di Sampdoria), kemudian bek Yeyen Tumena (yang sekarang jadi pelatih), Eko Purjianto (sekarang menjadi pelatih), Supriyono (sekarang menjadi Komentator), Indriyanto SN, Bima Sakti Tukiman dan Kurniawan Dwi Yulianto. Dua nama terakhir inilah yang menjadi idola saya.

Saya dulu kagum dan mengidolakan sekali timnas Primavera ini. Saking nge-fansnya sampai-sampai saya dipanggil sebagai “Primavera”, bukan dipanggil nama, oleh teman saya di tempat bimbel/kursus. Hal ini disebabkan saya banyak tau tentang berita taau perkembangan tentang timnas Primavera :) Gimana saya ga banyak tau tentang timnas Primavera? lha kala itu saya langganan dan bacaannya Tabloid BOLA dan Tabloid GO (Gema Olahraga) :)

Saya kagum dengan para pemain di Timnas ini karena saya seperti melihat impian saya saat masa kecil dulu. Saat itu saya bermimpi bisa berlatih di negara eropa, bisa bermain sepak bola di luar negeri, bermain melawan klub-klub eropa dan membela bangsa dan negara dengan burung Garuda di dada. Pokoknya rasanya keren banget. Apalagi usia pemain timnas primavera tersebut rata-rata adalah seusia saya.

Bermain Sepak Bola

Bermain Sepak Bola

Selepas era Primavera ini maka idola saya adalah Bambang Pamungkas. Era Bambang Pamungkas (Bepe) di timnas adalah era saat saya sudah beranjak dewasa. Saya sudah mulai kuliah hingga kemudian bekerja. Bepe adalah pemain yang cukup lama menjadi idola saya sesuai dengan lamanya ia berkiprah di sepak bola nasional.

Mari kita ulas pemain idola saya tersebut satu persatu…

 

Kurniawan Dwi Yulianto

Idola saya yang pertama adalah Kurniawan Dwi Yulianto (KDY) atau yang lebih dikenal sebagai “si Kurus”. Pemain ini sepertinya model impian saya jika saya bisa jadi pemain sepak bola. Saya suka bermain di posisi penyerang, KDY juga bermain di posisi itu. Gaya bermain KDY juga tipe yang saya suka, ia adalah tipe pemain dengan kemampuan mengejar bola-bola daerah dengan sprint yang cepat. Kemampuan dribling dan gojekannya juga bagus.

Kemampuannya dalam mencetak gol tidak diragukan lagi. Ia telah memperkuat Timnas Indonesia sebanyak 60 kali dengan produktivitas gol sebanyak 31 gol. Ia bermain di Timnas Indonesia sejak tahun 1995 hingga 2005.

Kurniawan Dwi Yulianto (Courtesy: Goal.com)

Kurniawan Dwi Yulianto (Courtesy: Goal.com)

Kurniawan lahir di Magelang, 13 Juli 1976. Tahun yang sama dengan tahun kelahiran saya. Karirnya menonjol ketika ia masuk dalam timnas Primavera yang berguru di Italia dibawah asuhan pelatih Danurwindo. Karir klub KDY terbilang mentereng saat itu,  setelah memperkuat timnas Primavera karena penampilannya menonjol maka KDY sempat masuk dalam Klub Sampdoria Junior (Primavera) di tahun 1994. Di Sampdoria Primavera karir KDY tidak lama.

Saya ingat sekitar tahun 1993 atau 1994 Klub Sampdoria sempat berkunjung ke Indonesia. Klub itu melawan tim Indonesia Selection, KDY bermain untuk tim Sampdoria yang kala itu diperkuat Attillo Lombardo dan Pietro Vierchowood. Selepas bermain di Klub Sampdoria Primavera KDY kemudian bermain di klub Swiss FC Luzern (1994–1995) sayangnya di klub tersebut karirnya tidak cukup cemerlang karena lebih sering dicadangkan.

Hingga kemudian KDY pulang ke Indonesia dan bermain di Klub Pelita Jaya (1995–1999) kemudian PSM Makassar (1999–2001), PSPS Pekanbaru (2001–2003), Persebaya Surabaya (2003–2004), Persija Jakarta (2004–2005), Sarawak FA (2005–2006), PSS Sleman (2006–2007), Persitara (2007–2008), Persisam Putra Samarinda (2008–2009), Persela Lamongan (2009–2010), PSMS Medan (2010–2011), Tangerang Wolves F.C. (2011–2012), Pro Duta FC (2012–2013) dan terakhir di Persipon Pontianak (2013–2014).

Kurniawan Dwi Yulianto (Courtesy: Sidomi)

Kurniawan Dwi Yulianto (Courtesy: Sidomi)

Saat menjadi pemain Sepak bola hingga akhirnya gantung sepatu KDY aktif di APPI (Asosiasi Pemain Sepak Bola Profesional Indonesia). Selepas gantung sepatu sepengetahuan saya KDY kemudian menekuni pula dunia kepelatihan dan menjadi pelatih sepak bola. Selain itu KDY juga memiliki usaha kuliner di Malaysia, sehingga ia lebih banyak tinggal di negeri jiran tersebut.

Saya sangat mengagumi KDY, sehingga ketika saya mendengar ia akan mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PSSI dalam Kongres PSSI Oktober 2016 mendatang maka saya mendukung sekali. Tanggal 5 September 2016 saat KDY secara resmi mendaftarkan diri untuk menjadi Ketua Umum PSSI saya dengan semangat ikut hadir untuk memberikan dukungan moril kepada KDY. Menurut saya ia adalah figur yang tepat untuk memimpin PSSI. Selama ini PSSI dipimpin oleh birokrat dan politisi. Hasilnya seperti kita ketahui sendiri PSSI tidak bisa memberikan prestasi, bahkan semakin terpuruk.

KDY sebagai mantan pemain saya pikir pantas memimpin PSSI. Selain itu KDY termasuk pemain yang “pintar”. Ia tidak hanya paham dan jago main bola, tapi ia juga paham bisnis dan manajemen. Saya amati lingkungan pergaulannya juga banyak yang berasal dari kalangan bisnis. Sehingga saya harapkan jika KDY terpilih sebagai Ketua Umum PSSI maka ia akan mampu memajukan PSSI baik dari segi prestasi maupun profesionalisme manajemen.

Saya dan KDY

Saya dan KDY

Foto saya dengan KDY ini saya lakukan saat KDY selesai mendaftarkan diri sebagai Ketua Umum PSSI. Sebenarnya saya pernah bertemu KDY saat saya hadir di International Legal Conference on the Rights of Professional Footballers In Indonesia di hotel Mulia Senayan pada tanggal 6 Mei 2014. Saat itu saya tidak sempat minta foto dengannya karena ia terlihat sibuk. Saya justru minta foto dengan Bima Sakti dan Bambang Pamungkas pemain sepak bola idola saya juga.

Saya berdoa semoga ke depan KDY senantiasa dilindungi Tuhan dan sukses selalu dimanapun ia berkiprah. Saya berharap KDY bisa menjadi Ketua Umum PSSI di kongres PSSI Oktober 2016 mendatang. Berat memang jika melihat pemilik voters PSSI yang masih itu-itu saja, tapi semoga saja…!

Sumber informasi tentang Kurniawan Dwi Yulianto:

 

Bima Sakti Tukiman

Pemain idola saya berikutnya adalah Bima Sakti Tukiman. Sama seperti KDY maka Bima Sakti juga adalah pemain jebolan timnas Primavera. Seangkatan dengan KDY, Bima Sakti bermain di posisi pemain tengah. Satu hal yang selalu saya ingat dari Bima Sakti adalah kemampuannya dalam meng-eksekusi bola-bola mati. Bima dikenal sebagai pemain dengan tendangan “geledek” karena sangat keras dan terarah. Tidak jarang gol-gol lahir dari eksekusi tendangan bebasnya.

Bima Sakti telah memperkuat Timnas sebanyak 56 kali dengan 11 koleksi gol. Karirnya diawali di Klub Ossiana Sakti, PKT Bontang Junior, PSSI Primavera dan juga Sampdoria Primavera. Kemudian di Klub senior Bima bermain di klub PKT Bontang (1994−1995), Pelita Jaya (1996−1999), PSM Makassar (1999−2001), PSPS Pekanbaru (2002−2004), Persiba Balikpapan (2004−2005), Persema Malang (2006−2013), Persepar Palangkaraya (2013−2014), Mitra Kukar (2014−2015), Gresik United (2015−2016) dan terakhir di Persiba Balikpapan (2016).

Saya mencatat Bima pernah bermain di klub Swedia Helsingborg IF setelah berguru di Italia dengan timnas Primavera. Namun demikian tidak saya temui catatan mengenai hal tersebut dalam berbagai artikel yang saya cari.

Bima Sakti Tukiman

Bima Sakti Tukiman

Bima Sakti lahir di Balikpapan, Kalimantan Timur, 23 Januari 1976 (lahir di tahun yang sama dengan saya dan KDY). Selain kemampuan skill individunya yang bagus Bima Sakti juga dikenal sebagai pribadi yang baik. Bima Sakti menurut saya adalah salah satu pemain yang “santun” dilapangan. Jarang sekali ia membuat pelanggaran atau terlibat keributan, bahkan saya pikir tidak pernah ia terlibat keributan. Ia menjadi figur yang sering ditunjuk untuk menjadi Kapten diberbagai tim. Sebagai Kapten saya sangat respect sekali dengan pribadinya yang santun, sabar, rendah hati dan kalem.

Saya termasuk orang yang tidak suka dengan pemain sepak bola yang rese, kontroversial atau badung di lapangan atau di luar lapangan. Oleh sebab itu saya suka sekali dengan kepribadian Bima Sakti ini. Saat dilapangan saya melihat Bima Sakti bisa menjadi Kapten dan mengayomi rekan-rekan lainnya. Terutama saat ia membela Persema Malang saya melihat Bima Sakti sangat menonjol sebagai Kapten. Bahkan jika ada penghargaan Kapten Terbaik di Klub Sepak Bola di Indonesia  saya akan berikan penghargaan itu kepada Bima Sakti.

Bima Sakti dan Bepe (courtesy: Bola.net)

Bima Sakti dan Bepe (courtesy: Bola.net)

Di luar lapangan Bima Sakti adalah ayah yang baik. Selain itu diluar lapangan saya dapat merasakan juga keramahan dan kedekatan Bima Sakti dengan penggemarnya. Saya sering melihat twit nya di twitter untuk menyapa dan menjawab pertanyaan penggemarnya. Saya kagum sebagai pemain Bima tidak sombong bahkan sering dengan sabar meladeni pertanyaan penggemarnya di twitter tersebut.

Pengalaman saya berinteraksi di twitter dengan Bima Sakti adalah ketika saya menanyakan tentang pelatihan Pelatih Sepak Bola Lisensi D Nasional (terkait pelatihan ini akan saya ceritakan dikesempatan/artikel lain). Saya bertanya kepada Bima Sakti di twitter yang kemudian ia balas dengan memberikan nomor telepon seseorang pengurus di PSSI. Dari orang yang direferensikan Bima Sakti itu saya mengetahui adanya jadwal pelatihan Lisensi D di Yogyakarta yang kemudian bisa saya ikuti.

Seperti halnya KDY, Bima juga aktif di APPI. Hingga kini Bima Sakti masih bermain sebagai pemain dan juga merangkap sebagai assisten pelatih. Bima sakti sepertinya juga akan meneruskan karirnya di dunia sepak bola sebagai pelatih.

Saya dan Bima Sakti

Saya dan Bima Sakti

Saya berkesempatan bertemu dan berfoto dengan Bima saat saya hadir di International Legal Conference on the Rights of Professional Footballers In Indonesia di hotel Mulia Senayan pada tanggal 6 Mei 2014.

Saya berdoa semoga Bima Sakti sukses menjadi pelatih sepak bola dan melahirkan pemain-pemain yang tidak hanya memiliki skill yang baik akan tetapi juga kepribadian yang baik seperti halnya dirinya.

Sumber informasi tentang Bima Sakti Tukiman:

 

Bambang Pamungkas

Setelah era pemain eks Primavera berkibar maka munculah era berikutnya. Khusus untuk striker muncul nama Bambang Pamungkas. Pemain kelahiran Semarang 10 Juni 1980 ini kemudian masuk jajaran pemain di timnas sepak bola Indonesia sejak 1999 hingga 2013. Kurang lebih Bepe sudah 14 tahun berkiprah bagi Timnas sepak bola Indonesia. Bepe sudah menyumbangkan 85 pertandingan dan 37 Gol. Hal ini menempatkan Bepe sebagai pemegang rekor pemain yang paling banyak bermain untuk timnas.

Karir profesional Bepe sudah tidak dapat diragukan lagi. Kiprah sepak bola usia dininya dimulai di SSB Hobby Sepakbola Getas (1988–1989),  SSB Ungaran Serasi (1989–1993), kemudian Persada Utama Ungaran (1993–1994),  Persikas APACINTI Kab Semarang (1994–1996), hingga kemudian Diklat Salatiga (1996–1999).

Selanjutnya kiprah sepakbola profesional Bepe di mulai di Persija Jakarta (1999–2000). Untuk urusan klub Bepe terbilang pemain setia. Setelah sempat mencoba peruntungan di Luar Negeri hampir sebagian besar karirnya ia habiskan bersama klub Persija Jakarta. Sehingga wajar menurut saya jika suatu saat nanti Persija Jakarta mengabadikan Bepe berupa nama stadion atau patung kenangan.

Di tahun 2000 Bepe sempat mencoba bermain di klub Belanda EHC Hoensbroek Norad Holand selama 4 bulan. Kemudian sekembalinya dari Belanda ia kembali bermain untuk Persija Jakarta (2000–2005). Bepe kemudian sempat bermain di Liga Malaysia di Klub Selangor (2005–2007). Sekembalinya dari Selangor FC Bepe kembali bermain untuk Persija Jakarta (2007–2012). Bepe sempat bermain untuk Pelita Bandung Raya (2013–2014) sebelum akhirnya kembali lagi bermain untuk Persija Jakarta (2014 sd Sekarang).

Bambang Pamungkas (Courtesy: Hipwee)

Bambang Pamungkas (Courtesy: Hipwee)

Jika saya mengidolakan KDY maka demikian pula kabarnya Bepe. Ia pun mengidolakan KDY. Bepe menjadi pemain yang saya idolakan tidak hanya karena kecerdasannya dalam bermain di lapangan akan tetapi juga kecerdasannya di luar lapangan. Selain cerdas dalam bermain, ia memiliki visi bermain yang bagus ditambah skill yang mumpuni. Sehingga ia menjadi striker yang sangat ditakuti. Ia pun memiliki banyak skill lain di luar lapangan.

Bepe adalah figur pemain sepakbola yang cerdas. Hal ini terlihat dari keterlibatannya di APPI kemudian juga aktif dalam menulis sebagai kolumnis olahraga, hingga menerbitkan sebuah buku yaitu  “Ketika Jemariku Menari“. Tidak banyak pemain yang memiliki talenta seperti Bepe.

Tidak hanya cerdas Bepe juga dikenal sebagai pemain yang mempunyai prinsip. Walau tidak semua keputusan atau pilihan Bepe saya setuju atau sepakat, akan tetapi saya bisa memahami bahwa Bepe adalah pemain yang memiliki karakter dan sikap yang jelas. Banyak contohnya, namun salah satu yang saya selalu ingat adalah ketika pengurus PSSI kisruh disekitar tahun 2012. Akibatnya Timnas Indonesia terpecah dua, yaitu timnas PSSI dan KPSI. Walaupun Bepe memilih bermain di ISL yang notabene menginduk pada KPSI akan tetapi ia memiliki prinsip yang teguh untuk bermain bagi Timnas PSSI. Sebuah langkah yang menurut saya sangat berani. Dari situlah saya semakin kagum dengan sikap dan pendirian Bepe.

Bambang Pamungkas (Courtesy: JPNN)

Bambang Pamungkas (Courtesy: JPNN)

Bepe mulai bermain di timnas Indonesia tahun 1999 saat saya di tahun terakhir perkuliahan. Hingga saat ini sudah hampir 17 tahun Bepe masih bermain sepakbola walaupun sudah tidak bermain untuk timnas. Sebuah konsistensi dan perjalanan panjang dari seorang atlit Indonesia.

Saya bertemu Bepe dalam beberapa kesempatan namun baru memberanikan diri untuk meminta foto bersama saat saya hadir di International Legal Conference on the Rights of Professional Footballers In Indonesia di hotel Mulia Senayan pada tanggal 6 Mei 2014.

Saya dan Bepe

Saya dan Bepe

 

Sumber informasi tentang Bambang Pamungkas:

 

Itulah 3 pemain sepak bola idola saya yang masih saya kagumi sampai saat ini. Saya belum menemukan pemain berikutnya yang bisa saya jadikan idola. Mungkin era berikutnya adalah era Evan Dimas, kita lihat saja apakah akan lahir pemain yang bisa menjadi idola baru. Terutama untuk menjadi idola buat saya :)

 

 

Share this:

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>